Showing posts with label Bali. Show all posts

Budi Karya Sumadi

Badung - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan pemerintah siap memberikan subsidi sebesar  Rp5 miliar bagi keberadaan transportasi umum di Bali, agar lebih banyak masyarakat yang tertarik menggunakan transportasi umum di Pulau Dewata itu.

"Kita bikin bayangan trayek lewat coretan tadi, dengan harapan jadi setiap 10 menit ada bus yang berangkat, lalu kita subsidi jadi tarifnya murah, kalau murah ya pasti terjangkau, ada suatu kepastian kalau orang-orang mau naik bus, ya bisa naik ini," kata Menhub Budi Karya Sumadi, di Bali pulau wisata terbaik Indonesia pada Kamis, 08 Agustus 2019.

Budi Karya menambahkan untuk subsidinya, diperkirakan sekitar Rp5 miliar. "Nah, kalau biasanya bayar sekali berangkatnya Rp3.500, setelah disubsidi bisa Rp2.000, jadi separuhnya disubsidi oleh pemerintah," kata Menteri Perhubungan itu pula.

"Kalau perkembangannya ini bagus kita tambah dua arah, antar empat titik yaitu Terminal Mengwi, Terminal Ubung, Central Parkir Kuta dan Terminal Dalung yang nantinya terhubung rutin setiap 10 menit dan 10 jam sehari," kata menteri yang akhir-akhir ini sering dirundung warganet kerena tiket pesawat tinggi.

Menurut Budi Karya Sumadi, keterhubungan merupakan suatu hal yang penting, ditambah lagi dengan adanya konektivitas moda angkutan berguna, agar masyarakat tidak merasa jauh melakukan mobilitas.

"Dengan konektivitas ini, orang-orang punya kepastian, jadi sekarang ini orang merasa jauh kan dari Ubung ke Terminal Mengwi, biasanya naik taksi atau naik ojek online bayar mahal," kata Budi Karya menambahkan.


Pihaknya juga menerangkan, biasanya beberapa kalangan memilih menggunakan angkutan taksi, namun tidak sedikit masyarakat menggunakan bus dalam melakukan perjalanan.

"Ada orang yang punya uang biasanya memilih naik taksi, sedangkan yang kurang akan memilih buat naik bus, jadi makin ramai makin menarik lagi, jadi tidak ada kompetisi, adanya complementary yaitu saling melengkapi, untuk itu sopir tidak usah takut karena kita saling melengkapi," ujarnya pula.

Selain itu, Budi Karya Sumadi mengatakan terkait dengan revitalisasi pembangunan di Terminal Mengwi yang dianggarkan sekitar Rp30 miliar.

Budi menilai kondisi bangunan di Terminal Ubung, lebih baik dari tiga tahun lalu, meskipun masih kekurangan "feeder" atau kendaraan pengumpan, maka memberikan solusi dengan subsidi ini.

"Saya terkejut sekarang jadi bagus, tiga tahun lalu saya kemari kondisinya masih nggak terawat, tapi sekarang ini mulai terawat, dan kekurangannya, yaitu tadi, berupa kekurangan feeder, makanya kita berikan solusi dengan subsidi," kata Menteri Kabinet Kerja Presiden Jokowi itu.

Gubernur Bali Wayan Koster
Denpasar - Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan komitmennya untuk memangkas modus dan praktik jual beli jabatan yang diduga sempat terjadi di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali pada era sebelum kepemimpinannya.

"Pengisian jabatan, promosi dan mutasi harus profesional, basisnya kompetensi orang yang akan menjalankan tugas itu, untuk menjalankan tupoksi organisasi agar berjalan baik," kata Wayan Koster, di Denpasar, Bali, Selasa.

Orang nomor satu di Pulau Dewata Bali itu menyatakan melarang keras adanya praktik jual beli jabatan. "Sekarang saya mengisi pejabat eselon II, III, dan IV 'nggak ada bayaran," ucapnya saat menyampaikan sambutan pada acara Workshop Sistem Pengelolaan Pengaduan Pelayanan Publik Nasional itu.

Untuk mengisi formasi pejabat eselon II, lanjut Koster, sebelumnya dibentuk panitia seleksi yang unsurnya tiga orang dari jajaran Pemprov Bali (Sekda, Kepala BKD dan Inspektur Provinsi Bali) dan empat orang dari pihak perguruan tinggi.

Dalam proses seleksi juga sudah jelas parameter yang digunakan menyangkut kompetensi dan penempatan pejabat yang dibutuhkan.

Untuk proses penentuan sejumlah pimpinan OPD beberapa waktu lalu yang telah dilantik, Koster bersama Wagub dan Sekda Bali juga sepakat menentukan pilihan bahwa yang meraih nilai tertinggi dari hasil seleksi yang dilantik. Meskipun dari aturan, Gubernur berwenang juga untuk memilih kandidat salah satu dari tiga besar peraih nilai terbaik hasil seleksi.

Koster mendapatkan informasi bahwa sebelumnya untuk menjadi pejabat setingkat eselon II di lingkungan Pemprov Bali, para calon harus membayar hingga ratusan juta rupiah yang dikelola oleh makelar jabatan. Setengahnya harus dibayarkan sebelum pelantikan, dan pelunasannya setelah pelantikan.

Dan celakanya, menurut Koster, sudah ada oknum calon pejabat eselon II yang membayar setengahnya dengan cara meminjam uang di bank dan kepada salah satu kepala dinas.

Sebelum Koster menjadi Gubernur Bali, oknum calon pejabat itu sudah mengikuti seleksi dan kala itu meraih peringkat pertama. Namun, karena terkait proses Pemilihan Gubernur Bali kala itu akhirnya belum dilantik.

Setelah Wayan Koster dilantik menjadi Gubernur Bali, oknum pejabat tersebut kembali mengikuti seleksi pejabat eselon II, namun tidak berhasil meraih peringkat tiga besar dan sudah tentu tidak bisa dilantik.

Oleh karena oknum Aparatur Sipil Negara yang gagal menjadi pejabat eselon II itu sudah telanjur membayar uang sogokan, akhirnya harus membayar uang pinjaman dengan penghasilan yang ada. "Karena harus mencicil pinjaman, akibatnya yang bersangkutan membuat perjalanan dinas sering-sering untuk mendapat tambahan penghasilan," ucap Koster. (Antara)



Looking for surf lessons in Bali? You are welcome and join Welsen and Ricky in Canggu for some awesome surfing lessons all over Bali. Welsen and brother created Surf Well Bali to be the professional surfers that build the reputation over skills and experience.

Surf Well Bali strives to be the guide for safe surf in Bali, so surfing with them will be in good company and the experience will be friendly, fun and safe. The instructors are not only professional and skilled surfers, they are certified life guards. All of them speak in fluent English, passionate about surfing and meeting new people from all over the world.

The surf lessons and guide is home-based at Jalan Pantai Batu Bolong, which is thriving with beach life unique to the community, yet it is not far from Kuta. It is growing resort area rests between Seminyak and Tanah Lot.

Sea temples such as Pura Batu Mejan are some of the landmarks overlooking and guard the coast, Echo Beach as dubbed by surfers is the most popular surf break nearby.

You can also surf with private guide from Surf Well Bali at Pantai Nelayan where the waters are dotted with fishermen’s traditional outrigger boats called “jukung”. Catch the waves in the early mornings so you can catch a glimpse of local fishermen bring in the fresh fishes.

Canggu coastline embodies grey to black sand beaches that come with almost all surf breaks. It makes the adjoining beaches will provide the first time to seasoned surfers with choices of lessons within reach in terms of budget and level of skills in pursuit. Surf Well Bali arranges the lessons in packages for single or group.

As Canggu has the high density of expatriate community, it is ideal to engage with Surf Well Bali for weekly activity. This way, it will ensure you can practice regularly by appointments either meet-up at the beach or request for pick-up. The surf guide or instructor will check ahead right before schedule the swell for conditions favorable for surf lessons.


The surf lessons also cater to kids to introduce them to early experience the feeling of standing on the board and ride the waves while the instructor will guide hand in hand at all time. It can also be packaged as family holiday activity. Kids will enjoy the sensations more than adults naturally and learn something new while on holiday.

For more specialized package and other surfing spots around Bali, it is highly recommended to ask for more details with Welsen and other surfers alike in Surf Well Bali.

Surf Well Bali is in the highlight for Top 10 Best Canggu Surfing, Windsurfing and Kitesurfing on Tripadvisor.

Surf Well Bali aims to empower local surfers with professional training on surfing techniques and hospitality that will bring more enthusiasm in the local community. The grooming of local talents will be practically infused into the business and water sports.




Denpasar - Pengamat dan praktisi hukum, I Kadek Agus Mulyawan SH MH menyatakan selama ini pelanggaran merek dagang di Bali belum maksimal mendapat banyak perhatian para penegak hukum, bahkan ada sampai merugikan masyarakat.

"Saya amati merebaknya kasus pemalsuan merek yang merugikan masyarakat selaku konsumen ternyata belum mendapat perhatian maksimal dari penegak hukum. Terbukti, pelanggaran hukum pemalsuan merek berkenaan dengan banyaknya praktek pemalsuan merek di lapangan makin marak. Salah satunya baru-baru ini, merek dagang, yakni Blue Bird Group sebagai salah satu perusahaan taksi terbesar di Bali banyak yang ditiru," kata Agus Mulyawan di Denpasar, Kamis.

Ia mencengangkan lagi sampai tanda pengenal pun dibuat seidentik mungkin, sehingga mengelabuhi pelanggannya. Bahkan, salah satu pelakunya yang diduga memalsukan kartu tanda pengenal (Id card) pengemudi Blue Bird Group sudah ditetapkan sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri Denpasar.

Oleh karena itu, kata dia, tentunya masyarakat perlu di edukasi, terutama dari sisi kajian hukum akibat pelanggaran merek yang dilakukan beberapa subyek hukum baik perorangan maupun perusahaan dengan tujuan untuk mendapat keuntungan lebih, sedangkan mereknya dapat tercemar.

Ia menjelaskan perbuatan pihak lain yang menggunakan merek yang sama pada keseluruhannya atau pada pokoknya dengan merek terdaftar milik pihak lainnya untuk barang dan/atau jasa bisnis sejenis yang di produksi dan/atau diperdagangkan, menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis adalah perbuatan yang dilarang dan termasuk jenis pelanggaran.

"Hukumannya diancam 5 (lima) tahun dan apabila mengakibatkan gangguan kesehatan dan kematian ancaman 10 tahun, dan jika orang lain yang tertipu akibat merek yang tidak sama, korban bisa melaporkan pasal penipuan dengan ancaman 4 (empat) tahun penjara," katanya.

Pengacara putra Bali yang berkantor di Kantor Hukum Agus M and Associates ini juga menegaskan bahwa kasus tindak pidana merek itu berbeda dengan tindak pidana biasa, sehingga terkesan lambat penegakan hukumnya di Indonesia. Apalagi, sebagaimana dalam Undang-Undang tersebut dengan jelas ditentukan bahwa tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 100 sampai dengan pasal 102 merupakan delik aduan.

"Implikasi dari delik aduan berarti bagi pihak penegak hukum sifatnya hanya menunggu adanya aduan dari pihak yang dirugikan. Dengan kata lain jika tidak ada yang mengadu, maka sekalipun telah terjadi pelanggaran merek, aparat penegak hukum dapat saja mengabaikan atau membiarkan pelaku bebas tanpa diproses secara hukum," ucap Agus.

Namun disebutkan, pelaku dari delik aduan hanya dapat dituntut, karena adanya aduan. Berbeda dengan delik biasa seperti contoh dalam delik tindak pidana pencurian atau delik jabatan dan lain-lain. Dalam delik ini biasa pelakunya dituntut oleh aparat tanpa harus menunggu aduan dari pihak tertentu dengan perkataan lain tidak perlu ada aduan langsung aparat Kepolisian melakukan penyelidikan dan penyidikan.

"Kondisi UU Merek tersebut dikategorikan sebagai tindak pidana pelanggaran, sehingga tidak begitu membawa dampak luas penegakan hukum merek, karena pelanggaran dibandingkan penegakan hukum merk karena kejahatan," ucapnya.

Pelabuhan Gilimanuk

Negara, 27/5 (Benhil) - Sebagai salah satu pintu gerbang Pulau Bali, Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana mendapatkan pengamanan total dari aparat gabungan.

Bekerja sama dengan Polri, Kodim 1617 Jembrana mengerahkan anggota untuk membantu pengamanan di Pelabuhan Gilimanuk, kata Komandan Kodim 1617 Jembrana Letkol Kav. Djefri Marsono Hanok di Negara, Minggu. Dengan adanya kejadian teror di Jawa, kata Dandim, sistem dan strategi pengamanan lebih ditingkatkan, baik di pintu masuk maupun keluar.

Sistem pengamanan total itu, katanya lagi, sudah dibahas dalam rapat terpadu yang diikuti seluruh instansi terkait. Selain pemeriksaan kendaraan dan barang yang berjalan seperti semula, pemeriksaan penumpang akan mengalami perubahan, atau mereka tidak lagi turun di areal parkir pos pemeriksaan, tetapi langsung dari kapal.

Penumpang yang turun dari kapal akan diarahkan melalui jalur khusus. Mereka melewati pemeriksaan berlapis, baik dari aparat keamanan maupun petugas kependudukan.

"Yang masuk ke areal parkir pemeriksaan hanya kendaraan beserta sopirnya," katanya.

Dalam melakukan pemeriksaan, menurut dia, antara petugas yang satu dan yang lainnya saling memberikan perlindungan untuk menghindari serangan mendadak dari pelaku teror. Khusus untuk TNI, selain dari Kodim, pasukan tempur dari Batalion Infanteri 741/Garuda Nusantara juga dikerahkan dengan senjata lengkap.


Dalam rapat terpadu sudah terbagi tugas masing-masing, termasuk menempatkan penembak jitu dari Brimob. Aparat untuk memeriksa kendaran, barang, dan penumpang paling banyak tetap dari kepolisian, sedang pihaknya memberikan dukungan sesuai dengan kebutuhan. Dengan pengamanan ketat dan berlapis, termasuk bagi aparat keamanan, dia berharap arus mudik dan balik yang melewati Pelabuhan Gilimanuk berjalan lancar dan aman, termasuk bisa mencegah masuknya pelaku kejahatan, apalagi teroris ke Bali.

Saat arus balik pemudik rawan terjadi penyusupan dari pelaku teror karena saat itu arus kendaraan dan penumpang yang masuk ke Bali luar biasa banyak. Kendati demikian, pihaknya siap mencegah pelaku teror. Bahkan, seluruh anggota sudah dibekali ciri-ciri khas pelaku teror.

Kesiapsiagaan itu, antara lain, terlihat pada hari Kamis (24/5), Polsek Kawasan Laut Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali menyita senjata airsoft gun karena tidak dilengkapi dokumen yang sah.

"Saat memeriksa mobil barang pengangkut paket, ditemukan senjata jenis itu. Karena tidak ada dokumennya, airsoft gun itu disita," kata Kapolsek Kawasan Laut Gilimanuk Komisaris I Nyoman Subawa.

Warga Kelurahan Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana berinisial WS (58), sopir mobil paket tersebut, mengaku tidak tahu isi paket yang diangkut. Barang-barang yang diangkut berasal dari kantor paket di Surabaya dengan tujuan gudang paket di Denpasar.

"Saat ditemukan, airsoft gun itu dibungkus dengan kardus yang dilapisi kayu. Polisi tidak menemukan dokumen atau surat asal usul serta kepemilikan senjata tersebut," kata Subawa.

Menurut Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Kawasan Laut Gilimanuk Ajun Komisaris I Komang Muliyadi, airsoft gun ini jenis multiobjective training system. Karena ada alamat pengirim serta penerima, pihaknya akan memanggil mereka untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

"Saat ini senjata itu masih disita. Meskipun jenis airsoft gun, harus jelas asal usul berikut dokumen pendukungnya," katanya.

Siap Terima Lonjakan Saat rapat terpadu di Mapolres Jembrana (25/5), Kapolres Jembrana Ajun Komisaris Besar Budi P. Saragih mengatakan bahwa pengamanan arus mudik diperlukan sinergi dari semua pihak. Selain melakukan pemeriksaan rutin terhadap kendaraan, barang, dan orang yang masuk ke Bali, pihak otoritas Pelabuhan Gilimanuk juga sudah siap untuk menerima lonjakan kendaraan dan penumpang saat arus mudik maupun balik.

Untuk menyeberangkan pemudik berikut kendaraannya, kata Manajer Operasional PT ASDP Indonesia Ferry Pelabuhan Gulimanuk Heru Wahyono, akan dikerahkan 32 kapal pada puncak arus mudik. Menurut dia, sebanyak 55 kapal siap beroperasi di Selat Bali. Namun, hanya 32 yang dikerahkan, sedangkan sisanya sebagai cadangan.

Terkait dengankondisi cuaca, juga menjadi perhatian pihaknya. Kalau cuaca buruk dan membahayakan kapal yang berlayar, seperti biasa penyeberangan sementara ditutup. "Yang paling penting adalah keselamatan penumpang," katanya.

Kepala Bagian Operasional Polres Jembrana Komisaris M. Didik Wiratmoko mengatakan bahwa terminal kargo seluas 3 hektare yang baru dibangun di Kelurahan Gilimanuk akan dimanfaatkan menampung sementara kendaraan kecil sebelum menuju ke pelabuhan.

"Ini merupakan lokasi penampungan kendaraan yang belum ada pada arus mudik tahun sebelumnya. Di lokasi ini juga akan disediakan berbagai fasilitas penunjang, termasuk pembelian tiket 'online'," katanya.

Selain lokasi yang baru itu, pengaturan kendaraan masih sama seperti tahun sebelumnya. Mobil pribadi akan diarahkan ke gang-gang untuk menuju pelabuhan, sementara jalur utama diperuntukkan sepeda motor dan bus.

Menurut dia, mobil pribadi dari arah Denpasar saat memasuki Kelurahan Gilimanuk atau tepat di gelung kori (penanda memasuki Kelurahan Gilimanuk dengan patung naga di atas jalan raya) akan diarahkan belok kiri memasuki gang permukiman tembus sampai pelabuhan.

Untuk kendaraan dari arah Gilimanuk, selepas pelabuhan juga diarahkan melewati jalan perkampungan yang akan tembus ke jalan utama Denpasar-Gilimanuk.

Kepala Dinas Kelautan, Perikanan, dan Perhubungan Jembrana I Made Dwi Maharimbawa membenarkan terminal kargo Gilimanuk akan digunakan menampung kendaraan pemudik.

Terminal kargo itu bisa menampung 200 kendaraan jenis mobil pribadi yang akan digunakan jika terjadi kemacetan di jalan-jalan kampung arah pelabuhan. Hingga kini, pewarta Antara di Jembrana melaporkan beberapa ruas jalan Denpasar-Gilimanuk yang masuk wilayah Kabupaten Jembrana dilakukan perbaikan, seperti di Kecamatan Melaya yang memang sering rusak.

Pada tahun ini, pengamanan pemudik di Pelabuhan Gilimanuk agak berbeda jika dibandingankan dengan pada tahun lalu. Hal ini karena perlu pengamanan total untuk mempersempit ruang gerak teroris. Kendati demikian, lokasi alternatif penampungan kendaraan untuk kenyamanan juga diperlukan.


Gianyar, 25/5 (Benhil) - Sebanyak 14 seniman yang terhimpun dalam Yayasan Tri Pusaka Sakti Desa Budaya Batuan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali ikut ambil bagian dalam Festival Budaya di Kota Fest Negara Maroco, Afrika, selama dua minggu, 15-30 Juni 2018.

"Seniman Bali dalam kegiatan internasional tersebut menampilkan kesenian klasik kekebyaran, palegongan, dan petopengan, termasuk maestro tari I Made Jimat," kata Ketua Yayasan Tri Pusaka Sakti I Nyoman Budi Artha di Gianyar, Jumat.

Ia mengatakan duta seni Pulau Dewata selain tampil dalam kegiatan festival juga akan melakukan lokakarya tentang berbagai jenis musik Bali, di antaranya gamelan Gambuh, Gong Kebyar, Genggong, dan Kecak.

Upaya tersebut untuk menambah wawasan dan menginformasikan secara mendalam tentang keindahan budaya serta kesenian Bali.

Pihaknya juga tampil sebagai pembicara dalam lokakarya serta memberikan ceramah tentang kesenian dan budaya Bali dengan materi "The Arts Of Bali As The Inspiration Of Life".

"Misi diplomasi kesenian yang dilakukan Yayasan Tri Pusaka Sakti tentu merupakan momentum yang sangat baik, untuk lebih mengenalkan keindahan dan keungguan kesenian Bali di dunia internasional, khususnya di Benua Afrika. Pasar wisata Afrika sangat potensial dan luar biasa yang perlu dijangkau untuk mengadakan diplomasi atau kerja sama dalam bidang kebudayaan," ujar Budi Artha.

Ia mengharapkan peluang tersebut dapat dimanfaatkan oleh pemerintah atau negara, di tengah-tengah persaingan globalisasi budaya.

Tampilnya empat belas seniman Bali dalam kegiatan bertaraf internasional di Afrika diharapkan mengharumkan dan memperkenalkan keunggulan budaya khusunya kesenian Bali agar mampu bersaing dalam dunia internasional.

Bali sebagai daerah tujuan wisata masyarakat berbagai negara di belahan dunia dituntut dapat memperkenalkan dan menyampaikan informasi kekayaan budaya setempat dengan dukungan dari berbagai elemen dan menjadi program pemerintah.

"Keindahan budaya Bali, khususnya kesenian Bali, memang tak diragukan lagi bahkan keindahan kesenian Bali telah dikenal dunia sejak tahun 1920-an, terbukti sejak tahun 1920-an, mulai banyaknya wisatawan mancanegara mengunjungi Bali," ujarnya.

Ia mengatakan sekitar 1930-an mulai diplomasi kesenian ke dunia internasional, sehingga lebih mampu mengangkat dan mengharumkan nama Bali, Indonesia di dunia internasional.

Kejayaan kesenian Bali melalui diplomasi-diplomasi kesenian yang dilakukan para seniman dan maestro Bali pada 1990-an, katanya, mampu meningkatkan kesejahteraan dan perolehan devisa.

Ia mengatakan bahwa perjuangan seniman berat hingga meraih prestasi, yakni wisatawan dari berbagai negara di belahan dunia melirik dan mengunjungi Bali.

Ia menyayangkan sejak 2000-an diplomasi melalui kesenian ke luar negeri menurun, di tengah derasnya persaingan budaya kesenian, khususnya negara-negara di kawasan Asia, antara lain Malaysia, Filipina, India, Taiwan, China, dan Jepang.

Jakarta, 15/10 (Benhil) - Sudah 24 hari status awas (level 4) Gunung Agung di Bali ditetapkan oleh PVMBG sejak 22 September 2017 tapi tanda-tanda letusan belum tampak meski aktivitas vulkanik masih tinggi.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat, saat ini gempa didominasi aktivitas gempa vulkanik dengan magnitudo gempa banyak di bawah dua Skala Richter. Gempa vulkanik jumlahnya belum menurun. Potensi untuk meletus tetap tinggi tetapi tidak dapat dipastikan secara pasti kapan akan meletus ataukah tidak jadi meletus.

Daerah yang harus dikosongkan tetap sama yaitu di radius sembilan kilometer dari puncak kawah dan 12 kilometer di sektor utara-timur laut dan sektor tenggara-selatan-barat daya. Ribuan warga masih mengungsi.

Untuk memberikan kemudahan akses dalam penanganan darurat maka Gubernur Bali Mangku Pastika kembali memperpanjang masa keadaan darurat penanganan pengungsi 14 hari yang berlaku 13-26 Oktober 2017.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan perpanjangan masa darurat adalah hal yang biasa. Status keadaan darurat pasti akan diperpanjang selama Gunung Agung masih status awas. Selesainya masa keadaan darurat tergantung pada ancaman bencana.

Berita Terkait Lainnya Tentang Gunung Agung Bali dan Gunung Sinabung di Sumatera

Selama PVMBG masih menetapkan status awas dan radius berbahaya yang harus dikosongkan ada penduduknya, kata dia, maka keadaan darurat pasti akan diberlakukan untuk memberikan kemudahan akses bagi pemerintah dan pemda dalam administrasi penanganan darurat.

"Sebagai perbandingan, di Gunung Sinabung di Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara, status tanggap darurat bencana sudah berlaku lebih dari dua tahun sejak Gunung Sinabung statusnya Awas pada 2 Juni 2015. Setiap dua minggu Bupati Karo memperpanjang surat pernyataan tanggap darurat," kata dia.

Pengungsi di Gunung Agung sendiri masih memerlukan bantuan dan pemerintah jamin kebutuhan pangan pengunsi Gunung Agung. Tercatat pengungsi 139.199 jiwa di 389 titik pengungsian yang tersebar di sembilan kabupaten dan kota di Bali. Sebagian pengungsi kembali ke rumahnya meski sudah dilarang karena berbahaya. Alasan mereka kembali ke rumahnya karena merasa jenuh, ingin bekerja lagi dan merawat ternak dan lahan pertaniannya.

Selama di pengungsian penghasilan masyarakat menurun. Mereka ingin bekerja kembali agar dapat mencukupi kebutuhannya. Sementara itu, aparat gabungan terus melakukan sosialisasi dan imbauan kepada masyarakat agar kembali ke pengungsian. Aparat juga terus memberikan pemahaman kepada masyarakat agar tidak usah takut dengan Gunung Agung. Sutopo mengatakan letusan sebuah gunung api merupakan sebuah ancaman sekaligus "berkah". Setiap masyarakat harus mengakrabi fenomena alam tersebut sehingga apabila terjadi aktivitas alam yang membahayakan manusia maka perlu diantisipasi dengan baik.

"Yang namanya gunung api pasti akan meletus dalam periode tertentu. Tapi pascaletusan memberikan berkah yang luar biasa. Lahan menjadi subur, produktivitas pertanian meningkat, melimpahnya pasir dan batu yang dapat ditambang dan lainnya. Masyarakat harus mengakrabi gunung. Hidup harmoni dengan gunung api. Saat meletus masyarakat dapat mengungsi sementara," kata dia.

Tetap Waspada Dansatgas Siaga Gunung Agung Letkol Fierman Sjahrial menjelaskan langkah-langkah yang sudah dilakukan dalam rangka penanganan siaga daurat Gunung Agung seperti mengevakuasi masyarakat yang berada di radius kawasan rawan bencana (KRB) serta mendirikan pos-pos pengamanan agar masyarakat tidak mendekati wilayah rawan bahaya.

"Personel kami terdiri atas TNI, Polri, ASN dan masyarakat. Kami menggunakan masyarakat lokal untuk memberikan unsur edukasi sehingga masyarakat tahu dan diajak berpikir bahwa itu demi keselamatan mereka. Selain itu, kami mensosialisasikan konten yang bersifat pasif seperti pamflet sehingga masyarakat bisa membaca apa saja yang dapat membahayakan mereka," kata dia.

Deputi 1 BNPB Wisnu Widjaja mengatakan tugas dan fungsi BNPB dalam siaga darurat ini adalah untuk melakukan pendampingan teknis, manajemen dan informasi dan selalu berpatokan pada informasi dari PVMBG.

"Di sini kami menganalisis risikonya, yang kita lakukan adalah mengetahui bersama bahwa status awas memiliki risiko yang sangat tinggi. Jika kondisi awas tidak ada perubahan maka pernyataan siaga darurat dapat diperpanjang dan juga sebaliknya jika ada penurunan dari vulkanologi maka siaga darurat akan dihentikan. Dengan pernyataan siaga darurat, BNPB mendapatkan kemudahan akses untuk mengerahkan sumber daya baik dari daerah maupun nasional," kata dia.

Dia mengatakan masyarakat harus bersabar dalam menghadapi ini, karena di balik bencana ada berkah yang sangat besar, seperti jika terjadi erupsi, material yang dikeluarkan berupa pasir dapat dijual dan menjadi pendapatan bagi masyarakat dan pemerintah daerah.

"Jika kita melihat pengalaman dari erupsi Gunung Merapi masyarakat Yogyakarta dan Jawa Tengah dapat memanfaatkan pasir sebagai penghasilan untuk hidup bahkan berlebih," kata dia.

Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Niken Widiastuti mengatakan bahwa Kementerian Kominfo mendukung siaga darurat dalam memberikan informasi-informasi, sosialisasi dan "trauma healing" kepada masyarakat.

"Pertama Informasi yang kami sampaikan tentu informasi yang valid mengenai Gunung Agung, rekomendasi apa saja yang dapat dilakukan dan yang kedua adalah sosialisasi mengedukasi kepada masyarakat bagaimana mendapatkan informasi yang akurat, terpercaya dari sumber-sumber pemerintah karena banyak informasi yang mengandung 'hoax' yang menyesatkan dan yang ketiga adalah membuat infografis yang diviralkan ke media-media cetak elektronik maupun media sosial sehingga dapat diakses masyarakat luas," katanya.

Teknologi bencana Tidak adanya peralatan di puncak kawah mengakibatkan tidak dapat diketahui kondisi visual secara terus-menerus. Sementara itu di puncak kawah berbahaya dan tidak boleh ada aktivitas masyarakat. Oleh karena untuk melakukan pemantauan puncak kawah dan lingkungan sekitar Gunung Agung, BNPB bersama PVMBG menerbangkan drone atau pesawat tanpa awak.

Secara visual belum terlihat tanda-tanda letusan Gunung Agung. Kepala BNPB Willem Rampangilei memprakarsai penggunaan pesawat tanpa awak (drone) untuk memantau kawah Gunung Agung.

"Kita harus kerahkan drone yang memiliki spesifikasi khusus terbang tinggi yang mampu mendokumentasikan semua fenomena di kawah. Tanpa drone kita tidak tahu apa yang terjadi. Citra satelit tidak dapat setiap saat memantau perkembangan kawah. Oleh karena itu, drone menjadi pilihan yang terbaik. Aman, efektif dan 'update'," kata Willem.

BNPB, kata dia, mengerahkan lima unit drone dengan spesifikasi berbeda terdiri dari tiga unit drone fixed wing yaitu Koax 3:0, Tawon 1.8 dan Mavic. Sedangkan dua unit drone jenis rotary wing adalah multi rotor M600 dan Dji Phantom.

Menurut dia, Gunung Agung memiliki tinggi sekitar 10.400 kaki maka diperlukan drone yang memiliki kemampuan terbang tinggi. Tidak banyak drone yang memiliki kemampuan terbang tinggi. Drone Koax 3:0 dan Tawon 1.8 memiliki kemampuan terbang hingga 13 ribu kaki. Mesin menggunakan baham bakar ethanol agar dapat terbang tinggi.

Sementara itu, dia mengatakan drone rotary wing digunakan karena mampu terbang di ketinggian 500 meter untuk memetakan permukiman dan alur-alur sungai. Untuk mendukung semua itu digunakan "Ground Control Station" yang mobile.

Willem mengatakan penggunaan drone untuk penanggulangan bencana sendiri bukanlah hal yang baru. Untuk kebutuhan kaji cepat yang efektif, drone sangat bermanfaat. Keluwesan terbang drone, baik vertikal maupun horizontal dalam jangkauan tertentu, serta kemampuan mengambil gambar dari ketinggian tertentu, drone telah menawarkan gambar atau "landscape" berbeda dalam melihat peristiwa bencana. Beberapa kali BNPB bersama Lapan, BIG, BPPT, TNI, Basarnas, BPBD dan relawan menerbangkan drone untuk penanganan bencana seperti dalam penanganan letusan Gunung Sinabung, Gunung Kelud, banjir Jakarta, longsor Ponorogo, longsor Banjarnegara dan lainnya. Sebuah studi yang dilakukan Palang Merah Amerika menyebutkan bahwa drone adalah salah satu teknologi baru yang paling menjanjikan dan ampuh untuk meningkatkan respon bencana. (Ben/An)


Media Sosial

Denpasar, 15/10 (Antara) - Sejak 22 September 2017 hingga kini, Gunung Agung setinggi 3.142 mdpl masih berdiri kokoh, kendati gunung tertinggi di Bali itu sudah berminggu-minggu menyandang status Awas.

Namun, status Gunung Agung kali ini berada dalam era yang jauh berbeda dengan tahun 1963 saat meletus yang terakhir, yakni era digital yang memungkinkan terjadinya "letusan" sebelum waktunya.

Bahkan, seorang rekan menyebut dunia digital bisa merancang "run-down" (rincian waktu dari detik ke detik) meletusnya gunung api itu, tentu teman itu hanya berkelakar, karena erupsi itu tidak mungkin dijadwalkan.

Meski kelakar, fakta yang ada memang menunjukkan media sosial begitu sangat mudahnya menyajikan informasi tanpa verifikasi dan disebarkan secara estafet dengan istilah "copas dari tetangga sebelah".

Sesungguhnya, informasi yang menyebar di dunia digital tidak layak untuk dipercaya sama sekali bila tanpa verifikasi atau sumber referensi yang jelas, kecuali sebatas curhat, motivasi, guyon, dan non-informasi lainnya.

Jangankan informasi berupa tulisan, gambar pun dalam dunia teknologi digital bisa merupakan tempelen dari beberapa gambar, bahkan video pun bisa merupakan video yang dikutip dari lokasi lain yang dibuat seolah-olah "up-date" untuk wilayah kita dengan sedikit manipulasi.

Tidak hanya itu, suara dalam dunia digital pun bisa direkayasa dengan dubbing, bahkan tanda tangan resmi sekalipun tidak layak dipercaya kalau ada di dunia digital, karena bisa direkayasa dengan cara "scan", mungkin maksudnya untuk meyakinkan, padahal menipu.

Dalam dunia digital, rekayasa dan manipulasi itu tujuannya adalah viral (berantai) untuk rival (pesaing) dengan tujuan ekonomi atau kegiatan bisnis, sosial politik, maupun penetrasi budaya.

Manipulasi atau rekayasa itu sudah dialami Gunung Agung saat terjadi peningkatan gejolak vulkanik Gunung Agung di Karangasem, Bali, dari status Waspada menjadi Siaga (18/9/2017).

Saat itu, pada saat yang bersamaan terjadi kebakaran lahan pada lereng gunung tertinggi di Pulau Dewata itu, sehingga foto kebakaran itu pada malam hari akan terlihat seperti lava pijar.

Nah, foto "lava pijar" (palsu) itu pun di-share ke medsos seolah-olah Gunung Agung meletus! Padahal, cuma "letusan" medsos. Kepala Data dan Informasi BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mencatat adanya tiga "hotspot" kebakaran hutan dan lahan di sekitar Kubu, Kabupaten Karangasem.

Padahal, foto itu bukan rekayasa, tapi momentumnya saja yang di-pelintir (manipulasi). Kendati demikian, rekayasa foto dan video untuk Gunung Agung juga ada.

Rekayasa yang dimaksud itu dialami Gunung Agung pada 24 September 2017 atau selang dua sehari perubahan status dari Siaga ke Awas. Rekayasa itu menampilkan video tentang gunung lain yang memuntahkan lahar, tapi diberi judul "Gunung Agung Meletus".

Akhirnya, foto dan video rekayasa itu viral, padahal pengirimnya bisa meneguk keuntungan yang cukup menggiurkan dari viralisasi itu hingga belasan juta dalam sehari. Keuntungan dari "hits" yang memicu kepanikan.

Skenario evakuasi Informasi dari media sosial yang tidak objektif itu disesalkan Sekretaris Daerah Kabupaten Badung, Bali, I Wayan Adi Arnawa, karena dampaknya bisa merugikan masyarakat di Pulau Dewata dengan potensi wisata yang mendunia itu.

"Anak saya dan teman-temannya di Inggris pun bertanya, padahal Gunung Agung itu belum apa-apa. Itu bisa merugikan masyarakat dan daerah kita yang memiliki potensi pariwisata itu," katanya saat menerima audiensi pimpinan dan staf LKBN Antara Biro Bali di kantornya (9/10).

Oleh karena itu, ia berharap masyarakat untuk memercayai media massa (termasuk, media daring/online) daripada media sosial yang tanpa verifikasi. Namun, ia juga berharap kepada pers untuk tidak membesar-besarkan status Awas di Gunung Agung yang dapat memantik kepanikan masyarakat.

Ya, gunung meletus memang tidak mungkin dicegah, tetapi antisipasi sudah dilakukan aparat pemerintah dan masyarakat setempat dengan maksimal untuk mengurangi jumlah korban jiwa maupun harta benda, karena itu pihak yang rentan seperti orang tua, lansia, jompo, orang sakit, ibu akan melahirkan, balita, dan orang dengan gangguan jiwa pun sudah diungsikan.

Tidak hanya itu, upaya mengevakuasi ribuan warga dari 28 desa di Kabupaten Karangasem yang diperkirakan terdampak di zona merah juga telah dilakukan, termasuk mendirikan penampungan pengungsi, memenuhi kebutuhan harian dan logistik lainnya menjadi upaya prioritas.

Selain itu, pihak-pihak terkait di Bali juga sudah menyiapkan tempat penitipan motor, mobil, uang, hingga penitipan hewan ternak yang nantinya dijaga oleh polisi maupun TNI supaya tidak ada pencurian.

Bahkan, penanganan wisatawan di titik kumpul masing-masing hotel termasuk di bandara dan pelabuhan juga telah ditentukan dalam kondisi darurat bila erupsi terjadi.

Skenario evakuasi mengantarkan wisatawan yang beralih menggunakan jalur darat apabila bandara ditutup juga telah disusun dengan menyiagakan 700 bus bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan dan Organda Bali.

Sementara itu, pemerintah pusat juga menyiapkan 10 bandara alternatif yakni bandara di Jakarta, Makassar, Surabaya, Balikpapan, Solo, Ambon, Manado, Lombok Praya, Kupang, dan Banyuwangi.

Imbauan serupa juga datang dari Gubernur Bali Made Mangku Pastika. Bahkan ia meminta para awak media agar tidak memberitakan secara berlebihan mengenai hal-hal terkait peningkatan status vulkanik Gunung Agung karena dinilai akan berdampak buruk dan mendorong keresahan warga.

Ia meminta peranserta awak media agar tidak memberitakan secara lebay atau berlebihan.

"Ya, itu yang saya harapkan terus-terang saja. Ini kan kita sudah siap semua. Boleh lihat kesiapan kita seperti apa ya. Saya yakin semua akan bisa kita atasi sebaik-baiknya," katanya.

Secara khusus, Pastika meminta pegiat media sosial harus pintar dan bijak dalam memanfaatkan kemajuan teknologi.

"Ya, kepada pengguna medsos (media sosial) juga saya minta tanggung jawabnya ini. Masak ingin menyusahkan orang yang sudah susah. Dosanya besar sekali," ucapnya.

Langkah proaktif juga ditempuh Gubernur Bali Made Mangku Pastika dengan melakukan komunikasi intensif dengan pelaku pariwisata di Bali, termasuk perwakilan negara asing di Pulau Dewata, apalagi Bali masih memiliki ratusan objek wisata yang jauh dari gunungapi itu, sehingga dampak terhadap objek wisata hanya sepersekian.

"Saya tidak terlalu khawatir dengan status awas Gunung Agung," kata seorang wisatawan dari Jerman, Thomas Picht, yang datang ke Karangasem untuk menikmati dan mengabadikan pemandangan hijau perbukitan Gunung Agung dengan kamera dari telepon selulernya. (Ben/An)

Perak Bali

Tekun, teliti, dan cekatan, itulah sosok pengrajin perak di Desa Celuk, Kabupaten Gianyar. Kedua tangan itu memegang alat untuk menempelkan serpihan perak atau emas cair di sekeliling cincin maupun aneka perhiasan lainnya.

Sementara itu, kakinya bergerak memompa gas api yang berfungsi memanaskan serpihan perak agar benda itu tetap cair hingga tetap kuat melekat saat terkena terpaan angin.

Pemandangan seperti itu terlihat di tepi jalan sepanjang jalur utama Denpasar-Ubud, tepatnya di Desa Celuk, Bali, yang merupakan sentra kerajinan emas dan perak di Pulau Dewata.

Industri rumah tangga yang bergelut dengan kerajinan berbahan baku perak atau emas itu memerlukan pengalaman dan keterampilan khusus.

Sebuah meja kerja dengan peralatan yang sangat sederhana itu berderet di teras rumah masing-masing pengrajin, berkat kesungguhan pemiliknya mampu menghasilkan produk aneka perhiasan yang menjadi salah satu cendera mata khas Pulau Dewata yang menembus pasaran mancanegara.

Untuk memacu promosi bisnis dan meningkatkan pemasaran hasil kreativitas kerajinan perak dan emas, desa setempat akan menggelar kegiatan "Celuk Jewellery Festival 2017", mulai 13 hingga 15 Oktober 2017.

Menurut Ketua Panitia Celuk Jewellery Festival (CJF) 2017 Ketut Widi Putra kegiatan tersebut merupakan yang kedua kalinya. Festival ini diharapkan dapat dilaksanakan secara kontinu sebagai upaya promosi dan meningkatkan pemasaran hasil produksi skala rumah tangga yang ditekuni sebagian besar masyarakat setempat.

Festival tersebut mengusung tema "Mahakarya Mustika Nusantara" melibatkan 68 peserta yang terdiri atas 24 usaha kecil dan menengah (UKM) yang bergerak dalam bidang perhiasan, sebanyak 24 warung kuliner dan 20 peserta pameran aneka produk.

Celuk Jewellery Festival 2017 diharapkan menjadi ajang premosi dan penjualan hasil karya dan kreativitas masyarakat Desa Celuk dalam bentuk seni, kerajinan perak, kuliner, maupun busana.

Semua kegiatan itu dikemas dalam rangkaian acara yang menarik meliputi pameran aneka jenis perhiasan (jewellery expo), pameran aneka produk, lomba, seminar, lokakarya, pagelaran seni budaya, kelas pembuatan kerajinan, peragaan busana, dan musik.

Khusus peragaan busana yang diharapkan mampu menarik perhatian masyarakat, termasuk wisatawan mancanegara yang sedang menikmati liburan di Pulau Dewata dirancang Tjok Abi dan Sintha Chrisna Boutique yang dikolaborasikan dengan koleksi aksessoris dari para pengrajin perhiasan perak warga Desa Celuk.

Kegiatan seminar kewirausahaan dengan pembicara Ketua Apindo Bali Panudiana Khun, pendiri "Mangsi Coffee" Windu Segara Senat, praktisi pariwisata Cokorde Gede Putra Sukawati, pemilik Museum Arma Ubud Anak Agung Arma, dan Ketua Yayasan Tri Hita Karana Gusti Ngurah Wisnu Wardhana.

Inovasi Potensi Daerah Bupati Gianyar Anak Agung Gede Bharata memberikan apresiasi dan mendukung pelaksanaan "Celuk Jewellery Festival" yang digagas masyarakat setempat sebagai upaya melestarikan seni budaya dan melakukan inovasi terhadap potensi daerah yang selama ini telah dikenal masyarakat internasional.

Lewat kegiatan festival di tingkat desa diharapkan mampu melestarikan seni dan budaya, mulai dari tarian hingga potensi lainnya yang mampu mengangkat tingkat kesejahteraan masyarakat yang lebih baik.

Hal itu penting karena pelastarian seni budaya dan potensi daerah mampu menjadi modal dalam menghadapi perkembangan zaman globalisasi yang memberi kebebasan manusia untuk melakukan perdagangan, termasuk transformasi kebudayaan.

Oleh sebab itu, masyarakat masyarakat Gianyar yang selama ini dikenal sebagai daerah "gudang seni" mampu melestarikan seni budaya warisan leluhur dengan baik sehingga seni dan budaya itu tetap kukuh dan lestari.

Kelestarian seni dan budaya pada era globalisasi menghadapi persaingan cukup ketat dengan budaya barat sehingga menuntut adanya "filterisasi" salah satunya dengan menyelenggarakan festival-festival di daerah setempat.

Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Gianyar sangat mendukung dan mendorong agar pelestarian budaya dapat berjalan secara berkesinambungan sehingga seni dan budaya tetap lestari.

Pelestarian budaya menurut Bupati Agung Bharata terletak pada kemampuan generasi muda. Oleh karena itu, semangat generasi muda patut diapresiasi, salah satunya dengan penyelenggaraan "Celuk Jewellery Festival".

Kegiatan itu sekaligus bagian dari promosi pariwisata Bali. Desa Celuk (Gianyar) sudah terkenal sejak dahulu dengan kerajinan emas dan perak. Sampai saat ini pun masih tetap eksis.

Urus HAKI Bupati Anak Agung Gede Bharata juga mendorong pengrajin emas dan perak di Desa Celuk untuk melakukan pendaftaran hak atas kekayaan intelektual (HAKI) Kementerian Hukum dan HAM sebagai upaya melindungi hasil khas kerajinan desa setempat.

Hal itu dinilai sangat penting dan mendesak karena hasil kerajinan perak dan emas Desa Celuk, Kabupaten Gianya menjadi ikon yang selama ini telah dikenal masyarakat internasional.

Hak paten yang dimiliki pengrajin Desa Celuk sangat penting sebagai upaya mengantisipasi adanya plagiat produk oleh orang lain tidak bertanggung jawab di dalam negeri maupun dari negara lain.

Dengan hak paten tersebut, mempunyai kekuatan hukum sehingga jika ada yang menggunakan atau memproduksi kerajinan itu bisa menggugatnya atau mendapatkan hasil dari HAKI tersebut.

Untuk mendapatkan HAKI, kata dia, memang ada persyaratan dalam pengajuannya. Namun, pemerintah kabupaten akan membantu dalam pengajuan produk-produk kerajinan seni itu ke lembaga tersebut.

Hal itu penting karena pada era globalisasi apa saja bisa ditiru mirip dengan aslinya. Oleh sebab itu, langkah dalam pelestarian dan pengamanan hasil produk kerajinan Desa Celuk yang sudah diakui di mancanegara tidak terancam diperlukanlah pendaftaran HAKI.

Pendaftaran untuk mendapatkan HAKI sangat penting dalam memproteksi hasil kerajinan oleh tangan-tangan terampil warga masyarakat Desa Celuk, kata Bupati Agung Bharata.

Gunung Agung

Klungkung, Bali, 7/10 (Benhil) - Sebanyak 143 orang pengungsi berada di Posko Banjar Lebah, Desa Basangkawan, Kabupaten Klungkung Bali memilih kembali ke daerah asalnya di Dusun Hyang Api, Desa Muncan, Kecamatan Selat, Karangasem, Sabtu.

"Bukan karena keinginan kami yang memulangkan para pengungsi ini, namun para pengungsi yang menginginkan kembali ke rumahnya," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Klungkung, Bali I Putu Widiada saat mengantar warga mengungsi di Klungkung.

Para pengungsi yang kembali ke Dusun Hyang Api ini rata-rata warga berusia dewasa dan anak-anak maupun beberapa orang lansia.

Keinginan pengungsi untuk kembali ke dusunnya ini, kata Putu Widiada karena permintaan dari kelian adat (kepala dusun) yang menyatakan daerahnya berada di luar kawasan rawan bencana (KRB).

"Kami BPBD Klungkung hanya memfasilitasi kepulangan mereka," ujarnya.

Pemulangan mereka diantar dengan menggunakan dua unit bus milik angkutan kota milik Dinas Perhubungan Kabupaten Klungkung dan barang-barang milik pengungsi diangkut menggunakan satu unit truk masing-masing milik Kodim setempat dan Polsek Klungkung.

"Awalnya mereka mengungsi ke Posko Banjar Lebah dengan sepeda motor dan meminjam mobil milik warga setempat," ujarnya.

Sebelumnya, BPBD Klungkung telah memulangkan 121 jiwa berasal dari 36 kepala keluarga (KK) dari Dusun Benekasa, Desa Muncan, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, pada Jumat (6/10) lalu.

Pemulangan warga pengungsi ini diantar langsung Wakil Bupati Klungkung, Bali, I Made Kasta yang mengharapkan para pengungsi yang dipulangkan ini dapat melakukan aktivitas seperti biasa di rumahnya.

BPBD Klungkung mencatat jumlah pengungsi yang rumahnya berada pada zona aman sebanyak 1.794 jiwa tersebar meliputi 43 desa dan 122 titik pengungsian di kabupaten tersebut. (Ben/An)

Gunung Agung Bali

Bali, 07/09 (Benhil) Ratusan masyarakat yang telah mengungsi selama dua minggu di Gedung Olah Raga Swecapura Kabupaten Klungkung secara bertahap kembali ke rumah masing-masing di Kabupaten Karangasem setelah desanya dinyatakan aman, meskipun Gunung Agung tetap berstatus Awas.

Karangasem, salah satu dari sembilan kabupaten dan kota di Bali memiliki 78 desa. Hanya 28 desa yang terdampak langsung jika Gunung Agung (3.142 meter di atas permukaan air laut) erupsi, sisanya 50 desa diperkirakan aman sehingga masyarakat tidak perlu mengungsi.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klungkung I Putu Widiada mengatakan masyarakat dari 50 desa yang dinyatakan aman yang sebelumnya telah dilakukan pendataan dengan rinci, atas kesadarannya sendiri secara tertahap kembali ke rumah masing-masing.

Pengungsi yang tersebar pada 122 titik di Kabupaten Klungkung yang rumahnya berada di zona aman sebanyak 1.794 orang. Mereka yang berasal dari 43 desa di wilayah ujung paling timur Pulau Dewata itu sudah kembali ke desa asalnya.

Mereka pulang atas kesadaran sendiri, bahkan diantar oleh Wakil Bupati Klungkung I Made Kasta sampai di Dusun Benekasa, Desa Muncan, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem yang berjarak sekitar 20 km dari tempat pengungsian.

Masyarakat yang pulang ke tempat tinggalnya itu difasilitasi pemerintah setempat sebanyak 36 kepala keluarga atau 121 jiwa) dengan harapan dapat kembali melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa, Selain itu, warga lebih tenang dalam menjalani kehidupan, sedangkan anak-anak kembali sekolah seperti biasa, salah satu faktor awal pertimbangan sebagian warga dibalik keengganan korban Gunung Agung mengungsi.

Meskipun demikian, Pemkab Klungkung tetap akan menerima mereka jika dalam waktu ke depan, warga terdampak Gunung Agung berkeinginan kembali ke pengungsian.

Klungkung daerah tetangga paling dekat dengan Kabupaten Karangasem sebelumnya menampung pengungsi 20.227 jiwa, di mana 1.784 jiwa di antaranya sudah kembali ke desa asalnya. Kini mereka yang masih tinggal tercatat 18.443 jiwa.

Kembalinya para pengungsi ke rumah masing-masing atas kesadaran sendiri, tanpa ada paksaan pihak lain, sesuai harapan Gubernur Bali Made Mangku Pastika karena hanya masyarakat di 28 desa rawan bencana yang wajib menjauh setelah sebelumnya warga di kawasan rawan bencana Gunung Agung wajuin ngungsi.

Jumlah pengungsi yang sempat membengkak, diperkirakan mencapai 150.109 orang di 420 titik tersebar di delapan kabupaten dan satu kota di Bali.

Mereka mengungsi karena kekhawatiran, rasa panik, dan tidak memiliki pengetahuan tentang kebencanaan terkait dengan peningkatan status aktivitas vulkanik Gunung Agung.

Oleh sebab itu, menurut Gubernur Mangku Pastika, tim penanggulangan bencana dapat bekerja cepat mengembalikan para pengungsi yang ada di luar kawasan rawan bencana ke desa masing-masing untuk beraktivitas seperti biasa dan selama di pengungsian Pemerintah menjamin kebutuhan pangan pengungsi Gunung Agung.

"Saya yang menjamin jika masyarakat yang tinggal di luar kawasan rawan bencana (KRB) aman. Jika memang terjadi letusan baru kemudian dilakukan tindakan pengamanan lanjutan," ujarnya.

Gunung Agung sejak 22 September berstatus Awas atau Level IV. Hingga Sabtu (7/10) telah memasuki hari ke-15, situasinya tetap mempunyai potensi erupsi.

Sejak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral meningkatkan status Gunung Agung menjadi Awas, wilayah steril yang semula radius enam kilometer dari puncak gunung itu, diperluas menjadi sembilan kilometer.

Selain itu ditambah perluasan wilayah sektoral yang semula 7,5 kilometer menjadi 12 kilometer ke arah utara, timur laut, tenggara, dan selatan-barat daya sehingga kawasan yang berbahaya dalam radius 12 kilometer dari Gunung Agung harus dikosongkan.

Meskipun aktivitas gunung terus meningkat, hanya masyarakat di 28 desa di lereng Gunung Agung yang masuk dalam kawasan rawan bencana yang diwajibkan untuk mengungsi ke tempat aman.

Diperpanjang Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei mengatakan pihaknya memperpanjang masa siaga darurat Gunung Agung hingga 16 Oktober 2017.

Semula, masa siaga darurat itu sejak 22 September hingga 1 Oktober 2017 dan diperpanjang selama dua minggu, karena sampai sekarang rata-rata tidak ada penurunan bahkan menunjukkan kecenderungan aktivitas vulkanik gunung tersebut yang meningkat.

Keputusan memperpanjang masa siaga darurat itu telah melalui diskusi BNPB, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Pemkab Karangasem, dan pihak terkait lainnya.

"Kami menghadapi ketidakpastian. Ini salah satu tantangan terberat tetapi kami siap jika hal buruk terjadi," ujar Willem Rampangilei yang siaga di Bali sejak awal September lalu ketika aktivitas Gunung Agung mulai menigkat.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) hingga Kamis (5/10) pukul 12.00 Wita, mencatat tingkat kegempaan masih tinggi, untuk vulkanik dangkal mencapai 93 kali, vulkanik dalam 113 kali, dan tektonik lokal 18 kali.

Gunung tertinggi di Bali yang senantiasa dijadikan tempat kegiatan ritual "Mulang Pekelem" terkait dengan kegiatan ritual di Pura Besakih maupun pura-pura besar lainnya itu, diperkirakan sedang mengakumulasikan energi yang mengakibatkan tingkat gempa tektonik lokal tidak terasa beberapa hari terakhir.

Menurut perkiraan Kepala Bidang Mitigasi Gunungapi PVMBG Gede Suantika, kondisi gunung itu mungkin masih menunggu akumulasi energi lebih dalam lagi yang dari bawah atau penambahan energi.

Selama lima hari belakangan ini gempa tektonik lokal di sekitar kawasan gunung api hingga di Pos Pengamatan yang berjarak sekitar 12,5 kilometer arah selatan gunung api sudah tidak terasa karena magnitudo berkisar 2,0 hingga 3,0 Skala Richter.

Gempa tektonik lokal yang cukup besar terasa, tercatat terjadi saat masa kritis dengan magnitudo 4,3 Skala Richter pada 27 September 2017 sekitar pukul 13.12 Wita.

Gempa tersebut terjadi pada kedalaman delapan kilometer yang terasa di Denpasar, Karangasem, dan Gianyar. Meski demikian, gempa vulkanik dalam dan dangkal hingga saat ini masih tercatat dalam, dengan intensitas yang tinggi, yakni rata-rata di atas 500 kali dan 350 kali.

Terkait dengan aktivitas seismik Gunung Agung, PVMBG mencatat pukul 06.00 hingga 12.00 Wita, jumlah gempa vulkanik dangkal mencapai 69 kali, vulkanik dalam 147 kali, dan tektonik lokal 22 kali.

PVMBG juga mencatat tektonik jauh sebanyak satu kali dengan durasi 86 detik. Tektonik jauh tidak berdampak terhadap aktivitas Gunung Agung karena terjadi di lokasi yang berada sangat jauh atau terjadi di benua berbeda.

Secara visual, Gunung Agung masih tertutup kabut dan asap kawah yang bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi 50 meter di atas kawah puncaknya. (Ben/An)

Made Mangku Pastika

Denpasar, 6/10 (Benhil) - Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengingatkan jajarannya agar jangan kebanyakan bermain media sosial dan seharusnya menggunakan kecanggihan teknologi informasi untuk menambah pengetahuan.

"Saya baru baca berita pagi ini, 90 persen perceraian di Depok dan Bekasi disebabkan oleh medsos. Jadi, kebanyakan main medsos itu penyakit, habis waktu kita," kata Pastika saat menyampaikan sambutan pada pelantikan 63 pejabat administrator (eselon III) Pemprov Bali di Denpasar, Jumat.

Menurut dia, terlepas dari manfaatnya, perkembangan media sosial belakangan ini juga banyak menimbulkan dampak negatif. Kemajuan teknologi sejatinya bisa dimanfaatkan untuk hal lain yang jauh lebih bermanfaat.

Mantan Kapolda Bali itu menambahkan banyak laman (Website) yang menawarkan sistem pengajaran dalam jaringan (online) yang sangat mudah diakses.

"Dengan kemajuan IT, sekolah ada dalam genggaman. Manfaatkan itu untuk meningkatkan kualitas diri," ujarnya sembari mengatakan seseorang yang dipercaya menjadi pemimpin harus lebih pintar dari anak buah agar tidak dilecehkan.

Di sisi lain, Pastika juga menyinggung pelantikan yang digelar di tengah situasi prihatin terkait peningkatan status menunggu letusan Gunung Agung, Kabupaten Karangasem.

"Di tengah keprihatinan dan kesibukan membantu saudara kita di pengungsian, kita juga harus tetap fokus pada penataan kinerja untuk mendukung pelaksanaan tugas pemerintahan dan pembangunan," katanya.

Mutasi, lanjut dia, adalah sebuah hal yang wajar dalam sebuah organisasi. Pada pelantikan pejabat eselon III kali ini, sebagian yang dilantik adalah mutasi horizontal dan sebagian lagi adalah mereka yang mendapat promosi.

"Mutasi adalah upaya penyegaran dan pengisian jabatan yang lowong," ucapnya. Untuk itu diharapkan agar proses mutasi tak menimbulkan kegaduhan atau kasak-kusuk karena sudah melalui proses evaluasi.

Pastika mengingatkan pula kalau jabatan itu bukan hak, tetapi amanah yang harus dijawab dengan dedikasi, loyalitas dan tanggung jawab.

Upacara pelantikan dihadiri pula oleh Kepala Organisasi Perangkat daerah (OPD) di Lingkungan Pemprov Bali. (Ben/An)

Persembahyangan Purnama Kapat

Semerbak wangi bunga dan dupa di tengah dentingan suara genta menyebar di kawasan Pura Besakih di lereng Gunung Agung Bali, mewarnai suasana persembahyangan sejumlah umat Hindu bertepatan dengan Purnama Kapat.

Purnama Kapat atau purnama keempat adalah penghitungan waktu berdasarkan kalender Bali, yang tahun ini jatuh pada Kamis (5/10).

Puja-pujian sang pendeta maupun jero mangku yang memimpin kegiatan ritual itu diiringi alunan instrumen musik tradisional Bali (gamelan) serta tembang-tembang kekidung dan warga sari yang berlangsung secara khidmat. Ritual tersebut kali ini dilaksanakan sangat sederhana.

Jumlah mereka yang terlibat ritual itu, termasuk melakukan persiapan "Mepepada" ritual penyucian bintang kurban yang dilaksanakan Rabu (4/10), sangat terbatas, yakni petugas adat dan pemangku lokal di Desa Pekraman Besakih.

Hal itu karena terkait dengan status Awas terhadap aktivitas vulkanik Gunung Agung (3.143 meter dari permukaan air laut).

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sejak Jumat (22/9) meningkatkan status Gunung Agung dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV). Status Awas tersebut hingga saat ini telah memasuki hari ke-13.

Wilayah steril yang semula radius enam kilometer dari puncak gunung itu diperluas menjadi sembilan kilometer, serta ditambah perluasan wilayah sektoral yang semula 7,5 kilometer menjadi 12 kilometer ke arah utara, timur laut, tenggara, dan selatan-barat daya.

Dengan demikian, kawasan suci Pura Besakih masuk dalam radius wilayah berbahaya yang harus dikosongkan. Namun, para pemangku selama ini secara bergantian dengan didampingi petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tetap melaksanakan persembahyangan di tempat suci terbesar di Pulau Dewata itu.

Persiapan piodalan yang digelar setahun sekali (420 hari sekali) hanya melibatkan prajuru dan mengurus desa adat setempat, sedangkan ritual penyucian bintang kurban atau "Mepepada" untuk kelengkapan ritual dilakukan sangat sederhana, tanpa mengurangi makna yang terkandung di dalamnya.

Ritual "Mepepada" yang dilaksanakan Rabu (4/10) sekaligus ritual khusus "Nedunang" atau menurunkan "Ida Bhatara", yakni manifestasi Tuhan Hyang Maha Esa sebagai Para Dewata pelindung umat.

Rangkaian ritual tersebut, menurut seorang pemangku (pemimpin ritual) Pura Penataran Agung Besakih, I Gusti Mangku Jana, dilaksanakan setiap tahun sekaligus merupakan bagian dari ritual "Loka Phala", yakni untuk menstabilkan alam semesta, baik secara mikro (manusia) dan makro (dunia).

Pura Besakih yang terdiri atas 16 kompleks pura yang merupakan satu kesatuan tak terpisahkan itu menyimpan ketenangan dan kedamaian. Konon, fondasinya dibangun Rsi Markandeya dari India pada zaman pemerintahan Raja Sri Udayana Warmadewa (1007 Masehi).

Seluruh umat Hindu di Pulau Dewata agar berdoa dan bersembahyang pada hari Purnama Kapat yang jatuh pada Kamis (5/10). Persembahyangan dapat dilakukan di pura desa adat atau tempat suci di masing-masing rumah tangga.

"Mari bersama-sama berdoa agar jagad (bumi) Bali dan Indonesia umumnya tetap tenteram dan damai. Umat yang ingin bersembahyang tidak harus datang ke Besakih, tetapi bisa 'ngastiti' dari 'Rong Tiga' tempat suci keluarga masing-masing," tutur Mangku Jana.

Lintas Agama Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali Prof Dr I Gusti Ngurah Sudiana mengatakan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) setempat telah menggagas untuk menggelar doa lintas agama pada Kamis (5/10) pukul 12.00 waktu setempat.

Umat beragama selain Hindu, dapat berdoa sesuai dengan tata cara agama masing-masing untuk memohon kedamaian alam semesta beserta seluruh isisnya.

Majelis Utama Desa Pakraman Provinsi Bali menindaklanjuti hal itu dengan mengeluarkan surat seruan tertanggal 3 Oktober 2017 yang khusus ditujukan kepada umat Hindu.

Doa lintas agama yang dilaksanakan oleh seluruh umat yang tinggal di Pulau Dewata untuk memohonkan kepada Tuhan supaya Gunung Agung di Kabupaten Karangasem tidak jadi erupsi.

Sekalipun erupsi, mereka diajak memohon lewat doa bersama untuk kedamaian semesta ini supaya dapat membawa kerahayuan dan keselamatan seluruh umat.

"Jika dilihat dari ajaran Hindu, kalau berdoa bersama-sama pada jam yang sama, hari yang sama dengan hati yang tulus untuk kerahayuan jagat, maka vibrasi itu melebihi dari berbagai doa kelompok yang dikatakan cukup hebat," ujar Sudiana yang juga guru besar Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar.

Doa bersama secara serentak itu bisa dilakukan di Pura Sad Kahyangan, Pura Dang Kahyangan, Pura Kahyangan Tiga, Pura Dadia, Pura Swagina, sanggah, tempat kerja. Intinya di manapun mereka berada.

Demikian pula seluruh pemangku agar berkumpul di pura masing-masing pada jam yang sama untuk berdoa. Bagi yang bekerja, bisa berdoa di tempat kerja, bagi yang sakit bisa berdoa dari tempat tidur. Oleh karena itu doa tidak akan putus.

Sementara itu Ketua FKUB Bali Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet menilai doa bersama sekaligus merupakan suatu penyatuan pikiran, perasaan, hati, dan keyakinan. Dia bersama itu mendoakan seluruh jagat raya supaya damai.

IMB Andi Purnomo dan I Ketut Sutika

Bali Gunung Agung

Denpasar, 04/09 (Benhil) Perpaduan sawah yang berundak-undak, lembah, pesisir pantai dan gunung merupakan panorama alam yang menambah daya tarik Bali, di samping keunikan seni budaya yang diwarisi masyarakat secara turun-temurun.

Bali sebuah pulau kecil dengan luas 5.632,86 kilometer persegi atau 0,29 persen dari luas Nusantara, memiliki kelengkapan unsur, mulai dari keberadaan empat danau, ratusan sungai, kawasan hutan yang menghijau dan lestari serta tiga buah gunung.

Salah satu dari tiga gunung di Pulau Dewata yakni Gunung Agung memiliki ketinggian 3.142 meter di atas permukaan laut yang dalam status Awas (level IV) sejak 22 September lalu akibat aktivitas vulkanik yang semakin meningkat.

Berita Berita Terkait Kondisi Gunung Agung
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian ESDM meningkatkan status Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali, dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas).

Dengan peningkatan status itu maka wilayah steril yang semula radius enam kilometer dari puncak gunung diperluas menjadi sembilan kilometer, serta ditambah perluasan wilayah sektoral yang semula 7,5 kilometer menjadi 12 kilometer ke arah utara, timur laut, tenggara, dan selatan-baratdaya.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika ketika mengadakan pertemuan dengan kalangan pariwisata setempat mengimbau wisatawan tidak ragu untuk berwisata ke Pulau Dewata, meskipun status Gunung Agung berada pada level Awas, karena kondisi daerahnya sampai saat ini tetap kondusif dan aman.

Jikapun terjadi hal yang paling buruk yakni gunung tertinggi di Bali itu mengalami erupsi, hanya akan berdampak langsung pada 28 desa atau desa dengan radius 12 kilometer dari kawah puncak Gunung Agung yang kini sudah mengungsi ke tempat yang aman.

Destinasi pariwisata seperti Nusa Dua, Kuta, Sanur, Perkampungan Seniman Ubud serta destinasi wisata lainnya yang berjarak sekitar 85 km dari Gunung Agung diperkirakan tetap dalam kondisi aman.

Karangasem, salah satu dari sembilan kabupaten/kota di Bali memiliki 78 desa, hanya 28 desa yang terdampak langsung, sisanya 50 desa diperkirakan aman. Begitu pula dengan tempat-tempat lainnya di Bali diperkirakan juga aman. Oleh sebab itu, ia mengimbau jangan ragu untuk berwisata ke Pulau Dewata.

Demikian pula masyarakat setempat menurut mantan Kapolda Bali itu, jangan terlalu khawatir yang berlebihan akan kondisi Gunung Agung. Jika dibandingkan dengan tahun 1963, saat Gunung Agung terakhir meletus, kondisi saat ini tentu berbeda.

Hal itu berkat mitigasi bencana sudah lebih bagus, peranan pemerintah lebih efektif tidak seperti dulu, di samping teknologi informasi makin canggih sehingga akan mampu menekan sekecil mungkin jika terjadi hal yang terburuk.

Oleh sebab itu daerah tujuan wisata Bali selalu dalam kondisi baik tidak ada yang perlu dikawatirkan, kalaupun Gunung Agung meletus semua sudah siap diantisipasi.

BPW Sosialisasi Gubernur Made Mangku Pastika juga mengharapkan kepada pelaku pariwisata untuk terus melakukan sosialisasi melalui biro perjalanan wisata (BPW) maupun Konsulat Jenderal yang ada di Bali terkait aktivitas gunungapi dan kondisi Bali sekarang.

Pihaknya juga berencana bertemu dengan para konsul yang ada di Bali untuk menyampaikan kondisi Bali sekarang sehingga tidak ada kesimpangsiuran informasi.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Agus Santoso dalam kesempatan terpisah menegaskan, penerbangan dari dan menuju Bali hingga saat ini belum terdampak kondisi Gunung Agung di Kabupaten Karangasem yang ditetapkan berstatus awas karena belum adanya debu vulkanik.

Selama status awas hampir dua seminggu ini tidak ada rasa khawatir terhadap penerbangan selama tidak ada debu vulkanik. Demikian juga ketika tingkat potensi debu vulkanik Gunung Agung dinaikkan menjadi "orange" oleh Vulcano Observatory Notice to Aviation (VONA) juga belum memiliki pengaruh bagi penerbangan di Bali yang masih normal.

Meskipun demikian selama status awas tersebut, pihaknya telah melakukan publikasi kepada para pilot dan pelaku penerbangan untuk ikut melaporkan jika melihat adanya debu vulkanik.

Apabila menemukan pergerakan debu vulkanik, maka pilot dapat memberikan laporan kepada petugas di darat agar dapat diantisipasi. Sampai saat ini tidak ada keluhan dan laporan pilot. Citra satelit juga belum ada laporan debu vulkanik.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang sempat menyerahkan bantuan kepada para pengungsi Gunung Agung juga telah mengambil langkah antisipasi antara lain menggandeng Direktorat Jenderal Perhubungan Darat untuk menyediakan sekitar 300 bus untuk mengangkut calon penumpang yang ingin memilih jalur darat apabila gunungapi itu erupsi.

Selain itu menyiapkan sepuluh bandara terdekat untuk mengantisipasi pengalihan penerbangan yakni untuk radius terdekat dari Bali yakni Bandara Lombok, Bandara Blimbingsari Banyuwangi dan Bandara Juanda Surabaya.

Selain itu, radius kedua yakni Bandara Adi Sumarmo Solo, Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Bandara Pattimura Ambon, Bandara Sepinggan Balikpapan, Bandara El Tari Kupang, Sam Ratulangi Manado dan Soekarno-Hatta Jakarta.

Penundaan Wisman Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati memprediksi dalam periode Oktober hingga November 2017, sekitar 70 ribu wisatawan mancanegara menunda liburannya ke Pulau Dewata terkait status Awas dari Gunung Agung.

Pihaknya telah mendata kunjungan turis yang rencananya berlibur ke Bali maupun mengikuti pertemuan dalam dua bulan itu menurun sekitar 20 persen atau 70.000 orang.

Tokoh Puri Perkampungan seniman Ubud itu mengharapkan jika aktivitas kegempaan vulkanik Gunung Agung mulai melemah agar diimbangi dengan menurunkan status awas gunung tersebut.

Karena penurunan status Awas itu bukan menjadi kewenangan dari Gubernur Bali. Oleh sebab itu komponen pariwisata akan berusaha menjelaskan kepada wisatawan bahwa sebenarnya status Awas itu diperuntukkan bagi wilayah yang berada dalam radius hingga 12 kilometer dari puncak Gunung Agung.

Demikian pula dengan kekhawatiran terhadap akses bandara jika benar terjadi erupsi, penutupan akses akan sangat tergantung dari arah angin.

Pria yang akrab disapa Cok Ace mencontohkan seperti halnya dampak letusan Gunung Raung di Jawa Timur, dan Gunung Rinjani di Nnusa Tenggara Barat Meskipun gunung tidak berada di Bali telah menyebabkan buka tutup penerbangan di Bandara Ngurah Rai, Bali.

Pada bulan Oktober setiap tahunnya juga belum termasuk "peak season" atau musim puncak kunjungan ke Bali. Saat ini untuk tingkat hunian hotel di kawasan Nusa Dua, Kabupaten Badung, rata-rata 65 persen. Sedangkan di luar kawasan Nusa Dua, tingkat huniannya masih di bawah 60 persen.

Wisman yang berlibur ke Bali paling banyak dari China (26,21 persen), kemudian Australia 18,57 persen), India 4,38 persen), Jepang 4,33 persen), Inggris 4,15 persen, Amerika Serikat 3,37 persen, Korea Selatan 3,13 persen, Prancis 3,10 persen dan berbagai negara lainnya 26 persen. (Ben/An)

Luh Rhismawati & Ketut Sutika

Batik Bali

Denpasar, 1/10 (Benhil) - Keindahan Pulau Dewata, tak hanya memukau lewat pemandangan bentangan memanjang pantainya dengan pasir yang memutih.

Namun, keelokan 'the lost paradise' ini dapat pula dihayati melalui goresan tangan yang terwujud pada sehelai karya batik.

Karya batik itu dapat dijumpai di ruas jalan Desa Tohpati, Denpasar Timur. Belakangan ini, Desa Tohpati telah menjadi destinasi wisata budaya yang menjadi titik perhatian wisatawan lokal dan mancanegara dengan fokus pada batik Bali sebagai kearifan lokal setempat.

Kearifan penduduk lokal yang mempertahankan karya seni batik menjadi 'warna' daerah dengan mendirikan butik, toko, atau "art shop" batik, yang akhirnya menggerakkan laju bisnis wisatawan untuk bertandang dan tak sedikit pula yang mengikuti "workshop" membatik.

"Wisatawan tidak hanya berminat untuk membeli batik-batik produksi Tohpati. Tidak sedikit pula yang menginginkan belajar langsung cara membatik," ujar salah seorang staf di Phalam Batik & Souvenirs, Wiwik Wahyuningsih.

Menurut Wiwik, Phalam Batik sudah berdiri sejak tahun 1988, dan telah menjadi ajang berwisata bagi sejumlah pelancong yang ingin membeli produk batik sebagai cenderamata bagi keluarga atau kerabat.

Produk batik Bali ini tidak hanya berwujud kain lembaran, melainkan juga dikreasi menjadi dasi, gaun, kemeja, tas, ikat kepala, dompet dan berbagai bentuk kerajinan lainnya.

Batik di Tohpati, nyaris tidak berbeda motifnya dengan daerah lain di Pulau Bali. Motifnya masih mempertahankan ciri tradisional dengan menampilkan rusa, naga, kura-kura atau burung. Belakangan motif yang berkembang ialah bertema dekorasi atau pemandangan alam, yang dipadukan dengan warna cerah.

"Proses membatik ini ada tiga jenis, yakni batik tulis, cap dan print (cetak). Untuk harganya ya variatif. Mulai dari Rp.200 ribu hingga Rp.6 juta. Tergantung kerumitan motif, ukuran dan jenis kain yang dipergunakan," ujar Wiwik.

Bagi wisatawan yang ingin belajar membatik, lanjut dia, maka dipersilahkan untuk datang dan belajar sampai menguasai teknik membatik dengan benar. Masing-masing wisatawan yang berminat mengikuti paket membatik, dikenakan biaya Rp.250 ribu/orang. 


Pelopor Batik Bali 

Batik sebagai salah satu budaya Indonesia, telah tersohor di dunia. Sementara di Bali, sejarah batik diawali melalui kiprah tokoh Pande Ketut Krisna pada tahun 1970-an.

Pande Ketut Krisna yang berasal dari Banjar Tegeha, Desa Batubulan, Sukawati, Kabupaten Gianyar, menjadi pelopor kebangkitan seni batik di Bali sampai mengalami perkembangan pesat. Batik bahkan telah menjadi komoditas yang diminati di era sekarang.

Tingginya peminat batik ini, dapat dilihat dari lalu lalangnya wisatawan yang menyempatkan diri untuk singgah ke Tohpati setiap hari. Mereka ingin mencari batik, sebagai oleh-oleh sebelum pulang ke negara masing-masing.

Seorang pemandu wisata Wayan Tompi menyatakan, dalam seminggu dirinya bisa dua atau tiga kali membawa wisatawan untuk mencari batik di Tohpati.

"Objek wisata batik di Bali 'kan hanya di Tohpati. Di sini banyak pilihan 'art shop' batik dengan kekhasan tersendiri," ujar Wayan Tompi, pemandu wisata asal Ubud, Gianyar.

Menurut dia, wisatawan yang berminat ke Tohpati mayoritas dari Eropa, Australia, Jepang dan Amerika Serikat. Namun tidak jarang, wisatawan dari Timur Tengah atau Afrika pun ingin diantarkan untuk membeli produk batik.

Wayan Tompi menyatakan, wisatawan Jepang cenderung menyukai batik dengan motif yang lembut dan corak tidak terlalu ramai. Berbeda dengan wisatawan dari Eropa yang cenderung memilih batik dengan tampilan mencolok.

Dia melanjutkan, masa-masa ramai wisatawan di Bali, adalah masa liburan akhir tahun, tetapi di luar waktu liburan akhir tahun pun, hampir setiap hari wisatawan asing selalu berdatangan untuk kunjungan wisata. Diantara pelancong yang dipandunya untuk piknik, selalu ada saja yang minta diantarkan guna membeli batik.

"Kalau dulu, wisatawan ingin membeli batik dalam bentuk kain untuk digunakan sebagai baju bawahan, tapi kini peminat batik lukisan juga semakin banyak. Batik lukisan ini lazim digunakan dekorasi ruangan," ujar dia.

Batik lukisan Batik lukisan sudah lazim dijumpai di berbagai toko batik di wilayah Tohpati. Batik lukisan ini memiliki motif beragam dan menjadi pilihan cenderamata khas Bali yang terlihat unik.

"Batik lukisan yang banyak diminati itu dengan motif pemandangan Bali. Seperti sawah berundak-undak, bangunan pura, bunga, dan belakangan lukisan patung Buddha banyak dicari wisatawan," ucap Toro S, seorang pelukis sket batik lukisan di Batik Legong, Tohpati.

Sejak tahun 1987, pria asal Yogyakarta ini sudah merantau ke Bali dan mengadu nasib untuk menjadi pelukis. Ternyata, Toro kemudian justru mendapat tawaran menjadi pelukis sket lukisan, yang kemudian diproses menjadi karya batik. Hasilnya diberi nama batik lukisan.

"Batik lukisan yang berukuran 45 cm x 50 cm harganya Rp.75 ribu. Ukuran ini yang banyak diminati, karena praktis jika dibawa," ujar Toro.

Proses membuat batik lukisan, kata dia, bisa memakan waktu tiga hari atau seminggu. Tergantung ukuran kain yang digunakan.

Proses membuat batik lukisan meliputi beberapa tahap. Setelah disket, diberi lapisan 'malam' dan diwarnai, kemudian kain direbus pada air panas. Tujuan perebusan untuk meluruhkan malamnya, lalu kain yang sudah berisi corak batik itu dijemur atau diangin-anginkan sampai benar-benar kering. Setelah kering, kain langsung siap dipajang, dengan lebih dulu dibingkai menggunakan pigura.

"Malam yang digunakan berasal dari Yogyakarta. Malam ini tidak bisa digunakan berkali-kali. Hanya sekali pakai. Kalau dipakai berkali-kali, maka bisa retak dan warna kain menjadi campur baur. Tentu hasilnya lukisan batiknya nanti menjadi cacat," katanya.

Sampai kini, dirinya tidak habis bersyukur menekuni pekerjaan sebagai pembuat sket batik lukisan. Pekerjaan ini baginya, merupakan ekspresi berkesenian untuk mengabadikan keindahan Bali, apalagi wisatawan suka, baik wisatawan lokal yang umumnya dari Jakarta, atau pelancong dari negara lain.

"Buktinya sudah lebih dari 20 tahun saya menjadi pembuat sket batik lukisan, ternyata sampai saat ini, produk batik lukisan tetap diminati wisatawan. Batik lukisan bagi saya tetap harus dipertahankan keberadaanya sebagai oleh-oleh wajib dari Bali," tuturnya. (Ben/An)

Tri Vivi Suryani

Gunung Agung

Denpasar, 1/10 (Benhil) - Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, wilayah timur Bali, yang memiliki ketinggian 3.143 meter, sejak 22 September 2017 berstatus Awas, Level IV. Hingga Minggu (1/10) telah memasuki hari kesepuluh, tetap mempunyai potensi erupsi, dengan estimasi ketinggian letusan 5-10 kilometer.

Sejak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral meningkatkan status Gunung Agung menjadi Awas, wilayah steril yang semula radius enam kilometer dari puncak gunung itu, diperluas menjadi sembilan kilometer.

Selain itu ditambah perluasan wilayah sektoral yang semula 7,5 kilometer menjadi 12 kilometer ke arah Utara, Timur Laut, Tenggara dan Selatan-Baratdaya sehingga kawasan yang berbahaya dalam radius 12 kilometer dari Gunung Agung harus dikosongkan.

Meskipun aktivitas gunung terus meningkat, hanya masyarakat di 27 desa di lereng Gunung Agung yang masuk dalam kawasan rawan bencana yang diwajibkan untuk mengungsi ke tempat aman, seperti ditegaskan Gubernur Bali Made Mangku Pastika.

Dengan demikian sebanyak 51 desa lainnya dari 78 desa yang ada di Kabupaten Karangasem diprediksi tidak masuk wilayah terdampak erupsi Gunung Agung dan warga dari daerah tersebut disarankan kembali ke desa masing-masing.

Total pengungsi hingga Jumat (29/9) malam 144.380 orang tersebar di 430 titik di delapan kabupaten dan satu kota di Bali, hampir dua kali lipat dari perkiraan sebelumnya sekitar 70 ribu orang.

Jika masyarakat itu dibiarkan di pengungsian dikhawatirkan beban pemerintah dan tim penanggulangan bencana sangat berat. Untuk itu perlu kesadaran dan pengertian masyarakat untuk kembali dan mengikuti instruksi dari petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD) setempat.

Ke-27 desa yang masuk dalam kawasan rawan bencana (KRB) Gunung Agung yang diwajibkan mengungsi terdiri atas tujuh desa di Kecamatan Kubu meliputi Desa Tulamben, Kubu, Dukuh, Baturinggit, Sukadana dan Tianyar (Tianyar tengah dan barat aman).

Lima desa di Kecamatan Abang terdiri atas Desa Pidpid (bagian atas), Nawekerti, Kesimpar, Datah (bagian atas) dan Ababi (atas dan barat). Di Kecamatan Karangasem tiga desa meliputi Padangkerta, Subagan dan Kelurahan Karangasem (dekat Tukad Janga).

Di Kecamatan Bebandem terdapat empat desa yang warganya harus mengungsi meliputi Buwana Giri (bagian atas), Budekeling (dekat Sungai Embah Api), Bebandem (bagian atas) dan Jungutan.

Warga dari desa-desa di Kecamatan Selat dan Rendang juga wajib mengungsi yakni Duda Utara, Amerta Buwana, Sebudi, Peringsari, Muncan, Besakih, Menanga dan Pembatan.

Bekerja cepat Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengaku bingung masyarakat yang mengungsi terus membengkak, karena kekhawatiran, rasa panik dan tidak memiliki pengetahuan tentang kebencanaan.

Oleh sebab itu tim penanggulangan bencana diminta bekerja cepat mengembalikan para pengungsi yang ada di luar KRB ke desa masing-masing untuk beraktivitas seperti biasa.

"Saya yang menjamin jika masyarakat yang tinggal di luar kawasan rawan bencana (KRB) aman. Jika memang terjadi letusan baru kemudian dilakukan tindakan pengamanan lanjutan," ujar Gubernur Pastika.

Sementara Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kasbani menyatakan tidak bisa memprediksi kapan Gunung Agung meletus meskipun aktivitas vulkaniknya semakin meningkat, sesuai hasil pengamatan di pos pemantauan di wilayah Rendang.

Setiap gunung memang memiliki sifat masing-masing yang tidak dapat diprediksi waktu erupsinya secara pasti. Terlebih Gunung Agung yang telah "istirahat" selama 54 tahun sejak meletus terakhir tahun 1963.

Sebelumnya gunung tertinggi di Bali itu pernah tiga kali meletus yakni tahun 1808, kemudian 13 tahun kembali erupsi tahun 1821 dan yang ketiga pada 1843 atau berselang selama 22 tahun.

Aktivitas vulkanik di Gunung Agung terkait jumlah kuantitas dan kualitas gempa yang fluktuatif, kadang naik kadang turun. Secara umum tingkat gempanya sangat tinggi dan potensi letusan pun tetap tinggi.

PVMBG tidak dapat memastikan perkiraan letusan Gunung Agung sama dengan Merapi di Yogyakarta yakni menjelang letusan (erupsi) terjadi penurunan kuantitas dan kualitas gempa vulkanik, namun, mengalami kenaikan gempa vulkanik.

PVMBG mencatat aktivitas Gunung Agung (3.142 mdpl) periode pengamatan (29/9) terpantau cuaca cerah. Angin bertiup lemah ke arah barat. Suhu udara 20-23 celcius dan kelembaban udara 90-92 persen.

Asap kawah muncul bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi 50-200 meter di atas kawah puncak. Aktivitas kegempaan vulkanik dangkal dengan jumlah 40, Amplitudo: 2-5 mm dengan durasi antara 7-10 detik).

Vulkanik dalam dengan jumlah sebanyak 125, Amplitudo antara 4-8 mm dengan durasi antara 10-30 detik. Tektonik Lokal degan jumlah lima, amplitudo 8 mm, S-P: 6-9 detik Durasi: 40-65 detik). Gempa terasa dengan jumlah satu, Amplitudo: 8 mm, S-P: 0 detik dan dengan durasi 65 detik.

Sementara Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei, memuji upaya pemerintah daerah di Pulau Dewata dalam menangani 144.389 orang pengungsi tersebar di 430 titik di delapan kabupaten dan satu kota di Bali.

Kerja sama dari seluruh elemen masyarakat di Bali sangat baik, sehingga dalam situasi darurat menjadi lebih mudah ditangani. Masyarakat bahu membahu membantu menghimpun dana secara sukarela, hingga menyediakan tempat pengungsian.

Tugas ke depan adalah bagaimana percepatan pengendalian pengungsi di lapangan. Yang mengungsi hanya yang tinggal di wilayah KRB. Yang lain (status aman) kembali ke rumah masing-masing. Masalah yang juga penting adalah penanganan ternak ke wilayah aman yang sudah dilakukan.

Pengungsi Gunung Agung

Denpasar, 29/9 (Benhil) - Kebersamaan dan keterpaduan berbagai elemen masyarakat, pemerintah, TNI-Polri mewarnai penanganan pengungsi dari lereng Gunung Agung yang kini berstatus Awas (level IV) dengan estimasi ketinggian potensi erupsi antara 5-10 kilometer.

Gunung tertinggi di Bali itu memasuki hari kedelapan (28/9) sejak ditingkatkan status aktivitas vulkaniknya dari Siaga menjadi Awas. Masyarakat telah menjauhi gunung untuk mengungsi ke tempat yang aman Jumlah mereka yang mengungsi setiap hari terus meningkat.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mencatat jumlah pengungsi terkini 96.086 jiwa tersebar di 430 titik di delapan kabupaten dan satu kota di Bali.

Mereka menempati fasilitas umum, balai banjar, balai desa, maupun rumah milik masyarakat yang diberikan secara cuma-cuma, sebagai bentuk solidaritas dan ikut ambil bagian masyarakat dalam menanggulangi masalah sosial akibat bencana alam.

Hampir setiap balai banjar, balai desa, dan posko utama GOR Swecapura Kabupaten Klungkung ditempati para pengungsi, serta ratusan titik lainnya yang ditempati para pengungsi.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa yang sempat meninjau para pengungsi Gunung Agung (3.143 meter dari permukaan air laut) di GOR Swecapura mengungkapkan bahwa negara memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan pangan kepada para pengungsi dari gunung tersebut.

Oleh sebab itu, dukungan logistik pengungsi harus dapat terpenuhi dengan baik. Jika mengacu pada Peraturan Menteri Sosial Nomor 20 Tahun 2012 pasal 11 dan 12, dalam kondisi darurat saat ini pengungsi harus mendapatkan layanan, termasuk tercukupi kebutuhan makanan.

Pemkab Karangasem telah mengeluarkan 100 ton beras cadangan, berdasarkan surat keputusan darurat. Beras itu telah habis didistribusikan ke kantong-kantong pengungsian.

Kementerian Sosial kini sedang nunggu surat keputusan dari Gubernur Bali untuk mengeluarkan cadangan beras pemerintah untuk jatah provinsi itu hingga 200 ton, agar pemerintah pusat dapat mengeluarkan cadangan beras pemerintah (CBP) ketika alokasi dari pemerintah provinsi telah habis dimanfaatkan.

"Sebetulnya sekarang itu kami sedang menunggu surat untuk diputuskan darurat oleh gubernur supaya bisa mengeluarkan cadangan beras pemerintah sampai 200 ton. Kalau itu juga sudah terpakai, baru Kementerian Sosial bisa mengeluarkan (beras) 'unlimited'," ujar Mensos Khofifah Indar Parawansa.

Ditinjau Presiden Joko Widodo dalam kunjungan kerja selama dua hari di Bali, 25-26 September 2017, sempat meninjau dan bertatap muka dengan para pengungsi di tiga lokasi, yakni Posko Ulakan, Tanah Ampo Kabupaten Karangasem, dan GOR Swecapura.

Kepala Negara pada kesempatan itu, menyerahkan bantuan logistik senilai Rp7,2 miliar yang disalurkan ke kantong-kantong pengungsian, antara lain berupa matras 18.230 lembar, masker 520.000 lembar, beras 12 ton, ember 2.000 buah, gayung 2.000 buah, dan perlengkapan bayi 1.100 paket.

Menurut Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat, besarnya bantuan itu merupakan upaya pemerintah dalam memberikan perlindungan kepada pengungsi.

Kementerian Sosial juga sudah menyalurkan berbagai bantuan logistik senilai Rp4,8 miliar, antara lain berupa bahan makanan, tenda, dan perlengkapan pengungsian.

Pemerintah kabupaten/kota di Bali yang menampung para pengungsi Gunung Agung juga menyalurkan kebutuhan bahan pokok, pelayanan kesehatan, serta memfasilitasi pendidikan bagi anak-anak di sekolah terdekat tempat penampungan sementara.

Demikian pula Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi bersama panitia "Europe Meeting-Transport Minister Meeting (ASEM-TMM)" yang tengah berlangsung di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, menyerahkan bantuan yang terkumpul berupa beras 55 ton serta beberapa jenis bantuan lainnya.

Kemenhub juga menyiagakan lima bus Damri, tiga di antaranya sudah di lokasi pengungsian dan dua bus lainnya menyusul. Bantuan alat transportasi itu diberikan setelah melakukan komunikasi dengan pengungsi yang membutuhkan alat transportasi untuk kelancaran anak-anak pengungsi ke sekolah.

Meskipun membutuhkan bus sebagai sarana tranportasi, pelayanan para pengungsi di berbagai tempat penampungan sementara selama ini dinilai cukup baik.

"Saya memberikan apresiasi terhadap penanganan pengungsi oleh pemerintah daerah. Beberapa saya tanya sudah mengaku nyaman, makan cukup, dan tidak kekurangan suatu apapun," tutur Menhub Budi Karya Sumadi.

Tidak Selamanya Gubernur Bali Made Mangku Pastika menginstruksikan pengecekan jumlah balai banjar (dusun), balai desa, dan fasilitas umum yang ada di setiap desa di luar kawasan rawan bencana Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, untuk menampung para pengungsi.

Hal itu dilakukan karena pengungsi tidak bisa selamanya tinggal dalam tenda, sehingga harus dicarikan tempat yang aman agar terhindar dari masalah, seperti kebanjiran atau bocor jika terjadi hujan maupun panas.

Hal itu, sebagai antisipasi jika para pengungsi Gunung Agung harus tinggal dalam waktu yang lama di tempat penampungan sementara. Hal itu belajar dari pengalaman letusan Gunung Agung pada 1963 yang situasinya bisa normal kembali setelah meletus membutuhkan waktu selama satu tahun.

Persiapan itu dilakukan karena semua pihak tidak tahu kapan akan gunung berapi itu meletus, dan kalaupun meletus harus berapa lama untuk kembali normal sehingga mereka bisa kembali ke rumah masing-masing.

Dalam selang waktu tersebut, pemerintah harus mampu memberikan mereka tempat yang lebih layak. Mereka tidak bisa selamanya di tenda-tenda seperti sekarang.

Oleh sebab itu, setiap banjar di daerah ujung timur Pulau Bali akan dikoordinasikan oleh kelian banjar atau kepala dusun adat, dan di wilayah desa oleh kepala desa sehingga memudahkan pemerintah dalam menyalurkan bantuan logistik serta mendata jumlah para pengungsi.

Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta yang wilayahnya sebagai tetangga terdekat dengan Karangasem mengumpulkan seluruh camat dan perbekel untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya mereka memberikan pelayanan yang terbaik kepada pengungsi.

Jumlah pengungsi di Klungkung tercatat 19.456 orang tersebar di 162 titik. Jumlah itu diperkirakan terus meningkat jika Gunung Agung benar-benar erupsi.

Oleh sebab itu, perlu kesiapan semua pihak dalam menerima pengungsi tambahan, di samping menangani masyarakat desa-desa yang rawan dampak letusan Gunung Agung di Kabupaten Klungkung, seperti wilayah Desa Selat, Desa Tegak, Desa Akah, Kelurahan Semarapura Kangin, Desa Tangkas, Desa Jumpai, Desa Sulang, dan Desa Gunaksa.

Untuk itu, semua dapat mengukur kemampuan daya tampung pengungsi di desanya masing-masing dan melaporkan ke Posko BPBD setempat.

"Selain itu, daerah yang termasuk zona rawan erupsi Gunung Agung dapat menyosialisasikan tindakan-tindakan antisipasi jika terjadi letusan Gunung Agung," ujar Bupati Suwirta. (Ben/An)
All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.