Holywings, Lokalisasi, dan Judi SDSB

Holywings

Puluhan tempat hiburan malam yang merupakan cabang dari Holywings ditutup yang dipicu akibat dugaan penistaan agama yang dilakukan saat promo minuman alkohol dengan nama Muhammad dan Maria. Saat ini, kasus tersebut sedang ditangani oleh pihak yang berwajib. 


Selain itu, tempat tersebut juga terbentur masalah perizinan sehingga semua outlet di wilayah Jakarta sudah disegel dan ditutup. Ada juga gerai yang tidak disegel, namun ditutup sendiri oleh perusahaan, seperti di wilayah Pondok Indah. 


Pihak Holywings sendiri tidak menyangka kalau promo nama tersebut bisa berujung dengan masalah pada usaha mereka. Sebelumnya mereka menggunakan nama Firrman dan Feni, Daniel dan Dewi, Tomi dan Talia, Andreas dan Amanda, William dan Widya, Kevin dan Kartika, Leo dan Lisa, Eka dan Elisabeth, serta Roni dan Ririn. 


Baca Juga: Anies Ubah Nama jalan dan Tindakan Urgensi Pemimpin

Namun manajemen mengaku sebelumnya tidak mengetahui penggunaan nama Muhammad dan Maria akan digunakan sebagai promo minuman gratis.


Gerai hiburan Holywings telah memiliki 3 jenis fasilitas tempat hiburan, yaitu 26 outlet Holywings Bar, 10 Holywings club dan satu Holywings Beach Resort yang terletak di Bali.


Dampak dari penutupan tersebut sangat masif secara perekonomian. Sebanyak 3000 karyawan akan dirumahkan, dari tukang parkir, satpam, pramusaji, sampai bartender. Tidak main-main, 3000 karyawan dengan gaji minimal Rp 3 juta! 


Jangan lupa, 3000 orang (yang sekitar 2800 nya adalah muslin) tersebut sebagian menanggung kebutuhan hidup satu orang, bahkan lebih. Dan dalam sekejab, mereka kehilangan pendapatan tersebut.


Saya tidak sedang memihak dengan tulisan ini. Mari kita jangan bicara masalah agama dulu karena yang kita hadapi adalah masalah perut. Bagaimana caranya agar 3000 orang tersebut segera mendapat pekerjaan. Syukur-syukur sesuai dengan pendapatan di Holywings. Tentu saja hal itu butuh usaha, tidak hanya berdoa saja.


Baca Juga: Energi Negatif Nyinyir Roy Suryo

Toh kalau kena pasal penistaan agama, 6 orang pegawai yang disinyalir memiliki ide untuk promo nama Muhammad dan Maria sudah ditahan oleh polisi. Lalu kenapa yang menjadi korban ribuan karyawan.


Apakah setiap orang perlu memiliki standar keimanan seperti mereka yang menuntut tempat Holywings itu tutup? Apakah orang tidak boleh mencari hiburan malam sesuai dengan keyakinan pribadi dan budaya yang mereka anut, seperti orang Barat dan orang Jepang yang biasa menghabiskan waktu di tempat minum.


Kemudian ada alasan lain bahwasannya penutupan Holywings adalah masalah perijinan. Tentu saja banyak yang mempertanyakan, kenapa baru sekarang ijin dipermasalahkan setelah gerai itu berdiri tahun 2014?


Kisruh penutupan Holywings juga semakin ramai dengan para politikus yang berlomba memancing di air keruh sebagai modal untuk tahun politik 2024.


Buruk Bagi Iklim Investasi

Penutupan Holywings adalah kasus ke sekian kali ketika sebuah tempat usaha dipaksa ditutup atas dasar ukuran moralitas yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Motifnya bisa penistaan agama, bisa juga meresahkan masyarakat (tanpa perlu menerangkan masyarakat yang mana), atau bisa juga, tidak sesuai dengan norma susila yang berlaku.


Tapi anehnya, pemaksaan penutupan tempat plesiran malam itu selalu tidak pernah memberikan solusi usaha lain yang perputaran uangnya sangat besar, seperti tempat-tempat hiburan malam itu.


Oleh karena perputaran uangnya besar, maka masih banyak investor yang ingin mencari untung dari usaha pelesiran jenis ini. Usaha ini juga menyerap tenaga kerja banyak, belum lagi mereka yang mengais rejeki dari sini.


Baca Juga: Tidak Hanya Abdul Somad, Singapura Juga Tegasi Warganya

Jika satu demi satu usaha hiburan malam dipermasalahkan, maka semakin banyak orang yang sulit untuk berinvestasi di sini. Itu berarti perputaran ekonomi di malam hari kurang berjalan.


Sebagai contoh adalah penutupan Lokalisasi terkenal di Kota S pada tahun 2019 karena alasan moralitas. Dalam komplek lokalisasi tersebut tidak hanya menawarkan layanan syahwat semata. Di sana juga terdapat usaha-usaha kecil untuk mengais rejeki, seperti karaoke, kuliner, toko kelontong, pulsa, dan lain-lain, yang jika ditotal perputaran uangnya tiap malam bisa sampai Rp 1 miliar!


Meski saat ini sudah berganti sebagai kampung tempat hiburan bagi yang hobi nyanyi, namun lokalisasi sebagai magnet uang sudah pudar. Dan mereka yang menutupnya masih belum bisa mendapat tampat usaha baru yang perputaran uangnya bisa sampai Rp 1 miliar setiap malamnya.


Dan mereka yang menutup lokalisasi itu memilih tidak pernah membicarakan tentang usaha alternatif yang keuntungan bisa sebesar tempat pelesiran syahwat itu.


Judi SDSB

Hampir senada dengan permasalahan di atas adalah saat pelarangan judi kupon atau togel bernama SDSB (sumbangan dermawan sosial berhadiah). Judi tersebut menjadi favorit rakyat kecil.


Karena merupakan permainan resmi, maka keuntungan yang didapatkan SDSB juga dikenakan pajak yang jumlahnya lumayan besar pada pertengahan tahun 1980’an.


Selain itu, keuntungan dari togel itu juga disumbangkan untuk mendukung olah raga di Tanah Air. Berbagai olah raga populer mendapat dukungan besar dari SDSB, terutama sepak bola dan tinju.  


Kucuran dukungan finansial yang tidak sedikit dari SDSB menjadikan olah raga Indonesia sangat maju. Semua lini yang terlibat dalam cabang olah raga, dari pemain, pelatih, official, dan lain-lain bisa merasakan manisnya kerja keras mereka dalam berlatih.


Sebagai gambaran, saat olah raga Indonesia mendapat dukungan penuh dari SDSB, musuh bebuyutan kita dalam cabang olah raga sepak bola di tingkat Asia hanyalah Korea Selatan. Bandingkan dengan sekarang, kesebelasan nasional kita tidak bisa bicara banyak di tingkat Asia Tenggara.


Begitulah yang terjadi sejak SDSB dilarang, tidak ada dukungan pada olah raga nasional secara penuh. Lambat laun olah raga nasional berangsur-angsur mundur dan kehilangan taring. Banyak pemain olah raga yang hidupnya merana setelah gantung sepatu.


Perlu diketahui, negara-negara maju dan kaya, seperti Inggris, Australia, Amerika Serikat, dan lain-lain, melibatkan industri judi dalam banyak olah raga populer. Bahkan negara yang standar keimanannya seperti kita, yakni Malaysia juga punya tempat judi besar di Genting. Mereka tahu ada perputaran uang yang besar pada bisnis permainan uang tersebut.


Mereka yang bersikukuh melarang togel tersebut juga tidak pernah memberikan solusi sebuah usaha yang keuntungannya bisa mendukung kemajuan olah raga Tanah Air, sampai saat ini.


Sekali lagi kita sedang membicarakan masalah perut, bukan masalah agama. [Benhil]

Baca Juga: Kisah Indiana Jones Labrak Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan


Surga Tropis

Tropics Paradise is a collection of writings and papers presented at, from, and to the tropics. Actually, the tropics is a place that comfortable, warm, and affluent. But the situation goes undermined by the real interests that not coming from the tropics itself, such as politics, ideology, lifestyle, and others. So for that matters, Tropical Paradise wants to restore a beautiful sense of the area.

Previous Post Next Post

Contact Form