Terik mentari di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Rabu (13/9) tidak menyurutkan personel Paskhas TNI AU mengangkat barang bantuan yang hendak diberikan kepada pengungsi Rohingya di Distrik Cox's Bazar, Bangladesh.

Ada sejumlah tumpukan karung barang bantuan yang sudah dimasukkan ke dalam empat C130 Hercules TNI AU bernomor registrasi A1316, A1319, A1326, dan A1335.

Pemerintah RI memang telah mengumpulkan sumbangan dari berbagai kementerian dan lembaga pemerintah. Pada gelombang pertama terkumpul delapan jenis barang bagi warga Rohingya.

Etnis Rohingya yang tinggal di Rakhine State, Myanmar, terpaksa mengungsi dari tanah airnya karena pengusiran bersenjata oleh aparat keamanan Myanmar.

Bantuan awal yang dikirim Pemerintah Indonesia terdiri atas 30 ton beras, 1 ton gula pasir, 2004 makanan cepat saji, 20 unit tenda darurat, 600 paket "family kit" atau keperluan keluarga, 10 tangki air darurat, 14 ribu helai selimut, dan 900 paket pakaian.
si
Antara berkesempatan turut dalam misi pengiriman bantuan kemanusiaan Indonesia bersama A1316 Hercules TNI AU menuju Bandara Hazrat Shah Amanat di Kota Chittagong, Bangladesh.

Kota Chittagong, menurut Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, dipilih untuk mendaratkan bantuan karena letaknya yang paling berdekatan dengan Distrik Cox's Bazar, berjarak sekitar 170 kilometer atau empat jam melalui jalan darat.

Dalam hal kemanusiaan, Pemerintah Indonesia akan bekerja sama, baik dengan sesama pemerintah negara sahabat maupun bersama relawan atau donatur hingga pemda di seluruh Indonesia.

Usai diberangkatkan secara resmi oleh Presiden Joko Widodo di Lanud Halim, seluruh kru pesawat segera mempersiapkan "Herky", sebutan untuk Hercules, untuk tinggal landas Jakarta.

"Kita harapkan bantuan ini akan sampai mendekati lokasi yang diinginkan kurang lebih 170 kilometer dari bandara yang ada kemudian baru diangkut oleh truk menuju ke lokasi pengungsi yang berada di perbatasan Bangladesh dan Myanmar," kata Presiden.

Deru mesin C130 Hercules terdengar mendengung. Pesawat kargo berpendorong empat baling-baling itu segera meluncur terbang di landasan di Lanud Halim Perdanakusuma membawa serta 54 ton barang bantuan bagi etnis Rohingya yang ada di Bangladesh.

Total lama penerbangan bersama "Si Herky" yaitu delapan jam. Jakarta ke Lanud Sultan Iskandar Muda, Aceh selama empat jam kemudian Aceh menuju Bandara Hazrat Shah Amanat di Kota Chittagong, Bangladesh juga empat jam.

Antara menumpang Hercules bernomor registrasi A1316 dengan barang bantuan yang dibawa, yaitu 10 unit tenda dan 7.000 helai selimut dengan total berat 20 ton.

Terbang di ketinggian 18.000 kaki atau 5,4 kilometer di udara membuat suhu udara di dalam Hercules begitu dingin. Wajar, karena "Herky" bukan pesawat yang kedap udara karena ruang kargonya tidak berkompresi.

Tumpukan selimut yang dibungkus di dalam 150 karung membuat penerbangan selama empat jam Jakarta-Aceh itu nyaman layaknya "first class" pada maskapai swasta.

Betapa tidak, sejumlah awak media dan 10 anggota Paskhas TNI AU merasakan nikmatnya terlelap di atas tumpukan karung berisi selimut.

Suasana guyub dan akrab begitu terasa di dalam pesawat. Kotak nasi maupun penganan selalu ditawarkan oleh kru pesawat "Herky" A1316, begitu ramahnya.

Menit pun berlalu hingga akhirnya rombongan pesawat tiba di Lanud Sultan Iskandar Muda, Provinsi Aceh yang juga menjadi Posko Civic Mission Pengiriman Bantuan Kemanusiaan untuk Rohingya, mengingat jarak titik itu yang terdekat ke Bangladesh ataupun Myanmar.

Satu per satu dari total empat pesawat mendarat di Bandara itu. Barang bantuan tetap disimpan di dalam pesawat, tidak ada yang kurang satu pun.

Selain pesawat mengisi bahan bakar, TNI AU juga menunggu jadwal "landing slot" yang akan diberikan oleh pengelola pendaratan "civil aviation" pihak Bangladesh.

Para kru udara "Herky", anggota Paskhas TNI AU dan awak media bermalam di mess TNI AU yang berada di komplek Lanud Sultan Iskandar Muda pada Rabu malam, sebelum melanjutkan penerbangan yang dilakukan keesokannya.

Tenda pertama Rencana keberangkatan pada pukul 05.45 WIB ke Bangladesh ternyata mundur menjadi pukul 12.00 WIB. Hal itu karena "landing slot" yang diberikan bandara di Chittagong pada pukul 17.00 waktu Bangladesh dengan perbedaan waktu satu jam lebih lambat daripada Jakarta.

Usai menunaikan shalat zuhur, para kru dan anggota Paskhas TNI AU gembira melihat hujan sedikit mereda.

Keceriaan bertambah sempurna karena "civil aviation" Bangladesh baru saja memberikan "flight clearance" untuk dua hercules terbang di wilayah udaranya.

TNI AU juga mengapresiasi sejumlah negara tetangga lain, yaitu Malaysia, Thailand, dan Myanmar yang juga sudah memberikan "flight clearance".

Awak media bersama tim BNPB dan TNI AU menikmati empat jam penerbangan bersama "Herky" A1316 menuju Chittagong.

Selain A1316, hercules yang mendapat giliran mengudara pada sorti kedua yaitu A1319 yang dijadwalkan mendarat di Chittagong pukul 19.00 waktu Bangladesh untuk mengusung 10 ton beras.

A1316 membawa 10 unit tenda darurat dan 7.000 selimut yang menurut Pemerintah Bangladesh dibutuhkan cepat untuk menampung para pengungsi yang kebanyakan menghuni wilayah Kutupalong, Distrik Cox's Bazar.

Di Bandara Hazrat Shah Amanat, barang bantuan diterima oleh Dubes RI untuk Bangladesh Rina Soemarno yang selanjutnya menyerahkan kepada District Comissoner Chittagong Md Zillur Rahman Chowdury sebagai perwakilan Pemerintah Bangladesh "Alhamdulillah barang bantuan sudah diterima. Di Cox's Bazar kamp-kamp pengungsian sudah melebihi kapasitas sehingga dibangun kamp tenda asal-asalan yang didirikan pakai bambu dan terpal yang kalau hujan angin akan terbang," kata Rina di Chittagong pada Kamis (14/9).

Barang bantuan itu segera dipindahkan dari pesawat menuju gudang sementara di Bandara Hazrat Shah Amanat dan dimasukkan ke dalam truk-truk yang telah menanti.

Kendati demikian, pengiriman barang tidak dilakukan pada Kamis malam, mengingat medan jalan darat yang licin akibat hujan dan ban truk rentan terjebak lumpur. Pemda Chittagong memutuskan untuk mengirimkan ke gudang di Cox's Bazar pada Jumat (15/9) pagi.

KBRI juga berupaya untuk mendapatkan akses agar pihak Pemerintah Indonesia dapat masuk ke Cox's Bazar untuk meninjau kondisi pengungsian dalam menilai kebutuhan bantuan apa saja yang perlu dikirimkan.

Kericuhan yang terjadi saat pembagian bantuan dari salah satu negara donatur pada Jumat membuat Pemerintah Bangladesh mengetatkan pengawalan bagi donatur yang hendak pergi ke Cox's Bazar, demi alasan keamanan.

Menurut Ketua Tim SOS Rohingya dari LSM Aksi Cepat Tanggap (ACT) Rahadiansyah, kejadian itu karena adanya donatur yang membagikan bantuan di pinggir jalan raya.

"Pengungsi ada yang tertabrak bus umum di jalan raya. Memang kerap terjadi, makanya saat membagi-bagi bantuan harus cermat dan hati-hati juga," ujarnya.

Pemerintah daerah Cox's Bazar berencana membagi bantuan asal Indonesia pada Senin di 12 titik.

Lokasi-lokasi yang disasar pemerintah, yaitu Kutupalong temporary camp-1, Kutupalong temporary camp-2, Balukhali temporary camp-1, Balukhali temporary camp-2, Moynar Ghona Palongkhali, Thaingkhali, dan Hakimpara Ukhia.

Selain itu, kawasan lain adalah Habarchora, Shahporir Dip Sabrang, Unchipreng Howaikeng, Leda Noyapara Hrila Municipality, dan Teknaf Sadar.

Terus datang Selain 54 ton bantuan yang sudah dikirim, pemerintah terus memperhatikan situasi yang berkembang di kamp pengungsian di Distrik Cox's Bazar.

Dubes Rina menjelaskan Pemerintah Bangladesh butuh generator listrik bagi kamp-kamp pengungsian.

Merespons cepat permintaan itu, Pemerintah Indonesia pun menerbangkan total 20 ton bantuan kemanusiaan lanjutan melalui sorti penerbangan ke-7 dan ke-8.

Selain ikan dalam kemasan kaleng, biskuit, dan minyak goreng, pemerintah juga mengirimkan sarung, generator listrik, dan paket-paket keperluan keluarga.

Komandan Satgas Civic Mission TNI AU Marsma TNI Nanang Santoso mengatakan dua "Herky" sudah tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh pada Senin pukul 18.30 WIB.

"Besok (Selasa) masih 'standby' dulu, dan akan diadakan rapat evaluasi dengan BNPB di Lanud Halim Perdanakusuma pukul 11.00 WIB," kata Nanang yang juga menjabat sebagai Kadisopslat TNI AU.

Personel TNI AU dan kru Hercules selalu siap untuk melaksanakan penerbangan misi kemanusiaan baik siang maupun malam hari.

Pemerintah Bangladesh mencatat total sebanyak 720 ribu pengungsi Rohingya tinggal di kawasan perbatasan Bangladesh-Myanmar.

Dari angka tersebut, tercatat sebanyak 320 ribu merupakan pengungsi yang datang sejak eksodus pada 25 Agustus 2017.

Angka tersebut juga terus bertambah karena masih ada pelarian yang menyeberang perbatasan menyelamatkan diri dari pembantaian di tanah kelahirannya.

Selayaknya negara tetangga yang memiliki kebijakan luar negeri bebas aktif, Indonesia diminta untuk terus dapat mendukung bantuan kemanusiaan hingga masalah etnis Rohingya selesai.

Bukan saja melalui pengiriman bantuan, tetapi juga melalui diplomasi merangkul Myanmar untuk menyelesaikan masalah dengan dialog, bukan dengan tindakan represif militer.

Selain itu, tindakan radikal juga tidak diperlukan dalam menyelesaikan sengketa Rohingya di Rakhine State.

Diplomasi dan silaturahim antarnegara sepertinya menjadi pilihan terbaik dalam menyelesaikan konflik yang tidak boleh berkepanjangan ini.

Formula 4+1 yang diajukan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi bisa dianggap sebagai solusi bersama mengingat keberimbangan yang didapat dari kebijaksanaan itu adalah mengembalikan stabilitas dan keamanan, menahan diri secara maksimal dan tidak menggunakan kekerasan, perlindungan kepada semua orang yang berada di Rakhine State, tanpa memandang suku dan agama, dan pentingnya segera dibuka akses untuk bantuan kemanusiaan yang akan dilakukan.

Satu poin lain, yaitu pentingnya mengimplementasikan rekomendasi Laporan Komisi Penasihat untuk Rakhine State yang dipimpin mantan Sekjen PBB Kofi Annan. (Ben/An)

Bayu Prasetyo

Hutan Adat Lindu


Samuel Tolei (72), tetua dari Majelis Adat Kecamatan Lindu, bercerita tentang hutan-hutan lebat yang menutupi punggungan pegunungan Nokilalaki, Adale, Kona'a, Tumaru, Gimba, Jala, Rindi, dan Toningkolue yang membingkai danau indah di tengah-tengah Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), Sulawesi Tengah.

Tebalnya tutupan hutan di sana memberikan warna hijau yang kontras dengan birunya langit dan gemerlap pantulan cahaya matahari dari air Danau Lindu, danau tektonik seluas 3.488 hektare (ha) dengan kedalaman mencapai 200 meter (m) yang terbentuk sejak zaman Pliosen.

Ia juga bercerita tentang padang savana, tempat hewan ternak yang dilepaskan begitu saja untuk memamah biak di sana. Sedangkan di Pulau Bola Lewuto dirinya menceritakan tentang leluhurnya, Madika Maradindo, yang dimakamkan dalam peti kubur kayu dengan ornamen kepala banteng dan terbuat dari garuhu.

Peti kubur kayu berisi tulang rangka bangsawan Lindu ini merupakan peninggalan arkeologi berharga yang dimiliki Indonesia dan peradaban dunia, yang kemudian dilindungi keberadaannya dengan Undang-undang (UU) Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, setelah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah menetapkannya sebagai cagar budaya.

Entah berapa usia pasti peningggalan arkeologi tersebut, karena saat ditanya Samuel pun mengatakan tidak mengetahuinya dan hanya tahu bahwa peti kubur kayu itu sudah ada sejak zaman nenek moyangnya.

Namun yang jelas peneliti Eropa, Adriani dan A.C. Kruyt, telah menuliskannya dalam buku "Van Poso naar Parigi een Lindoe" di 1898, dan Kruyt menuliskannya lagi dalam buku "De West Toradjas in Midden Celebes" di 1938.

Orang-orang asli Lindu yang mendiami tiga dari lima desa di sana, yakni Desa Anca, Tomado dan Langko, memang masih memegang kuat adat mereka. Saat pertama kalinya datang ke daratan Lindu, seseorang akan terlebih dulu melalui prosesi Pepantodui, yang tujuannya agar selama berada di wilayah adat tersebut mereka akan selamat atau terhindar dari bahaya apapun.

Namun yang banyak "ditakuti" bagi tamu pendatang di daratan Lindu tidak lain adalah denda adat atau biasa disebut gifu yang salah satunya bisa termasuk satu ekor kerbau. Sesorang bisa terkena gifu jika saat mengikuti proses makan adat mendahului para tetua adat di sana yang belum selesai makan.

"Mencuci tangan saja terkena gifu jika pada saat bersamaan tetua adat belum selesai makan. Apalagi berdiri dan meninggalkan proses makan adat untuk keperluan apapun itu," kata Sekretaris Gugus Tugas Reforma Agraria Kabupaten Sigi Eva Bande yang kebetulan sedang mendapat tugas bersama rekan-rekan lainnya melakukan pemetaan partisipatif di Hutan Adat Lindu.

Bayangkan, bahkan Bupati periode sebelumnya dan anggota DPRD juga pernah ada yang terkena gifu dan harus membayar sanksi adat dengan kerbau ketika menjalani proses makan adat ini, lanjutnya.

Ruang Adat Lindu Samuel memang belum rampung menceritakan perihal kelembagaan adat serta hak atas tanah dan pengelolaan wilayah adatnya saat berada di makam leluhurnya. Dirinya kemudian melanjutkan penjelasannya saat berkumpul di Balai Pertemuan Adat Lobo yang memiliki pemandangan cantik menghadap langsung ke Danau Lindu.

Orang-orang Dataran Lindu sudah sejak lama membagi ruang adat mereka menjadi beberapa bagian, sebut saja Suaka Maradika yang hanya diperuntukkan untuk keperluan tertentu, Suaka Ntodea yang menjadi kawasan umum dapat dikelola masyarakat namun tetap terbagi lagi menjadi beberapa bagian, seperti Ngura, Pangale dan Wanangkiki.

Lalu ada pula Suaka Lambara yang menjadi lokasi khusus penggembalaan, seperti yang sudah Samuel ceritakan sebelumnya. Ada pula Suaka Wiyata dan Suaka Parabata.

"Di Suaka Wiyata sama sekali tidak boleh ada penebangan pohon, kalau sampai ada penebangan maka melalui peradilan adat dijatuhkan sanksinya bisa berupa satu kerbau, 10 dulang (belanga tembaga) dan satu mesa (kain adat)," ujar Samuel.

Fungsi kelembagaan adat Lindu yang bernama Totua Noada juga masih berjalan dengan baik, dengan struktur lembaga adat terdiri dari Jogugu yang terdiri dari Tutua Ngata yang memutuskan perkara, Galara yang mengambil keputusan, Pabisara yang menjadi pengacara, Kapita sebagai penengah putusan perkara, serta Suro yang bertindak sebagai utusan atau penghubung yang sedang berperkara.

Dengan demikian sanksi-sanksi yang dijatuhkan sudah melalui sistem peradilan adat yang masih berjalan di sana.

Alam dan Lindu Masih saat berbincang di Balai Pertemuan Adat Lobo, Kepala Desa Tomado Yoseph Todera mengatakan dengan tegas bahwa tanpa keberadaan Taman Nasional Lore Lindu sebenarnya masyarakat adat sudah menjalankan konservasi. Pengetahuan tentang kelestarian alam sudah tertanam baik alam adat Lindu, terbukti dengan sudah dan masih adanya pembagian ruang To Lindu.

Penetapan TNLL pada 1993 tanpa sosialisasi pada masyarakat justru membuat desa-desa di Daratan Lindu terjebak dalam kawasan taman nasional, ujar Yoseph.

"Di Palili pohon pinang tidak boleh ditebang. Menurut keyakinan orang Lindu itu makanan mereka yang tidak terlihat mata sehingga jika hilang akan mendatangkan penyakit," lanjutnya.

Dengan pengaturan ruang yang jelas serta fungsi kelembagaan adat yang tetap berjalan dapat dilihat tidak ada hutan di sekitar Danau Lindu yang gundul, padahal kampung sudah ada sejak ratusan tahun lalu, ujar Samuel, berusaha mempertegas pernyataan Yoseph.

Kampung tua di Anca sempat disebut sebagai kampung hantu karena dulunya tidak terlihat dari kejauhan, tertutup rapat oleh pohon-pohon beringin besar yang mengelilinginya. Pohon-pohon tersebut terpaksa dipangkas sebagian pada 1974, setelah kasus penyakit yang disebabkan oleh cacing parasit endemik jenis Schistosoma yang di Indonesia hanya ditemukan di Dataran Lindu dan Napu, Sulawesi Tengah.

"Itu pun masih ada beberapa pohon beringin besar yang sengaja disisakan. Ini menjadi bukti bahwa orang-orang Lindu sangat memelihara hutan dan lingkungannya, dan sangat membenci membabat hutan, apalagi di hulu sungai," lanjut Samuel.

Memetakan Hutan Adat Jika melihat sekilas peta Pulau Sulawesi, maka Danau Lindu seperti berada di tengah pulau ini, seperti berada tepat di tengah layaknya jantung bagi pulau yang dikenal dengan sebutan Celebes oleh para pencari rempah-rempah di masa lampau.

Belantara lebat yang mengelilingi danau tektonik ini menjadi daerah tangkapan air yang kemudian alirannya melalui tiga sungai besar di Sulawesi Tengah, yakni Sungai Lariang, Sungai Gumbasa dan Sungai Palu.

Hutan-hutan Adat Lindu, menurut Samuel, juga menjadi rumah bagi spesies-spesies endemik Pulau Sulawesi seperti anoa, babi rusa, selain juga sapi dan babi hutan. Damar juga menjadi flora yang banyak menutupi dataran yang berada di ketinggian di atas 900 mdpl tersebut.

Dalam era Reforma Agraria yang sedang dijalankan Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, masyarakat yang mendiami Dataran Lindu menyambut baik pemberian akses lahan oleh Pemerintah melalui Tanah Obyek Reforma Agraria (TORA) dan Perhutanan Sosial yang didalamnya juga mencakup pemberian hak atas Hutan Adat.

Camat Lindu Achmin Pampaw mengatakan bersyukur program Reforma Agraria menyentuh masyarakat hingga ke pelosok Lindu, dan akan mendukung percepatan program tersebut dengan ikut mengawal penyelesaian proses pemetaan partisipatif yang dilakukan lima desa di Kecamatan Lindu.

Jika Desa Anca telah rampung memetakan 208 ha hutan yang akan diajukan menjadi Hutan Adat, maka Desa Tomado sedang proses pemetaan partisipatif lebih kurang 1000 ha untuk diajukan menjadi hutan adat.

Proses pemetaan partisipatif oleh masyarakat tidak hanya dilakukan Masyarakat Adat Lindu, karena masyarakat di 125 desa di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, serempak melakukan hal yang sama. "Kami targetkan Oktober nanti semua selesai dan persyaratan pengajuan alokasi TORA dan Perhutanan Sosial terpenuhi sehingga bisa diajukan ke Pemerintah Pusat," kata Mohamad Irwan Lapatta.

Pemerintah menyiapkan dua skema legislasi dan redistribusi lahan seluas 9 juta ha, serta melalui pelaksanaan program perhutanan sosial seluas 12,7 juta ha yang salah satunya alokasi untuk Hutan Adat. Namun sejauh ini baru 13.122,3 ha lahan atau areal hutan yang resmi berstatus Hutan Adat. (Ben/An)

Virna Puspa Setyorini

Import Barang
Ekspor impor adalah sebuah mekanisme yang dimasa yang lalu cukup menyita perhatian. Ini karena, ada berbagai siklus serta mekanisme yang harus dilewati. Mekanisme ini adalah sebuah proses panjang yang, tentu cukup sulit bila belum memahami secara pasti bagaimana sebuah proses impor. Berangkat dari pengetahuan tentang hal tersebut, maka artikel kali in hadir untuk memberikan ulasan serta informasi tentang proses impor barang di Indonesia.

•    Proses Korespondensi
Proses ini adalah proses dimana pembeli dan penjual, dalam hal ini pengguna dengan importir untuk melakukan komunikasi awal melalui berbagai media komunikasi, baik secara elektronik, seperti email, telephone, fax atau sejenisnya. Proses ini dinyatakan fix bila antara pembeli dan penjual mendapatkan kesepakatan harga dan jenis barang, yang selanjutnya dibuat purchase order (order pembelian), atau sales contract. Nota ini dibuat untuk menjaga pembeli dari kerugian atas kenaikan material bahan baku atau selisih kurs yang terjadi.

•    Proses L/C (Letter of Credit)
Proses ini dimulai dengan pembuatan L/C atau Letter of Credit yang dilakukan pihak importer. L/C ini merupakan media pembayaran, kemudian Opening Bank yang merupakan mitra dalam perdagangan Internasional mengirimkan L/C confirmation ke bank koresponden, yang memberikan sebuah sinyal bahwa uang dari pihak importer sudah di lock di Opening Bank tersebut.

L/C confirmation dari bank koresponden akan diteruskan pada pihak eksporter (seller) dalam bentuk L/C advice. Dalam L/C advice ini akan ditegaskan pada pihak seller berbagai hal terkait dengan proses impor yang dikehendaki importer antara lain, jenis barang, kuantitas, serta pemberitahuan bahwa uang untuk pembayaran sudah ready. Selanjutnya, bila proses pembayaran sudah selesai (asumsikan bahwa pihak importer sudah membayar full), maka pihak eksporter akan memproses barang pesanan.

•    Proses Payment, dan Shipping
Seketika proses pembayaran sudah diterima pihak eksporter maka eksporter akan mengurus barang dengan mengirimkan via perusahaan perkapalan. Proses ini adalah satu jalan antara payment dengan shipping, selanjutnya dokumen eskpor di buat oleh pihak eksporter antara lain, invoice, packing list, bill of ladding dan lain sebagainya dan selanjutnya diserahkan pada bank koresponden.

•    Proses Clearence dan Kepabeanan
Dokumen terkait dari pihak bank koresponden di kirimkan pada bank opening di negara tujuan, dalam hal ini Indonesia. Importir di Indonesia perlu mengambil dokumen-dokumen ini untuk mengurus proses clearance barang dari beacukai setempat, bersamaan juga importir mempersiapkan dokumen pendukung lainnya sebagai contoh: sertifikasi SNI, IZIN BPOM, surat karantina atau lainnya sesuai dengan jenis barang yang di impor.

Pembayaran dan pelunasan pajak terkait PDRI (Pajak Dalam Rangka Impor), yang mana ini adalah bagian dari standar kepabeanan di Indonesia. Setelah bea cukai setempat menyatakan semua proses selesai maka clearance diberikan dalam bentuk SPPB (Surat Persetujuan Pengeluaran Barang). Barulah barang bisa keluar dari terminal kargo.

Seluruh proses diatas adalah standar resmi proses impor di Indonesia. Tentu saja ada perbedaan terkait dokumen serta beberapa hal lain yang spesifik karena terjadinya perbedaan barang yang diimpor. Kerumitan juga bisa saja muncul karenan proses kepabeanan serta koresponden antar bank di dalam dan luar negeri yang terjadi. Oleh karena itu menggunakan jasa perusahaan jasa importir sebagai pemasok berpengalaman adalah solusi paling tepat.

Layangan Bali

Anak-anak seusia sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) dengan senang dan bangganya mengendalikan layangan untuk bisa "menari-menari" di ketinggian bersaing dengan layangan rekannya di tengah hamparan lahan sawah yang baru habis panen.

Hal itu merupakan tradisi yang diwarisi masyarakat Bali secara turun temurun, khususnya anak-anak di daerah perdesaan, yang dilakoninya hingga sekarang.

Permainan layang-layang untuk menyalurkan kesenangan anak-anak muda dan kesinambungan tradisi dalam beberapa tahun belakangan ini dikemas dalam bentuk festival yang memberikan fungsi ganda, yakni sebagai atraksi untuk menambah daya tarik bagi wisatawan mancanegara.

Pemerintah Kabupaten Tabanan, sebagai daerah gudang beras yang memiliki hamparan lahan pertanian paling luas di Bali, menggelar "Tabanan Kites Festival" yang melibatkan 1.500 peserta.

"Kegiatan yang digelar di Subak Gadon, kawasan wisata Tanah Lot, berlangsung selama dua hari, 9-10 September 2017 memperebutkan hadiah utama sebesar Rp.100 juta," tutur Ketua Panitia kegiatan tersebut I Made Edi Wirawan.

Ribuan peserta yang datang dari sejumlah kabupaten/kota di Bali menaikkan berbagai jenis layangan, termasuk layangan milik Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti, yang mengudara dengan baik. 

Langit Tabanan dengan cuaca yang cerah itu dihiasi dengan ribuan layangan yang "menari-nari" di udara sekaligus sebagai atraksi wisata, karena objek wisata Tanah Lot itu setiap hari dikunjungi ribuan wisatawan dalam dan luar negeri.

I Made Edi Wirawan yang juga anggota DPRD Kabupaten Tabanan itu ingin menjadikan Festival Layang-Layang itu bisa dilaksanakan secara berkesinambungan setiap tahun, karena dinilai mampu memberikan banyak manfaat.

Festival Layang-Layang itu mampu memberikan ruang kepada anak-anak muda untuk menciptakan inovasi dan kreativitas ekonomi kreatif, mempromosikan pariwisata dan memberikan hiburan kepada masyarakat tani seusai panen di sawah.

Kegiatan yang baru pertama kali digelar dalam skala besar di Tabanan itu memperebutkan piala bergilir Bupati Tabanan untuk kategori layangan Pecukan.

"Layangan sudah menjadi tradisi turun menurun dari nenek moyang kami. Layangan Pecukan merupakan khas Kabupaten Tabanan yang patut dilestarikan," ujar I Made Edi Wirawan.

Sangat Antusias Wakil Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya yang ikut menaikkan layangan pecukatan berwarna dasar putih kombinasi warna merah dan hitam memberikan apresiasi terhadap kegiatan Festival Layang-Layang tersebut.

Masyarakat di Kabupaten Tabanan, mulai anak-anak, dewasa dan orang tua menaruh perhatian yang antusias terhadap pelaksanaan lomba layang-layang yang selama ini digelar di Pantai Padangbalak, Sanur, Kota Denpasar.

Peserta dari Kabupaten Tabanan selalu ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut dan ruang festival layang-layang diharapkan bisa dilakukan secara berkesinambungan setiap tahun.

Hal itu didasari tradisi Layang-layang sudah diwarisi secara turun temurun dari leluhur. Kabupaten Tabanan dari zaman dulu merupakan pelopor memainkan layang-layang. Setelah selesai memanen padi di sawah, petani menghibur diri dengan angin yang kencang memainkan layang-layang.

Untuk itu Tabanan sebagai daerah "lumbung beras" di Bali, agar mampu melestarikan permainan itu agar tidak punah oleh zaman.

di Subak Gadon, tempat festival layang-layang tersebut jaraknya hanya beberapa kilometer dari pura kuno Tanah Lot yang lokasinya "bertengger" di atas batu karang Pantai Beraban, Bali selatan di Samudera Indonesia.

Tempat suci umat Hindu, sekaligus objek wisata andalan itu, selama ini menyimpan misteri dan keunikan yang membuat pelancong seolah "wajib" mengunjunginya.

Festival ke Uma Sementara Sanggar Buratwangi, Sanggar Wintang Rare, dan Selakunda Foundation serta masyarakat Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri, Kabupaten Tabanan, secara swadaya menggelar Festival Ke Uma (sawah) yang menampilkan atraksi unik dan menarik, termasuk memainkan layangan.

Kegiatan yang baru pertama kali digelar untuk mengajak anak-anak usia SD dan SMP bersenang-senang lewat permainan tradisional di sawah.

Menurut ketua panitia kegiatan tersebut Putu Edi Novalia Artha memperkenalkan permainan tradisional kepada anak-anak, sekaligus kondisi sawah untuk menghasilkan beras sebagai kebutuhan pokok sehari-hari yang kini tidak banyak diketahui oleh anak-anak.

Kegiatan itu diharapkan dapat dilakukan berkesinambungan untuk mengisi liburan panjang anak-anak sekolah pada pertengahan tahun. Seluruh kegiatan selama dua hari itu digelar di tengah sawah yang sudah dipersiapkan dan ditata sedemikian rupa.

"Festival ke Uma" yang pelaksanaannya dinilai sukses itu mengangkat suasana tempo dulu, yakni anak-anak diajak bermain dengan memanfaatkan alam dan lingkungan sawah sekitarnya. Alam itu sesunguhnya sangat bersahabat yang menyediakan berbagai alat dan sarana untuk bermain, tinggal merangsang kreativitas mereka saja. Kegiatan sejenis juga pernah dilakukan saat Festival Balac lombakan 528 layangan.

Subak Mole di Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri lingkungannya masih dalam kondisi asri dan lestari yang bersebelahan dengan Candi Pahlawan Taman Pujaan Bangsa Margarana, tempat gugurnya Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai, 25 km arah barat daya Kota Denpasar.

Sawah dan aktivitas anak-anak dalam beberapa tahun belakangan ini seakan lenyap ditelan zaman. Sawah mulai berkurang akibat beralih fungsi dam kehilangan sumber air.

Aktivitas anak-anak di sawah juga tidak tampak lagi. Anak-anak generasi sekarang tidak pernah melakukan permainan itu. Oleh sebab itu melalui Festival ke Ume memasyarakatkan kembali aktivitas anak-anak yang polos, jujur, tanggung jawab dan menjunjung nilai-nilai kebersamaan itu lewat festival.

Selain itu menciptakan kreativitas anak-anak dengan menyediakan ruang untuk melakukan dunianya yang seluas-luasnya, sekaligus melestariakan seni budaya dengan mengangkat kembali berbagai jenis permainan, khususnya terkait dengan sawah.

Kegiatan festival diawali dengan memainkan layang-layang menyusul bermain bersama-sama. Anak yang sudah bisa akan mengajari temannya yang belum mengerti, sehingga sosialisasi antara mereka dapat menciptakan kebersamaan. (Ben/An)

Ika Sutika

Sapi Bali

Sapi bali dari segi kualitas daging hampir setara dengan daging impor seperti limosin dan brahman yang terkenal kenyal dan gurih. Keberadaan ternak itu, kini tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani bidang pangan (FAO) sudah mendaftarkan sapi bali sebagai sumber plasma nutfah aset Indonesia sehingga tidak ada kekhawatiran diklaim oleh negara lain.

"Sapi bali yang keberadaannya khusus di Pulau Dewata memerlukan terobosan dan inovasi untuk melindungi dan mengembangkannya sehingga populasinya terus meningkat," tutur Dekan Fakultas Pertanian Universitas Dwijendra Denpasar Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc. MMA.

Pemerintah melalui Dinas Peternakan setempat mengembangkan sapi bali secara maksimal melalui sistem pertanian terintegrasi (Simantri) yang khusus memproduksi bibit sapi bali untuk selanjutkan dibesarkan, disamping pengembangan melalui penyaluran kredit perbankan.

Pihak perbankan menyalurkan kredit dengan bunga ringan untuk mendukung program bidang pertanian, khususnya pengembangan dan penggemukan sapi bali.

Alumnus program doktor Universitas Udayana itu memberikan apresiasi terhadap upaya Pemerintah Provinsi Bali bersama DPRD setempat yang kini membahas rancangan peraturan daerah tentang pengelolaan sapi bali dengan tujuan untuk menjaga kelestariannya.

Sapi bali merupakan salah satu plasma nuftah di Indonesia yang perlu dilindungi dan dilestarikan. Dalam konteks kesejahteraan masyarakat, khususnya petani dan peternak, di Pulau Dewata, maka pelestarian sapi bali harus dimaknai sebagai pengelolaan sapi yang menguntungkan dan berkelanjutan bagi masyarakat setempat.

Salah satu upaya pengelolaan sapi bali yang menguntungkan dan menjamin kelesatariannya adalah melalui pengembangan prinsip agribisnis yang inklusif.

Sapi bali yang merupakan warisan nenek moyang memiliki berbagai keunggulan dibandingkan dengan sapi luar Bali. Oleh karena itu, keunggulan tersebut akan menjadi tambahan nilai daya saing dan dapat meningkatkan pendapatan petani, khususnnya peternak.

Beberapa keunggulan sapi bali, di antaranya subur yakni cepat berkembang biak dengan fertilitas tinggi, mudah beradaptasi dengan lingkungannya, termasuk di lahan yang kritis, serta mempunyai daya cerna yang baik terhadap pakan.

Demikian pula persentase karkas yang tinggi dan kandungan lemak karkas yang relatif rendah.

Dengan memperhatikan keunggulan tersebut, maka pengelolaan sapi bali melalui prinsip agribisnis inklusif mencakup beberapa kegiatan di dalam setiap subsistemnya.

Subsistem tersebut antara lain penyediaan sarana produksi, alat dan mesin untuk berproduksi, subsistem produksi, pengolahan, pemasaran, dan susbistem penunjang.

Cegah penyelundupan Ketua Panitia Khusus Ranperda Pengolahan Sapi Bali DPRD Bali Nyoman Parta menilai diperlukan adanya peraturan daerah untuk melindungi genetik sapi bali, sekaligus mencegah penyelundupan sapi khas Pulau Dewata untuk menghindari kepunahan.

Oleh sebab itu, keberadaan sapi bali harus mendapatkan perlindungan serta mencegah semakin banyaknya penyelundupan sapi keluar daerah, karena perdagangan sapi ke luar daerah itu sangat dibatasi untuk menjaga keseimbangan populasi ternak tersebut.

Hal itu perlu mendapat perhatian semua pihak karena di luar kuota perdagangan antarpulau secara resmi, makin marak terjadi penyelundupan atau pengiriman sapi bali tanpa izin resmi, sehingga dikhawatirkan mengancam kesimbungan populasi sapi bali.

Maraknya penyelundupan sapi itu akibat kota-kota besar di Jawa, seperti DKI Jakarta, Surabaya, dan Bandung membutuhkan daging sapi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengusulkan agar ke depan pemerintah provinsi setempat dapat membeli sapi betina milik masyarakat guna menekan kasus penyelundupan hewan ternak itu keluar Pulau Dewata.

Tindakan itu dinilai cukup efektif. Bibit sapi tersebut selanjutnya diberikan kepada petani dan peternak untuk dibesarkan dengan sistem pengawasan yang ketat sehingga tidak ada peluang bibit sapi itu dijual kembali.

Jika keuangan daerah memungkinkan, direncanakan jumlah sapi betina yang dibeli pemerintah itu menyesuaikan dengan jumlah sapi yang kira-kira diselundupkan setiap tahunnya.

"Jika setahun kira-kira jumlah sapi yang diselundupkan 1.000 ekor, dengan harga seekor sapi sekitar Rp7 juta, maka pemerintah akan mengalokasikan anggaran sebesar Rp.7 miliar," ujarnya.

Suasana inklusif Gede Sedana, pria kelahiran Singaraja, 54 tahun silam, yang banyak melakukan penelitian menyangkut pertanian dan peternakan di Bali itu, melihat peluang para petani akan dapat mengelola usaha ternak sapi bali jika pemerintah mampu menciptakan suasana inklusif dalam beragribsinis.

Penyediaan bibit sapi bali yang memiliki kualitas bagus sangat diperlukan petani untuk dikembangkan sebagi pembibitan maupun penggemukan.

Kualitas bibit yang baik akan memberikan jaminan terhadap keefektifan pengelolaan sapi bali dari aspek kuantitas dan kualitas daging yang bermutu.

Untuk memperoleh bibit yang baik dibutuhkan teknologi yang bersumber dari para ahli yang didukung oleh industri pembibitan yang memadai.

Selain itu, dalam pengelolaan sapi atau pemeliharaannya memerlukan adanya pakan ternak yang tersedia secara lokal dan mudah diakses oleh para peternak.

Pakan ternak berupa hijauan dari tanaman yang memiliki produktivitas tinggi dan bermutu dari pakan ternak pabrikan serta keterampilan untuk mengaplikasikan pengetahuan dan teknologi.

Oleh sebab itu, perda pengelolaan sapi bali agar dapat diimplementasikan dalam penguatan kapasitas petani dan peternak untuk aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengembangan sapi-sapi yang dikelolanya.

Kegiatan penyuluhan dan pelatihan bagi peternak akan menjamin terwujudnya tujuan perda pengelolaan sapi bali.

Pendampingan yang intensif dari pemerintah akan menjadi motivasi bagi peternak dalam mengembangkan sapi bali.

Selain itu, diperlukan adanya sentra-sentra pengelolaan sapi bali di berbagai daerah di kabupaten/kota daerah itu untuk menjadi pusat pembelajaran bagi peternak sapi terkait dengan perbaikan kualitas pengelolaan ternak sapi.

Para peternak sapi juga dapat diberikan keyakinan bahwa pengelolaan sapi bali akan memberikan keuntungan ekonomis yang relatif tinggi, melalui usaha pembibitan maupun penggemukan.

Keuntungan ekonomis tersebut menjadi salah satu insentif bagi peternak sapi untuk makin bergairah dalam pengelolaan ternak itu secara berkelanjutan. (Ben/An)

Cetak Kain
Belakangan, dunia bisnis tekstil sangat berkembang. Ini ditandai dengan sebaran bisnis yang menjadikan tekstil sebagai komoditas di masyarakat tampak sangat banyak. Beberapa contohnya seperti; distro, bistro, butik serta konveksi dan lainnya.

Bisnis berbasis komoditas tekstil tentu membutuhkan mata rantai yang cukup panjang. Terlebih dari karakteristiknya, bisnis yang demikian sangat erat hubungannya dengan update yang terkait trend atau gaya hidup perkotaan. Ini agar senantiasa mampu menuruti kemauan pasar yang ada.

Berangkat dari kenyataan tersebut, tentunya diperlukan dukungan dari komponen-komponen bisnis yang bersangkutan. Sebagai contoh, industri tekstil sendiri sebagai bahan baku utamanya, industri pendukung seperti percetakan kain termasuk jasa sablon digital, serta industri bordir dimana orang bisa mendapatkan ornament yang pantas untuk meningkatkan nilai jual dari produknya (added value).

Tempat Cetak Kain Dan Tekstik, Mitra Pembisnis Komoditas Tekstil

Dari ulasan tersebut tentu bisa disimpulkan, bahwa tempat cetak kain serta tekstil menjadi mitra yang tak bisa dilepaskan sangkut pautnya dalam mata rantai tersebut. Oleh karena itu diperlukan sebuah pengetahuan yang tepat agar orang bisa mendapatkan gambaran yang jelas dalam memilh mana yang potensial. Berikut ini ada tips yang bisa menjadi inpirasi untuk memilih tempat cetak kain.
  • Bisa Menerima Cetak Untuk Multi Media
Untuk tips pertama tentu ada baiknya memilih yang melayani cetak multi media. Artinya bisa menerima jenis kain apapun sesuai dengan yang dikehendaki pihak pelanggan. Hal ini dimaksudkan agar kebutuhan pelanggan dapat terakomodasi dengan tepat. Jasa cetak yang bisa menerima jenis kain apapun juga pas dijadikan sebagai mitra, sebab pelanggan bisa mendapatkan one stop service tidak perlu harus berkeliling agar semua kebutuhan cetaknya terpenuhi dengan baik.
  • Menyediakan Jasa Desainer
Tempat cetak dengan jasa desainer yang sudah tersedia juga menjadi satu hal yang potensial seperti yang dilakukan oleh Raster Konveksi di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Dengan demilkian maka pelanggan bisa mendesain saat itu juga. Ini tentu bagus bagi pelanggan yang membutuhkan inpirasi desain cetak yang hendak diaplikasikan.
  • Melayani Kebutuhan sesuai Ragam Profesi
Luasnya perkembangan komoditas tekstil menjadikan beragam profesi pula yang mengelola komoditas ini. Mulai dari professional, perancang busana, desainer baju serta profesi lainnya. Masing-masing profesi tentu berbeda kebutuhannya, karenanya sangat pas memilih tempat cetak yang bisa mengakomodir beragam kebutuhan sesuai jenis profesinya.

Tips diatas bisa diplikasikan oleh siapa saja yang membutuhkan mitra cetak kain dan tekstil yang terpercaya. Tentunya tips tersebut bukan sebuah formula yang bersifat baku. Semua kembali pada kebutuhan masih-masing orang.

Tetapi dengan berpijak pada tips-tips tersebut, maka sebagai pelanggan akan banyak keuntungan sesuai dengan prinsip one stop solution. Maksudnya, pelanggan bisa mendapatkan beragam kebutuhannya pada satu waktu yang sama, Yang demikian ini, akan sangat menghemat banyak hal baik dari segi waktu maupun tenaga. Keuntungan lainnya, tentu saja dari segi bisnis maka akan sangat tepat. Karena dengan mempunya mitra jasa cetak yang bersifat one stop shopping, maka kita sebagai pihak pengusaha dapat berkonsentrasi untuk hal lain. Sebagai contoh, pemasaran dari produk atau hal lain yang penting dan mendukung perkembangan bisnis yang sedang digeluti.

Diplomatik

London,15/9 (Benhil) - Menteri Energi Lithuania Zgymantas Vaiciunas dan Ketua Mahkamah Konstitusi Prof. Dr. Arief Hidayat SH, MS, menghadiri resepsi diplomatik sekaligus peringatan HUT Ke-72 Kemerdekaan RI yang diadakan KBRI untuk Kerajaan Denmark merangkap Lithuania.

Kegiatan itu dilaksanakan di Narutis Hotel, Vilnius, Lithuania, Kamis (14/9), laporan KBRI Kopenhagen yang diterima Antara London, Jumat.

Acara resepsi diplomatik itu dihadiri sekitar 200 orang, diawali dengan mendengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu kebangsaan Lithuania "Tautiska Giesme".

Selaln Menteri Energi Lithuania Zgymantas Vaiciunas, juga hadir Wakil Ketua Parlemen (SEIMAS) Lithuania Gediminas Kirkilas, Kepala Penasehat Presiden Lithuania Nerijus Aleksiejunas, seluruh Korps Diplomatik Asing yang berada di Lithuania, Konsul Kehormatan RI di Lithuania Julijus Novickas, Friends of Indonesia, pengusaha dan mitra Bisnis Indonesia serta masyarakat/diaspora Indonesia setempat.

Ketua Mahkamah Konstitusi RI Prof. Dr. Arief Hidayat SH, MS, beserta rombongan yang secara bersamaan sedang berada di kota Vilnius dalam rangka mengikuti Kongres Internasional ke 4 World Conference on Constitutional Justice (WCCJ) juga menghadiri acara resepsi itu.

Pada kesempatan itu, Dr Arief Hidayat secara khusus menyampaikan sambutan terkait sejumlah poin penting di antaranya perkembangan ekonomi terkini serta peran serta Indonesia yang senantiasa mendukung perdamaian di dunia terbukti dengan pencalonan sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB periode 2019 - 2020.

Menteri Energi Lithuania Zygimantas Viciunas menyampaikan Indonesia merupakan mitra penting bagi negaranya, dan diharapkan sejumlah kerja sama dapat dilakukan dengan melihat potensi Indonesia yang cukup besar.

Sementara itu Dubes RI untuk Lithuania M. Ibnu Said menegaskan pentingnya peningkatan kerja sama di berbagai bidang dengan negara tersebut, khususnya pascakunjungan bersejarah Presiden Lithuania ke Jakarta Mei lalu.

Dalam kegiatan ini tamu undangan menikmati hidangan kuliner Khas Indonesia seperti Nasi tumpeng lengkap, Sate, Rendang, serta beberapa makanan ringan dan jajanan pasar termasuk martabak manis dan martabak telur, yang disajikan juru masak handal Rusliyawan.

Selain menikmati hidangan undangan dihibur dengan tarian tradisional Indonesia "Kandagan" dari Jawa Barat ditarikan penerima Darmasiswa yang menempuh pendidikan seni di Indonesia Egle Kardiukovaite.

Dalam kesempatan ini seluruh tamu melihat beberapa stan produksi Tanah Air, seperti batik dan berbagai produk perdagangan yang disediakan oleh KBRI seperti Mayora dengan produk unggulan Kopiko Coffee Shot Candy, kopiko Volcanic Coffee, dan Astor Chocolate Sticks termasuk berbagai produk lainnya dan sejumlah suvenir Wonderful Indonesia.

Sebelumnya KBRI Kopenhagen melakukan kegiatan Promotion of Indonesian Cuisine in Collaboration with Narutis Hotel Vilnius, menampilkan sejumlah hidangan masakan dan disajikan saat santap pagi tamu yang menginap di Hotel Narutis dengan menu khas Indonesia antara lain Nasi Goreng, dan Bihun Goreng.

Selain mengadakan sejumlah agenda terkait peringatan HUT RI, Dubes berkesempatan bertemu dan bertatap muka dengan 30 penerima Darmasiswa Lithuania yang pernah belajar berbagai ilmu dan jurusan di Indonesia dan masyarakat serta Diaspora Indonesia yang bermukim di negara itu. (Ben/An/ZG)

Kawah Silergi-Dieng
Purwokerto, 15/9 (Benhil) - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status Kawah Sileri, Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, dari normal (Level I) menjadi waspada (Level II), kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Dieng Surip.

"Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, status Kawah Sileri dinaikkan dari normal menjadi waspada sejak hari Kamis (14/5), pukul 23.00 WIB," katanya saat dihubungi Antara dari Purwokerto, Jumat dini hari.

Ia mengatakan berdasarkan pengamatan visual Gunung Api Dieng, khususnya Kawah Sileri, dari periode bulan Juni 2017 hingga 14 September 2017 pada umumnya cuaca cerah-mendung hingga hujan, dengan curah hujan maksimal 88,9 milimeter.

Selain itu, angin bertiup lemah hingga kencang dari arah selatan, timur, barat, dan utara, asap Kawah Sileri bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi asap maksimum 10 meter, serta tidak tampak adanya aliran gas dari Kawah Timbang.

Sementara pada tanggal 2 Juli 2017, pukul 11.54 WIB teramati erupsi freatik, asap putih tebal, dan tinggi asap kurang lebih 150 meter dengan tekanan asap kuat.

"Dari sisi pengamatan kegempaan sejak bulan Juni 2017 hingga 14 September 2017 pukul 22.30 WIB, terekam 24 kali gempa tektonik jauh, 173 kali gempa tektonik lokal di manabdua kali terasa MMI IV dan satu kali terasa MMI II, 51 kali gempa vulkanik dalam (VA), 10 kali gempa vulkanik dangkal (VB), 12 kali gempa Tornillo, 485 kali gempa embusan, satu kali gempa letusan, serta gempa tremor menerus," katanya.

Ia mengatakan dalam pengukuran suhu air Kawah Sileri sejak tanggal 8 Juli 2017 hingga 14 September 2017, pukul 22.30 WIB, menunjukkan peningkatan dari 90,7 derajat Celcius menjadi 93,5 derajat Celcius dan suhu tanah di Kawah Sileri juga menunjukkan peningkatan dari 58,6 derajat Celcius menjadi 69,4 derajat Celcius.

Menurut dia, pengukuran suhu Kawah Timbang sejak tanggal 25 Mei 2017 sampai 13 September 2017 juga menunjukkan peningkatan dari rata-rata 57,3 derajat Celcius menjadi 62,7 derajat Celcius.

Sedangkan suhu tanah di Kawah Timbang sejak tanggal 1 Juni 2017 sampai 13 September 2017 menunjukkan tren menurun 18,6 derajat Celcius menjadi 17,2 derajat Celcius.

"Konsentrasi gas CO2 di Kawah Timbang sejak 25 Mei 2017 sampai 13 September 2017 berkisar antara 0,22 persen hingga 0,24 persen dan tidak menunjukkan adanya peningkatan," kata Surip.

Ia mengatakan berdasarkan hasil evaluasi, suhu dan konsentrasi gas CO2 di Kawah Timbang cenderung normal, sedangkan suhu di Kawah Sileri cenderung terus meningkat sejak 8 Juli 2017.

Selain itu, kata dia, hasil pemantauan kegempaan sejak bulan Januari 2017 hingga 13 September 2017, pukul 06.00 WIB, jumlah gempa berfluktuatif, namun sejak 13 September hingga 14 September 2017, pukul 21.00 WIB, terjadi tremor menerus dengan amplituda 0,3-1 milimeter, dominan 0,5 milimeter.

"Potensi bahaya yang ditimbulkan akibat meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Api Dieng terutama adalah terjadinya erupsi freatik, hujan lumpur, lontaran material di Kawah Sileri, dan meningkatnya konsentrasi gas-gas vulkanik serta aliran gas CO2 konsentrasi tinggi dan berbahaya di Kawah Timbang," katanya.

Lebih lanjut, dia mengatakan sehubungan dengan adanya peningkatan aktivitas vulkanik di Kawah Sileri, PVMBG merekomendasikan masyarakat dan wisatawan untuk tidak mendekati Kawah Sileri pada jarak 1.000 meter dari bibir kawah. Sementara bagi masyarakat yang berada di dalam radius 1 kilometer dari bibir Kawah Sileri, yakni warga yang bermukim di Dusun Sekalam dan Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Banjarnegara agar diungsikan sementara ke tempat yang aman.

Selain itu, masyarakat tidak melakukan aktivitas di Kawah Timbang, karena adanya ancaman bahaya gas CO2 dan H2S yang berbahaya bagi kehidupan. PVMBG mengimbau masyarakat agar waspada jika melakukan penggalian tanah di sekitar Kawah Timbang dengan kedalaman lebih dari 1 meter karena dari tempat tersebut masih berpotensi terancam bahaya gas CO2 dan H2S.

Masyarakat juga diminta agar tetap tenang tidak terpancing isu-isu terkait dengan aktivitas Gunung Api Dieng dan agar selalu mengikuti arahan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah," katanya.

"PVMBG merekomendasikan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan BPBD Kabupaten Banjarnegara, BPBD Kabupaten Wonosobo, serta BPBD Kabupaten Batang agar selalu berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau melalui Pos Pengamatan Gunung Api Dieng di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, telepon 082330123236, tentang aktivitas Gunung Api Dieng," katanya.

Surip mengatakan objek wisata lainnya di Dataran Tinggi Dieng tetap aman dikunjungi wisatawan karena peningkatan aktivitas hanya di Kawah Sileri.

Selain itu, Kawah Timbang bukan merupakan daerah tujuan wisata dan lokasinya jauh dari Kawasan Wisata Dataran Tinggi (KWDT) Dieng. (Ben/An)
All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.