Showing posts with label Wisata. Show all posts


Batik yang diproduksi di Kota Semarang semakin dikenal masyarakat di berbagai daerah karena meningkatnya masyarakat berpenghasilan menengah atau kelas menengah. Dampaknya bisa dirasakan banyak pihak.

 

Mungkin batik Semarang belum bisa bersaing dengan batik dari Yogyakarta yang merupakan kota pariwisata terbesar, namun peningkatan brand itu sudah merupakan pertanda bagus bagi industri batik di kota berjuluk Atlas (aman, tertib, lancar, asri, dan sehat) itu.

 

Dodik Hari (46 tahun) seorang pengusaha angkutan pariwisata menyatakan, selain wisata, batik Semarang juga ikut terdongkrak dengan peningkatan kelas menengah di beberapa kota sekitar Semarang.

 

Baca Juga: Pandangan Budaya Barat Pada Batik


“Kelas menengah itu belanja oleh-oleh, termasuk batik di Semarang setelah wisata ke kota lain, baik ke Yogyakarta atau Solo. Mereka berasal dari Kudus, Jepara, Pati, dan lain-lain,” kata Dodik pada Benhil, Minggu, 19 Juni 2022.

 

Dia menambahkan, jumlah kelas menengah semakin banyak dengan keberhasilan Indonesia lepas dari The Middle-Income Trap atau jebakan kelas menengah dengan beberapa program.

 

“Indonesia berhasil lepas dari jebakan The Middle-Income Trap dengan pembangunan jalan tol dan industri manufaktur. Itu membuat kelas menengah meningkat. Mereka suka jalan-jalan dan belanja batik sebagai produk khas masing-masing daerah,” ujar Dodik.

 

Tentu saja dia mengakui kalau keberhasilan itu juga berpengaruh baik pada usahanya. Dodik menyatakan hampir setiap hari ada permintaan untuk sewa bus pariwisata, terutama di musim libur sekolah seperti sekarang ini.

 

Semakin banyak yang berwisata itu juga membuat semakin banyak yang mengenal batik Semarang.

 

Ditemui saat memilah-milah produk batik Semarang di pusat oleh-oleh Kampoeng Semarang, Ulfah (26 tahun) mengaku tertarik untuk membelinya.

 

“Kalau oleh-oleh makanan khas Semarang, pasti saya sudah beli. Ternyata saya baru lihat kalau batik Semarang juga bagus-bagus,” ujar perempuan yang berprofesi sebagai guru SD di Demak itu.

 

Ulfah baru saja menyertai murid-muridnya wisata ke Yogyakarta, dan belum sempat belanja oleh-oleh di sana.

 

“Tadi berangkat sebelum Subuh dan langsung ke Pantai di Gunungkidul, lalu ke Prambanan. Karena waktunya singkat, kita belum sempat belanja di sana,” katanya.

 

Tidak berapa lama kemudian Ulfah mengambil tas batik dan membawanya ke kasir.


Baca Juga: Batik Tulis dan Penganut Abangan

 

Tidak hanya Dodik, berkah batik Semarang juga dirasakan oleh mereka yang di lapangan.

 

Eko (53 tahun) petugas parkir bus pariwisata mendapat keuntungan yang lumayan.

 

“Karena ini libur sekolah, penghasilannya selalu bagus,” ujarnya sembari sibuk mengatur bus yang akan masuk dan yang akan meninggalkan tempat parkir.

 

Eko senang keadaan sudah pulih setelah hampir 2 tahun pariwisata lesu akibat pandemi Covid 19.

 

“Dua tahun Covid betul-betul bikin sengsara nuat kita [orang-orang yang menggantungkan hidup dari pariwisata],” katanya.

 

Serba-serbi dan Motif Batik Semarang

Batik Semarang memiliki serba-serbi yang belum banyak diketahui. Berikut ini diantaranya;

1. Sudah Ada Sejak Abad 18

Batik Semarang telah ada sejak abad ke-18, sebagai pakaian bangsawan di kota pelabuhan besar itu.

 

2. Berawal di Kampung Batik Semarang

Batik Semarang berasal dari daerah yang diberi nama Kampung Batik Semarang. Daerah itu adalah sebuah komplek perkampungan yang berisi rumah para pengrajin Batik.

 

Pada tahun 1970-an, kondisi masyarakat di kampung itu kurang layak. Namun, kini kondisinya jauh lebih baik dengan campur tangan secara kolaborasi mereka yang berkecimpung di industri tekstil dan ekonomi kreatif.


Baca Juga: Kita Memang Mengabaikan Borobudur

 

3. Identik Bertema Kekayaan Alam

Corak dan motif batik Semarang menonjolkan identitas serta keindahan kota Semarang, yang merupakan kombinasi budaya Jawa, Arab, dan Tionghoa.

 

Motif Batik Semarang

Untuk motif batik Semarang terdiri dari 5 macam, yakni:

1. Blekok Srondol

Nama blekok srondol berasal dari sejenis burung kuntul perak yang hidup dan tinggal di pepohohan asam di sebelah Selatan kota Semarang bernama Srondol.

 

2. Tugu Muda

Motif Tugu Muda diambil dari ikon tugu yang merupakan monumen bersejarah dalam mengenang peristiwa pertempuran lima hari pada tahun 1945.

 

3. Asam Arang

Motif asam arang berasal dari dua kata yang menjadi asal muasal kota Semarang, pohon asam yang tumbuh jarang (arang) sehingga disebut asem arang atau Semarang.

 

4. Cheng Ho Neng Klenteng

Motif ini kental dengan budaya Tionghoa yang didominasi warna cerah.

 

5. Warak Ngendog

Warak ngendog adalah motif yang terinspirasi dari hewan mitologi yang merupakan kombinasi dari naga, buraq, dan kambing, yang terdapat telur di bawahnya. [Benhil]


Baca Juga: Setiap Orang Bisa Hidup Layak


Baru-baru ini Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan rencana harga tiket masuk area stupa Candi Borobudur akan naik.

 

Dia menyatakan kalau turis lokal akan dikenakan tarif Rp 750.000 untuk masuk ke area stupa candi tersebut. Sontak rencana tersebut membuat kaget banyak pihak dan ditanggapi beragam.

 

Tiket itu dianggap terlalu mahal bagi sebagian pihak. Namun tidak sedikit yang menganggap tarif masuk area Candi Borobudur itu masuk akal, mengingat itu adalah bangunan yang punya nilai sejarah dan peradaban masa lampau yang tidak ternilai. Saya sendiri setuju dengan pendapat kedua.


Baca Juga: Formula E Jadi Ajang Promo 2024

 

Nenek Moyang Hebat

Saya pernah mengantar teman dari Australia yang datang ke Borobudur bersama teman-temannya. Dari mulai perjalanan ke candi agama Budha tersebut, mereka sudah excited.

 

Sebelumnya, saya pernah berkali-kali ke Borobudur, baik piknik keluarga, sekolah, kantor, atau mengantar teman dari luar kota atau luar negeri, seperti pada kesempatan itu. Tentu saja saya tidak se-excited orang-orang Australia itu. Tapi saya senang mereka mengagumi tempat wisata di negara ini.

 

Saat berjalan ke arah obyek wisata itu, dari kejauhan telah tampak Candi Borobudur. Mereka melihat dengan takjub.

 

Teman dari Autralia itu berbicara pada saya,”You know, nenek moyangmu itu hebat. Pada abad ke-7 sudah punya peradaban maju dan mampu membangun candi semegah ini.”

 

Saya tersenyum dan mengangguk, seolah-olah ikut berbangga dengan pencapian itu.

 

Baca Juga: Elon Musk Pilih Thailand, Indonesia Darurat Introspeksi


“Kita di Australia baru membangun peradaban 200 tahun yang lalu. Sedangkan nenek moyangku pada abad itu di Eropa masih sibuk dengan saling menaklukan untuk wilayah dan budak.”

 

“Saya malah nggak pernah berpikir apa yang terjadi di Eropa saat itu.”

 

“Eropa baru maju setelah penemuan teknologi, mate,” kata dia.

 

Benar juga ya, pikir saya. Kenapa saya tidak pernah menyadari betapa kita memiliki nenek moyang yang pikirannya jauh lebih maju pada masanya. Kenapa saya mengabaikan tentang fakta itu.

 

Pernah juga anak dari saudara sepupu saya yang masih duduk di sekolah dasar (SD) akan piknik ke Yogyakarta. Iseng-iseng saya bertanya, “Pasti salah satu tujuan pikniknya ke Candi Borobudur ya?”

 

“Tidak,” jawab dia polos. “Tidak boleh orang tua dan itu kan bukan tempat wisata sesuai dengan sekolah kita.”

 

Saya kaget dan tidak percaya. Baru ingat kalau keponakan itu sekolah di SD yang menekankan suatu ajaran.

 

Saya hampir memberi masukan pada keponakan itu kalau Candi Borobudur adalah warisan peradaban manusia, bukan representasi dari agama Budha semata. Namun dia masih anak kecil yang belum paham apa-apa.

 

Dan ajaibnya, saat kontroversi rencana kenaikan tarif Borobudur mengemuka, yang paling senewen dengan kebijakan itu di grup Whatsapp keluarga adalah saudara sepupu saya, yakni ibu dari keponakan itu. He he he…

 

Saat ada pihak yang mencoba meninggikan kehormatan Candi Borobudur dengan cara menaikan tarifnya, ternyata orang-orang yang mengabaikannya yang protes dengan tarif tersebut.

 

Masih Dikaji Ulang

Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan tidak lama ini kembali menegaskan bahwa rencana kenaikan tarif untuk masuk ke area Candi Borobudur bagi wisatawan lokal sebesar Rp 750.000 itu masih akan dikaji ulang.

 

Dia menyatakan telah memahami kekhawatiran dan masukan dari masyarakat tentang tingginya tarif untuk turis lokal.

 

“Saya mendengar banyak sekali masukan masyarakat hari ini terkait dengan wacana kenaikan tarif untuk turis lokal,” kata Luhut seperti dikutip dalam keterangan resmi, Senin ,6 Juni 2022.

 

Dia mengatakan kalau rencana tarif itu belum final, karena masih akan dibahas dan diputuskan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada pekan depan.

 

Luhut sendiri sangat prihatin dengan kondisi candi yang dibangun pada 14 abad yang lalu itu, baik karena pengaruh alam ataupun perilaku pengunjung (terutama lokal).

 

Berdasarkan kajian dari berbagai ahli yang memberikan masukan kepada Pemerintah, kondisi situs bersejarah tersebut kini mulai mengalami pelapukan. Disamping itu, perubahan iklim, erupsi gunung berapi, gempa bumi, juga menjadi tantangan tersendiri.

 

“Silakan cek atau tanya ke teman-teman pengelola di sana. Belum lagi perilaku pengunjung yang suka melakukan vandalisme, menyelipkan benda tertentu di sela-sela batu candi, membuang sampah sembarangan, dan yang lebih parah adalah tidak bisa menghargai Candi Borobudur sebagai situs umat Buddha. Ini semua kan perlu penanganan khusus,” kata Luhut. [Benhil]


Baca Juga: Sarapan Nikmat Nasi Ayam Uti Banyumanik Semarang


Libur hari raya Idul Fitri atau Lebaran telah tiba. Di hari besar tersebut, selain halal bihalal bersama sanak keluarga, acara yang ditunggu-tunggu adalah wisata atau jalan-jalan ke tempat rekreasi yang tidak jaub dari kampung halaman.

 

Pantai masih menjadi salah satu tujuan favorit bagi wisatawan lokal. Jika Anda sedang mudik di Yogyakarta atau sekitarnya (Magelang, Purworejo, Wonogiri, Solo, dan lain-lain), tidak ada salahnya untuk memilih salah satu pantai yang direkomendasikan berikut ini.

 

Seluruh pantai tersebut menghadap ke laut Selatan atau Samudera Indonesia yang terkenal dengan ombaknya yang besar dan menakjubkan.

 

Berikut ini 5 pantai istimewa yang cocok untuk wisata selama libur Lebaran, yaitu:

1. Pantai Parangtritis (Bantul)



Pantai ini telah lama menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Yogyakarta. Posisinya strategis karena paling dekat dengan pusat kota Yogyakarta, sehingga selalu menjadi pilihan utama rombongan wisata dari luar kota yang ingin menghemat waktu.

 

Selain berenang atau bermain air, di Parangtritis juga tersedia kereta kuda, motor ATV, dan persewaan tikar bagi pengunjung yang duduk-duduk sambil menikmati pemandangan laut selatan.

 

2. Pantai Indrayanti (Gunungkidul)

Pantai Indrayanti yang relatif baru ini namanya diambil dari kedai yang terdapat di sana, yang dikelola oleh Pak Indra dan Bu Yanti. Yang membuat pantai ini lebih eksotis dibandingkan pantai lain di sekitar Yogyakarta adalah pasir putihnya yang terhampar indah.



 

Di tempat wisata ini pengunjung bisa berenang dan menyelam. Jika ingin menghabiskan waktu lebih lama, di sana juga tersedia tempat penginapan dengan beberapa resto yang menawarkan makan malam yang romantis.

 

3. Pantai Glagah Indah (Kulonprogo)

Pantai Glagah semakin menawan setelah tidak jauh dari tempat wisata ini dibangun Bandara YIA (Yogyakarta International Airport). Jadi, saat pengunjung bermain di pantai, setiap saat mereka juga disuguhi dengan kehadiran pesawat, baik yang mendarat atau mengudara.

 


Ada lagi yang istimewa di tempat rekreasi ini, di sini pengunjung dapat menikmati kuliner laut yang telah digoreng crispy, seperti cumi-cumi, udang, kepiting, rajungan, dan masih banyak lagi.

 

Tentu saja rasa kuliner laut goreng tersebut sangat gurih dan renyah. Harganya juga ramah di kantong.

 

4. Pantai Teleng Ria (Pacitan)

Pantai Teleng Ria menjadi andalan utama pariwisata di kabupaten paling Barat Propinsi Jawa Timur. Selain bermain di pantai, pengunjung bisa menikmati wahana air berupa kolam renang yang terletak tidak jauh dari sana.



 

Di sini juga tersedia kuliner laut, baik yang masih segar atau yang sudah dimasak. Bahkan kuliner laut yang dijual di Teleng Ria bermacam-macam, dari cumi, udang, ikan kakap, ikan tongkol, dan masih banyak lagi.

 

5. Pantai Kukup (Gunungkidul)

Tempat ini tidak cocok untuk berenang karena dasar pantai berupa batu karang (bukan pasir). Namun yang membuat pantai ini tetap istimewa adalah airnya yang jernih dan menjadi tempat hidup bagi ribuan ikan-ikan kecil warna warni.



 

Banyak pengunjung, terutama anak-anak yang bermain air sambil mencari ikan-ikan kecil untuk dibawa pulang. Sedangkan para orang tua mengawasi mereka sambil menikmati makanan dan minuman di kedai-kedai yang berjejer di sepanjang garis pantai.

 

Di sebelah Barat pantai, terdapat sebuah jembatan yang menjadi penghubung bukit karang di tepi pantai dengan bukit karang di seberangnya. Pengunjung tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk naik ke bukit tersebut.

 

Silakan, bagi Anda sedang berada di dekat salah satu dari 5 pantai tersebut saat liburan ini, bisa langsung membuktikan keindahannya. Jangan khawatir, tiket masuk ke pantai-pantai tersebut tidak ada yang melebihi Rp 10 ribu. Murah bukan?! [Benhil]


Setiap orang yang sedang berada di Yogyakarta, baik berlibur atau bekerja, pasti merasakan hal-hal unik yang tidak dirasakan di kota lain. Keunikan tersebut begitu melekat di benak pendatang dari mana saja, baik dari dalam atau luar negeri.

 

 Di era informasi dan transportasi yang serba mudah seperti sekarang ini, keunikan dan keistimewaan suatu daerah bisa langsung didapat dengan cepat. Itulah kenapa, apabila kita berada di Kota yang dipimpin oleh seorang sultan itu kita akan menemui banyak orang yang berasal dari luar kota dan luar pulau.

 

Mereka ingin merasakan secara langsung keunikan yang dimiliki oleh Yogyakarta sebagai kota wisata dan budaya.

 

Berikut ini 7 keunikan Yogyakarta yang dikumpulkan dari beberapa sumber, yaitu:

1. Pesawat kecil yang terbang rendah.

Saat di Yogyakarta (pada hari kerja, bukan akhir pekan) kita sering melihat pesawat kecil tipe Cessna yang terbang rendah di langit kota tersebut. Begitu rendahnya hingga seakan melewati jendela hotel-hotel tinggi di sana, seperti Hotel Sahid Rich Jogja, Hotel Alana, Apartemen Mataram City, dan lain-lain.

 

Pesawat tersebut adalah pesawat latihan dari AAU (Akademi Angkatan Udara) yang terletak di samping Bandara Adi Sucipto. Bahkan pesawat tersebut juga terbang sampai Kota Magelang dan sekitarnya.

 

Melihat pesawat kecil yang mondar-mandir di langit tentu sebuah pengalaman unik yang tidak terlupakan.

 

2. Asal mula nama unik Jalan Malioboro.

Saat berada di Kota Pelajar itu, tentu pernah ditanya oleh teman atau kerabat tentang arti jalan paling terkenal di sana, yakni Jalan Malioboro. Tenang, ini bocoran tentang arti jalan legendaris tersebut.

 

Secara resmi, menurut Dinas Komunikasi dan Informatika DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta), asal usul Malioboro itu berasal dari kata 'Maliabara'.

 

Dikutip dari buku Yogyakarta City of Philosophy terbitan Dinas Kebudayaan DIY, 'Malia' berarti wali, dan 'Bara" berarti ngumbara atau menggembara.

 

Jadi 'Maliabara' berarti jadilah wali yang menggembara setelah memilih jalan keutamaan. Ternyata Malioboro masih berkaitan dengan keyakinan filosofis keraton Yogyakarta.

 

Namun ada juga yang berpendapat kalau kata Malioboro berasal dari papan iklan rokok Marlboro yang dulu terdapat di ujung jalan itu. Untuk memudahkan maka merk rokok tersebut dijadikan nama jalan yang panjangnya kira-kira 3 KM itu. Namun karena orang Jawa susah mengucapkan Marlboro, maka mereka mempermudahnya dengan istilah Malioboro.

 

Manakah yang benar dari 2 versi itu? Tentu versi resminya yang perlu dipercaya.

 

3. Latihan seni tari di jalanan.

Sebagaimana julukannya sebagai Kota Budaya, masyarakat Yogyakarta sangat lekat dengan seni budaya. Mereka bisa mengekspresikan seni di mana saja tanpa merasa terbeban.

 

Bagi mereka, seni adalah keindahan jadi perlu diekspresikan di ruang publik dan dinikmati oleh siapa saja. Jadi, di kota itu tidak perlu acara resmi untuk sebuah pertunjukan budaya. Kalau senimannya siap, maka karya seni bisa langsung ditampilkan.

 

Saya sering melihat sekelompok pria berusia 30 sampai 50 tahun menari Jathilan dan Beksa Wanara pada malam hari di daerah Sleman. Gerakannya sangat padu dan rapi, padahal kegiatan mereka sehari-hari adalah bertani.

 

4. Kuliner murah.

Yogyakarta adalah surga bagi mereka yang siap berhemat dalam soal makanan. Dengan uang Rp 10.000,- kita bisa mendapat seporsi makan yang mengenyangkan ditambah segelas es teh.

 

Tidak percaya? Silakan datang ke tempat kuliner rakyat seperti angkringan, warmindo (warung indomie), warung mie Ayam, dan lain-lain.

 

5. Villa nyaman dengan pemandangan petani bekerja di sawah.

Banyak villa di kota perjuangan ini yang menawarkan konsep kembali ke alam, di mana saat sedang santai di Villa, kita bisa melihat pemandangan petani yang sedang bekerja di sawah atau di kebun.

 

Di daerah Sleman (Kaliurang, Turi, dan lain-lain), banyak villa yang dibangun dekat gemericik air sungai yang berasal dari Gunung Merapi, sehingga menambah dekat dengan suasana alam dan pedesaan.

 

6. Sering Ada Pertunjukan Musik di Cafe-Café.

Jika beruntung, saat berada di Yogyakarta pada akhir pekan, kita bisa melihat pertunjukan di café-café yang tersebar di sana. Tidak main-main, yang ngeband di beberapa café itu adalah musisi papan atas seperti Sheila on 7, Stars and Rabbit, The Rain, Jikustik, dan lain-lain.

 

Kenapa mereka bersedia main di kota itu? Beberapa band besar itu memang berasal dari kota seniman itu. Jadi mereka main di kampung sendiri.

 

7. Kisah mistis suara gamelan.

Seorang teman pernah bercerita tentang cerita mistis berikut ini. Awal mula merantau ke kota gudeg, dia menemui atau lebih tepatnya mendengar hal aneh. Selepas tengah malam, dia terbangun oleh suara gamelan.

 

Karena penasaran, dia mencoba mencari tahu dari mana arah suara itu berasal. Kebetulan perutnya agak keroncongan, jadi dia sekalian hendak cari makanan ringan di angkringan yang buka sampai pagi.

 

Saat dia mencari arah suara tersebut ke Selatan, suara berpindah ke Utara. Saat dia menuju ke arah Utara, suara berpindah ke Barat. Begitu seterusnya.

 

Satu jam kemudian dia kecapekan dan menyerah. Saat menceritakan suara gamelan yang berpindah-pindah itu pada orang-orang yang berada di angkringan, mereka tidak kaget. Itu sudah merupakan urban legend atau mitos yang sudah biasa di daerah itu.   

 

Di tempat makan itu, dia diberitahu, jika ada orang yang baru datang ke Yogyakarta dan mendengar suara gamelan mistis, itu tandanya dia akan betah atau bermukim lama di kota budaya tersebut. Nyatanya pendapat itu ada benarnya.

 

Teman saya itu sudah bermukim di Yogyakarta selama 15 tahun sejak mendengar gamelan mistis itu.

 

Itulah 7 hal unik dan menarik di Yogyakarta yang tidak ditemui di kota lain, sehingga membuat kota tersebut tidak membosankan untuk dikunjungi lagi dan lagi. [Benhil]

 


Libur Hari Raya Idul Fitri 2022 atau libur Lebaran hampir tiba. Bagi yang punya rencana mudik tapi masih bingung menentukan tempat atau kota mana yang bisa disinggahi untuk melepas lelah, maka tidak ada salahnya untuk memilih kota Semarang.  

 

Kenapa Semarang? Mungkin itu yang menjadi pertanyaan pembaca sekalian, kenapa harus memilih ibu kota Jawa Tengah itu sebagai tempat berlibur saat lebaran? Jawabannya adalah karena Semarang adalah kota yang sangat strategis.

 

Kita merekomendasikan kota di utara Pulau Jawa ini karena banyak hal menarik yang mungkin belum diketahui oleh pembaca. Bahkan dengan berlibur satu hari saja, Anda bisa menikmati banyak hal di Semarang.

 

Berikut ini 8 hal menarik tentang Semarang yang bisa dinikmati saat libur Lebaran, yaitu:

1. Kota Transit

Semarang bisa menjadi kota transit bagi pemudik Lebaran yang berasal dari kota-kota kecil di sekitarnya seperti; Purwodadi, Cepu, Pati, Blora, Ambarawa, dan lain-lain. Alih-alih, bingung mencari penginapan di kota tujuan, mereka bisa transit di Semarang, untuk kemudian esoknya melanjutkan perjalanan.

 

Atau sebaliknya, pemudik bisa berkunjung ke kota tujuan dulu, untuk kemudian melepas lelah di Semarang.

 

2. Terdapat Banyak Tempat Wisata

Meski kota besar, Semarang juga memiliki banyak tempat wisata, baik bangunan bersejarah atau pemandangan alam yang indah. Tempat wisata di kota yang terkenal dengan kuliner Lumpia tersebut adalah Lawang Sewu, Kota Lama, Kelenteng Sam Poo Kong, Pantai marina, Candi Gedong Songo, dan masih banyak lagi.

 

3. Tersedia Hotel dari Bintang 5 sampai Tarif Ringan  

Di kota besar urutan ke-5 ini tersedia banyak hotel dan penginapan dari kelas bintang 5, hotel menengah, dan hotel kecil serta losmen-losmen dengan tarif merakyat.

 

Bahkan sebelum kebakaran, di sekitar Pasar Johar terdapat penginapan super murah berbentuk barak yang diperuntukan bagi pedagang yang berasal dari luar kota. Ingin tahu berapa tarif penginapan tersebut? Rp 5 ribu permalam!

 

4. Kuliner Paling Enak

Seorang influencer media sosial Kang H Idea atau Hasanudin Abdurakhman pernah memposting kalimat, “kuliner paling enak itu di Semarang. Mau debat? Ayo.”

 

Hal yang sama juga diungkapkan oleh pegiat media sosial dari ibu kota, Nana Padmosaputra yang apabila berada di Semarang selalu menampilkan foto-foto serunya wisata kuliner yang dia sedang nikmati.

 

Semarang memang memiliki aneka kuliner paling enak dibandingkan kota-kota besar lain. Beberapa makanan khas Semarang adalah tahu pong, nasi ayam, babat gongso, soto Semarang, lumpia, wingko babat, kue moaci, dan lain-lain.  

 

5. Tidak Macet

Kota dengan jumlah penduduk sekitar 1,5 juta jiwa itu relatif jarang macet, bahkan saat jam sibuk. Meski perkembangan perekonomian maju pesat, namun tidak semua orang yang memiliki mobil tertarik untuk mengendarai kendaraan roda 4 tersebut ke tempat kerja.

 

Beberapa daerah satelit di Semarang, seperti Banyumanik dan Mijen juga mampu mengurangi kesibukan di pusat kota.

 

6. Aman dan Tertib

Hampir semua wilayah di Semarang aman untuk dikunjungi. Penduduknya juga termasuk tertib di tempat umum. Meski bukan kota pariwisata, orang Semarang (yang mayoritas suku Jawa) selalu menyambut baik pendatang. Wisatawan bisa bersantai di mana saja selama 24 jam.

 

7. Dekat Airport

Salah satu hal yang menyenangkan di Semarang adalah akses yang mudah dan dekat dengan Airport atau Bandara Ahmad Yani. Bandara yang terdapat di ujung utara kota tersebut bisa dijangkau hanya dalam waktu kurang dari 20 menit karena terdapat akses jalan Tol untuk menuju ke sana.

 

8. Terhubung dengan Tol Trans Jawa

Kota bergaris pantai Laut Jawa ini terhubung dengan Tol Trans Jawa. Dari Semarang ke Jakarta hanya memakan waktu 4 jam. Sedangkan dari Semarang ke Surabaya bisa dipersingkat menjadi 3 jam lewat jalan tol.

 

Demikian hal-hal istimewa yang terdapat di Semarang. Libur Lebaran Anda tidak akan sia-sia selama berada di kota yang menyenangkan ini. [Benhil]


Yogyakarta masih menjadi magnet bagi banyak orang di negeri ini, baik untuk belajar atau bekerja (di sektor perhotelan dan pariwisata). Mereka yang menetap di Provinsi tersebut tentu saja membutuhkan tempat tinggal sewa atau lazim disebut kos kosan.

 

Dengan jumlah penduduk berkisar 5 juta jiwa, perputaran ekonomi di Yogyakarta termasuk cepat. Apalagi ditambah dengan daerah pariwisata dan tempat pendidikan yang sangat terkenal. Hampir semua etnis di Nusantara mengadu nasib di Yogyakarta, dari Batak, Minangkabau, Papua, Makassar, dan tentu saja Jawa.

 

Mereka yang datang ke provinsi berjuluk kota pelajar tersebut tentu membutuhkan kos kosan dengan beragam tarif. Mayoritas pendatang tentu menginginkan tempat kos yang murah dan nyaman.

 

Berikut ini tips mendapat tempat kos murah di Yogyakarta dengan harga mulai 200 ribuan;  

1. Kos dulu sesuai dengan daftar yang ada di intenet.

Ini berlaku untuk mereka yang belum pernah ke Yogyakarta, sehingga mendapat info kos dari hasil browsing di internet saat berada di kota asal. Tujuannya agar ketika telah sampai di Yogyakarta, mereka sudah punya tempat istirahat.

Tentu saja harga tempat kos yang ditawarkan belum sesuai kantong yang bersangkutan. Tapi tidak ada salahnya tetap memilih tempat kos itu sambil mencari informasi tempat yang sesuai.

 

2. Mulai menghimpun informasi dari teman.

Seiring waktu, kita bisa mencari-cari info tempat kos lain yang lebih sesuai dengan keuangan kita (yang murah) sebagai anak rantau. Info kos murah pasti tidak tersedia di internet, apalagi di aplikasi. Info kos harga bersahabat biasanya tersebar dari mulut ke mulut antar teman.

Tentu saja kita perlu maklum bila keadaan tempat kos murah jauh dari kondisi tempat kos untuk kalangan menengah. Toh, yang paling penting dari tempat kos adalah kita bisa mendapat tempat untuk beristirahat.

Saya pernah mendapat kos dengan harga 200 ribuan di dekat Terminal Jombor. Meski agak berisik, tapi bagi saya bukan masalah. Yang penting saat beristirahat, suasana sudah tenang. Dan yang lebih penting, penghuni kos saling menghormati.

 

3. Jangan sungkan bertanya pada siapa saja.

Untuk mendapat tempat kos murah, jangan sungkan bertanya pada masyarakat menengah ke bawah, seperti tukang parkir, penjual keliling, dan ojek online. Mereka umumnya juga pendatang yang juga ngekos.

Bahkan banyak juga dari pekerja nonformal itu yang kos bersama-sama sehingga tarif kos bisa patungan. Bayangkan jika tarif kosnya 500 ribu perbulan dan bisa dihuni oleh dua atau tiga orang, tentu akan sangat membantu keuangan, bukan?  

 

4. Tidak perlu gengsi.

Seperti telah saya sebutkan di poin ke dua, saya pernah beberapa kali mendapat tempat kos murah di Yogyakarta. Meski tempatnya sederhana dan agak berisik, saya enjoy aja tinggal di sana. Apalagi penghuninya juga tidak reseh.

Kalau hanya untuk tidur saja, kita tidak perlu gengsi untuk bermewah-mewah yang pada akhirnya mengganggu kantong kita. Tempat kos yang airnya lancar dan aman sudah merupakan kemewahan.

 

5. Supel dan selalu menjalin persaudaraan dengan siapa saja.

Saya punya teman bernama Nita yang kuliah di UGM (Universitas Gajah Mada) pada tahun 2000 an. Dia ramah dan ringan tangan pada siapa saja. Kebetulan Nita ngekos di rumah seorang perempuan berusia 65 tahun yang sudah janda dan jauh dari anak-anaknya.

Di sela-sela kuliahnya, hampir setiap hari Nita selalu membantu si ibu beraktivitas, baik belanja, memasak, mengurus tempat kos, hingga menemani ke luar kota. Orang sampai mengira Nita adalah saudara pemilik kos.

Kedekatan itu lambat laun seperti saudara sehingga enam bulan kemudian, atas kesepakatan keluarga pemilik kos, Nita dibebaskan dari kewajiban membayar kos. Tentu saja hal itu tidak berpengaruh pada sifat ringan tangan Nita di tempat kos itu.

Saat ini meski sudah tinggal di Jakarta dan ibu pemilik kos tersebut sudah meninggal kemudian diteruskan oleh seorang pegawai, jika datang ke tempat kos itu, Nita akan diperlakukan layaknya anak pemilik kos.

Jadi sifat supel dan suka membantu pada siapa saja itu akan sangat meringankan hidup kita sendiri.

 

Demikian beberapa tips mendapat kos murah di Yogyakarta. Saya yakin teman-teman akan sangat terbantu dengan panduan yang tidak jauh dengan kehidupan saya ini. [Benhil]

 

All rights reserved, Copyright © 2022 www.benhil.net. Powered by Blogger.