Showing posts with label Sosial Politik. Show all posts

Anak Indonesia Korban Bom
Anak Indonesia korban bom Samarinda, adakah perhatian KPAI?

KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) tidak usah ikut-ikutan ngurusin bulutangkis. Tidak ada eksploitasi anak di PB Djarum. Yang menyelenggarakan pembinaan olahraga bulutangkis itu Djarum Foundation. Bukan pabrik rokoknya. Djarum sudah 50 tahun membina bulutangkis. Tanpa Djarum tak akan lahir Lim Swie King, Hastomo Arbi dan generasi pertama setelah Tan Joe Hok.

KPAI tidak usah gaya-gayaan sok bermoral. Sok pakai undang-undang. Tidak usah mengurus audisi bulutangkis. Bahkan dalam pembinaan bulutangkis di Djarum sana, anak didik yang kedapatan merokok pasti dikeluarkan. Out. DO. Terlepas dari Djarum menjual rokok. Pun tidak ada satu pun mantan anak didik Djarum menjadi bintang rokok. Tidak ada satu pun.

KPAI mendingan mengurus anak-anak perokok. Mengurus warung rokok yang menjual rokok kepada anak-anak sekolah. Pantengi tuh warung-warung, kios-kios, toko yang menjual rokok dan alkohol ke anak-anak. KPAI tidak usah belagu sok suci mengurusi bulutangkis.

Plototi juga tuh para pengemis di perempatan jalan. Rebut dan ambil anak yang disewakan oleh orang tuanya untuk mengemis. Bukan anak-anak seusia 12 tahun, seperti para bibit pemain bulutangkis. Itu anak-anak bayi. Orok. Terpapar knalpot. CO2. Debu. Hujan. Panas. KPAI tidak peduli karena tidak ada duitnya anak-anak itu. Mereka kelompok terbuang.

KPAI tidak punya rasa nasionalis sama sekali. KPAI menjadi organisasi yang bebal. Ingin tampil. Ingin pamer. Sok pamer kekuatan. Padahal yang dilakukan KPAI hanyalah upaya untuk menggembosi olahraga bulutangkis. KPAI ingin agar dunia olahraga Indonesia memble, bobrok, tidak berprestasi seperti sepakbola. PB Djarum telah mengambil alih tanggung jawab membina olahraga bulutangkis.

Dan, hanya bulutangkis yang konsisten menyumbang medali emas di OLIMPIADE. Artinya PB Djarum dan PB PB lain mengambil peran dan menyumbang puluhan miliar rupiah untuk mendidik anak-anak yang memiliki bakat bermain tepok bulu angsa ini.

KPAI mendingan membubarkan diri saja. Tidak ada gunanya sama sekali KPAI ada di Indonesia. Karena KPAI tidak mengurus hal yang pokok. Anak-anak jalanan. Bayi-bayi di pinggir jalan. Memeriksa anak-anak yatim kelaparan di panti asuhan.

KPAI harusnya memeriksa PAUD atau SD yang mengajarkan anak-anak untuk membunuh. Mengajarkan kebencian. Mengajarkan benci kepada NKRI. Anak-anak yang secara psikis dididik oleh para guru bigot, yang hasilnya membenci NKRI. Urus itu. Tak usah urusi bulutangkis.

Bisa jadi KPAI menjadi bagian perjuangan kelompok tertentu yang ngawur. Kelompok yang mendorong kisruh. Tidak bijaksana melihat suatu kasus. Tidak bisa membedakan Djarum Foundation dan Pabrik Rokok Djarum. Hanya karena namanya Djarum dan Djarum adalah gudangnya duit. Yang punya adalah orang terkaya di Indonesia. Punya BCA segala. Maka dengan entengnya KPAI menyasar Djarum. Dan yang dihantam soal audisi bulutangkis.

Sekali lagi, KPAI nggak usah mengurus soal audisi bulutangkis. Saya jamin tidak ada eksploitasi anak dari sejak audisi, pembinaan, pelatihan, dan bahkan setelah menjadi pemain. Daripada melihat pembinaan bulutangkis di PB Djarum hilang, mendingan KPAI dibubarkan saja. Tidak berguna sama sekali KPAI. (Penulis: Ninoy N Karundeng).




Gelombang unjuk rasa di Kota Jayapura, Papua memanas pada Kamis, 29 Agustus 2019. Massa yang berasal dari Kabupaten Jayapura, Waena, Perumnas 3, dan wilayah Kota Jayapura serta perwakilan dari mahasiswa protes terhadap dugaan tindakan rasisme yang dialami mahasiswa Papua di Surabaya.

Kerumunan massa membakar Kantor Majelis Rakyat Papua (MRP), merusak Lembaga Pemasyarakatan dan pertokoan di Abepura serta membakar mobil di jalan raya. Tak hanya itu, massa melakukan penjarahan.

Walaupun kondisi Kota Jayapura sudah terkendali, tapi hingga Jumat, 30 Agustus 2019 sekitar pukul 01.30 WIT situasi masih mencekam. Demi keamanan dan keselamatan, warga memilih untuk mengungsi ke Markas TNI AL di Hamadi, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura.

Kepala Biro Penerangan Masyaralat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo, aparat TNI-Polri bernegosiasi dengan massa untuk menghentikan aksi. Tapi tiba-tiba sekitar seribu orang tiba-tiba datang ke lokasi dari berbagai penjuru. Mereka bahkan membawa senjata tajam dan diduga membawa senjata api.

Akibatnya terjadi adu tembak antara aparat dengan massa. Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVII/Cenderawasih Letkol Cpl Eko Daryanto mengatakan kronologi kerusuhan di Deiyai, Papua diawali ketika ribuan orang membawa senjata tradisional, seperti panah, parang, dan batu. Mereka lalu melakukan aksi anarkis dengan melempar aparat keamanan.

“Kondisi massa semakin tidak terkendali dan anarkis dengan melakukan penyerangan terhadap kendaraan dan aparat keamanan TNI yang sedang mengamankan aksi dengan menggunakan panah dan parang serta terdengar tembakan dari arah massa,” kata Eko, Rabu, 28 Agustus 2019.

Dampak dari kejadian itu mengakibatkan dua warga sipil meninggal dunia, seorang warga mengalami luka tembak, dan satu orang terkena anak panah. Sedangkan satu anggota TNI bernama Serda Rikson meninggal dunia dan lima aparat lain mengalami luka berat akibat anak panah.

Aktivis Media Sosial Denny Siregar mengatakan peristiwa di Papua bukanlah gerakan spontan, tapi ada rekayasa dengan pola lain catatannya dapat dibaca di sini. Teriakan seseorang dengan kata “monyet” kepada mahasiswa Papua di Surabaya hanyalah trigger.


Pak Jokowi,
Sejak Pilpres 2014 lalu, kami kaum minoritas adalah pendukung setia Anda. Benar, suara kami mungkin cuma sekutil, namun kami adalah penentu. Kami adalah "Swing Voter", kepada siapa kami berayun maka ia-lah yang akan jadi pemenang.

Melihat selisih suara pada Pilpres yang lalu, dapat kami pastikan bahwa penentu kemenangan Anda adalah kami: SUARA MINORITAS. Tanpa suara minoritas yang hampir 100% bulat, Anda tidak akan duduk menjadi Presiden, baik pada periode yang lalu maupun sekarang.

Ketahuilah Pak Jokowi...
Satu-satunya alasan mengapa kami tidak memilih Prabowo, rival Anda, adalah karena ia dikelilingi kaum, tokoh dan ormas radikalis yang menurut kami berpotensi akan mengancam keberadaan NKRI dan kebebasan kami dalam beribadah.

Lalu, apa yang kami dapat wahai pak Jokowi? Mana balas budimu kepada kami? Hampir setiap hari kami "disuguhi" tontonan dan berita yg membuat hati kami nyeri, Gereja ditutup paksa, dilarang, didemo, dirusak, dibakar, disegel dengan dalih ketiadaan ijin. Padahal berpuluh ribu masjid di seluruh Indonesia juga berdiri tanpa IMB/ijin semestinya. Dan ironisnya, gereja kami yg sudah lengkap ijin-nya tetap saja dihancurkan, dengan bom!


Pak Jokowi...
Kami tidak pernah meminta banyak. Walau negeri ini bukan negara Islam, kami tak pernah cemburu melihat Islam selalu diistimewakan dalam berbagai hal.

Kami tak pernah menuntut didirikan Christian Center sebagaimana Islamic Center yg berdiri dimana-mana. Kami tak pernah menuntut harus ada Sekolah-sekolah Kristen Negeri di pelosok tanah air.

Kami juga tak menuntut adanya Universitas/Institut Kristen Negeri, walau di daerah mayoritas Kristen sekalipun. Kami tak menuntut adanya "Gereja Negara" sebagmana Masjid Istiqlal. Dan kami tak pernah menuntut negara ikut campur membantu agar kami dapat beribadah/berziarah ke Israel, ke tanah suci kami, dst.

Permintaan Kami Cuma Satu

Biarkanlah kami bebas beribadah sebagaimana yang sudah dijamin oleh Pancasila dan UUD 1945: Jangan persulit kami beribadah. Jangan halangi kami mendirikan rumah ibadah dengan berbagai dalih diskriminatif dan ketidakadilan. Cabut SKB 2 Menteri yang pernah Anda janjikan pada tahun 2014 lalu.

Begitu hebatnya negeri ini, dimana setiap orang jauh lebih mudah dan jauh lebih bebas mendirikan lapak judi, lapak pelacuran, lapak narkoba dll dibandingkan mendirikan gereja yg 100% untuk kebaikan dan kemulian Tuhan.

Berlebihan-kah permintaan di atas, wahai Pak Jokowi, Presiden kami?

Ttd.
Luc Martin Sitepu
FORUM SOSIAL POLITIK


Generasi milenial mempunyai peluang besar untuk masuk ke dalam Kabinet Kerja Jilid 2 atau pemerintahan Jokowi periode 2019-2024. Sebanyak empat nama mantan aktivis memiliki peluang besar masuk pemerintahan.

Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari mengatakan sosok menteri dari generasi milenial sangat dibutuhkan untuk menguatkan visi Indonesia maju yang disampaikan Presiden Joko Jokowi. 

“Pak Jokowi menginginkan menteri muda. Saya rasa bukan sekadar basa-basi, tetapi sesuatu yang sungguh-sungguh akan beliau lakukan,” kata Qodari dalam diskusi publik DPP KNPI dengan tema Peranan Milenial Dalam Visi Indonesia Maju yang diadakan di Media Center KNPI, Jakarta, Kamis, 18 Juli 2019.

Dia mengatakan menteri milenial dibutuhkan karena Presiden Jokowi menginginkan menteri yang berani, inovatif, dan meninggalkan pola-pola lama.

Pengamat kebijakan publik Yudhi Simorangkir mengatakan calon menteri dari kalangan milenial tidak cukup hanya dilihat dari segi intelektualitas, kekuatan ekonomi, ataupun darah biru politik.

“Jokowi sebelumnya mengatakan bahwa kriteria menteri adalah memiliki kemampuan manajerial yang baik, memiliki integritas, dan mampu mengeksekusi. Jadi belum tentu anak dari tokoh elit politik ataupun pengusaha serta merta cocok menjadi menteri. Justru yang memiliki pengalaman manajerial dalam organisasi, serta yang paling utama. Selama ini calon menteri tersebut komitmen terhadap Pancasila dan keberagaman,” kata Yudhi.

Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) R Saddam Al Jihad menyodorkan empat nama mantan aktivis dari Kelompok Cipayung yang layak menduduki kursi menteri untuk mewakili generasi milenial.


Empat Mantan Aktivis Milenial

1. Mantan Ketua Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) periode 2013-2015 Arief Rosyid. Arief yang berprofesi sebagai dokter gigi dan Plt. Sekretaris Jenderal Dewan Masjid Indonesia ( Sekjen DMI) ini berpotensi mengisi kabinet sesuai bidangnya yaitu kesehatan dan keagamaan.

2. Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) periode 2014-2017 dan Solidaritas Ulama Muda Jokowi (Sekjen Samawi) Aminuddin Ma'ruf yang mempunyai visi nasionalis religius mempunyai potensi untuk masuk di kabinet pemerintahan 2019-2024.

3. Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI) periode 2016-2018 Sahat Martin P. Sinurat. Lulusan ITB ini potensial masuk kabinet pemerintahan 2019-2024, ditambah dengan adanya rumah milenial yang dia inisiasi.

4. Mantan Ketua Presidium Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) periode 2011-2013 dan 2013-2015 Twedy Noviady Ginting. Dia adalah sosok nasionalis yang menjaga Pancasila sebagai ideologi pemersatu, potensial masuk dalam kabinet pemerintahan 2019-2024.

Video viral dari seorang pendeta di NTT (Nusa Tenggara Timur) menanggapi video yang baru-baru ini dibagikan berantai, pidato yang berapi-api oleh Yahya Waloni. Pada video tersebut dia yang mengaku pernah jadi pendeta, membicarakan penganut agama lain dengan sikap cenderung mengejek mereka.

Tanggapan warganet di Facebook, Twitter banyak yang mengatakan video pidato Yahya Waloni, sangat berpotensi memicu gesekan-gesekan di tengah-tengah masyarakat. Seharusnya tidak boleh dilakukan oleh siapapun di negara yang bhineka tunggal ika dengan beragam agama dan kepercayaan yang hak dan kewajibannya sama di muka hukum.

Silahkan disimak Pendeta Mell Atock menanggapinya melalui video. Berguna untuk siapa saja, baik itu penceramah yang menyejukkan maupun aliran metal, begitu juga bagi penganut agama yang berbeda. Termasuk bagi pedagang kecap yang merasa mereknya lebih unggul dan nomer satu di muka bumi. Dengar saja, tidak perlu emosi, semoga berguna dan mencerahkan.



Pendeta Mell Atock, NTT





Penulis. Abdul Malik (Wakil Sekretaris  KKI, Ketua AMBB)

Monas dan Jakarta tidal lagi menjadi simbol perlawanan ketidak sukaan kepada Pemerintahan Joko Widodo.

Para bonhir atau cukong politik mengalihkan gerakan perlawan ke daerah yang di kemas secara halus, seperti tidak ada kaitan antara satu ke jadian dengan ke jadian lain. Masyarakat harus waspada dan cerdas menyikapi gerakan seporadis jangan ikut terpancing menjadi panas dan gaduh, karena itu yang mereka inginkan.

Pada periode pertama Pemerintahan Presiden Jokowi, tekanan politik dengan isu agama yang melibakan jutaan massa turun ke Monas, bisa dilokalisir menjadi kecil dan tercerai berai

Demo di Cianjur yang di lakukan mahasiswa dengan berakhir pembakaran empat putra bangsa polisi kita.

Viralnya secara tiba tiba vidio Ustaz Abdul Somad (UAS) yang sudah 3 tahun berlalu.

Viralnya Vidio pendeta  tentang Air Zam zam

Penyerbuan oleh ormas ke Asrama mahasiswa Papua, yang berujung penangkapan

Dan yang terjadi sekatang Di Monokwari Papua

Penyerangan kantor Polisi oleh pelaku tunggal

Penembakan prajurit Polisi dan Tentara oleh OPM (Organisasi Papua Merdeka)

Semua kejadian diatasnya intinya menuntut Pemerintah menegakan hukum secara adil.

Kejadian di atas seolah olah berdiri sendiri tidak ada kaitan satu sama lain. Masyarakat sengaja digiring kepada kejadian kejadian di daerah seolah olah ada ketimpangan hukum antara mayoritas dan minoritas, antara Papua dan luar Papua.


Kita harus Waspada ini jebakan, sasaran utamanya tetap Jokowi dan Pemerintahan barunya.

Saat Persolan keadilan dan hukum yang diangkat dengan melibatkan isu SARA, maka baik pendukung Jokowi maupun yang anti Jokowi akan bersatu menuntut Pemerintah.

Pada poin ini, petualang politik dan bonhir berhasil membangun narasi dan masyarakat percaya. Pengikut ormas radikal mereka turunkan untuk saling berhadap-hadapan dengan masyarakat berkait isu agama seperti kasus UAS.

Disisi lain mahasiswa akan digerakan untuk berdemo yang bersipat lokal di daerah yang didesain dengan berakhir rusuh dan ini akan menjadi bola liar menggoyang pusat kekuasaan.

Para alumni yang selama ini berdiri paling depan menentang Jokowi, akan berdiri di belakang layar melalui ceramah ceramah provokatif.

Yuk mari kita rapatkan barisan jangan beri mereka sedikitpun celah untuk mengacaukan bangsa ini. Waspada dan jeli agar persatuan tetap terjaga, jaga emosi jangan terpancing.


Ustad Abdul Somad
Bukan, bukan ...
Apa yang kau ucapkan:
di salib ada jin kafir
sesungguhnya bukan hinaan
Bukan ejekan
Apalagi cemoohan
Bukan pula penistaan agama.

Bagi kami, apa yang kau ucapkan
Ya, yang kau ucapkan di depan jemaahmu
Bahwa sosok yang tersalib adalah "jin kafir" dan karenanya pantas dijauhi adalah kata-kata mutiara bagi kami.

Kami marah?
Tidak, sebab kemarahan bukan milik kami
Kami balas dendam?
Tidak, sebab pembalasan, apalagi dengan dendam, bukan ajaran dan hak kami.

Sebaliknya, kami justru berterima kasih kepadamu Somad, sebab kami jadi ingat bahwa "jin kafir" yang kau sebut itu telah mengajarkan kami "ampunilah akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami."

Lalu, haruskah kami membela sosok yang kau sebut "jin kafir"?

Tidak Ustad Somad
Buat apa kami membela-Nya, sebab Dia lebih berkuasa dan perkasa atas kami, termasuk engkau Abdul Somad.

Sia-sia kami membela-Nya, sebab jika pun kami nekat menjadi makhluk bodoh yang membela-Nya, Dia yang kau takuti itu sudah lebih dulu memaafkan dan mengampunimu.

Karena itu Abdul Somad, tertawalah seriang jemaahmu setelah mendengar engkau berceloteh tentang salib dan jin kafir.

Tidak, kami yakin engkau pun tak akan dipolisikan
Pasal penistaan agama dalam undang-undang tidak berlaku bagi golonganmu.

Biarlah penistaan agama hanya berlaku bagi kami agar kami lebih berhati-hati dan menghormati keyakinan saudara-saudara kami.

Kau bilang jin kafir yang tergantung di salib menoleh ke kiri atau ke kanan?

Ketahuilah, Yesus yang kau sebut jin kafir itu kini dan selamanya sedang menoleh ke arahmu.

Dan Dia membisikkan kata-kata ke telingamu: "Somad, Aku mengasihimu."[]


Gantyo Koespradono



Denpasar - Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengumumkan struktur kepengurusan partai masa bakti 2019-2024, sekaligus melakukan pelantikan pada Kongres V PDI Perjuangan di Hotel Grand Inna Bali Beach, Sanur, Denpasar, Bali, Sabtu, 10 Agustus 2019.

Megawati tetap menunjuk Hasto Kristiyanto sebagai Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan masa bakti 2019-2024.

"Mengenai DPP, yang namanya DPP itu ya kalau di pemerintahan itu ada pembantu. Jadi DPP itu kan menjadi pembantunya ketum. Dan saya berpikir kalau perombakannya pergantiannya itu sangat banyak, itu bukannya menjadi sebuah hal yang baik," ujar Mega.

Mega mengatakan saat ini partai sedang memerlukan tahapan di mana semuanya bisa segera bekerja dengan cepat. Oleh sebab itu maka Mega menyatakan "Sudah memutuskan, bahwa pengurus DPP kali ini beberapa di antaranya merupakan figur yang dulu ikut membantunya."

"Karena bukan apa, dari semua pengalaman saya berorganisasi, dalam pembentukan personel itu mereka akan adaptasi. Kalau enam bulan saja sudah bisa adaptasi itu sudah jempolan, karena harus bersinergi dan tahu bidang apa saja yang ditugasi, tidak mudah," paparnya.

Berikut ini disajikan oleh Benhil, daftar susunan lengkap kepengurusan DPP PDIP periode 2019-2024, pada acara pembukaan pada Kamis 08 Agustus 2019, dihadiri oleh Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan wakil presiden terpilih periode 2019-2024, Ma'ruf Amin serta, Surya Paloh dan Prabowo Subianto.
  1. Ketua Umum: Megawati Soekarnoputri
  2. Ketua bidang Kehormatan Partai: Komarudin Watubun
  3. Ketua bidang Ideologi dan Kaderisasi: Djarot S. Hidayat
  4. Ketua bidang Pemenangan Pemilu: Bambang Wuryanto
  5. Ketua bidang Keanggotaan dan Organisasi: Sukur Nababan
  6. Ketua bidang Pemerintahan, Pertahanan dan Keamanan: Puan Maharani
  7. Ketua bidang Hukum HAM dan Perundang-undangan: Yasonna Laoly
  8. Ketua bidang Perekonomian: Said Abdullah
  9. Ketua bidang Pangan, Pertanian Petani, Pangan dan Lingkungan Hidup: I Made Urip
  10. Ketua bidang Kelautan, Perikanan, Nelayan: Rohmin Dahuri
  11. Ketua bidang Luar Negeri: Ahmad Basarah
  12. Ketua bidang Penanggulangan Bencana: Ribka Tjiptaning
  13. Ketua bidang Industri Tenaga Kerja dan Jaminan Sosial: Nusyirwan Sudjono
  14. Ketua bidang Kesehatan Perempuan dan Anak: Sri Rahayu
  15. Ketua bidang Kebudayaan: Tri Rismaharini
  16. Ketua bidang Koperasi : Mindo Sianipar
  17. Ketua bidang Pariwisata: Wiryanti Sukamdani
  18. Ketua bidang Pemuda dan Olahraga: Eriko Sutarduga
  19. Ketua bidang Keagamaan dan Kepercayaan kepada Tuhan YME: Hamka Haq
  20. Ketua bidang UKM, Ekonomi Kreatif dan Ekonomi Digital: M Prananda Prabowo
  21. Sekretaris Jenderal: Hasto Kristiyanto
  22. Wakil Sekjen bidang Internal: Utut Adianto
  23. Wakil Sekjen bidang Pemerintahan: Arif Wibowo
  24. Wakil Sekjen bidang Kerakyatan: Sada Restu
  25. Bendahara Umum: Oli Dondokambe
  26. Wakil Bendum bidang Internal: Rudianto Chen
  27. Wakil Bendum bidang Program: Juliari Batubara. 
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang berubah nama setelah Peristiwa 1998, menurut mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, PDIP adalah partai politik yang ideologinya sudah jelas dan teruji.


Setahun lalu, alhamdulillah, gue mendapat musibah kecelakaan. Saat nyebrang malem gue ditabrak motor. Tulang kaki kanan gue retak dua. Tiga bulan gak bisa ke mana-mana. Bulan selanjutnya menggunakan tongkat penyangga.

Setelah sembuh, ada temen bilang, tongkatnya segeralah disumbangkan ke orang lain yang membutuhkan. Biar musibah itu gak terulang lagi, pesannya bertahyul ria.

Masalahnya. Ke mana tongkat itu mau gue sumbangin? Siapa orang yang betul-betul membutuhkannya?

Eh kemarin gue dapat kabar dan baca juga baca beritanya, ada mantan gubernur yang saat menjabat selalu sibuk membantu orang yang membutuhkan apa saja. Mulai dari bantuan kebutuhan sehari-hari, kesehatan, pendidikan, pemukiman, sampai dengan perjalan umroh pun tak luput dari perhatiannya.

Ya. Orang itu siapa lagi kalo bukan Ahok. Orang baik ini selalu saja punya akal positif membuat sesuatu yang bermanfaat.

Kali ini, dia membuat aplikasi yang diberi nama Jangkau. Aplikasi yang segera akan diluncurkan di smartphone dalam waktu dekat. Ahok mendesain program ini sedemikian rupa untuk mempertemukan orang yang mau menyumbang dalam bentuk barang dengan orang yang sedang membutuhkan barang.

Aplikasi ini kira-kira mirip marketplace gitu yang kita kenal sekarang di dunia maya, seperti tokopedia, shopee, OLX dan lain-lain. Bedanya, di sini gak ada transaksi jual beli, melainkan transaksi memberi dan menerima, tanpa pamrih.

"Dengan aplikasi ini, saya harapkan ada gotong royong dan informasi bagi yang suka membantu dan mau minta bantuan untuk ketemu. Saya sudah dirikan yayasan untuk menjalankan aplikasi Jangkau," ungkap Ahok.

"Jadi di situ ketemulah orang yang mau menyumbang dan orang yang butuh sumbangan. Misalnya ada orang tua butuh kursi roda atau tongkat, ketemu dengan orang yang punya kursi roda tapi sudah tidak dipakai bisa disumbangkan,"  lanjutnya.

Dan yang juga keren atas transaksi di bawah yayasan tanpa pamrih ini bernama Yayasan Beri Tanpa Pamrih alias Yayasan BTP. Hehehe ... bisa aje nih si simpang susun semanggi.

Buat gue, kalo mau dikait-kaitkan dengan Hari Kemerdekaan, aplikasi Jangkau yang akan diluncurkan Ahok atau BTP (Basuki Tjahaja Purnama) nanti adalah sebuah semangat bangsa Indonesia yang mulai luntur di negeri ini. Semangat gotong royong. Semangat membantu tanpa pamrih. Semangat yang hilang di jiwa mereka yang kemarin katanya membantu pilpres tanpa syarat, tanpa pamrih, eh sekarang rame-rame ngemis jabatan.

Niru makian Daniel Mananta. Damn! I love u BTP. Sekarang gue tau ke mana tongkat gue akan gue kirim. Jangkau.

Ramadhan Syukur
#buatyangmasihadasisasisangefansBTP

Gus Dur

Sosok tokoh muslim dan mantan Presiden RI keempat periode 1999-2001, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur merupakan “the one an only”, karena jarang ditemukan figur di negeri ini yang mirip seperti suami dari Sinta Nuriyah, terutama dalam tindakan dan pemikirannya. Berikut lima fakta fenomenal dari mantan Ketua Tanfidziyah (Badan Eksekutif) Nahdlatul Ulama dan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Fakta Fenomenal Gus Dur


1. Tidak Punya Dompet

Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) mengatakan, salah satu sikap KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang patut diteladani bangsa Indonesia adalah kesederhanaan.

Pria kelahiran, Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944 mengatakan kecintaan kepada dunia telah menyeret banyak orang pada tindak kesalahan, seperti korupsi dan tamak kekuasaan. Sepintas mereka terlihat kaya dan mulia, tapi sejatinya mereka sangatlah fakir dan miskin. Padahal, kekayaan Gus Dur justru lahir dari kezuhudannya.

“Gus dur itu kaya sekali. Enggak punya dompet tapi kaya sekali. Karena apa? Karena enggak butuh,” kata Gus Mus.

2. Meledek Israel

Mantan Presiden Israel periode 2007-2014, Shimon Peres tak luput diberi guyonan oleh Gus Dur. Sastrawan dan budayawan Ahmad Tohari mengatakan sebenarnya Gus Dur menyindir Israel, tapi Peres tertawa hingga terbatuk-batuk.

“Pak Peres, negeri Anda akan kaya raya jika mau mengimpor kutang dari Prancis,” usul Gus Dur kepada Shimon Peres.

“Kenapa, Pak Gus?” tanya Peres.

“Imporlah kutang dari Prancis. Sesampai di Israel, kutang itu dipotong jadi dua. Nah, setelah dipotong jadi dua, baru dijual. Kutang yang aslinya hanya bisa dipakai satu orang, di Israel bisa dipakai dua orang, asal dipotong dulu. Dan itu artinya bisa mendatangkan untung lipat dua. Jangan lupa, tali-tali pengikatnya dibuang dulu,” kata Gus Dur.

“Mana bisa kutang dipotong jadi dua dan mendatangkan untung berlipat???” kata Peres.

“Ya kan kalau sudah jadi dua, namanya bukan kutang lagi. Kalian bisa memakai kutang sebagai topi untuk pergi ke tembok ratapan,” ujar Gus Dur. “Hahahahahahahahaha.hahahaha” Peres paham dan langsung tertawa terpingkal-pingkal.

3. Mengaku Keturunan Tinghoa

Gus Dur mengatakan dirinya memiliki darah Tionghoa, keturunan dari Tan Kim Han yang menikah dengan Tan A Lok, saudara kandung Raden Patah (Tan Eng Hwa), pendiri Kesultanan Demak.

Tan A Lok dan Tan Eng Hwa merupakan anak dari Putri Campa, putri Tiongkok yang merupakan selir Raden Brawijaya V.

Peneliti Prancis, Louis-Charles Damais mengidentifikasi Tan Kim Han sebagai Syekh Abdul Qodir Al-Shini yang makamnya ditemukan di Trowulan.

4. Makam Gus Dur Diziarahi Ribuan Orang

Menghargai guru, wali, atau tokoh ulama besar tidak hanya dilakukan saat beliau masih hidup, tapi juga ketika wafat. Seperti makam Gus Dur yang selalu didatangi ribuan para pengikut maupun pengagumnya.

Mantan orang terdekat Gus Dur, Priyo Sambadha mengatakan jumlah santri atau pengagum yang datang menziarahi makam Gus Dur mencapai ribuan orang setiap hari.

“Belum pernah disurvei secara ilmiah. Tapi sebagai gambaran saja, makam #GusDur tiap hari diziarahi 3.000 orang. Weekend bisa 5.000. Ramadan bisa sampai 10.000 setiap hari,” kata Priyo melalui akun Twitter pribadinya, 27 September 2018.

5. Kuasai 6 Bahasa Asing

Gus Dur sempat mengenyam pendidikan di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Saat itu pria kelahiran Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 juga aktif dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia bersama sahabatnya, KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus.

Kemampuan bahasa Arab Gus Dur tak diragukan lagi. Selain itu Ulama Besar NU ini pun mampu berbicara dalam enam bahasa asing lainnya. Hal ini dikatakan Priyo Sambadha lewat akun Twitter pribadinya.

“Sampai detik ini saya tidak tahu pasti berapa bahasa #GusDur menguasai. Tapi saya pernah dengar beliau bicara dalam bahasa Arab, Inggris, Spanyol, Jerman, Belanda, dan Prancis. Minimal berbasa-basi beberapa saat dengan jurnalis asing. Kalau bahasa Arab dan Inggris sih jelas sangat fasih,” kata Priyo.




Tulisan menarik dari Gus Nuril Arifin di Facebook, berjudul Sebaiknya anda Tahu Agar Bangsa Ini Tidak Terbelah disajikan di Benhil dengan tujuan agar catatan digital ini terekam dengan baik dan mudah ditemukan melalui mesin pencari Google. Sumber tulisan ditautkan di bawah artikel.

Saudaraku, para Ulama besar sekaligus guru bangsa Indonesia, yang sejak lama menyapa bangsa dengan taman hati itu waliyullah. Insha Allah.

Tetapi tahukah engkau, bahwa beliau KH Abdurrahman Wahid adalah Tionghoa pertama yang menjadi Presiden RI. Beliau keturunan dari Tan Kim Han yang menikah dengan Tan A Lok, saudara kandung Raden Patah pendiri Kesultanan Demak.

Sementara itu, Raja Islam pertama di tanah Jawa Dwipa, Raden Patah sendiri nama aslinya adalah Tan Eng Hwa. Tan A Lok dan Tan Eng Hwa ini adalah anak dari puteri Tiongkok yang menjadi selir Raden Brawijaya V.

Tan Kim Han menurut hasil penelitian ahli sejarah Perancis Louis-Charles Damais, tidak lain adalah; Syekh Abdul Qodir Al-Shini yang diketemukan makamnya di Trowulan.

Kita sudah benar di jalur PBNU ( Pancasila, Bhineka tunggal Ika, NKRI dan UUD 45 ), yang musti dijaga dan dilestarikan.

Langen Siswo
Sumpah Pemuda 1928 terselenggara di rumah Sie Kok Liong, Gedung Kramat 106. Para anggota Jong Java,  biasa menggunakan rumah ini untuk diskusi politik dan latihan kesenian. Mereka menyebut rumah ini Langen Siswo.
 
Selain Liong, juga ada Kwee Thiam Hong, Ong Kay Sing, Liauw Tjoan Hok dan Tjio Djin Kwie.  (Ali Sadikin pada 20 Mei 1973 meresmikan gedung ini sebagai Gedung Sumpah Pemuda).


Tionghoa
Mereka dari suku Thionghoa. Bukan China.
China itu negara. Seperti kita suku bangsa, Batak, Papua, Sasak, Bali atau Jawa, Minang, Sunda. Tetapi Warga Negara Indonesia sebagaimana suku Thiong Hoa. Maka, Pahlawan Nasional TNI AL John Lie meninggal  pada 27 Agustus 1988 dengan pangkat terakhir Laksamana Muda (Mayor Jendral) sejak 1966, dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.

Atas segala jasa dan pengabdiannya, beliau dianugerahi Bintang Mahaputera Utama. (oleh Presiden Soeharto), 10 Nopember 1995. Bintang Mahaputera Adipradana dan gelar Pahlawan Nasional,  (oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 November 2009).

Jenderal Besar TNI AH. Nasution pada 1988 berkata, Prestasi Laksamana Muda John Lie "tiada taranya di Angkatan Laut" karena dia adalah panglima armada (TNI AL) pada puncak krisis eksistensi republik dalam berbagai operasi menumpas kelompok separatis.

Separatis Republik Maluku Selatan
Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia, dan Perjuangan Rakyat Semesta.  John Lie dengan keberaniannya menembus blokade laut tentara Belanda pada masa revolusi era 1945, Mayor John Lie sukses lima belas kali melaksanakan tugas menyelundupkan berbagai komoditas ekspor ke Singapura untuk kepentingan pembiayaan perjuangan Republik. Uang yang didapat dibelikan senjata, tapi lebih serang secara barter. Persenjataan tersebut kemudian diselundupkan kembali masuk ke wilayah RI melalui Riau, diserahkan kepada bupati Usman Effendi untuk diedarkan lebih lanjut kpd para pejuang.

Pada awal 1950 ketika di Bangkok, beliau dipanggil pulang ke Surabaya oleh KASAL Laksamana TNI R. Soebijakto dan ditugaskan menjadi komandan kapal perang Rajawali, kemudian aktif menumpas pemberontakan RMS (Republik Maluku Selatan) di Maluku dan PRRI/Permesta.

Ada tokoh Djiaw Kie Siong, pemilik rumah yang dihuni Soekarno-Hatta dalam peristiwa Rengasdengklok. Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia rencananya akan dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta pada hari Kamis 16 Agustus 1945 di Rengasdengklok, yaitu di rumah Djiaw Kie Siong.

Naskah teks proklamasi sudah ditulis di rumah itu. Bendera Merah Putih sudah dikibarkan para pejuang Rengasdengklok pada Rabu, tanggal 15 Agustus, karena mereka tahu esok harinya Indonesia akan merdeka. Ketika naskah proklamasi akan dibacakan, tiba-tiba pada Kamis sore datanglah Ahmad Subardjo yang kemudian membawa Bung Karno dan Bung Hatta cs berangkat ke Jakarta untuk membacakan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56.

Liem Koen Hian
Tan Eng Hoa, Oey Tiang Tjoe, Oey Tjong Hauw adalah anggota drpd BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) ketika merumuskan UUD 1945.

Drs Yap Tjwan Bing
Apakah anda tahu? Dia adalah seorang sarjana farmasi dan apoteker yang juga dosen dan anggota Dewan Kurator ITB Bandung. Tahun 1945 beliau terpilih menjadi salah satu anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Setelah kemerdekaan, ia bergabung dengan PNI. Namanya kemudian diabadikan menjadi salah satu ruas jalan di kota Surakarta. Menggantikan Jalan "Jagalan", yang diresmikan oleh Walikota Surakarta H. Ir Joko Widodo pada tanggal 22 Februari 2008.

Salah satu orang yang terlibat secara langsung dalam penurunan bendera Belanda di Hotel Oranye Surabaya adalah:

Tony Wen alias Boen Kin To
Beliau  Sebelum Perang Dunia II, beliau adalah pemain sepak bola terkenal di kesebelasan UMS (Union Makes Strength). Pada masa pendudukan Jepang, dia bekerja sebagai juru bahasa , di kantor urusan Hoa Kiao (Kakyo Hanbu).

Salah satu bagian pusat intelijen Jepang (Sambu Beppan). Setelah Jepang takluk beliau menghilang dari Jakarta dan menetap di Solo memimpin Barisan Pemberontak Tionghoa.

Ketika Presiden Soekarno dan para pemimpin lainnya dibuang ke Pulau Bangka, beliaulah yang menyediakan seluruh keperluan para pemimpin tersebut. Pada era 1950-an beliau diangkat menjadi anggota Komite Olimpiade Indonesia dan pengurus PSSI.  Pada 1952 masuk menjadi anggota PNI dan sejak Agustus 1954 sampai Maret 1956 diangkat menjadi anggota DPR mewakili PNI lalu duduk di Kabinet Interim Demokrasi, dan pada tahun 1955 berada dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo.

Lagu Indonesia Raya yang diciptakan oleh Wage Rudolf Supratman, (WR Supratman) untuk pertama kali dipublikasikan oleh Koran Tionghoa Sin Po.

Lie Eng Hok
Seorang Perintis Kemerdekaan Indonesia. Beliau salah satu tokoh penting di balik pemberontakan 1926 Banten. Dalam peristiwa itu, masa bergerak melakukan perusakan jalan, jembatan, rel kereta api, instalasi listrik, air minum, rumah-rumah, dan kantor milik Pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Semasa muda Lie, aktif sebagai wartawan Surat Kabar Sin Po dan berkawan akrab dengan Wage Rudolf Supratman, dari persahabatannya inilah beliau belajar banyak tentang cita-cita kebangsaan.

Lie Eng Hok berperan sebagai kurir kaum pergerakan, lantas beliau ditahan Pemerintah Kolonial Belanda dan dibuang ke Boven Digoel (Tanah Merah), Papua, selama lima tahun (1927-1932). Selama di Boven Digoel Lie menolak bekerja untuk pemerintah kolonial Belanda dan lebih memilih membuka kios tambal sepatu untuk memenuhi biaya hidupnya.

Atas jasa-jasanya pada bangsa dan negara Indonesia, Lie Eng Hok diangkat sebagai Perintis Ke merdekaan RI, berdasarkan SK Menteri Sosial RI No. Pol. 111 PK tertanggal 22 Januari 1959. Lie meninggal pada 27 Desember 1961 dan dimakamkan di pemakaman umum di Semarang.

Dua puluh lima tahun kemudian, kerangka Lie Eng Hok baru dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal, Semarang, melalui Surat Pangdam IV Diponegoro No.B/678/X/1986.

Satu lagi, Siauw Giok Tjhan
Adalah menteri negara Urusan Minoritas dalam Kabinet Amir Syarifudin. Pada 1958 beliau mendirikan Universitas Trisakti dengan dibantu sejumlah petinggi Baperki (Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia). Awalnya bernama Universitas Res Publika, oleh Orde Baru diganti menjadi Tri Sakti.

Menurut Siauw Giok Tjhan, kecintaaan seseorang terhadap Indonesia, tidak bisa diukur dari nama, bahasa dan kebudayaan yang dipertahankannya, melainkan dari perilaku dan kesungguhannya dalam berbakti untuk Indonesia.

Konsep ini kemudian diterima oleh Bung Karno pada tahun 1963 yang kemudian secara tegas menyatakan bahwa golongan Tionghoa adalah suku Tionghoa dan orang Tionghoa tidak perlu mengganti namanya ataupun agamanya, atau menjalankan kawin campur (asimilasi) dengan suku non-Tionghoa untuk berbakti kepada Indonesia.

Siauw tidak menentang proses asimilasi yang berjalan secara suka-rela dan wajar, yang ditentangnya adalah proses asimilasi paksa untuk menghilangkan identitas sebuah golongan.

Salam Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa, Indonesia.

Sekian
Gus Nuril Arifin

*) Rangkuman dari berbagai sumber, semoga berguna bagi generasi penerus kaum pejuang.
Sumber: https://www.facebook.com/gusnuril.arifin/posts/1540863622703059

Mentawai
Mentawai

Padang - Infrastruktur yang belum memadai dan merata merupakan penyebab utama Kabupaten Kepulauan Mentawai di Sumatera Barat belum bisa lepas dari status tertinggal pada 2019, kata Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit.

"Infrastruktur yang paling kurang adalah penghubung di dalam pulau. Itu yang harus jadi fokus ke depan agar Mentawai bisa secepatnya keluar dari ketertinggalan," kata Nasrul di Padang, Jumat, 02 Agustus 2019.

Pembangunan infrastruktur di dalam pulau Mentawai, menurut dia, tidak bisa dilakukan hanya dengan mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Mentawai dan Sumatera Barat tetapi membutuhkan sokongan dari pemerintah pusat melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Kepulauan Mentawai telah mendapat sokongan dari pemerintah pusat antara lain dalam pembangunan jalan Trans Mentawai, yang menjadi penghubung antar-pulau dan memperbaiki akses di dalam pulau itu sendiri.

"Kalau akses antarpulau di Mentawai relatif sudah baik. Yang masih kurang itu jalan penghubung di dalam pulau. Sekarang sudah dalam pembangunan jalan lintas timur," kata Wakil Gubernur.

Pemerintah selanjutnya berencana membangun jalan lintas barat dalam upaya menghubungkan seluruh desa di Kepulauan Mentawai.

"Jika akses jalan terbuka, pembangunan yang lain bisa lebih mudah," kata Nasrul Abit.

Selain jalan, rasio elektrifikasi juga menjadi perhatian pemerintah daerah dalam upaya melepaskan status tertinggal dari Kabupaten Kepulauan Mentawai mengingat sampai 2019 baru 53,40 persen dari wilayah Mentawai yang menikmati listrik.

"Jaringan komunikasi sebelumnya juga bermasalah. Bantuan dari Kementerian Kominfo melalui Palapa Ring beberapa waktu lalu sudah banyak membantu," kata Nasrul.

Di samping itu, pemerintah daerah harus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan menumbuhkan perekonomian di Kepulauan Mentawai supaya wilayah kabupaten itu bisa segera lepas dari status tertinggal. Memicu roda ekonomi agar bergulir dengan baik.

Nasrul berharap perencana pembangunan yang terintegrasi antar kecamatan, kabupaten, provinsi, dan pusat serta koordinasi yang baik antar sektor bisa menjadi solusi untuk melepaskan status tertinggal dari Kepulauan Mentawai. (Antara)


Untuk lebih memahami suku Mentawai, pada posting ini disematkan vedeo menarik milik Tagar TV kanal YouTube situs berita online Tagar.id, pada salah satu videonya, mengunggah budaya masyarakat Mentawai yakni toto yang pembuatannya memiliki makna dan proses perjalanan hidup seseorang.



Lubuk Pakam - Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, sudah enam kali meraih penghargaan Kabupaten Layak Anak dari pemerintah sebagai bukti komitmen pemerintah daerah setempat dalam melayani masyarakatnya terutama mengenai perlindungan dan pemenuhan hak-hak anak.

"Terakhir penghargaan diterima Selasa (24/7) yang langsung diserahkan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise pada Peringatan Hari Anak Nasional di Makasar," kata Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, KB dan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak Deliserdang Hj Rabiatul Adawiyah Lubis, Kamis.

Penghargaan Kabupaten Layak Anak (KLA) tersebut adalah penghargaan yang ke-enam kalinya untuk Kabupaten Deliserdang, Sumut sebelumnya diraih tahun 2011, 2012, 2013, 2014, 2017 dan Tahun 2018, kota di Sumatera Utara yang bertetangga dengan Medan yang dikelilingi perkebunan-perkebunan besar, diantaranya kelapa sawit dan kebun karet.

"Diterimanya kembali penghargaan KLA itu berdasarkan penilaian tim verifikasi pusat atas tingginya komitmen kepala daerah bersama jajarannya untuk mendorong percepatan daerah menuju KLA untuk pemenuhan hak-hak anak di Deliserdang," katanya.

Ia menilai penghargaan tersebut diraih juga  karena telah berkomitmen dan mampu menerapkan praktik-praktik baik dalam mengembangkan penyelenggaraan kebijakan pemerintah, rencana kerja dan program serta kegiatan dalam upaya pemenuhan hak anak dan perlindungan khusus anak.

"Dengan penghargaan itu diharapkan anak-anak di Deliserdang dapat benar-benar mendapatkan haknya, selain itu juga terlindungi dari segala tindak kekerasan dalam bentuk apapun, baik itu terlindungi di sekolah dan ditempat-tempat umum lainnya," katanya. (Antara)



Albiner 'Rabar' Siagian
(Ketua Umum Yayasan Pelestari Kebudayaan Batak)

Pada acara pengukuhannya, Minggu 21 Juli 2019 di Gedung Museum Provinsi Sumatera Utara, Yayasan Pelestari Kebudayaan Batak (YPKB) menyerahkan Anugerah Pagari Batak 2019 kepada 6 orang yang dinilai amat berjasa dalam melestarikan kebudayaan Batak. Keenam orang penerima Anugerah Pagari 2019 itu adalah:

1. Guntur Sitohang (alm), Pelestari Musik Tradisional atau uning-uningan Batak
2. Jesral Tambun (Pelestari Ukiran, Gorga) Batak),
3. Repe Br Togatorop (Pelestari Tenunan, Ulos Batak)
4. Ir Monang Naipospos (Pelestari Kearifan Lokal Batak, Parmalim)
5. Prof. Dr. Bungaran A Simanjuntak (Pegiat Sejarah dan Antropologi Batak)
6. Ir Soekirman, sahabat (ale-ale ni Batak)

Penyerahan Anugerah Pagari direncanakan menjadi agenda rutin tahunan YPKB untuk berbagai kategori pelestari kebudayaan Batak.

Tentang Anugerah Pagari

Pagari adalah singkatan dari Pande Ugari. Pande bermakna ahli (tau) dan Ugari berarti kebiasaan, adat-istiadat, cara, dan praktek peri kehidupan. Dengan demikian, Pande Ugari bermakna orang yang memiliki keahlian (hatauon) dalam adat istiadat atau perikehidupan orang Batak.

Pagari sebagai akronim dari Pande Ugari itu juga bermakna memagari (pagar = kandang). Makna ini selaras dengan Visi YPKB, yakni Budaya Batak yang Lestari. Pagari bermakna melindungi (pajamothon) dan melestarikan (padimun-dimunhon).

Latar belakang pemberian Anugerah Pagari diinspirasi, antara lain, Anugerah Kebudayaan Rancage yg dipimpin oleh Sastrawan Nasional Ajip Rosidi di Bandung. Untuk diketahui, Yayasan Kebudayaan Rancagé setiap tahun memberikan Anugerah Sastra kepada pagiat sastra dari berbagai daerah di Indonesia.

Pada lima tahun terakhir, karya sastra Batak telah dianugerahi Anugerah Rancage. Penerimanya antara lain adalah Saut Poltak Tambunan, Rose Lumbantoruan, M. Tansiswo Siagian, dan Panusunan Simanjuntak.

Bagi YPKB, Anugerah Kebudayaan Rancage kepada karya sastra Batak ini adalah berita gembira sekelas 'sentilan' karena karya sastra Batak justru diapresiasi di daerah lain. Oleh karen itu, YPKB menginisiasi pemberian Anugerah Pagari yang pertama tahun 2019 sebagai penghargaan kepada pihak-pihak yang berjasa menggali (manguhal) dan melestarikan (padimun-dimunhon) kebudayaan Batak.

Dengan pemberian Anugerah Pagari, YPKB berharap generasi muda Batak akan tumbuh (tumbur) yang giat dan peduli (toras) melestarikan budaya Batak yang amat berharga itu. Ini sesuai dengan motto YPKB: "Tumbur gabe Toras."

Horas Pagari!
NB (Napinabotohon):
1. YPKB dikukuhkan oleh Pdt Dr. Hc. Willem TP Simarmata, mewakili orang tua (tokoh) Batak.
2. Selain pemberian Anugerah Pagari, pengukuhan YPKB juga diisi oleh Orasi Budaya oleh Amang Ir Monang Naipospos.


Foto: Charlie M. Sianipar - Instagaram

Medan - Yayasan Pelestarian Kebudayaan Batak (YPKB) mengungkapkan kebudayaan Batak semakin hilang sehingga yayasan itu berupaya melestarikannya kembali.

"Karena melihat ancaman kepunahan itu pula, maka YPKB dibentuk," ujar Ketua Umum YPKB Prof Dr Albiner Siagian di Medan, Minggu.

Albiner mengatakan itu pada acara Pengukuhan YPKB oleh tokoh masyarakat Batak Pdt WT Simarmata dan Penganugerahan Pande Ugari (Pagari) Batak Tahun 2019.

Menurut dia didampingi Ketua Dewan Pembina YPKB Ju Lassang Manahara Siahaan dan Ketua Dewan Pengawas Prof. Dr Hamonangan Tambunan, hilang atau semakin terancam punahnya kebudayaan Batak terlihat dari banyak aspek.

Mulai dari sudah jarangnya generasi muda suku Batak berbahasa Batak meski tinggal di perkampungan. Kemudian pemain musik Gondang Batak yang sudah sulit dicari. Dia menegaskan, kepengurusan YPKB diisi berbagai lapisan generasi karena tujuan yayasan didirikan memang untuk melestarikan kebudayaan Batak sehingga semua harus terlibat.

"Untuk cepat membuahkan hasil dengan maksimal, YPKB sudah membuat jangka pendek, menengah dan panjang," katanya.

Dia memberi contoh, akan ada upaya atau langkah konkrit agar bahasa Batak bisa menjadi bahasa sehari - hari. Kemudian akan ada penerbitan cerita-cerita pendek berbahasa Batak. Termasuk, katanya mengenalkan lebih luas aksara Batak.

"Aksara Batak harus diperkenalkan dan diaktifkan karena salah satu suku yang punya aksara, yah Batak," katanya.

Charlie M. Sianipar, penggiat media sosial di Jakarta, mengatakan hal ini telah dia risaukan, sebelum Facebook populer, saat itu bersama rekan-rekannya aktif di internet berinteraksi melalui blog pernah mengemukakannya, dapat dibaca di sini serta pada blog ini. Disampaikan, budaya Batak semakin tergerus zaman dan begitu banyak anak-anak muda yang mampu mengatakan "Saya tidak bisa berbahasa Batak" tanpa merasa bersalah. Dilanjutkan oleh Charlie, "Jika anak Batak Batak tersebut sudah tidak dapat bertutur dalam bahasa Batak, siapa besok yang akan menjagainya agar tetap eksis?"

YPKB juga akan membuat berbagai buku termasuk buku yang menceritakan bagaimana ritual yang dilakukan orang Batak saat bayi di dalam kandungan hingga saat meninggal dunia.

Artikel menarik: Anugerah Pagari Batak

Pendeta WTP Simarmata mengapresiasi terbentuknya YPKB dan berharap yayasan itu bisa benar benar sesuai harapan bisa melestarikan kebudayaan Batak.

"YPKB diharapkan benar - benar bisa mewujudkan latar belakang terbentuknya yayasan yakni melestarikan kebudayaan Batak yang sudah mulai hilang," ujar WTP Simarmata yang baru terpilih menjadi anggota DPD RI.  (Antara)


Video kehidupan sehari-hari masyarakat Batak sebagai petani di kawasan Tapanuli, Toba maupun Samosir.


Kata Istana Soal Demo 22 Mei 2019
Demo 22 Mei 2019, Moeldoko: Serahkan pada Hukum

Rencana demo 22 Mei 2019 secara besar-besaran saat KPU akan mengumumkan hasil rekapitulasi nasional pemilu ditanggapi pihak istana.

"Kita berharap tidak lagi seperti yang kita bayangkan. Karena kondisi itu tidak menguntungkan bagi siapa pun. Justru menguntungkan kepada pihak yang punya agenda untuk membuat situasi menjadi tidak baik," kata Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Senin 20 Mei 2019.

Dia mengatakan, intelijen telah menangkap kelompok penyelundup senjata yang berupaya melakukan tindakan anarkis pada 22 Mei. Penyelundup tersebut diduga akan mengacaukan situasi demo.

Ketika penangkapan, aparat menemukan senjata yang dilengkapi peredam, hingga senjata yang tidak menggunakan pisir tapi tetap harus menggunakan teleskop. Mantan Panglima TNI periode 2013-2015, mengimbau kepada peserta demo 22 Mei 2019 agar membatalkan demo. Pemerintah telah mengetahui siapa pencetus di balik aksi tersebut.

"Saya berharap masyarakat muncul kesadaran bersama, bahwa sudah lah serahkan pada proses hukum berlaku," ujarnya.

Identitas Massa Demo 22 Mei 2019

Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono mengaku mengetahui identitas massa yang akan turun ke jalan pada 22 Mei mendatang.

"Massa yang sekarang bergerak hanya mantan 212, FPI, barisan sakit hati," cetus Hendropriyono di Gedung Joang 45, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu 19 Mei 2019. Baca: Banyumas Tolak People Power

Menurut pria kelahiran Yogyakarta, 7 Mei 1945 massa yang akan turun ke jalan pada saat pengumuman hasil Pemilu 2019 itu juga ditunggangi mereka yang sakit hati dengan pemerintah saat ini.

"Yang tadinya pejabat, dicopot enggak mau, bekas menteri dicopot, masa sampai segitunya, sudahlah, gantian sama yang muda," ujarnya. Dia menyatakan, mereka adalah orang-orang yang tak mampu berpikir jernih lagi. Hendro menyebut, mereka adalah orang-orang yang rela mengorbankan apa pun demi sebuah nama dan jabatan.

"Yang ingin dapat nama, singgasana. Saya tidak mengerti kenapa sampai hati mengorbankan anak-anaknya sediri, untuk apa?" kata Hendropriyono.

Tolak People Power

Purwokerto - Berbagai organisasi kemasyarakatan, organisasi keagamaan, dan organisasi kepemudaan di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, sepakat untuk menolak gerakan "people power" atau pengerahan kekuatan massa.

Kesepakatan penolakan tersebut dideklarasikan dalam acara Silaturahim Kebangsaan "Merawat Bhineka Mempersatukan Bangsa" yang digelar di Hotel Grand Karlita, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Sabtu petang.

Dalam pembacaan deklarasi yang dipimpin Kepala Kejaksaan Negeri Purwokerto Erwindu dan ditirukan pimpinan organisasi beserta anggotanya, mereka menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Kabupaten Banyumas yang telah melaksanakan Pemilu 2019 dengan aman dan damai.

Selain itu, mereka juga mengucapkan terima kasih kepada Komisi Pemilihan Umum dan Badan Pengawas Pemilihan Umum yang telah menyelenggarakan Pemilu 2019 dengan jujur, adil, dan transparan.

Ucapan terima kasih juga mereka sampaikan kepada Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Republik Indonesia yang telah mengamankan penyelenggaraan Pemilu 2019 dengan aman dan damai serta mendukung tugas-tugas TNI dan Polri.

"Kami menolak segala bentuk aksi kekerasan pada Pemilu 2019. Kami menolak 'people power' yang mengarah pada tindakan inkonstitusional. Kami siap menjaga Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia," kata Erwindu saat membacakan deklarasi yang ditirukan seluruh pimpinan organisasi beserta anggotanya.

Saat memberikan sambutan, Wakil Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengharapkan seluruh organisasi sosial politik kemasyarakatan, organisasi keagamaan, dan organisasi kepemudaan untuk bersama-sama menjaga kerukunan karena semuanya bersaudara.

"'Aja pada gelutan, dhewek seduluran' (jangan saling berkelahi, kita semua bersaudara, red.)," ucapnya dalam bahasa Jawa Banyumasan.

Kendati demikian, dia mengaku optimistis situasi dan kondisi di Kabupaten Banyumas akan tetap dalam suasana sejuk.

Komandan Komando Distrik Militer 0701/Banyumas Letnan Kolonel Infanteri Candra mengatakan warga Banyumas memiliki ciri khas berupa kepribadian yang sopan santun dan kekeluargaan.

"Harus kita bangkitkan kekuatan yang telah ada di kita, Indonesia, adalah kita sama-sama bisa bertoleransi. Kami melihat bahwa dalam setiap 'event' internasional, bangsa Indonesia diakui bahwa kita adalah bangsa yang paling bertoleransi, sangat menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan di Negara Republik Indonesia," tuturnya.

Oleh karena itu, kata dia, pihaknya mengimbau dan mengajak seluruh pimpinan beserta anggota berbagai organisasi yang hadir dalam acara tersebut untuk bersama-sama merawat kebhinekaan dengan tidak melaksanakan kegiatan-kegiatan yang merusak persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Sementara itu, Kepala Kepolisian Resor Banyumas Ajun Komisaris Besar Bambang Yudhantara Salamun menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Kabupaten Banyumas karena pada saat rangkaian pesta demokrasi, baik Pilkada Serentak 2018 maupun Pemilu Serentak 2019, semuanya berjalan aman, damai, dan lancar.

"Semua, kita saling memahami bahwasanya perbedaan pandangan, perbedaan pilihan yang ada pada kita, itu adalah sebagai rangkaian proses," ujarnya.

Ia mengajak seluruh pimpinan organisasi yang hadir dalam acara tersebut untuk bersama-sama menyatukan pandangan bahwa kebersamaan dan kebhinekaan yang ada menjadi sarana untuk bisa menyatukan Indonesia.

Saat ditemui usai kegiatan, Kapolres mengatakan dalam acara Silaturahim Kebangsaan tersebut, seluruh organisasi yang ada di Banyumas sepakat taat hukum dan menolak segala bentuk kekerasan yang terjadi pada rangkaian Pemilu Serentak 2019.

Ia mengimbau seluruh masyarakat Kabupaten Banyumas untuk bersama-sama menjaga persatuan dan kesatuan menjelang penetapan perolehan suara Pemilu Serentak 2019 yang akan dilaksanakan oleh KPU RI pada tanggal 22 Mei.

"Tidak ada lagi hujat-menghujat, saling membenci, pemilu sudah usai. Kita harus dukung apapun yang menjadi keputusan KPU RI nanti," katanya.

Terkait dengan rencana gerakan "people power" pada tanggal 22 Mei 2019, dia mengatakan situasi di Kabupaten Banyumas hingga saat ini tetap kondusif dan pihaknya tidak melihat adanya kelompok-kelompok masyarakat yang akan berangkat ke Jakarta.

Kendati demikian, dia mengatakan pihaknya tetap berusaha mengantisipasi dengan merangkul seluruh kelompok masyarakat dan memberikan pemahaman bahwa sistem demokrasi di Indonesia sudah berlangsung dengan damai sehingga harus terus didukung.



SETELAH KAMI KALAH

Grace Natalie
Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia

Hasil quick count lembaga kredibel memperlihatkan bahwa rakyat Indonesia telah mengambil keputusan. Sambil menunggu real count sebagai standard konstitusional -- kita sudah bisa mengambil kesimpulan mengenai hasil pemilu kali ini.

Pertama, Calon Presiden Partai Solidaritas Indonesia yakni Pak Jokowi dan Kyai Ma'ruf telah memenangkan pemilihan presiden dengan selisih sekitar sepuluh persen.

Kami sebagai partai pendukung Pak Jokowi merasa gembira atas hasil ini. Kami siap menjadi partner Pak Jokowi menjalankan program-program kerakyatan yang akan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Kedua, menurut quick count, PSI mendapat 2%. Dengan perolehan itu PSI tidak akan berada di Senayan lima tahun kedepan...

Kami telah berjuang dengan apa yang kami bisa. Tidak, kami tak akan menyalahkan siapa-siapa. Kader kami, pengurus PSI, Caleg kami, telah bekerja keras siang dan malam meyakinkan rakyat. Tapi inilah keputusan rakyat melalui mekanasime demokrasi yang harus kami terima dan hormati.

Tidak Ada Penyesalan

Samasekali tidak ada penyesalan atas setiap tetes keringat dan airmata yang jatuh selama membangun partai ini. Kami, anak-anak muda PSI telah terlibat dalam sebuah perjuangan yang bagi kami sangat luar biasa.

Kami berterima kasih karena di tengah apatisme politik, kami berhasil membuktikan bahwa orang mau berkontribusi: menyumbang uang, membantu mencetak alat peraga kampanye, menyumbang tenaga, pikiran, bahkan meninggalkan pekerjaan mereka demi berjuang bersama PSI. Kepada mereka semua, kami mengucapkan terima kasih.

Saya meminta kawan-kawan pengurus dan caleg tidak putus asa dan tetap menjaga suara kita. Meskipun kandas melewati  parliamentary threshold di level nasional, tapi saya yakin bahwa akan banyak kawan-kawan yang berpeluang mendapatkan kursi di DPRD provinsi dan kabupaten kota. Ini adalah modal politik yang harus kita rawat.

Perlu dicatat, perolehan PSI 2% atau sekitar 3 juta suara. Ini adalah suara rakyat yang harus diperhitungkan. Meskipun PSI tidak masuk parlemen suara kalian akan tetap kami perjuangkan. Kami akan bekerjasama dengan civil society dan teman-teman media -- untuk memperjuangkan aspirasi kalian.

Tak ada suara terbuang, tak ada suara yang sia-sia. Setiap suara dukungan anda kepada PSI -- akan dicatat dan diperhitungkan sebagai statement tentang keberanian: suara rakyat yang menginginkan perbaikan parlemen dan partai politik.

Saya ucapkan terima kasih kepada sekitar tiga juta rakyat Indonesia yang telah mempercayai PSI. Kita akan terus memperjuangkan nilai-nilai yang kita yakini. Terima kasih juga kepada puluhan ribu donatur yang telah menyisihkan dana untuk membantu partai ini bergerak.

Kepada teman-teman partai lain yang lolos ke DPR, kami mengucapkan selamat. Selamat bekerja, dan semoga amanah menjalankan tanggungjawab. Kami bersama masyarakat akan ikut mengawasi.

Kepada anda sekitar tiga juta pemilih PSI, saya mengajak agar segera mendaftarkan diri menjadi anggota melalui www.psi.id atau datang ke kantor PSI terdekat. Kita segera mengkonsolidasikan diri.

Kepada seluruh kader, pengurus, dan simpatisan -- setelah ini kita akan mengatur kembali rencana ke depan. Terima kasih atas perjuangan kalian yang sangat membanggakan. Kita akan terus bergerak. Saya yakin itu -- karena saya tak pernah meragukan kecintaan kalian kepada negeri ini.

PSI akan kembali menyapa rakyat. Bukan lima tahun lagi, tapi besok!

We shall return, soon!

Catatan, Berita terbaru tentang PSI boleh dilihat di sini.

Sekjen PSI Raja Juli Antoni
Sekjen PSI Raja Juli Antoni

Karifikasi singkat Sekjen PSI (Partai Solidaritas Indonesia) Raja Juli Antoni dan mengenal profil Jeffrie Geovanie sebagai Ketua Dewan Pembina PSI. Parpol beru yang akan ikut pada Pemilu 2019 dengan mengirimkan calon legislatif yang diseleksi dengan ketat serta penelusuran biodatanya.

Pidato  Ketua Umum PSI, Sis Grace Natalie, di beberapa Festival 11 membuat banyak yang kebakaran jenggot. Sayangnya, pidato  yang mencerminkan posisi ideologis PSI (Partai Solidaritas Indonesia) itu tidak pernah ditanggapi secara  substantif. Melainkan direspons melalui tulisan fitnah dan hoax yang membodohi rakyat.

Pembodohannya beragam: dari sistem Sainte Lague yang dianggap menguntungkan partai besar (salah total!), kesia-sian memilih PSI karena tidak akan masuk Senayan (yakin PSI gak masuk tapi kok fitnah yang diproduksi masif sekali?), sampai fitnah bahwa PSI  didirikan oleh Gerindra, FPI dkk agar merusak Pak Jokowi dari dalam dan menggangu partai koalisi Pak Jokowi. Yang terakhir ini, menurut fitnah itu, buktinya adalah kantor PSI tidak pernah diserang oleh FPI. Rumah Grace dan Saya juga tidak pernah digeruduk FPI (pembodohan yang bodoh sekali ya...).

Salah satu fitnah yang juga beredar adalah soal Ketua Dewan Pembina PSI, Jeffrie Geovanie, biasa saya panggil Bang JG. Tulisan tentang Bang JG ini keterlaluan. Imaginasi penulis terlalu liar sehingga terlihat "mengarang indah" tanpa fakta dan data.

Dari beberapa bulan lalu saya didesak banyak orang untuk mengklarifikasi tulisan sampah itu. Tapi saya cenderung bekerja keliling Indonesia meyakinkan pemilih ketimbang capek mengklarifikasi yang begituan. Tapi mumpung  hari ini kesibukan saya berkurang drastik, boleh juga saya sempatkan sedikit mengklarifikasi.

Berita terkait PSI dapat dibaca pada artikel bertajuk: PSI Diremehkan Justru Unggul Telak Exit Pool

Klarifikasi Saya Singkat Saja:


Saya sudah kenal Bang Jeffrie Geovanie dari sekitar tahun 2000. Sekitar 2003 bersama Rizal Sukma (Dubes RI di London), Almarhum Moeslim Abdurrahman dkk, Bang JG mendirikan Yayasan Ahamad Syafii Maarif-ASM, salah seorang guru bangsa yang tersisa. Yayasan ASM ini yang menaungi MAARIF Institute for Culture and Humanity.

Sejak didirikan sampai dengan detik ini Bang JG masih menjadi ketua Yayasan ASM. Saya tahu persis Buya Syafii sangat happy dengan posisi Bang JG sebagai ketua Yayasan sehingga tidak pernah diganti sejak pendiriannya. Yayasan ASM terus berkembang dengan baik di tengah banyaknya Yayasan serupa gulung tikar.

Saya mengetahui hal ini bukan saja karena saya dekat  sekali dengan Buya Syafii tapi karena saya selama lima tahun menjadi Direktur MAARIF Institute. Buya pernah cerita ke saya bahwa Bang JG tidak pernah meminta atau mempergunakan nama besar Buya untuk jabatan dan proyek apa pun.

Pada tahun 2005 saya mulai diberi amanah memimpin MAARIF Institute. Saya diberikan kebebasan dan kendali penuh penuh  oleh yayasan dalam menjalankan lembaga ini. Ini pulalah yang sekarang saya rasakan di PSI selama empat tahun lebih mendampingi  Sis Grace Natalie menahkodai PSI. Semua ide dan eksekusinya di bawah kendali Grace Natalie dan DPP PSI secara kolektif. Sesekali bila ada perbedaan tajam tentang suatu hal di antara kami yang sulit dicarikan jalan keluarnya kami konsultasikan kepada Bang JG sebagai "orang tua" kami di partai.

Begini deh. Mungkin saya dipandang subjektif karena sekarang sama-sama berada di  satu partai dengan Bang JG. Bagi yang masih penasaran, supaya objektif silakan klarifikasi langsung kepada Buya Syafii Maarif tentang sosok JG ini. Atau kontak Bang Rizal Sukma yang sampai sekarang menjadi sekretaris Yayasan ASM.

Saat saya membuat tulisan pendek ini banyak yang mengirim ucapan selamat karena exit polls di beberapa negara menunjukan Pak Jokowi menang dan PSI menjadi parpol juara satu di negara-negara itu. Kemarin banyak juga yang menyampaikan selamat karena sambutan gegap gempita di GBK ketika Pak Jokowi mengucapkan terima kasih kepada PSI, melebihi keriuhan ketika nama partai lain di sebutkan. Indikasi baik kata mereka.

Mungkin karena pertanda-pertanda baik ini fitnah semakin kencang menerpa PSI bahkan di hari tenang ini.

Wallahu'alam

Raja Juli Antoni
Mantan Direktur MAARIF Institute (2005-2010)
Sekjen PSI

Pemilihan Umum

Purwokerto (Benhil, 16/04/2019) - Pengamat Politik dari Universitas Jenderal Soedirman Luthfi Makhasin mengingatkan masyarakat, terkait Pemilihan Umum di Indonesia mengenai pentingnya menjadi pemilih cerdas dan rasional.

"Misalkan, masyarakat memilih atas dasar pertimbangan yang objektif," katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah Selasa.

Para calon pemilih, kata Luthfi, juga harus mengetahui, mencari dan mengecek ulang semua informasi mengenai kepemiluan ke sumber-sumber yang tepat dan terpercaya.

"Jangan mudah terpengaruh disinformasi atau berita bohong," ujarnya menegaskan.

Yang terpenting, katanya, masyarakat harus menggunakan hak pilih masing-masing dengan sebaik-baiknya.

Penggiat media sosial dan SEO (Search Engine Optimization) dan pengelola Tagar News, situs berita online di Jakarta, Charlie M. Sianipar mengatakan "Masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya atau Golput (Gologan Putih), justru dapat memenangkan politisi atau kandidat yang tidak diinginkan." Dilanjutkannya, melalui pemilulah pemilik suara dapat mencegah politisi buruk atau calon Presiden yang kurang cakap dapat dihentikan."

"Pilihan kita akan menentukan masa depan bangsa sehingga masyarakat harus ikut berpartisipasi dalam pemilu dan menggunakan hak pilihnya dengan baik," katanya.

Dia juga mengajak masyarakat untuk merayakan pesta demokrasi dengan penuh riang gembira.

"Pesta demokrasi harus berjalan dengan penuh riang gembira dan semuanya bisa dimulai dari diri sendiri misalkan dengan ikut berpartisipasi menggunakan hak suara dan tidak terpengaruh berita hoaks atau ujaran kebencian," katanya.

Sebelumnya, Akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman Nana Sutikna mengingatkan pentingnya masyarakat perlu memilih calon dengan menggunakan akal sehat.

Nana yang merupakan dosen lembaga pendidikan Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unsoed tersebut mengatakan masyarakat perlu membaca seluruh calon secara objektif, tanpa dipengaruhi sentimen tertentu.

Sebelumnya, Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Banyumas, Hanan Wiyoko juga mengajak masyarakat khususnya para pemilih pemula di wilayah setempat untuk menjadi pemilih cerdas dengan mengenali visi dan misi calon.

Dia mengatakan pada saat ini masyarakat memiliki akses yang sangat mudah untuk mengenali para peserta pemilu.

Charlie M. Sianipar, alumni FISIP Universitas Sumatera Utara itu, melanjutkan, kenalilah kandidat yang mencalonkan diri, pahami rekam jejaknya. Apakah selama ini berprestasi, memiliki komitmen yang tinggi untuk NKRI yang Bhinneka Tunggal Ika dan bukan bagian dari masa lalu serta barisan koruptor yang merugikan negara, yang nantinya berpotensi melakukan hal yang sama. Baca juga, PSI Diremehkan Justru Unggul Telak Exit Pool.

"Mengenali peserta pemilu semudah berselancar di dunia maya. Rekam jejak dan profil calon legislatif, anggota Dewan Pimpinan Daerah dan calon presiden serta calon wakil presiden juga mudah ditemukan di portal KPU," katanya. (Antara)
All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.