Showing posts with label Wisata. Show all posts

Saat ini perhatian seluruh penduduk Asia tengah berpusat di Jakarta dan Palembang. Yap, dua kota besar di Indonesia itu tengah jadi tuan rumah turnamen olahraga terbesar di benua Asia, Asian Games 2018. 

Menyambut puluhan ribu atlet dari 45 negara, Jakarta dan Palembang saling mempercantik diri. Dan bicara soal Palembang, ibukota Sumatera Selatan itu siap menarik perhatian bangsa-bangsa asing dengan berbagai pusat wisata indah yang sayang dilewatkan.

5 Wisata Populer di Palembang Saat Asian Games 2018

Anda yang saat ini tengah menonton pertandingan Asian Games 2018 pun bisa berkunjung ke beberapa tempat wisata itu di kala senggang. Terletak tidak jauh dari Jakabaring Sport City yang jadi pusat perhelatan akbar itu, Palembang siap untuk membuat Anda terpana dengan berbagai titik wisata indahnya.

5 Wisata Palembang Bikin Asian Games 2018 Makin Keren


Jembatan Ampera

Jika San Fransisco punya Golden Gate yang sangat populer itu, maka warga Palembang boleh bangga dengan jembatan Ampera. Membentang di atas sungai Musi, jembatan Ampera adalah keindahan malam hari di Palembang. 

Cahaya lampu warna-warni di tali jembatan dan lampu kendaraan yang berpendar jadi daya tarik untuk selfie di jembatan Ampera. Tenang saja, ada banyak sekali restoran di tepian sungai Musi yang menawarkan pemandangan langsung ke jembatan Ampera.

Pulau Kemaro

Tak hanya jembatan Ampera saja yang bisa dinikmati di sekitar sungai Musi. Ada pulau Kemaro yang juga jadi daya tarik para turis, terutama klenteng di pulau tersebut. Klenteng di pulau Kemaro itu bahkan masih digunakan oleh umat Buddha beribadah. Selain klenteng, ada makam seorang putri bangsawan Palembang, sebuah pagoda dan pohon cinta yang jadi daya tarik di pulau Kemaro.

Benteng Kuto Besak

Palembang juga memiliki sebuah bangunan keraton yang dulu jadi pusat Kesultanan Palembang bernama Benteng Kuto Besak. Lagi-lagi lokasinya tak jauh dari jembatan Ampera dan sungai Musi, Benteng Kuto Besak ini sudah dibangun sejak tahun 1780 yang berarti sudah berusia lebih dari dua abad. 

Ramai dikunjungi saat malam hari, ada sebuah restoran terapung di depan benteng yang menjajakan masakan tradisional Palembang dengan harga ramah di kantong.

TPKS

Seperti yang sudah Anda ketahui, Palembang dulu kala adalah pusat pemerintahan salah satu kerajaan besar di Nusantara, Kerajaan Sriwijaya. Saat ini benda-benda purbakala peninggalan Sriwijaya tersimpan aman di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS). 

Yang mengejutkan, TPKS sudah memiliki jaringan air yang membuktikan jika masyarakat Sriwijaya kuno memiliki ahli di bidang tata air dan kemaritiman.

Kampung Kapitan

Kawasan sungai Musi sepertinya jadi pusat wisata di Palembang. Salah satu yang menarik perhatian adalah kampung Kapitan sebagai bukti betapa rukunnya warga Palembang yang mayoritas umat Islam hidup berdampingan dengan warga Tionghoa dengan dominan beragama Buddha. 

Kapitan memiliki nilai historis sangat tinggi karena kampung ini adalah daerah pertama yang dihuni warga Tionghoa saat Palembang masih dijajah Belanda. Yang menarik, afiliasi budaya membuat kampung Kapitan dipengaruhi budaya Palembang, Tionghoa dan Belanda. 

Di mana beberapa bagian tengah dan depan rumah berwarna merah khas etnis Tionghoa, lalu desain atap berbentuk limas milik warga Palembang dan ventilasi udara pada pintu serta jendela menggunakan lempengan besi khas bangunan Belanda.

Bagaimana? Sungguh menarik bukan apa yang ditawarkan bidang pariwisata di Palembang? Untuk itulah bagi Anda yang memperoleh kesempatan ke Palembang jangan sia-siakan kesempatan bisa mengunjungi lima titik wisata itu ya!

Kota Malang diam-diam memiliki banyak sekali destinasi wisata yang sangat indah khususnya wisata alam tersembunyi layaknya di negeri impian. Kota Bunga ini pun tidak hanya khas dengan cuaca sejuknya serta tempat-tempat bersejarahnya. Namun juga destinasi alami yang memiliki keindahan tersendiri. Mulai dari pegunungan, air terjun hingga pantai.

7 Pantai Indah Surga Tersembunyi di Malang

Akan tetapi harus diakui bahwa belum banyak orang yang tahu bahwa kota Malang memiliki pesona pantai yang memukau. Khususnya di sepanjang pesisir Malang Selatan dan juga sejumlah daerah lainnya. Pantai-pantai ini tersembunyi menawarkan keindahan alamnya yang eksotis.

Deretan Pantai Indah di Malang yang Belum Banyak Diketahui


Pantai Ngudel

Pantai ini tidak hanya memiliki nama yang unik. Namun di Pantai Ngudel Anda akan disuguhi pemandangan yang indah yakni pasir pantai nan putih dengan semburat keemasan. Bagi Anda yang senang dengan perjalanan off road juga bisa menjajal gumuk pasir pada kontur pantainya. Lokasi Pantai Ngudel berada di Desa Sindurejo, Gedangan, Kabupaten Malang.

Pantai Kondang Buntung

Di pantai ini Anda pun akan merasakan sensasi unik tersendiri. Yakni ada sungai yang jika disusuri mirip dengan di hutan Amazon. Untuk ke sini dari Balekambang Anda bisa naik kano sejauh 5 kilometer dengan tarif Rp 25 ribu. Nah setelah itu Anda akan langsung dapat menyaksikan keindahan panorama Kondang buntung.

Pantai Sendiki

Anda suka berjalan menyusuri tepi pantai? Maka Pantai Sendiki sangat cocok untuk Anda datangi. Garis pantainya cukup panjang dengan pantai yang berbentuk melengkung dengan pasir berwarna putih. Jika suka berjemur pantai ini pas buat Anda. Cocok juga untuk camping atau berkemah, Pantai Sendiki berlokasi di Desa Tambakrejo, Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang.

Pantai Ungapan

Keindahan Pantai Ungapan layaknya pantai di Belitung. Jadi di sepanjang pantai Anda akan dapat melihat panorama yakni banyak bebatuan besar di sana. Bahkan ada yang unik yakni batunya menyerupai buaya. Pantai ini juga sempurna untuk Anda yang ingin menikmati sunset. Pergilah ke Desa Gajahrejo, Gedangan, Kabupaten Malang untuk mencicipi keindahan menakjubkan pantai Ungapan.

Pantai Teluk Bidadari

Buat merasakan sensasi berlibur ke pantai yang terasa eksklusif maka Teluk Bidadari jawabannya. Pasalnya perjalanan menuju ke sana terbilang tidak mudah. Akan tetapi di pantainya Anda akan disuguhi pemandangan memukau. Yakni ada batu karang berlubang yang dari bawahnya menyemburkan ombak. Lokasi pantai ini berada di Desa Sumber Bening, Bantur, Malang.

Pantai Jonggring Saloko

Di pantai ini terdapat kolam renang alami di mana Anda bisa berenang di sana. Unik sekali apalagi di kolam renang ini airnya tidak akan habis. Karena adanya deburan ombak yang terus menghantam karang. Jadi di sini cocok banget buat Anda yang ingin merasakan sensasi kolam renang alami di pantai. Pantai Jonggring Saloko berlokasi di Desa Mantraman, Donomulyo, Kabupaten Malang.

Pantai Tiga Warna

Bagi warga Malang pantai ini semakin naik daun namanya. Dan sesuai dengan nama pantainya di sini Anda akan disuguhi panorama tiga warna yang berbeda. Yakni warna gradasi air laut berupa hijau, biru dengan pasir yang warnanya bernuansa kemerahan. Pantai yang berlokasi di Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang ini cocok juga untuk snorkelling karena alam bawah lautnya yang sangat indah.

Demikianlah ketujuh pantai indah di Malang yang belum banyak dikenal masyarakat luas. Jika Anda jalan-jalan ke Malang baru lengkap, nih, kalau mampir ke pantai-pantai ini. Jadi selain berwisata dan membeli oleh-oleh, manjakan diri Anda untuk refreshing ke destinasi alam yang indah.

Indonesia memang kaya akan destinasi yang indah dan menarik. Salah satunya di daerah Timur Indonesia yang berjajar pulau-pulau eksotik. Sebagai tujuan untuk merencanakan liburan yang menyenangkan, Anda dapat mengunjungi beberapa destinasi di daerah Sumbawa. Pulau Sumbawa yang terkenal dengan budayanya juga memiliki banyak tempat yang bisa dijadikan tujuan liburan.

6 Objek Wisata Sumbawa yang Memikat

Keindahan alam Pulau Sumbawa tidak kalah dengan Pulau Bali maupun Lombok yang memang sudah menjadi destinasi yang paling banyak dikunjungi turis baik lokal maupun mancanegara. Untuk sampai ke Pulau Sumbawa kita perlu menyeberangi menggunakan kapal Ferry dari Pulau Lombok Timur.

Dalam perjalanan menuju Sumbawa, para turis akan disuguhkan dengan pemandangan alam yang indah. Dari banyaknya tujuan melancong di Indonesia, maka akan kami sajikan khusus destinasi liburan yang tidak boleh dilewatkan dari Pulau Sumbawa berikut ini.

Beragam Destinasi di Pulau Sumbawa


Gunung Tambora

Gunung ini merupakan salah satu destinasi yang sering dikunjungi turis untuk melakukan pendakian atau sekadar menikmati sabana di kaki Gunung Tambora sambil melihat kuda-kuda. Di balik keindahan Gunung Tambora ini, pernah terjadi letusan dahsyat yang merusak banyak perkampungan dan memakan banyak korban jiwa. Namun hal itu justru menjadi alasan para turis yang penasaran. 

Pantai Kertasari

Di daerah Taliwang, Sumbawa Barat, Anda akan menjumpai pantai dengan air yang jernih dan lautnya yang tenang menjadi salah satu yang menjadi pesonanya. Selain menjadi pantai yang indah, di pantai ini juga menjadi lokasi memancing yang favorit. Untuk menuju ke pantai ini, Anda harus menempuh jarak sekitar 8 km dari Taliwang. 

Pantai Kencana

Selain Pantai Kertasari, Sumbawa pastinya juga memiliki beberapa pantai indah yang lain salah satunya Pantai Kencana ini. Terdapat keindahan alam yang akan Anda dapatkan di pantai ini dan tidak ada di kebanyakan pantai lainnya. Yaitu garis pantai melengkung yang memiliki warna yang indah dengan pantai pasir putih yang bersih.

Bagi para pengunjung pantai ini dapat menginap di hotel dan cottage yang didesain dengan ciri khas Sumbawa. Untuk menikmati Pantai Kencana yang memiliki air laut bersih dan jernih ini, Anda tidak perlu mencari penginapan yang jauh. 

Danau Lebo

Di Taliwang juga memiliki destinasi liburan di danau yang di dalamnya hidup beragam jenis flora dan fauna. Salah satu kekayaan yang dimilii yaitu burung Pelikan dan burung Migran yang berasal dari Benua Australia. Dahulunya danau ini hanya menjadi tempat memancing bagi warga sekitar dan menggembala ternaknya. 

Istana Tua Dalam Loka

Bukan hanya terkenal dengan alamnya yang indah saja, karena Sumbawa juga memiliki wisata sejarah yang melengkapi kekayaan Pulau Sumbawa. Istana ini dikabarkan sudah didirikan sejak tahun 1855 M oleh pemerintahan Sultan Muhammad Jalaluddin Syah III pada masa silam. Hingga sekarang, Istana Tua Dalam Loka menjadi situs sejarah yang digunakan sebagai Museum Daerah. 

Istana Tua Dalam Loka dibangun menggunakan kayu jati besar dan masuk sebagai salah satu rumah panggung terbesar di dunia. Istana ini terletak di pusat kota Sumbawa sehingga para turis yang ingin berkunjung ke tempat ini dapat menempuh perjalanan dengan mudah. 

Pulau Moyo

Pulau ini merupakan salah satu kekayaan alam yang dimiliki oleh Sumbawa. Pulau ini sudah dikenal hingga mancanegara, bahkan pernah dikunjungi oleh Lady Diana yang merupakan mantan istri pangeran Charles dari Kerajaan Inggris. Pemandangannya yang eksotik dan menakjubkan akan membuat semua pengunjung terpana akan keindahannya. 

Bagi yang ingin mengunjungi Pulau Sumbawa tidak perlu pikir-pikir lagi karena pasti Sumbawa akan membuat liburan Anda menyenangkan.

Sebuah tempat penginapan di Kota Jogja merupakan salah hal terpenting yang harus diketahui oleh setiap orang yang ingin menikmati wisata serta bermalam di kota ini. Nah, apabila ingin berkunjung serta menginap di Kota Jogja dengan harga yang minim tentunya Anda harus mencari referensi mengenai tempat penginapan bagus dan murah di Kota Jogja.

7 Penginapan Bagus Dan Murah Di Jogja Dengan Harga Kurang Dari 150 Ribu

Adapun tempat penginapan bagus dan memiliki biaya sewa kurang dari Rp 150.000,00 di Kota Jogja biasanya berupa homestay serta hotel berbintang 1. Nah, bagi Anda yang penasaran mengenai tempat tersebut maka dapat berbagi ulasan mengenai berbagai tempat penginapan tersebut di bawah ini. 

7 Rekomendasi Tempat Penginapan Bagus Dan Murah Di Kota Jogja


Deep Purple Homestay

Deep Purple Homestay ini merupakan sebuah homestay yang letaknya kurang lebih 600 meter dari Alun-Alun Kidul Kota Jogja. Homestay disini tentunya bersih dan nyaman untuk beristirahat. Deep Purple Homestay ini terbagi menjadi 3 tipe kamar yakni Room A dengan harga Rp 50.000,00/malam, Room B dengan harga Rp 75.000,00/malam serta Room C dengan harga Rp 100.000,00/malam.

Pondok 71

Pondok 71 ini merupakan sebuah tempat penginapan di Kota Jogja yang terletak di Jalan MT Haryono. Lokasi Pondok 71 ini bisa dibilang cukup strategis karena berdekatan dengan  Taman Sari, Keraton dan juga Alun-Alun Kidul.

Di Pondok 71 ini sendiri memiliki 15 unit kamar yang dapat digunakan untuk menginap. Ada 2 jenis kamar yang ditawarkan di Pondok 71 yakni Pondok Fan (daily) yang memiliki biaya sewa Rp 60.000/malam serta Pondok AC (daily) yang memiliki biaya sewa Rp 100.000/malam.

Penginapan Pugeran

Hampir sama dengan Pondok 71 bahwa Penginapan Pugeran ini berlokasi di Jalan MT Haryono.  Selain itu, akses untuk menuju ke berbagai tempat wisata di Kota Joga bisa dibilang cukup mudah. Tempat penginapan ini menawarkan 2 tipe kamar yakni Standard Fan dengan tarif Rp 70.000,00/malam serta Standard AC dengan tarif Rp 100.000,00/malam.

EDU Hostel Bintang 1

EDU Hostel Bintang 1 ini merupakan salah satu pilihan hotel yang cocok bagi Anda yang mencari hotel dengan harga yang terjangkau. Hotel yang satu ini berjarak 8,41 km dari Bandara Adi Sucipto Jogja. Untuk biaya penyewaan kamar ini bisa dibilang sangat murah karena biaya yang dipatok hanyalah Rp 80.000,00/kamar.

Hotel Parangtritis Bintang 1

Apabila Anda ingin berkunjung ke Pantai Parangtritis dan mencari tempat penginapan yang murah maka Hotel Parangtritis Bintang 1 inilah solusinya. Dengan harga sewa dibawah Rp 100.000/malam ini Anda dapat memperoleh tempat penginapan yang murah dan tentunya memiliki jarak yang dekat dengan objek wisata yang dituju.

Pesona Artha Hostel

Pesona Artha Hostel termasuk salah satu hotel yang paling murah di Kota Jogja dan terletak di Jalan Jlagran No. 7C, Pringgokusuman. Meskipun disini menyediakan 5 kamar tidur serta adanya wifi di tempat ini namun harga yang dipatok untuk sekali menginap di hotel ini sangatlah murah yakni dengan harga dibawah Rp 100.000,00.

Elton Homestay

Elton Homestay ini bisa menjadi salah satu pilihan tempat penginapan di Kota Jogja. Pasalnya, di  Elton Homestay memiliki 3 kamar yang bersih dan tentunya nyaman untuk digunakan. Selain itu, lokasi dari homestay ini juga tidak jauh dari Kraton, Alun-Alun Selatan dan Taman Sari. Adapun biaya sewa dari Elton Homestay untuk sekali menginap ialah sekitar Rp 115.000/malam.

Itulah beberapa tempat penginapan yang cocok dan tentunya dapat menjadi pilihan Anda saat berkunjung ke Kota Jogja ini. Dengan adanya rekomendasi beberapa diatas tentunya dapat memudahkan Anda untuk mencari hotel yang cocok dengan budget yang Anda miliki.

Lampung dan Sumatera Selatan merupakan regional yang paling dekat dengan Pulau Jawa. Penyeberangan Merak-Bakauheuni selalu menjadi simpul strategis di saat musim Lebaran dan angkutan komoditas dari Sumatera ke Jawa dan sebaliknya. Pariwisata merupakan potensi lain yang bisa dikembangkan untuk menggalakkan wisata dalam negeri yang terjangkau dari jarak dan biaya bagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya.

Selain jalan tol lintas Sumatera yang sudah menghubungkan propinsi di regional Sumatera bagian Selatan, dikabarkan juga PT Kereta Api Indonesia bersama dengan pemerintah daerah propinsi Lampunt juga akan mewujudkan jalur kereta api pariwisata jalur pintas (shortcut) antara Tegineneng, Pesawaran, ke Tarahan, Lampung Selatan. Dengan pertimbangan, banyaknya potensi destinasi wisata di Lampung. Sebagaimana dikutip oleh Tribunnews ungkapan Direktur Utama PT KAI Pariwisata Toto Suryoni dalam Focus Discussion Group dan Media Gathering PT KAI Divisi Regional IV Tanjung Karang, di Grand Elty Krakatoa, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan, Kamis (30/8/2018).

Saat ini memang banyak sekali pilihan destinasi yang ditawarkan di sekitar regional Tegineneng dan Pesawaran. Pesawaran sebagai kabupaten baru dengan ibukota Gedong Tataan ini menawarkan keindahan pantai pasir putih dengan ragam kuliner dan budaya lokal, yang menjadi primadona wisatawan. Gedong Tataan merupakan salah satu bagian dari Teluk Betung yang menawarkan keindahan pemandangan dari atas Muncak Tirtayasa yang memukau.

Keindahan pantai yang ada bisa ditelusuri dengan suasana yang cerah dengan langit dan air yang biru di pantai Dewi Mandapa, Sari Ringgung, Klara, Mutun, Batu Mandi dan Marines Eco Park. Destinasi yang banyak ditawarkan saat ini oleh operator wisata dalam negeri adalah eksotisme Pulau Pahawang. Perairan sekitarnya merupakan surge bagi penyelam, dengan berbagai biota laut dan warna-warni karang. Wisata dengan budget khusus ke Pulau Tangkil untuk berbagai layanan yang diperlukan untuk menuju dan berada di sana. 

Tidak hanya dataran sekitar laut yang menjadi unggulan, dengan berkendaraan ke dataran pedalaman, ada air terjun Ciupang dan Anglo, Taman Kupu Kupu Gita Persada. 

Nah, untuk menikmati alam pegunungan yang sejuk nan hijau, bisa melakukan pendakian ke Gunung Pesawaran, dengan ketinggian 1682 meter. Untuk kenyamanan liburan pendakian perlu menyediakan perbekalan dan peralatan yang cukup karena belum adanya fasilitas pendukung wisata yang memadai. Jalur resmi untuk masuk ke lokasi pendakian dari desa Wiyono. Setelah berjalan 30 menit dari desa, akan sampai pada posko pendakian dan penitipan. Untuk menginap tersedia camp 1 dan camp 2, jarak antara keduanya 30 menit. 

Demikian sekedar berbagi informasi disampaikan oleh pengelola PT Sinar Surya Maju Sentosa, semoga semakin banyak yang menemukan tempat wisata yang ada di regional Sumatera bagian Selatan, khususnya Lampung.




Tidak di ragukan lagi, Jawa Tengah menjadi Provinsi Indonesia yang paling banyak di datangi wisatawan lokal, maupun turis asing. Keindahan wisata alam yang di ciptakan Tuhan benar-benar memanjakan mata siapapun yang melihatnya.

Sehingga setiap tahunnya pengunjung semakin bertambah, namun jika Anda masih bingung mencari surga tersembunyi di Jawa Tengah ini. Kami akan memberikan beberapa referensi yang bisa Anda kunjungi, simak artikel berikut ini.


Inilah Wisata Alam, Tempat Favorit Turis di Jawa Tengah

Tempat Favorit Turis di Jawa Tengah Dengan Nuansa Alam Indonesia


Menyapa Candi Dari Bukit Sunyi Bernama Puthuk Setumbu

Menikmati pagi yang hening dari puncak Bukit Punthuk Setumbu merupakan pembuka hari yang sempurna. Dari sini kamu bisa melihat kabut yang merayap menyelimuti Candi Borobudur, merangkak naik, kemudian memudar tatkala mentari muncul dari balik punggung gunung. 

Untuk mencapai puncak Bukit Punthuk Setumbu, kamu harus trekking sekitar 15 – 30 menit tergantung kecepatan melangkahmu. Bukit Punthuk Setumbu terletak di Desa Karangrejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. 

Berjarak sekitar 44 km dari Yogyakarta, Punthuk Setumbu bisa ditempuh antara 1 – 1,5 jam berkendara. Rute menuju Punthuk Setumbu sangatlah mudah. Dari depan Taman Wisata Candi Borobudur, paculah kendaraanmu menuju Hotel Manohara, kemudian lurus terus ke arah Perbukitan Menone, ikuti petunjuk arah tersebut dan berkendara sekitar 10 menit

Mengatasi Pening dari Atas Goa Rong

Pemandangan indah dapat kamu jumpai di Semarang, tempat melihat keindahannya disebut Goa Untuk sampai di sana lebih mudah menggunakan kendaraan pribadi. Lokasi Goa Rong dari arah Semarang, hanya beberapa meter dari jembatan Tuntang. Orang-orang biasa menyebutnya dengan stasiun Tuntang.

Kamu bisa sesekali melepas lelah sambil memandang ke arah barat, dari sini kamu disuguhkan pemandangan alam rawa pening yang luar biasa. Dengan balutan cahaya matahari sore yang memerah, kamu bisa menyaksikan bentangan daratan yang dipenuhi dengan pepohonan serta bukit-bukit yang indah.

Bermain Air di Curug Cipendok

Selain terkenal dengan Baturaden, ternyata masih banyak tempat wisata di Purwokerto. Tempat wisata ini tersebar di berbagai sudut yang mungkin tidak banyak diketahui orang. Purwokerto punya banyak air terjun yang indah seperti Curug Cipendok, Curug Ceheng, dan curug lainnya yang jumlahnya masih sangat banyak. 

Jika tertarik, kamu bisa mengunjungi satu per satu. Curug yang belum banyak diketahui orang-orang adalah curug Cipendok. Lokasi wisata Curug Cipendok berjarak sekitar 20-25km dari Purwokerto, bisa di tempuh sekitar 30 menit, bisa lebih cepat atau lebih lama tergantung keramaian jalan. 

Paling gampang adalah melalui rute pertigaan Losari yang berada di jalur utama Purwokerto – Ajibarang yang juga merupakan jalur ke pantura Purwokerto – Jakarta. Untuk harga tiketnya saat ini Rp. 9.000 per orang.

Melihat Indahnya Savana di Bukit Pangonan

Kawasan Dieng tetap jadi favorit! Sebuah Bukit yang berada di sebelah selatan Dieng ini tidaklah terlalu tinggi untuk didaki. Bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman jelajah Gunung Dieng namun tidak punya banyak waktu atau khawatir tenaga akan terkuras untuk pendakian.

Maka Bukit Pangonan bisa menjadi solusi wisata alam yang mudah tanpa harus kehilangan keseruan penjelajahan alam khas pegunungan Dieng sebagaimana Sikunir maupun Gunung Prau.

Salah satu yang menarik dari bukit pangonan adalah keberadaan lembah luas di puncaknya, membentuk semacam cekungan bekas danau yang mengering yang kemudian ditumbuhi ilalang membentuk padang savana yang hijau segar menyenangkan bila dipandang mata.

Itulah tempat wisata Alam yang paling banyak di kunjungi turis lokal dan asing, semoga bermanfaat.

Tempat wisata yang unik dan memiliki sejarah salah satunya berada di Yogyakarta. Kota yang dulu bernama Nyayogyakarta Hadiningrat ini terletak di bagian selatan Pulau Jawa bagian tengah dan berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah dan Samudera Hindia. Yogyakarta terkenal dengan wisata nya yang tak kalah dengan kota-kota lainnya. Baik wisata kuliner, wisata alam, maupun wisata sejarahnya. 

5 Tempat Wisata Terpopuler di Jogja yang Patut di Kunjungi

Banyaknya pelajar yang memilih untuk melanjutkan pendidikan di Yogyakarta menjadikan Yogyakarta mendapat salah satu julukan sebagai kota pelajar. Buat kalian yang sedang berkunjung dan berlibur di Yogyakarta enggak perlu bingung lagi untuk mencari tempat wisata terbaik dan terpopuler karena kami akan menunjukkan 5 tempat wisata yang wajib kamu kunjungi.

5 Tempat wisata terbaik dan terpopuler di Jogja


1. Jogja Bay Pirates Adventure Waterpark

Ini adalah tempat wisata terbaru dan terpopuler di Yogyakarta yang pas sekali dikunjungi dengan keluarga. Tempat wisata yang dikelola oleh PT Taman Wisata Jogja (TWJ)  ini terletak di Maguwoharjo kacamatan Depok, Sleman atau di sebelah utara Stadion Maguwoharjo.

Tempat area permainan air ini memiliki 19 jenis wahana dengan keunggulan 'How to survive in tsunamy and earthquake' , Jogja Bay juga memiliki wahana edukasinya. Harga tiket masuk untuk anak-anak sebesar Rp. 60.000, dewasa Rp. 90.000 dan orang tua diatas 65 tahun Rp. 60.000. Untuk anak-anak umur di bawah 2 tahun tidak dikenakan biaya. Buka setiap hari jam 09.00 hingga 18.00 WIB sedangkan untuk weekend buka lebih cepat yaitu jam 08.00.

2. Puncak Kosakora

Tempat wisata Kosakora adalah puncak bukit yang memiliki keindahan alam yang sangat menawan. Dari puncak kosakora mata anda akan dimanjakan dengan keindahan perbukitan, pantai, sunrise, dan sunset. Dengan membayar Rp. 2000,- per orang untuk tiket masuknya kalian sudah bisa menikmati semua pemandangan indah itu. Di Puncak Kosakora disediakan tempat camping bagi kalian yang ingin menikmati indahnya sunrise dan sunset. Cukup dengan mengeluarkan uang sebesar Rp. 60.000 sampai Rp. 100.000 kalian sudah bisa mendapatkan tenda dome untuk menginap tanpa harus membawa sendiri dari rumah. 

3. De Mata Trick Eye Museum

De Mata Trick Eye Museum adalah kumpulan berbagai macam gambar 3 dimensi. Dengan 120 koleksi gambar 3 dimensi ini kalian bisa dengan sepuas nya berfoto bersama teman maupun keluarga. Untuk harga tiket masuk museum ini baik anak-anak maupun dewasa dikenakan biaya sebesar Rp. 35.000. Namun anda cukup membayar Rp. 25.000 saat happy hour yaitu senin-kamis pukul 10.00 - 15.00. Museum ini beroperasi dari pukul 10.00 sampai 22.00 WIB. Museum 3 dimensi Jogja terletak di Basement Gedung Umar Kayam Kawasan XT Square, Jalan Veteran Jogjakarta.

4. Upside Down World Jogja

Tempat wisata ini mengusung konsep rumah atau tempat tinggal yang memiliki sensasi suasana terbalik seperti ruang angkasa. Tempat ini memiliki 8 spot untuk kalian yang suka berfoto-foto, yaitu living room, bath room, kitchen, master bed room, kids rooms, dinning room, laundry room, dan ruang 3 dimensi (3D). 

Untuk harga tiket masuk dewasa sebesar Rp. 60.000 dan anak-anak di bawah 135cm sebesar Rp. 40.000. Tempat wisata ini terletak di Jl. Ring Road Utara, Maguwoharjo, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Untuk operasional dari jam 10.00 sampai 19.00 WIB. 

5. Kebun Buah Langka Sedayu

Tempat wisata satu ini cocok sekali dikunjungi bagi pelajar, mahasiswa, serta anda penggemar tanaman buah-buahan langka. Di kebun ini memiliki sekitar 300 buah tanaman langka yang berasal dari Indonesia dan luar negeri. Anda pun dapat mencicipinya saat sedang berbuah. Harga tiket masuknya hanya Rp. 10.000 per orang. Buka mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB.

Itu adalah beberapa tempat wisata di Yogyakarta yang wajib kalian kunjungi. Semoga tempat wisata yang kami rekomendasikan ini dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan buat kalian yang sedang berlibur atau berkunjung ke Yogyakarta. Terimakasih

Purwokerto, 13/5 (Benhil) - Jalan yang hanya dua lajur tanpa median menjadi ciri khas Jalur Selatan Jawa mulai Purwokerto sampai Yogyakarta, atau Cilacap-Yogyakarta. Jalur sepanjang 180-an kilometer itu terbilang sempit dibanding jalur Pantura Jateng mulai Losari sampai Semarang yang sudah empat lajur dengan median jalan.

Pamor Jalur Selatan ini makin kalah sebagai pilihan jalur mudik dibanding melalui utara karena mulai musim mudik Lebaran 2018 sudah tersambung tol dari Jakarta sampai Surabaya.

Kemungkinan mereka yang mudik dari Jabodetabek ke kota-kota di selatan Jawa seperti Kebumen, Kutoarjo, Wates dan Yogyakarta, Pacitan, lebih memilih jalur utara yang dipercepat pintasannya melalui tol. Demikian juga pemudik dari Semarang dan Yogyakarta tujuan Banyumas dan kota di selatan Jawa Barat akan menggunakan jalur selatan ini.

Dengan demikian, jalur selatan tidak bisa diabaikan perannya memperlancar arus mudik, apalagi ada juga jalur alternatif yang disebut Jalur Lintas Selatan (JLSS). JLSS juga disebut Jalan Daendels itu berada di selatan pulau Jawa, tepatnya melintasi provinsi Jawa Tengah.

Jalan sepanjang 130 kilometer itu menghubungkan kota Bantul dengan Purworejo, Kebumen, dan Cilacap. Jalan Daendels itu bisa memecah arus mudik di jalur utama selatan Jawa.

Jalur alternatif dari Purwokerto ke Yogyakarta itu bisa dipecah di Kebumen barat melalui rute Gombong - Karanganyar - pertigaan Guyangan di Desa Purwodeso - Kritig - Petanahan - Jalan Daendels. Sedangkan jalur alternatif mudik Kebumen bagian timur adalah Prembun - Lembupurwo - Jalan Daendels. Dan, Kebumen bagian tengah adalah Kambalan - Ambalresmi - Jalan Daendels.

Penggunaan jalur alternatif itu memperpanjang jalur mudik belasan kilometer, namun lebih lancar sehingga waktu pintasnya bisa setengah jam lebih cepat dibanding jalur utama.

Kondisi Jalan Secara keseluruhan kondisi jalan Jalur Selatan cukup mulus walaupun ada beberapa titik yang mengalami rusak ringan dan berlubang.

Bahkan Bagian Humas Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VII Semarang Totok, mengatakan ruas Purwokerto-Purworejo sampai Yogyakarta dalam keadaan mulus.

Memang ada jalan yang berlubang namun tidak signifikan dan ada tim yang segera melakukan penambalan sebelum arus mudik Lebaran. Ia mencontohkan jalan nasional yang melintasi Kota Purwokerto memang di beberapa titik ditemui lubang, namun ruas itu hanya 10 persen yang mengalami kerusakan ringan, sisanya kondisi mulus.

Saat ini satu tim perbaikan jalan tengah melakukan penambalan di Jalan Gerilya Kota Purwokerto.

Demikian juga, ia menjelaskan, jalan nasional lingkar Kota Cilacap hanya mengalami kerusakan ringan 10 persen.

Sementara pantauan Antara di jalur alternatif Kebumen-Yogyakarta ada satu ruas yang perlu mendapat perhatian berbagai pihak karena ditemui banyak lubang yang melebar dan dalam. Sepanjang perjalanan dari Wates sampai Kebumen, tidak ditemui adanya tim perbaikan jalan. Hanya ada satu tim pengecatan marka jalan di ruas Ketawang-Temon.

Jalan bergelombang dan berlubang dalam ditemui di ruas Kecamatan Ambal dan Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen sepanjang sekitar 10 kilometer.

Bagi pemudik bermotor harus lebih berhati-hati melintasi jalur alternatif ini. Jika tak ada niat mudik sambil melihat pantai, maka lebih disarankan menggunakan jalur utama. Bengkel dan BBM Ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) dan keberadaan bengkel di jalur utama dan jalur alternatif tidak perlu dikhawatirkan. Jika jalur utama banyak pom bensin pertamina, maka di jalur alternatif juga banyak pertamini atau pengecer bbm yang dilengkapi dengan dispenser.

Beberapa pengecer mengakui mereka akan menyiapkan stok lebih banyak saat arus mudik Lebaran.

Demikian juga bengkel mobil dan motor di jalur alternatif sudah mulai banyak bermunculan termasuk bengkel tambal ban. Namun urusan suku cadang yang berat seperti klep mesin, kampas kopling, ball joint, belum tentu ada sehingga kendaraan mobil pemudik yang punya masalah di mesin lebih baik menggunakan jalur utama.

Wisata dan Kuliner Jalur alternatif melalui Jalan Daendels yang lurus dan datar ini berada tak jauh dari pantai. Ada sejumlah jalan masuk ke arah wisata pantai sehingga pemudik mudah mendapatkan tempat istirahat sambil menikmati deburan ombak.

Beberapa pantai yang direkomendasikan sebagai tempat istirahat yaitu Pantai Petanahan di Desa Munggu Kecamatan Petanahan, Pantai Bocor di Desa Setrojenar, Pantai Lembupurwo. Yang terakhir ini terletak di perbatasan Purworejo - Kebumen.

Beberapa kilometer dari perbatasan itu, pemudik bisa berbelanja di Pasar Buah Wonoroto, Kecamatan Purworejo. Pasar berupa jejeran kios itu menjual buah-buahan hasil petani setempat seperti jambu kristal, melon, semangka dan blimbing. Semangka yang dijual juga ada yang berbiji, tanpa biji dan berbiji tapi berdaging kuning.

Menurut Meri, seorang pedagang, harga buah itu akan naik Rp2.000 sampai Rp.3000 per kilogram pada musim mudik karena banyaknya permintaan dari pemudik. Selain mempunyai tempat wisata, jalur Daendels itu menawarkan wisata kuliner khas setempat seperti rica-rica mentok, sate kuda, mie nyemek dan kraca.

Kalau tiga yang pertama sudah umum maka kraca merupakan olahan keong kecil yang biasanya didapat dari sawah yang diberi kuah. Masakan keong itu diolah dengan campuran bumbu bawang, pala, merica, garam serta bumbu-bumbu lainnya.

Cara memakan kraca ini adalah dengan menyedot keong yang sudah dibuang penutupnya atau bisa juga dicukil menggunakan lidi ataupun gigi garpu. Makanan ini sangat banyak dijual menjelang bulan puasa.

Jika ingin mudik atau kembali dari mudik, sebaiknya memilih jalur Daendels ini karena bisa sambil berwisata dan mencicipi kuliner Banyumasan. (Budi Santoso)


Yogyakarta terkenal akan berbagai keunikan dan keindahan tempat wisata yang dimiliki, begitupun dengan pantai yang ada di sana. Keunikan dari pantainya ini mulai dari pantai berpasir putih dan lembut, pantai yang sepi dan tenang hingga pantai yang berkarang tajam. Aktivitas yang bisa dilakukan di pantai tersebut juga bermacam-macam, mulai dari berenang, panjat tebing, hingga snorkeling.

Pantai Indah di Yogyakarta yang Tidak Kalah dengan Pantai Lainnya

Beberapa Pantai Indah di Yogyakarta yang Tidak Kalah dengan Pantai Lainnya 

Pantai Indrayanti

Kabupaten Gunung Kidul yang ada di sisi selatan menjadikannya dipenuhi dengan deretan pantai. Di sana memang dipenuhi deretan pantai berpasir putih, salah satunya yaitu Pantai Indrayanti. 

Keindahan pantai di sana tidak kalah dengan yang ada pantai lainnya dan yang membuatnya spesial adalah pemandangan dari bukit di sebelah kanan pantai. Ketika Anda ke sana, cobalah untuk menaiki bukit tersebut. Dari bukit tersebut dapat terlihat pemandangan sekitar Pantai Indrayanti dari atas.

Saat Anda merasa lelah, Anda bisa beristirahat dengan menyewa payung pantai atau duduk santai di warung tepi pantai sambil menikmati segarnya air kelapa.

Pantai Depok

Pantai yang berada di Kabupaten Bantul ini memiliki deburan ombak besar dan hamparan pasir hitam pekat namun tetap bersih. Apabila Anda berencana akan ke pantai ini, datanglah sore hari agar bisa menikmati pemandangan matahari terbenam. Selain itu, Anda juga bisa melakukan kegiatan lain yaitu bermain air di tepi pantai

Pantai Nglambor

Letaknya yang cukup tersembunyi menjadikan nama pantai ini mungkin belum banyak diketahui orang. Untuk sampai ke pantai  ini memang membutuhkan sedikit perjuangan. Namun saat Anda sudah sampai di Pantai Nglambor, Anda akan disambut dengan suasana dan ombaknya yang tenang. Melakukan kegiatan berenang dan snorkeling di sini pun tergolong aman tanpa takut tergulung ombak.

Pantai Baron

Pantai yang satu ini tergolong ramai dikunjungi oleh para wisatawan seperti layaknya Pantai Indrayanti. Sebenarnya pantai ini merupakan teluk yang diapit oleh dua tebing. Pengunjung di sana pun diperbolehkan untuk berenang asalkan tidak melampaui tanda batas terjauh yang telah ditentukan. Di pantai ini Anda dapat melihat adanya aliran sungai air tawar di bawah tebing yang mengalir langsung ke Laut Selatan.

Pantai Sadranan

Di Pantai Sadranan ini, Anda bisa berjalan di sepanjang pinggir pantai sambil menikmati hamparan pasir putih dan merasakan kesejukan air laut yang menggulung menerpa kakimu. Anda juga bisa melakukan aktivitas snorkeling untuk menikmati keindahan bawah lautnya. 

Masyarakat sekitar pantai ini biasanya akan mengadakan upacara sedekah laut pada waktu-waktu tertentu. Tujuan dari upacara ini adalah untuk bersyukur atas berlimpahnya hasil laut. 

Pantai Wediombo

Sensasi berbeda akan Anda dapatkan saat berkunjung ke pantai ini di mana Anda bisa berenang di kolam alam. Di pantai ini memang tersedia kolam karang dengan air yang tenang dan sangat jernih. Selain berenang, bagi Anda yang hobi memancing juga tidak boleh melewatkan kegiatan yang satu ini yaitu memancing di bukit karang dekat pantai. Bukit tersebut memang menjadi spot favorit para pemancing. 

Pantai Pok Tunggal

Untuk bisa sampai di pantai ini, Anda akan melewati perjalanan yang agak sulit di mana akses jalannya cukup curam. Namun lelah di perjalanan akan terbayar manakala Anda telah sampai di pantai ini. Dengan membayar biaya masuk sebesar sebesar Rp10.000, Anda langsung bisa melihat hamparan pasir putih pantai dan lautan lepas di pantai ini. 

Keunikan dari pantai ini dapat dilihat dari keberadaan sebuah pohon duras besar yang tumbuh di tengah hamparan pasir putih pantai. Pohon ini sendiri dianggap keramat oleh penduduk sekitar, sehingga sebaiknya Anda tidak mencoba untuk memanjatnya. 


Manokwari, 6/3 (Benhil) - Bank Negara Indonesia (BNI) mengembangkan bisnis pariwisata di wilayah Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat.

"Raja Ampat itu seksi, jumlah pengunjung akan terus meningkat. Ini terbukti dari adanya penambahan jam penerbangan sejumlah maskapai ke Sorong dan Manokwari," kata Kepala Bisnis Perbankan BNI Wilayah Papua, Yeska Friadi di Manokwari, Selasa.

Yeska mengutarakan, BNI memiliki program BNI Go Green sebagai wujud kepedulian BNI terhadap lingkungan. Melalui program ini, pihaknya meluncurkan sejumlah produk bisnis yang ramah lingkungan.

Untuk mendukung pengembangan pariwisata dan ekonomi masyarakat di Raja Ampat, BNI membangun rumah kreatif di Pulau Arborek. Kehadiran rumah kreatif untuk membantu pelaku industri kreatif di daerah itu dalam mempromosikan produknya. Selain transaksi langsung, pihaknya juga memfasilitasi sarana penjualan secara online bagi seluruh komoditas industri kreatif yang diproduksi warga.

"Tidak dipungut bayaran, rumah kreatif kita sewakan, fasilitas kita belikan. Masyarakat yang menitipkan barang disitu tidak dipungut apa pun. Ini kami lakukan agar komoditas industri kreatif masyarakat Raja Ampat bisa bersaing terutama dari sisi harga," kata dia.

Selain rumah kreatif, lanjutnya, BNI juga membantu pembangunan penginapan atau "home-stay". Pengelolaan "home-stay" tersebut diserahkan langsung kepada pemuda-pemudi setempat.

Menurut dia, bisnis "homestay" cukup menjanjikan di daerah itu. Hal ini menjadi peluang kerja atau usaha bagi putra daerah.

"Kita tidak perlu berfikir mewah dalam membangun 'home-stay', karena saat ke Raja Ampat pengunjung ingin menikmati sensasi natural atau kealamian di sana," katanya.

Ia menyebutkan, keinginan masyarakat untuk membuka "home-stay" cukup tinggi. Saat ini sudah cukup banyak "home-stay" yang merupakan milik dan dikelola sendiri oleh masyarakat.

"Masyarakat yang dulu menangkap ikan, kini sudah alih profesi menjadi penangkap turis. Biaya menginap di home-stay milik warga ini tidak mahal, cuma 300 ribu permalam plus makan," katanya.

Yeska mengutarakan, pihaknya akan terus mengembangkan program "BNI Go Green" di daerah lain di Papua dan Papua Barat. Saat ini program tersebut masih difokuskan di Raja Ampat.


"Iya, (dalam sejarah) dia dikenal sebagai pelaut," ujar Lu Yao Xing, seorang sopir, dalam percakapan dengan Benhil di Shanghai, beberapa waktu lalu.

Lu mengaku tidak banyak mengetahui tentang sejarah terkait sosok Cheng Ho, kecuali hanya dikenal sebagai seorang pelaut pada zaman dahulu kala.

"Nama dia ada di buku sejarah," katanya mengenai Zheng He atau Cheng Ho menurut lidah orang Indonesia.

Lu tidak sendiri. Banyak warga China yang tidak mengetahui persis seorang kasim Muslim yang menjadi kepercayaan Kaisar Yongle, kaisar ketiga Dinasti Ming, yang berkuasa pada 1403-1424 itu.

Jangankan mengenai perjalanan Cheng Ho, sebagian besar masyarakat China juga tidak mengerti bahwa tokoh muslim Tiongkok yang diperkirakan hidup pada 1371-1433 itu pernah berlayar hingga Nusantara. Apalagi bila dikaitkan dengan beberapa masjid di Jawa dan Sumatera yang mengadopsi nama Cheng Ho, pemahaman mereka belum sampai ke situ.

"Saya tahu nama itu dari pelajaran sejarah di sekolah dasar," kata Jing Ruixue, warga Liupanshui, Provinsi Guizhou.

Sama seperti Lu, selebihnya pegawai negeri sipil di Distrik Panzhou, Liupanshui, itu juga tidak mengenali sosok Cheng Ho.

Dalam salah satu catatan biografi, Cheng Ho bernama asli Ma He atau dikenal juga sebagai Ma Sanbao yang berasal dari Provinsi Yunnan, satu wilayah di barat daya daratan Tiongkok yang berbatasan dengan Provinsi Guizhou di timur laut, Daerah Otonomi Guangxi (timur), Provinsi Sichuan (barat laut), Daerah Otonomi Xizang (barat), dan India, Myanmar, serta Vietnam (barat, selatan, dan timur).

Ketika pasukan Ming menaklukkan Yunnan, Cheng Ho ditangkap dan kemudian dijadikan orang kebiri.

Ditinjau dari marganya "Ma", Cheng Ho seorang bersuku Hui, suku bangsa yang secara fisik mirip dengan suku mayoritas Han, namun beragama Islam. Cheng Ho melakukan ekspedisi paling sedikit tujuh kali dengan menggunakan kapal armadanya.

Dari tujuh kali ekspedisi itu, enam di antaranya Cheng Ho menyinggahi Jawa dan Sumatera, yakni pada periode 1405-1407, 1407-1408, 1409-1411, 1413-1415, 1416-1419, dan 1430-1433.

Pada tahun 1415, Cheng Ho berlabuh di Muara Jati, Cirebon), Jawa Barat. Saat itu dia menghadiahi beberapa cendera mata khas Tiongkok kepada Sultan Cirebon. Salah satu peninggalannya, sebuah piring yang bertuliskan Ayat Kursi masih tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon.

Pernah dalam perjalanannya melalui Laut Jawa, Wang Jinghong (orang kedua dalam armada Cheng Ho) sakit keras.

Wang akhirnya turun di pantai Simongan, Semarang, Jawa Tengah, dan menetap di sana. Salah satu bukti peninggalannya antara lain Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu) dan patung yang disebut Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Po Kong.

Cheng Ho juga sempat berkunjung ke Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan raja Wikramawardhana.

Namun pada tahun 1424, kaisar Yongle wafat. Penggantinya, Kaisar Hongxi yang berkuasa pada 1424-1425 memutuskan untuk mengurangi pengaruh kasim di lingkungan kerajaan.

Cheng Ho melakukan satu ekspedisi lagi pada masa kekuasaan Kaisar Xuande (berkuasa 1426-1435).

Setelah periode tersebut, dia sudah tidak lagi melakukan pelayaran atas kebijakan penguasa pada saat itu karena anggaran yang terbatas. Namun, ekspedisi Cheng Ho itu telah menginspirasi pemerintah China dalam menginisiasi "Belt and Road" sebagai gambaran dari peta blok Jalur Sutera dan Jalur Maritim Abad ke-21.

China yang terhubung dengan negara-negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan masuk dalam kawasan "Road" yang digagas Presiden Xi Jinping dan disampaikan di depan anggota DPR-RI di Senayan, Jakarta, pada Juni 2013.

Sebelumnya Xi juga mengumumkan "Belt" yang menghubungkan China dengan negara-negara di Eropa dan Afrika di Astana, Kazakhstan.

Lebih Edukatif Ekspedisi Cheng Ho tersebut akan lebih elok dikemas dalam perspekstif lain sehingga lebih bernilai edukatif, terutama bagi generasi muda Tiongkok agar tidak semakin buta sejarah.

Kementerian Pariwisata RI mencoba mengambil inisiatif tersebut seiring dengan makin lebarnya ceruk pasar wisatawan China.

Hal itu juga bagian dari ikhtiar untuk mendatangkan sebanyak mungkin wisatawan China ke Indonesia yang masih belum pulih 100 persen dari trauma dampak letusan Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali.

Sebagai tuan rumah Asian Games XVIII/2018, terbuka peluang bagi Indonesia untuk memasarkan wisata sejarah ekspedisi Cheng Ho tersebut. Asian Games yang digelar di Palembang, Sumatera Selatan, dan Jakarta, memberikan manfaat tersendiri bagi warga China yang ingin mendukung atlet idolanya berlaga di pesta olahraga terbesar kedua setelah Olimpiade musim panas sekaligus berwisata.

Apalagi Cheng Ho memiliki jejak sejarah di Palembang. Pada awal abad ke-15, Kota Palembang diduduki perompak Chen Zuyi yang berasal dari Tiongkok.

Armada bajak laut Chen Zuyi kemudian ditumpas oleh Laksamana Cheng Ho pada tahun 1407.

Laksamana Cheng Ho juga dianggap berperan dalam penyebaran Islam di Palembang. Armada Cheng Ho sebanyak 62 unit kapal dan tentara yang berjumlah 27.800 orang pernah empat kali berlabuh di Palembang.

Oleh karena masyarakat setempat mengadopsi nama Cheng Ho pada salah satu masjid di Jakabaring yang juga dikenal sebagai pusat olahraga sekaligus tempat penyelenggaraan Asian Games tahun ini.

Masjid dua lantai yang mampu menampung sekitar 600 orang itu didesain dengan memadukan arsitektur bergaya China dan budaya lokal masyarakat Palembang. Menara di kedua sisi masjid yang dibangun pada 2008 tersebut meniru bangunan klenteng-klenteng di China dengan dominasi warna merah dan hijau giok.

Di Palembang juga terdapat tempat-tempat lain yang tidak bisa dipisahkan dari adat dan tradisi masyarakat Tiongkok, seperti Kampung Kapitan yang langsung menghadap Sungai Musi dengan latar belakang Jembatan Ampera dan Benteng Kuto Besak.

Selain Palembang, Jakarta dan Semarang juga patut menjadi "alat tawar" bagi Kemenpar untuk mengundang wisatawan dari daratan Tiongkok.

Di kawasan Ancol, Jakarta Utara, ada makam Wu Ping, juru masak Cheng Ho, dan istrinya Siti Wati, yang merupakan penduduk lokal.

Kemudian di Semarang juga ada kelenteng Sam Po Kong yang merupakan petilasan persinggahan pertama Cheng Ho. Belum lagi Masjid Cheng Ho di Kabupaten Pasuruan dan Kota Surabaya. Tempat-tempat tersebut tidak kalah bernilainya bagi masyarakat China yang sebagian besar menggemari wisata sejarah dengan mengunjungi museum atau situs-situs tertentu.

"Indonesia tidak hanya Bali. Masih banyak tempat lain yang perlu dikunjungi, terutama yang berkaitan dengan sejarah ekspedisi Cheng Ho," kata Menpar Arief Yahya saat bertemu dengan para agen perjalanan wisata China di Beijing pada 23 Januari 2018. (M. Irfan Ilmie)

http://www.benhil.net/2017/11/meledakkan-kunjungan-wisata-toba.html


Jakarta, 6/2 (Benhil) - Pemerintah telah menetapkan target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke kawasan Danau Toba, Provinsi Sumatera Utara, pada 2019 sejumlah satu juta orang. Untuk mendukung target itu, Pemerintah mempersiapkan aksesibilitas yang memadai hingga ke lokasi-lokasi wisata.

Hal itu dimulai dengan pengoperasian ruas tol Bandara Kualanamu-Tebing Tinggi yang merupakan bagian dari jalur tol Kualanamu-Parapat, pada Oktober 2017.

Menurut Direktur Industri Pariwisata dan Kelembagaan Kepariwisataan Badan Otorita Pariwisata Danau Toba M Rommy Fauzi kepada Benhil di Medan, beberapa waktu lalu, jalur tol Bandara Kualanamu-Parapat akan dituntaskan dengan pembangunan ruas tol dari Kuala Tanjung-Tebing Tinggi-Parapat, yang akan dimulai pada 2018 dan diharapkan selesai pada 2019.

Pembangunan jalan tol ini untuk mempersingkat waktu tempuh dari Bandara Kualanamu ke Parapat sebagai pintu masuk utama ke kawasan pariwisata Danau Toba, dari empat jam menjadi sekitar dua jam, serta mendukung kunjungan wisatawan yang menggunakan kapal cruise dan kapal pesiar dari pelabuhan Kuala Tanjung, di pantai Timur Sumatera Utara, ke Parapat.

Selain pembukaan jalur baru, pemanfaatan jalur yang sudah ada, seperti jalur kereta api Medan-Pematang Siantar, akan ditingkatkan dengan penambahan rangkaian kereta baru kelas eksekutif.

Menurut Rommy, rangkaian kereta api baru akan dikirim pada tahun 2018, dan selanjutnya akan segera dioperasikan dua kali sehari.

Untuk menampung kendaraan bermotor yang mau masuk ke Pulau Samosir lewat Pematang Siantar, akan ditambah pelabuhan feri di dua lokasi, yakni di Ajibata-Ambarita dan Tigaras-Simanindo.

Kehadiran dua pelabuhan feri ini akan menambah yang sudah ada saat ini dari Ajibata ke Tomok, yang dilayani dua kapal dengan kapasitas total sekitar 70 mobil. Kapal feri yang dikelola swasta ini pada kondisi puncak liburan biasanya dioperasikan 24 jam sehari.

Secara parallel kapasitas dan kualitas layanan bandara Silangit di Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara, juga terus ditingkatkan. Pada akhir November 2017 Presiden Joko Widodo meresmikan Bandara Silangit sebagai bandara internasional, dan pada saat itu Presiden meminta agar landas pacu bandara itu diperpanjang dari 2.650 meter menjadi 3.000 meter agar pesawat berbadan lebar bisa mendarat.

Badan Otorita Pariwisata Danau Toba telah melakukan pendekatan-pendekatan kepada sejumlah maskapai penerbangan domestik dan asing agar membuka penerbangan langsung dari Kuala Lumpur Malaysia dan Singapura ke Silangit secara reguler.

"Kami berharap Garuda bisa melayani penerbangan Singapura-Silangit secara reguler mulai Februari (2018)," kata Rommy.

Selain jarak yang lebih dekat, penerbangan ke Silangit dari dua negara tetangga itu dinilai lebih efektif karena langsung ke jantung pariwisata Danau Toba. "Dimana lagi bisa didapat lokasi wisata yang indah dan nyaman hanya dengan penerbangan 45 menit hingga satu jam?" katanya, membandingkan penerbangan ke Kualanamu lebih jauh dibanding ke Silangit.

Selama 2017 diperkirakan 300.000 penumpang yang dilayani Bandara Silangit, umumnya penumpang domestik, namun dengan dibukanya jalur internasional akan mendorong masuknya wisatawan asing.

Untuk mendukung mobilitas wisatawan dari Bandara Silangit menuju Pulau Samosir, telah dibangun jalur feri yang menghubungkan Muara ke Nainggolan dan dari Balige ke Oanan Runggu. Selain itu, sejak akhir 2017 juga telah tersedia angkutan reguler Damri dari Silangit ke Pematang Siantar, untuk melayani konektivitas lewat Parapat, yang ingin menuju Tomok atau Tuktuk.

Bagi yang ingin ke Samosir lewat Tele, sambil menikmati keindahan perbukitan dan Danau Toba dari ketinggian, bisa sejenak singgah di Menara Pandang Tele. Jalur ini bisa dinikmati dengan baik karena jalanannya sudah diperbaiki dan diperlebar.

Sementara di Pulau Samosir, sejak 2017 telah dilakukan perbaikan dan pelebaran jalan lingkar Samosir menjadi enam meter dengan lapisan aspal "hotmix", yang menurut Bupati Samosir Rapidin Simbolon, akan tuntas pada 2018.

Tingkatkan Kualitas Hotel Untuk memanjakan wisatawan, hotel dan restoran diminta untuk meningkatkan kualitas layanan, baik perbaikan fisik (renovasi) maupun pelayanan terhadap tamu.

Di wilayah Samosir, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) setempat sudah mengajak anggotanya untuk melakukan renovasi hotel, terutama yang dibangun medio tahun 1970-an, untuk menyesuaikan dengan tuntutan wisatawan saaat ini, misalnya perbaikan kamar dan toilet, penambahan layanan koneksi internet via jaringan wifi, serta kebersihan dan keindahan hotel secara keseluruhan.

Menurut Ketua PHRI Samosir Annette Horschmann, pemberdayaan rumah adat Batak menjadi homestay (rumah penginapan), sebagai antisipasi keterbatasan daya tampung hotel pada kondisi puncak, merupakan jalan keluar terbaik, karena bisa memberi manfaat secara langsung bagi masyarakat.

"Kalau masyarakat memperoleh manfaat, mereka juga akan secara langsung turut menjaga dan memelihara keberlanjutan pariwisata Danau Toba," katanya, sambil menambahkan bahwa pemanfaatan rumah adat jadi homestay memiliki potensi besar, selain karena memiliki nilai artistik dan kultural yang tinggi, saat ini banyak rumah adat yang tidak dihuni lagi karena berbagai alasan, antara lain ditinggal merantau.

Di Parapat, kata Ketua PHRI Parapat Husin Tony, pihaknya telah merasakan kehadiran Bandara Silangit, yakni adanya peningkatan jumlah wisatawan ke daerah itu, dan dengan sendirinya para pelaku industri pariwisata setempat berupaya meningkatkan layanannya, baik melalui renovasi maupun perbaikan tata kelola dan pelayanan terhadap tamu yang datang.

Di Siborongborong dan Balige, dalam beberapa tahun terakhir juga sudah tumbuh hoel-hotel baru, baik hotel berbintang maupun melati, seiring dengan meningkatnya jumlah penumpang di Bandara Silangit.

Menurut Rommy Fauzi, jumlah hotel yang ada di sekitar kawasan Danau Toba, termasuk di kabupaten Siamlungun dan Karo, siap menampung kunjungan sejuta wisatawan ke daerah itu pada tahun 2019.

Tingkatkan Lama Tinggal Untuk meningkatkan lama tinggal wisatawan di sekitar Danau Toba, Badan Otorita Pariwisata Danau Toba sudah mengembangkan "calendar of events" yang melibatkan tujuh kabupaten di sekitar Danau Toba, yakni Samosir, Toba Samosir, Simalungun, Karo, Dairi, Humbang Hasundutan, dan Tapanuli Utara.

Kalender kegiatan tersebut akan dibuat setiap tahun, dan setiap kabupaten harus menjalankannya secara konsisten. Tahun 2017, ada 17 kegiatan dan untuk Tahun 2018 sedang dipersiapkan, kata Rommy.

Salah satu kegiatan yang sedang digarap, yakni atraksi budaya Batak secara kolosal, meniru konsep yang ada di China. "Kita akan bekerja sama dengan Vicky Sianipar untuk menggarap pertunjukan itu," katanya.

Pengembangan "sport tourism" juga telah dimulai dengan ajang Toba Gran Fondo 2016, yakni lomba balap sepeda sambil menikmati keindahan Danau Toba. Kemudian pada November 2017, diadakan lomba sampan marathon internasional (International Toba Kayak Marathon) di Balige dengan peserta dari berbagai negara, dan juaranya berasal dari Republik Ceko.

Arung jeram Sungai Asahan, yang berada di sekitar Parhitean, Kabupaten Toba Samosir, yang dinilai terbaik ketiga di dunia, terus dikembangkan menjadi ajang rutin setiap tahun.

Menurut Rommy Fauzi, untuk pasar Singapura pihaknya sudah menjual paket perjalanan wisata dari Silangit ke sekitar Danau Toba dengan harga 299 Dolar Singapura selama 3 hari 2 malam, dan 349 Dolar Singapura untuk 4 hari 3 malam, untuk dua orang.

Selain itu, kehadiran kapal pesiar berbentuk rumah adat Batak di Danau Toba diharapkan akan memberi layanan baru untuk mengunjungi berbagai objek wisata di sekitar Danau Toba, yang pada akhirnya akan meningkatkan lama tinggal wisatawan.

Untuk memenuhi kebutuhan generasi milenial yang senantiasa terkoneksi internet setiap saat, pihak Telkom sedang membangun jaringan kabel serat optic untuk seluruh kawasan wisata di Pulau Samosir, dengan layanan minimal 3G. "Saat ini sedang dibangun dari Dolok Sanggul ke Pangururan," kata Rommy.

Mengingat saat ini wisman terbanyak yang berkunjung ke Sumatera Utara dan Danau Toba berasal dari Malaysia, jumahnya hampir 50 persen, maka para pelaku usaha restoran dan hotel di Pulau Samosir diminta menyediakan layanan yang halal.

Menurut Bupati Samosir Rapidin Simbolon, hotel dan restoran yang menyediakan layanan halal sudah tersedia ckup di Samosir. "Mungkin pelayannnya yang perlu ditingkatkan, termasuk soal kebersihan," katanya.

Yang tidak kalah penting, yaitu menyiapkan warga masyarakat sekitar Dana Toba untuk menyambut kehadiran wisatawan di daerahnya lewat berbagai kegiatan sosialisaisi, terutama lewat gereja.

"Lewat khotbah-khotbah di gereja diharapkan masyarakat diberi pemahaman soal manfaat industri pariwisata, bagaimana cara berperilaku menghadapi wisatawan, serta bagaimana cara untuk menjaga kelestarian alam dan budaya setempat," kata Rommy.

Untuk kepentingan sosialisasi itu Badan Otorita Pariwsaiata Danau Toba sudah menjalin kerja sama dengan pihak Gereja Katolik dan Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) di Sumatera Utara.

Namun Sebastian Hutabarat, seorang pegiat lingkungan dan pelaku usaha wisata di Balige, Tobasa mengatakan program sosialisasi pariwisata lewat khotbah di gereja tidaklah cukup, tetapi memberi contoh adalah cara terbaik.

"Pemberdayaan rumah adat Batak menjadi homestay adalah contoh yang paling baik. Masyarakat yang mengusahakan rumahnya menjadi tempat penginapan, akan mendapat manfaat secara langsung, dan dengan sendirinya akan memberikan layanan yang terbaik agar usahanya berjalan lancar dan berlanjut. Beri contoh yang lain, itu yang perlu," kata Sebastian.


"Wajah" Surabaya yang kini hijau, bersih, rapi tak hanya memikat hati warganya tetapi juga membuat wisatawan Belanda, Johannes, jatuh cinta sehingga ingin terus kembali ke Kota Pahlawan ini setiap kali dia berkesempatan berlibur ke Indonesia.

Pria kulit putih berambut hitam yang mengaku bernama lengkap Johannes Wilhelmus Rovers ini sudah 10 kali menyinggahi Surabaya setiap kali mengunjungi Indonesia.

"Sudah 10 kali saya ke Surabaya. Kota itu nyaman, bersih dan hijau karena banyaknya pepohonan dan taman-taman," kata pria asal Kota Denhaag ini. Kepada Benhil yang mengajaknya mengobrol saat pria asal Kota Denhaag, Belanda, ini sedang menikmati suasana ramai kawasan wisata Malioboro, Yogyakarta, pada Ahad (21/1) siang, dia mengatakan dia berencana ke Surabaya pada Rabu (24/1) untuk beberapa hari.

Dari bangku taman jalur pedesterian Malioboro yang lebar dan apik tempatnya duduk, Johannes melanjutkan obrolannya bahwa dia menyukai Surabaya karena di kota itu, tapak jejak masa Kolonial Belanda berupa gedung-gedung masih banyak yang terawat.

Gedung-gedung peninggalan Kolonial yang masih terawat baik di Kota Surabaya itu membuatnya menikmati jalan-jalannya. Selama di Surabaya, Johannes yang pada Ahad siang itu berkaos oblong dan bercelana pendek warna gelap dengan sepatu kasual dari sebuah merek Puma ini mengatakan bahwa dia memilih penginapan di kawasan Gubeng.

"Saya suka losmen Gubeng," kata pria kulit putih berambut hitam yang tiba di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta,Banten pada 14 Januari 2018 dan berencana berada di Indonesia selama dua bulan ini.

Johannes hanyalah wisatawan asing yang jatuh cinta pada sudut-sudut Kota Surabaya yang pernah disinggahi dan warga kota yang pernah berinteraksi dengannya.

Dari situ, terbangun perspektifnya yang terbangun dari apa yang dia lihat dan rasakan selama 10 kali berkunjung dan berinteraksi dengan warga dan "wajah" kota metropolitan multietnis itu.

Boleh jadi, Johannes tak begitu banyak tahu bahwa kota multietnis berpenduduk lebih dari 3,1 juta jiwa (2012) itu tak sekadar teduh dan hijau berkat kehadiran sedikitnya 21 taman yang mendukung perkembangan Surabaya menjadi "kota layak huni" bagi warganya.

Di kota yang namanya pernah ditorehkan Mpu Prapanca dalam maha karyanya "Negara Kertagama" ini kini juga sudah berkembang pesat menjadi "smart city" (kota pintar) yang diakui banyak pihak dan manfaatnya pun telah dirasakan langsung banyak warga kota.

Melalui situs resmi Pemkot Surabaya "https://www.surabaya.go.id/", misalnya, warga kota dan siapa saja yang ingin mengetahui perihal layanan publik, keamanan, pariwisata, dan banyak hal lain tentang Surabaya bisa mendapatkannya di laman ini.

Di laman resmi ini juga tersedia informasi tentang Surabaya kini, tentang Surabaya, ekonomi bisnis, pemerintahan, sosial-budaya, dan "Surabaya Smart City".

Tak hanya itu, melalui laman Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Pemkot Surabaya http://musrenbang.surabaya.go.id/, warga pun dapat mengetahui hasil Musrenbang periode 2009 - 2017 sekaligus bisa memberi masukan untuk pembangunan kota mereka.

Bagi warga Surabaya yang ingin menyampaikan usul, mereka dapat melakukannya melalui ketua rukun warga di lingkungan rumah mereka.

Menyadari pentingnya sektor pariwisata bagi mendukung pembangunan ekonomi kota, pemerintah kota pun menyediakan laman https://sparkling.surabaya.go.id/traveller-information/essential-information/ untuk membantu turis asing mendapatkan informasi penting yang mendukung perjalanan wisata mereka di Surabaya.

Keterbukaan dan akses informasi publik yang mendukung terwujudnya akuntabilitas pemerintah kota ini dilengkapi pula dengan berbagai layanan gratis bagi warga, termasuk layanan Call Center 112 dan berbagai program gratis pemberdayaan sumber daya manusia.

Rumah bahasa Menurut Adi Yatmoko, staf dan guru bahasa Inggris Rumah Bahasa Surabaya, layanan Call Center 112 itu merupakan salah satu inovasi terbaru untuk membantu warga dan siapa pun yang sedang berada di Surabaya mendapatkan layanan darurat gratis.

Untuk menyiapkan dan meningkatkan kompetensi bahasa asing warga Surabaya agar mampu dan siap menghadapi pasar bebas Masyarakat Ekonomi Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), pemerintah kota berinisiatif membuka Rumah Bahasa Surabaya, katanya.

Di rumah bahasa yang sudah beroperasi sejak diresmikan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pada 4 Februari 2014 itu, warga ditawarkan kelas gratis Bahasa Inggris, Arab, Belanda, Jepang, Jerman, Korea, Mandarin, Prancis, Rusia, Spanyol, Jawa, dan Indonesia, kata pria berusia 26 tahun ini. Bagi para siswa SD Kota Surabaya yang memerlukan bimbingan belajar (Bimbel), Perpustakaan Balai Pemuda yang dimiliki Pemkot Surabaya pun menyediakan program Bimbel gratis untuk sejumlah pelajaran seperti matematika, Agama Islam, Komputer, dan Sejarah.

"Kita menyelenggarakan bimbel gratis setiap hari dari pukul 14.00 hingga 15.00 WIB ini sebagai salah satu inovasi kita untuk menarik pengunjung ke perpustakaan kita," kata Hamzah, petugas teknis Perpustakaan Balai Pemuda Surabaya.

Di tengah roda pembangunan kota yang membuat "wajah" Surabaya semakin elok di mata warga dan turis asing seperti Johannes Wilhelmus Rovers, di kota perjuangan ini pula, benih-benih kemajuan Indonesia disemai melalui peran pemerintah kotanya yang besar.


Danau Toba, diabadikan oleh Charlie M. sianipar

Jakarta, 28/11 (Benhil) - Presiden Joko Widodo meresmikan Terminal Bandar Udara Internasional Silangit di Silangit, Siborong-Borong, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Jumat (24/11).

Bandar udara tersebut dinilai strategis dan penting dalam upaya mendorong wisatawan lokal dan mancanegara datang ke Danau Toba, yang saat ini memang sedang gencar-gencarnya dipromosikan pemerintah sebagai tujuan wisata dunia.

Sebelum menjadi bandar udara internasional, Bandara Silangit hanyalah sebuah bandar udara perintis yang memiliki fasilitas minim dan landasan pacu yang pendek, yakni 1.800 meter, sehingga hanya bisa didarati pesawat berbadan kecil dengan frekuensi yang sedikit pula.

Namun kini Bandara Silangit sudah mengalami banyak perubahan, baik dari sisi bangunan, landasan pacu, hingga fasilitas serba canggih yang memudahkan penumpang untuk mendapatkan informasi dan kemudahan lain.

Bandara Silangit berkapasitas 500.000 penumpang per tahun ini dilengkapi dengan fasilitas CIQ (Bea Cukai, Imigrasi dan Karantina), landasan pacu 2.650 x 30 meter, dan PCN (tingkat kekerasan landasan) yang bisa mengakomodasi pesawat berbadan sempit sejenis Airbus A320 dan Boeing 737-800.

Bandara Silangit juga mengimplementasikan fitur bandara pintar (smart airport) dengan teknologi digital, antara lain berupa wi-fi gratis, layar jadwal bus dan penerbangan, pembayaran elektronik (e-payment), mesin tiket bus, informasi turis, cek in mandiri (self check-in), dan berbagai fitur digital.

PT Angkasa Pura II menyiapkan Bandara Internasional Silangit di Provinsi Sumatera Utara sebagai salah satu pionir penerapan konsep bandara pintar guna menunjang sektor pariwisata Danau Toba.

Bandara Internasional Silangit menjadi pionir bandara pintar di kategori bandara berkapasitas 500.000 penumpang melalui berbagai fasilitas berbasis digital guna menciptakan pengalaman pelanggan yang baik bagi para wisatawan mancanegara.

Berbagai fasilitas digital tersebut sudah dapat dipergunakan sejak 28 Oktober 2017 atau bersamaan dengan penerbangan rute Singapura-Silangit, yang merupakan rute luar negeri perdana di Bandara Internasional Silangit.

Fasilitas-fasilitas tersebut adalah jadwal bus bandara di mana para pengguna jasa bandara dapat mengetahui estimasi waktu melanjutkan perjalanan dengan moda transportasi ke tempat tujuan masing-masing.

Melihat pembangunan yang begitu pesat, membuat Presiden Joko Widodo akhirnya meresmikan bahkan mengajak semua komponen untuk untuk membuat "ledakan" mengembangkan pariwisata di Danau Toba dan Tanah Batak yang menyimpan begitu banyak kekayaan serta keindahan alam dan budaya.

"Sekitar 74 ribu tahun silam Danau Toba alami ledakan gunung maha dahsyat yang dampaknya terasa sampai sedunia, sekarang kita sedang buat ledakan baru di dunia pariwisata saat gerbang keindahan Toba yang simpan kekayaan budaya dan suku Batak telah terbuka lebar," kata Presiden Joko Widodo.

Adanya bandara ini maka inilah menjadi gerbang bagi wisatawan lokal dan mancanegara untuk berkunjung dan melestarikan budaya adat Batak dan Danau Toba, membangun kampung halaman dan gerbang menuju kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat setempat.

Pemerintah akan memperbanyak frekuensi penerbangan ke Bandara Internasional Silangit, Sumatera Utara, untuk mengembangkan potensi wisata di kawasan itu terutama Danau Toba yang sudah terkenal. Sejumlah maskapai yang sudah melayani penerbangan di Silangit adalah Garuda Indonesia, Sriwijaya Air, Wings Air dan rencananya awal Desember 2017 Batik Air.

Danau Toba adalah salah satu dari 10 tujuan utama yang sedang dikembangkan potensi wisatanya oleh Pemerintahan Joko Widodo dan untuk itu perlu menyediakan infrastruktur bandara yang memadai dan berkelas internasional.

Ke-10 tujuan wisata itu adalah Mandalika (NTB), Labuan Bajo (NTT), Pulau Morotai (Maluku Utara), Tanjung Kelayang (Bangka Belitung), Danau Toba (Sumatera Utara), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Gunung Bromo (Jawa Timur), Candi Borobudur (Jawa Tengah), Pantai Tanjung Lesung (Banten), dan Kepulauan Seribu (DKI Jakarta).

Untuk itu bangunan terminal dan landasan pacu sudah dan akan terus dikembangkan sehingga nanti bisa lebih banyak menampung penumpang. Tentunya kalau frekuensi penerbangan bertambah makin banyak wisatawan datang ke Toba seperti halnya ke Bali.

Makin ramainya Bandara Silangit didarati dan menerbangkan pesawat sangat penting dan strategis mengingat pemerintah telah mencanangkan Danau Toba sebagai salah satu dari 10 tujuan wisata prioritas atau sebagai "10 Bali Baru" dengan target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Sumatera Utara diproyeksikan mencapai sejuta orang pada tahun 2019.

Untuk mencapai angka kunjungan sejuta wisman, dibutuhkan tujuan wisata kelas dunia dan bandara berkelas internasional.

Tujuan Terbaik Dengan penerbangan internasional langsung menuju Danau Toba, objek wisata ini akan menjadi salah satu tujuan wisata terbaik di dunia, dan membawa kesejahteraan untuk masyarakat di Sumatera Utara, khususnya di sekitar Danau Toba.

Jika dilihat dari jarak dari Bandara Kualanamu, Medan, menuju Danau Toba di Parapat, dibanding dengan dari Bandara Silangit menuju Danau Toba di Parapat, maka jarak tempuh lebih cepat dari Bandara Silangit sekitar 2,5 jam.

Oleh sebab itu, keberadaan Bandara Silangit yang kini memiliki banyak jadwal penerbangan bisa memudahkan wisataan lebih banyak lagi datang ke Danau Toba. Bahkan Pemerintah sebelum 2020 akan memperpanjang landasan pacu Bandara Silangit menjadi 3.000 meter, agar bisa menampung pesawat berbadan lebih lebar lagi.

Saat ini pemerintah pusat dan daerah bersama-sama membenahi akses menuju Danau Toba dengan membangun serta memperbaiki sejumlah infrastruktur, serta mengampanyekan bersih lingkungan di danau terbesar di Indonesia itu.

Salah satu bukti nyata pemerintah mengembangkan Danau Toba adalah Presiden Joko Widodo pada 1 Juni 2016 menandatangani Peraturan Presiden Nomor 49 Tahun 2016 tentang Badan Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata Danau Toba.

Badan itu bertugas mempercepat proses pembangunan Danau Toba yang masuk dalam 10 tujuan wisata prioritas nasional. Adanya badan otoritas tersebut ditambah dengan makin banyaknya rute penerbangan langsung menuju Bandar Udara Internasional Kuala Namu, serta Bandar Udara Silangit diharapkan jumlah wisatawan lokal dan mancanegara yang berkunjung ke kawasan itu akan bertambah.

Selain memiliki bandara itu, sejumlah akses jalan tol juga dibangun dalam upaya mempermudah wisatawan berkunjung ke Danau Toba, yaitu membangun jalur tol dari Kualanamu ke Tebing Tinggi, menuju Siantar, dan Parapat. (Ben/An)

Ahmad Wijaya


"Kami punya sumber daya alam (SDA) yang cukup dan berlimpah, dari hutan dan sekitarnya. Jika dikelola dengan baik dan benar tentu akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang berada di lingkup Komunitas Adat Baringin." Harapan itu disampaikan Kepala Desa (Kades) Baringin, Kecamatan Maiwa, Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan, Made Amin, saat berdiskusi dengan kalangan media massa di desa itu, yang berlangsung sejak bakda shalat Isya hingga tengah malam pada Sabtu (21/10) 2017.

Untuk sampai ke Desa Baringin, membutuhkan waktu lebih dari enam jam dengan jalur darat. Namun, karena sedang ada program pengecoran jalan desa, maka untuk menuju desa itu masih harus dilanjutkan dengan berjalan kaki dan sepeda motor sehingga cukup menguras energi.

Bersama unsur utama dalam sistem struktur kepemimpinan adat dan kelembagaan Masyarakat Adat Baringin yang disebut dengan istilah "Appa Allirinna Wanua" diskusi lepas berlangsung secara "sersan" (serius tapi santai) bersama parapihak lainnya.

Parapihak tersebut -- yang mendorong percepatan pengakuan pemerintah/negara pada komunitas Masyarakat Adat Baringin itu -- adalah organisasi Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), baik dari Pengurus Wilayah (PW) Sulawesi Selatan, Pengurus Daerah (PD) Kabupaten Enrekang, Sulawesi Community Foundation (SCF), dan Kemitraan (The Partnership for Governace Reform).

Made Amin menjelaskan dalam struktur kelembagaan adat, mengenai peran dan fungsi lembaga adat bersumber dari "Peppasang" (aturan adat).

Dalam susunan kelembagaan Masyarakat Adat Baringin, "To Matua" ditempatkan sebagai puncak pimpinan dalam adat, yang di bawahnya ada yang disebut "Dulung", "Sara'" dan "Sanro".

Masing-masing fungsinya, "To Matua" adalah pimpinan pemerintahan lembaga adat, kemudian "Dulung" adalah lembaga adat yang mengatur urusan pertanian, perkebunan, dan pengelolaan sumber daya alam di wilayah Masyarakat Adat Baringin.

Sedangkan "Sara'", adalah lembaga adat yang berfungsi untuk mengatur urusan keagamaan /spiritual, dan "Sanro", yakni lembaga adat yang mengatur urusan kesehatan / pengobatan.

Untuk sistem pengambilan keputusan adat, di wilayah Masyarakat Adat Baringin dilakukan dengan musyawarah untuk mufakat, yang dikenal dengan istilah "Sipulung Wanua", di mana pengambilan keputusan dalam hukum adat Kajang selalu harus mengacu pada aturan adat (peppasang).

Bagi Made Amin -- yang mengaku bahwa nama "Made" di depan namanya yang seperti nama di Bali, namun ia adalah putra asli Desa Baringin -- selama hampir 12 tahun ia memimpin desa itu, dirinya selalu menyelaraskan kelembagaan "modern" desa dengan budaya adat.

"Kombinasi antara bentuk desa dalam perspektif pemerintahan modern dengan aturan dan hukum adat menjadikan semua permasalahan yang ada di masyarakat dapat diselesaikan dengan baik," kata alumnus jurusan Ilmu Sosial dan Politik Universitas Hassanudin (Unhas) Makassar itu.

Ia menyebut kombinasi "modern-adat" itu biasanya dilakukan pada peristiwa rumit, seperti soal sengketa pertanahan.

"Saya mengambil posisi untuk kasus-kasus tanah wajib dimintakan penyelesaian melalui 'To Matua' dulu, dan diharapkan tidak harus melalui aturan hukum formal yang lebih panjang prosesnya. Alhamdulillah selama ini mekanisme itu berhasil," katanya.

Kontribusi Bersama Perjalanan panjang untuk pada akhirnya Masyarakat Adat Baringin mendapat pengakuan dari negara -- yang pada akhirnya bermuara pada pemberian pengakuan hutan adat -- mendekati cita-cita yang diinginkan parapihak untuk percepatan lahirnya pengakuan itu.

"Kita membutuhkan kontribusi bersama untuk percepatan pengakuan (Masyarakat Adat Baringin) dan penetapan (hutan adat) sehingga masyarakat Desa Baringin bisa lebih sejahtera," kata Ketua Pengurus Wilayah (PW) Aman Sulsel Sardi "Ian" Razak.

Ia menjelaskan bahwa itikad baik atas perjuangan pengakuan dan penetapan itu ditunjukkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Enrekang dalam bentuk lahirnya Peraturan Daerah (Perda) No 1 tahun 2016 tentang Pedoman Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat tertanggal 31 Oktober 2016.

Kemudian, ditindaklanjuti dengan menerbitkan SK Bupati No. 470/Kep/X/2016 tentang Pembentukan Panitia Masyarakat Hukum Adat dan lahirnya Surat Edaran Bupati Enrekang Muslimin Bando No. 047/3566/SETDA tentang Identifikasi dan Verifikasi Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Enrekang.

Dalam prosesnya, menurut Ian -- panggilan karib Sardi Razak -- agenda memperjuangkan penetapan hutan adat dilakukan bersama parapihak dengan ketemu "To Matua" dan kades, melalukan verifikasi ulang, hingga akhirnya ditetapkan hutan adat seluas 444,9 hektare yang diusulkan kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

"Bila penetapan untuk hutan adat itu telah diputuskan oleh KLHK, maka statusnya nanti bukan lagi 'hutan negara' tetapi hutan hak, yang diberikan kepada Masyarakat Adat Baringin untuk bisa dikelola, dijaga dan dimanfaatkan, sehingga hutan tetap lestari dan masyarakat juga sejahtera, meski dalam faktualnya belum sejahtera," katanya.

"Dengan surat keputusan (SK) penetapan, nantinya tidak akan ada lagi kriminalisasi kepada masyarakat yang memanfaatkan hutan," ujarnya.

Terlebih, kata dia, juga sudah ada putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 35/PUU-X/2012 yang menegaskan kembali bahwa hutan adat adalah hutan yang berada dalam wilayah masyarakat adat, dan bukan lagi sebagai hutan negara Bagi Ketua Pengurus Daerah (PD) Aman Kabupaten Enrekang Paundanan Embongbulan, esensi yang utama untuk memperjuangkan hak-hak adat masyarakat adalah pada titik yang disebutnya "perjuangan pengakuan" (dari pemerintah) itu.

"Melalui pengakuan penetapan (hutan adat) dari KLHK itu, maka pemerintah daerah secara bertahap bisa menindaklanjuti untuk mengindentifikasi apa yang dibutuhkan untuk membantu program pemberdayaannya," katanya.

Dengan demikian, melalui program pemberdayaan dari pemerintah daerah maka kelembagaan adat di desa dapat lebih berdaya sebagaimana mestinya.

Isyarat untuk pemberdayaan masyarakat itu, telah diperlihatkan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Kabupaten Enrekang.

Melalui diskusi dengan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Kabupaten Enrekang Arifin Bando isyarat dimaksud diperkuat.

"Bupati merespons cepat, baik sejak pengusulan dan menjadi Perda berkoordinasi dengan DPRD, membentuk kepanitiaan bersama, sampai sosialisasi kepada masyarakat," katanya.

"Kata kuncinya, sebenarnya untuk komunitas Masyarakat Adat Baringin bukanlah perjuangan, hanya tinggal legalitas (pengakuan) saja yang memang membutuhkan persoalan administratif ketatanegaraan," katanya.

Sebagai wujud komitmen itu, pihaknya mengupayakan pada 2018 akan ada alokasi bagi program pemberdayaan bagi komunitas Masyarakat Adat Baringin, yang disebutnya "akan diseuaikan dengan kekuatan anggaran" dinas yang dipimpinnya itu.

Dorongan Salah satu pihak yang ikut memberikan sumbangsih bagi perjuangan untuk mendapatkan hak adat di Desa Baringin, yakni Sulawesi Community Foundation (SCF) melihat bahwa kerja bersama yang dilakukan akan memberikan dorongan bagi upaya-upaya menuju kesejahteraan masyarakat melalui adanya pengakuan hutan adat itu.

SCF adalah sebuah organisasi nirlaba berbentuk yayasan yang didirikan oleh multi-stakeholder (Kelompok Masyarakat /Adat, LSM/Ornop, perguruan tinggi, Aliansi Jurnalis Lingkungan dan pemda/Dinas Kehutanan Propinsi) yang peduli terhadap kondisi Pengelolaan Sumber Daya Alam (PSDA) Sulawesi.

"Kami 'concern' pada upaya mendorong masyarakat dan petani di sekitar hutan untuk program perhutanan sosial," kata "Program Officer" SCF Sutrisno Absar.

Di dalam program perhutanan sosial, SCF menyebut bahwa isu kemiskinan di berbagai wilayah merupakan persoalan masa lampau, terutama kemiskinan di wilayah desa belum dapat teratasi dengan baik, padahal potensi sumber daya alam cukup melimpah yang dapat dikelola dengan baik.

Saat ini, kebijakan pemerintah melalui KLHK yang memberikan akses bagi masyarakat sekitar hutan dalam pengelolaan hutan melalui skema Hutan Kemasyarakatan, Hutan Desa maupun Hutan Kemitraan dan terakhir dengan pengakuan terhadap Hutan Adat, memberi peluang kepada masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar hutan ataupun masyarakat adat untuk mendapatkan akses dan kepastian dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya hutan.

Sementara itu, "Project Manager" Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Kemitraan Gladi "Yayan" Hardiyanto menjelaskan sejak 2009 pihaknya bekerja di daerah-daerah guna mendorong program perhutanan sosial.

Dorongan itu, khususnya untuk penetapan hutan adat, sangat dibutuhkan, terlebih bila merujuk pada komitmen Presiden Joko Widoso dalam menuntaskan target 12,7 juta hektare hutan untuk rakyat dalam program Nawacita-nya.

"Kita akan kejar agar (pengakuan dan penetapan) hutan adat bisa bertambah," kata Yayan, panggilan karib Gladi Hardiyanto.

Meski demikian, ia juga mengingatkan bahwa bila penetapan hutan adat sudah diperoleh masyarakat, yang notabene telah berubah statusnya menjadi hutan hak maka fungsi hutannya harus dipertahankan dan tidak berubah peruntukannya.

"Seperti berubah fungsi menjadi perkebunan atau pertambangan, sehingga hutan tetap dijaga, dan masyarakat bisa mengelolanya dengan prinsip-prinsip kelestarian," katanya.

Rotan, Durian Hingga Eboni Kades Baringin Made Amin menegaskan bahwa potensi-potensi besar dari SDA yang ada di kawasan adat setempat, di antaranya mulai dari rotan yang disebutnya "melimpah", hingga buah durian lokal, sampai kayu eboni.

Menurut "Wikipedia", kayu hitam Sulawesi adalah sejenis pohon penghasil kayu mahal dari suku eboni-ebonian (Ebenaceae). Nama ilmiahnya adalah "Diospyros celebica", yakni diturunkan dari kata "celebes" (Sulawesi), dan merupakan tumbuhan endemik daerah itu.

Pohon ini menghasilkan kayu yang berkualitas sangat baik. Warna kayu coklat gelap, kehitaman, atau hitam berbelang-belang kemerahan. Dalam perdagangan internasional kayu hitam sulawesi ini dikenal sebagai "Macassar ebony", "Coromandel ebony", "streaked ebony" atau "juga black ebony".

Nama-nama lainnya di Indonesia di antaranya kayu itam, toetandu, sora, kayu lotong, dan kayu maitong. Kayu hitam itu berat jenisnya melebihi air, sehingga tidak dapat mengapung.

Kayu hitam sulawesi terutama digunakan untuk mebel mahal, ukir-ukiran dan patung, alat musik, misalnya gitar dan piano, tongkat, dan kotak perhiasan.

"Beberapa peneliti dari LIPI, Kebun Raya Bogor, dan beberapa lainnya sudah datang ke Baringin untuk melihat pohon eboni, yang merupakan 'kayu termahal' ini," katanya.

Khusus untuk durian, di Desa Baringin hampir di semua kawasan hutan maupun kebun masyarakat terdapat pohon durian, yang bisa berbuah sepanjang tahun.

Mimpi dari Made Amin -- setelah sempat melihat langsung pengelolaan agrowisata buah apel di Kota Batu, Jawa Timur -- adalah menjadikan durian untuk kepentingan pariwisata berbasis agro itu.

"Nantinya, siapapun yang datang, termasuk wisatawan, bisa memetik durian langsung dari pohonnya. Ini sangat potensial dikembangkan, dan nantinya akan bisa menjadi salah satu andalan untuk ekonomi warga," katanya.

Sedangkan untuk rotan, hampir di semua kawasan hutan terdapat sumber daya alam itu. Hanya saja, hingga kini pengelolaannya sebatas dalam bentuk bahan mentah, yang minim nilai tambah ekonomi.

"Di Cirebon, Jawa Barat saja, yang tidak mempunyai tumbuhan rotan ini, bisa mengambil nilai tambah tinggi pada industri kreatifnya. Tentu, sediaan rotan yang melimpah di Desa Baringin ini, semestinya bisa dikelola dengan lebih baik ," katanya.

Kerja dan proses panjang masyarakat Desa Baringin untuk mendapatkan pengakuan, hingga penetapan untuk hutan adat, secara kolaboratif telah diperjuangan masyarakat dan parapihak, baik pemerintah maupun non-pemerintah.

Pada akhirnya, jika pengakuan dan penetapan nantinya sudah diperoleh, maka tugas besar lainnya adalah bagaimana potensi SDA yang ada di Desa Baringin itu mampu dikelola bagi sebesar-besar manfaatnya untuk masyarakat dengan tetap pada komitmen terjaganya fungsi hutan dan lingkungan secara lestari.

Andi Jauhari
All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.