Kereta Cepat China

Stasiun kereta cepat di China sangat berbeda dengan stasiun kereta api di Indonesia. Infrastruktur dan fasilitas yang tersedia menyerupai bandara, yakni calon penumpang kereta maupun pengantar harus menjalani proses pemeriksaan melalui detektor logam sesaat setelah melewati pintu masuk stasiun.

Penulis bersama wartawan dari negara-negara ASEAN belum lama ini mendapat kesempatan menumpang kereta cepat rute Beijing-Nanjing, dalam rangkaian kegiatan peliputan atas undangan Kementerian Luar Negeri China.

Perjalanan menuju Nanjing saat itu dimulai dari stasiun kereta cepat Beijing Selatan (Beijingnan) yang terletak di Distrik Fengtai.

Di dalam stasiun berjajar berbagai gerai makanan, minuman, serta toko oleh-oleh. Seperti di berbagai tempat umum lainnya di China, stasiun kereta juga sangat padat orang.

Sebelum turun ke platform kereta yang berada satu lantai di bawah lantai dasar stasiun, calon penumpang harus menunjukkan tiket dan kartu identitas kepada petugas.

Harga tiket kelas satu untuk tujuan Nanjing 748,5 yuan (sekitar Rp1,5 juta) per orang. Sistem penetapan tarif tiket kereta cepat di China didasarkan pada waktu tempuh. Tarif untuk kelas satu dibanderol 150 yuan (sekitar Rp300 ribu) per jam sementara untuk kelas dua sebesar 100 yuan (sekitar Rp200 ribu) per jam.

"Dengan kecepatan kereta 350 kilometer per jam, kami bisa sangat menghemat waktu. Sebelumnya kami harus menempuh 14 jam dari Beijing menuju Nanjing, tetapi setelah ada kereta cepat kami cukup menghabiskan 4,5 jam saja," ujar Hu Fangfang, pemandu perjalanan para wartawan selama berada di Beijing.

Satu rangkaian kereta cepat yang ditumpangi para wartawan terdiri dari 16 gerbong kereta, dengan kapasitas gerbong kelas satu 41 penumpang.

Yang menarik dari kereta ini adalah nomor kursi setelah angka diikuti huruf A, C, F, D, tidak runut seperti kereta api di Indonesia yang menggunakan huruf A, B, C, D.

Kereta cepat di China memiliki karakteristik warna putih pada badan kereta dan bentuk moncong menyerupai peluru pada ujung-ujungnya.

Interior di dalam kereta mirip kereta kelas eksekutif di Indonesia, dilengkapi toilet, pendingin ruangan, dan kabin barang.

Kursi-kursi kereta berwarna merah dengan sandaran tinggi difasilitasi dengan meja lipat yang bisa digunakan untuk menaruh benda kecil atau peralatan kerja seperti laptop dan gawai.

Sesaat setelah keberangkatan, pramugari kereta akan membagikan sekotak makanan kecil yang di dalamnya berisi kacang, biskuit, dan daging kering. Penumpang juga bebas memilih minuman yang disediakan seperti air mineral, teh, dan jus kelapa.

Bagi Panaiyada Pattamakowit, pengalaman pertama menumpang kereta cepat sangat berkesan. Wartawan media berbasis daring InfoQuest asal Thailand itu mengaku jarang menggunakan transportasi kereta api di negaranya.

"Orang Thailand lebih senang menggunakan pesawat terbang karena waktu tempuhnya lebih cepat dan bahkan harga tiketnya lebih murah daripada bus," ujar dia.

Kereta api di Thailand, menurut dia, sangat lambat dan fasilitasnya kurang nyaman bagi penumpang sehingga tidak menjadi transportasi publik favorit masyarakat di negaranya.

Sementara bagi Yimie Yong, wartawan asal Malaysia, kereta cepat selalu menjadi pilihan terbaik saat dirinya bepergian antarwilayah di China.

"Alat transportasi ini sangat efisien ya. Dulu saat saya 'traveling' ke China ke mana-mana naik bus, tetapi sekarang karena macet jadi susah. Bus juga tidak nyaman untuk tidur selama perjalanan, jadi saya rasa kereta lebih baik," tutur wartawan The Star Media Group itu.

Selama perjalanan dari Beijing menuju Nanjing, penumpang dimanjakan dengan panorama beberapa wilayah di China mulai dari gedung-gedung bertingkat di kawasan perkotaan, perbukitan, lahan pertanian, sungai dan jembatan.

Jalannya kereta meskipun cepat tetapi relatif stabil dan tidak bising, sehingga nyaman bagi penumpang yang ingin menggunakan waktunya untuk bekerja, saling mengobrol, atau beristirahat.

Menempuh jarak 1.023 kilometer, kereta yang berangkat dari Beijing ini sempat berhenti di enam stasiun yakni Dezhoudong, Jinan Barat, Taian, Xuzhou, Bengbunan, Dingyuan sebelum tiba di stasiun tujuan Nanjing Selatan (Nanjingnan).

Merambah ASEAN Dalam beberapa tahun ke depan, penduduk Asia Tenggara akan dapat menikmati terobosan baru dunia perkeretaapian melalui pembangunan kereta cepat di beberapa negara.

Indonesia adalah negara pertama yang telah memulai proyek kereta api cepat dengan rute Jakarta-Bandung.

Peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek infrastruktur yang dikerjakan oleh konsorsium PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) itu telah dilakukan Presiden Joko Widodo pada pertengahan 2016.

Meskipun kini pembangunan proyek senilai 6,07 miliar dolar AS itu masih terhambat proses pembebasan lahan, namun perusahaan China yakin dapat menyelesaikannya sesuai jadwal yakni pada akhir 2019.

"Proyeknya terus berjalan sesuai jadwal dan sesuai harapan pemerintah kedua negara. Tahun ini kami memang fokus pada pembebasan lahan sebagai tahap persiapan konstruksi," kata Direktur Departemen Bisnis Asia China Railway Group Limited, Li Jianping, saat menerima kunjungan wartawan dari negara-negara ASEAN di Beijing.

Dengan jarak tempuh 142,3 kilometer, kereta cepat Jakarta-Bandung diperkirakan dapat memperpendek waktu tempuh dari 3,5 jam menjadi sekitar 35 menit.

Indonesia berharap adopsi teknologi transportasi dari China ini dapat mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi di Ibu Kota Provinsi Jawa Barat, serta menjadi solusi kepadatan jalan tol Cipularang yang menghubungkan Jakarta-Bandung.

Sementara Malaysia, Singapura, dan Thailand tampaknya masih harus menunggu sampai proyek kereta cepat dapat segera dilaksanakan.

Pembangunan kereta cepat Kuala Lumpur-Jurong saat ini masih dalam tahap tawar-menawar (bidding). Investor China dan Jepang disebut-sebut bersaing keras untuk memenangi tender proyek yang telah disepakati oleh pemerintah Malaysia dan Singapura pada 2013.

Sedangkan pemerintah Thailand telah menyetujui pendanaan tahap pertama infrastruktur kereta cepat rute Bangkok-Nakhon Ratchasima yang akan digarap oleh kontraktor China. Dengan kecepatan maksimal 250 kilometer per jam, kereta yang dapat menempuh jarak 260 kilometer hanya sekitar satu jam itu diperkirakan mulai beroperasi pada 2021.

Pembangunan infrastruktur kereta cepat di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand termasuk dalam peta "Belt and Road Initiative" (BRI) yang digagas Presiden China Xi Jinping.

Strategi kerja sama regional itu mengusung konektivitas sebagai kata kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan Asia, Eropa, serta Afrika.

Yashinta Difa

Tembok China

Kenangan masa lalu terkadang memang terlalu indah untuk dilupakan, sayang untuk dibuang. Itulah sebabnya dalam setiap budaya kisah tentang kegemilangan masa lalu tak akan lalai diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya baik dalam bentuk nostalgia pahit, dongeng manis, atau setumpuk coretan penuh bukti.

Romantisme masa lalu tentang kejayaan rute kuno perdagangan Jalur Sutra itu jugalah yang sejak empat tahun terakhir dipasarkan dengan gegap gempita oleh China.

Siapa tak mengenal Jalur Sutra, saat barang-barang kualitas terbaik dibawa melintasi batas negara atau menembus laut lepas mencapai tempat-tempat jauh yang tak terbayangkan, sebelum kemudian meledak menjadi salah satu rute perdagangan yang sangat gemilang.

Berbekal kisah sukses lama itulah China melakukan puluhan negosiasi dengan sekitar 60-an negara di rute tersebut, menawarkan ide baru untuk babak baru Jalur Sutra edisi milenia.

Sebuah sekuel atau cerita lanjutan yang tentunya akan jauh lebih kompleks dan rumit dibandingkan versi pertamanya mengingat polarisasi geopolitik setiap negara kini tak lagi sama dengan ratusan tahun lalu.

Jalur Sutra edisi baru ini pada mulanya dipasarkan dengan nama inisiatif "One Belt and One Road" sebelum dalam beberapa saat terakhir berganti nama menjadi Inisiatif "Belt and Road" atau BRI.

Digagas oleh Presiden Xi Jinping pada 2013, BRI menawarkan sebuah upaya untuk memperluas peluang bagi pembangunan dan kesejahteraan bersama melalui kerja sama yang saling menguntungkan.

Dari Provinsi Xian, tuan rumah ribuan prajurit terracotta kaisar pertama China, hingga Eropa, inisiatif "One Belt" menembus negara-negara Asia Tengah yang lazimnya terasosiasi dengan Rusia.

Dari pelabuhan-pelabuhan utama China di Guandong, kapal-kapal negeri Tirai Bambu itu menyusuri garis pantai untuk mencapai Eropa, dalam sebuah inisiatif "One Road" yang juga melibatkan sejumlah pelabuhan Indonesia.

Lebih dari Fisik Sekalipun sejak tercetus pada 2013, BRI lebih sering dikaitkan dengan pembangunan fisik, misalkan pembangunan serentak sejumlah jalur kereta yang menghubungkan Beijing dengan negara-negara di Asia Tenggara dan Selatan, pembangunan pipa yang akan melintasi negara-negara di Asia Tengah, dan pelabuhan-pelabuhan di jalur laut.

Namun BRI tidak semata hal yang kasat mata.

Kedekatan dalam hubungan ekonomi mau tidak mau akan menciptakan kedekatan dalam hubungan sosial, budaya dan bahkan politik saat warga dari kedua negara lebih sering bertemu dan bertukar pikiran.

Dan teman atau sekutu adalah salah satu syarat untuk tumbuh besar atau sekadar bertahan mengatasi segala tantangan, mulai dari perubahan iklim hingga ancaman nuklir. Sejarah punya catatan panjang tentang hal itu.

Rute laut dan darat Jalur Sutra baru tersebut diharapkan akan menjadi salah satu kerangka kerja sama ekonomi besar di dunia, bahkan mungkin yang terbesar, yang mempromosikan kolaborasi yang luas di beragam sektor dari berbagai suku bangsa.

Namun tidak sedikit negara yang masih meragukan niat China untuk menghidupkan rute perdagangan masa lampau itu, salah satunya negara-negara di kawasan Asia Tenggara di mana Jepang dan Amerika Serikat juga memiliki pengaruh kuat.

Pendekatan mendadak pemerintah, partai komunis dan perusahaan-perusahaan China acapkali menimbulkan kekhawatiran akan kemungkinan Asia Tenggara menjadi arena pertempuran kekuatan-kekuatan besar.

Dan pemerintah China kiranya menyadari bahwa hal pertama yang harus dilakukan adalah menghapus kecurigaan. Itulah sebabnya sebuah pendekatan "soft power" untuk mengubah persepsi beberapa negara tentang upaya besar China guna menghidupkan romantika lama bernama Jalur Sutra digelar beberapa kali. Salah satunya adalah temu media di sepanjang rute itu.

Salah satu harian besar China, People's Daily, dan Partai Komunis China, mengundang sedikitnya 265 editor senior dari 126 negara untuk duduk bersama dalam "Media Cooperation Forum on Belt and Road 2017" di Dunhuang, salah satu kota yang menjadi saksi bisu sejarah panjang Jalur Sutra, pada 19 September 2017.

Presiden harian People's Daily Yang Zhenwu selaku penyelenggara forum tersebut dalam pidatonya memberikan jaminan bahwa "Belt and Road Initiative" akan menciptakan konsep baru untuk pemerintahan global, memperluas ruang untuk kerja sama internasional dan menciptakan model dimana masyarakat yang beragam dapat belajar satu sama lain.

Menurut dia, People's Daily telah menggelar forum tersebut sejak 2014 guna menghapus penghalang emosional dan memperluas "jaringan teman" dan membentuk lingkaran konsentris budaya.

Pavel Negoitsa, Direktur Umum dari Rossiyskaya Gazeta, Rusia, yang merupakan satu dari 25 pembicara dalam forum tersebut juga menggarisbawahi inisiatif tersebut sebagai sebuah peluang untuk menciptakan model kerja sama baru.

Sementara itu Stephen Rae, Pemimpin Redaksi Grup Independent New Media (INM) Irlandia, menilai inisiatif dan forum tersebut akan memberikan dampak positif bagi dunia, terutama terkait hubungan timur dan barat. Ia menyinggung tentang peran besar yang dimainkan media untuk menyebarkan informasi, termasuk persepsinya tentang inisiatif itu.

Saling Memahami Hampir seluruh pembicara yang berasal dari media, pejabat pemerintah atau pengusaha dalam forum tersebut bisa dikatakan mendukung kemunculan "Belt and Road Initiative" (BRI) dan memuji mimpi menciptakan keterhubungan raksasa, tapi apakah hal itu serta merta menghapus prasangka, media pada khususnya dan sebagian negara, pada China? Mungkin jawabnya tidak seoptimal yang diharapkan, jika merujuk pada hasil pertemuan antara sejumlah editor dari media di Asia Tenggara dan Asia Selatan dengan para pejabat partai komunis. Sebuah dialog yang menurut partai berkuasa tersebut digelar untuk menghapus persepsi negatif tentang negara itu.

Sebagai salah satu negara pemain kunci dalam isu-isu besar seperti Laut China Selatan, Korea Utara dan Myanmar, banyak dari awak media yang berharap dapat menjadi saksi perubahan sikap China setelah upaya besar-besarannya merangkul negara-negara di sepanjang Jalur Sutra melalui BRI.

Tapi dialog berulang dengan para pejabat itu menunjukkan bahwa harapan itu masih sekedar harapan.

Terutama dalam kasus Laut China Selatan, salah satu kasus yang menjadi perhatian dunia internasional, dan kebetulan akan menjadi bagian dari mimpi mewujudkan kembali rute laut Jalur Sutra.

Bagi beberapa wartawan yang berasal dari negara dengan sejarah sengketa klaim yang cukup vokal bisa jadi hal itu menghapus pengalaman indah atas keramahan warga China yang mereka temui dalam perjalanan panjang selama hampir dua minggu itu.

Seorang wartawan dalam forum tersebut secara terbuka mengutip peribahasa bahwa "siapa yang mampu menguasai hati publik, dialah yang akan memimpin", saat diminta memberi masukan pada partai komunis guna menghilangkan persepsi negatif atas China.

China mungkin betul tidak ingin memimpin dunia namun ingin bekerja sama dengan dunia, sebagaimana pernyataan salah satu pejabatnya dalam pertemuan di ujung perjalanan panjang itu, namun sebuah kerja sama yang sukses juga membutuhkan sikap saling memahami.

Jalur Sutra milenia disebut oleh sejumlah pemimpi negara yang menghadiri konferensi tingkat tinggi BRI pada Mei lalu sebagai sebuah sikap positif di tengah tren proteksionisme yang didengungkan beberapa negara.

Dialog antarindividu kali ini mungkin adalah salah satu langkah awal bagi semua pihak untuk belajar mendengar dan memahami. Karena satu yang perlu diingat bahkan di masa lalu rute di sepanjang Jalur Sutra tak selalu damai, dinasti, suku dan etnis, saling bertempur untuk menuai keuntungan terbesar dari jalur perdagangan tersebut.

Dan tentunya bukan itu yang diinginkan dalam sekuel kali ini.

Gusti NC Aryani

Konya Rumi


Konya disebut juga dengan nama Koniah, sedangkan pada masa Romawi dinamai Ikonium. Kota ini diperkirakan sudah dihuni sejak zaman Perunggu (sekitar 3000 Sebelum Masehi).

Kota ini berpidah-pindah kekuasaan: dari satu kekaisaran ke kekaisaran lain.

Pada masa Kerajaan Anatolia, abad ke-8 SM, Ikonium diserang Cimmeria, kemudian dikuasai Kekaisaran Persia (Kekaisaran Akhemeniyah).

Pada tahun 333 SM, Alexander the Great (Alexander Agung) berkuasa atas kota ini. Ketika Alexander meninggal dan kerajaan yang dikuasainya terpecah, Konya selanjutnya dikuasai Kekaisaran Romawi (Kaisar Claudius).

Berikutnya, Konya diambilalih Kekaisaran Bizantium dan Khalifah Ummayah-Abbasiyah. Kini, menjadi salah satu provinsi Turki.

Paulus dan Bernabas, seperti yang dikutip dari wikipedia, sekitar tahun 47 hingga 48, mengabarkan Injil ke kota ini, dalam perjalanan misi pertama mereka.

Konya memiliki sejarah panjang. Akan tetapi, bagi banyak kalangan, penyebutan Konya lebih diingat sebagai kota tempat Maulana Jalaluddin Rumi (Jalal ad-Din Muhammad Rumi), seorang sufi terkemuka.

Syair-syairnya digemari didiskusikan seluruh dunia, hingga kini, 744 tahun setelah wafat.

Rumi tidak lahir di Konya. Penyair sufi yang menulis sekitar 34.662 bait puisi dalam bentuk ghazal (diwan), ruba'i, dan mathnawi ini lahir di Balkh (kini Afganistan) pada tanggal 30 September 1207.

Ayahnya keturunan Abu Bakar. Saat berusia 3 tahun, Rumi dan keluarganya, dibawa ayahnya, Bahauddin Walad, menyelamatkan diri dari serangan tentara Mongol. Mereka pergi ke Mekah, kemudian pindah ke Damaskus, Suriah, menetap dan wafat di Konya, Turki, 16 Disember 1273.

Pertemuannya dengan Syamsuddin Tabriz, guru ilmu tasawuf, makin mendewasakan Rumi muda meski ada yang tidak menyukai kedekatan itu.

Dalam beberapa syairnya, Rumi menyebut nama Syamsuddin Tabriz (Shams).

Syair-syair Rumi menekankan pada cinta, penyatuan diri, dan dia mengkritik filsafat yang mengkultuskan akal. Dalam kumpulan syairnya yang sangat terkenal, Al-Matsnawi al Maknawi, soal keutamaan cinta daripada akal, sangat jelas terbaca dari cuplikan syairnya berjudul Jalan Cinta yang Utama, yang sangat menyentuh.

Pencinta yang faqir memiliki penglihatan hati penuh pesona. Orang yang hanya mengandalkan pada akal, hatinya gelap, semua disangkalnya.

Akal berkata, "Janganlah kakimu dijejakkan di situ, di halaman istana hanya duri yang tumbuh!" Cinta berkata, "Duri-duri ini semuanya milik akal yang bersarang dalam dirimu!" Waspadalah dan diam, buanglah duri kehidupan dari telapak kaki! Supaya kau mendapat pelindung di dalam dirimu.

Shamsi Tabriz! Kaulah matahari dalam awan kata-kata; Apabila matahari terbit, setiap kata pun sirna! Profesor Dr. Annemarie Schimmel (1922 s.d. 2003), peneliti Jerman, yang inten selama sekitar 40 tahun mengkaji, mendalami, menerjemahkan karya Rumi, menilai kekuatan Rumi adalah cinta yang didasarkan pada Tuhan.

Setiap doa Rumi dalam syair-syairnya, menurut Schimmel, ada rahmat Ilahi. Rumi membuka sendiri rahmat Ilahi itu. Dari situ, Rumi menemukan pemecahan bagi teka-teki takdir.

Cinta adalah lautan tak bertepi langit hanyalah serpihan buih belaka.

Ketahuilah langit berputar karena gelombang Cinta. Andai tak ada Cinta, Dunia akan membeku. Bila bukan karena Cinta, Bagaimana sesuatu yang organik berubah menjadi tumbuhan? Simak pula cuplikan, "Dukacita Kematian," ini: Bagaimana buih dapat melayang tanpa ombak? Bagaimana debu terbang ke puncak tanpa angin? Bila kaulihat debu, lihatlah pula Sang Angin; bila kau lihat buih, lihat pula Sang Samudra Tenaga Penciptan.

Mari, perhatikanlah, karena pernglihatan batinlah satu-satunya yang paling berguna dalam dirimu: selebihnya adalah keping-keping lemak dan daging, pakaian dan pembungkus (tulang dan nadi).

Leburkanlah seluruh tubuhmu ke dalam Penglihatan Batin: lihat, lihat, lihatlah! Sekilas hanya sampai pada satu dua depa jalan; pandangan cermat akan alam duniawi dan spiritual menyampaikan kita pada Wajah Sang Raja.

Konya berarti Rumi. Ratusan orang setiap hari berziarah ke sini, dari berbagai enuuru dunia. Dari Antalya, menyaksikan peninggalan Romawi, Teater Aspendos, menuju Ankara, kami ziarah ke Makam Rumi di Konya, Mei 2012.

Kompleks pemakaman, yang disebut dengan nama Mevlana Muzesi, ini sekaligus sebagai museum Rumi.

Kawasan museum yang luas ini ditandai dengan bangunan seperti masjid berkubah warna hijau. Di bawah kubah itulah sarkofagus (makam) Rumi dan beberapa orang lainnya, termasuk ayahnya, Bahauddin Walad (Baha 'ud-Din Walad).

Makam ditutupi brokat bersulam emas dengan ayat-ayat Alquran. Ini hadiah sultan Abdul Hamid II pada tahun 1894.

Memasuki ruang ini, pengunjung diharuskan membungkus sepatunya dengan plastik yang disediakan. Berbagai ukiran terlihat di museum ini, termasuk kayu dari abad ke-12 dari Dinasti Seljuk.

Museum ini dahulu merupakan kediaman Rumi dan tempatnya mengajarkan ilmu-ilmu agama, tasawuf, dan tarian sufi.

Di depan makam dekat pintu masuk, ada kolam tempat mengambil wudu. Ada juga beberapa kamar dan dapur. Kamar ini temat para darwis belajar sufi belajar.

Di museum ini, pengunjung dapat melihat semacam diorama penari sufi (sema), alat-alat musik, yang pernah dimainkan Rumi, antara lain, biola kecil dengan tiga senar, biola yang lebih besar, semacam rebana), rebab, gitar, dan pakaian Rumi. Koleksi puisi lirik Rumi, yang langka, Divan-i-Kebir, yang ditulis tahun 1278 dan 1371, dapat dilihat di museum ini.

Di halaman museum, ada masjid dan toko-toko suvenir yang menjual pernak-pernik, di antaranya topi penari sema dan piring-piring hiasan. Setelah sholat, saya mampir dan mencoba topi dan memggerakkan tangan seperti penari sufi.

Saya beruntung sampai di sini, ziarah ke makam penyair sufi terbesar, yang syair-syairnya sering saya baca, renungkan. Konya menjadi tempat yang berarti meski hanya sebentar.

Rumi--seperti yang dikutip dalam buku Annemarie Schimmel, Akulah Angin Engkaulah Api (Hidup dan Karya Jalaluddin Rumi)--seakan melambaikan tangannya dalam syairnya ini: Mari ke rumahku, Kekasih--sebentar saja! Gelorakan jiwa kita, Kekasih--sebentar saja! Dari Konya pancarkan cahaya Cinta Ke Samarkand dan Bukhara--sebentar saja! Akan tetapi, kami harus pergi ke Cappadocia--kota di bawah tanah. Bus kami bergerak pelan keluar dari Mevlana Muzesi. 

Syair Rumi seperti bernyanyi, bersama makin mengecilnya kubah hijau yang sebelumnya menjulang tinggi: Jangan menangis: "Aduhai kenapa pergi!" Dalam pemakamanku Bagiku, inilah bahagia! Jangan katakan, "Selamat tinggal" Ketika aku dimasukkan ke liang lahat Itu adalah tirai rahmat yang empat Kami pergi meninggalkan Rumi, tanpa ucapan "Selamat tinggal ..." 

Asro Kamal Rokan
Penulis adalah wartawan senior, Pemimpin Umum LKBN Antara periode 2005 s.d. 2007.



Terik mentari di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Rabu (13/9) tidak menyurutkan personel Paskhas TNI AU mengangkat barang bantuan yang hendak diberikan kepada pengungsi Rohingya di Distrik Cox's Bazar, Bangladesh.

Ada sejumlah tumpukan karung barang bantuan yang sudah dimasukkan ke dalam empat C130 Hercules TNI AU bernomor registrasi A1316, A1319, A1326, dan A1335.

Pemerintah RI memang telah mengumpulkan sumbangan dari berbagai kementerian dan lembaga pemerintah. Pada gelombang pertama terkumpul delapan jenis barang bagi warga Rohingya.

Etnis Rohingya yang tinggal di Rakhine State, Myanmar, terpaksa mengungsi dari tanah airnya karena pengusiran bersenjata oleh aparat keamanan Myanmar.

Bantuan awal yang dikirim Pemerintah Indonesia terdiri atas 30 ton beras, 1 ton gula pasir, 2004 makanan cepat saji, 20 unit tenda darurat, 600 paket "family kit" atau keperluan keluarga, 10 tangki air darurat, 14 ribu helai selimut, dan 900 paket pakaian.
si
Antara berkesempatan turut dalam misi pengiriman bantuan kemanusiaan Indonesia bersama A1316 Hercules TNI AU menuju Bandara Hazrat Shah Amanat di Kota Chittagong, Bangladesh.

Kota Chittagong, menurut Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, dipilih untuk mendaratkan bantuan karena letaknya yang paling berdekatan dengan Distrik Cox's Bazar, berjarak sekitar 170 kilometer atau empat jam melalui jalan darat.

Dalam hal kemanusiaan, Pemerintah Indonesia akan bekerja sama, baik dengan sesama pemerintah negara sahabat maupun bersama relawan atau donatur hingga pemda di seluruh Indonesia.

Usai diberangkatkan secara resmi oleh Presiden Joko Widodo di Lanud Halim, seluruh kru pesawat segera mempersiapkan "Herky", sebutan untuk Hercules, untuk tinggal landas Jakarta.

"Kita harapkan bantuan ini akan sampai mendekati lokasi yang diinginkan kurang lebih 170 kilometer dari bandara yang ada kemudian baru diangkut oleh truk menuju ke lokasi pengungsi yang berada di perbatasan Bangladesh dan Myanmar," kata Presiden.

Deru mesin C130 Hercules terdengar mendengung. Pesawat kargo berpendorong empat baling-baling itu segera meluncur terbang di landasan di Lanud Halim Perdanakusuma membawa serta 54 ton barang bantuan bagi etnis Rohingya yang ada di Bangladesh.

Total lama penerbangan bersama "Si Herky" yaitu delapan jam. Jakarta ke Lanud Sultan Iskandar Muda, Aceh selama empat jam kemudian Aceh menuju Bandara Hazrat Shah Amanat di Kota Chittagong, Bangladesh juga empat jam.

Antara menumpang Hercules bernomor registrasi A1316 dengan barang bantuan yang dibawa, yaitu 10 unit tenda dan 7.000 helai selimut dengan total berat 20 ton.

Terbang di ketinggian 18.000 kaki atau 5,4 kilometer di udara membuat suhu udara di dalam Hercules begitu dingin. Wajar, karena "Herky" bukan pesawat yang kedap udara karena ruang kargonya tidak berkompresi.

Tumpukan selimut yang dibungkus di dalam 150 karung membuat penerbangan selama empat jam Jakarta-Aceh itu nyaman layaknya "first class" pada maskapai swasta.

Betapa tidak, sejumlah awak media dan 10 anggota Paskhas TNI AU merasakan nikmatnya terlelap di atas tumpukan karung berisi selimut.

Suasana guyub dan akrab begitu terasa di dalam pesawat. Kotak nasi maupun penganan selalu ditawarkan oleh kru pesawat "Herky" A1316, begitu ramahnya.

Menit pun berlalu hingga akhirnya rombongan pesawat tiba di Lanud Sultan Iskandar Muda, Provinsi Aceh yang juga menjadi Posko Civic Mission Pengiriman Bantuan Kemanusiaan untuk Rohingya, mengingat jarak titik itu yang terdekat ke Bangladesh ataupun Myanmar.

Satu per satu dari total empat pesawat mendarat di Bandara itu. Barang bantuan tetap disimpan di dalam pesawat, tidak ada yang kurang satu pun.

Selain pesawat mengisi bahan bakar, TNI AU juga menunggu jadwal "landing slot" yang akan diberikan oleh pengelola pendaratan "civil aviation" pihak Bangladesh.

Para kru udara "Herky", anggota Paskhas TNI AU dan awak media bermalam di mess TNI AU yang berada di komplek Lanud Sultan Iskandar Muda pada Rabu malam, sebelum melanjutkan penerbangan yang dilakukan keesokannya.

Tenda pertama Rencana keberangkatan pada pukul 05.45 WIB ke Bangladesh ternyata mundur menjadi pukul 12.00 WIB. Hal itu karena "landing slot" yang diberikan bandara di Chittagong pada pukul 17.00 waktu Bangladesh dengan perbedaan waktu satu jam lebih lambat daripada Jakarta.

Usai menunaikan shalat zuhur, para kru dan anggota Paskhas TNI AU gembira melihat hujan sedikit mereda.

Keceriaan bertambah sempurna karena "civil aviation" Bangladesh baru saja memberikan "flight clearance" untuk dua hercules terbang di wilayah udaranya.

TNI AU juga mengapresiasi sejumlah negara tetangga lain, yaitu Malaysia, Thailand, dan Myanmar yang juga sudah memberikan "flight clearance".

Awak media bersama tim BNPB dan TNI AU menikmati empat jam penerbangan bersama "Herky" A1316 menuju Chittagong.

Selain A1316, hercules yang mendapat giliran mengudara pada sorti kedua yaitu A1319 yang dijadwalkan mendarat di Chittagong pukul 19.00 waktu Bangladesh untuk mengusung 10 ton beras.

A1316 membawa 10 unit tenda darurat dan 7.000 selimut yang menurut Pemerintah Bangladesh dibutuhkan cepat untuk menampung para pengungsi yang kebanyakan menghuni wilayah Kutupalong, Distrik Cox's Bazar.

Di Bandara Hazrat Shah Amanat, barang bantuan diterima oleh Dubes RI untuk Bangladesh Rina Soemarno yang selanjutnya menyerahkan kepada District Comissoner Chittagong Md Zillur Rahman Chowdury sebagai perwakilan Pemerintah Bangladesh "Alhamdulillah barang bantuan sudah diterima. Di Cox's Bazar kamp-kamp pengungsian sudah melebihi kapasitas sehingga dibangun kamp tenda asal-asalan yang didirikan pakai bambu dan terpal yang kalau hujan angin akan terbang," kata Rina di Chittagong pada Kamis (14/9).

Barang bantuan itu segera dipindahkan dari pesawat menuju gudang sementara di Bandara Hazrat Shah Amanat dan dimasukkan ke dalam truk-truk yang telah menanti.

Kendati demikian, pengiriman barang tidak dilakukan pada Kamis malam, mengingat medan jalan darat yang licin akibat hujan dan ban truk rentan terjebak lumpur. Pemda Chittagong memutuskan untuk mengirimkan ke gudang di Cox's Bazar pada Jumat (15/9) pagi.

KBRI juga berupaya untuk mendapatkan akses agar pihak Pemerintah Indonesia dapat masuk ke Cox's Bazar untuk meninjau kondisi pengungsian dalam menilai kebutuhan bantuan apa saja yang perlu dikirimkan.

Kericuhan yang terjadi saat pembagian bantuan dari salah satu negara donatur pada Jumat membuat Pemerintah Bangladesh mengetatkan pengawalan bagi donatur yang hendak pergi ke Cox's Bazar, demi alasan keamanan.

Menurut Ketua Tim SOS Rohingya dari LSM Aksi Cepat Tanggap (ACT) Rahadiansyah, kejadian itu karena adanya donatur yang membagikan bantuan di pinggir jalan raya.

"Pengungsi ada yang tertabrak bus umum di jalan raya. Memang kerap terjadi, makanya saat membagi-bagi bantuan harus cermat dan hati-hati juga," ujarnya.

Pemerintah daerah Cox's Bazar berencana membagi bantuan asal Indonesia pada Senin di 12 titik.

Lokasi-lokasi yang disasar pemerintah, yaitu Kutupalong temporary camp-1, Kutupalong temporary camp-2, Balukhali temporary camp-1, Balukhali temporary camp-2, Moynar Ghona Palongkhali, Thaingkhali, dan Hakimpara Ukhia.

Selain itu, kawasan lain adalah Habarchora, Shahporir Dip Sabrang, Unchipreng Howaikeng, Leda Noyapara Hrila Municipality, dan Teknaf Sadar.

Terus datang Selain 54 ton bantuan yang sudah dikirim, pemerintah terus memperhatikan situasi yang berkembang di kamp pengungsian di Distrik Cox's Bazar.

Dubes Rina menjelaskan Pemerintah Bangladesh butuh generator listrik bagi kamp-kamp pengungsian.

Merespons cepat permintaan itu, Pemerintah Indonesia pun menerbangkan total 20 ton bantuan kemanusiaan lanjutan melalui sorti penerbangan ke-7 dan ke-8.

Selain ikan dalam kemasan kaleng, biskuit, dan minyak goreng, pemerintah juga mengirimkan sarung, generator listrik, dan paket-paket keperluan keluarga.

Komandan Satgas Civic Mission TNI AU Marsma TNI Nanang Santoso mengatakan dua "Herky" sudah tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh pada Senin pukul 18.30 WIB.

"Besok (Selasa) masih 'standby' dulu, dan akan diadakan rapat evaluasi dengan BNPB di Lanud Halim Perdanakusuma pukul 11.00 WIB," kata Nanang yang juga menjabat sebagai Kadisopslat TNI AU.

Personel TNI AU dan kru Hercules selalu siap untuk melaksanakan penerbangan misi kemanusiaan baik siang maupun malam hari.

Pemerintah Bangladesh mencatat total sebanyak 720 ribu pengungsi Rohingya tinggal di kawasan perbatasan Bangladesh-Myanmar.

Dari angka tersebut, tercatat sebanyak 320 ribu merupakan pengungsi yang datang sejak eksodus pada 25 Agustus 2017.

Angka tersebut juga terus bertambah karena masih ada pelarian yang menyeberang perbatasan menyelamatkan diri dari pembantaian di tanah kelahirannya.

Selayaknya negara tetangga yang memiliki kebijakan luar negeri bebas aktif, Indonesia diminta untuk terus dapat mendukung bantuan kemanusiaan hingga masalah etnis Rohingya selesai.

Bukan saja melalui pengiriman bantuan, tetapi juga melalui diplomasi merangkul Myanmar untuk menyelesaikan masalah dengan dialog, bukan dengan tindakan represif militer.

Selain itu, tindakan radikal juga tidak diperlukan dalam menyelesaikan sengketa Rohingya di Rakhine State.

Diplomasi dan silaturahim antarnegara sepertinya menjadi pilihan terbaik dalam menyelesaikan konflik yang tidak boleh berkepanjangan ini.

Formula 4+1 yang diajukan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi bisa dianggap sebagai solusi bersama mengingat keberimbangan yang didapat dari kebijaksanaan itu adalah mengembalikan stabilitas dan keamanan, menahan diri secara maksimal dan tidak menggunakan kekerasan, perlindungan kepada semua orang yang berada di Rakhine State, tanpa memandang suku dan agama, dan pentingnya segera dibuka akses untuk bantuan kemanusiaan yang akan dilakukan.

Satu poin lain, yaitu pentingnya mengimplementasikan rekomendasi Laporan Komisi Penasihat untuk Rakhine State yang dipimpin mantan Sekjen PBB Kofi Annan. (Ben/An)

Bayu Prasetyo

Hutan Adat Lindu


Samuel Tolei (72), tetua dari Majelis Adat Kecamatan Lindu, bercerita tentang hutan-hutan lebat yang menutupi punggungan pegunungan Nokilalaki, Adale, Kona'a, Tumaru, Gimba, Jala, Rindi, dan Toningkolue yang membingkai danau indah di tengah-tengah Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), Sulawesi Tengah.

Tebalnya tutupan hutan di sana memberikan warna hijau yang kontras dengan birunya langit dan gemerlap pantulan cahaya matahari dari air Danau Lindu, danau tektonik seluas 3.488 hektare (ha) dengan kedalaman mencapai 200 meter (m) yang terbentuk sejak zaman Pliosen.

Ia juga bercerita tentang padang savana, tempat hewan ternak yang dilepaskan begitu saja untuk memamah biak di sana. Sedangkan di Pulau Bola Lewuto dirinya menceritakan tentang leluhurnya, Madika Maradindo, yang dimakamkan dalam peti kubur kayu dengan ornamen kepala banteng dan terbuat dari garuhu.

Peti kubur kayu berisi tulang rangka bangsawan Lindu ini merupakan peninggalan arkeologi berharga yang dimiliki Indonesia dan peradaban dunia, yang kemudian dilindungi keberadaannya dengan Undang-undang (UU) Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, setelah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah menetapkannya sebagai cagar budaya.

Entah berapa usia pasti peningggalan arkeologi tersebut, karena saat ditanya Samuel pun mengatakan tidak mengetahuinya dan hanya tahu bahwa peti kubur kayu itu sudah ada sejak zaman nenek moyangnya.

Namun yang jelas peneliti Eropa, Adriani dan A.C. Kruyt, telah menuliskannya dalam buku "Van Poso naar Parigi een Lindoe" di 1898, dan Kruyt menuliskannya lagi dalam buku "De West Toradjas in Midden Celebes" di 1938.

Orang-orang asli Lindu yang mendiami tiga dari lima desa di sana, yakni Desa Anca, Tomado dan Langko, memang masih memegang kuat adat mereka. Saat pertama kalinya datang ke daratan Lindu, seseorang akan terlebih dulu melalui prosesi Pepantodui, yang tujuannya agar selama berada di wilayah adat tersebut mereka akan selamat atau terhindar dari bahaya apapun.

Namun yang banyak "ditakuti" bagi tamu pendatang di daratan Lindu tidak lain adalah denda adat atau biasa disebut gifu yang salah satunya bisa termasuk satu ekor kerbau. Sesorang bisa terkena gifu jika saat mengikuti proses makan adat mendahului para tetua adat di sana yang belum selesai makan.

"Mencuci tangan saja terkena gifu jika pada saat bersamaan tetua adat belum selesai makan. Apalagi berdiri dan meninggalkan proses makan adat untuk keperluan apapun itu," kata Sekretaris Gugus Tugas Reforma Agraria Kabupaten Sigi Eva Bande yang kebetulan sedang mendapat tugas bersama rekan-rekan lainnya melakukan pemetaan partisipatif di Hutan Adat Lindu.

Bayangkan, bahkan Bupati periode sebelumnya dan anggota DPRD juga pernah ada yang terkena gifu dan harus membayar sanksi adat dengan kerbau ketika menjalani proses makan adat ini, lanjutnya.

Ruang Adat Lindu Samuel memang belum rampung menceritakan perihal kelembagaan adat serta hak atas tanah dan pengelolaan wilayah adatnya saat berada di makam leluhurnya. Dirinya kemudian melanjutkan penjelasannya saat berkumpul di Balai Pertemuan Adat Lobo yang memiliki pemandangan cantik menghadap langsung ke Danau Lindu.

Orang-orang Dataran Lindu sudah sejak lama membagi ruang adat mereka menjadi beberapa bagian, sebut saja Suaka Maradika yang hanya diperuntukkan untuk keperluan tertentu, Suaka Ntodea yang menjadi kawasan umum dapat dikelola masyarakat namun tetap terbagi lagi menjadi beberapa bagian, seperti Ngura, Pangale dan Wanangkiki.

Lalu ada pula Suaka Lambara yang menjadi lokasi khusus penggembalaan, seperti yang sudah Samuel ceritakan sebelumnya. Ada pula Suaka Wiyata dan Suaka Parabata.

"Di Suaka Wiyata sama sekali tidak boleh ada penebangan pohon, kalau sampai ada penebangan maka melalui peradilan adat dijatuhkan sanksinya bisa berupa satu kerbau, 10 dulang (belanga tembaga) dan satu mesa (kain adat)," ujar Samuel.

Fungsi kelembagaan adat Lindu yang bernama Totua Noada juga masih berjalan dengan baik, dengan struktur lembaga adat terdiri dari Jogugu yang terdiri dari Tutua Ngata yang memutuskan perkara, Galara yang mengambil keputusan, Pabisara yang menjadi pengacara, Kapita sebagai penengah putusan perkara, serta Suro yang bertindak sebagai utusan atau penghubung yang sedang berperkara.

Dengan demikian sanksi-sanksi yang dijatuhkan sudah melalui sistem peradilan adat yang masih berjalan di sana.

Alam dan Lindu Masih saat berbincang di Balai Pertemuan Adat Lobo, Kepala Desa Tomado Yoseph Todera mengatakan dengan tegas bahwa tanpa keberadaan Taman Nasional Lore Lindu sebenarnya masyarakat adat sudah menjalankan konservasi. Pengetahuan tentang kelestarian alam sudah tertanam baik alam adat Lindu, terbukti dengan sudah dan masih adanya pembagian ruang To Lindu.

Penetapan TNLL pada 1993 tanpa sosialisasi pada masyarakat justru membuat desa-desa di Daratan Lindu terjebak dalam kawasan taman nasional, ujar Yoseph.

"Di Palili pohon pinang tidak boleh ditebang. Menurut keyakinan orang Lindu itu makanan mereka yang tidak terlihat mata sehingga jika hilang akan mendatangkan penyakit," lanjutnya.

Dengan pengaturan ruang yang jelas serta fungsi kelembagaan adat yang tetap berjalan dapat dilihat tidak ada hutan di sekitar Danau Lindu yang gundul, padahal kampung sudah ada sejak ratusan tahun lalu, ujar Samuel, berusaha mempertegas pernyataan Yoseph.

Kampung tua di Anca sempat disebut sebagai kampung hantu karena dulunya tidak terlihat dari kejauhan, tertutup rapat oleh pohon-pohon beringin besar yang mengelilinginya. Pohon-pohon tersebut terpaksa dipangkas sebagian pada 1974, setelah kasus penyakit yang disebabkan oleh cacing parasit endemik jenis Schistosoma yang di Indonesia hanya ditemukan di Dataran Lindu dan Napu, Sulawesi Tengah.

"Itu pun masih ada beberapa pohon beringin besar yang sengaja disisakan. Ini menjadi bukti bahwa orang-orang Lindu sangat memelihara hutan dan lingkungannya, dan sangat membenci membabat hutan, apalagi di hulu sungai," lanjut Samuel.

Memetakan Hutan Adat Jika melihat sekilas peta Pulau Sulawesi, maka Danau Lindu seperti berada di tengah pulau ini, seperti berada tepat di tengah layaknya jantung bagi pulau yang dikenal dengan sebutan Celebes oleh para pencari rempah-rempah di masa lampau.

Belantara lebat yang mengelilingi danau tektonik ini menjadi daerah tangkapan air yang kemudian alirannya melalui tiga sungai besar di Sulawesi Tengah, yakni Sungai Lariang, Sungai Gumbasa dan Sungai Palu.

Hutan-hutan Adat Lindu, menurut Samuel, juga menjadi rumah bagi spesies-spesies endemik Pulau Sulawesi seperti anoa, babi rusa, selain juga sapi dan babi hutan. Damar juga menjadi flora yang banyak menutupi dataran yang berada di ketinggian di atas 900 mdpl tersebut.

Dalam era Reforma Agraria yang sedang dijalankan Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, masyarakat yang mendiami Dataran Lindu menyambut baik pemberian akses lahan oleh Pemerintah melalui Tanah Obyek Reforma Agraria (TORA) dan Perhutanan Sosial yang didalamnya juga mencakup pemberian hak atas Hutan Adat.

Camat Lindu Achmin Pampaw mengatakan bersyukur program Reforma Agraria menyentuh masyarakat hingga ke pelosok Lindu, dan akan mendukung percepatan program tersebut dengan ikut mengawal penyelesaian proses pemetaan partisipatif yang dilakukan lima desa di Kecamatan Lindu.

Jika Desa Anca telah rampung memetakan 208 ha hutan yang akan diajukan menjadi Hutan Adat, maka Desa Tomado sedang proses pemetaan partisipatif lebih kurang 1000 ha untuk diajukan menjadi hutan adat.

Proses pemetaan partisipatif oleh masyarakat tidak hanya dilakukan Masyarakat Adat Lindu, karena masyarakat di 125 desa di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, serempak melakukan hal yang sama. "Kami targetkan Oktober nanti semua selesai dan persyaratan pengajuan alokasi TORA dan Perhutanan Sosial terpenuhi sehingga bisa diajukan ke Pemerintah Pusat," kata Mohamad Irwan Lapatta.

Pemerintah menyiapkan dua skema legislasi dan redistribusi lahan seluas 9 juta ha, serta melalui pelaksanaan program perhutanan sosial seluas 12,7 juta ha yang salah satunya alokasi untuk Hutan Adat. Namun sejauh ini baru 13.122,3 ha lahan atau areal hutan yang resmi berstatus Hutan Adat. (Ben/An)

Virna Puspa Setyorini

Import Barang
Ekspor impor adalah sebuah mekanisme yang dimasa yang lalu cukup menyita perhatian. Ini karena, ada berbagai siklus serta mekanisme yang harus dilewati. Mekanisme ini adalah sebuah proses panjang yang, tentu cukup sulit bila belum memahami secara pasti bagaimana sebuah proses impor. Berangkat dari pengetahuan tentang hal tersebut, maka artikel kali in hadir untuk memberikan ulasan serta informasi tentang proses impor barang di Indonesia.

•    Proses Korespondensi
Proses ini adalah proses dimana pembeli dan penjual, dalam hal ini pengguna dengan importir untuk melakukan komunikasi awal melalui berbagai media komunikasi, baik secara elektronik, seperti email, telephone, fax atau sejenisnya. Proses ini dinyatakan fix bila antara pembeli dan penjual mendapatkan kesepakatan harga dan jenis barang, yang selanjutnya dibuat purchase order (order pembelian), atau sales contract. Nota ini dibuat untuk menjaga pembeli dari kerugian atas kenaikan material bahan baku atau selisih kurs yang terjadi.

•    Proses L/C (Letter of Credit)
Proses ini dimulai dengan pembuatan L/C atau Letter of Credit yang dilakukan pihak importer. L/C ini merupakan media pembayaran, kemudian Opening Bank yang merupakan mitra dalam perdagangan Internasional mengirimkan L/C confirmation ke bank koresponden, yang memberikan sebuah sinyal bahwa uang dari pihak importer sudah di lock di Opening Bank tersebut.

L/C confirmation dari bank koresponden akan diteruskan pada pihak eksporter (seller) dalam bentuk L/C advice. Dalam L/C advice ini akan ditegaskan pada pihak seller berbagai hal terkait dengan proses impor yang dikehendaki importer antara lain, jenis barang, kuantitas, serta pemberitahuan bahwa uang untuk pembayaran sudah ready. Selanjutnya, bila proses pembayaran sudah selesai (asumsikan bahwa pihak importer sudah membayar full), maka pihak eksporter akan memproses barang pesanan.

•    Proses Payment, dan Shipping
Seketika proses pembayaran sudah diterima pihak eksporter maka eksporter akan mengurus barang dengan mengirimkan via perusahaan perkapalan. Proses ini adalah satu jalan antara payment dengan shipping, selanjutnya dokumen eskpor di buat oleh pihak eksporter antara lain, invoice, packing list, bill of ladding dan lain sebagainya dan selanjutnya diserahkan pada bank koresponden.

•    Proses Clearence dan Kepabeanan
Dokumen terkait dari pihak bank koresponden di kirimkan pada bank opening di negara tujuan, dalam hal ini Indonesia. Importir di Indonesia perlu mengambil dokumen-dokumen ini untuk mengurus proses clearance barang dari beacukai setempat, bersamaan juga importir mempersiapkan dokumen pendukung lainnya sebagai contoh: sertifikasi SNI, IZIN BPOM, surat karantina atau lainnya sesuai dengan jenis barang yang di impor.

Pembayaran dan pelunasan pajak terkait PDRI (Pajak Dalam Rangka Impor), yang mana ini adalah bagian dari standar kepabeanan di Indonesia. Setelah bea cukai setempat menyatakan semua proses selesai maka clearance diberikan dalam bentuk SPPB (Surat Persetujuan Pengeluaran Barang). Barulah barang bisa keluar dari terminal kargo.

Seluruh proses diatas adalah standar resmi proses impor di Indonesia. Tentu saja ada perbedaan terkait dokumen serta beberapa hal lain yang spesifik karena terjadinya perbedaan barang yang diimpor. Kerumitan juga bisa saja muncul karenan proses kepabeanan serta koresponden antar bank di dalam dan luar negeri yang terjadi. Oleh karena itu menggunakan jasa perusahaan jasa importir sebagai pemasok berpengalaman adalah solusi paling tepat.

Layangan Bali

Anak-anak seusia sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) dengan senang dan bangganya mengendalikan layangan untuk bisa "menari-menari" di ketinggian bersaing dengan layangan rekannya di tengah hamparan lahan sawah yang baru habis panen.

Hal itu merupakan tradisi yang diwarisi masyarakat Bali secara turun temurun, khususnya anak-anak di daerah perdesaan, yang dilakoninya hingga sekarang.

Permainan layang-layang untuk menyalurkan kesenangan anak-anak muda dan kesinambungan tradisi dalam beberapa tahun belakangan ini dikemas dalam bentuk festival yang memberikan fungsi ganda, yakni sebagai atraksi untuk menambah daya tarik bagi wisatawan mancanegara.

Pemerintah Kabupaten Tabanan, sebagai daerah gudang beras yang memiliki hamparan lahan pertanian paling luas di Bali, menggelar "Tabanan Kites Festival" yang melibatkan 1.500 peserta.

"Kegiatan yang digelar di Subak Gadon, kawasan wisata Tanah Lot, berlangsung selama dua hari, 9-10 September 2017 memperebutkan hadiah utama sebesar Rp.100 juta," tutur Ketua Panitia kegiatan tersebut I Made Edi Wirawan.

Ribuan peserta yang datang dari sejumlah kabupaten/kota di Bali menaikkan berbagai jenis layangan, termasuk layangan milik Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti, yang mengudara dengan baik. 

Langit Tabanan dengan cuaca yang cerah itu dihiasi dengan ribuan layangan yang "menari-nari" di udara sekaligus sebagai atraksi wisata, karena objek wisata Tanah Lot itu setiap hari dikunjungi ribuan wisatawan dalam dan luar negeri.

I Made Edi Wirawan yang juga anggota DPRD Kabupaten Tabanan itu ingin menjadikan Festival Layang-Layang itu bisa dilaksanakan secara berkesinambungan setiap tahun, karena dinilai mampu memberikan banyak manfaat.

Festival Layang-Layang itu mampu memberikan ruang kepada anak-anak muda untuk menciptakan inovasi dan kreativitas ekonomi kreatif, mempromosikan pariwisata dan memberikan hiburan kepada masyarakat tani seusai panen di sawah.

Kegiatan yang baru pertama kali digelar dalam skala besar di Tabanan itu memperebutkan piala bergilir Bupati Tabanan untuk kategori layangan Pecukan.

"Layangan sudah menjadi tradisi turun menurun dari nenek moyang kami. Layangan Pecukan merupakan khas Kabupaten Tabanan yang patut dilestarikan," ujar I Made Edi Wirawan.

Sangat Antusias Wakil Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya yang ikut menaikkan layangan pecukatan berwarna dasar putih kombinasi warna merah dan hitam memberikan apresiasi terhadap kegiatan Festival Layang-Layang tersebut.

Masyarakat di Kabupaten Tabanan, mulai anak-anak, dewasa dan orang tua menaruh perhatian yang antusias terhadap pelaksanaan lomba layang-layang yang selama ini digelar di Pantai Padangbalak, Sanur, Kota Denpasar.

Peserta dari Kabupaten Tabanan selalu ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut dan ruang festival layang-layang diharapkan bisa dilakukan secara berkesinambungan setiap tahun.

Hal itu didasari tradisi Layang-layang sudah diwarisi secara turun temurun dari leluhur. Kabupaten Tabanan dari zaman dulu merupakan pelopor memainkan layang-layang. Setelah selesai memanen padi di sawah, petani menghibur diri dengan angin yang kencang memainkan layang-layang.

Untuk itu Tabanan sebagai daerah "lumbung beras" di Bali, agar mampu melestarikan permainan itu agar tidak punah oleh zaman.

di Subak Gadon, tempat festival layang-layang tersebut jaraknya hanya beberapa kilometer dari pura kuno Tanah Lot yang lokasinya "bertengger" di atas batu karang Pantai Beraban, Bali selatan di Samudera Indonesia.

Tempat suci umat Hindu, sekaligus objek wisata andalan itu, selama ini menyimpan misteri dan keunikan yang membuat pelancong seolah "wajib" mengunjunginya.

Festival ke Uma Sementara Sanggar Buratwangi, Sanggar Wintang Rare, dan Selakunda Foundation serta masyarakat Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri, Kabupaten Tabanan, secara swadaya menggelar Festival Ke Uma (sawah) yang menampilkan atraksi unik dan menarik, termasuk memainkan layangan.

Kegiatan yang baru pertama kali digelar untuk mengajak anak-anak usia SD dan SMP bersenang-senang lewat permainan tradisional di sawah.

Menurut ketua panitia kegiatan tersebut Putu Edi Novalia Artha memperkenalkan permainan tradisional kepada anak-anak, sekaligus kondisi sawah untuk menghasilkan beras sebagai kebutuhan pokok sehari-hari yang kini tidak banyak diketahui oleh anak-anak.

Kegiatan itu diharapkan dapat dilakukan berkesinambungan untuk mengisi liburan panjang anak-anak sekolah pada pertengahan tahun. Seluruh kegiatan selama dua hari itu digelar di tengah sawah yang sudah dipersiapkan dan ditata sedemikian rupa.

"Festival ke Uma" yang pelaksanaannya dinilai sukses itu mengangkat suasana tempo dulu, yakni anak-anak diajak bermain dengan memanfaatkan alam dan lingkungan sawah sekitarnya. Alam itu sesunguhnya sangat bersahabat yang menyediakan berbagai alat dan sarana untuk bermain, tinggal merangsang kreativitas mereka saja. Kegiatan sejenis juga pernah dilakukan saat Festival Balac lombakan 528 layangan.

Subak Mole di Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri lingkungannya masih dalam kondisi asri dan lestari yang bersebelahan dengan Candi Pahlawan Taman Pujaan Bangsa Margarana, tempat gugurnya Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai, 25 km arah barat daya Kota Denpasar.

Sawah dan aktivitas anak-anak dalam beberapa tahun belakangan ini seakan lenyap ditelan zaman. Sawah mulai berkurang akibat beralih fungsi dam kehilangan sumber air.

Aktivitas anak-anak di sawah juga tidak tampak lagi. Anak-anak generasi sekarang tidak pernah melakukan permainan itu. Oleh sebab itu melalui Festival ke Ume memasyarakatkan kembali aktivitas anak-anak yang polos, jujur, tanggung jawab dan menjunjung nilai-nilai kebersamaan itu lewat festival.

Selain itu menciptakan kreativitas anak-anak dengan menyediakan ruang untuk melakukan dunianya yang seluas-luasnya, sekaligus melestariakan seni budaya dengan mengangkat kembali berbagai jenis permainan, khususnya terkait dengan sawah.

Kegiatan festival diawali dengan memainkan layang-layang menyusul bermain bersama-sama. Anak yang sudah bisa akan mengajari temannya yang belum mengerti, sehingga sosialisasi antara mereka dapat menciptakan kebersamaan. (Ben/An)

Ika Sutika

Sapi Bali

Sapi bali dari segi kualitas daging hampir setara dengan daging impor seperti limosin dan brahman yang terkenal kenyal dan gurih. Keberadaan ternak itu, kini tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani bidang pangan (FAO) sudah mendaftarkan sapi bali sebagai sumber plasma nutfah aset Indonesia sehingga tidak ada kekhawatiran diklaim oleh negara lain.

"Sapi bali yang keberadaannya khusus di Pulau Dewata memerlukan terobosan dan inovasi untuk melindungi dan mengembangkannya sehingga populasinya terus meningkat," tutur Dekan Fakultas Pertanian Universitas Dwijendra Denpasar Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc. MMA.

Pemerintah melalui Dinas Peternakan setempat mengembangkan sapi bali secara maksimal melalui sistem pertanian terintegrasi (Simantri) yang khusus memproduksi bibit sapi bali untuk selanjutkan dibesarkan, disamping pengembangan melalui penyaluran kredit perbankan.

Pihak perbankan menyalurkan kredit dengan bunga ringan untuk mendukung program bidang pertanian, khususnya pengembangan dan penggemukan sapi bali.

Alumnus program doktor Universitas Udayana itu memberikan apresiasi terhadap upaya Pemerintah Provinsi Bali bersama DPRD setempat yang kini membahas rancangan peraturan daerah tentang pengelolaan sapi bali dengan tujuan untuk menjaga kelestariannya.

Sapi bali merupakan salah satu plasma nuftah di Indonesia yang perlu dilindungi dan dilestarikan. Dalam konteks kesejahteraan masyarakat, khususnya petani dan peternak, di Pulau Dewata, maka pelestarian sapi bali harus dimaknai sebagai pengelolaan sapi yang menguntungkan dan berkelanjutan bagi masyarakat setempat.

Salah satu upaya pengelolaan sapi bali yang menguntungkan dan menjamin kelesatariannya adalah melalui pengembangan prinsip agribisnis yang inklusif.

Sapi bali yang merupakan warisan nenek moyang memiliki berbagai keunggulan dibandingkan dengan sapi luar Bali. Oleh karena itu, keunggulan tersebut akan menjadi tambahan nilai daya saing dan dapat meningkatkan pendapatan petani, khususnnya peternak.

Beberapa keunggulan sapi bali, di antaranya subur yakni cepat berkembang biak dengan fertilitas tinggi, mudah beradaptasi dengan lingkungannya, termasuk di lahan yang kritis, serta mempunyai daya cerna yang baik terhadap pakan.

Demikian pula persentase karkas yang tinggi dan kandungan lemak karkas yang relatif rendah.

Dengan memperhatikan keunggulan tersebut, maka pengelolaan sapi bali melalui prinsip agribisnis inklusif mencakup beberapa kegiatan di dalam setiap subsistemnya.

Subsistem tersebut antara lain penyediaan sarana produksi, alat dan mesin untuk berproduksi, subsistem produksi, pengolahan, pemasaran, dan susbistem penunjang.

Cegah penyelundupan Ketua Panitia Khusus Ranperda Pengolahan Sapi Bali DPRD Bali Nyoman Parta menilai diperlukan adanya peraturan daerah untuk melindungi genetik sapi bali, sekaligus mencegah penyelundupan sapi khas Pulau Dewata untuk menghindari kepunahan.

Oleh sebab itu, keberadaan sapi bali harus mendapatkan perlindungan serta mencegah semakin banyaknya penyelundupan sapi keluar daerah, karena perdagangan sapi ke luar daerah itu sangat dibatasi untuk menjaga keseimbangan populasi ternak tersebut.

Hal itu perlu mendapat perhatian semua pihak karena di luar kuota perdagangan antarpulau secara resmi, makin marak terjadi penyelundupan atau pengiriman sapi bali tanpa izin resmi, sehingga dikhawatirkan mengancam kesimbungan populasi sapi bali.

Maraknya penyelundupan sapi itu akibat kota-kota besar di Jawa, seperti DKI Jakarta, Surabaya, dan Bandung membutuhkan daging sapi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengusulkan agar ke depan pemerintah provinsi setempat dapat membeli sapi betina milik masyarakat guna menekan kasus penyelundupan hewan ternak itu keluar Pulau Dewata.

Tindakan itu dinilai cukup efektif. Bibit sapi tersebut selanjutnya diberikan kepada petani dan peternak untuk dibesarkan dengan sistem pengawasan yang ketat sehingga tidak ada peluang bibit sapi itu dijual kembali.

Jika keuangan daerah memungkinkan, direncanakan jumlah sapi betina yang dibeli pemerintah itu menyesuaikan dengan jumlah sapi yang kira-kira diselundupkan setiap tahunnya.

"Jika setahun kira-kira jumlah sapi yang diselundupkan 1.000 ekor, dengan harga seekor sapi sekitar Rp7 juta, maka pemerintah akan mengalokasikan anggaran sebesar Rp.7 miliar," ujarnya.

Suasana inklusif Gede Sedana, pria kelahiran Singaraja, 54 tahun silam, yang banyak melakukan penelitian menyangkut pertanian dan peternakan di Bali itu, melihat peluang para petani akan dapat mengelola usaha ternak sapi bali jika pemerintah mampu menciptakan suasana inklusif dalam beragribsinis.

Penyediaan bibit sapi bali yang memiliki kualitas bagus sangat diperlukan petani untuk dikembangkan sebagi pembibitan maupun penggemukan.

Kualitas bibit yang baik akan memberikan jaminan terhadap keefektifan pengelolaan sapi bali dari aspek kuantitas dan kualitas daging yang bermutu.

Untuk memperoleh bibit yang baik dibutuhkan teknologi yang bersumber dari para ahli yang didukung oleh industri pembibitan yang memadai.

Selain itu, dalam pengelolaan sapi atau pemeliharaannya memerlukan adanya pakan ternak yang tersedia secara lokal dan mudah diakses oleh para peternak.

Pakan ternak berupa hijauan dari tanaman yang memiliki produktivitas tinggi dan bermutu dari pakan ternak pabrikan serta keterampilan untuk mengaplikasikan pengetahuan dan teknologi.

Oleh sebab itu, perda pengelolaan sapi bali agar dapat diimplementasikan dalam penguatan kapasitas petani dan peternak untuk aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengembangan sapi-sapi yang dikelolanya.

Kegiatan penyuluhan dan pelatihan bagi peternak akan menjamin terwujudnya tujuan perda pengelolaan sapi bali.

Pendampingan yang intensif dari pemerintah akan menjadi motivasi bagi peternak dalam mengembangkan sapi bali.

Selain itu, diperlukan adanya sentra-sentra pengelolaan sapi bali di berbagai daerah di kabupaten/kota daerah itu untuk menjadi pusat pembelajaran bagi peternak sapi terkait dengan perbaikan kualitas pengelolaan ternak sapi.

Para peternak sapi juga dapat diberikan keyakinan bahwa pengelolaan sapi bali akan memberikan keuntungan ekonomis yang relatif tinggi, melalui usaha pembibitan maupun penggemukan.

Keuntungan ekonomis tersebut menjadi salah satu insentif bagi peternak sapi untuk makin bergairah dalam pengelolaan ternak itu secara berkelanjutan. (Ben/An)
All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.