PGI-KPK
Salam Sejahtera!


Dua hari ini timeline saya dipenuhi dengan pertanyaan atau komentar mengenai apa yang PGI nyatakan mengenai penentangan akan pelemahan KPK. Komentar Pdt. Gomar Gultom, Ketua Umum PGI langsung ramai-ramai dikomentari, bahkan cenderung mengarah ke personal. Saya melihat banyak sekali pertanyaan, atau cenderung hujatan, yang saya lihat berasal dari saudara orang Kristen juga dengan kata-kata yang cenderung kok ya kurang santun. Saya punya pendapat seperti berikut.  

Pertama, sebagai persekutuan gereja-gereja, PGI memiliki dasar, baik teologis maupun organisasi yaitu Dokumen Keesaan Gereja yang berisi berbagai dokumen mengenai kesepakatan bersama gereja-gereja di Indonesia mengenai apa tugas yang harus PGI laksanakan.

Berdasarkan mandat Sidang Raya PGI PGI ke XVII di Waingapu Sumba 2019, 2 dari 8 pokok-pokok tugas PGI adalah:

"D. Memperjuangkan Keadilan dan Kemandirian Ekonomi
E. Membangun Kesadaran dan Jejaring Politik Warga Gereja "

Kedua, salah satu panggilan persekutuan gereja-gereja adalah pelayanan sosial-ekologis, yang dinyatakan dalam Dokumen Keesaan Gereja PGI 2019, Bagian II Pemahaman Panggilan Bersama, A. Pemahaman Panggilan Gereja, Pasal 12.c.:

"Menjalankan pelayanan dalam kasih dan usaha menegakkan keadilan dan Hak Asasi Manusia, perdamaian dan keutuhan ciptaan (bnd. Mrk. 10:45; Luk. 4:18; 10:25– 37; Yoh. 15:16); panggilan gereja pun mengharuskan gereja memerangi segala penyakit, kelemahan, ketidakadilan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam masyarakat. Demikian juga gereja berkewajiban mengusahakan dan memelihara secara bertanggung jawab sumber-sumber daya alam dan lingkungan hidup. Sebab waktu Yesus berkeliling di seluruh Galilea, Ia melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa ini (bnd. Mat. 4:23). Inilah tugas pelayanan dalam kasih serta keadilan."

Jadi, tugas gereja bicara soal keadilan tidak hanya melulu soal penutupan gereja, tapi juga ketidakadilan, pembelaan terhadap hak asasi manusia, bicara soal perusakan alam, termasuk korupsi sebagai penyakit dan kelemahan bangsa kita. Sayangnya, sampai sekarang gereja masih jarang bicara mengenai topik ini. Jika gereja masih berkhotbah soal keadilan, jangan mencuri, jangan berbohong, jangan mengingini harta sesamamu, maka jangan korupsi juga menjadi topik pengajaran penting.

Bahkan, salah satu poin Konteks Panggilan Bersama PGI  dalam Dokumen Keesaan Gereja PGI 2019, Bagian II Pemahaman Panggilan Bersama, Poin B Konteks Panggilan Bersama, Pasal 16 adalah,

"16. Konteks sosial-ekologis panggilan gereja-gereja di Indonesia adalah masyarakat yang berada dalam proses reformasi menuju masyarakat yang berkeadaban di mana masalah-masalah sosial-ekologis, ketidakadilan, kemiskinan, pelanggaran Hak Asasi Manusia, korupsi, politik transaksional, politik identitas dan fundamentalisme agama, serta kerusakan ekologis menjadi tantangan bersama seluruh masyarakat, bangsa dan negara, termasuk di dalamnya gereja-gereja. Karena itu, pemberitaan Injil lebih mengambil bentuk pelayanan sosial-ekologis, di samping pemberitaan verbal, dengan memberi perhatian khusus kepada korban-korban ketidakadilan dan pelecehan terhadap hak-hak asasi manusia, terhadap orang-orang miskin dan tertindas serta terhadap rusaknya ekologi. Ini merupakan masalah-masalah sosial-ekologis yang peka dan mendesak untuk diatasi."

Perlu dicatat, masalah korupsi, ketidakadilan, pelanggaran Hak Asasi Manusia juga harus disuarakan. Tugas PGI adalah menjadi suara moral, suara nurani, bersuara kepada semua elemen bangsa ini. Mimbar berkhotbah bukan hanya di altar, kita bisa menyuarakan keadilan di mana saja. Nabi Yehezkiel aja bicara keadilan kepada tulang belulang, karena manusianya tidak mau mendengar lagi. Jadi, jika kita setuju PGI menentang perusakan lingkungan di berbagai daerah, kita juga menyetujui isu PGI melawan korupsi.

PGI sudah lama bicara mengenai masalah korupsi, juga mengenai pelemahan KPK. Di 2015, PGI sudah bicara soal Revisi UU KPK misalnya, PGI meminta agar revisi adalah untuk menguatkan KPK, bukan melemahkannya. Di 2017 menjalin kerjasama dengan KPK tentang kampanye antikorupsi, bahkan PGI menerbitkan buku saku Gereja Melawan Korupsi di 2018. Di 2019, sudah ada pernyataan PGI menolak revisi UU KPK, yang kemudian tetap terjadi. Jadi kalau sekarang PGI bicara soal isu TWK sebagai bagian dari pelemahan KPK, dia bukan isu baru bagi PGI.

Yang terjadi, ada beberapa orang yang gagal lulus di Tes Wawasan Kebangsaan mengadukan kegagalan mereka sebagai upaya pelemahan KPK ke PGI, lalu wartawan mengutip ucapan Ketua Umum PGI. Setelah itu, berbagai pihak langsung melakukan penyerangan tanpa betul-betul membaca isi, atau peristiwa yang terjadi.

Kenapa PGI meminta ke Presiden? Karena Presiden punya perangkat untuk menyelamatkan KPK supaya tetap diperkuat. PGI meminta pertimbangan dari pemimpin bangsa kita.

Apakah PGI sedang berpolitik? Tidak, PGI sedang menyuarakan suara nurani, dengan menyampaikan permintaan kepada Presiden Joko Widodo.

Apakah PGI menyerang presiden atau pemerintah? Jika tiap anak yang meminta kepada orangtuanya dianggap menyerang, kepada siapa lagi dia meminta? PGI hampir selalu mendukung program pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk kesejahteraan rakyat, dan sesekali bersuara jika merasa ada yang perlu diangkat seperti permintaan penundaan implementasi Omnibus Law di 2020.

Kenapa PGI berkomentar soal TWK? Prinsip PGI adalah melawan pelemahan KPK dan keadilan, yang menjadi tugas moral PGI. Ini bukan sekadar pecat memecat karyawan biasa. Beberapa yang tidak lulus TWK sedang memegang kasus besar. Kalau mau menegakkan TWK, yang kita juga setuju, kenapa tidak memulainya di BUMN? Lalu, bagaimana respons kita ketika Menhan di 2019 menyebut 3 persen TNI terpapar radikalisme? Kenapa tidak dimulai di sana? Teman-teman saya dari NU dan Muhammadiyah juga bicara dan mengeluhkan TWK.

Kalau mau, boleh juga kita coba menjawab TWK, lalu lihat apakah bisa lulus? Kedua, mari kita minta saja supaya hasil ujiannya dibuka ke publik, demi prinsip keterbukaan dan biar tidak ada masalah lain. Jika hasil menunjukkan tidak lulus, asal nilai terbuka, pasti semua pihak adem. Mari dibuka.

Lalu, apakah Ketua Umum PGI jadi kadrun atau jadi pembela kadrun karena menyatakan hal itu? Jika mengenal PGI dan perangkatnya, juga siapa Pdt. Gomar Gultom, yang sudah lama melayani di gereja dan dunia oikumene, dua kali Sekum PGI dan sekarang menjadi Ketum, pasti kita tidak akan bicara sembarangan mengenai beliau. Pemimpin-pemimpin gereja anggota PGI tiga kali memilih beliau di MPH PGI karena mengenal siapa beliau. Mari berdiskusi dan berdebat dengan sehat, tapi harus tahu bahwa tidak semua pihak akan terpuaskan.

Bagaimana dengan gereja yang ditutup? Sudah. PGI berulangkali hadir di tempat gereja ditutup, menulis permintaan, beribadah bersama teman-teman di GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia, tapi yang memiliki kemampuan membuka gereja yang ditutup itu kan pemerintah. Apakah kalau kita meminta bantuan ke Presiden untuk meminta membuka gereja-gereja yang ditutup juga dianggap menyerang beliau? Tentu tidak, karena kita meminta tolong pemimpin bangsa kita.

Apakah PGI tidak hadir di kasus Poso, Papua, Jambi? PGI sudah hadir ke sana, menjalankan advokasi, dan mengeluarkan statemen mengenai berbagai isu. Hanya saja, tidak semua diliput oleh media.

Jadi bagaimana sekarang?

Mari doakan supaya KPK tetap memiliki taji dalam pemberantasan korupsi.
Mari doakan supaya kepolisian dan kejaksaan agung juga terus bersinergi untuk pemberantasan korupsi.
Mari doakan gereja-gereja untuk tetap bersuara melawan korupsi.
Mari doakan PGI untuk terus bersuara mengenai situasi bangsa kita.
Mari doakan pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo yang kita kasihi untuk memimpin bangsa kita dengan hikmat dari Tuhan.
Mari jaga lidah dan jari untuk saring sebelum sharing.

Akhir kata, biar tidak terlalu tegang, mari kita baca dan cari info yang benar, baru komentar. Kalau ada salah kata dari saya, saya juga minta maaf, kan orang Kristen bisa saling memaafkan 😊.

Semoga kita sehat selalu, God bless us, God bless Indonesia!

Binsar Jonathan Pakpahan

 

KPK

Sadiki Inga Ulang
Korupsi merupakan tindakan seseorang dan kelompok yang menguntungkan serta memperkaya diri sendiri, keluarga, dan juga dan orang-orang dekat. Tindakan itu, dilakukan (secara sendiri dan kelompok) melalui pengelapan dan penyelewengan; manipulasi data keuangan, data jual-beli, dan lain-lain.

Korupsi bisa dilakukan oleh siapa pun, pada semua bidang pekerjaan, kedudukan, jabatan; pada tataran institusi atau lembaga pemerintah, swasta, maupun organisasi keagamaan.

Nah, sisi positifnya, itu tadi, memperkaya diri sendiri, keluarga dan kelompok. Jadi, jika ingin disebut pahlawan (dalam) kelompok,  keluarga, parpol, dan mau disebut orang yang baik hati, suka membantu, menolong, amal, dan seterusnya, maka korupsi lah anda.

Toh hasil korupsi (dan banyak uang) bisa menjadikan anda sampai ke/menjadi anggota parlemen, pengurus partai, orang terkenal, dan seterusnya.


KPK Sang Super Body

Manisnya serta Kenikmatan Uang Hasil Korupsi itulah yang menjadikan banyak orang menjadi Koruptor. Mereka ada di mana-mana, pada semua profesi, serta mungkin saja, setiap hari bersama anda. Semoga di PGI (dan lembaga afiliasi, tak ada korupsi dan koruptor, Amin 12 kali).

Begitu TSM korupsi di NKRI, maka sejak tahun 50an, Negara tercinta ini telah berjuang melawan  korupsi (dan menewaskan Koruptor). Banyak cara dan institusi dibentuk, namun tak membawa hasil yang signifikan.

Dan, yang paling anyar adalah KPK. KPK pun tumbuh menjadi Lembaga Superbody yang berwibawa dan menakutkan. KPK pun memiliki rangkap fungsi (i) edukasi publik agar stop korupsi, (ii) menangkap koruptor (iii) bersihkan korupsi dari NKRI.

Amputasi di KPK

Namun dirundung malang dan kemalangan. Dan ini menambah keprihatinan banyak orang, termasuk saya. Bayangkan saja, di KPK, terjadi (i) bukti perkara yang (sengaja di) hilang atau tercuri, (ii) penyidik yang memeras atau sekaligus pemeras, (iii) ratusan karyawan yang miskin integritas terhadap Bangsa dan Negara, (iv) sejumlah besar yang minim Wawasan Kebangsaan, (v) and masih banyak yang lainnya.

Pada sikon seperti itu (di atas), terlalu naif jika saya ikut dan ikutan berseru agar membubarkan KPK. Karena, tak mungkin 'membunuh tikus dengan cara membakar lumbung padi serta gandum.'

Membiarkan KPK menuju keterpurukan, itu tak mungkin; membiarkan KPK dengan minim harapan rakyat (agar mampu berantas korupsi), juga tak mungkin.

Satu-satunya langkah raksasa adalah pembebanan besar-besaran di/dalam Tubuh KPK; dilakukan oleh KPK (intern) dan intervensi kekuatan politik dari DPR serta Presiden (ekstern).

Dengan itu, KPK, DPR, Presiden harus berani amputasi anggota Tubuh KPK yang sudah rusak, membusuk, dan membusuk. Dalam arti mengganti semua personil KPK yang terbukti melakukan pelanggaran hukum, tanpa intergritas, dan tanpa wawasan kebangsaan. Amputasi tersebut, pasti, menyelamatkan Tubuh KPK dari kehancuran yang parah.

Mereka Meraung-raung

Hasil Diagnosa (Intern) di KPK sudah tepat; jalan tobat, mereka tak sudi; jadi,  eksekusi harus dilakukan; amputasi pun terjadi.

Mungkin saja, mereka yang telah diamputasi itu, berpikir bahwa "Akan Aman-aman Saja, Walau miskin dan minim Intergritas serta Wawasan Kebangsaan." Salah; mereka salah pikir dan berpikir tak benar. Amputasi tiada ampun dan melenyapkan over PD mereka.

75 potongan anggota tubuh KPK (yang busuk) dan telah diamputasi itu pun meraung-raung tanpa dara; rencana dan cita-cita besar mereka pun sirna serta lenyap, lunglai, dan tak berdaya.

Dalam sikon itu, mereka pun melakukan road show cari dukungan ke segala arah. Sayangnya, yang didapat adalah, cibiran dari teman-teman (terutama yang idiologi sejenis), lawan bertepuk tangan, serta publik membully. Sakit dan Menyakitkan.

Lucu. Mereka tak kehilangan akal. 75 anggota tubuh yang telah diamputasi itu datang ke Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia; kok tak punya malu ya.

Tak punya malu karena pada Tes Wawasan Kebangsaan, misalnya, (i) menolak adanya Gereja di Lingkungan mereka, (ii) menolak pilar-pilar persatuan Berbangsa dan Bernegara, (iii) bersikap dan bersifat intoleran dan rasisme, (iv) dan lain sebagainya. Sungguh Tak Tahu Malu.

Tambah Sangat Lucu Lagi. Setelah 75 orang yang diamputasi itu ngopi bareng Ketua PGI, Gomar Gultom, Sang Ketum, menyatakan bahwa,

"Kita sangat prihatin dengan upaya-upaya pelemahan KPK yang terjadi selama ini, terutama yang memuncak dengan pelabelan intoleran dan radikalisme atas 75 pegawai KPK melalui mekanisme tes wawasan kebangsaan.

Dengan disingkirkannya mereka yang selama ini memiliki kinerja baik serta memiliki integritas kuat dengan alasan tidak lulus TWK, dikhawatirkan akan membuat para penyidik berpikir ulang untuk melaksanakan tugasnya dengan profesional seturut dengan kode etik KPK di masa depan karena khawatir mereka di-TWK-kan dengan label radikal."

Duh, duh, duh, Segitunya tanggapan PGI; segitunya tanggapan sahabatku, Gumor Gultom. Tak apalah. Beta aminkan saja, walau menjengkelkan.

Mari Sejenak Refleksi

Note; Beta tak buat Refleksi Teologis; karena Beta, Gumor, Jacky dari Satu Sekolah, Satu Suhu, Satu Ilmu and juga Sesama Bajaj Dilarang Saling Nabrak.

Jadi ingat

Soerjono Soekanto, Sang Sosiolog Hukum terkemuka, berkata bahwa, "Penegakan hukum bukanlah semata-mata berarti pelaksanaan perundang-undangan, walaupun di dalam kenyataan di Indonesia kecenderungannya adalah demikian."

Lawrence M. Friedman, "Berhasil atau tidaknya Penegakan hukum bergantung pada Substansi Hukum (legal substance), Struktur Hukum/Pranata Hukum (legal structure), dan Budaya Hukum (legal culture)."

Bertalian dengan proses penegakan hukum (law enforcement), khususnya penegakan hukum tindak pidana korupsi. Beragam upaya pemberantasan korupsi yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia nyatanya belum sepenuhnya efektif dan membuahkan hasil memuaskan.

Dengan banyaknya peraturan yang mengatur mengenai tindak pidana korupsi ternyata tidak menjamin berkurangnya perkara korupsi di negeri ini. Bahkan tragisnya, Komisi Pemberantasan Korupsi, yang merupakan salah satu lembaga yang memiliki tupoksi memberantas korupsi, seakan dibuat tidak berdaya menghadapi tekanan dari beberapa pihak.

Sehingga Tes Wawasan Kebangsaan itu dilakukan terhadap anggota tubuh KPK; agar menemukan orang-orang yang sebetulnya main-main dengan memberantas korupsi serta tebang pilih kasus, sambil melindungi teman-teman se-idiologinya. Mereka inilah inkonsisten dan tidak demi kepentinganya sendiri maupun golongannya.

Jika KPK tidak melakukan amputasi, maka ada peluang bahwa orang-orang yang diamputasi tersebut (i) melumpuhkan kapasitas dan merusak kredibilitas sumber daya manusia di KPK, (ii) menghancurkan eksistensi kelembagaan KPK, (iii)  menyabotase program pemberantasan korupsi, (iv) tebang pilih kasus

Sahabat-sahabatku di Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, (Terutama untuk Dua Teman Se Almamater di Kampus Gumul dan Juang, Gomar dan Jacky, Sorry Beta Sebut Nama).

Sekali lagi, Jadi ingat sekian tahun yang lalu para pendahu PGI melahir narasi-narasi indah dalam rangka keutuhan ciptaan (coba bongkar arsip-arsip tua).

Narasi-narasi Indah itu, beta ringkas menjadi  "Pemberitaan Menghasilkan Keteraturan Ciptaan yang Memuliakan TUHAN Allah.'

Berdasarkan tugas-tugas gereja, pemberitaan (kerugma) atau pelayanan dan kesaksian Gereja-gereja harus menunjukkan koinonia, marturia, dan diakonia, (dan varian-variannya).

Kerugma dengan aneka dimensi itu, harus mampu membawa atau memberikan perubahan pada sasaran pemberitaan, yaitu umat manusia. Artinya, pelayanan dan kesaksian Gereja-gereja harus berdampak pada perubahan pada seseorang. Ia harus berubah secara utuh, misalnya jasmani dan rohani, perilaku hidup dan kehidupan, kualitas intelektual, pandangan maupun pola pikirnya, termasuk cara berinteraksi dengan sesama manusia dan lingkungan.

Gereja tidak bisa membatasi diri dengan hanya menjalankan salah satu tugas, sambil melupakan yang lain. Semua tugas tersebut dijalankan secara simultan, dalam rangka mencapai atau menciptakan Keteraturan ciptaan yang Memuliakan TUHAN Allah.

Pelayanan dan kesaksian yang mendatangakan keteraturan di masyarakat serta lingkungan hidup dan kehidupanya. Karena keteraturan itu, mereka [manusia dan alam] sama-sama memuliakan TUHAN Allah.

Ini berarti, bukan hanya warga Gereja yang mampu memuliakan TUHAN Allah; namun ciptaan lain pun bisa melakukan yang sama.

Misalnya, jika, semua benda-benda di alam semesta bisa mengeluarkan suara, maka hasil pelayanan dan kesaksian gereja menjadikan mereka memuliakan TUHAN Allah; jika, flora di taman, kebun, sawah, ladang serta hutan bisa mengeluarkan suara, maka pelayanan dan kesaksian gereja menjadikan mereka memuliakan TUHAN Allah; demikian juga, jika semua suara dan bahasa fauna dimengerti manusia, maka karena adanya pelayanan dan kesaksian gereja, maka suara mereka akan terdengar;  suara yang memuliakan TUHAN Allah.

Nah. Bagaimana Mungkin PGI ikut menciptakan Keteraturan Ciptaan, utamanya di/pada Bangsa, Negara, dan Rakyat Indonesia, jika 'mendukung dan membela anggota tubuh (yang busuk) yang telah amputasi KPK?

Sahabat-sahabatku di Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, (Terutama untuk Dua Teman Se Almamater di Kampus Gumul dan Juang, Gomar dan Jacky, Sorry Beta Sebut Nama).

Asal tahu saja, pasti tahu lah; daging busuk itu harus dibuang; tak enak untuk dibuat sate atau pun dendeng. So, lebeh bae, buang itu 75 orang daripada seluruh KPK rusak binasa.

Cukuplah
Di tempat pengadilan, di situ terdapat ketidakadilan
Di tempat keadilan, di situ terdapat ketidakadilan.

(Pengkhotbah 3, 16)
Di tempat Bersihkan Korupsi, di situ terdapat  Korupsi
Di tempat Anti Koruptor, di situ terdapat Koruptor

(Opa Jappy)
Salam Kompak dari Jauh
Dunia Lain, 29 Mei 2021

Jappy M Pellokila
(Lebih dikenal sebagai Opa/Opung Jappy)
WA +62 81 81 21 642

Jakarta – Bruno Major penyanyi, gitaris dan penulis lagu bergenre R&B dan pop asal Inggris ini lahir di Northampton pada 15 Juli 1988. Bruno awalnya merupakan seorang musisi beraliran jazz yang berhasil mencuri hati banyak orang lewat musik serta lirik yang ia ciptakan.

Pria berusia 32 tahun ini awalnya mengenal alat musik gitar saat usianya 7 tahun. Ayahnya memiliki gitar dan saat itu dia mencoba untuk memetik gitar sebisanya karena jarinya masih kecil. Setelah itu, ayahnya membelikannya gitar berukuran kecil semenjak saat itu dia mulai bermain dan menyukainya.

Pada 2011, Major pindah dari Northampton ke London dan saat usianya 16 tahun dia menjadi gitaris beberapa musisi layaknya Lalah Hathaway. Pria yang senang mengeksplorasi genre jaz ini sadar setelah pindah ke London, ia juga menyukai hal lain yaitu menciptakan lagu dan merasa lagunya bagus sehingga dia memutuskan untuk mengunggahnya di SoundCloud agar orang dapat mendengarkan dan menyanyikan lagunya.

Sebagai salah satu penulis lagu terbaik saat ini, Major tidak menyangka dirinya akan masuk ke dalam dunia musik, awalnya dia mengunggah musiknya ke salah satu platform yakni SoundCloud yang akhirnya mendapatkan banyak email dari label musik yang menyukai lagu-lagunya dan berkesempatan untuk rekaman bersama label besar dan melahirkan mini album Live pada 2014 yang berisikan 4 lagu.

Pada 2017 Major berhasil mendapatkan perhatian banyak orang setelah merilis album A Song for Every Moon yang dirilis satu lagu setiap bulannya dan akhirnya memberikannya tur yang lebih luas sebagai penyanyi pembuka di konser Sam Smith. Major pun telah menuliskan lagu untuk penyanyi terkenal layaknya Tori Kelly, Eliza, dan Tom Chaplin.

Pada 5 Juni 2020 lalu, Major merilis album mahakaryanya yang bertajuk To Let a Good Thing Die yang berisikan 10 lagu mengenai hubungan manusia yang menyedihkan dan rasa sakit karena patah hati. Salah satu lagunya The Most Beautiful Thing pun melibatkan produser musik Finneas, dia mengatakan proses pembuatan semua lagu tersebut sangat sederhana dengan hanya menggunakan gitar, mikrofon, dan interface yang bagus.

Major mengatakan inspirasi nomor satunya dalam bermusik ialah Randy Newman seorang musisi yang menulis lagu “You’ve Got A Friend in Me” dari film Toy Story, menurutnya Randy merupakan penulis lagu terbaik di dunia. Selain itu, dia juga penggemar Paul Simon dan Billy Joel serta lagu seperti “Fly Me to the Moon” menginspirasinya dalam menciptakan lagu.

Melalui musik dia ingin sampaikan kejujuran dan kehangatan, saat bertemu dengan orang baru dia selalu memperlakukannya layaknya sahabat. Dia sadar begitu melakukan hal itu hidup menjadi lebih menyenangkan, begitu juga dalam musik dia ingin pendengarnya bahagia.

Memiliki saudara yang juga merupakan musisi Dot Major dari band beraliran elektronik atau indie pop London Grammar, dia mengatakan dirinya bersyukur karena dengan menjalani kehidupan sebagai musisi untuk hadir di acara talkshow, hadir di depan ribuan orang untuk bermain musik dan melakukan tur keliling dunia yang menghabiskan banyak waktu bukanlah kehidupan yang normal.

Major mengatakan kadang sulit untuk berbicara dengan orangtua, ataupun sahabat mengenai apa yang dia alami karena mereka tidak mengerti. Namun karena saudaranya Dot Major juga mengalami hal yang sama dia mengatakan saudaranya itu merupakan orang terdekatnya.

Karena masa pandemi Covid-19, pertunjukan musiknya di dunia maupun di Asia harus ditunda, dia menghabiskan waktu untuk menulis, makan, dan menghabiskan waktu di dalam rumah. Terakhir sebelum pandemi, Major pada Februari sempat hadir di Festival Java Jazz di Internasional Expo Kemayoran, Jakarta dan menilai konser tersebut merupakan konser yang sangat spesial.

Major memiliki sebanyak 195.000 orang di Instagram pribadinya @ mrbrunomajor dan 484.616 pengikut di Spotify. Berikut lima lagu populer yang bisa kamu dengarkan dari Bruno Major yaitu Easily, Nothing, The Most Beautiful Thing, Places We Won’t Walk, dan Fair- Weather Friend. []

All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.