Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan mendadak sering diperbincangkan setelah terpilih menjadi Menteri Perdagangan. Tak pelak, video tahun 2013 yang menampilkan aktor Harrison Ford tengah melabrak Zulkifli Hasan juga kembali viral.

 

Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengangkat pria yang akrab disapa Zulhas itu sebagai Menteri Perdagangan menggantikan M Lutfi dalam reshuffle kabinet pada Rabu, 15 Juni 2022. Pengangkatan itu menuai pro dan kontra di masyarakat.

 

Yang kontra dengan pengangkatan itu mengingatkan ketidakmampuan Zulhas mengemban tugas dengan video tahun 2013. Dalam video tersebut, tampak aktor yang terkenal lewat perannya sebagai jagoan Indiana Jones itu datang dan marah pada Zulhas.

 

 

Kemarahan Harrison Ford yang juga seorang aktivis lingkungan hidup itu merupakan adegan film dokumenter “Years of Leaving Dangerously”. Zulhas yang saat itu menjadi Menteri Kehutanan pada Kabinet Indonesia Bersatu II SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) menjadi narasumber di film itu.

 

Kemarahan Harrison Ford pada Zulhas sebenarnya sudah viral di media sosial sembilan bulan sebelum film tersebut rilis, yaitu pada September 2013. Baru pada Juni 2014, keseluruhan isi cerita dalam video berjudul “This is what happens when Harrison Ford meet Indonesian Minister of Forestry” itu baru terungkap.

 

Video dengan durasi 4 menit 5 detik, diawali dengan adegan kerusakan Taman Nasional Tesso Nilo di Riau. Aktor Hollywood itu melihat sendiri kerusakan itu dari helikopter. Sebagian dari taman nasional seluas 38,5 ribu hektare itu tampak gundul. Respon Ford saat itu sangat geram. Dia mengatakan ingin bertemu pihak pemerintah Indonesia.

 

“Saya tidak sabar bertemu Menteri Kehutanan. Saya tidak sabar,” ujar Ford dengan gaya khasnya menahan amarah seperti di film-film terkenalnya, seperti Star Wars, The Fugitive, Air Force One, dan tentu saja Indiana Jones.

 

Harrison Ford kemudian bertemu Menteri Zulkifli Hasan di kantor Kementerian Kehutanan di Jakarta. Aktor yang mendapat nominasi Oscar lewat film Witness itu membuka percakapan dengan berterima kasih kepada Zulhas karena bersedia meluangkan waktunya.

 

Ford menyatakan, dalam 15 tahun terakhir sekitar 80 persen hutan tereksploitasi.

 

“Paling banyak [kerusakan hutan itu] di Indonesia. Ada dua kekuatan di antara bisnis dan politik di negara ini,” ujarnya menceritakan narasi saat wawancara.

 

 

Emosi Ford naik saat menceritakan pengalamannya mengunjungi Tesso Nilo di Riau. Mendengar, penjelasan Ford, Zulkifli Hasan justru tertawa. Hal ini yang memicu Ford menjadi tambah emosional. Dengan wajah tegang, aktor berusia 79 tahun itu mengatakan, “Ini tidak lucu.” Ford lalu melanjutkan, hanya 18 persen kawasan hutan nasional yang tersisa. “Kami melihat hutan terbakar, jalur penebangan liar, pohon yang ditebang, sungguh menghancurkan. Sangat menyayat hati,” ujarnya.

 

 

Zulhas menjelaskan, pihak Kementrian Kehutanan setiap hari berusaha keras menyelesaikan persoalan tersebut. “Kita sedang surplus demografi. Kami berprogram untuk memindahkan mereka dengan mencari lahan pengganti,” ujarnya.

 

Tak puas dengan komentar Zulkifli, Ford bertanya dengan nada geram. “Berarti, Anda siap kalah dalam pertarungan?” ucapnya. Zulhas menjawabnya dengan singkat, “Ya.”

 

Mendengar jawaban kurang memuaskan itu membuat Ford tidak bisa berlama-lama. Dia langsung merapikan berkas dan meninggalkan ruangan.

 

Setelah wawancara, Zulkifli Hasan sendiri mengklarifikasi kalau Harrison Ford memang sempat terlihat emosi dalam menyikapi kondisi hutan Indonesia. Ford, kata pria kelahiran Lampung itu, meminta pemerintah harus lebih tegas dalam menindak pelaku perusakan hutan.

 

Meskipun begitu, Zulhas menyatakan, kemarahan Ford masih dalam batas wajar. “Ini bukan wawancara seperti biasa, tapi buat film. Saya tidak terlatih akting. Dia emosinya tinggi. Saya kagok juga didandani macam-macam,” ujarnya kala itu.

 

Indiana Jones 5

Harrison Ford saat ini tengah sibuk paskaproduksi dari film sukses yang melambungkan namanya, yakni Indiana Jones ke-5. Film itu lahir dari duo sutradara jenius, Steven Spielberg dan George Lucas setelah ide Spielberg ditolak oleh produser film James Bond.

 

Indiana Jones terbaru akan rilis tahun depan. Meski sudah tergolong gaek, Ford masih dipercaya memerankan jagoan yang bersenjata cambuk itu. Sedangkan Spielberg yang telah menyutradarai 4 film sebelumnya, mempercayakan seri ke-5 itu pada sutradara James Mangold untuk membesutnya.

 

Keseluruhan film Indiana Jones telah meraup untung sebesar US$ 1,96 Miliar di seluruh dunia. [Benhil]


Tahukah Anda, mendengarkan lagu atau musik akan menciptakan suasana hati kita. Berbagai jenis musik juga memberikan suasana beragam.

 

Musik berirama cepat akan membuat hari riang dan menambah semangat. Musik romantis menciptakan rasa sentimental. Musik berirama pelan dan menyayat hati akan membuat pendengarnya merasakan ikut merasakan kesedihan mendalam.

Baca Juga: Serba Serbi Top Gun Maverick Hoki Tom Cruise 


Ditambah dengan syair yang penuh perasaan, musik bisa menjadi alunan yang membuai siapa saja. Lagu bisa membentuk citra dan perasaan yang muncul pada ingatan masing-masing orang. Maka dari itu, sebuah lagu sangat berpengaruh pada keadaan psikologi manusia. Hal itu terjadi pada lagu Gloomy Sunday karya Rezso Seress yang sepertinya bisa mendorong seseorang untuk semakin depresi atau bahkan bunuh diri.

 

Khusus untuk lagu yang membuat sedih, berikut ini 3 lagu yang membuat pendengarnya terbawa suasana sendu, yaitu:

1. Tears in Heaven (Eric Clapton)



Lagu ini diciptakan oleh penyanyi dan gitaris kondang Eric Clapton untuk mengenang tragedi besar dalam hidupnya, yaitu saat putranya yang baru berusia 4 tahun, Conor Clapton tewas akibat terjatuh dari lantai 53 apartemennya. Kejadian yang terjadi pada tahun 20 Maret 1991 itu dituangkannya menjadi lagu Tears in Heaven.

 

2. Everybody Hurts (REM)



Lagu yang dibawakan oleh band REM di album Automatic for The People (1992) ini diciptakan oleh sang drummer, Bill Berry. Syair dan intronya yang begitu menyedihkan membuat lembaga bantuan untuk orang-orang yang ingin bunuh diri di Inggris, The Samaritans, menggunakannya sebagai iklan pada 1995. Pada sebuah jajak pendapat yang diselenggarakan saluran TV Inggris, Channel 5 pada tahun 2006, lagu Everybody Hurts terpilih di urutan ke-4 sebagai lagu favorit untuk yang sedang patah hati.


Baca Juga: Beberapa Musisi Beken Ini Nggak Bakal Manggung di Indonesia

 

3. You’re Gonna Break My Heart Tonight (Tom Oddel)

Lagu yang terdapat di album Jubilee Road (2018) ini menceritakan perasaan seseorang yang campur aduk saat mengetahui kekasihnya tidak ada perasaan lagi padanya.

 

Mendengarkan lagu sedih saat suasana hati sedang kurang baik memang membuat selaras, namun jangan terlalu berlebihan yang membuat kita melupakan sisi baik lain dari kehidupan.  

 

Musik Paling Bikin Sedih

Musik instrumental (tanpa syair) juga bisa membuat pendengarnya hanyut dalam iramanya, baik senang, romantis, atau sedih. Dilansir dari situs gaya hidup goodhousekeeping.com, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Universitas Durham, Inggris menghasilkan musik yang paling membuat sedih pendengarnya, yakni Discovery of The Camp.

 

Sebanyak 102 peserta jajak pendapat yang umurnya 18 hingga 67 tahun diminta untuk mendengarkan Discovery of The Camp sebelum menjawab kuesioner yang disodorkan oleh peneliti.

 

Para peserta jajak pendapat itu merasa sangat sedih saat mendengarkan alunan musik Discovery of The Camp. Menurut mereka instrumental itu menimbulkan rasa empati yang tinggi. Sedangkan bagi peserta jajak pendapat yang mengalami kesedihan biasa, mereka cenderung memiliki skor empati yang rendah.



 

Discovery of The Camp sendiri merupakan musik pengiring untuk film seri TV Band of Brothers. Film seri berkisah tentang para serdadu Amerika Serikat pada perang dunia ke-2 itu diproduseri oleh duo kampiun Hollywood, yakni sutradara Steven Spielberg dan aktor Tom Hanks. [Benhil]

Baca Juga: Batik Semarang Semakin Dikenal Karena Kelas Menengah


Batik yang diproduksi di Kota Semarang semakin dikenal masyarakat di berbagai daerah karena meningkatnya masyarakat berpenghasilan menengah atau kelas menengah. Dampaknya bisa dirasakan banyak pihak.

 

Mungkin batik Semarang belum bisa bersaing dengan batik dari Yogyakarta yang merupakan kota pariwisata terbesar, namun peningkatan brand itu sudah merupakan pertanda bagus bagi industri batik di kota berjuluk Atlas (aman, tertib, lancar, asri, dan sehat) itu.

 

Dodik Hari (46 tahun) seorang pengusaha angkutan pariwisata menyatakan, selain wisata, batik Semarang juga ikut terdongkrak dengan peningkatan kelas menengah di beberapa kota sekitar Semarang.

 

Baca Juga: Pandangan Budaya Barat Pada Batik


“Kelas menengah itu belanja oleh-oleh, termasuk batik di Semarang setelah wisata ke kota lain, baik ke Yogyakarta atau Solo. Mereka berasal dari Kudus, Jepara, Pati, dan lain-lain,” kata Dodik pada Benhil, Minggu, 19 Juni 2022.

 

Dia menambahkan, jumlah kelas menengah semakin banyak dengan keberhasilan Indonesia lepas dari The Middle-Income Trap atau jebakan kelas menengah dengan beberapa program.

 

“Indonesia berhasil lepas dari jebakan The Middle-Income Trap dengan pembangunan jalan tol dan industri manufaktur. Itu membuat kelas menengah meningkat. Mereka suka jalan-jalan dan belanja batik sebagai produk khas masing-masing daerah,” ujar Dodik.

 

Tentu saja dia mengakui kalau keberhasilan itu juga berpengaruh baik pada usahanya. Dodik menyatakan hampir setiap hari ada permintaan untuk sewa bus pariwisata, terutama di musim libur sekolah seperti sekarang ini.

 

Semakin banyak yang berwisata itu juga membuat semakin banyak yang mengenal batik Semarang.

 

Ditemui saat memilah-milah produk batik Semarang di pusat oleh-oleh Kampoeng Semarang, Ulfah (26 tahun) mengaku tertarik untuk membelinya.

 

“Kalau oleh-oleh makanan khas Semarang, pasti saya sudah beli. Ternyata saya baru lihat kalau batik Semarang juga bagus-bagus,” ujar perempuan yang berprofesi sebagai guru SD di Demak itu.

 

Ulfah baru saja menyertai murid-muridnya wisata ke Yogyakarta, dan belum sempat belanja oleh-oleh di sana.

 

“Tadi berangkat sebelum Subuh dan langsung ke Pantai di Gunungkidul, lalu ke Prambanan. Karena waktunya singkat, kita belum sempat belanja di sana,” katanya.

 

Tidak berapa lama kemudian Ulfah mengambil tas batik dan membawanya ke kasir.


Baca Juga: Batik Tulis dan Penganut Abangan

 

Tidak hanya Dodik, berkah batik Semarang juga dirasakan oleh mereka yang di lapangan.

 

Eko (53 tahun) petugas parkir bus pariwisata mendapat keuntungan yang lumayan.

 

“Karena ini libur sekolah, penghasilannya selalu bagus,” ujarnya sembari sibuk mengatur bus yang akan masuk dan yang akan meninggalkan tempat parkir.

 

Eko senang keadaan sudah pulih setelah hampir 2 tahun pariwisata lesu akibat pandemi Covid 19.

 

“Dua tahun Covid betul-betul bikin sengsara nuat kita [orang-orang yang menggantungkan hidup dari pariwisata],” katanya.

 

Serba-serbi dan Motif Batik Semarang

Batik Semarang memiliki serba-serbi yang belum banyak diketahui. Berikut ini diantaranya;

1. Sudah Ada Sejak Abad 18

Batik Semarang telah ada sejak abad ke-18, sebagai pakaian bangsawan di kota pelabuhan besar itu.

 

2. Berawal di Kampung Batik Semarang

Batik Semarang berasal dari daerah yang diberi nama Kampung Batik Semarang. Daerah itu adalah sebuah komplek perkampungan yang berisi rumah para pengrajin Batik.

 

Pada tahun 1970-an, kondisi masyarakat di kampung itu kurang layak. Namun, kini kondisinya jauh lebih baik dengan campur tangan secara kolaborasi mereka yang berkecimpung di industri tekstil dan ekonomi kreatif.


Baca Juga: Kita Memang Mengabaikan Borobudur

 

3. Identik Bertema Kekayaan Alam

Corak dan motif batik Semarang menonjolkan identitas serta keindahan kota Semarang, yang merupakan kombinasi budaya Jawa, Arab, dan Tionghoa.

 

Motif Batik Semarang

Untuk motif batik Semarang terdiri dari 5 macam, yakni:

1. Blekok Srondol

Nama blekok srondol berasal dari sejenis burung kuntul perak yang hidup dan tinggal di pepohohan asam di sebelah Selatan kota Semarang bernama Srondol.

 

2. Tugu Muda

Motif Tugu Muda diambil dari ikon tugu yang merupakan monumen bersejarah dalam mengenang peristiwa pertempuran lima hari pada tahun 1945.

 

3. Asam Arang

Motif asam arang berasal dari dua kata yang menjadi asal muasal kota Semarang, pohon asam yang tumbuh jarang (arang) sehingga disebut asem arang atau Semarang.

 

4. Cheng Ho Neng Klenteng

Motif ini kental dengan budaya Tionghoa yang didominasi warna cerah.

 

5. Warak Ngendog

Warak ngendog adalah motif yang terinspirasi dari hewan mitologi yang merupakan kombinasi dari naga, buraq, dan kambing, yang terdapat telur di bawahnya. [Benhil]


Baca Juga: Setiap Orang Bisa Hidup Layak


Baru-baru ini muncul unggahan di media sosial yang mencalonkan Gibran Rakabuming Raka atau yang lebih akrab disapa Gibran sebagai Presiden RI termuda. Sontak saja unggahan itu mendapat sambutan hangat dari para netizen, meskipun banyak juga yang menertawakannya.

 

Unggahan tersebut dipicu dengan beberapa gebrakan dan keberhasilan yang telah ditorehkan oleh putra sulung Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) tersebut meski baru menjabat satu tahun sebagai Walikota Surakarta . Keberhasilan terakhir yang cukup fenomenal adalah saat Gibran memperkenalkan ribuan UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) dari daerah yang dipimpinnya ke pusat mode dunia di Paris, Prancis.

 

Upaya Gibran memperkenalkan keunggulan daerahnya ke Paris telah mendapat sambutan hangat masyarakat di sana. Dia tanpa banyak bicara mengambil langkah mengesankan sebagai pemimpin.

 

Suami Selvi Ananda itu dianggap berhasil menjadi pemimpin yang cerdas, mandiri, dan berdedikasi di tengah kepungan para politisi yang lebih asyik dengan pencitraan dan retorika tanpa hasil kerja sama sekali.


Baca Juga: Publik Masih Berharap pada Sosok Jokowi 2012

 

Ditambah lagi, kunjungan Gibran pada Sabtu, 18 Juni 2022, ke rumah Menteri Pertahanan sekaligus Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, di Bukit Hambalang. Pada kesempatan tersebut Prabowo mengajak Gibran keliling area itu dengan berkuda.

 

Hal itu memunculkan spekulasi banyak pihak akan kesempatan partai Gerindra untuk merangkul Gibran. Sebelum Jokowi dicalonkan sebagai Gubernur Jakarta pada Pilkada (pemilihan kepala daerah) 2012 oleh Partai Gerindra, Prabowo juga mengajaknya berkuda.

 

Calon Lain Terperangkap Oligarki

Pencalonan Gibran tersebut menjadi angin segar bagi kecenderungan masyarakat yang masih bingung terhadap para kandidat presiden pada Pilpres (pemilihan presiden) 2024. Masyarakat sudah cerdas dalam berpolitik sehingga paham apa dan bagaimana para politikus yang akan maju untuk menggantikan Jokowi.

 

Banyak masyarakat yang mengerti kalau semua calon presiden yang menempati posisi teratas di lembaga survey adalah mereka yang pernah tersangkut kasus. Jika ingin tahu buktinya sangat mudah, Anda bisa googling di internet.

 

Keadaan itu tidak baik-baik saja bagi pemerintahan kita ke depan. Kasus yang pernah menjerat para calon RI 1 tersebut bukan berarti telah selesai dan semua aman-aman saja. Bukan. Kasus tersebut sedang disandera.

 

Kenapa begitu? Agar nanti kalau salah satu dari mereka dipercaya untuk memimpin negara, maka kasus tersebut dipakai untuk menjerat sehingga dia akan patuh pada para oligarki bisnis.


Baca Juga: Kita Memang Mengabaikan Borobudur

 

Jokowi memang tidak bisa maju lagi sebagai pilpres karena dia telah berkomitmen terhadap konstitusi. Sebenarnya patut disayangkan karena dia relatif tidak tersandera dengan kepentingan bisnis.

 

Menakar calon-calon lain yang punya integritas dan semangat membangun negara seperti Jokowi, yakni Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, masih jauh di bawah survey. Mantan Gubernur Jakarta Ahok (Basuki Tjahaya Purnama) yang sekarang menjabat sebagai Komisaris Utama Pertamina juga sangat sulit untuk melangkah ke tahap pencalonan RI 1 karena kasus di masa lalu.


Baca Juga: Sri Mulyani Sangat Layak Menggantikan Jokowi

 

 Politik yang tersandera oleh oligarki itu akan menjadi masalah serius bagi pemerintah RI yang akan datang karena akan menjadi hambatan dan hanya dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu. Alih-alih bekerja dengan lancar, para pemangku kepentingan hanya akan menghadapi masalah demi masalah saja, dan pada akhirnya negara kita akan tertinggal jauh dibandingkan negara lain, baik secara teknologi maupun sumber daya manusia.

 

Oleh sebab itu, nama Gibran yang tiba-tiba muncul (atau lebih tepatnya dimunculkan oleh para netizen yang perduli dengan keadaan bangsa) sebagai kandidat Pilpres 2024 menjadi harapan baru. Impian besar Jokowi bagi Indonesia akan diteruskan oleh generasi muda yang mewarisi langsung cetak biru pembangunan bangsa yang memiliki harkat dan martabat.

 

Dianggap Lelucon

Meski banyak yang pro dengan wacana Gibran for Presiden 2024, tentu tidak sedikit yang tidak sependapat dan menganggapnya hanya lelucon saja. Pasalnya, ayahanda Jan Ethes tersebut dianggap tidak bisa maju pada Pilpres 2024, baik sebagai presiden atau wakil presiden.

 

Pasal 169 huruf q Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum ( UU Pemilu ) menyebutkan bahwa usia minimal 40 tahun sebagai salah satu syarat menjadi calon presiden dan calon wakil presiden. Pasal tersebut menjadi hambatan bagi pria kelahiran Surakarta 1 Oktober 1987 itu karena usianya baru sekitar 37 tahun pada 2024.

 

Namun, meski kesempatan Gibran untuk maju sebagai RI 1 (saat ini) masih sangat kecil, wacana dari netizen tersebut tetap perlu dihargai karena mereka bertindak tanpa ada kepentingan politik, apalagi kepentingan oligarki bisnis. [Benhil]


Baca Juga: Energi Negatif Nyinyir Roy Suryo


Batik adalah salah satu ciri khas dari budaya Indonesia yang dikenal seantero dunia. Jika seseorang menyebut batik, maka yang teringat adalah semua hal tentang Nusantara.

 

Bagaimana pandangan budaya barat, terutama Eropa dan Amerika Serikat (AS) terhadap batik? Tentu menarik mengetahui pandangan barat yang notabene mendominasi peradaban modern terhadap budaya bangsa kita.

 

Sebelum membahas hal itu, kita perlu mengetahui tentang batik secara singkat. Definisi batik adalah kain bergambar yang cara membuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada kain tersebut, kemudian pengolahannya diproses dengan cara khusus yang memiliki kekhasan.


Baca Juga: Batik Tulis dan Penganut Abangan

 

Kata batik berasal dari dua kata dalam Bahasa Jawa yaitu amba dan titik. ”Amba” berarti kain dan “Titik” artinya cara memberi motif pada kain dengan menggunakan malam cair untuk kemudian dilukis secara titik-titik.

 

Karena memiliki keunikan secara teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya dari batik, sehingga UNESCO menetapkan jenis kain tersebut sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober 2009.

 

Oleh sebab itu, setiap tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional. Masyarakat Indonesia memperingatinya dengan mengenakan batik dalam aktivitas apa saja.

 

Jenis kain ini menjadi klasik karena memadukan antara seni dan teknologi dari leluhur bangsa kita. Sebelum tahun 1970’an, batik hanya dikenakan oleh kalangan atas saja. Ketika ekonomi semakin membaik, siapa saja bisa membeli dan mengenakan pakaian dari kain batik karena harganya sudah semakin merakyat.

 

Baca Juga: Kita Memang Mengabaikan Borobudur


Pandangan Orang Barat pada Batik

Orang Barat yang terkenal sebagai masyarakat dengan budaya yang tidak suka basa basi itu punya pandangan khusus terhadap batik.

 

Berikut ini pandangan mereka terhadap kain produk dalam negeri itu;

1. Pakaian Bercita Rasa Tinggi

Orang Barat dengan senang hati akan mengenakan batik pada acara kenegaraan saat datang ke negara kita. Mereka juga tidak keberatan akan mengenakannya pada acara resmi, seperti menghadiri undangan pernikahan, makan malam kolega, dan lain.

 

Mereka menganggap batik memiliki cita rasa tinggi yang membuat siapa saja yang mengenakannya tampak berkelas.

 

2. Memiliki Nilai Seni

Sebagai pemuja hasil karya seni peradaban manusia, orang barat mengagumi nilai seni yang terkandung dalam motif batik. Motif tersebut membentuk suatu pola yang rumit namun berhenti pada satu titik akhir.

 

3. Simpel tapi Elegan

Pada tahun 1990, Presiden RI ke-2, Soeharto memberikan cinderamata kepada Nelson Mandela berupa baju batik sebanyak 6 helai. Peristiwa itu menjadi perkenalan Mandela dengan batik. Saat itu, Nelson Mandela baru menduduki posisi sebagai wakil ketua Kongres Nasional Afrika.

 

Pada 1997, Mandela memakai batik pemberian Presiden Soeharto itu saat berkunjung lagi ke Indonesia. Saat itu dia telah menjabat sebagai Presiden Afrika Selatan. Sejak saat itu, Presiden Nelson Mandela sering mengenakan batik dalam berbagai acara resmi kenegaraan, baik di tingkat nasional atau internasional.

 

Dilansir dari buku Nelson Mandela: The Authorised Biography oleh Anthonny Sampson, bila keluar rumah, baju yang sering dipakai oleh pejuang hak asasi manusia itu bukanlah jas, melainkan baju batik berwarna cerah yang coraknya mirip dengan batik yang dulu dihadiahi oleh Presiden Soeharto.


Baca Juga: Batik Semarang Semakin Dikenal Karena Kelas Menengah

 

Suatu saat seorang bocah memberanikan bertanya kepada bapak pendiri demokrasi di Afrika Selatan itu, kenapa dirinya sering mengenakan baju longgar seperti itu. Mandela menjawab, "saya sempat dipenjara 27 tahun, jadi saya ingin merasa bebas."

 

Batik yang kalau dipakai terasa simpel namun terlihat elegan itu menurut Nelson Mandela memberikan rasa dan mewakili simbol kebebasan, dibandingkan jas yang terasa kaku dan terlihat resmi.

 

4. Tampak Cerdas bagi Yang Mengenakan

Saya sering berinteraksi dengan orang asing di tempat kerja. Kebanyakan mereka berasal dari Australia, Eropa, dan sedikit dari AS. Saat mengenakan batik, umumnya mereka mengagumi penampilan kita. Tanpa sungkan mereka memuji di depan kita, “you look smart with that batik.

 

Menurut mereka, saat kita mengenakan batik, kita akan terlihat cerdas dan berkelas.

 

Jadi secara umum, orang Barat sangat mengagumi batik sebagai sebuah produk budaya dari Nusantara yang tiada duanya. [Benhil]


Baca Juga: Setiap Orang Bisa Hidup Layak


Sebelum mesin cetak populer digunakan dalam industri pakaian pada umumnya dan kain batik pada khususnya, mayoritas batik dibuat atau digambar secara manual. Produk yang dihasilkan dari industri manual itu disebut batik tulis.

 

Kenapa disebut batik tulis? Karena batik jenis ini dibuat secara manual, yakni menggunakan tangan dengan alat bantu canting untuk menerakan malam atau lilin pada corak batik. Pembuatan batik dengan cara ini membutuhkan kesabaran dan ketelatenan tinggi karena setiap titik dalam motif berpengaruh pada hasil akhirnya.

 

Yang disebut teknik canting dalam batik tulis adalah teknik membatik dengan menggunakan alat yang disebut canting. Canting ini memiliki fungsi untuk menorehkan cairan malam pada sebagian pola di kain mori. Teknik ini membutuhkan ketelitian dan keuletan.


Baca Juga: Pandangan Budaya Barat pada batik

 

Pembuatan batik tulis membutuhkan waktu sekitar 2 sampai 3 bulan. Pakaian jenis ini membutuhkan keahlian, kesabaran, ketelitian, dan waktu yang sangat lama, tidak heran kalau harga batik tulis sangat mahal.

 

Motif batik yang diproduksi dengan cara tulis akan berbeda-beda atau tidak sama persis antara satu dengan yang lainnya. Karena dianggap memiliki seni yang tinggi, dulu batik tulis biasa dipakai oleh raja, pembesar keraton, dan bangsawan sebagai simbol kemewahan. Kini batik tulis dipakai oleh kalangan atas dan para pejabat.

 

Sebelum perang dunia pertama (PD I), Industri batik tulis menyerap tenaga kerja lumayan banyak karena dikenal sebagai pakaian berkelas dan bernilai klasik. Pembatik tulis dianggap sebagai pekerja dengan keahlian khusus yang tidak semua orang bisa melakukannya.  


Setelah PD I, yakni sekitar tahun 1920, mesin cetak mulai digunakan di industri tekstil batik. Karena batik cetak mampu diproduksi dalam jumlah yg lebih banyak, waktu yang lebih cepat, dan tentu saja harga yang jauh lebih murah, maka lambat laun batik tulis mulai berkurang.


Baca Juga: Kita Memang Mengabaikan Borobudur

 

Fokus Membatik

Pembatik tulis bekerja dari pagi hingga petang karena saat itu listrik belum tersebar. Selama bekerja, mereka fokus mengerjakan batik yang sedang mereka hadapi tanpa bisa meninggalkannya walau hanya sebentar.

 

Hal itu dikarenakan cairan malam atau lilin yang mereka torehkan ke permukaan kain akan rusak atau kering sehingga tidak bisa digunakan. Padahal untuk membuat malam batik sangat rumit karena membutuhkan komposisi tidak sedikit. Diantaranya adalah parafin (putih dan kuning), microwax, lemak binatang (kendal, gajih), minyak kelapa, lilin tawon, lilin lanceng.

 

Karena tidak bisa meninggalkan pekerjaannya dalam waktu lama, meski untuk beribadah, dulu kebanyakan pembatik adalah penganut ajaran abangan. Abangan berasal dari kata aba’an yang artinya awam.

 

Kira-kira arti dari kata aba'an adalah "yang tidak konsekuen" atau "yang meninggalkan". Jadi para ulama pada masa penyebaran agama di tanah Jawa pada abad ke-15 memberikan julukan kepada para orang yang sudah masuk Islam tetapi tidak menjalankan syariat sebagai kaum aba'an atau abangan.

 

Secara umum, definisi abangan adalah golongan penduduk Jawa yang mayoritas beragama Islam tapi mempraktikkan ajarannya dengan berbagai macam aliran, seperti Hindu, Buddha, dan animisme.  Abangan cenderung mengikuti sistem kepercayaan lokal secara adat daripada hukum Islam murni atau syariah.

 

Baca Juga: Batik Semarang Semakin Dikenal Karena Kelas Menengah


Golongan abangan sendiri dikenal setelah seorang antropolog dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, Clifford Geertz mendalami kajian tentang agama (Islam) di masyarakat Jawa. Geertz mengkategorikan kelompok agama dalam masyarakat Jawa terdiri dari 3 kelompok, yakni abangan, santri, dan priyayi.

 

Jika abangan melaksanakan ajarannya dengan akulturasi pada ajaran lokal, santri melaksanakannya secara murni. Sedangkan priyayi yang notabene adalah kalangan atas yang memegang kekuasaan lebih bersikap sekuler secara spiritual.

 

Jadi secara hierarki masyarakat Jawa saat itu cukup jelas, priyayi yang menjalankan pemerintahan perlu bersikap sekuler terhadap setiap kebijakan yang dia ambil. Kaum santri yang sehari-hari hidup dekat dengan dogma memilih menjauh dari duniawi dan tinggal di pesantren. Sedangkan abangan sebagai penggerak roda perekonomian masyarakat kebanyakan memilih menyerap budaya dari berbagai sumber sebagai sarana untuk menikmati dan menjalankan kehidupan.

 

Budaya yang dianut kaum abangan itu sekaligus menjadi hiburan apabila mereka sudah lelah seharian mengerjakan batik tulis yang indah. [Benhil]


Baca Juga: Elon Musk Pilih Thailand, Indonesia Darurat Introspeksi


Sudah banyak yang gemas dengan tingkah Mantan Menteri Pemuda dan Olah Raga RI, Roy Suryo di media sosial (medsos), namun sepertinya jerat hukum tidak mempan terhadap politisi Partai Demokrat itu.

 

Yang terbaru ini, dia mengunggah di akun Twitter-nya foto stupa Candi Borobudur yang diedit dengan wajah Jokowi.


Baca Juga: Gibran Calon Presiden Upaya Lepas dari Oligarki

 

Foto itu dia tambahkan dengan caption, ‘Mumpung akhir pekan, ringan2 saja twit-nya.Sejalan dengan Protes Rencana Kenaikan Harga Tiket naik ke Candi Borobudur (dari 50rb) ke 750rb yg (sdh sewarasnya) DITUNDA itu, Banyak Kreativitas Netizen mengubah Salahsatu Stupa terbuka yg Ikonik di Borobudur itu, LUCU, he-3x AMBYAR.’




 

Postingan tersebut sontak membuat gaduh dan meradang para warganet. Banyak yang menuntut agar pihak berwajib segera mengambil tindakan tegas terhadap pria keturunan ningrat bergelar KRMT (kanjeng raden mas tumenggung) itu.

 

Foto stupa Candi Borobudur yang wajahnya dibuat mirip dengan wajah Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu sudah pasti berita bohong (hoax). Apakah itu buatan Roy atau tidak, sudah pasti dia telah ikut menyebarkan hoax itu sehingga mengakibatkan kegaduhan. Postingan itu bisa menimbulkan opini jelek dan kerugian terhadap pihak yang menjadi obyek.

 

Untuk menjerat Roy Suryo memang perlu adanya delik aduan bagi pihak yang dirugikan (meski saya yakin Presiden Jokowi tidak akan menghabiskan waktu untuk meladeni nyinyiran sampah yang tidak berguna seperti itu). Namun, bukankah dengan ikut menyebarkan hoax yang bisa mengakibatkan gaduh dan opini buruk juga sudah bisa diproses hukum? Perbuatan itu jelas telah melanggar Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

 

Pasal 28 ayat (1) UU ITE berbunyi, “Setiap orang dengan sengaja, dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik.”

 

Pada ayat (2) secara khusus disebutkan kalau postingan Roy menghina salah satu ajaran agama di Indonesia, yakni agama Budha. Ayat itu berbunyi, “Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA).”


Dari situ, jelas kalau setiap orang (tanpa mengenal kedudukan) yang menyebarkan berita bohong atau hoax seperti yang disebutkan pada pasal 28 UU ITE tersebut akan dipidana dengan ancaman pidana paling lama enam tahun atau denda paling banyak sebesar satu miliar rupiah.

 

Oleh sebab itu, gambar editan stupa Candi Borobudur itu sudah dikategorikan sebagai 'Penghinaan' terhadap lembaga negara yang dalam hal ini adalah Presiden. Karenanya, dapat dipidana sesuai dengan Pasal 353, ayat 1 KUHP yang berbunyi:

"Setiap Orang yang di muka umum dengan lisan atau tulisan menghina kekuasaan umum atau lembaga negara dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun 6 (enam) bulan atau pidana denda paling banyak kategori II."

 

Bukan Roy Suryo kalau tidak licin. Segera setelah postingan itu menjadi viral, dia langsung menghapusnya. Tentu saja banyak warganet yang sudah me-screenshoot celotehan Roy itu.

 

Banyak yang paham, kalau politisi yang pernah mengaku sebagai pakar telematika itu sering nyinyir terhadap pemerintahan Presiden Jokowi. Beberapa komentar miring Roy, yakni tentang pertemuan Jokowi dengan Elon Musk, tentang liburan Idul Fitri Jokowi tahun ini, tentang pawang hujan di ajang Balap GP di Mandalika, dan masih banyak lagi.

 

Baca Juga: Elon Musk Pilih Thailand, Indonesia Darurat Introspeksi


Meskipun bergitu, tidak sedikit juga yang tahu kalau Roy Suryo tidak memiliki prestasi yang berarti, baik saat bergabung dalam pemerintahan (sebagai menteri) atau sebagai oposisi. Alih-alih berguna, nyinyirannya lebih banyak membuat gaduh dan gerah banyak pihak.

 

Penuh Energi Negatif

Saya akui sebagai seorang manusia, pria kelahiran Yogyakarta itu selalu penuh semangat untuk melontarkan komentar bernada miring. Dia bersikap layaknya burung pemakan bangkai yang menunggu mangsa melakukan kesalahan untuk kemudian diterkamnya dengan cepat dan ganas.

 

Perlu energi negatif yang sangat besar untuk melihat sisi buruk dari seseorang atau suatu peristiwa, itu jelas sangat sulit dan melelahkan. Pikiran kita akan tegang dan perlu selalu waspada untuk bersikap seperti itu.

 

Belum lagi bayangan karma buruk yang akan kembali pada kita apabila kita menyerang (baik dengan tindakan atau kata-kata) seseorang yang notabene tidak melakukan perlawanan atau tetap mengalah (seperti sikap Jokowi terhadap Roy Suryo selama ini). Seorang yang normal akan jatuh iba atau bingung apabila lawannya memilih tidak meladeni, tapi tidak bagi Roy.

 

Mentalnya yang penuh dengan energi negatif, mungkin tidak menghiraukan karma buruk yang akan menimpa dirinya apabila terus-terusan berbuat seperti itu. Tapi saya tetap percaya tentang itu. [Benhil]


Baca Juga: Tidak Hanya Abdul Somad, Singapura Juga Tegasi Warganya

All rights reserved, Copyright © 2022 www.benhil.net. Powered by Blogger.