Showing posts with label Sosial Politik. Show all posts





Penulis. Abdul Malik (Wakil Sekretaris  KKI, Ketua AMBB)

Monas dan Jakarta tidal lagi menjadi simbol perlawanan ketidak sukaan kepada Pemerintahan Joko Widodo.

Para bonhir atau cukong politik mengalihkan gerakan perlawan ke daerah yang di kemas secara halus, seperti tidak ada kaitan antara satu ke jadian dengan ke jadian lain. Masyarakat harus waspada dan cerdas menyikapi gerakan seporadis jangan ikut terpancing menjadi panas dan gaduh, karena itu yang mereka inginkan.

Pada periode pertama Pemerintahan Presiden Jokowi, tekanan politik dengan isu agama yang melibakan jutaan massa turun ke Monas, bisa dilokalisir menjadi kecil dan tercerai berai

Demo di Cianjur yang di lakukan mahasiswa dengan berakhir pembakaran empat putra bangsa polisi kita.

Viralnya secara tiba tiba vidio Ustaz Abdul Somad (UAS) yang sudah 3 tahun berlalu.

Viralnya Vidio pendeta  tentang Air Zam zam

Penyerbuan oleh ormas ke Asrama mahasiswa Papua, yang berujung penangkapan

Dan yang terjadi sekatang Di Monokwari Papua

Penyerangan kantor Polisi oleh pelaku tunggal

Penembakan prajurit Polisi dan Tentara oleh OPM (Organisasi Papua Merdeka)

Semua kejadian diatasnya intinya menuntut Pemerintah menegakan hukum secara adil.

Kejadian di atas seolah olah berdiri sendiri tidak ada kaitan satu sama lain. Masyarakat sengaja digiring kepada kejadian kejadian di daerah seolah olah ada ketimpangan hukum antara mayoritas dan minoritas, antara Papua dan luar Papua.


Kita harus Waspada ini jebakan, sasaran utamanya tetap Jokowi dan Pemerintahan barunya.

Saat Persolan keadilan dan hukum yang diangkat dengan melibatkan isu SARA, maka baik pendukung Jokowi maupun yang anti Jokowi akan bersatu menuntut Pemerintah.

Pada poin ini, petualang politik dan bonhir berhasil membangun narasi dan masyarakat percaya. Pengikut ormas radikal mereka turunkan untuk saling berhadap-hadapan dengan masyarakat berkait isu agama seperti kasus UAS.

Disisi lain mahasiswa akan digerakan untuk berdemo yang bersipat lokal di daerah yang didesain dengan berakhir rusuh dan ini akan menjadi bola liar menggoyang pusat kekuasaan.

Para alumni yang selama ini berdiri paling depan menentang Jokowi, akan berdiri di belakang layar melalui ceramah ceramah provokatif.

Yuk mari kita rapatkan barisan jangan beri mereka sedikitpun celah untuk mengacaukan bangsa ini. Waspada dan jeli agar persatuan tetap terjaga, jaga emosi jangan terpancing.


Ustad Abdul Somad
Bukan, bukan ...
Apa yang kau ucapkan:
di salib ada jin kafir
sesungguhnya bukan hinaan
Bukan ejekan
Apalagi cemoohan
Bukan pula penistaan agama.

Bagi kami, apa yang kau ucapkan
Ya, yang kau ucapkan di depan jemaahmu
Bahwa sosok yang tersalib adalah "jin kafir" dan karenanya pantas dijauhi adalah kata-kata mutiara bagi kami.

Kami marah?
Tidak, sebab kemarahan bukan milik kami
Kami balas dendam?
Tidak, sebab pembalasan, apalagi dengan dendam, bukan ajaran dan hak kami.

Sebaliknya, kami justru berterima kasih kepadamu Somad, sebab kami jadi ingat bahwa "jin kafir" yang kau sebut itu telah mengajarkan kami "ampunilah akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami."

Lalu, haruskah kami membela sosok yang kau sebut "jin kafir"?

Tidak Ustad Somad
Buat apa kami membela-Nya, sebab Dia lebih berkuasa dan perkasa atas kami, termasuk engkau Abdul Somad.

Sia-sia kami membela-Nya, sebab jika pun kami nekat menjadi makhluk bodoh yang membela-Nya, Dia yang kau takuti itu sudah lebih dulu memaafkan dan mengampunimu.

Karena itu Abdul Somad, tertawalah seriang jemaahmu setelah mendengar engkau berceloteh tentang salib dan jin kafir.

Tidak, kami yakin engkau pun tak akan dipolisikan
Pasal penistaan agama dalam undang-undang tidak berlaku bagi golonganmu.

Biarlah penistaan agama hanya berlaku bagi kami agar kami lebih berhati-hati dan menghormati keyakinan saudara-saudara kami.

Kau bilang jin kafir yang tergantung di salib menoleh ke kiri atau ke kanan?

Ketahuilah, Yesus yang kau sebut jin kafir itu kini dan selamanya sedang menoleh ke arahmu.

Dan Dia membisikkan kata-kata ke telingamu: "Somad, Aku mengasihimu."[]


Gantyo Koespradono



Denpasar - Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengumumkan struktur kepengurusan partai masa bakti 2019-2024, sekaligus melakukan pelantikan pada Kongres V PDI Perjuangan di Hotel Grand Inna Bali Beach, Sanur, Denpasar, Bali, Sabtu, 10 Agustus 2019.

Megawati tetap menunjuk Hasto Kristiyanto sebagai Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan masa bakti 2019-2024.

"Mengenai DPP, yang namanya DPP itu ya kalau di pemerintahan itu ada pembantu. Jadi DPP itu kan menjadi pembantunya ketum. Dan saya berpikir kalau perombakannya pergantiannya itu sangat banyak, itu bukannya menjadi sebuah hal yang baik," ujar Mega.

Mega mengatakan saat ini partai sedang memerlukan tahapan di mana semuanya bisa segera bekerja dengan cepat. Oleh sebab itu maka Mega menyatakan "Sudah memutuskan, bahwa pengurus DPP kali ini beberapa di antaranya merupakan figur yang dulu ikut membantunya."

"Karena bukan apa, dari semua pengalaman saya berorganisasi, dalam pembentukan personel itu mereka akan adaptasi. Kalau enam bulan saja sudah bisa adaptasi itu sudah jempolan, karena harus bersinergi dan tahu bidang apa saja yang ditugasi, tidak mudah," paparnya.

Berikut ini disajikan oleh Benhil, daftar susunan lengkap kepengurusan DPP PDIP periode 2019-2024, pada acara pembukaan pada Kamis 08 Agustus 2019, dihadiri oleh Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan wakil presiden terpilih periode 2019-2024, Ma'ruf Amin serta, Surya Paloh dan Prabowo Subianto.
  1. Ketua Umum: Megawati Soekarnoputri
  2. Ketua bidang Kehormatan Partai: Komarudin Watubun
  3. Ketua bidang Ideologi dan Kaderisasi: Djarot S. Hidayat
  4. Ketua bidang Pemenangan Pemilu: Bambang Wuryanto
  5. Ketua bidang Keanggotaan dan Organisasi: Sukur Nababan
  6. Ketua bidang Pemerintahan, Pertahanan dan Keamanan: Puan Maharani
  7. Ketua bidang Hukum HAM dan Perundang-undangan: Yasonna Laoly
  8. Ketua bidang Perekonomian: Said Abdullah
  9. Ketua bidang Pangan, Pertanian Petani, Pangan dan Lingkungan Hidup: I Made Urip
  10. Ketua bidang Kelautan, Perikanan, Nelayan: Rohmin Dahuri
  11. Ketua bidang Luar Negeri: Ahmad Basarah
  12. Ketua bidang Penanggulangan Bencana: Ribka Tjiptaning
  13. Ketua bidang Industri Tenaga Kerja dan Jaminan Sosial: Nusyirwan Sudjono
  14. Ketua bidang Kesehatan Perempuan dan Anak: Sri Rahayu
  15. Ketua bidang Kebudayaan: Tri Rismaharini
  16. Ketua bidang Koperasi : Mindo Sianipar
  17. Ketua bidang Pariwisata: Wiryanti Sukamdani
  18. Ketua bidang Pemuda dan Olahraga: Eriko Sutarduga
  19. Ketua bidang Keagamaan dan Kepercayaan kepada Tuhan YME: Hamka Haq
  20. Ketua bidang UKM, Ekonomi Kreatif dan Ekonomi Digital: M Prananda Prabowo
  21. Sekretaris Jenderal: Hasto Kristiyanto
  22. Wakil Sekjen bidang Internal: Utut Adianto
  23. Wakil Sekjen bidang Pemerintahan: Arif Wibowo
  24. Wakil Sekjen bidang Kerakyatan: Sada Restu
  25. Bendahara Umum: Oli Dondokambe
  26. Wakil Bendum bidang Internal: Rudianto Chen
  27. Wakil Bendum bidang Program: Juliari Batubara. 
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang berubah nama setelah Peristiwa 1998, menurut mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, PDIP adalah partai politik yang ideologinya sudah jelas dan teruji.


Setahun lalu, alhamdulillah, gue mendapat musibah kecelakaan. Saat nyebrang malem gue ditabrak motor. Tulang kaki kanan gue retak dua. Tiga bulan gak bisa ke mana-mana. Bulan selanjutnya menggunakan tongkat penyangga.

Setelah sembuh, ada temen bilang, tongkatnya segeralah disumbangkan ke orang lain yang membutuhkan. Biar musibah itu gak terulang lagi, pesannya bertahyul ria.

Masalahnya. Ke mana tongkat itu mau gue sumbangin? Siapa orang yang betul-betul membutuhkannya?

Eh kemarin gue dapat kabar dan baca juga baca beritanya, ada mantan gubernur yang saat menjabat selalu sibuk membantu orang yang membutuhkan apa saja. Mulai dari bantuan kebutuhan sehari-hari, kesehatan, pendidikan, pemukiman, sampai dengan perjalan umroh pun tak luput dari perhatiannya.

Ya. Orang itu siapa lagi kalo bukan Ahok. Orang baik ini selalu saja punya akal positif membuat sesuatu yang bermanfaat.

Kali ini, dia membuat aplikasi yang diberi nama Jangkau. Aplikasi yang segera akan diluncurkan di smartphone dalam waktu dekat. Ahok mendesain program ini sedemikian rupa untuk mempertemukan orang yang mau menyumbang dalam bentuk barang dengan orang yang sedang membutuhkan barang.

Aplikasi ini kira-kira mirip marketplace gitu yang kita kenal sekarang di dunia maya, seperti tokopedia, shopee, OLX dan lain-lain. Bedanya, di sini gak ada transaksi jual beli, melainkan transaksi memberi dan menerima, tanpa pamrih.

"Dengan aplikasi ini, saya harapkan ada gotong royong dan informasi bagi yang suka membantu dan mau minta bantuan untuk ketemu. Saya sudah dirikan yayasan untuk menjalankan aplikasi Jangkau," ungkap Ahok.

"Jadi di situ ketemulah orang yang mau menyumbang dan orang yang butuh sumbangan. Misalnya ada orang tua butuh kursi roda atau tongkat, ketemu dengan orang yang punya kursi roda tapi sudah tidak dipakai bisa disumbangkan,"  lanjutnya.

Dan yang juga keren atas transaksi di bawah yayasan tanpa pamrih ini bernama Yayasan Beri Tanpa Pamrih alias Yayasan BTP. Hehehe ... bisa aje nih si simpang susun semanggi.

Buat gue, kalo mau dikait-kaitkan dengan Hari Kemerdekaan, aplikasi Jangkau yang akan diluncurkan Ahok atau BTP (Basuki Tjahaja Purnama) nanti adalah sebuah semangat bangsa Indonesia yang mulai luntur di negeri ini. Semangat gotong royong. Semangat membantu tanpa pamrih. Semangat yang hilang di jiwa mereka yang kemarin katanya membantu pilpres tanpa syarat, tanpa pamrih, eh sekarang rame-rame ngemis jabatan.

Niru makian Daniel Mananta. Damn! I love u BTP. Sekarang gue tau ke mana tongkat gue akan gue kirim. Jangkau.

Ramadhan Syukur
#buatyangmasihadasisasisangefansBTP

Gus Dur

Sosok tokoh muslim dan mantan Presiden RI keempat periode 1999-2001, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur merupakan “the one an only”, karena jarang ditemukan figur di negeri ini yang mirip seperti suami dari Sinta Nuriyah, terutama dalam tindakan dan pemikirannya. Berikut lima fakta fenomenal dari mantan Ketua Tanfidziyah (Badan Eksekutif) Nahdlatul Ulama dan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Fakta Fenomenal Gus Dur


1. Tidak Punya Dompet

Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) mengatakan, salah satu sikap KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang patut diteladani bangsa Indonesia adalah kesederhanaan.

Pria kelahiran, Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944 mengatakan kecintaan kepada dunia telah menyeret banyak orang pada tindak kesalahan, seperti korupsi dan tamak kekuasaan. Sepintas mereka terlihat kaya dan mulia, tapi sejatinya mereka sangatlah fakir dan miskin. Padahal, kekayaan Gus Dur justru lahir dari kezuhudannya.

“Gus dur itu kaya sekali. Enggak punya dompet tapi kaya sekali. Karena apa? Karena enggak butuh,” kata Gus Mus.

2. Meledek Israel

Mantan Presiden Israel periode 2007-2014, Shimon Peres tak luput diberi guyonan oleh Gus Dur. Sastrawan dan budayawan Ahmad Tohari mengatakan sebenarnya Gus Dur menyindir Israel, tapi Peres tertawa hingga terbatuk-batuk.

“Pak Peres, negeri Anda akan kaya raya jika mau mengimpor kutang dari Prancis,” usul Gus Dur kepada Shimon Peres.

“Kenapa, Pak Gus?” tanya Peres.

“Imporlah kutang dari Prancis. Sesampai di Israel, kutang itu dipotong jadi dua. Nah, setelah dipotong jadi dua, baru dijual. Kutang yang aslinya hanya bisa dipakai satu orang, di Israel bisa dipakai dua orang, asal dipotong dulu. Dan itu artinya bisa mendatangkan untung lipat dua. Jangan lupa, tali-tali pengikatnya dibuang dulu,” kata Gus Dur.

“Mana bisa kutang dipotong jadi dua dan mendatangkan untung berlipat???” kata Peres.

“Ya kan kalau sudah jadi dua, namanya bukan kutang lagi. Kalian bisa memakai kutang sebagai topi untuk pergi ke tembok ratapan,” ujar Gus Dur. “Hahahahahahahahaha.hahahaha” Peres paham dan langsung tertawa terpingkal-pingkal.

3. Mengaku Keturunan Tinghoa

Gus Dur mengatakan dirinya memiliki darah Tionghoa, keturunan dari Tan Kim Han yang menikah dengan Tan A Lok, saudara kandung Raden Patah (Tan Eng Hwa), pendiri Kesultanan Demak.

Tan A Lok dan Tan Eng Hwa merupakan anak dari Putri Campa, putri Tiongkok yang merupakan selir Raden Brawijaya V.

Peneliti Prancis, Louis-Charles Damais mengidentifikasi Tan Kim Han sebagai Syekh Abdul Qodir Al-Shini yang makamnya ditemukan di Trowulan.

4. Makam Gus Dur Diziarahi Ribuan Orang

Menghargai guru, wali, atau tokoh ulama besar tidak hanya dilakukan saat beliau masih hidup, tapi juga ketika wafat. Seperti makam Gus Dur yang selalu didatangi ribuan para pengikut maupun pengagumnya.

Mantan orang terdekat Gus Dur, Priyo Sambadha mengatakan jumlah santri atau pengagum yang datang menziarahi makam Gus Dur mencapai ribuan orang setiap hari.

“Belum pernah disurvei secara ilmiah. Tapi sebagai gambaran saja, makam #GusDur tiap hari diziarahi 3.000 orang. Weekend bisa 5.000. Ramadan bisa sampai 10.000 setiap hari,” kata Priyo melalui akun Twitter pribadinya, 27 September 2018.

5. Kuasai 6 Bahasa Asing

Gus Dur sempat mengenyam pendidikan di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Saat itu pria kelahiran Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 juga aktif dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia bersama sahabatnya, KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus.

Kemampuan bahasa Arab Gus Dur tak diragukan lagi. Selain itu Ulama Besar NU ini pun mampu berbicara dalam enam bahasa asing lainnya. Hal ini dikatakan Priyo Sambadha lewat akun Twitter pribadinya.

“Sampai detik ini saya tidak tahu pasti berapa bahasa #GusDur menguasai. Tapi saya pernah dengar beliau bicara dalam bahasa Arab, Inggris, Spanyol, Jerman, Belanda, dan Prancis. Minimal berbasa-basi beberapa saat dengan jurnalis asing. Kalau bahasa Arab dan Inggris sih jelas sangat fasih,” kata Priyo.




Tulisan menarik dari Gus Nuril Arifin di Facebook, berjudul Sebaiknya anda Tahu Agar Bangsa Ini Tidak Terbelah disajikan di Benhil dengan tujuan agar catatan digital ini terekam dengan baik dan mudah ditemukan melalui mesin pencari Google. Sumber tulisan ditautkan di bawah artikel.

Saudaraku, para Ulama besar sekaligus guru bangsa Indonesia, yang sejak lama menyapa bangsa dengan taman hati itu waliyullah. Insha Allah.

Tetapi tahukah engkau, bahwa beliau KH Abdurrahman Wahid adalah Tionghoa pertama yang menjadi Presiden RI. Beliau keturunan dari Tan Kim Han yang menikah dengan Tan A Lok, saudara kandung Raden Patah pendiri Kesultanan Demak.

Sementara itu, Raja Islam pertama di tanah Jawa Dwipa, Raden Patah sendiri nama aslinya adalah Tan Eng Hwa. Tan A Lok dan Tan Eng Hwa ini adalah anak dari puteri Tiongkok yang menjadi selir Raden Brawijaya V.

Tan Kim Han menurut hasil penelitian ahli sejarah Perancis Louis-Charles Damais, tidak lain adalah; Syekh Abdul Qodir Al-Shini yang diketemukan makamnya di Trowulan.

Kita sudah benar di jalur PBNU ( Pancasila, Bhineka tunggal Ika, NKRI dan UUD 45 ), yang musti dijaga dan dilestarikan.

Langen Siswo
Sumpah Pemuda 1928 terselenggara di rumah Sie Kok Liong, Gedung Kramat 106. Para anggota Jong Java,  biasa menggunakan rumah ini untuk diskusi politik dan latihan kesenian. Mereka menyebut rumah ini Langen Siswo.
 
Selain Liong, juga ada Kwee Thiam Hong, Ong Kay Sing, Liauw Tjoan Hok dan Tjio Djin Kwie.  (Ali Sadikin pada 20 Mei 1973 meresmikan gedung ini sebagai Gedung Sumpah Pemuda).


Tionghoa
Mereka dari suku Thionghoa. Bukan China.
China itu negara. Seperti kita suku bangsa, Batak, Papua, Sasak, Bali atau Jawa, Minang, Sunda. Tetapi Warga Negara Indonesia sebagaimana suku Thiong Hoa. Maka, Pahlawan Nasional TNI AL John Lie meninggal  pada 27 Agustus 1988 dengan pangkat terakhir Laksamana Muda (Mayor Jendral) sejak 1966, dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.

Atas segala jasa dan pengabdiannya, beliau dianugerahi Bintang Mahaputera Utama. (oleh Presiden Soeharto), 10 Nopember 1995. Bintang Mahaputera Adipradana dan gelar Pahlawan Nasional,  (oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 November 2009).

Jenderal Besar TNI AH. Nasution pada 1988 berkata, Prestasi Laksamana Muda John Lie "tiada taranya di Angkatan Laut" karena dia adalah panglima armada (TNI AL) pada puncak krisis eksistensi republik dalam berbagai operasi menumpas kelompok separatis.

Separatis Republik Maluku Selatan
Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia, dan Perjuangan Rakyat Semesta.  John Lie dengan keberaniannya menembus blokade laut tentara Belanda pada masa revolusi era 1945, Mayor John Lie sukses lima belas kali melaksanakan tugas menyelundupkan berbagai komoditas ekspor ke Singapura untuk kepentingan pembiayaan perjuangan Republik. Uang yang didapat dibelikan senjata, tapi lebih serang secara barter. Persenjataan tersebut kemudian diselundupkan kembali masuk ke wilayah RI melalui Riau, diserahkan kepada bupati Usman Effendi untuk diedarkan lebih lanjut kpd para pejuang.

Pada awal 1950 ketika di Bangkok, beliau dipanggil pulang ke Surabaya oleh KASAL Laksamana TNI R. Soebijakto dan ditugaskan menjadi komandan kapal perang Rajawali, kemudian aktif menumpas pemberontakan RMS (Republik Maluku Selatan) di Maluku dan PRRI/Permesta.

Ada tokoh Djiaw Kie Siong, pemilik rumah yang dihuni Soekarno-Hatta dalam peristiwa Rengasdengklok. Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia rencananya akan dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta pada hari Kamis 16 Agustus 1945 di Rengasdengklok, yaitu di rumah Djiaw Kie Siong.

Naskah teks proklamasi sudah ditulis di rumah itu. Bendera Merah Putih sudah dikibarkan para pejuang Rengasdengklok pada Rabu, tanggal 15 Agustus, karena mereka tahu esok harinya Indonesia akan merdeka. Ketika naskah proklamasi akan dibacakan, tiba-tiba pada Kamis sore datanglah Ahmad Subardjo yang kemudian membawa Bung Karno dan Bung Hatta cs berangkat ke Jakarta untuk membacakan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56.

Liem Koen Hian
Tan Eng Hoa, Oey Tiang Tjoe, Oey Tjong Hauw adalah anggota drpd BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) ketika merumuskan UUD 1945.

Drs Yap Tjwan Bing
Apakah anda tahu? Dia adalah seorang sarjana farmasi dan apoteker yang juga dosen dan anggota Dewan Kurator ITB Bandung. Tahun 1945 beliau terpilih menjadi salah satu anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Setelah kemerdekaan, ia bergabung dengan PNI. Namanya kemudian diabadikan menjadi salah satu ruas jalan di kota Surakarta. Menggantikan Jalan "Jagalan", yang diresmikan oleh Walikota Surakarta H. Ir Joko Widodo pada tanggal 22 Februari 2008.

Salah satu orang yang terlibat secara langsung dalam penurunan bendera Belanda di Hotel Oranye Surabaya adalah:

Tony Wen alias Boen Kin To
Beliau  Sebelum Perang Dunia II, beliau adalah pemain sepak bola terkenal di kesebelasan UMS (Union Makes Strength). Pada masa pendudukan Jepang, dia bekerja sebagai juru bahasa , di kantor urusan Hoa Kiao (Kakyo Hanbu).

Salah satu bagian pusat intelijen Jepang (Sambu Beppan). Setelah Jepang takluk beliau menghilang dari Jakarta dan menetap di Solo memimpin Barisan Pemberontak Tionghoa.

Ketika Presiden Soekarno dan para pemimpin lainnya dibuang ke Pulau Bangka, beliaulah yang menyediakan seluruh keperluan para pemimpin tersebut. Pada era 1950-an beliau diangkat menjadi anggota Komite Olimpiade Indonesia dan pengurus PSSI.  Pada 1952 masuk menjadi anggota PNI dan sejak Agustus 1954 sampai Maret 1956 diangkat menjadi anggota DPR mewakili PNI lalu duduk di Kabinet Interim Demokrasi, dan pada tahun 1955 berada dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo.

Lagu Indonesia Raya yang diciptakan oleh Wage Rudolf Supratman, (WR Supratman) untuk pertama kali dipublikasikan oleh Koran Tionghoa Sin Po.

Lie Eng Hok
Seorang Perintis Kemerdekaan Indonesia. Beliau salah satu tokoh penting di balik pemberontakan 1926 Banten. Dalam peristiwa itu, masa bergerak melakukan perusakan jalan, jembatan, rel kereta api, instalasi listrik, air minum, rumah-rumah, dan kantor milik Pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Semasa muda Lie, aktif sebagai wartawan Surat Kabar Sin Po dan berkawan akrab dengan Wage Rudolf Supratman, dari persahabatannya inilah beliau belajar banyak tentang cita-cita kebangsaan.

Lie Eng Hok berperan sebagai kurir kaum pergerakan, lantas beliau ditahan Pemerintah Kolonial Belanda dan dibuang ke Boven Digoel (Tanah Merah), Papua, selama lima tahun (1927-1932). Selama di Boven Digoel Lie menolak bekerja untuk pemerintah kolonial Belanda dan lebih memilih membuka kios tambal sepatu untuk memenuhi biaya hidupnya.

Atas jasa-jasanya pada bangsa dan negara Indonesia, Lie Eng Hok diangkat sebagai Perintis Ke merdekaan RI, berdasarkan SK Menteri Sosial RI No. Pol. 111 PK tertanggal 22 Januari 1959. Lie meninggal pada 27 Desember 1961 dan dimakamkan di pemakaman umum di Semarang.

Dua puluh lima tahun kemudian, kerangka Lie Eng Hok baru dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal, Semarang, melalui Surat Pangdam IV Diponegoro No.B/678/X/1986.

Satu lagi, Siauw Giok Tjhan
Adalah menteri negara Urusan Minoritas dalam Kabinet Amir Syarifudin. Pada 1958 beliau mendirikan Universitas Trisakti dengan dibantu sejumlah petinggi Baperki (Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia). Awalnya bernama Universitas Res Publika, oleh Orde Baru diganti menjadi Tri Sakti.

Menurut Siauw Giok Tjhan, kecintaaan seseorang terhadap Indonesia, tidak bisa diukur dari nama, bahasa dan kebudayaan yang dipertahankannya, melainkan dari perilaku dan kesungguhannya dalam berbakti untuk Indonesia.

Konsep ini kemudian diterima oleh Bung Karno pada tahun 1963 yang kemudian secara tegas menyatakan bahwa golongan Tionghoa adalah suku Tionghoa dan orang Tionghoa tidak perlu mengganti namanya ataupun agamanya, atau menjalankan kawin campur (asimilasi) dengan suku non-Tionghoa untuk berbakti kepada Indonesia.

Siauw tidak menentang proses asimilasi yang berjalan secara suka-rela dan wajar, yang ditentangnya adalah proses asimilasi paksa untuk menghilangkan identitas sebuah golongan.

Salam Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa, Indonesia.

Sekian
Gus Nuril Arifin

*) Rangkuman dari berbagai sumber, semoga berguna bagi generasi penerus kaum pejuang.
Sumber: https://www.facebook.com/gusnuril.arifin/posts/1540863622703059

Mentawai
Mentawai

Padang - Infrastruktur yang belum memadai dan merata merupakan penyebab utama Kabupaten Kepulauan Mentawai di Sumatera Barat belum bisa lepas dari status tertinggal pada 2019, kata Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit.

"Infrastruktur yang paling kurang adalah penghubung di dalam pulau. Itu yang harus jadi fokus ke depan agar Mentawai bisa secepatnya keluar dari ketertinggalan," kata Nasrul di Padang, Jumat, 02 Agustus 2019.

Pembangunan infrastruktur di dalam pulau Mentawai, menurut dia, tidak bisa dilakukan hanya dengan mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Mentawai dan Sumatera Barat tetapi membutuhkan sokongan dari pemerintah pusat melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Kepulauan Mentawai telah mendapat sokongan dari pemerintah pusat antara lain dalam pembangunan jalan Trans Mentawai, yang menjadi penghubung antar-pulau dan memperbaiki akses di dalam pulau itu sendiri.

"Kalau akses antarpulau di Mentawai relatif sudah baik. Yang masih kurang itu jalan penghubung di dalam pulau. Sekarang sudah dalam pembangunan jalan lintas timur," kata Wakil Gubernur.

Pemerintah selanjutnya berencana membangun jalan lintas barat dalam upaya menghubungkan seluruh desa di Kepulauan Mentawai.

"Jika akses jalan terbuka, pembangunan yang lain bisa lebih mudah," kata Nasrul Abit.

Selain jalan, rasio elektrifikasi juga menjadi perhatian pemerintah daerah dalam upaya melepaskan status tertinggal dari Kabupaten Kepulauan Mentawai mengingat sampai 2019 baru 53,40 persen dari wilayah Mentawai yang menikmati listrik.

"Jaringan komunikasi sebelumnya juga bermasalah. Bantuan dari Kementerian Kominfo melalui Palapa Ring beberapa waktu lalu sudah banyak membantu," kata Nasrul.

Di samping itu, pemerintah daerah harus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan menumbuhkan perekonomian di Kepulauan Mentawai supaya wilayah kabupaten itu bisa segera lepas dari status tertinggal. Memicu roda ekonomi agar bergulir dengan baik.

Nasrul berharap perencana pembangunan yang terintegrasi antar kecamatan, kabupaten, provinsi, dan pusat serta koordinasi yang baik antar sektor bisa menjadi solusi untuk melepaskan status tertinggal dari Kepulauan Mentawai. (Antara)


Untuk lebih memahami suku Mentawai, pada posting ini disematkan vedeo menarik milik Tagar TV kanal YouTube situs berita online Tagar.id, pada salah satu videonya, mengunggah budaya masyarakat Mentawai yakni toto yang pembuatannya memiliki makna dan proses perjalanan hidup seseorang.



Lubuk Pakam - Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, sudah enam kali meraih penghargaan Kabupaten Layak Anak dari pemerintah sebagai bukti komitmen pemerintah daerah setempat dalam melayani masyarakatnya terutama mengenai perlindungan dan pemenuhan hak-hak anak.

"Terakhir penghargaan diterima Selasa (24/7) yang langsung diserahkan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise pada Peringatan Hari Anak Nasional di Makasar," kata Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, KB dan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak Deliserdang Hj Rabiatul Adawiyah Lubis, Kamis.

Penghargaan Kabupaten Layak Anak (KLA) tersebut adalah penghargaan yang ke-enam kalinya untuk Kabupaten Deliserdang, Sumut sebelumnya diraih tahun 2011, 2012, 2013, 2014, 2017 dan Tahun 2018, kota di Sumatera Utara yang bertetangga dengan Medan yang dikelilingi perkebunan-perkebunan besar, diantaranya kelapa sawit dan kebun karet.

"Diterimanya kembali penghargaan KLA itu berdasarkan penilaian tim verifikasi pusat atas tingginya komitmen kepala daerah bersama jajarannya untuk mendorong percepatan daerah menuju KLA untuk pemenuhan hak-hak anak di Deliserdang," katanya.

Ia menilai penghargaan tersebut diraih juga  karena telah berkomitmen dan mampu menerapkan praktik-praktik baik dalam mengembangkan penyelenggaraan kebijakan pemerintah, rencana kerja dan program serta kegiatan dalam upaya pemenuhan hak anak dan perlindungan khusus anak.

"Dengan penghargaan itu diharapkan anak-anak di Deliserdang dapat benar-benar mendapatkan haknya, selain itu juga terlindungi dari segala tindak kekerasan dalam bentuk apapun, baik itu terlindungi di sekolah dan ditempat-tempat umum lainnya," katanya. (Antara)



Albiner 'Rabar' Siagian
(Ketua Umum Yayasan Pelestari Kebudayaan Batak)

Pada acara pengukuhannya, Minggu 21 Juli 2019 di Gedung Museum Provinsi Sumatera Utara, Yayasan Pelestari Kebudayaan Batak (YPKB) menyerahkan Anugerah Pagari Batak 2019 kepada 6 orang yang dinilai amat berjasa dalam melestarikan kebudayaan Batak. Keenam orang penerima Anugerah Pagari 2019 itu adalah:

1. Guntur Sitohang (alm), Pelestari Musik Tradisional atau uning-uningan Batak
2. Jesral Tambun (Pelestari Ukiran, Gorga) Batak),
3. Repe Br Togatorop (Pelestari Tenunan, Ulos Batak)
4. Ir Monang Naipospos (Pelestari Kearifan Lokal Batak, Parmalim)
5. Prof. Dr. Bungaran A Simanjuntak (Pegiat Sejarah dan Antropologi Batak)
6. Ir Soekirman, sahabat (ale-ale ni Batak)

Penyerahan Anugerah Pagari direncanakan menjadi agenda rutin tahunan YPKB untuk berbagai kategori pelestari kebudayaan Batak.

Tentang Anugerah Pagari

Pagari adalah singkatan dari Pande Ugari. Pande bermakna ahli (tau) dan Ugari berarti kebiasaan, adat-istiadat, cara, dan praktek peri kehidupan. Dengan demikian, Pande Ugari bermakna orang yang memiliki keahlian (hatauon) dalam adat istiadat atau perikehidupan orang Batak.

Pagari sebagai akronim dari Pande Ugari itu juga bermakna memagari (pagar = kandang). Makna ini selaras dengan Visi YPKB, yakni Budaya Batak yang Lestari. Pagari bermakna melindungi (pajamothon) dan melestarikan (padimun-dimunhon).

Latar belakang pemberian Anugerah Pagari diinspirasi, antara lain, Anugerah Kebudayaan Rancage yg dipimpin oleh Sastrawan Nasional Ajip Rosidi di Bandung. Untuk diketahui, Yayasan Kebudayaan Rancagé setiap tahun memberikan Anugerah Sastra kepada pagiat sastra dari berbagai daerah di Indonesia.

Pada lima tahun terakhir, karya sastra Batak telah dianugerahi Anugerah Rancage. Penerimanya antara lain adalah Saut Poltak Tambunan, Rose Lumbantoruan, M. Tansiswo Siagian, dan Panusunan Simanjuntak.

Bagi YPKB, Anugerah Kebudayaan Rancage kepada karya sastra Batak ini adalah berita gembira sekelas 'sentilan' karena karya sastra Batak justru diapresiasi di daerah lain. Oleh karen itu, YPKB menginisiasi pemberian Anugerah Pagari yang pertama tahun 2019 sebagai penghargaan kepada pihak-pihak yang berjasa menggali (manguhal) dan melestarikan (padimun-dimunhon) kebudayaan Batak.

Dengan pemberian Anugerah Pagari, YPKB berharap generasi muda Batak akan tumbuh (tumbur) yang giat dan peduli (toras) melestarikan budaya Batak yang amat berharga itu. Ini sesuai dengan motto YPKB: "Tumbur gabe Toras."

Horas Pagari!
NB (Napinabotohon):
1. YPKB dikukuhkan oleh Pdt Dr. Hc. Willem TP Simarmata, mewakili orang tua (tokoh) Batak.
2. Selain pemberian Anugerah Pagari, pengukuhan YPKB juga diisi oleh Orasi Budaya oleh Amang Ir Monang Naipospos.


Foto: Charlie M. Sianipar - Instagaram

Medan - Yayasan Pelestarian Kebudayaan Batak (YPKB) mengungkapkan kebudayaan Batak semakin hilang sehingga yayasan itu berupaya melestarikannya kembali.

"Karena melihat ancaman kepunahan itu pula, maka YPKB dibentuk," ujar Ketua Umum YPKB Prof Dr Albiner Siagian di Medan, Minggu.

Albiner mengatakan itu pada acara Pengukuhan YPKB oleh tokoh masyarakat Batak Pdt WT Simarmata dan Penganugerahan Pande Ugari (Pagari) Batak Tahun 2019.

Menurut dia didampingi Ketua Dewan Pembina YPKB Ju Lassang Manahara Siahaan dan Ketua Dewan Pengawas Prof. Dr Hamonangan Tambunan, hilang atau semakin terancam punahnya kebudayaan Batak terlihat dari banyak aspek.

Mulai dari sudah jarangnya generasi muda suku Batak berbahasa Batak meski tinggal di perkampungan. Kemudian pemain musik Gondang Batak yang sudah sulit dicari. Dia menegaskan, kepengurusan YPKB diisi berbagai lapisan generasi karena tujuan yayasan didirikan memang untuk melestarikan kebudayaan Batak sehingga semua harus terlibat.

"Untuk cepat membuahkan hasil dengan maksimal, YPKB sudah membuat jangka pendek, menengah dan panjang," katanya.

Dia memberi contoh, akan ada upaya atau langkah konkrit agar bahasa Batak bisa menjadi bahasa sehari - hari. Kemudian akan ada penerbitan cerita-cerita pendek berbahasa Batak. Termasuk, katanya mengenalkan lebih luas aksara Batak.

"Aksara Batak harus diperkenalkan dan diaktifkan karena salah satu suku yang punya aksara, yah Batak," katanya.

Charlie M. Sianipar, penggiat media sosial di Jakarta, mengatakan hal ini telah dia risaukan, sebelum Facebook populer, saat itu bersama rekan-rekannya aktif di internet berinteraksi melalui blog pernah mengemukakannya, dapat dibaca di sini serta pada blog ini. Disampaikan, budaya Batak semakin tergerus zaman dan begitu banyak anak-anak muda yang mampu mengatakan "Saya tidak bisa berbahasa Batak" tanpa merasa bersalah. Dilanjutkan oleh Charlie, "Jika anak Batak Batak tersebut sudah tidak dapat bertutur dalam bahasa Batak, siapa besok yang akan menjagainya agar tetap eksis?"

YPKB juga akan membuat berbagai buku termasuk buku yang menceritakan bagaimana ritual yang dilakukan orang Batak saat bayi di dalam kandungan hingga saat meninggal dunia.

Artikel menarik: Anugerah Pagari Batak

Pendeta WTP Simarmata mengapresiasi terbentuknya YPKB dan berharap yayasan itu bisa benar benar sesuai harapan bisa melestarikan kebudayaan Batak.

"YPKB diharapkan benar - benar bisa mewujudkan latar belakang terbentuknya yayasan yakni melestarikan kebudayaan Batak yang sudah mulai hilang," ujar WTP Simarmata yang baru terpilih menjadi anggota DPD RI.  (Antara)


Video kehidupan sehari-hari masyarakat Batak sebagai petani di kawasan Tapanuli, Toba maupun Samosir.


Kata Istana Soal Demo 22 Mei 2019
Demo 22 Mei 2019, Moeldoko: Serahkan pada Hukum

Rencana demo 22 Mei 2019 secara besar-besaran saat KPU akan mengumumkan hasil rekapitulasi nasional pemilu ditanggapi pihak istana.

"Kita berharap tidak lagi seperti yang kita bayangkan. Karena kondisi itu tidak menguntungkan bagi siapa pun. Justru menguntungkan kepada pihak yang punya agenda untuk membuat situasi menjadi tidak baik," kata Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Senin 20 Mei 2019.

Dia mengatakan, intelijen telah menangkap kelompok penyelundup senjata yang berupaya melakukan tindakan anarkis pada 22 Mei. Penyelundup tersebut diduga akan mengacaukan situasi demo.

Ketika penangkapan, aparat menemukan senjata yang dilengkapi peredam, hingga senjata yang tidak menggunakan pisir tapi tetap harus menggunakan teleskop. Mantan Panglima TNI periode 2013-2015, mengimbau kepada peserta demo 22 Mei 2019 agar membatalkan demo. Pemerintah telah mengetahui siapa pencetus di balik aksi tersebut.

"Saya berharap masyarakat muncul kesadaran bersama, bahwa sudah lah serahkan pada proses hukum berlaku," ujarnya.

Identitas Massa Demo 22 Mei 2019

Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono mengaku mengetahui identitas massa yang akan turun ke jalan pada 22 Mei mendatang.

"Massa yang sekarang bergerak hanya mantan 212, FPI, barisan sakit hati," cetus Hendropriyono di Gedung Joang 45, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu 19 Mei 2019. Baca: Banyumas Tolak People Power

Menurut pria kelahiran Yogyakarta, 7 Mei 1945 massa yang akan turun ke jalan pada saat pengumuman hasil Pemilu 2019 itu juga ditunggangi mereka yang sakit hati dengan pemerintah saat ini.

"Yang tadinya pejabat, dicopot enggak mau, bekas menteri dicopot, masa sampai segitunya, sudahlah, gantian sama yang muda," ujarnya. Dia menyatakan, mereka adalah orang-orang yang tak mampu berpikir jernih lagi. Hendro menyebut, mereka adalah orang-orang yang rela mengorbankan apa pun demi sebuah nama dan jabatan.

"Yang ingin dapat nama, singgasana. Saya tidak mengerti kenapa sampai hati mengorbankan anak-anaknya sediri, untuk apa?" kata Hendropriyono.

Tolak People Power

Purwokerto - Berbagai organisasi kemasyarakatan, organisasi keagamaan, dan organisasi kepemudaan di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, sepakat untuk menolak gerakan "people power" atau pengerahan kekuatan massa.

Kesepakatan penolakan tersebut dideklarasikan dalam acara Silaturahim Kebangsaan "Merawat Bhineka Mempersatukan Bangsa" yang digelar di Hotel Grand Karlita, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Sabtu petang.

Dalam pembacaan deklarasi yang dipimpin Kepala Kejaksaan Negeri Purwokerto Erwindu dan ditirukan pimpinan organisasi beserta anggotanya, mereka menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Kabupaten Banyumas yang telah melaksanakan Pemilu 2019 dengan aman dan damai.

Selain itu, mereka juga mengucapkan terima kasih kepada Komisi Pemilihan Umum dan Badan Pengawas Pemilihan Umum yang telah menyelenggarakan Pemilu 2019 dengan jujur, adil, dan transparan.

Ucapan terima kasih juga mereka sampaikan kepada Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Republik Indonesia yang telah mengamankan penyelenggaraan Pemilu 2019 dengan aman dan damai serta mendukung tugas-tugas TNI dan Polri.

"Kami menolak segala bentuk aksi kekerasan pada Pemilu 2019. Kami menolak 'people power' yang mengarah pada tindakan inkonstitusional. Kami siap menjaga Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia," kata Erwindu saat membacakan deklarasi yang ditirukan seluruh pimpinan organisasi beserta anggotanya.

Saat memberikan sambutan, Wakil Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengharapkan seluruh organisasi sosial politik kemasyarakatan, organisasi keagamaan, dan organisasi kepemudaan untuk bersama-sama menjaga kerukunan karena semuanya bersaudara.

"'Aja pada gelutan, dhewek seduluran' (jangan saling berkelahi, kita semua bersaudara, red.)," ucapnya dalam bahasa Jawa Banyumasan.

Kendati demikian, dia mengaku optimistis situasi dan kondisi di Kabupaten Banyumas akan tetap dalam suasana sejuk.

Komandan Komando Distrik Militer 0701/Banyumas Letnan Kolonel Infanteri Candra mengatakan warga Banyumas memiliki ciri khas berupa kepribadian yang sopan santun dan kekeluargaan.

"Harus kita bangkitkan kekuatan yang telah ada di kita, Indonesia, adalah kita sama-sama bisa bertoleransi. Kami melihat bahwa dalam setiap 'event' internasional, bangsa Indonesia diakui bahwa kita adalah bangsa yang paling bertoleransi, sangat menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan di Negara Republik Indonesia," tuturnya.

Oleh karena itu, kata dia, pihaknya mengimbau dan mengajak seluruh pimpinan beserta anggota berbagai organisasi yang hadir dalam acara tersebut untuk bersama-sama merawat kebhinekaan dengan tidak melaksanakan kegiatan-kegiatan yang merusak persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Sementara itu, Kepala Kepolisian Resor Banyumas Ajun Komisaris Besar Bambang Yudhantara Salamun menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Kabupaten Banyumas karena pada saat rangkaian pesta demokrasi, baik Pilkada Serentak 2018 maupun Pemilu Serentak 2019, semuanya berjalan aman, damai, dan lancar.

"Semua, kita saling memahami bahwasanya perbedaan pandangan, perbedaan pilihan yang ada pada kita, itu adalah sebagai rangkaian proses," ujarnya.

Ia mengajak seluruh pimpinan organisasi yang hadir dalam acara tersebut untuk bersama-sama menyatukan pandangan bahwa kebersamaan dan kebhinekaan yang ada menjadi sarana untuk bisa menyatukan Indonesia.

Saat ditemui usai kegiatan, Kapolres mengatakan dalam acara Silaturahim Kebangsaan tersebut, seluruh organisasi yang ada di Banyumas sepakat taat hukum dan menolak segala bentuk kekerasan yang terjadi pada rangkaian Pemilu Serentak 2019.

Ia mengimbau seluruh masyarakat Kabupaten Banyumas untuk bersama-sama menjaga persatuan dan kesatuan menjelang penetapan perolehan suara Pemilu Serentak 2019 yang akan dilaksanakan oleh KPU RI pada tanggal 22 Mei.

"Tidak ada lagi hujat-menghujat, saling membenci, pemilu sudah usai. Kita harus dukung apapun yang menjadi keputusan KPU RI nanti," katanya.

Terkait dengan rencana gerakan "people power" pada tanggal 22 Mei 2019, dia mengatakan situasi di Kabupaten Banyumas hingga saat ini tetap kondusif dan pihaknya tidak melihat adanya kelompok-kelompok masyarakat yang akan berangkat ke Jakarta.

Kendati demikian, dia mengatakan pihaknya tetap berusaha mengantisipasi dengan merangkul seluruh kelompok masyarakat dan memberikan pemahaman bahwa sistem demokrasi di Indonesia sudah berlangsung dengan damai sehingga harus terus didukung.



SETELAH KAMI KALAH

Grace Natalie
Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia

Hasil quick count lembaga kredibel memperlihatkan bahwa rakyat Indonesia telah mengambil keputusan. Sambil menunggu real count sebagai standard konstitusional -- kita sudah bisa mengambil kesimpulan mengenai hasil pemilu kali ini.

Pertama, Calon Presiden Partai Solidaritas Indonesia yakni Pak Jokowi dan Kyai Ma'ruf telah memenangkan pemilihan presiden dengan selisih sekitar sepuluh persen.

Kami sebagai partai pendukung Pak Jokowi merasa gembira atas hasil ini. Kami siap menjadi partner Pak Jokowi menjalankan program-program kerakyatan yang akan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Kedua, menurut quick count, PSI mendapat 2%. Dengan perolehan itu PSI tidak akan berada di Senayan lima tahun kedepan...

Kami telah berjuang dengan apa yang kami bisa. Tidak, kami tak akan menyalahkan siapa-siapa. Kader kami, pengurus PSI, Caleg kami, telah bekerja keras siang dan malam meyakinkan rakyat. Tapi inilah keputusan rakyat melalui mekanasime demokrasi yang harus kami terima dan hormati.

Tidak Ada Penyesalan

Samasekali tidak ada penyesalan atas setiap tetes keringat dan airmata yang jatuh selama membangun partai ini. Kami, anak-anak muda PSI telah terlibat dalam sebuah perjuangan yang bagi kami sangat luar biasa.

Kami berterima kasih karena di tengah apatisme politik, kami berhasil membuktikan bahwa orang mau berkontribusi: menyumbang uang, membantu mencetak alat peraga kampanye, menyumbang tenaga, pikiran, bahkan meninggalkan pekerjaan mereka demi berjuang bersama PSI. Kepada mereka semua, kami mengucapkan terima kasih.

Saya meminta kawan-kawan pengurus dan caleg tidak putus asa dan tetap menjaga suara kita. Meskipun kandas melewati  parliamentary threshold di level nasional, tapi saya yakin bahwa akan banyak kawan-kawan yang berpeluang mendapatkan kursi di DPRD provinsi dan kabupaten kota. Ini adalah modal politik yang harus kita rawat.

Perlu dicatat, perolehan PSI 2% atau sekitar 3 juta suara. Ini adalah suara rakyat yang harus diperhitungkan. Meskipun PSI tidak masuk parlemen suara kalian akan tetap kami perjuangkan. Kami akan bekerjasama dengan civil society dan teman-teman media -- untuk memperjuangkan aspirasi kalian.

Tak ada suara terbuang, tak ada suara yang sia-sia. Setiap suara dukungan anda kepada PSI -- akan dicatat dan diperhitungkan sebagai statement tentang keberanian: suara rakyat yang menginginkan perbaikan parlemen dan partai politik.

Saya ucapkan terima kasih kepada sekitar tiga juta rakyat Indonesia yang telah mempercayai PSI. Kita akan terus memperjuangkan nilai-nilai yang kita yakini. Terima kasih juga kepada puluhan ribu donatur yang telah menyisihkan dana untuk membantu partai ini bergerak.

Kepada teman-teman partai lain yang lolos ke DPR, kami mengucapkan selamat. Selamat bekerja, dan semoga amanah menjalankan tanggungjawab. Kami bersama masyarakat akan ikut mengawasi.

Kepada anda sekitar tiga juta pemilih PSI, saya mengajak agar segera mendaftarkan diri menjadi anggota melalui www.psi.id atau datang ke kantor PSI terdekat. Kita segera mengkonsolidasikan diri.

Kepada seluruh kader, pengurus, dan simpatisan -- setelah ini kita akan mengatur kembali rencana ke depan. Terima kasih atas perjuangan kalian yang sangat membanggakan. Kita akan terus bergerak. Saya yakin itu -- karena saya tak pernah meragukan kecintaan kalian kepada negeri ini.

PSI akan kembali menyapa rakyat. Bukan lima tahun lagi, tapi besok!

We shall return, soon!

Catatan, Berita terbaru tentang PSI boleh dilihat di sini.

Sekjen PSI Raja Juli Antoni
Sekjen PSI Raja Juli Antoni

Karifikasi singkat Sekjen PSI (Partai Solidaritas Indonesia) Raja Juli Antoni dan mengenal profil Jeffrie Geovanie sebagai Ketua Dewan Pembina PSI. Parpol beru yang akan ikut pada Pemilu 2019 dengan mengirimkan calon legislatif yang diseleksi dengan ketat serta penelusuran biodatanya.

Pidato  Ketua Umum PSI, Sis Grace Natalie, di beberapa Festival 11 membuat banyak yang kebakaran jenggot. Sayangnya, pidato  yang mencerminkan posisi ideologis PSI (Partai Solidaritas Indonesia) itu tidak pernah ditanggapi secara  substantif. Melainkan direspons melalui tulisan fitnah dan hoax yang membodohi rakyat.

Pembodohannya beragam: dari sistem Sainte Lague yang dianggap menguntungkan partai besar (salah total!), kesia-sian memilih PSI karena tidak akan masuk Senayan (yakin PSI gak masuk tapi kok fitnah yang diproduksi masif sekali?), sampai fitnah bahwa PSI  didirikan oleh Gerindra, FPI dkk agar merusak Pak Jokowi dari dalam dan menggangu partai koalisi Pak Jokowi. Yang terakhir ini, menurut fitnah itu, buktinya adalah kantor PSI tidak pernah diserang oleh FPI. Rumah Grace dan Saya juga tidak pernah digeruduk FPI (pembodohan yang bodoh sekali ya...).

Salah satu fitnah yang juga beredar adalah soal Ketua Dewan Pembina PSI, Jeffrie Geovanie, biasa saya panggil Bang JG. Tulisan tentang Bang JG ini keterlaluan. Imaginasi penulis terlalu liar sehingga terlihat "mengarang indah" tanpa fakta dan data.

Dari beberapa bulan lalu saya didesak banyak orang untuk mengklarifikasi tulisan sampah itu. Tapi saya cenderung bekerja keliling Indonesia meyakinkan pemilih ketimbang capek mengklarifikasi yang begituan. Tapi mumpung  hari ini kesibukan saya berkurang drastik, boleh juga saya sempatkan sedikit mengklarifikasi.

Berita terkait PSI dapat dibaca pada artikel bertajuk: PSI Diremehkan Justru Unggul Telak Exit Pool

Klarifikasi Saya Singkat Saja:


Saya sudah kenal Bang Jeffrie Geovanie dari sekitar tahun 2000. Sekitar 2003 bersama Rizal Sukma (Dubes RI di London), Almarhum Moeslim Abdurrahman dkk, Bang JG mendirikan Yayasan Ahamad Syafii Maarif-ASM, salah seorang guru bangsa yang tersisa. Yayasan ASM ini yang menaungi MAARIF Institute for Culture and Humanity.

Sejak didirikan sampai dengan detik ini Bang JG masih menjadi ketua Yayasan ASM. Saya tahu persis Buya Syafii sangat happy dengan posisi Bang JG sebagai ketua Yayasan sehingga tidak pernah diganti sejak pendiriannya. Yayasan ASM terus berkembang dengan baik di tengah banyaknya Yayasan serupa gulung tikar.

Saya mengetahui hal ini bukan saja karena saya dekat  sekali dengan Buya Syafii tapi karena saya selama lima tahun menjadi Direktur MAARIF Institute. Buya pernah cerita ke saya bahwa Bang JG tidak pernah meminta atau mempergunakan nama besar Buya untuk jabatan dan proyek apa pun.

Pada tahun 2005 saya mulai diberi amanah memimpin MAARIF Institute. Saya diberikan kebebasan dan kendali penuh penuh  oleh yayasan dalam menjalankan lembaga ini. Ini pulalah yang sekarang saya rasakan di PSI selama empat tahun lebih mendampingi  Sis Grace Natalie menahkodai PSI. Semua ide dan eksekusinya di bawah kendali Grace Natalie dan DPP PSI secara kolektif. Sesekali bila ada perbedaan tajam tentang suatu hal di antara kami yang sulit dicarikan jalan keluarnya kami konsultasikan kepada Bang JG sebagai "orang tua" kami di partai.

Begini deh. Mungkin saya dipandang subjektif karena sekarang sama-sama berada di  satu partai dengan Bang JG. Bagi yang masih penasaran, supaya objektif silakan klarifikasi langsung kepada Buya Syafii Maarif tentang sosok JG ini. Atau kontak Bang Rizal Sukma yang sampai sekarang menjadi sekretaris Yayasan ASM.

Saat saya membuat tulisan pendek ini banyak yang mengirim ucapan selamat karena exit polls di beberapa negara menunjukan Pak Jokowi menang dan PSI menjadi parpol juara satu di negara-negara itu. Kemarin banyak juga yang menyampaikan selamat karena sambutan gegap gempita di GBK ketika Pak Jokowi mengucapkan terima kasih kepada PSI, melebihi keriuhan ketika nama partai lain di sebutkan. Indikasi baik kata mereka.

Mungkin karena pertanda-pertanda baik ini fitnah semakin kencang menerpa PSI bahkan di hari tenang ini.

Wallahu'alam

Raja Juli Antoni
Mantan Direktur MAARIF Institute (2005-2010)
Sekjen PSI

Pemilihan Umum

Purwokerto (Benhil, 16/04/2019) - Pengamat Politik dari Universitas Jenderal Soedirman Luthfi Makhasin mengingatkan masyarakat, terkait Pemilihan Umum di Indonesia mengenai pentingnya menjadi pemilih cerdas dan rasional.

"Misalkan, masyarakat memilih atas dasar pertimbangan yang objektif," katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah Selasa.

Para calon pemilih, kata Luthfi, juga harus mengetahui, mencari dan mengecek ulang semua informasi mengenai kepemiluan ke sumber-sumber yang tepat dan terpercaya.

"Jangan mudah terpengaruh disinformasi atau berita bohong," ujarnya menegaskan.

Yang terpenting, katanya, masyarakat harus menggunakan hak pilih masing-masing dengan sebaik-baiknya.

Penggiat media sosial dan SEO (Search Engine Optimization) dan pengelola Tagar News, situs berita online di Jakarta, Charlie M. Sianipar mengatakan "Masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya atau Golput (Gologan Putih), justru dapat memenangkan politisi atau kandidat yang tidak diinginkan." Dilanjutkannya, melalui pemilulah pemilik suara dapat mencegah politisi buruk atau calon Presiden yang kurang cakap dapat dihentikan."

"Pilihan kita akan menentukan masa depan bangsa sehingga masyarakat harus ikut berpartisipasi dalam pemilu dan menggunakan hak pilihnya dengan baik," katanya.

Dia juga mengajak masyarakat untuk merayakan pesta demokrasi dengan penuh riang gembira.

"Pesta demokrasi harus berjalan dengan penuh riang gembira dan semuanya bisa dimulai dari diri sendiri misalkan dengan ikut berpartisipasi menggunakan hak suara dan tidak terpengaruh berita hoaks atau ujaran kebencian," katanya.

Sebelumnya, Akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman Nana Sutikna mengingatkan pentingnya masyarakat perlu memilih calon dengan menggunakan akal sehat.

Nana yang merupakan dosen lembaga pendidikan Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unsoed tersebut mengatakan masyarakat perlu membaca seluruh calon secara objektif, tanpa dipengaruhi sentimen tertentu.

Sebelumnya, Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Banyumas, Hanan Wiyoko juga mengajak masyarakat khususnya para pemilih pemula di wilayah setempat untuk menjadi pemilih cerdas dengan mengenali visi dan misi calon.

Dia mengatakan pada saat ini masyarakat memiliki akses yang sangat mudah untuk mengenali para peserta pemilu.

Charlie M. Sianipar, alumni FISIP Universitas Sumatera Utara itu, melanjutkan, kenalilah kandidat yang mencalonkan diri, pahami rekam jejaknya. Apakah selama ini berprestasi, memiliki komitmen yang tinggi untuk NKRI yang Bhinneka Tunggal Ika dan bukan bagian dari masa lalu serta barisan koruptor yang merugikan negara, yang nantinya berpotensi melakukan hal yang sama. Baca juga, PSI Diremehkan Justru Unggul Telak Exit Pool.

"Mengenali peserta pemilu semudah berselancar di dunia maya. Rekam jejak dan profil calon legislatif, anggota Dewan Pimpinan Daerah dan calon presiden serta calon wakil presiden juga mudah ditemukan di portal KPU," katanya. (Antara)

Partai Solidaritas Indonesia
Grace Natalie, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia

Partai yang kehadirannya, terasa mengusik Partai Politik yang selama sini sudah merasakan indahnya hidup sebagai politisi, tanpa kinerja yang membanggakan pemilihnya. Partai baru yang didirikan anak-anak muda, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang diremehkan, sering diterpa dengan hoax yang diproduksi lawan, katakan PSI tak memiliki masa depan dan tak akan lolos parliamentary threshold untuk mengirimkan wakil mereka ke Parlemen.

Kenyataanya, jauh berbeda, setelah Pemilu Luar Negeri digelar dan lakukan exit pool, Partai Solidaritas Indonesia justru unggul mengalahkan parpol yang selama ini terlena dan minim prestasi.

Luar Biasa!

Hasil exit poll di enam kota besar dunia, Sidney, Melbourne, Berlin, Singapura, London, dan Toronto, menempatkan Partai Solidaritas Indonesia di peringkat tertinggi parpol dengan perolehan suara terbesar (15/04)

Exit poll merupakan survei yang dilakukan segera setalah pemilih meninggalkan tempat pemungutan suara. Exit Poll mewawancarai kepada sampel pemilih yang dipilih di TPS tertentu.

Ini di luar dugaan banyak pihak yang selama ini sering melecehkan Partai Solidaritas Indoensia sebagai partai nol koma.

Bahkan beredar hasutan agar jangan memilih PSI karena itu akan menjadi pekerjaan sia-sia mengingat suara PSI akan hangus.

Data di enam kota besar dunia ini membalikkan pelecehan tersebut. Bila hasil exit poll ini bisa diandalkan dan semangat serupa terasa di Indonesia, PSI hampir pasti lolos ke parlemen.

Menarik untuk mencatat bahwa di enam kota besar itu peringkat pertama selalu ditempati PSI, diikuti PDIP di peringkat kedua dan PKS di peringkat ketiga. Satu-satunya pengecualian adalah di Singapura yang peringkat ketiganya ditempati PKB (Partai Kebangkitan Bangsa).

Berikut adalah perbandingan suara peringkat kesatu sampai ketiga di kota-kota itu:

  • Berlin 1. PSI (19%); 2. PDIP (15%); 3. PKS (13%)
  • Sydney 1. PSI (31%); 2. PDIP (21%); 3. PKS (6%)
  • Melbourne 1. PSI (39%); 2. PDIP (25%); 3. PKS (6%)
  • Singapura 1. PSI (20%); 2. PDIP (17%); 3. PKB (13%)
  • London 1. PSI (36%); 2. PDIP (21%); 3. PKS (8%)
  • Toronto 1. PSI (51%); 2. PDIP (22%); 3. PKS (3%)

Satu-satunya daerah pemilihan (dapil) dimana PSI tidak menempati peringkat 1 sejauh ini hanyalah Arab Saudi. Di sana PSI hanya memperoleh suara 12,6%, di bawah PKB (25,8%), PDIP (23,9%), dan Gerindra (18,3%).

Mengapa suara PSI bisa sekuat itu dibandingkan di dalam negeri? Menurut saya, dukungan buat PSI di luar negeri datang dari kalangan terdidik yang memang sudah terbiasa hidup dalam suasana masyarakat pluralis. Walau mereka tidak berada di Indonesia, mereka terus mengikuti perkembangan berita tanah air. Dan bagi mereka PSI nampak sebagai partai yang akan membawa Indonesia mencapai kemajuan seperti yang mereka lihat dan rasakan di negara-negara tersebut.

Mudah-mudahan hasil exit poll ini akan membuat kaum tercerahkan, kaum pluralis, kaum modern dan inklusif di Indonesia sadar bahwa mendukung PSI bukanlah perjuangan sia-sia. Memberi suara bagi PSI sangat bisa meloloskan PSI ke parlemen, sehingga anak-anak muda PSI bisa sungguh-sungguh memperjuangkan semangat anti toleransi, kesetaraan dan anti korupsi di Indonesia.


Ini adalah saat terbaik bagi kita semua menyelamatkan Indonesia. Kita sejahterakan Indonesia, kita dukung PSI! Artikel terkait: Profil Jeffrie Geovanie Ketua Dewan Pembina PSI

SUDAH MASUK HASIL EXIT POLL DI EMPAT NEGARA ASEAN: PSI SELALU DI POSISI TIGA BESAR PARPOL DENGAN SUARA TERBANYAK

Ini betul-betul kejutan. Hasil exit poll terakhir di empat negara Asean (Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina); menempatkan PSI selalu di tiga peringkat teratas. Tiga besar selalu diisi PDIP, Gerindra dan PSI, ringkasannya:
  • Malaysia 1. PDIP ( 19%); 2. Gerindra (17%); 3. PSI (15%)
  • Singapura 1. PSI (30 %); 2. PDIP (22%); 3. Gerindra (16%)
  • Thailand 1. PDIP ( 26%); 2. Gerindra (21%); 3. PSI (19%)
  • Filipina 1. Gerindra ( 24%); 2. PDIP (21%); 3. PSI (18%)
(Suara PSI di dua exit poll itu berbeda, karena jumlah sampel yg lebih besar di exit poll kedua, mencapai 189 orang)

Ade Armando*
(Universitas Indonesia)

*Dr. Ade Armando, MSc. adalah seorang pakar ilmu komunikasi di Indonesia. Ade mengajar di Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Indonesia, serta di beberapa perguruan tinggi lainnya pada jenjang sarjana maupun pascasarjana.

Rabu Putih
Fotografi: Charlie M. Sianipar

Gedung Gelora Bung Karno 13 April 2019
Sofia Mansoor, Farmasi ITB '69

Sebuah spanduk dibentangkan di lautan Manusia di sekitar panggung :

#RABUPUTIH
Putih Satukan Kita

Ada kejadian unik, lucu, mengharukan di blok kami, di lantai atas, samping kanan pentas.

Menjelang jam 12 siang yang terik, perut mulai keroncongan.
Eh, mendadak ada pedagang asongan masuk, keliling menawarkan Tahu Sumedang dan Kacang goreng.

Dua kantong Tahu dihargai Rp 15.000.
Banyak yang beli dong.

Lalu, ada Jokower yang menyodorkan kaos Jokowi dan memintanya mengganti kemeja batiknya dengan kaos.

Eh, dia langsung buka kemejanya dan dipake lah kaos itu.
Semua Jokowers di blok kami histeris.
Selain kaos, si pedagang asongan itu juga disodori topi Jokowi.
Dia langsung mencopot Kopiah Hitamnya dan menggantinya dengan topi itu.

Selanjutnya para Jokowers wanita pada kehausan.
Rupanya ada yang memintanya mengambilkan air mineral botolan yang di bagikan gratis di pintu masuk GBK (Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta).

Agar tahu saja, untuk mengambil Air botol gratisan itu, dia harus menuruni beberapa set anak tangga.

Sekitar 10 menit kemudian, dia muncul dengan nafas terengah-engah membawa sekeresek besar air minum botolan.

Sedikitnya ada 20 botol @600 ml.
Berapa kilogram tuh?!
Sekitar 12 kg bo!

Langsung Air minum botolan gratis itu diserbu dan dalam sekejap habis.
Banyak Tangan Jokowers menyelip kan uang pecahan Rp 50.000 ke genggaman tangannya.
Sedikitnya ada 10 orang yang memberinya uang.

Yang mengharukan, si pedagang asongan berusaha menolak.
Tapi dia dipaksa menerima asongan Uang dari sebelah kiri kanan depan belakangnya itu.
Dia berlinang airmata dan mengucapkan terima kasih berulang kali. "Rasanya saya mau nangis" katanya.

"Uang ini untuk Anak Istri saya".

Keruan saja para Jokowers makin terpikat.
Beberapa grup menyempatkan diri berfoto dengan si pedagang asongan tak bernama itu.

Lalu, masih ada Jokowers yang mau membeli sisa jualannya.
Eh malah dia gratiskan!

Tentu saja dia kebanjiran asongan uang lagi.
Alhamdulillah.

Ketika saya berucap rezeki datang dari mana saja.
Seorang Jokower yang duduk di belakang saya mengamininya.
Betul bu rezeki datang tanpa diduga karena dia orang baik.

Sama seperti orang baik yang akan kita pilih tanggal 17 April nanti

#01JokowiOrangBaik
#01JokowiSaratPrestasi
#01JokowiPresidenDuaPeriode


Purwokerto, 3/3 (Benhil) - Sekitar 150 generasi milenial di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, yang tergabung dalam Milenial Jokowi mendeklarasikan dukungannya kepada pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) dan Ma'ruf Amin.

Dalam deklarasi yang dilaksanakan di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Sabtu malam, diisi dengan berbagai lagu penyemangat dan testimoni tentang keberhasilan periode pertama kepemimpinan Jokowi.

Koordinator Milenial Jokowi Firdaus Putra mengatakan deklarasi tersebut ditujukan untuk membangun jejaring anak-anak muda yang memiliki keyakinan bersama bahwa Joko Widodo dan Ma'ruf Amin harus melanjutkan periode kedua.

"Ini karena secara demografi, anak-anak muda mencapai 35 persen dari penduduk Indonesia sehingga kami secara aktif dan intensif mengawal agar kemudian anak-anak muda ini secara aktif terlibat dalam proses politik ataupun agenda pilpres ini," katanya.

Firdaus mengatakan keterlibatan generasi muda dalam pemilu dimaknai bukan sekadar memilih calon tetapi sebagai kontribusi kepada bangsa karena kalau keliru memilih akan berdampak pada nasib Indonesia lima tahun mendatang.

Menurut dia, Milenial Jokowi menyasar anak-anak muda yang berusia 18-35 tahun yang dalam kategori milenial.

"Pada rentang usia itu memang sebagian 'swing voters' (belum menentukan pilihannya, red.) sehingga teman-teman Milenial Jokowi ini perlu mempromosikan lebih kuat melalui media sosialnya maupun aktivitas-aktivitas publik seperti ini agar mereka tidak sungkan," katanya.

Ia mengatakan sebagian anak muda masih malu untuk berpolitik dan sungkan untuk menunjukkan bahwa mereka mendukung pasangan nomor urut 01.

Dengan adanya ruang berupa Milenial Jokowi, kata dia, anak-anak muda itu akan punya rasa percaya diri karena ada teman-teman yang melakukan aktivitas advokasi politik.

Firdaus Putra mengharapkan dukungan generasi muda di Kabupaten Banyumas untuk memilih Jokowi dalam Pemilu Serentak 2019 tetap tinggi seperti halnya saat Pilpres 2014.

Menurut dia, suasana Pemilu 2014 berbeda dengan Pemilu 2019 karena saat itu, penyebaran berita-berita hoaks tidak sekencang sekarang.

Oleh karena itu, ujar Firdaus, pihaknya akan melakukan edukasi tentang antihoaks untuk menuju Indonesia lebih baik. (KR-SMT).


PERNYATAAN SIKAP
PENGURUS WILAYAH GERAKAN PEMUDA ANSOR
SUMATERA UTARA

Menyikapi masuknya perusuh ke acara HARLAH NU Ke-93 Kota Tebing Tinggi, maka dengan ini Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor (PW GP ANSOR) Sumatera Utara menyatakan sikap sebagai berikut:

1. Meminta kepada masyarakat Sumatera Utara agar dapat menjaga kondusifitas di Sumatera Utara, khususnya Kota Tebing Tinggi, dan tidak terpengaruh tindakan makar, provokasi-propoganda serta mengkonsumsi berita dan isu hoax yang dapat merusak tatanan kita dalam mewujudkan baldatun toyyibatun warobbul gofur.

2. Meminta kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, agar dapat mencegah aliran- aliran sesat dan paham- paham Radikalisme yang ada di Sumatera Utara , karena telah meresahkan dan membingungkan masyarakat.

3. Meminta kepada pemerintah Sumatera Utara, agar tetap melindungi serta menjaga kerukunan umat beragama dan antar umat beragama.

4. Menolak ujaran kebencian, fitnah serta berita hoax karena dapat merusak tatanan berbangsa dan bernegara.

5. Menginstruksikan kepada sahabat kader Ansor dan Banser Se-Sumatera Utara agar dapat menjaga dan melestarikan paham Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Dan tidak boleh takut dengan siapapun yang mengancam Aqidah dan Negeri kita.

6. Mendukung penuh dan mengucapkan terimakasih kepada Polda Sumatera Utara terkhusus kepada Polres Tebing Tinggi, yang memproses oknum- oknum perusuh sesuai hukum dan Undang-Undang yang berlaku, dan mengharapkan agar dapat mengusut tuntas sampai kepada  aktor intelektual serta provokator perusuh pada HARLAH Ke-93 PC-NU Kota Tebing Tinggi.

7. Mendukung penuh seluruh polres di bawah Polda Sumatera Utara, agar tetap memproses setiap laporan masyarakat atau lembaga yang melaporkan; ujaran kebencian, fitnah, adu domba yang mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Demikian penyataan ini kami sampaikan atas dukungan dan perhatian dari semua pihak kami ucapkan terimakasih.

Wallaaahul Muwaaafiq Ilaaa Aqwamit Thariiiq
Wassalamu Alaikum Wr.Wb.

Tebing Tinggi, 01 Maret 2019
Labuhan Hasibuan, SAg
Ketua PW Ansor Sumatera Utara

KH Said Aqil Siroj

Banjar, 1/3 (Benhil) - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menegaskan istilah kafir dan non-Muslim sebagai konteks yang berbeda merujuk pada zaman Rasulullah Muhammad SAW.

"Dalam sistem kewarganegaraan pada suatu negara bangsa tidak dikenal istilah kafir. Setiap warga negara memiliki kedudukan dan hak yang sama di mata konstitusi," kata Said dalam penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) 2019 di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Banjar, Jumat.

Ia mengatakan di masa awal dakwah Islam, Rasulullah SAW menyebut kafir bagi para penyembah berhala, klenik dan semacamnya. Setelah periode hijrah dari Mekkah ke Madinah, istilah kafir sering disebut sebagai non-Muslim.

Istilah itu kerap digunakan dalam konteks ketatanegaraan di Madinah sehingga setiap warganya memiliki hak yang sama baik itu Muslim maupun non-Muslim.

Said mengatakan penegasan kafir dan non-Muslim itu dibahas dalam Komisi Bahtsul Masail Diniyah Maudluiyah yang fokus pada penjelasan tematik. Komisi itu juga membahas soal pandangan Islam dalam menyikapi bentuk negara bangsa dan produk perundangan atau kebijakan negara yang dihasilkan oleh proses politik modern. Forum itu merupakan bagian dari kegiatan Munas-Konbes NU 2019.

Sebelumnya, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU KH Abdul Moqsith Ghazali mengatakan Pancasila sebagai dasar negara berhasil menyatukan rakyat Indonesia yang plural, baik dari sudut etnis dan suku maupun agama dan budaya.

Di bawah payung Pancasila, seluruh warga negara adalah setara dengan yang satu tak lebih unggul dari yang lain berdasarkan suku, etnis bahkan agama. Hal itu selaras dengan yang pernah dilakukan Nabi Muhammad dengan membuat Piagam Madinah untuk menyatukan seluruh penduduk Madinah.

Piagam Madinah itu menegaskan bahwa seluruh penduduk Madinah adalah satu kesatuan bangsa atau umat yang berdaulat di hadapan bangsa/ umat lainnya tanpa diskriminasi.

Moqsith mengatakan kata kafir sering disebutkan oleh sekelompok orang untuk melabeli kelompok atau individu yang bertentangan dengan ajaran yang mereka yakini, kepada non-Muslim, bahkan terhadap sesama Muslim sendiri.

Bahtsul Masail Maudluiyah memutuskan tidak menggunakan kata kafir bagi non-Muslim di Indonesia. "Kata kafir menyakiti sebagian kelompok non-Muslim yang dianggap mengandung unsur kekerasan teologis," katanya.

Ia mengatakan para kiai menyepakati tidak menggunakan kata kafir, tetapi menggunakan istilah muwathinun, yaitu warga negara. Menurut dia, hal demikian menunjukkan kesetaraan status Muslim dan Non-Muslim di dalam sebuah negara.

"Dengan begitu, maka status mereka setara dengan warga negara yang lain," katanya. Meski demikian, kata dia, kesepakatan tersebut bukan berarti menghapus kata kafir. Hanya saja, penyebutan kafir terhadap non-Muslim di Indonesia tidak bijak.
All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.