Pekanbaru, 17/4 (Benhil) - Aura semangat jelas terpancar dari sosok Suryono, pria paruh baya yang kini bagi sebagian petani di Kabupaten Siak, Provinsi Riau dijuluki sebagai "guru tani".

Senin (16/4) siang awal pekan ini, Suryono kedatangan sejumlah warga yang belajar hortikultura. Di teras rumah sederhananya di Kampung Pinang Sebatang Barat, Kecamatan Tualang, Siak, pria keturunan Jawa kelahiran Sumatera Utara itu menyambut ramah kedatangan warga.

Hidangan kopi hitam panas serta rebusan jagung, pisang serta umbi-umbian saat hujan menjadi kombinasi pas untuk memulai berbagai cerita, pengalaman dan ilmu bersama peraih Adikarya Pangan Nusantara 2015 tersebut.

"Saya ingin menyebar virus budi daya hortikultura. Karena sejalan dengan visi pemerintah soal ketahanan pangan," kata Suryono kepada Antara memulai pembicaraan.

Apa yang disampaikan Suryono bukan merupakan sebuah impian yang mustahil untuk dilakukan. Pria lulusan Sekolah Dasar itu bertekad untuk membuka hati petani dari praktik pertanian yang mendegradasi lingkungan menuju pengelolaan lahan berkelanjutan.

Gerakan yang dibentuk Suryono bersama kelompok tani di desanya mulai berjalan. Mereka yang merupakan kelompok tani binaan Asia Pulp and Paper (APP) Sinar Mas dalam program Desa Makmur Perduli Api (DMPA) itu menamakan gerakan revolusi hijau tersebut dengan "One Village One Product".

Dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Siak serta perusahaan, mereka melangkah mantap untuk terus menebar virus-virus bertani ala Suryono sebagai upaya mencapai ketahanan pangan, minimal dari tingkat kecamatan.

Suryono sendiri merupakan sosok inspiratif bagi banyak petani, tidak hanya di Siak namun di Provinsi Riau. Pria kelahiran Medan, Sumatera Utara, pada 1975 menjadi contoh petani yang berhasil melakukan mitigasi perubahan iklim dengan bertani holtikultura dan turut andil menjaga lingkungan serta mencegah tejadinya kebakaran lahan dan hutan. Suryono mulai mengisahkan perjalanan hidupnya yang beralih dari petani kelapa sawit menjadi petani holtikultura. Dari kampung halamannya di Medan, ia merantau ke Dusun Sukajaya Kampung Pinang Sebatang Barat, Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, pada 2000 hingga sekarang.

Di rumah sederhana berdinding papan, namun lantai keramik serta peralatan televisi lengkap dengan pemancar satelit parabola berlangganan, Suryono tinggal bersama istri dan tiga orang anak.

Pekerjaan awalnya sejak 2000 adalah berkebun kelapa sawit di Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak. Pada 2013 dia mengambil keputusan nekat dengan menumbangkan seluruh tanaman sawit produktif di kebun dua hektare miliknya. Lantas, dia menggantinya dengan tanaman holtikultura.

Saat itu, Suryono mulai menanam beberapa jenis sayuran seperti kangkung, bayam, cabai, melon, semangka, kacang panjang, timun, pepaya, dan jagung.

Banyak orang menduga dia sudah gila karena dalam benak masyarakat setempat, menanam sayuran tidak akan pernah menguntungkan. Namun, dia tetap pada pendiriannya.

Sistem "mix cropping" atau tumpang sari menjadi andalan dia dalam memulai usaha hortikultura tersebut. Dengan sistem seperti itu, hasil panen dan penghasilannya tidak pernah putus. Setiap hari, dia dapat memanen beragam sayuran untuk dijual ke pasar setempat.

Ia mengakui awalnya memang tidak mudah untuk menjadi petani hortikultura. Terlebih lagi, lahan yang digunakan merupakan bekas tanaman sawit (Elaeis guineensis), yang dikenal boros menghabiskan unsur hara.

Namun, kerja keras Suryono mulai membuahkan hasil. Pengolahan lahan yang tepat serta pemilihan jenis tanaman yang pas berhasil membawa perubahan kepada dirinya.

Sebagai gambaran, ketika menjadi petani sawit dengan lahan dua hektare, Suryono hanya meraih penghasilan maksimal sekitar Rp2 juta samapi Rp3 juta per bulan. Namun, kini dengan mengolah lahan untuk ditanami sayuran, ia berhasil meraup penghasilan sekitar puluhan kali lipat mencapai puluhan juta rupiah per bulan.

Bahkan, pada lahan yang sama itu, Suryono bisa membuka lapangan pekerjaan baru dan mempekerjakan sembilan orang warga setempat.

Keberhasilan Suryono dalam mengambil langkah berisiko tersebut pada 2016 membawa dirinya menjadi salah satu pembicara dalam satu sesi KTT PBB tentang perubahan iklim atau COP-22 dengan tema "Putting People at the Center-Climate Friendly Forest Based Livelihood" di Maroko.

Memotong Mata Rantai Tengkulak 

Suryono menjelaskan, untuk menjadi petani sukses, satu hal utama yang harus dilakukan adalah menghindari tengkulak. Keberadaan tengkulak, yang sejatinya membantu memasarkan komoditas pertanian justru sering menjadi sumber kesengsaraan. Dalam beberapa kejadian, tengkulak justru mengambil untung jauh lebih besar, dengan menekan harga seminimal mungkin kepada petani.

Untuk itu, Suryono mengatakan tengkulak harus dihindari. Caranya adalah setiap petani hortikultura di setiap desa membentuk kelompok tani sendiri. Dari satu kelompok tani, harus terdapat satu petani yang juga merangkap sebagai pedagang. Dengan begitu, informasi harga di pasar dengan mudah diterima para petani. Tidak ada permainan harga, karena petani selalu mengontrol dan memantau harga ditingkat konsumen.

Upaya itu telah ia terapkan di kelompok tani yang ia pimpin. Dia mengatakan, dalam satu bulan kelompok taninya bisa mengirim hingga 20 ton cabai rawit. Cabai jenis itu merupakan komoditas utama yang mereka budidayakan.

Suryono mengatakan, langkah memotong mata rantai tengkulak mulai ia terapkan pada 2010. Butuh waktu tiga tahun hingga kelompok taninya benar-benar bisa lepas dari tangan jahil tengkulak nakal.

"Sebelumnya kami selalu ditipu tengkulak, katanya sayuran ini lagi bagus harganya tapi ketika panen mereka bilang harga jatuh. Padahal, harga di pasar tidak jatuh, tapi mereka ingin untung sebanyak-banyaknya saja dari petani," ujarnya.

Suryono mengatakan para tengkulak tidak ingin petani langsung berjualan dan mengetahui harga komoditas yang sebenarnya dipasar. Berbagai cara unuk menghambat sampai berupa intimidasi kerap menerpa petani, yang ingin berjualan langsung ke pasar.

Ia menyiasatinya dengan memperkuat jaringan mulai dari instansi pemerintah daerah, asosiasi kelompok tani dan nelayan hingga kepolisian.

"Tidak ada undang-undang di negara kita yang melarang petani berjualan langsung ke pasar," kata Suryono.

Menularkan Virus Hortikultura ke Petani Sawit Program "One Village One Product" yang digagas Suryono mulai berjalan. Untuk jangka awal, program itu menyasar ke desa-desa di Kecamatan Tualang. Setiap satu bulan, satu desa yang disambangi Suryono dan kawan-kawan kelompok taninya.

Sejauh ini, dua desa telah ia sambangi. Kedua desa itu adalah Pinang Sebatang Barat dan Kelurahan Perawang. Dari dua lokasi yang ia sambangi, responnya cukup positif. Begitu banyak petani sawit, terutama yang memiliki luas lahan kurang dari lima hektare tertarik beralih ke hortikultura.

Setiap desa memiliki kontur lahan dan topografi berbeda. Perbedaan itu kemudian ia manfaatkan untuk menghasilkan produk hortikultura tertentu dari desa-desa itu. Seperti misalnya untuk Desa Pinang Sebatang masyarakat didorong menanam cabai panjang. Sementara Kelurahan Perawang fokus budidaya padi.

"Sekarang sudah mulai berkembang. Di Kecamatan sudah mulai pelatihan. Jadi setiap desa nanti akan berbeda komoditasnya. Sengaja kita latih masyarakat satu desa satu komoditas," ujarnya.

Semangat Suryono menularkan ilmunya juga dibarengi dengan pelatihan. Setiap hari, pintu rumahnya yang sekarang kondisinya jauh lebih baik dibanding saat menjadi petani sawit selalu terbuka bagi masyarakat.

"Saat memberikan sosialisasi, kita gambarkan pola lahan. Penamaman, sampai pemasaran. Kita ajarkan langsung sampai ke pasar," ujarnya.

Darwin Harahap, pria Tapanuli berusia 42 tahun yang sebelumnya bertanam kepala sawit di lahan satu hektare contohnya. Darwin mulai menumbangkan seluruh kelapa sawit produktif miliknya dan mulai menanam Hortikultura dalam dua tahun terakhir.

Darwin yang merupakan transmigran asal Tapanuli Selatan tersebut mengaku terinspirasi dari kisah sukses Suryono, yang ia sebut sebagai guru-nya. Saat ini, Harahap memiliki dua karyawan dengan penghasilan rata-rata Rp12 juta perbulan. Padahal sebelumnya, dari satu hektare sawit dia hanya meraup pendapatan Rp1,5 juta.

Dalam mengolah lahan miliknya, Darwin membudidayakan beragam tanaman secara tumpang sari. Kacang panjang, cabai, jagung, pepaya, dan timun.

"Kacang panjang rata-rata 70 kilo setiap panen. Itu biasanya dua hari sekali. Kemudian jagung 400 kilogram setiap bulan. Alhamdulillah hasilnya maksimal," ujarnya.

Secara tidak langsung, Darwin mengatakan virus yang disebarluaskan oleh Suryono telah merasuki pola fikirnya untuk siap disebut gila bagi segelintir petani sawit. Namun, dia percaya apa yang dilakukannya tersebut sesuatu yang tepat, dan dia berharap masyarakat lainnya dapat mengikuti jejak dirinya maupun Suryono.


Mukomuko, 17/4 (Benhil) - Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, menyatakan masih ada satu dari dua perusahaan di daerah itu belum melengkapi persyaratan untuk membangun pabrik pengolahan minyak mentah kelapa sawit atau CPO (Crude Palm Oil).

"PT Muko Panen Raya Mandiri (MPRA) belum melengkapi persyaratan berupa kebun kelapa sawit untuk bahan baku pabrik CPO," kata Kabid Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko Budi Yanto di Mukomuko, Selasa.

Sebanyak dua perusahaan, yakni PT Gajah Sawit Sakti dan PT MPRA yang mengusulkan izin usaha perkebunan pengolahan untuk membangun pabrik CPO kepada instansi itu.

Ia menyatakan PT GSS telah memenuhi persyaratan berupa lahan perkebunan milik masyarakat dan kebun perusahaan untuk membangun pabrik CPO di daerah itu.

Perusahaan itu telah memiliki bahan baku yang berasal dari lahan perkebunan kelapa sawit seluas 9.000 hektare yang diperoleh dengan cara bermitra dengan petani dan kebun sendiri untuk membangun pabrik CPO.

Budi Yanto menyatakan, instansinya belum bisa mengeluarkan rekomendasi untuk penerbitan izin usaha perkebunan pengolahan kepada perusahaan yang belum memiliki kebun sawit sendiri dan kebun sawit yang diusahan dengan cara bermitra dengan petani setempat.

Dilanjutkan oleh Budi, perusahaan tersebut wajib memiliki kebun sendiri dan kebun yang diusahan dengan cara bermitra dengan petani sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 29 tahun 2015 yang mengatur tentang persyaratan bagi perusahaan membangun pabrik CPO.

Berdasarkan aturan tersebut, perusahaan harus melengkapi persyaratan, yakni mempunyai lahan perkebunan kelapa sawit sendiri seluas 20 persen dan melalui kemitraan sebesar 80 persen dari kebutuhan bahan baku.

"Perusahaan yang ingin membangun pabrik CPO wajib mengikuti aturan tersebut," ujarnya. (An/FA)


Blangpidie, Aceh, 16/4 (Benhil) - Para karyawan yang bekerja di perkebunan kelapa sawit milik PT Cemerlang Abadi di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), merasa sedih jika izin hak guna usaha (HGU) perusahaan tersebut tidak diperpanjang lagi oleh Pemerintah.

"Kalau Pemerintah tidak lagi memperpanjang izin HGU PT Cemerlang Abadi ini cukup sedih kami yang putra daerah di sini. Karena jika perusahaan kelapa sawit ini tutup kami kehilangan pekerjan," ungkap Muhammad Isa kepada wartawan di Babahrot, Senin.

Isa bersama ratusan karyawan lainnya sangat berharap agar izin HGU perusahaan sawit PT Cemerlang Abadi- Babahrot yang telah berakhir Desember 2017 dapat diperpanjang lagi oleh pemerintah, sebab perusahaan tersebut menampung tenaga kerja lokal.

"Saya sudah empat tahun bekerja di perusahaan sini. Alhamdulillah, kalau gajinya saya pikir cukup lumayanlah. Beda kalau kita tidak bekerja pada perusahaan," ungkapnya.

"Dulu, sebelum saya bekerja di perusahaan ini, pendapatan saya sering macet, terkadang dapat terkadang tidak. Namun, setelah saya menjadi karyawan pada perkebunan ini kebutuhan keluarga saya sudah mencukupi," tuturnya.

Muhammad Isa mengatakan, jumlah karyawan yang sehari-hari bekerja di kebun kelapa sawit milik PT Cemerlang Abadi mencapai 400 kepala keluarga termasuk belasan wanita janda yang berasal dari sejumlah desa yang berada di seputaran perusahaan.

"Bukan karyawan saja yang sedih, tapi para pedagang juga gelisah jika pemerintah tidak lagi memperpanjang izin HGU ini. Ekonomi dipasar Babahrot akan macet," ujar Syarifuddin, mantan Kepala Desa Simpang Gadeng, Kecamatan Babahrot. Tokoh masyarakat itu menambahkan, ekonomi masyarakat Kecamatan Babahrot selama ini cukup bergeliat. Tiap hari para pedagang kelontong, baju bahkan dealer sepeda motor datang ke lahan menjual dagangannya pada karyawan.

"Dimana ada karyawan perusahaan di kawasan tersebut perekonomian bergiliat. Jika perusahaan tutup, sumber mata pencaharian pekerja hilang, maka secara otomatis pertumbuhan ekonomi masyarakat akan menjadi lambat," ujarnya.

Wakil Bupati Abdya, Muslizar sebelumnya menegaskan, pemerintah daerah tidak lagi mengeluarkan rekomendasi izin perpanjangan HGU perusahaan itu, karena lahan di kawasan tersebut akan dijadikan sawah baru untuk masyarakat.

"Logikanya begini, lahan seluas 7 ribu hektare jika dikalikan setiap hektare 3 naleh sawah kemudian diberikan pada rakyat miskin masing-masing 1 naleh/kepala keluarga, maka ada 21 ribu warga yang mendapatkan lahan sawah di sana," tuturnya.

Maksud satu naleh yang disebutkan oleh Wabup Abdya tersebut adalah luas lahan sawah jika ditanam tanaman padi (Oryza sativa) menghabiskan benih sebanyak 16 bambu, atau sama dengan 3 naleh sawah luas arealnya satu hektare lahan.

"Untuk apa kita perpanjang lagi HGU itu, sementara sekarang 95 persen saham PT Cemerlang Abadi itu dikuasi oleh perusahaan Singapura," katanya dalam sebuah acara baru-baru ini.

OJK
Otoritas Jasa Keuangan

Jakarta, 13/4 (Benhil) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berencana mengeluarkan peraturan mengenai inovasi keuangan digital sebagai payung hukum pengembangan teknologi finansial (tekfin).

"Terkait rencana peraturan OJK inovasi keuangan digital, dalam waktu dekat akan diluncurkan. Kami sudah mendapatkan masukan dari Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech)," kata Deputi Komisioner OJK Institute, Sukarela Batunanggar, di Jakarta, Jumat.

Dalam rancangan POJK inovasi keuangan digital disebutkan bahwa seluruh perusahaan tekfin wajib mencatatkan diri di OJK agar dianggap legal. Setelah mencatatkan diri, OJK akan memilah mana yang masuk "regulatory sandbox" atau laboratorium pengujian model bisnis. Industri juga diberi kesempatan mengajukan diri untuk menguji model bisnisnya.

Setelah diobservasi oleh regulator, ada tiga status yang diberikan OJK kepada pelaku tekfin, yaitu direkomendasikan untuk terdaftar di OJK, perbaikan sampai dengan 12 bulan, dan tidak layak.

POJK inovasi keuangan digital tersebut mencakup seluruh jenis tekfin. Sebelumnya sudah ada POJK Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam-Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi (peer-to-peer lending).

Sukarela menjelaskan bahwa yang diatur dalam POJK inovasi keuangan digital hanya pokok-pokoknya saja. Terkait pelaksanaannya diserahkan ke industri.

"Terkait aspek prudensialnya, seperti likuiditas, permodalan, dan lain-lain tidak diatur oleh OJK dan diserahkan ke industri. Tanggung jawab kelangsungan usaha fintech berada di pemilik dan pengurusnya, sehingga transparansi dan akuntabilitas menjadi penting," kata dia.

Wakil Ketua Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) Adrian Gunadi mengatakan POJK inovasi keuangan digital akan relevan bagi pelaku usaha tekfin selain segmen layanan pinjam-meminjam uang.

Aftech mencatat jumlah perusahaan tekfin yang terdaftar sebanyak 135 perusahaan. Jumlah perusahaan tekfin yang terdaftar di asosiasi tersebut terdiri dari berbagai macam jenis layanan, yaitu pembayaran, pinjam-meminjam uang, asuransi, pasar modal, dan "market provisioning".

"Status terdaftar peer-to-peer sudah jelas di POJK 77. Yang 'sandbox' mungkin relevan bagi inovasi baru yang mungkin belum ada peraturannya. Ini menentukan layak atau tidaknya pelaku usaha," ucap Adrian.

Jakarta, 13/4 (Benhil) - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) berharap Prancis melobi Uni-Eropa agar tidak memboikot ekspor minyak kelapa sawit atau "crude palm oil (CPO)" Indonesia kalau tidak ingin kehilangan devisa devisa Rp233 triliun atau sekitar 24 miliar dolar AS.

"Kita perkirakan Prancis akan kehilangan devisa sebesar US$ 24 miliar,"ujar Juru Bicara PSI Rizal Calvary Marimbo dalam siaran persnya di Jakarta, Jumat.

Menurut Rizal, kerugian tersebut bakal datang dari pembatalan pembelian pesawat oleh Lion Air Group kepada perusahaan pembuat pesawat asal Prancis Airbus sebanyak 234 pesawat.

Lion Air Group sebelumnya telah memesan sebanyak 234 pesawat baru jenis Airbus A320 yang terdiri 109 pesawat A320neo, 65 A321neo, & 60 A320ceo. Lion Air Group mengeluarkan dana sebesar 24 miliar dolar AS (Rp 233 triliun) untuk membeli pesawat-pesawat tersebut.

Lion Air Group telah menyatakan kesiapannya mendukung pemerintah dengan memboikot impor ratusan pesawat Airbus dari Prancis.

"Kalau Lion Air sampai batalkan pembelian ratusan pesawat, Prancis akan kehilangan devisa sekitar US$ 24 miliar, bisa mengguncang proses manufacturing Airbus. Apalagi manufakturing dan produksi ratusan pesawat sudah mulai berjalan. Kalau kita batalin rugi besar dia," ujar Rizal.

Rizal mengatakan, bila Prancis tidak membantu Indonesia, bisa saja Lion Air Group mengalihkan pembelian pesawat ke Boeing.Sebelumnya, Lion Air juga membeli 201 pesawat Boeing yang nilainya 22 miliar do lar AS (Rp 214 triliun). Tapi sudahlah itu urusan Lion Air. Asal Prancis tahu saja kita bisa beralih ke pesaing," katanya.

Peranan Prancis PSI berharap agar pemerintah Prancis segera membantu industri pesawat terbangnya dengan cara membantu Indonesia melobi agar Uni Eropa tidak memboikot minyak sawit Indonesia.

"Bahwa ada yang harus Indonesia benahi di industri sawitnya, ini tugas pemerintah dan pelaku usaha serta korporasi," ujar dia.

PSI berharap Prancis menggunakan pengaruhnya yang sangat besar di Uni Eropa untuk membantu Indonesia.

"Perancis dipandang sebagai 'centre of gravity' di Eropa. Itu terlihat dari jumlah kursi Prancis terbanyak di parlemen Uni Eropa lebih dari 70 kursi. Jadi, Prancis semestinya bisa bantu Indonesia," katanya.

Ia mengatakan Prancis merupakan salah satu negara yang memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan maupun kebijakan Uni Eropa, selain Jerman dan Polandia.

Namun PSI mengingatkan Uni Eropa jangan sampai terbawa agenda perang dagang yang tidak sehat. PSI mendukung perang terhadap boikot CPO Indonesia mengingat industri ini telah menjadi industri strategis nasional karena sebanyak 16 juta jiwa terlah diserap secara langsung oleh lapangan kerja industri ini.

"Industri ini berkontribusi besar terhadap perekonomian bangsa dan perannya sangat penting dalam menjaga ketahanan pangan dan energi nasional. Dia tidak saja menjadi industri strategis tapi juga menjadi satu komoditas strategis. PSI akan allout," ujar Rizal.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat nilai ekspor minyak sawit Indonesia pada 2017 mencapai 22,97 miliar dolar AS, naik 26 persen dibandingkan 2016 sebesar 18,22 miliar dolar.

Melonjaknya ekspor tersebut mengakibatkan nilai sumbangan devisa minyak sawit ikut meningkat. Secara volume, ekspor minyak sawit Indonesia pada 2017 juga tercatat tumbuh 23,6 persen menjadi 31,05 juta ton dari 25,11 juta ton pada 2016, di luar ekspor biodiesel dan oleochemical.

Peningkatan ekspor itu terjadi seiring dengan perluasan pasar ekspor non tradisional.

Kelapa sawit juga telah memberikan sumbangan terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, utamanya sektor perkebunan. Sektor perkebunan sendiri telah mengalahkan sektor minyak dan gas (migas) dalam sumbangsinya terhadap PDB nasional yakni sebesar Rp429 triliun.

Sedangkan migas hanya sebesar Rp365 triliun dan terus mengalami penurunan.

Djarot Saiful Hidayat dan Sihar Sitorus

Medan, 13/4 (Benhil) - Sejumlah pengurus Persatuan Penyandang Disablitas Indonesia Sumatera Utara menyampaikan dukungan untuk pasangan calon gubernur Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus.

Dukungan tersebut disampaikan langsung kepada Djarot-Sihar usai rekaman dengan salah satu stasiun televisi swasta nasional di rumah relawan di Jalan Cipto Medan, Jumat.

Ketua Persatuan Penyandang Disablitas Indonesia (PPDI) Sumatera Utara Muhammad Yusuf mengatakan, dukungan tersebut diberikan pasangan Djarot-Sihar dinilai sebagai pasangan cagub-cawagub yang ideal dan kompak.

Pengurus PPDI Sumatera Utara merasa "trauma" dengan pasangan gubernur-wakil gubernur sebelumnya yang sering "pecah kongsi" ketika sudah mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.

"Sebelumnya, sering terjadi bentrok kepercayaan antara pemimpin. Bagi kami, inilah pasangan ideal," katanya.

Setelah memimpin pembangunan nanti, PPDI Sumatera Utara mengharapkan pasangan yang didukung PDI Perjuangan dan PPP itu untuk menerapkan kebijakan yang mampu menghilangkan anggapan negatif dan perlakuan diskriminasi yang selalu dialami penyandang disablitas.

Demikian juga penyediaan fasilitas umum yang dapat diakses penyandang disablitas. "UU 8/2016 tentang Penyandang Disablitas sudah disahkan pemerintah. Kamk minta iti direalsiaskkan," kata Yusuf didampingi Sekretaris PPDI Sumatera Utara Mariana Sihombing.

Harapan lain PPDI Sumatera Utara agar pasangan Djarot-Sihar dapat menata warung internet yang selama banyaj beroperasi selama 24 jam dan sering dijadikan lokasi transaksi narkoba.

Ardi Kocik, Ketua Persatuan Tuna Rungu Sumatera Utara berharap pasangan Djarot-Sihar dapat memperhatikan tuna rungu, termasuk menyiapkan tempat khusus bagi penyandang tuna rungu.

Calon Gubernur Sumatera Utara Djarot Saiful Hidayat menyampaikan rasa bangga dan apresiasinya atas kepercayaan penyandang disablitas tersebut.

Untuk memperkuat dukungan tersebut, mantan Wali Kota Blitar itu mengharapkan penyandang disablitas di Sumatera Utara untuk selalu menjaga kekompakan.

"Kalau biza kompak, kita menang," katanya didampingi Sihar Sitorus.

Romahurmuziy

Palu, 11/4 (Antara) - Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy atau Romi mengajak mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Sulawesi Tengah, untuk memanfaatkan ekonomi berbagi.

Hal itu disampaikan Romi saat menjadi narasumber utama pada kuliah umum yang digelar perguruan tinggi keagamaan Islam negeri tersebut, Rabu, dengan tema membangun karakter generasi milenial menuju Indonesia kuat.

"Adik-adik perlu untuk berinovasi, memiliki keterampilan melihat peluang usaha dan memanfaatkannya dengan menggunakan konsep ekonomi berbagi," katanya.

Anggota Komisi XI DPR-RI ini menyebut salah satu konsep ekonomi yang sangat diminati dan dimainkan oleh berbagai pihak untuk persaingan dan memajukan usaha adalah ekonomi berbagi.

Ia menjelaskan, ekonomi berbagi yaitu memanfaatkan potensi dan peluang usaha yang dimiliki atau ada disekitar individu, yang salah satunya menggunakan digitalisasi atau aplikasi media.

"Ekonomi berbagi atau 'sharing economy' sederhananya adalah 'punyaku adalah punyamu' dan begitupula sebaliknya," ujarnya.

Dari sisi konsepsi, sebut dia, konsep ekonomi berbagi sangatlah Islami atau sejalan dengan konsep Islam karena akan semakin memberikan manfaat terhadap apa yang kita punya atau miliki yang semula hanya digunakan untuk kepentingan pribadi.

"Ilustrasi sederhana ialah kendaraan sepeda motor yang kalian gunakan ke kampus. Sampai di kampus, kendaraannya terparkir selama beberapa jam. Artinya selama proses perkuliahan berlangsung potensi yang ada sama kalian nganggur. Konsep ekonomi berbagai yaitu, kendaraan yang tadinya nganggur harus termanfaatkan. Kalian yang punya kendaraan, lalu cari orang yang ingin menggunakan kendaraan untuk usaha. Modalnya dibagi dua," urainya.

Ia mengutarakan bahwa konsep ekonomi berbagi akhir-akhir ini dimanfaatkan oleh banyak perusahaan yang melihat kapasitas yang menganggur (idle capacity).

Misalkan, sebut dia, grabb, gojek, uber, buka lapak, dan segala macamnya dengan memanfaatkan kemampuan teknologi digital dan media.

"Ini membutuhkan kreatifitas dan inovasi. Karena itu, mahasiswa perlu ada inovasi dan kreatifitas," katanya.

Lebih lanjut dia menyatakan bahwa mahasiswa sebagai salah satu komponen generasi milenial suda harus sadar dengan situasi dan kondisi ini untuk berdaya saing.

"Jangan berpikir bahwa karena di Palu, atau karena jauh dari Jakarta sehingga belum mau aktif melihat peluang. Ada tiga syarat yang harus di pegang pertama, punya jaringan, kedua memiliki keahlian dan ketiga modal. Memiliki salah satu dari tiga syarat tersebut, mahasiswa suda bisa menjadi wirausaha," ujarnya. (An/Muhammad Hajiji)



Bali, 11/4 (Behil) - Negara-negara di Afrika selama ini memang belum terlalu dilirik pengusaha Indonesia dan BUMN untuk melakukan bisnis dibanding kawasan Eropa maupun Amerika Serikat.

Informasi pasar yang masih terbatas selain kurang intensnya promosi dagang, investasi, dan pariwisata ke benua tersebut menjadi salah satu penyebab kurang tumbuhnya hubungan ekonomi Indonesia dengan berbagai negara-negara di kawasan benua Afrika.

Padahal, Indonesia dalam upaya meningkatkan mitra dagang, perlu diversifikasi pasar ke negara-negara non-tradisional, seperti di Afrika, selain tentunya tetap menjaga pasar tradisional, seperti negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat.

Salah satu upaya untuk mengetahui masing-masing potensi ekonomi Indonesia dengan negara-negara di Afrika, diadakan Forum Indonesia-Afrika (Indonesia-Africa Forum/IAF) 2018 yang diselenggarakan di Bali Nusa Dua Convention Center di Bali, pada tanggal 10 s.d. 11 April 2018.

Soal berpotensinya pasar Afrika, Wakil Presiden Jusuf Kalla pun mengakui bahwa Indonesia dan Afrika memiliki potensi besar untuk berkembang dan memperkuat perekonomian satu sama lain. Forum IAF tersebut menjadi penting bagi kedua pihak untuk meningkatkan kerja sama perdagangan dan ekonomi.

"Indonesia dan Afrika adalah sama-sama negara dengan potensial besar. Perkembangan kerja sama dengan Afrika adalah prioritas kebijakan luar negeri Indonesia," kata Wapres Jusuf Kalla.

Sebagai negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat kedua di dunia, Afrika memiliki banyak potensial tersembunyi. Selain itu, Indonesia dan Afrika juga sama-sama sedang melakukan pembangunan infrastruktur besar-besaran untuk meningkatkan perekonomian dan pembangunan.

IAF merupakan ajang bagi pemerintah dan pelaku bisnis Indonesia dan Afrika untuk meningkatkan kerja sama ekonomi dan perdagangan. Peluang investasi dan kerja sama teknis antara Indonesia dan negara kawasan Uni Afrika.

Total nilai perdagangan Indonesia dengan Afrika pada tahun 2017 mencapai 8,85 miliar dolar AS. Nilai ini meningkat sebesar 15,49 persen dari data tahun sebelumnya di era Pemerintahan Joko Widodo.

Komoditas yang diekspor ke Afrika, antara lain, minyak kelapa sawit (CPO), tekstil dan produk tekstil, kertas, sabun, dan kopi dari berbagai wilayah di nusantara. Di bidang investasi, Indonesia dan Afrika memiliki peluang kerja sama di bidang energi, pertambangan, dan infrastruktur.

Sementara itu, di bidang kerja sama pembangunan, Menlu Retno menggarisbawahi pentingnya hubungan antar masyarakat dan konektivitas. Saat ini tengah diupayakan pembukaan rute penerbangan langsung Addis Ababa-Jakarta oleh Etiophia Airlines. Pemerintah Indonesia juga akan melaksanakan 18 program kerja sama teknis dan peningkatan kapasitas di negara-negara Afrika pada tahun 2018.

IAF 2018 diharapkan dapat menjadi forum bagi sektor pemerintah dan swasta di Indonesia dan Afrika untuk bertukar pandangan dalam mencari solusi dan langkah bersama untuk lebih menggali potensi dan peluang kerja sama ekonomi Indonesia dan Afrika.

Kesepakatan Bisnis 

Minat pengusaha Indonesia dan Afrika untuk menjalin kerja sama ekonomi tampaknya tidak sekadar pembicaraan, tetapi sudah ada kesepakatan nyata untuk mendorong peningkatan hubungan keduanya.

Dalam IAF 2018 yang dilaksanakan pemerintah Indonesia di Nusa Dua, Bali tersebut, mencatat kesepakatan bisnis senilai 586,56 juta dolar Amerika Serikat (AS) antara Indonesia dengan beberapa negara Afrika. Kesepakatan bisnis tersebut mencerminkan kerja sama ekonomi konkret yang saling menguntungkan serta menandai permulaan kolaborasi dan kerja sama untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi antara Indonesia dan Afrika.

Kesepakatan bisnis senilai sekitar 586 juta dolar AS itu tercapai dalam beberapa kesepakatan, antara lain, antara Indonesia Eximbank dan The African Export-Import Bank, Indonesia Eximbank dan Standard Chartered Bank, PT Wijaya Karya (Wika) dan Chief of Cabinet of Niger, PT TIMAH dan Topwide Ventures, Garuda Maintenance Facility (GMF) Aeroasia Max Air dan Ethiopian Airlines, PT Perusahaan Perniagaan Internasional dan Madarach Madagascar.

Dalam pembukaan Forum Indonesia dan Afrika di Nusa Dua, Bali itu juga diumumkan rencana bisnis antara bisnis Indonesia dan negara-negara Afrika senilai 1,3 miliar dolar AS.

Rencana bisnis tersebut dilakukan oleh beberapa pihak, antara lain, PT Wijaya Karya (Wika) di Niger, Algeria, dan Mozambik; PT PAL Indonesia di Gabon, Guinea-Bissau, Senegal; PT Pertamina di Nigeria; PT INKA di Zambia; Indonesian Eximbank dan ICIEC di 24 negara; Ethiopian Airlines untuk penerbangan langsung Addis Ababa-Jakarta.

Menteri Luar Negeri RI Rento Marsudi merasa optimistis konektivitas udara antara Indonesia dan Ethiopia akan membuka lebih luas pintu kerja sama ekonomi Indonesia dengan Afrika.

"Konektivitas udara ini akan menjadi awal baru. Ini baru satu, kami ingin lebih banyak lagi," kata Menlu Retno Marsudi.

Dalam forum IAF yang pertama kalinya digelar tersebut, dilakukan penandatanganan kerja sama bisnis antara GMF AeroAsia, Max Air, dan Ethiopian Airlines. Baca, berita terkait dengan itu:  Atto Sakmiwata Sampetoding: Penjualan Pesawat PTDI Membanggakan Penjualanpesawat CN 235 dan CN 210 besutan PT Dirgantara Indonesia, Bandung.

Total ada 10 penandatanganan kerja sama termasuk dari industri penerbangan itu dalam IAF 2018 dengan total nilai kesepakatan sebesar 586,56 juta dolar AS. Dengan dibukanya keran transportasi udara itu, diharapkan aliran perdagangan kedua pihak akan makin kencang dan menumbuhkan nilai perdagangan Indonesia dan Afrika yang masih terbatas.

Indonesia ingin menjadi bagian pembangunan di Afrika dan Indonesia ingin Afrika menjadi bagian pembangunan di Indonesia. Dalam IAF tersebut, juga digelar pameran yang menampilkan produk dari BUMN (Badan Usaha Milik Negara) Indonesia dan sektor swasta yang mempertemukan pengusaha dengan kalangan pebisnis dari Afrika.

Forum tersebut dihadiri sekitar 500 orang delegasi yang terdiri atas pemerintah, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya, baik dari Afrika maupun Indonesia.
All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.