Showing posts with label Wisata. Show all posts

Purwokerto, 13/5 (Benhil) - Jalan yang hanya dua lajur tanpa median menjadi ciri khas Jalur Selatan Jawa mulai Purwokerto sampai Yogyakarta, atau Cilacap-Yogyakarta. Jalur sepanjang 180-an kilometer itu terbilang sempit dibanding jalur Pantura Jateng mulai Losari sampai Semarang yang sudah empat lajur dengan median jalan.

Pamor Jalur Selatan ini makin kalah sebagai pilihan jalur mudik dibanding melalui utara karena mulai musim mudik Lebaran 2018 sudah tersambung tol dari Jakarta sampai Surabaya.

Kemungkinan mereka yang mudik dari Jabodetabek ke kota-kota di selatan Jawa seperti Kebumen, Kutoarjo, Wates dan Yogyakarta, Pacitan, lebih memilih jalur utara yang dipercepat pintasannya melalui tol. Demikian juga pemudik dari Semarang dan Yogyakarta tujuan Banyumas dan kota di selatan Jawa Barat akan menggunakan jalur selatan ini.

Dengan demikian, jalur selatan tidak bisa diabaikan perannya memperlancar arus mudik, apalagi ada juga jalur alternatif yang disebut Jalur Lintas Selatan (JLSS). JLSS juga disebut Jalan Daendels itu berada di selatan pulau Jawa, tepatnya melintasi provinsi Jawa Tengah.

Jalan sepanjang 130 kilometer itu menghubungkan kota Bantul dengan Purworejo, Kebumen, dan Cilacap. Jalan Daendels itu bisa memecah arus mudik di jalur utama selatan Jawa.

Jalur alternatif dari Purwokerto ke Yogyakarta itu bisa dipecah di Kebumen barat melalui rute Gombong - Karanganyar - pertigaan Guyangan di Desa Purwodeso - Kritig - Petanahan - Jalan Daendels. Sedangkan jalur alternatif mudik Kebumen bagian timur adalah Prembun - Lembupurwo - Jalan Daendels. Dan, Kebumen bagian tengah adalah Kambalan - Ambalresmi - Jalan Daendels.

Penggunaan jalur alternatif itu memperpanjang jalur mudik belasan kilometer, namun lebih lancar sehingga waktu pintasnya bisa setengah jam lebih cepat dibanding jalur utama.

Kondisi Jalan Secara keseluruhan kondisi jalan Jalur Selatan cukup mulus walaupun ada beberapa titik yang mengalami rusak ringan dan berlubang.

Bahkan Bagian Humas Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VII Semarang Totok, mengatakan ruas Purwokerto-Purworejo sampai Yogyakarta dalam keadaan mulus.

Memang ada jalan yang berlubang namun tidak signifikan dan ada tim yang segera melakukan penambalan sebelum arus mudik Lebaran. Ia mencontohkan jalan nasional yang melintasi Kota Purwokerto memang di beberapa titik ditemui lubang, namun ruas itu hanya 10 persen yang mengalami kerusakan ringan, sisanya kondisi mulus.

Saat ini satu tim perbaikan jalan tengah melakukan penambalan di Jalan Gerilya Kota Purwokerto.

Demikian juga, ia menjelaskan, jalan nasional lingkar Kota Cilacap hanya mengalami kerusakan ringan 10 persen.

Sementara pantauan Antara di jalur alternatif Kebumen-Yogyakarta ada satu ruas yang perlu mendapat perhatian berbagai pihak karena ditemui banyak lubang yang melebar dan dalam. Sepanjang perjalanan dari Wates sampai Kebumen, tidak ditemui adanya tim perbaikan jalan. Hanya ada satu tim pengecatan marka jalan di ruas Ketawang-Temon.

Jalan bergelombang dan berlubang dalam ditemui di ruas Kecamatan Ambal dan Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen sepanjang sekitar 10 kilometer.

Bagi pemudik bermotor harus lebih berhati-hati melintasi jalur alternatif ini. Jika tak ada niat mudik sambil melihat pantai, maka lebih disarankan menggunakan jalur utama. Bengkel dan BBM Ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) dan keberadaan bengkel di jalur utama dan jalur alternatif tidak perlu dikhawatirkan. Jika jalur utama banyak pom bensin pertamina, maka di jalur alternatif juga banyak pertamini atau pengecer bbm yang dilengkapi dengan dispenser.

Beberapa pengecer mengakui mereka akan menyiapkan stok lebih banyak saat arus mudik Lebaran.

Demikian juga bengkel mobil dan motor di jalur alternatif sudah mulai banyak bermunculan termasuk bengkel tambal ban. Namun urusan suku cadang yang berat seperti klep mesin, kampas kopling, ball joint, belum tentu ada sehingga kendaraan mobil pemudik yang punya masalah di mesin lebih baik menggunakan jalur utama.

Wisata dan Kuliner Jalur alternatif melalui Jalan Daendels yang lurus dan datar ini berada tak jauh dari pantai. Ada sejumlah jalan masuk ke arah wisata pantai sehingga pemudik mudah mendapatkan tempat istirahat sambil menikmati deburan ombak.

Beberapa pantai yang direkomendasikan sebagai tempat istirahat yaitu Pantai Petanahan di Desa Munggu Kecamatan Petanahan, Pantai Bocor di Desa Setrojenar, Pantai Lembupurwo. Yang terakhir ini terletak di perbatasan Purworejo - Kebumen.

Beberapa kilometer dari perbatasan itu, pemudik bisa berbelanja di Pasar Buah Wonoroto, Kecamatan Purworejo. Pasar berupa jejeran kios itu menjual buah-buahan hasil petani setempat seperti jambu kristal, melon, semangka dan blimbing. Semangka yang dijual juga ada yang berbiji, tanpa biji dan berbiji tapi berdaging kuning.

Menurut Meri, seorang pedagang, harga buah itu akan naik Rp2.000 sampai Rp.3000 per kilogram pada musim mudik karena banyaknya permintaan dari pemudik. Selain mempunyai tempat wisata, jalur Daendels itu menawarkan wisata kuliner khas setempat seperti rica-rica mentok, sate kuda, mie nyemek dan kraca.

Kalau tiga yang pertama sudah umum maka kraca merupakan olahan keong kecil yang biasanya didapat dari sawah yang diberi kuah. Masakan keong itu diolah dengan campuran bumbu bawang, pala, merica, garam serta bumbu-bumbu lainnya.

Cara memakan kraca ini adalah dengan menyedot keong yang sudah dibuang penutupnya atau bisa juga dicukil menggunakan lidi ataupun gigi garpu. Makanan ini sangat banyak dijual menjelang bulan puasa.

Jika ingin mudik atau kembali dari mudik, sebaiknya memilih jalur Daendels ini karena bisa sambil berwisata dan mencicipi kuliner Banyumasan. (Budi Santoso)


Yogyakarta terkenal akan berbagai keunikan dan keindahan tempat wisata yang dimiliki, begitupun dengan pantai yang ada di sana. Keunikan dari pantainya ini mulai dari pantai berpasir putih dan lembut, pantai yang sepi dan tenang hingga pantai yang berkarang tajam. Aktivitas yang bisa dilakukan di pantai tersebut juga bermacam-macam, mulai dari berenang, panjat tebing, hingga snorkeling.

Pantai Indah di Yogyakarta yang Tidak Kalah dengan Pantai Lainnya

Beberapa Pantai Indah di Yogyakarta yang Tidak Kalah dengan Pantai Lainnya 

Pantai Indrayanti

Kabupaten Gunung Kidul yang ada di sisi selatan menjadikannya dipenuhi dengan deretan pantai. Di sana memang dipenuhi deretan pantai berpasir putih, salah satunya yaitu Pantai Indrayanti. 

Keindahan pantai di sana tidak kalah dengan yang ada pantai lainnya dan yang membuatnya spesial adalah pemandangan dari bukit di sebelah kanan pantai. Ketika Anda ke sana, cobalah untuk menaiki bukit tersebut. Dari bukit tersebut dapat terlihat pemandangan sekitar Pantai Indrayanti dari atas.

Saat Anda merasa lelah, Anda bisa beristirahat dengan menyewa payung pantai atau duduk santai di warung tepi pantai sambil menikmati segarnya air kelapa.

Pantai Depok

Pantai yang berada di Kabupaten Bantul ini memiliki deburan ombak besar dan hamparan pasir hitam pekat namun tetap bersih. Apabila Anda berencana akan ke pantai ini, datanglah sore hari agar bisa menikmati pemandangan matahari terbenam. Selain itu, Anda juga bisa melakukan kegiatan lain yaitu bermain air di tepi pantai

Pantai Nglambor

Letaknya yang cukup tersembunyi menjadikan nama pantai ini mungkin belum banyak diketahui orang. Untuk sampai ke pantai  ini memang membutuhkan sedikit perjuangan. Namun saat Anda sudah sampai di Pantai Nglambor, Anda akan disambut dengan suasana dan ombaknya yang tenang. Melakukan kegiatan berenang dan snorkeling di sini pun tergolong aman tanpa takut tergulung ombak.

Pantai Baron

Pantai yang satu ini tergolong ramai dikunjungi oleh para wisatawan seperti layaknya Pantai Indrayanti. Sebenarnya pantai ini merupakan teluk yang diapit oleh dua tebing. Pengunjung di sana pun diperbolehkan untuk berenang asalkan tidak melampaui tanda batas terjauh yang telah ditentukan. Di pantai ini Anda dapat melihat adanya aliran sungai air tawar di bawah tebing yang mengalir langsung ke Laut Selatan.

Pantai Sadranan

Di Pantai Sadranan ini, Anda bisa berjalan di sepanjang pinggir pantai sambil menikmati hamparan pasir putih dan merasakan kesejukan air laut yang menggulung menerpa kakimu. Anda juga bisa melakukan aktivitas snorkeling untuk menikmati keindahan bawah lautnya. 

Masyarakat sekitar pantai ini biasanya akan mengadakan upacara sedekah laut pada waktu-waktu tertentu. Tujuan dari upacara ini adalah untuk bersyukur atas berlimpahnya hasil laut. 

Pantai Wediombo

Sensasi berbeda akan Anda dapatkan saat berkunjung ke pantai ini di mana Anda bisa berenang di kolam alam. Di pantai ini memang tersedia kolam karang dengan air yang tenang dan sangat jernih. Selain berenang, bagi Anda yang hobi memancing juga tidak boleh melewatkan kegiatan yang satu ini yaitu memancing di bukit karang dekat pantai. Bukit tersebut memang menjadi spot favorit para pemancing. 

Pantai Pok Tunggal

Untuk bisa sampai di pantai ini, Anda akan melewati perjalanan yang agak sulit di mana akses jalannya cukup curam. Namun lelah di perjalanan akan terbayar manakala Anda telah sampai di pantai ini. Dengan membayar biaya masuk sebesar sebesar Rp10.000, Anda langsung bisa melihat hamparan pasir putih pantai dan lautan lepas di pantai ini. 

Keunikan dari pantai ini dapat dilihat dari keberadaan sebuah pohon duras besar yang tumbuh di tengah hamparan pasir putih pantai. Pohon ini sendiri dianggap keramat oleh penduduk sekitar, sehingga sebaiknya Anda tidak mencoba untuk memanjatnya. 


Manokwari, 6/3 (Benhil) - Bank Negara Indonesia (BNI) mengembangkan bisnis pariwisata di wilayah Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat.

"Raja Ampat itu seksi, jumlah pengunjung akan terus meningkat. Ini terbukti dari adanya penambahan jam penerbangan sejumlah maskapai ke Sorong dan Manokwari," kata Kepala Bisnis Perbankan BNI Wilayah Papua, Yeska Friadi di Manokwari, Selasa.

Yeska mengutarakan, BNI memiliki program BNI Go Green sebagai wujud kepedulian BNI terhadap lingkungan. Melalui program ini, pihaknya meluncurkan sejumlah produk bisnis yang ramah lingkungan.

Untuk mendukung pengembangan pariwisata dan ekonomi masyarakat di Raja Ampat, BNI membangun rumah kreatif di Pulau Arborek. Kehadiran rumah kreatif untuk membantu pelaku industri kreatif di daerah itu dalam mempromosikan produknya. Selain transaksi langsung, pihaknya juga memfasilitasi sarana penjualan secara online bagi seluruh komoditas industri kreatif yang diproduksi warga.

"Tidak dipungut bayaran, rumah kreatif kita sewakan, fasilitas kita belikan. Masyarakat yang menitipkan barang disitu tidak dipungut apa pun. Ini kami lakukan agar komoditas industri kreatif masyarakat Raja Ampat bisa bersaing terutama dari sisi harga," kata dia.

Selain rumah kreatif, lanjutnya, BNI juga membantu pembangunan penginapan atau "home-stay". Pengelolaan "home-stay" tersebut diserahkan langsung kepada pemuda-pemudi setempat.

Menurut dia, bisnis "homestay" cukup menjanjikan di daerah itu. Hal ini menjadi peluang kerja atau usaha bagi putra daerah.

"Kita tidak perlu berfikir mewah dalam membangun 'home-stay', karena saat ke Raja Ampat pengunjung ingin menikmati sensasi natural atau kealamian di sana," katanya.

Ia menyebutkan, keinginan masyarakat untuk membuka "home-stay" cukup tinggi. Saat ini sudah cukup banyak "home-stay" yang merupakan milik dan dikelola sendiri oleh masyarakat.

"Masyarakat yang dulu menangkap ikan, kini sudah alih profesi menjadi penangkap turis. Biaya menginap di home-stay milik warga ini tidak mahal, cuma 300 ribu permalam plus makan," katanya.

Yeska mengutarakan, pihaknya akan terus mengembangkan program "BNI Go Green" di daerah lain di Papua dan Papua Barat. Saat ini program tersebut masih difokuskan di Raja Ampat.


"Iya, (dalam sejarah) dia dikenal sebagai pelaut," ujar Lu Yao Xing, seorang sopir, dalam percakapan dengan Benhil di Shanghai, beberapa waktu lalu.

Lu mengaku tidak banyak mengetahui tentang sejarah terkait sosok Cheng Ho, kecuali hanya dikenal sebagai seorang pelaut pada zaman dahulu kala.

"Nama dia ada di buku sejarah," katanya mengenai Zheng He atau Cheng Ho menurut lidah orang Indonesia.

Lu tidak sendiri. Banyak warga China yang tidak mengetahui persis seorang kasim Muslim yang menjadi kepercayaan Kaisar Yongle, kaisar ketiga Dinasti Ming, yang berkuasa pada 1403-1424 itu.

Jangankan mengenai perjalanan Cheng Ho, sebagian besar masyarakat China juga tidak mengerti bahwa tokoh muslim Tiongkok yang diperkirakan hidup pada 1371-1433 itu pernah berlayar hingga Nusantara. Apalagi bila dikaitkan dengan beberapa masjid di Jawa dan Sumatera yang mengadopsi nama Cheng Ho, pemahaman mereka belum sampai ke situ.

"Saya tahu nama itu dari pelajaran sejarah di sekolah dasar," kata Jing Ruixue, warga Liupanshui, Provinsi Guizhou.

Sama seperti Lu, selebihnya pegawai negeri sipil di Distrik Panzhou, Liupanshui, itu juga tidak mengenali sosok Cheng Ho.

Dalam salah satu catatan biografi, Cheng Ho bernama asli Ma He atau dikenal juga sebagai Ma Sanbao yang berasal dari Provinsi Yunnan, satu wilayah di barat daya daratan Tiongkok yang berbatasan dengan Provinsi Guizhou di timur laut, Daerah Otonomi Guangxi (timur), Provinsi Sichuan (barat laut), Daerah Otonomi Xizang (barat), dan India, Myanmar, serta Vietnam (barat, selatan, dan timur).

Ketika pasukan Ming menaklukkan Yunnan, Cheng Ho ditangkap dan kemudian dijadikan orang kebiri.

Ditinjau dari marganya "Ma", Cheng Ho seorang bersuku Hui, suku bangsa yang secara fisik mirip dengan suku mayoritas Han, namun beragama Islam. Cheng Ho melakukan ekspedisi paling sedikit tujuh kali dengan menggunakan kapal armadanya.

Dari tujuh kali ekspedisi itu, enam di antaranya Cheng Ho menyinggahi Jawa dan Sumatera, yakni pada periode 1405-1407, 1407-1408, 1409-1411, 1413-1415, 1416-1419, dan 1430-1433.

Pada tahun 1415, Cheng Ho berlabuh di Muara Jati, Cirebon), Jawa Barat. Saat itu dia menghadiahi beberapa cendera mata khas Tiongkok kepada Sultan Cirebon. Salah satu peninggalannya, sebuah piring yang bertuliskan Ayat Kursi masih tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon.

Pernah dalam perjalanannya melalui Laut Jawa, Wang Jinghong (orang kedua dalam armada Cheng Ho) sakit keras.

Wang akhirnya turun di pantai Simongan, Semarang, Jawa Tengah, dan menetap di sana. Salah satu bukti peninggalannya antara lain Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu) dan patung yang disebut Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Po Kong.

Cheng Ho juga sempat berkunjung ke Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan raja Wikramawardhana.

Namun pada tahun 1424, kaisar Yongle wafat. Penggantinya, Kaisar Hongxi yang berkuasa pada 1424-1425 memutuskan untuk mengurangi pengaruh kasim di lingkungan kerajaan.

Cheng Ho melakukan satu ekspedisi lagi pada masa kekuasaan Kaisar Xuande (berkuasa 1426-1435).

Setelah periode tersebut, dia sudah tidak lagi melakukan pelayaran atas kebijakan penguasa pada saat itu karena anggaran yang terbatas. Namun, ekspedisi Cheng Ho itu telah menginspirasi pemerintah China dalam menginisiasi "Belt and Road" sebagai gambaran dari peta blok Jalur Sutera dan Jalur Maritim Abad ke-21.

China yang terhubung dengan negara-negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan masuk dalam kawasan "Road" yang digagas Presiden Xi Jinping dan disampaikan di depan anggota DPR-RI di Senayan, Jakarta, pada Juni 2013.

Sebelumnya Xi juga mengumumkan "Belt" yang menghubungkan China dengan negara-negara di Eropa dan Afrika di Astana, Kazakhstan.

Lebih Edukatif Ekspedisi Cheng Ho tersebut akan lebih elok dikemas dalam perspekstif lain sehingga lebih bernilai edukatif, terutama bagi generasi muda Tiongkok agar tidak semakin buta sejarah.

Kementerian Pariwisata RI mencoba mengambil inisiatif tersebut seiring dengan makin lebarnya ceruk pasar wisatawan China.

Hal itu juga bagian dari ikhtiar untuk mendatangkan sebanyak mungkin wisatawan China ke Indonesia yang masih belum pulih 100 persen dari trauma dampak letusan Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali.

Sebagai tuan rumah Asian Games XVIII/2018, terbuka peluang bagi Indonesia untuk memasarkan wisata sejarah ekspedisi Cheng Ho tersebut. Asian Games yang digelar di Palembang, Sumatera Selatan, dan Jakarta, memberikan manfaat tersendiri bagi warga China yang ingin mendukung atlet idolanya berlaga di pesta olahraga terbesar kedua setelah Olimpiade musim panas sekaligus berwisata.

Apalagi Cheng Ho memiliki jejak sejarah di Palembang. Pada awal abad ke-15, Kota Palembang diduduki perompak Chen Zuyi yang berasal dari Tiongkok.

Armada bajak laut Chen Zuyi kemudian ditumpas oleh Laksamana Cheng Ho pada tahun 1407.

Laksamana Cheng Ho juga dianggap berperan dalam penyebaran Islam di Palembang. Armada Cheng Ho sebanyak 62 unit kapal dan tentara yang berjumlah 27.800 orang pernah empat kali berlabuh di Palembang.

Oleh karena masyarakat setempat mengadopsi nama Cheng Ho pada salah satu masjid di Jakabaring yang juga dikenal sebagai pusat olahraga sekaligus tempat penyelenggaraan Asian Games tahun ini.

Masjid dua lantai yang mampu menampung sekitar 600 orang itu didesain dengan memadukan arsitektur bergaya China dan budaya lokal masyarakat Palembang. Menara di kedua sisi masjid yang dibangun pada 2008 tersebut meniru bangunan klenteng-klenteng di China dengan dominasi warna merah dan hijau giok.

Di Palembang juga terdapat tempat-tempat lain yang tidak bisa dipisahkan dari adat dan tradisi masyarakat Tiongkok, seperti Kampung Kapitan yang langsung menghadap Sungai Musi dengan latar belakang Jembatan Ampera dan Benteng Kuto Besak.

Selain Palembang, Jakarta dan Semarang juga patut menjadi "alat tawar" bagi Kemenpar untuk mengundang wisatawan dari daratan Tiongkok.

Di kawasan Ancol, Jakarta Utara, ada makam Wu Ping, juru masak Cheng Ho, dan istrinya Siti Wati, yang merupakan penduduk lokal.

Kemudian di Semarang juga ada kelenteng Sam Po Kong yang merupakan petilasan persinggahan pertama Cheng Ho. Belum lagi Masjid Cheng Ho di Kabupaten Pasuruan dan Kota Surabaya. Tempat-tempat tersebut tidak kalah bernilainya bagi masyarakat China yang sebagian besar menggemari wisata sejarah dengan mengunjungi museum atau situs-situs tertentu.

"Indonesia tidak hanya Bali. Masih banyak tempat lain yang perlu dikunjungi, terutama yang berkaitan dengan sejarah ekspedisi Cheng Ho," kata Menpar Arief Yahya saat bertemu dengan para agen perjalanan wisata China di Beijing pada 23 Januari 2018. (M. Irfan Ilmie)

http://www.benhil.net/2017/11/meledakkan-kunjungan-wisata-toba.html


Jakarta, 6/2 (Benhil) - Pemerintah telah menetapkan target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke kawasan Danau Toba, Provinsi Sumatera Utara, pada 2019 sejumlah satu juta orang. Untuk mendukung target itu, Pemerintah mempersiapkan aksesibilitas yang memadai hingga ke lokasi-lokasi wisata.

Hal itu dimulai dengan pengoperasian ruas tol Bandara Kualanamu-Tebing Tinggi yang merupakan bagian dari jalur tol Kualanamu-Parapat, pada Oktober 2017.

Menurut Direktur Industri Pariwisata dan Kelembagaan Kepariwisataan Badan Otorita Pariwisata Danau Toba M Rommy Fauzi kepada Benhil di Medan, beberapa waktu lalu, jalur tol Bandara Kualanamu-Parapat akan dituntaskan dengan pembangunan ruas tol dari Kuala Tanjung-Tebing Tinggi-Parapat, yang akan dimulai pada 2018 dan diharapkan selesai pada 2019.

Pembangunan jalan tol ini untuk mempersingkat waktu tempuh dari Bandara Kualanamu ke Parapat sebagai pintu masuk utama ke kawasan pariwisata Danau Toba, dari empat jam menjadi sekitar dua jam, serta mendukung kunjungan wisatawan yang menggunakan kapal cruise dan kapal pesiar dari pelabuhan Kuala Tanjung, di pantai Timur Sumatera Utara, ke Parapat.

Selain pembukaan jalur baru, pemanfaatan jalur yang sudah ada, seperti jalur kereta api Medan-Pematang Siantar, akan ditingkatkan dengan penambahan rangkaian kereta baru kelas eksekutif.

Menurut Rommy, rangkaian kereta api baru akan dikirim pada tahun 2018, dan selanjutnya akan segera dioperasikan dua kali sehari.

Untuk menampung kendaraan bermotor yang mau masuk ke Pulau Samosir lewat Pematang Siantar, akan ditambah pelabuhan feri di dua lokasi, yakni di Ajibata-Ambarita dan Tigaras-Simanindo.

Kehadiran dua pelabuhan feri ini akan menambah yang sudah ada saat ini dari Ajibata ke Tomok, yang dilayani dua kapal dengan kapasitas total sekitar 70 mobil. Kapal feri yang dikelola swasta ini pada kondisi puncak liburan biasanya dioperasikan 24 jam sehari.

Secara parallel kapasitas dan kualitas layanan bandara Silangit di Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara, juga terus ditingkatkan. Pada akhir November 2017 Presiden Joko Widodo meresmikan Bandara Silangit sebagai bandara internasional, dan pada saat itu Presiden meminta agar landas pacu bandara itu diperpanjang dari 2.650 meter menjadi 3.000 meter agar pesawat berbadan lebar bisa mendarat.

Badan Otorita Pariwisata Danau Toba telah melakukan pendekatan-pendekatan kepada sejumlah maskapai penerbangan domestik dan asing agar membuka penerbangan langsung dari Kuala Lumpur Malaysia dan Singapura ke Silangit secara reguler.

"Kami berharap Garuda bisa melayani penerbangan Singapura-Silangit secara reguler mulai Februari (2018)," kata Rommy.

Selain jarak yang lebih dekat, penerbangan ke Silangit dari dua negara tetangga itu dinilai lebih efektif karena langsung ke jantung pariwisata Danau Toba. "Dimana lagi bisa didapat lokasi wisata yang indah dan nyaman hanya dengan penerbangan 45 menit hingga satu jam?" katanya, membandingkan penerbangan ke Kualanamu lebih jauh dibanding ke Silangit.

Selama 2017 diperkirakan 300.000 penumpang yang dilayani Bandara Silangit, umumnya penumpang domestik, namun dengan dibukanya jalur internasional akan mendorong masuknya wisatawan asing.

Untuk mendukung mobilitas wisatawan dari Bandara Silangit menuju Pulau Samosir, telah dibangun jalur feri yang menghubungkan Muara ke Nainggolan dan dari Balige ke Oanan Runggu. Selain itu, sejak akhir 2017 juga telah tersedia angkutan reguler Damri dari Silangit ke Pematang Siantar, untuk melayani konektivitas lewat Parapat, yang ingin menuju Tomok atau Tuktuk.

Bagi yang ingin ke Samosir lewat Tele, sambil menikmati keindahan perbukitan dan Danau Toba dari ketinggian, bisa sejenak singgah di Menara Pandang Tele. Jalur ini bisa dinikmati dengan baik karena jalanannya sudah diperbaiki dan diperlebar.

Sementara di Pulau Samosir, sejak 2017 telah dilakukan perbaikan dan pelebaran jalan lingkar Samosir menjadi enam meter dengan lapisan aspal "hotmix", yang menurut Bupati Samosir Rapidin Simbolon, akan tuntas pada 2018.

Tingkatkan Kualitas Hotel Untuk memanjakan wisatawan, hotel dan restoran diminta untuk meningkatkan kualitas layanan, baik perbaikan fisik (renovasi) maupun pelayanan terhadap tamu.

Di wilayah Samosir, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) setempat sudah mengajak anggotanya untuk melakukan renovasi hotel, terutama yang dibangun medio tahun 1970-an, untuk menyesuaikan dengan tuntutan wisatawan saaat ini, misalnya perbaikan kamar dan toilet, penambahan layanan koneksi internet via jaringan wifi, serta kebersihan dan keindahan hotel secara keseluruhan.

Menurut Ketua PHRI Samosir Annette Horschmann, pemberdayaan rumah adat Batak menjadi homestay (rumah penginapan), sebagai antisipasi keterbatasan daya tampung hotel pada kondisi puncak, merupakan jalan keluar terbaik, karena bisa memberi manfaat secara langsung bagi masyarakat.

"Kalau masyarakat memperoleh manfaat, mereka juga akan secara langsung turut menjaga dan memelihara keberlanjutan pariwisata Danau Toba," katanya, sambil menambahkan bahwa pemanfaatan rumah adat jadi homestay memiliki potensi besar, selain karena memiliki nilai artistik dan kultural yang tinggi, saat ini banyak rumah adat yang tidak dihuni lagi karena berbagai alasan, antara lain ditinggal merantau.

Di Parapat, kata Ketua PHRI Parapat Husin Tony, pihaknya telah merasakan kehadiran Bandara Silangit, yakni adanya peningkatan jumlah wisatawan ke daerah itu, dan dengan sendirinya para pelaku industri pariwisata setempat berupaya meningkatkan layanannya, baik melalui renovasi maupun perbaikan tata kelola dan pelayanan terhadap tamu yang datang.

Di Siborongborong dan Balige, dalam beberapa tahun terakhir juga sudah tumbuh hoel-hotel baru, baik hotel berbintang maupun melati, seiring dengan meningkatnya jumlah penumpang di Bandara Silangit.

Menurut Rommy Fauzi, jumlah hotel yang ada di sekitar kawasan Danau Toba, termasuk di kabupaten Siamlungun dan Karo, siap menampung kunjungan sejuta wisatawan ke daerah itu pada tahun 2019.

Tingkatkan Lama Tinggal Untuk meningkatkan lama tinggal wisatawan di sekitar Danau Toba, Badan Otorita Pariwisata Danau Toba sudah mengembangkan "calendar of events" yang melibatkan tujuh kabupaten di sekitar Danau Toba, yakni Samosir, Toba Samosir, Simalungun, Karo, Dairi, Humbang Hasundutan, dan Tapanuli Utara.

Kalender kegiatan tersebut akan dibuat setiap tahun, dan setiap kabupaten harus menjalankannya secara konsisten. Tahun 2017, ada 17 kegiatan dan untuk Tahun 2018 sedang dipersiapkan, kata Rommy.

Salah satu kegiatan yang sedang digarap, yakni atraksi budaya Batak secara kolosal, meniru konsep yang ada di China. "Kita akan bekerja sama dengan Vicky Sianipar untuk menggarap pertunjukan itu," katanya.

Pengembangan "sport tourism" juga telah dimulai dengan ajang Toba Gran Fondo 2016, yakni lomba balap sepeda sambil menikmati keindahan Danau Toba. Kemudian pada November 2017, diadakan lomba sampan marathon internasional (International Toba Kayak Marathon) di Balige dengan peserta dari berbagai negara, dan juaranya berasal dari Republik Ceko.

Arung jeram Sungai Asahan, yang berada di sekitar Parhitean, Kabupaten Toba Samosir, yang dinilai terbaik ketiga di dunia, terus dikembangkan menjadi ajang rutin setiap tahun.

Menurut Rommy Fauzi, untuk pasar Singapura pihaknya sudah menjual paket perjalanan wisata dari Silangit ke sekitar Danau Toba dengan harga 299 Dolar Singapura selama 3 hari 2 malam, dan 349 Dolar Singapura untuk 4 hari 3 malam, untuk dua orang.

Selain itu, kehadiran kapal pesiar berbentuk rumah adat Batak di Danau Toba diharapkan akan memberi layanan baru untuk mengunjungi berbagai objek wisata di sekitar Danau Toba, yang pada akhirnya akan meningkatkan lama tinggal wisatawan.

Untuk memenuhi kebutuhan generasi milenial yang senantiasa terkoneksi internet setiap saat, pihak Telkom sedang membangun jaringan kabel serat optic untuk seluruh kawasan wisata di Pulau Samosir, dengan layanan minimal 3G. "Saat ini sedang dibangun dari Dolok Sanggul ke Pangururan," kata Rommy.

Mengingat saat ini wisman terbanyak yang berkunjung ke Sumatera Utara dan Danau Toba berasal dari Malaysia, jumahnya hampir 50 persen, maka para pelaku usaha restoran dan hotel di Pulau Samosir diminta menyediakan layanan yang halal.

Menurut Bupati Samosir Rapidin Simbolon, hotel dan restoran yang menyediakan layanan halal sudah tersedia ckup di Samosir. "Mungkin pelayannnya yang perlu ditingkatkan, termasuk soal kebersihan," katanya.

Yang tidak kalah penting, yaitu menyiapkan warga masyarakat sekitar Dana Toba untuk menyambut kehadiran wisatawan di daerahnya lewat berbagai kegiatan sosialisaisi, terutama lewat gereja.

"Lewat khotbah-khotbah di gereja diharapkan masyarakat diberi pemahaman soal manfaat industri pariwisata, bagaimana cara berperilaku menghadapi wisatawan, serta bagaimana cara untuk menjaga kelestarian alam dan budaya setempat," kata Rommy.

Untuk kepentingan sosialisasi itu Badan Otorita Pariwsaiata Danau Toba sudah menjalin kerja sama dengan pihak Gereja Katolik dan Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) di Sumatera Utara.

Namun Sebastian Hutabarat, seorang pegiat lingkungan dan pelaku usaha wisata di Balige, Tobasa mengatakan program sosialisasi pariwisata lewat khotbah di gereja tidaklah cukup, tetapi memberi contoh adalah cara terbaik.

"Pemberdayaan rumah adat Batak menjadi homestay adalah contoh yang paling baik. Masyarakat yang mengusahakan rumahnya menjadi tempat penginapan, akan mendapat manfaat secara langsung, dan dengan sendirinya akan memberikan layanan yang terbaik agar usahanya berjalan lancar dan berlanjut. Beri contoh yang lain, itu yang perlu," kata Sebastian.


"Wajah" Surabaya yang kini hijau, bersih, rapi tak hanya memikat hati warganya tetapi juga membuat wisatawan Belanda, Johannes, jatuh cinta sehingga ingin terus kembali ke Kota Pahlawan ini setiap kali dia berkesempatan berlibur ke Indonesia.

Pria kulit putih berambut hitam yang mengaku bernama lengkap Johannes Wilhelmus Rovers ini sudah 10 kali menyinggahi Surabaya setiap kali mengunjungi Indonesia.

"Sudah 10 kali saya ke Surabaya. Kota itu nyaman, bersih dan hijau karena banyaknya pepohonan dan taman-taman," kata pria asal Kota Denhaag ini. Kepada Benhil yang mengajaknya mengobrol saat pria asal Kota Denhaag, Belanda, ini sedang menikmati suasana ramai kawasan wisata Malioboro, Yogyakarta, pada Ahad (21/1) siang, dia mengatakan dia berencana ke Surabaya pada Rabu (24/1) untuk beberapa hari.

Dari bangku taman jalur pedesterian Malioboro yang lebar dan apik tempatnya duduk, Johannes melanjutkan obrolannya bahwa dia menyukai Surabaya karena di kota itu, tapak jejak masa Kolonial Belanda berupa gedung-gedung masih banyak yang terawat.

Gedung-gedung peninggalan Kolonial yang masih terawat baik di Kota Surabaya itu membuatnya menikmati jalan-jalannya. Selama di Surabaya, Johannes yang pada Ahad siang itu berkaos oblong dan bercelana pendek warna gelap dengan sepatu kasual dari sebuah merek Puma ini mengatakan bahwa dia memilih penginapan di kawasan Gubeng.

"Saya suka losmen Gubeng," kata pria kulit putih berambut hitam yang tiba di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta,Banten pada 14 Januari 2018 dan berencana berada di Indonesia selama dua bulan ini.

Johannes hanyalah wisatawan asing yang jatuh cinta pada sudut-sudut Kota Surabaya yang pernah disinggahi dan warga kota yang pernah berinteraksi dengannya.

Dari situ, terbangun perspektifnya yang terbangun dari apa yang dia lihat dan rasakan selama 10 kali berkunjung dan berinteraksi dengan warga dan "wajah" kota metropolitan multietnis itu.

Boleh jadi, Johannes tak begitu banyak tahu bahwa kota multietnis berpenduduk lebih dari 3,1 juta jiwa (2012) itu tak sekadar teduh dan hijau berkat kehadiran sedikitnya 21 taman yang mendukung perkembangan Surabaya menjadi "kota layak huni" bagi warganya.

Di kota yang namanya pernah ditorehkan Mpu Prapanca dalam maha karyanya "Negara Kertagama" ini kini juga sudah berkembang pesat menjadi "smart city" (kota pintar) yang diakui banyak pihak dan manfaatnya pun telah dirasakan langsung banyak warga kota.

Melalui situs resmi Pemkot Surabaya "https://www.surabaya.go.id/", misalnya, warga kota dan siapa saja yang ingin mengetahui perihal layanan publik, keamanan, pariwisata, dan banyak hal lain tentang Surabaya bisa mendapatkannya di laman ini.

Di laman resmi ini juga tersedia informasi tentang Surabaya kini, tentang Surabaya, ekonomi bisnis, pemerintahan, sosial-budaya, dan "Surabaya Smart City".

Tak hanya itu, melalui laman Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Pemkot Surabaya http://musrenbang.surabaya.go.id/, warga pun dapat mengetahui hasil Musrenbang periode 2009 - 2017 sekaligus bisa memberi masukan untuk pembangunan kota mereka.

Bagi warga Surabaya yang ingin menyampaikan usul, mereka dapat melakukannya melalui ketua rukun warga di lingkungan rumah mereka.

Menyadari pentingnya sektor pariwisata bagi mendukung pembangunan ekonomi kota, pemerintah kota pun menyediakan laman https://sparkling.surabaya.go.id/traveller-information/essential-information/ untuk membantu turis asing mendapatkan informasi penting yang mendukung perjalanan wisata mereka di Surabaya.

Keterbukaan dan akses informasi publik yang mendukung terwujudnya akuntabilitas pemerintah kota ini dilengkapi pula dengan berbagai layanan gratis bagi warga, termasuk layanan Call Center 112 dan berbagai program gratis pemberdayaan sumber daya manusia.

Rumah bahasa Menurut Adi Yatmoko, staf dan guru bahasa Inggris Rumah Bahasa Surabaya, layanan Call Center 112 itu merupakan salah satu inovasi terbaru untuk membantu warga dan siapa pun yang sedang berada di Surabaya mendapatkan layanan darurat gratis.

Untuk menyiapkan dan meningkatkan kompetensi bahasa asing warga Surabaya agar mampu dan siap menghadapi pasar bebas Masyarakat Ekonomi Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), pemerintah kota berinisiatif membuka Rumah Bahasa Surabaya, katanya.

Di rumah bahasa yang sudah beroperasi sejak diresmikan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pada 4 Februari 2014 itu, warga ditawarkan kelas gratis Bahasa Inggris, Arab, Belanda, Jepang, Jerman, Korea, Mandarin, Prancis, Rusia, Spanyol, Jawa, dan Indonesia, kata pria berusia 26 tahun ini. Bagi para siswa SD Kota Surabaya yang memerlukan bimbingan belajar (Bimbel), Perpustakaan Balai Pemuda yang dimiliki Pemkot Surabaya pun menyediakan program Bimbel gratis untuk sejumlah pelajaran seperti matematika, Agama Islam, Komputer, dan Sejarah.

"Kita menyelenggarakan bimbel gratis setiap hari dari pukul 14.00 hingga 15.00 WIB ini sebagai salah satu inovasi kita untuk menarik pengunjung ke perpustakaan kita," kata Hamzah, petugas teknis Perpustakaan Balai Pemuda Surabaya.

Di tengah roda pembangunan kota yang membuat "wajah" Surabaya semakin elok di mata warga dan turis asing seperti Johannes Wilhelmus Rovers, di kota perjuangan ini pula, benih-benih kemajuan Indonesia disemai melalui peran pemerintah kotanya yang besar.


Danau Toba, diabadikan oleh Charlie M. sianipar

Jakarta, 28/11 (Benhil) - Presiden Joko Widodo meresmikan Terminal Bandar Udara Internasional Silangit di Silangit, Siborong-Borong, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Jumat (24/11).

Bandar udara tersebut dinilai strategis dan penting dalam upaya mendorong wisatawan lokal dan mancanegara datang ke Danau Toba, yang saat ini memang sedang gencar-gencarnya dipromosikan pemerintah sebagai tujuan wisata dunia.

Sebelum menjadi bandar udara internasional, Bandara Silangit hanyalah sebuah bandar udara perintis yang memiliki fasilitas minim dan landasan pacu yang pendek, yakni 1.800 meter, sehingga hanya bisa didarati pesawat berbadan kecil dengan frekuensi yang sedikit pula.

Namun kini Bandara Silangit sudah mengalami banyak perubahan, baik dari sisi bangunan, landasan pacu, hingga fasilitas serba canggih yang memudahkan penumpang untuk mendapatkan informasi dan kemudahan lain.

Bandara Silangit berkapasitas 500.000 penumpang per tahun ini dilengkapi dengan fasilitas CIQ (Bea Cukai, Imigrasi dan Karantina), landasan pacu 2.650 x 30 meter, dan PCN (tingkat kekerasan landasan) yang bisa mengakomodasi pesawat berbadan sempit sejenis Airbus A320 dan Boeing 737-800.

Bandara Silangit juga mengimplementasikan fitur bandara pintar (smart airport) dengan teknologi digital, antara lain berupa wi-fi gratis, layar jadwal bus dan penerbangan, pembayaran elektronik (e-payment), mesin tiket bus, informasi turis, cek in mandiri (self check-in), dan berbagai fitur digital.

PT Angkasa Pura II menyiapkan Bandara Internasional Silangit di Provinsi Sumatera Utara sebagai salah satu pionir penerapan konsep bandara pintar guna menunjang sektor pariwisata Danau Toba.

Bandara Internasional Silangit menjadi pionir bandara pintar di kategori bandara berkapasitas 500.000 penumpang melalui berbagai fasilitas berbasis digital guna menciptakan pengalaman pelanggan yang baik bagi para wisatawan mancanegara.

Berbagai fasilitas digital tersebut sudah dapat dipergunakan sejak 28 Oktober 2017 atau bersamaan dengan penerbangan rute Singapura-Silangit, yang merupakan rute luar negeri perdana di Bandara Internasional Silangit.

Fasilitas-fasilitas tersebut adalah jadwal bus bandara di mana para pengguna jasa bandara dapat mengetahui estimasi waktu melanjutkan perjalanan dengan moda transportasi ke tempat tujuan masing-masing.

Melihat pembangunan yang begitu pesat, membuat Presiden Joko Widodo akhirnya meresmikan bahkan mengajak semua komponen untuk untuk membuat "ledakan" mengembangkan pariwisata di Danau Toba dan Tanah Batak yang menyimpan begitu banyak kekayaan serta keindahan alam dan budaya.

"Sekitar 74 ribu tahun silam Danau Toba alami ledakan gunung maha dahsyat yang dampaknya terasa sampai sedunia, sekarang kita sedang buat ledakan baru di dunia pariwisata saat gerbang keindahan Toba yang simpan kekayaan budaya dan suku Batak telah terbuka lebar," kata Presiden Joko Widodo.

Adanya bandara ini maka inilah menjadi gerbang bagi wisatawan lokal dan mancanegara untuk berkunjung dan melestarikan budaya adat Batak dan Danau Toba, membangun kampung halaman dan gerbang menuju kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat setempat.

Pemerintah akan memperbanyak frekuensi penerbangan ke Bandara Internasional Silangit, Sumatera Utara, untuk mengembangkan potensi wisata di kawasan itu terutama Danau Toba yang sudah terkenal. Sejumlah maskapai yang sudah melayani penerbangan di Silangit adalah Garuda Indonesia, Sriwijaya Air, Wings Air dan rencananya awal Desember 2017 Batik Air.

Danau Toba adalah salah satu dari 10 tujuan utama yang sedang dikembangkan potensi wisatanya oleh Pemerintahan Joko Widodo dan untuk itu perlu menyediakan infrastruktur bandara yang memadai dan berkelas internasional.

Ke-10 tujuan wisata itu adalah Mandalika (NTB), Labuan Bajo (NTT), Pulau Morotai (Maluku Utara), Tanjung Kelayang (Bangka Belitung), Danau Toba (Sumatera Utara), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Gunung Bromo (Jawa Timur), Candi Borobudur (Jawa Tengah), Pantai Tanjung Lesung (Banten), dan Kepulauan Seribu (DKI Jakarta).

Untuk itu bangunan terminal dan landasan pacu sudah dan akan terus dikembangkan sehingga nanti bisa lebih banyak menampung penumpang. Tentunya kalau frekuensi penerbangan bertambah makin banyak wisatawan datang ke Toba seperti halnya ke Bali.

Makin ramainya Bandara Silangit didarati dan menerbangkan pesawat sangat penting dan strategis mengingat pemerintah telah mencanangkan Danau Toba sebagai salah satu dari 10 tujuan wisata prioritas atau sebagai "10 Bali Baru" dengan target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Sumatera Utara diproyeksikan mencapai sejuta orang pada tahun 2019.

Untuk mencapai angka kunjungan sejuta wisman, dibutuhkan tujuan wisata kelas dunia dan bandara berkelas internasional.

Tujuan Terbaik Dengan penerbangan internasional langsung menuju Danau Toba, objek wisata ini akan menjadi salah satu tujuan wisata terbaik di dunia, dan membawa kesejahteraan untuk masyarakat di Sumatera Utara, khususnya di sekitar Danau Toba.

Jika dilihat dari jarak dari Bandara Kualanamu, Medan, menuju Danau Toba di Parapat, dibanding dengan dari Bandara Silangit menuju Danau Toba di Parapat, maka jarak tempuh lebih cepat dari Bandara Silangit sekitar 2,5 jam.

Oleh sebab itu, keberadaan Bandara Silangit yang kini memiliki banyak jadwal penerbangan bisa memudahkan wisataan lebih banyak lagi datang ke Danau Toba. Bahkan Pemerintah sebelum 2020 akan memperpanjang landasan pacu Bandara Silangit menjadi 3.000 meter, agar bisa menampung pesawat berbadan lebih lebar lagi.

Saat ini pemerintah pusat dan daerah bersama-sama membenahi akses menuju Danau Toba dengan membangun serta memperbaiki sejumlah infrastruktur, serta mengampanyekan bersih lingkungan di danau terbesar di Indonesia itu.

Salah satu bukti nyata pemerintah mengembangkan Danau Toba adalah Presiden Joko Widodo pada 1 Juni 2016 menandatangani Peraturan Presiden Nomor 49 Tahun 2016 tentang Badan Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata Danau Toba.

Badan itu bertugas mempercepat proses pembangunan Danau Toba yang masuk dalam 10 tujuan wisata prioritas nasional. Adanya badan otoritas tersebut ditambah dengan makin banyaknya rute penerbangan langsung menuju Bandar Udara Internasional Kuala Namu, serta Bandar Udara Silangit diharapkan jumlah wisatawan lokal dan mancanegara yang berkunjung ke kawasan itu akan bertambah.

Selain memiliki bandara itu, sejumlah akses jalan tol juga dibangun dalam upaya mempermudah wisatawan berkunjung ke Danau Toba, yaitu membangun jalur tol dari Kualanamu ke Tebing Tinggi, menuju Siantar, dan Parapat. (Ben/An)

Ahmad Wijaya


"Kami punya sumber daya alam (SDA) yang cukup dan berlimpah, dari hutan dan sekitarnya. Jika dikelola dengan baik dan benar tentu akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang berada di lingkup Komunitas Adat Baringin." Harapan itu disampaikan Kepala Desa (Kades) Baringin, Kecamatan Maiwa, Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan, Made Amin, saat berdiskusi dengan kalangan media massa di desa itu, yang berlangsung sejak bakda shalat Isya hingga tengah malam pada Sabtu (21/10) 2017.

Untuk sampai ke Desa Baringin, membutuhkan waktu lebih dari enam jam dengan jalur darat. Namun, karena sedang ada program pengecoran jalan desa, maka untuk menuju desa itu masih harus dilanjutkan dengan berjalan kaki dan sepeda motor sehingga cukup menguras energi.

Bersama unsur utama dalam sistem struktur kepemimpinan adat dan kelembagaan Masyarakat Adat Baringin yang disebut dengan istilah "Appa Allirinna Wanua" diskusi lepas berlangsung secara "sersan" (serius tapi santai) bersama parapihak lainnya.

Parapihak tersebut -- yang mendorong percepatan pengakuan pemerintah/negara pada komunitas Masyarakat Adat Baringin itu -- adalah organisasi Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), baik dari Pengurus Wilayah (PW) Sulawesi Selatan, Pengurus Daerah (PD) Kabupaten Enrekang, Sulawesi Community Foundation (SCF), dan Kemitraan (The Partnership for Governace Reform).

Made Amin menjelaskan dalam struktur kelembagaan adat, mengenai peran dan fungsi lembaga adat bersumber dari "Peppasang" (aturan adat).

Dalam susunan kelembagaan Masyarakat Adat Baringin, "To Matua" ditempatkan sebagai puncak pimpinan dalam adat, yang di bawahnya ada yang disebut "Dulung", "Sara'" dan "Sanro".

Masing-masing fungsinya, "To Matua" adalah pimpinan pemerintahan lembaga adat, kemudian "Dulung" adalah lembaga adat yang mengatur urusan pertanian, perkebunan, dan pengelolaan sumber daya alam di wilayah Masyarakat Adat Baringin.

Sedangkan "Sara'", adalah lembaga adat yang berfungsi untuk mengatur urusan keagamaan /spiritual, dan "Sanro", yakni lembaga adat yang mengatur urusan kesehatan / pengobatan.

Untuk sistem pengambilan keputusan adat, di wilayah Masyarakat Adat Baringin dilakukan dengan musyawarah untuk mufakat, yang dikenal dengan istilah "Sipulung Wanua", di mana pengambilan keputusan dalam hukum adat Kajang selalu harus mengacu pada aturan adat (peppasang).

Bagi Made Amin -- yang mengaku bahwa nama "Made" di depan namanya yang seperti nama di Bali, namun ia adalah putra asli Desa Baringin -- selama hampir 12 tahun ia memimpin desa itu, dirinya selalu menyelaraskan kelembagaan "modern" desa dengan budaya adat.

"Kombinasi antara bentuk desa dalam perspektif pemerintahan modern dengan aturan dan hukum adat menjadikan semua permasalahan yang ada di masyarakat dapat diselesaikan dengan baik," kata alumnus jurusan Ilmu Sosial dan Politik Universitas Hassanudin (Unhas) Makassar itu.

Ia menyebut kombinasi "modern-adat" itu biasanya dilakukan pada peristiwa rumit, seperti soal sengketa pertanahan.

"Saya mengambil posisi untuk kasus-kasus tanah wajib dimintakan penyelesaian melalui 'To Matua' dulu, dan diharapkan tidak harus melalui aturan hukum formal yang lebih panjang prosesnya. Alhamdulillah selama ini mekanisme itu berhasil," katanya.

Kontribusi Bersama Perjalanan panjang untuk pada akhirnya Masyarakat Adat Baringin mendapat pengakuan dari negara -- yang pada akhirnya bermuara pada pemberian pengakuan hutan adat -- mendekati cita-cita yang diinginkan parapihak untuk percepatan lahirnya pengakuan itu.

"Kita membutuhkan kontribusi bersama untuk percepatan pengakuan (Masyarakat Adat Baringin) dan penetapan (hutan adat) sehingga masyarakat Desa Baringin bisa lebih sejahtera," kata Ketua Pengurus Wilayah (PW) Aman Sulsel Sardi "Ian" Razak.

Ia menjelaskan bahwa itikad baik atas perjuangan pengakuan dan penetapan itu ditunjukkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Enrekang dalam bentuk lahirnya Peraturan Daerah (Perda) No 1 tahun 2016 tentang Pedoman Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat tertanggal 31 Oktober 2016.

Kemudian, ditindaklanjuti dengan menerbitkan SK Bupati No. 470/Kep/X/2016 tentang Pembentukan Panitia Masyarakat Hukum Adat dan lahirnya Surat Edaran Bupati Enrekang Muslimin Bando No. 047/3566/SETDA tentang Identifikasi dan Verifikasi Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Enrekang.

Dalam prosesnya, menurut Ian -- panggilan karib Sardi Razak -- agenda memperjuangkan penetapan hutan adat dilakukan bersama parapihak dengan ketemu "To Matua" dan kades, melalukan verifikasi ulang, hingga akhirnya ditetapkan hutan adat seluas 444,9 hektare yang diusulkan kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

"Bila penetapan untuk hutan adat itu telah diputuskan oleh KLHK, maka statusnya nanti bukan lagi 'hutan negara' tetapi hutan hak, yang diberikan kepada Masyarakat Adat Baringin untuk bisa dikelola, dijaga dan dimanfaatkan, sehingga hutan tetap lestari dan masyarakat juga sejahtera, meski dalam faktualnya belum sejahtera," katanya.

"Dengan surat keputusan (SK) penetapan, nantinya tidak akan ada lagi kriminalisasi kepada masyarakat yang memanfaatkan hutan," ujarnya.

Terlebih, kata dia, juga sudah ada putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 35/PUU-X/2012 yang menegaskan kembali bahwa hutan adat adalah hutan yang berada dalam wilayah masyarakat adat, dan bukan lagi sebagai hutan negara Bagi Ketua Pengurus Daerah (PD) Aman Kabupaten Enrekang Paundanan Embongbulan, esensi yang utama untuk memperjuangkan hak-hak adat masyarakat adalah pada titik yang disebutnya "perjuangan pengakuan" (dari pemerintah) itu.

"Melalui pengakuan penetapan (hutan adat) dari KLHK itu, maka pemerintah daerah secara bertahap bisa menindaklanjuti untuk mengindentifikasi apa yang dibutuhkan untuk membantu program pemberdayaannya," katanya.

Dengan demikian, melalui program pemberdayaan dari pemerintah daerah maka kelembagaan adat di desa dapat lebih berdaya sebagaimana mestinya.

Isyarat untuk pemberdayaan masyarakat itu, telah diperlihatkan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Kabupaten Enrekang.

Melalui diskusi dengan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Kabupaten Enrekang Arifin Bando isyarat dimaksud diperkuat.

"Bupati merespons cepat, baik sejak pengusulan dan menjadi Perda berkoordinasi dengan DPRD, membentuk kepanitiaan bersama, sampai sosialisasi kepada masyarakat," katanya.

"Kata kuncinya, sebenarnya untuk komunitas Masyarakat Adat Baringin bukanlah perjuangan, hanya tinggal legalitas (pengakuan) saja yang memang membutuhkan persoalan administratif ketatanegaraan," katanya.

Sebagai wujud komitmen itu, pihaknya mengupayakan pada 2018 akan ada alokasi bagi program pemberdayaan bagi komunitas Masyarakat Adat Baringin, yang disebutnya "akan diseuaikan dengan kekuatan anggaran" dinas yang dipimpinnya itu.

Dorongan Salah satu pihak yang ikut memberikan sumbangsih bagi perjuangan untuk mendapatkan hak adat di Desa Baringin, yakni Sulawesi Community Foundation (SCF) melihat bahwa kerja bersama yang dilakukan akan memberikan dorongan bagi upaya-upaya menuju kesejahteraan masyarakat melalui adanya pengakuan hutan adat itu.

SCF adalah sebuah organisasi nirlaba berbentuk yayasan yang didirikan oleh multi-stakeholder (Kelompok Masyarakat /Adat, LSM/Ornop, perguruan tinggi, Aliansi Jurnalis Lingkungan dan pemda/Dinas Kehutanan Propinsi) yang peduli terhadap kondisi Pengelolaan Sumber Daya Alam (PSDA) Sulawesi.

"Kami 'concern' pada upaya mendorong masyarakat dan petani di sekitar hutan untuk program perhutanan sosial," kata "Program Officer" SCF Sutrisno Absar.

Di dalam program perhutanan sosial, SCF menyebut bahwa isu kemiskinan di berbagai wilayah merupakan persoalan masa lampau, terutama kemiskinan di wilayah desa belum dapat teratasi dengan baik, padahal potensi sumber daya alam cukup melimpah yang dapat dikelola dengan baik.

Saat ini, kebijakan pemerintah melalui KLHK yang memberikan akses bagi masyarakat sekitar hutan dalam pengelolaan hutan melalui skema Hutan Kemasyarakatan, Hutan Desa maupun Hutan Kemitraan dan terakhir dengan pengakuan terhadap Hutan Adat, memberi peluang kepada masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar hutan ataupun masyarakat adat untuk mendapatkan akses dan kepastian dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya hutan.

Sementara itu, "Project Manager" Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Kemitraan Gladi "Yayan" Hardiyanto menjelaskan sejak 2009 pihaknya bekerja di daerah-daerah guna mendorong program perhutanan sosial.

Dorongan itu, khususnya untuk penetapan hutan adat, sangat dibutuhkan, terlebih bila merujuk pada komitmen Presiden Joko Widoso dalam menuntaskan target 12,7 juta hektare hutan untuk rakyat dalam program Nawacita-nya.

"Kita akan kejar agar (pengakuan dan penetapan) hutan adat bisa bertambah," kata Yayan, panggilan karib Gladi Hardiyanto.

Meski demikian, ia juga mengingatkan bahwa bila penetapan hutan adat sudah diperoleh masyarakat, yang notabene telah berubah statusnya menjadi hutan hak maka fungsi hutannya harus dipertahankan dan tidak berubah peruntukannya.

"Seperti berubah fungsi menjadi perkebunan atau pertambangan, sehingga hutan tetap dijaga, dan masyarakat bisa mengelolanya dengan prinsip-prinsip kelestarian," katanya.

Rotan, Durian Hingga Eboni Kades Baringin Made Amin menegaskan bahwa potensi-potensi besar dari SDA yang ada di kawasan adat setempat, di antaranya mulai dari rotan yang disebutnya "melimpah", hingga buah durian lokal, sampai kayu eboni.

Menurut "Wikipedia", kayu hitam Sulawesi adalah sejenis pohon penghasil kayu mahal dari suku eboni-ebonian (Ebenaceae). Nama ilmiahnya adalah "Diospyros celebica", yakni diturunkan dari kata "celebes" (Sulawesi), dan merupakan tumbuhan endemik daerah itu.

Pohon ini menghasilkan kayu yang berkualitas sangat baik. Warna kayu coklat gelap, kehitaman, atau hitam berbelang-belang kemerahan. Dalam perdagangan internasional kayu hitam sulawesi ini dikenal sebagai "Macassar ebony", "Coromandel ebony", "streaked ebony" atau "juga black ebony".

Nama-nama lainnya di Indonesia di antaranya kayu itam, toetandu, sora, kayu lotong, dan kayu maitong. Kayu hitam itu berat jenisnya melebihi air, sehingga tidak dapat mengapung.

Kayu hitam sulawesi terutama digunakan untuk mebel mahal, ukir-ukiran dan patung, alat musik, misalnya gitar dan piano, tongkat, dan kotak perhiasan.

"Beberapa peneliti dari LIPI, Kebun Raya Bogor, dan beberapa lainnya sudah datang ke Baringin untuk melihat pohon eboni, yang merupakan 'kayu termahal' ini," katanya.

Khusus untuk durian, di Desa Baringin hampir di semua kawasan hutan maupun kebun masyarakat terdapat pohon durian, yang bisa berbuah sepanjang tahun.

Mimpi dari Made Amin -- setelah sempat melihat langsung pengelolaan agrowisata buah apel di Kota Batu, Jawa Timur -- adalah menjadikan durian untuk kepentingan pariwisata berbasis agro itu.

"Nantinya, siapapun yang datang, termasuk wisatawan, bisa memetik durian langsung dari pohonnya. Ini sangat potensial dikembangkan, dan nantinya akan bisa menjadi salah satu andalan untuk ekonomi warga," katanya.

Sedangkan untuk rotan, hampir di semua kawasan hutan terdapat sumber daya alam itu. Hanya saja, hingga kini pengelolaannya sebatas dalam bentuk bahan mentah, yang minim nilai tambah ekonomi.

"Di Cirebon, Jawa Barat saja, yang tidak mempunyai tumbuhan rotan ini, bisa mengambil nilai tambah tinggi pada industri kreatifnya. Tentu, sediaan rotan yang melimpah di Desa Baringin ini, semestinya bisa dikelola dengan lebih baik ," katanya.

Kerja dan proses panjang masyarakat Desa Baringin untuk mendapatkan pengakuan, hingga penetapan untuk hutan adat, secara kolaboratif telah diperjuangan masyarakat dan parapihak, baik pemerintah maupun non-pemerintah.

Pada akhirnya, jika pengakuan dan penetapan nantinya sudah diperoleh, maka tugas besar lainnya adalah bagaimana potensi SDA yang ada di Desa Baringin itu mampu dikelola bagi sebesar-besar manfaatnya untuk masyarakat dengan tetap pada komitmen terjaganya fungsi hutan dan lingkungan secara lestari.

Andi Jauhari

Lore Lindu Megalitik

Jakarta, 22/10 (Benhil) - Di masa lalu, manusia belum mengenal peralatan dari logam, mereka membuat segala perabotannya dari apa yang didapat dari alam sekitar, seperti kayu, daun, tulang, kulit binatang, dan juga dari batu.

Peninggalan batu-batu besar berbentuk tugu (menhir), bejana batu (kalamba), meja batu (dolmen), tempat jenazah (sarkofagus), atau punden berundak, menjadi bukti-bukti yang tak mudah lekang digerus zaman soal adanya peradaban beratus dan berpuluh abad silam di berbagai tempat.

Di Indonesia, salah satu lokasi peninggalan kebudayaan zaman megalitik (batu besar) tertua bisa disaksikan di kawasan Cagar Budaya Lore-Lindu di Sulawesi Tengah, di mana telah ditemukan antara 67 hingga 83 situs.

Hasil uji pertanggalan karbon peninggalan megalitikum yang tersebar di kawasan Lore menunjukkan usia kebudayaan ini berada di kisaran 2000 tahun sebelum masehi.

Sedangkan, hasil penelitian berdasarkan temuan tulang-tulang rangka manusia di salah satu kubur tempayan di situs Wineki, Lembah Behoa mengungkapkan sisa-sisa peninggalan tersebut diperkirakan berusia sekitar 2351-1416 sebelum masehi yang kemudian punah pada sekitar tahun 1452-1527 masehi.

Peninggalan zaman megalitikum tersebut tersebar di lebih dari 200 ribu hektare di kawasan Taman Nasional Lore Lindu di Kabupaten Poso dan Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah yang masih berkarakter vegetasi hutan hujan dataran rendah dan hutan hujan pegunungan.

Di Kabupaten Sigi, kawasan yang memiliki persebaran megalitik dikenal dengan nama Lindu, sedangkan di Kabupaten Poso, dikenal dengan kawasan Lore di mana terdapat tiga lembah yang memiliki persebarannya, yakni Lembah Napu, Lembah Behoa dan Lembah Bada. Artikel menarik lainnya: Memetakan Hutan Adat Lindu, Melindungi Jantung Sulawesi.

Temuan megalitik tersebut berupa bejana batu (kalamba), tempayan kubur, arca, menhir, batu lumpang, batu dakon, batu lesung, batu dulang, punden berundak, hingga pagar/benteng.

Dari aspek sejarah, kehadiran cagar budaya kawasan Lore-Lindu dinilai memberi sumbangan sangat berarti dalam perkembangan migrasi penutur bahasa Austronesia yang secara teoritis masuk ke wilayah Nusantara melalui wilayah Sulawesi (jalur utara) dan diketahui sebagai moyang bangsa Indonesia.

DNA Austronesia Dari hasil analisis DNA pada pendukung budaya di Situs Tadulako di Lembah Behoa, menurut arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Dwi Yani Yuniawati Umar, diketahui dapat digolongkan sebagai sekuens DNA manusia modern yang termasuk dalam suku bangsa Austronesia.

Dari pendekatan filogenetik dengan menggunakan "genetic distance" menunjukkan adanya kedekatan kekerabatan DNA manusia Tadulako dengan lima populasi di Sulawesi saat ini, yakni etnik Kajang di Bulukumba dan etnik Toraja di Provinsi Sulawesi Selatan, etnik Mandar di Sulawesi Barat, etnik Kaili di Sulawesi Tengah, dan etnik Minahasa di Sulawesi Utara.

Diperkirakan, masyarakat pendukung budaya megalitik yang dibawa oleh penutur Austronesia protosejarah ini sudah mengenal dan membuat rumah-rumah bertiang sederhana sebagai tempat bermukim yang dari hasil etnoarsitektur tampaknya dibangun dengan menggunakan batu sebagai alasnya.

Dari hasil survei dan ekskavasi yang dilakukan di tiga lembah, Lembah Napu, Lembah Behoa dan Lembah Bada, memang diketahui bahwa situs-situs yang ditemukan merupakan suatu pemukiman.

Dalam pemukiman tersebut terdapat ruang untuk tempat berdiam, ruang untuk melakukan upacara ritual, ruang untuk penguburan, ruang perbengkelan, dan ruang sumber bahan baku.

Ditemukan pula dalam kalamba-kalamba tersebut fragmen-fragmen gerabah berupa wadah dan manik-manik, serta temuan di sekitarnya berupa gelang logam, batu gerinda, senjata logam, dan pemukul dari batu, ujar dia.

Dari hasil penelitian, kehidupan masyarakat ini diperkirakan juga telah menetap dalam bentuk kelompok-kelompok menyerupai kehidupan di perkampungan seperti di masa sekarang dan mengenal adanya stratifikasi sosial dan strata kepemimpinan.

Masyarakat zaman megalitik ini juga memiliki pembagian kerja antara kaum laki-laki yang lebih fokus pada mengerjakan perbengkelan dan pertanian serta kaum perempuan yang mengurusi rumah tangga.

Warisan Dunia Saat ini kawasan cagar budaya Lore-Lindu sedang disiapkan untuk diajukan ke United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menjadi warisan dunia (world heritage).

Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Gorontalo yang menangani wilayah Sulawesi Zakaria Kasimin menargetkan sedikitnya lima tahun kawasan ini sudah siap dicalonkan masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia yang terdapat di Indonesia.

Ini berarti bisa melengkapi delapan situs yang saat ini sudah menjadi warisan dunia, yakni empat situs alam, Taman Nasional Komodo, Ujung Kulon, Lorentz, dan Hutan Hujan Tropis Sumatera, serta empat situs budaya, Candi Borobudur, Prambanan, situs manusia purba Sangiran dan Subak di Bali.

Apalagi, temuan bejana batu prasejarah di situs ini cukup langka di dunia yang hanya ditemukan dalam jumlah terbatas seperti di "Plain of Jars" di Laos yang sudah masuk dalam daftar tentatif nominasi warisan budaya dunia.

Ditambah lagi, dari hasil riset, kawasan dengan luasnya yang lebih dari 200 ribu hektare ini bisa jadi merupakan yang terbesar persebarannya di Asia Tenggara dibanding peninggalan di Laos yang terkenal itu.

Untuk target menjadi warisan dunia, BPCB, kata Zakaria, pada 2018 berencana melakukan deliniasi (mencari batas-batas persebaran situs) yang diperkirakan tersebar antara Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Barat serta melakukan zonasi inti, penyangga, pengembangan, dan zonasi penunjang.

Namun demikian, suatu warisan yang diusulkan memang harus melewati tahap yang tidak mudah, seperti harus menjadi warisan nasional lebih dulu yang benar-benar bernilai tinggi dan berpotensi mendapat pengakuan dunia.

Setelah seleksi di tingkat nasional, baru warisan nasional tersebut bisa diusulkan menjadi warisan dunia, yang kemudian diajukan ke dalam Daftar Sementara (Tentative List) ke Sekretariat World Heritage.

Lembaga tersebut kemudian akan melakukan kajian terhadap naskah serta peninjauan ke lokasi dan hasilnya akan dibahas bersama sesuai kriteria dalam Sidang Komisi Warisan UNESCO.

Saat ini secara nasional, ada belasan calon warisan dunia lainnya yang juga sudah mendaftar, seperti pemukiman tradisional Tana Toraja, situs percandian Muara Takus, kompleks candi Muarajambi, situs Trowulan ibu kota Kerajaan Majapahit, situs goa prasejarah di Maros-Pangkep, hingga Kota Tua Jakarta.

Karena itu berbagai pihak terkait, termasuk pemda dan masyarakat setempat seharusnya juga mendukung persiapan ini, selain karena sejarah kebudayaan situs megalitik ini sangat penting untuk terus digali dan diungkap, juga akan membantu masyarakat Nusantara mengenal jati dirinya.

Sedangkan dari aspek praktis, cagar budaya ini akan sangat bermanfaat sebagai aset daerah dan jika dikembangkan bisa bermanfaat untuk kepentingan ekonomi masyarakat setempat menjadi lokasi wisata nasional. (Ben/An)

Dewanti Lestari

Banten Lama

Objek wisata Banten Lama, jarak tempuhnya sekitar 10 kilometer dari Alun-Alun Kota Serang dengan waktu tempuh kurang lebih 30 menit.

Namun, sayangnya kondisi Banten Lama tersebut jauh dari harapan wisatawan. Pasalnya, yang tersisa hanyalah cerita mengenai kejayaan Kesultanan Banten itu pun mulai memudar seiring dengan kondisi objek wisata yang terkesan tidak terawat.

Seperti halnya objek wisata sejarah di Indonesia yang terbengkalai, nasib Banten Lama yang masuk dalam wilayah Kecamatan Kasemen tersebut tidak terawat akibat keterbatasan anggaran. Inisiatif perbaikan saat ini mulai menggunakan anggaran pemerintah provinsi. Itu pun pelaksanaannya bertahap.

Sebenarnya, apa saja yang terdapat di dalam kompleks Banten lama sehingga membuat peninggalan sejarah ini patut untuk menyelamatkannya. Kalau melihat geografisnya, lokasi yang berada di tepi pantai tersebut seharusnya dapat menjadi potensi mendatangkan devisa bagi pemerintah daerah karena selain memiliki cerita sejarah, juga pemandangannya akan membawa pengunjung ke beberapa abad silam.

Di dalam kompleks Banten Lama, pengunjung dengan mudah dapat menemukan peninggalan Keraton Surosowan, Keraton Kaibon, dan Benteng Spellwijk. Di kawasan tersebut juga terdapat Museum Kepurbakalaan Banten, Masjid Agung Banten, dan Vihara Avalokitesvara.

Vihara Avalokitesvara pada abad ke-16 yang merupakan salah satu Vihara tertua di Indonesia. Vihara ini memiliki sebutan sebagai Kelenteng Tridarma karena Vihara ini melayani tiga kepercayaan, yaitu Buddha, Kong Hu Cu, dan Taoisme. Bagi wisatawaan yang beragama lain, tetap dapat mengunjungi vihara ini dengan leluasa.

Salah satu pengurus vihara ini menjelaskan bahwa patung Dewi Kwan Im yang berada di dalam Vihara sudah berumur hampir sama dengan bangunan tersebut. Pada tahun 2009, vihara ini pernah mengalami kebakaran akibat arus pendek listrik.

Kebakaran yang terjadi pada saat itu membuat sebagian bangunan habis terbakar. Akan tetapi, patung Dewi Kwan Im yang bersejarah tersebut berhasil selamat dari kobaran api.

Tidak hanya masyarakat lokal yang berkunjung ke vihara ini, banyak wisatawaan dari luar daerah datang berkunjung untuk beribadah maupun sekadar ingin tahu, bahkan wistawan dari luar negeri juga ikut berkunjung ke lokasi ini.

Pada saat ini, Pemerintah Provinsi Banten sedang melakukan penataan di sekitar wilayah vihara bersejarah ini. Penataan yang dilakukan oleh Pemprov Banten ialah dari kebersihan, penataan pedagang kaki lima, pemisahan zona-zona khusus yang memiliki nilai sejarah, serta perbaikan kanal-kanal yang ada di sekitar kawasan tersebut.

Penataan ini bertujuan agar pengunjung yang datang ke daerah wisata Banten Lama merasa nyaman. Selain itu, melestarikan nilai-nilai sejarah yang berada di kawasan Banten Lama.

Objek sejarah lainnya yang wajib dikunjungi di kompleks Banten Lama adalah Istana Keraton Kaibon. Berdasarkan cerita sejarahnya tempat ini merupakan kediaman Ratu Aisyah ibu dari Sultan Syaifuddin.

Bangunan ini hancur karena di serang tentara Belanda pada saat peperangan melawan Kerajaan Banten yang tersisa sampai saat ini hanya sebagian dari bangunan istana.

Di lokasi yang berdekatan terdapat Istana Keraton Surosowan merupakan kediaman para Sultan Banten, di antaranya Sultan Maulana Hasanudin hingga Sultan Haji.

Masjid Agung Banten merupakan salah satu bangunan peninggalan Kerajaan Banten yang hingga kini masih berdiri kukuh. Dibangun pada tahun 1652, tepat pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanudin, putera pertama Sunan Gunung Jati.

Masjid ini memiliki beberapa keunikan corak, di antaranya menaranya berbentuk mirip mercusuar, atapnya menyerupai atap dari pagoda khas gaya arsitektur Cina, ada serambi di kiri-kanan bangunan, serta kompleks pemakaman sultan Banten beserta keluarganya di sekitar kompleks masjid.

Di dalamnya terdapat sembilan makam sultan beserta keluarganya. Makam yang sering dikunjungi pengunjung di antaranya makam Sultan Hasanudin dan makam Sultan Abul Mafakhir.

Makam sultan Maulana Hasanudin beserta keluarga dan para pengawalnya berlokasi di sisi utara Mesjid Agung Banten, terdapat dua bagian bangunan pemakaman pada bagian dalam tempat sultan beserta keluarga, sedangkan di sisi luar makam para pengawal.

Masjid Agung Banten bisa dibilang salah satu masjid tertua di Indonesia juga karena masjid ini berdiri sejak zaman kesultanan di Banten kira-kira pada tahun 1556. Masjid ini pun menjadi saksi sejarah Banten pernah memiliki pemerintahan kerajaan.

Penataan Hasil dari penataan atau revitalisasi menjadikan komples Banten Lama menjadi bersih dan lebih rapi dengan tidak adanya pedagang pedagang yang berkeliaran dan mendirikan gerobak kaki lima, dan halaman di sekitar masjid sudah dipasangi paving block menggantikan hamparan ialang.

Jalan menuju tempat ini pun sangat mudah tinggal menuju Pelabuhan Karangantu atau ke arah Kasemen. Namun, untuk sampai ke jalan tersebut saat ini sedang ada pekerjaan pembetonan.

Pengunjung wisata Banten Lama tetap dapat membeli oleh-oleh dari pedagang yang kini ditempatkan pada lokasi yang sudah ditetapkan. Pedagang biasanya selain menjajakan makanan dan minuman juga cendera mata, seperti kerajinan Suku Badui, golok asli Ciomas, dan masih banyak yang lainnya.

Air Terjun Simatobat

Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar), dikenal menyimpan banyak potensi wisata yang siap memanjakan setiap pengunjungnya, baik potensi alam maupun potensi budaya dari masyarakat adat.

Ombak Lances Right dan Macaronies yang ada di kawasan ini didaulat sebagai dua titik ombak terbaik dari sepuluh ombak terbaik di dunia yang begitu diminati oleh para peselancar dari dalam maupun luar negeri.

Mentawai tidak hanya memiliki laut yang dapat memikat hati para wisatawan karena masih banyak potensi alam lain yang tidak kalah menarik selain gulungan ombak yang tersebar di seluruh pesisir pulaunya. Di daerah pedalaman Pulau Pagai Selatan yang secara administratif menjadi kecamatan Pagai Selatan, tersimpan pesona alam yang masih belum diketahui oleh banyak wisatawan maupun masyarakat Sumbar.

Air Terjun Simatobat atau yang dikenal oleh masyarakat sekitar dengan sebutan Air Terjun Bungo Rayo ini merupakan salah satu dari sekian banyak air terjun yang ada di daerah Keulauan Mentawai, seperti Air Terjun Kulukubuk yang ada di Siberut Selatan.

Air Terjun ini tidak setinggi air terjun lain yang ada di Sumbar dengan ketinggian hingga puluhan meter. Memiliki ketinggian hanya 15 meter agaknya cukup untuk memberikan daya tarik tersendiri bagi setiap pengunjung.

Tak hanya Air Terjun Simatobat yang ada di sepanjang aliran sungai ini, ke arah hulu masih ada setidaknya lima air terjun lain dengan tinggi dan lebar yang berbeda.

Selain pesona air terjun, di sekitarnya terdapat berbagai potensi yang dapat menunjang keberadaan air terjun tersebut dalam upaya pengembangan kawasan objek wisata minat khusus atau ecotourism.

Pelaksana Tugas Kepala UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kepulauan Mentawai Tasliatul Fuaddi mengatakan potensi tersebut terlihat dari keberadaan flora dan fauna yang ada di sekitarnya.

Di sekitar air terjun tersebut terdapat gua yang termasuk kategori gua hidup, sebab di dalam gua tersebut terdapat stalaktit atau sejenis mineral sekunder (speleothem) yang menggantung di langit-langit gua kapur serta stalakmit yang merupakan batuan yang terbentuk di lantai gua yang merupakan hasil dari tetesan air di langit-langit di atasnya.

Selain keberadaan gua yang menjadi habitat kawanan burung walet dan keberadaan rusa di sekitar aliran sungai, di sekitar kawasan tersebut juga terdapat kawanan primata yang menjadi endemik khas Mentawai. Menurut dia, di sekitar kawasan air terjun tersebut masih terdengar suara Bilou dan Bokoi, primata yang menjadi endemik khas Mentawai.

Selain fauna, keberadaan flora atau tumbuh-tumbuhan di sekitar kawasan tersebut berpotensi untuk dikembangkan, seperti keberadaan berbagai jenis tumbuhan komersil dan vegetasi di sekitar daerah tersebut masih rapat, berupa hutan sekunder.

Siap Dikembangkan Mengetahui potensi yang tersimpan di Desa Bulasat, Kecamatan Pagai Selatan, ini pemerintah setempat siap melakukan berbagai pengembangan untuk menjadikan kawasan Air Terjun Simatobat sebagai salah satu tujuan wisata.

Sektor pariwisata merupakan salah satu bidang yang menjadi perhatian pemerintah daerah setempat dalam upaya menyejahterakan masyarakat dan keluar dari ketertinggalan.

Bupati Kepulauan Mentawai Yudas Sabagallet mengatakan untuk menunjang pariwisata di daerah tersebut pihaknya tengah mengupayakan untuk melengkapi berbagai infrastruktur penunjang. Diakuinya wilayah Pagai Selatan memang belum tersentuh secara maksimal, akan tetapi dengan adanya potensi ini kami akan fokus ke sana.

Selain itu dalam upaya pengembangan lebih lanjut pihaknya dengan bersinergi bersama berbagai pihak terkait akan mengupayakan untuk dikeluarkannya daerah tersebut dari hak pengelolaan hutan (HPH).

dia mengaku sudah mendapat masukan juga dari Dinas Kehutanan terkait hukum dan aturan, selanjutnya kami akan memproses hal ini dan akan segera mengusulkannya ke provinsi.

Untuk menggali berbagai potensi yang tersimpan di sekitar kawasan Air Terjun Simatobat, kawasan tersebut akan ditetapkan sebagai kawasan ekosistem esensial (KEE) dan areal bernilai konservasi tinggi (ABKT/HCV).

Melihat potensi tersebut, Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Sumatera Barat Hendri Octavia mendukung kawasan Air Terjun Simatobat ditetapkan sebagai KEE dan ABKT/HCV.

Pemerintah, kata dia, mendukung daerah ini ditetapkan sebagai KEE atau ABKT dalam rangka konservasi keanekaragaman hayati dan menghasilkan jasa lingkungan.

Lebih lanjut ia menjelaskan hal tersebut dilakukan karena berkaitan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dari berbagai aspek di sekitar kawasan tersebut.

Lazimnya, pengembangan pariwisata dengan berbasis pada konservasi lingkungan harus memberikan dampak positif bagi berbagai aspek, baik itu alam atau lingkungan, masyarakat serta pemerintah setempat. Menurut beliau, terdapat beberapa kriteria dari sebuah kawasan untuk dapat ditetapkan sebagai lokasi Ekosistem Esensial diantaranya adalah memiliki nilai ekologi tinggi.

Selain itu kawasan tersebut harus memiliki keanekaragaman hayati dengan ekosistem yang baik, memiliki unsur sosial ekonomi dan budaya serta berfungsi sebagai lokasi pelestarian.

Sementara itu untuk kategori ABKT/HCV, kawasan Air Terjun Simatobat sendiri memenuhi kriteria sebagai area yang dapat menyediakan jasa ekosistem.

Wilayah tersebut juga merupakan area yang memiliki sumber daya alam yang menyediakan kebutuhan pokok bagi masyarakat lokal yang terkait dengan kenekaragaman hayati.

Untuk melakukan ini, kata dia, maka dibutuhkan kerja sama antara seluruh pemangku kebijakan terkait, serta juga harus ada sinkronisasi dengan pemerintah daerah dalam rangka memperkuat pembangunan. (Ben/An)

Ikhwan Wahyudi dan Syahrul Rahmat

Medan, 13/10 (Benhil)Presiden Joko Widodo kembali meresmikan sejumlah proyek infrastruktur yang ada di Provinsi Sumatra Utara. Kali ini, Kepala Negara meresmikan jalan tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi (MKTT) seksi II-VI ruas Parbarakan-Sei Rampah sepanjang 41,7 kilometer.

Tol Medan

Selain itu, jalan tol Medan-Binjai sepanjang 10,46 kilometer juga turut diresmikan Presiden hari ini, Jumat, 13 Oktober 2017.

Dengan hadirnya jalan tol MKTT tersebut, Presiden berharap perekonomian dan jumlah wisatawan yang datang ke kawasan pariwisata Danau Toba dan sekitarnya dapat terus meningkat. Mengingat jalan tol tersebut akan memangkas jarak tempuh dari Medan ke Toba hingga tiga jam.

"Sehingga yang namanya mobilitas orang, mobilitas barang sangat cepat sekali. Kalau ada mobilitas barang yang cepat, transportasi lebih murah," ujar Presiden.

Di samping itu, penurunan harga barang yang dihasilkan dari pembangunan jalan tol tersebut diyakini Presiden akan meningkatkan peringkat Indonesia untuk bersaing dengan negara lain.

"Kalau diturunkan seperti negara-negara lain 'global competitiveness' kita bisa lebih baik dari 41 jadi 36, sudah mulai membaik," ungkapnya.

Meskipun belum selesai sepenuhnya, Presiden menyatakan jajarannya akan terus berupaya melanjutkan pembangunan jalan tol tersebut. Diharapkan pertengahan tahun 2018 mendatang, jalan tol Kualanamu akan tersambung hingga Tebing Tinggi.

"Ini dicatat yang janji menteri bukan saya. Pertengahan 2018 sudah tersambung 42 kilometer dan 14 kilometer sudah tersambung sampai ke Tebing Tinggi," ucap Presiden.

Guna mewujudkan hal tersebut, Presiden telah memerintahkan jajaran terkait untuk menyelesaikan sejumlah permasalahan yang masih menghambat proses pembangunan jalan tol.

"Saya sudah perintahkan Kapolda, Kejati agar ikut mendukung penyelesaian dipercepat. Tentu kuncinya Kanwil BPN melakukan pendekatan-pendekatan yang baik, karena ini bukan untuk kepentingan 1-2 orang tapi untuk kepentingan rakyat semuanya," kata Presiden.

Selain itu, Presiden juga menyatakan akan membangun sejumlah sarana pendukung di sekitar jalan tol untuk memudahkan mobilitas barang.

"Nanti ada kawasan industri, ada kawasan pelabuhan yang akan memudahkan keluar dan masuknya barang, diangkut ke tempat tujuan," ucap Presiden.

Terakhir, Presiden mengharapkan dengan diremikannya jalan tol, Provinsi Sumatra Utara akan semakin maju. Harapan tersebut disampaikan Kepala Negara lewat sebuah pantun saat meresmikan jalan tol Medan-Binjai seksi: Helvetia-Semayang-Binjai.

"Ikan arsik bumbu andaliman, rasanya lezat tiada tara. Sudah dibangun jalan tol yang nyaman, ayo maju Sumatra Utara," tutur Presiden.

Turut mendampingi Presiden, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri BUMN Rini Soemarno, Gubernur Sumatra Utara Tengku Erry Nuradi.

Jalan Tol Pacu Pertumbuhan Ekonomi Sumut




Dalam kesempatan terpisah, Gubernur Sumatra Utara Tengku Erry mengapresiasi dukungan semua pihak yang mendukung pembangunan jalan tol Medan-Binjai dan Medan-Sei rampah. Bahkan, sertifikat jalan tol tersebut juga sudah dikeluarkan pemerintah. 

"Ini proyek strategis nasional pertama yang sertifikatnya juga sudah langsung selesai," ujar Tengku Erry dalam laporannya.

Ia pun berharap kehadiran jalan tol di Sumatra Utara akan semakin memacu pertumbuhan ekonomi ke arah yang lebih baik. Dimana dalam 2-3 tahun terakhir, perekonomian Provinsi Sumatra Utara telah tumbuh 5-6 persen per tahun.

"Setelah jalan tol ini, pertumbuhan ekonomi Sumatra Utara bisa lebih dari 6 persen," tutur Erry.


Bey Machmudin


Thailand
Jakarta, 13/10 (Benhil) - Peningkatan kemampuan mengemas paket wisata ke sejumlah tujuan wisata di Indonesia tampaknya harus menjadi "pekerjaan rumah" utama pemangku kepentingan pariwisata negeri ini jika ingin meningkatkan kunjungan wisatawan dari Thailand.

Maklum, karakteristik tujuan wisata di Thailand dan Indonesia bisa dikatakan tidak terlalu berbeda. Kedua negara itu, antara lain mempunyai wisata laut, pantai, belanja, dan budaya.

Artinya, wisatawan asal Thailand itu harus mampu diyakinkan bahwa mereka akan mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang unik dan berbeda jika melancong ke Indonesia yang aman dan bersahabat.

Peningkatan kemampuan mengemas paket wisata itu diperlukan mengingat Kementerian Pariwisata (Kemenpar) pada tahun ini menargetkan kunjungan wisatawan asal Thailand sebanyak 118.000 orang atau meningkat dibandingkan 2016 yang sebanyak 98.864 orang.

Meski ada peningkatan, jumlah target kunjungan wisatawan Thailand itu masih jauh di bawah kunjungan wisatawan negara di Asia Tenggara lainnya, seperti Singapura yang mencapai 1.472.767 orang dan Malaysia yang mencapai 1.225.458 orang.

Bagi Indonesia, pertumbuhan wisatawan Thailand, baik yang berwisata di dalam dan ke luar negeri yang selalu meningkat setiap tahun, menjadi perhatian khusus.

Thailand, menurut Kepala Subbidang Misi Penjualan Minat Khusus dan MICE Kemenpar Wiwiek Widyawati, kini merupakan salah satu pasar prioritas Indonesia di wilayah Asia Tenggara.

Thailand memiliki "in-bound" atau wisatawan mancanegara sebanyak 32 juta orang pada 2016, sementara total "out-bound" atau wisatawan Thailand yang ke luar negeri pada 2015 sebanyak 9,65 juta orang.

Komunitas Dalam menyusun paket-paket wisata, mungkin perlu diperhatikan apa yang diungkapkan Vice Consul Konsulat RI di Songkhla, Thailand, Rendy Hadiputra Hadi.

Rendy berpendapat, Kemenpar perlu mengembangkan promosi kepada komunitas minat khusus seperti komunitas "yacht" di Phuket dan warga Muslim di Thailand Selatan yang memiliki anak-anak yang bersekolah dan belajar di Indonesia.

Kemenpar perlu juga melakukan promosi kepada wisatawan asing yang berada di negeri Thailand, mengingat negara yang sukses dengan bisnis wisatanya tersebut menerima sekitar 30 juta wisatawan asing serta promosi dan fasilitasi agar terbentuk jaringan antara operator tour.

Menurut Rendy, dari total "out-bond" wisatawan Thailand pada 2015 yang berjumlah 9,65 juta, Indonesia menjadi tujuan favorit ke-12 bagi warga Thailand. Tujuan utama warga Thailand adalah negara yang berbatasan darat dengan Thailand, yaitu Laos, Myanmar, dan Malaysia.

Sementara itu, wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Thailand Selatan pada 2016 tercatat 101.609 orang. Mereka masuk ke wilayah Thailand Selatan melalui Provinsi Songkhla (62.721), Provinsi Phuket (24.596), Provinsi Krabi (3.907), Provinsi Narathiwat (3.481), Provinsi Suratthani (1.049), Provinsi Yala (4.551), dan Provinsi Satun (1.304).

Jangan Hanya Alam Berkaitan dengan strategi, pemerintah dan pelaku bisnis wisata Indonesia perlu mengemas produk wisata tidak hanya dari sisi alam yang unik dan indah, tapi juga masyarakat atau orang dan kebudayaannya untuk dijual ke pasar Thailand.

Menurut pemerhati pariwisata Paul Edmundus Tallo, Indonesia harus menonjolkan potensi wisata yang dimiliki Indonesia dari sisi manusia dan kebudayaannya, bahkan bisa menjadikannya sebagai "tagline" penjualan wisata Indonesia.

Thailand, kata Paul, dapat dikatakan sebagai "sarang wisatawan" karena tingginya peningkatan jumlah pelancong, baik yang di dalam negeri maupun yang ke luar negeri dari tahun ke tahun.

Oleh karena hal tersebut, pihak terkait harus mempunyai strategi khusus jika ingin menggenjot kunjungan wisatawan dari Thailand ke Indonesia, tentu butuh kemasan khusus.

Misalnya dengan membuat paket-paket produk yang lebih unik dan spesifik yang hanya bisa ditemui di Indonesia, seperti mengenali masyarakat di Indonesia, misalnya orang Jakarta, Jawa Barat atau Tapanuli, serta unsur kebudayaan yang pasti melekat pada masyarakat yang dikunjungi.

Ia yakin produk seperti itu pasti digemari wisatawan asing karena unik, spesifik dan tidak ada di negara lain. Mengetahui fisik orang Jakarta atau Jawa Barat serta dialek dan kebudayaannya misalnya, pasti tidak bakal ditemui di tempat lain kecuali di lokasi orang itu berada.

Produk yang ditawarkan bakal menambah pemahaman, pengetahuan wisatawan berkaitan dengan kunjungan wisatanya yang dilakukan, khususnya tentang orang dan kebudayaannya.

Kolaborasi Kegiatan "sales mission" atau misi penjualan wisata "leisure" ke tiga kota di Thailand, yakni Phuket, Chiang Mai dan Bangkok, yang diselenggarakan Kemenpar pada awal bulan ini diharapkan mampu menemukan terobosan dalam meningkatkan kunjungan wisatawan Thailand untuk melancong ke Indonesia.

Dalam kegiatan yang difasilitasi Kemenpar itu, biro perjalanan asal Indonesia bertemu dengan biro perjalanan asal Thailand.

Mereka dapat berkolaborasi dan menjalin hubungan bisnis sehingga diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan Thailand ke Indonesia melalui penjualan paket wisata dan didukung dengan konektivitas yang semakin luas.

Berdasarkan kuesioner atau "Buyer Profile Report" yang diserahkan dalam kegiatan "Sales Mission" tiga Kota di Thailand itu, terjadi transaksi berpotensi yang diperkirakan mencapai 26.804 pax dengan nilai transaksi Rp54,01 miliar Rinciannya, Phuket sebanyak 2.736 pax senilai Rp6,97 miliar dengan tujuan yang paling diminati Bali, Yogyakarta, Jakarta, dan Surabaya. Chiang Mai sebanyak 7.932 pax senilai Rp14,71 miliar dengan tujuan yang paling diminati Bali, Yogyakarta, Medan, Jakarta, dan Surabaya.

Selanjutnya Bangkok sebanyak 16.136 pax senilai Rp32,33 miliar dengan tjuan yang paling diminati Bali, Yogyakarta, Lombok dan Jakarta atau Bandung. (Ben/An)

Ahmad Buchori

Hutan Mangrove Lampung Timur

Sejumlah ikan glodok terlihat berloncat-loncatan, merangkak naik ke daratan atau bertengger pada akar-akar pohon bakau atau mangrove di sekitarnya. Ikan-ikan itu tampak seperti bercengkerama satu sama lain, seperti tak terusik oleh pengunjung di sekitarnya.

Pemandangan melihat kelincahan ikan glodok itu pun menjadi daya tarik bagi pengunjung, terutama anak-anak dan para pelajar yang datang ke hutan mangrove di Desa Sriminosari.

Ikan glodok itu memang menjadi salah satu daya tarik saat mengunjungi objek wisata hutan mangrove yang terdapat di Desa Sriminosari, Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung.

Saat berkunjung ke objek wisata hutan mangrove ini, selain dapat menikmati suasana alami di dalam hutan mangrove yang tenang, sejuk, dengan pemandangan yang asri, pengunjung juga bisa menyaksikan ratusan ikan glodok atau ikan blodok di atas lumpur di antara sela-sela batang pohon mangrove. Pemandangan bagi pengunjung yang menyenangkan hati dan sayang jika dilewatkan.

Dari atas rute traking sepanjang 900 meter melalui batang pohon bambu di atas tanah berlumpur menembus hutan mangrove menuju pantai di pesisir Kabupaten Lampung Timur itu, pengunjung bisa melihat ikan-ikan glodok berenang dan melompat-lompat di atas tanah berlumpur yang berair.

Bentuk badan ikan ini yang lucu seperti torpedo, dengan mata menonjol seperti kodok membuat mata kita tidak bosan meihat tingkah polahnya.

Informasi dari berbagai referensi menyebutkan, ikan glodok bisa merangkak naik ke darat atau bertengger pada akar-akar pohon bakau, dan itulah kemampuan luar biasa ikan glodok atau disebut juga ikan tembakul ini.

Ikan ini hidup di zona pasang surut di lumpur pantai terdapat pohon-pohon bakau. Ikan ini telah menyesuaikan diri untuk hidup di darat meskipun belum sepenuhnya. Matanya yang besar dan mencuat keluar dari kepalanya, sehingga ketika berenang, matanya itu biasanya berada di atas air. Sirip dadanya pada bagian pangkal berotot, dan sirip ini bisa ditekuk hingga berfungsi seperti lengan yang dapat digunakan untuk merangkak atau melompat di atas lumpur.

Ikan glodok biasanya ditemukan di muara-muara sungai yang banyak pohon bakaunya, di pantai pulau-pulau karang yang ada bakaunya, glodok juga dapat di temukan, termasuk di pantai Kabupaten Lampung Timur.

Beberapa jenis ikan glodok itu, seperti Periophthalmus koelreuteri (dengan panjang sekitar 150 mm) dan Periophthalmus vulgaris (panjang sekitar 105 mm).

Bila air surut ikan glodok banyak terlihat keluar dari air, merangkak atau melompat-lompat di atas lumpur, dan jika air pasang ikan itu akan masuk ke hutan bakau, serta baru turun kembali ke lumpur-lumpur pantai bila air telah surut atau bersembunyi pada lubang-lubang sarangnya.

Menurut sejumlah sumber dari hasil penelitian, menyatakan toleransi ikan itu sangat besar terhadap perubahan salinitas air. Sirip dada ekornya digunakan sebagai alat gerak di darat. Ikan ini kadang-kadang bergerombol bertengger pada akar-akar tunjang pohon bakau Rhizophora sp atau berada di antara akar-akar tunjang pohon bakau Sonneratia sp. Sirip perutnya yang menyatu berfungsi sebagai alat pengisap untuk berpegangan.

Organ pernapasan pada ikan glodok adalah insang tetapi telah disesuaikan untuk bisa digunakan di darat, dengan memerangkap air di rongga insang menutup rapat mulut dan tutup insang. Ikan ini bisa berada di darat selama air yang di bawahnya masih mengandung oksigen kalau oksigennya habis, ikan ini harus segera mencari air segar lagi dan proses yang sama terulang kembali.

Ikan glodok hanya dijumpai di pantai-pantai beriklim tropis dan subtropis di wilayah Indo-Pasifik sampai ke pantai Atlantik Benua Afrika.

Saat ini telah teridentifikasi sebanyak 35 spesies ikan glodok yang terbagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu Boleophthalmus, Periophthalmus, dan Periophthalmodon. Beberapa spesies contohnya adalah Pseudapocryptes elongatus, Periophthalmus gracilis, Periophthalmus novemradiatus, Periophthalmus barbarus, Periophthalmus argentilineatus dan Periophthalmodon schlosseri.

Selain ikan glodok atau bahasa Ingrisnya ikan mudskipper, satwa yang dapat dilihat pada hutan mangrove Desa Sriminosari adalah kepiting wideng. Kepiting wideng dan ikan glodok menjadi satwa yang paling banyak dilihat terutama oleh anak-anak saat berkunjung bersama orang tua mereka ke objek wisata hutan bakau ini.

Diminati Anak-anak Saat berkunjung ke objek wisata hutan mangrove di Desa Srimonosari ini, Sabtu (7/10), terlihat banyak anak-anak bertanya kepada orang tuanya tentang sejumlah jenis ikan dan kepiting yang dilihatnya.

Darmanto, Ketua Koperasi Nelayan Rukun Sido Makmur, inisiator pengembangan objek wisata hutan mangrove ini, menyebutkan banyak jenis satwa yang bisa disaksikan selain ikan glodok dan kepiting wideng, yaitu sejumlah burung liar, di antaranya burung cangak, burung bangau, dan burung belibis.

"Tapi datang sore hari kalau ingin melihat burung, mengingat siang hari biasanya hanya sedikit burung yang terlihat," kata Darmanto lagi.

Dia menjelaskan, selain sebagai tempat rekreasi bagi warga untuk tempat berswafoto, objek wisata tersebut juga dimanfaatkan sejumlah sekolah di Lampung Timur untuk mengedukasi siswanya.

"Para guru dari berbagai sekolah itu mengenalkan jenis-jenis mangrove dan berbagai satwa di hutan mangrove ini, kemudian siswanya diminta menggambar hutan mangrove dan berbagai satwa yang ada, seperti yang dilihat oleh para siswa," ujarnya lagi.

Menurutnya, pengembangan wisata hutan mangrove ini telah berdampak bagi warga desa sekitar, baik secara ekonomis, sosial maupun pemenuhan bagi kepentingan dunia pendidikan.

Darmanto berharap kapada Pemkab Lampung Timur turut mengembangkan objek wisata hutan mangrove yang dibangun secara swadaya oleh warga di desanya, mengingat masih banyak kekurangan yang perlu dibenahi pada objek wisata ini.

Apalagi saat ini, di bawah kepemimpinan Bupati Chusnunia Chalim dan Wakil Bupati Zaiful Bokhari, Pemkab Lampung mencanangkan daerah ini sebagai salah satu daerah kunjungan wisata utama bagi wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Pemkab Lampung Timur juga memprioritaskan pengembangan pariwisata di daerahnya, termasuk wisata alam dan wisata budaya yang dikenal dunia internasional terdapat di daerah ini, seperti adanya penangkaran badak sumatera dan harimau sumatera dalam kawasan hutan Taman Nasional Way Kambas.

Keberadaan gajah jinak terdidik dan terlatih di Way Kambas juga sudah dikenal menjadi daya tarik bagi pengunjung untuk berdatangan ke Kabupaten Lampung Timur.

Diharapkan dengan semakin banyak objek wisata alam dan wisata budaya terdapat di daerah ini, kian banyak wisatawan nusantara dan mancanegara berkunjung dan meminati berwisata ke sini.

Budisantoso Budiman & Muklasin
All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.