Banten untuk upacara adat di Bali

Tanggal 10 hingga 12 April tahun 2017 rupanya menjadi tanggal yang cukup istimewa bagi para penduduk Bali. Pasalnya hari ini resmi telah diadakan upacara Pemacekan. Menurut Sudarsana, Pemacekan berasal dari kata ‘Pacek’ yang artinya adalah ‘Tapa’, sedangkan ‘Agung’ memiliki arti ‘Kuat’. Oleh karena itu makna dari diadakannya upacara ini adalah penguatan tapa terhadap banyaknya godaan dari sang kala Tiga. Adapula pengertian lain dari makna upacara pemacekan Agung di Bali adalah sebagai suatu momentum nyonya (pengembalian) atas kekuatan dari Sang Kala Tiga ke sumber-Nya.

Upacara Pemacekan sendiri dimulai pada tanggal 10 April 2017 yang diawali dengan penghaturan banten pada masing-masing pelinggih dan selanjutnya akan dilanjutkan dengan melakukan sembahyang bersama. Setelah itu maka para peserta upacara Pemacekan akan melakukan prosesi Matirtha yang mana berupa mendoakan air sesaji dan nantinya air sesaji (Tirtha) tersebut akan dipercikkan ke seluruh sudut pekarangan rumah. Lalu kegiatan upacara akan dilanjutkan dengan penghaturan segehan agung di lebuh yang nantinya disertai juga dengan api dakep dan tetabuhan arak berem. 

Setelah upacara Pemacekan Agung selesai pada hari itu maka upacara akan kembali dilanjutkan pada tanggal 12 April 2017 yang mana disebut sebagai prosesi Piodalan Batara Wisnu. Dalam prosesi upacara ini akan dilaksanakan di Paibon, Panti, atau Dadia. Saat itu pula para sesepuh akan membawa nasi tumpeng hitam beserta reruntutannya dan juga bunga-bunga harum sebagai sesembahan bagi para dewa.

Setelah prosesi  Piodalan Batara Wisnu sebagai rangkaian penutupan dari upacara Pamecakan telah selesai dilangsungkan maka para penduduk lokal setempat akan mempercayai bahwa pada hari itu para dewa telah kembali ke kahyangan dan meninggalkan ketentraman bagi bumi Bali. Rangkaian Upacara Pamecakan sendiri merupakan salah satu dari sekian banyak upacara adat keagamaan yang ada di Bali. Seperti yang sudah diketahui jika pulau Bali merupakan pulau seribu Pura yang sangat terjaga nilai adat dan budaya-nya maka tak heran jika seluruh prosesi upacara adat dan keagamaan masih dijaga betul nilai-nilai sakralnya. 

Bahkan sejak dahulu kala hingga saat ini upacara Pamecakan menjadi salah satu prosesi upacara yang tidak pernah dilewatkan oleh masyarakat Bali karena upacara ini dijadikan sebagai perantara untuk memulangkan para dewa ke kahyangan. Tidak hanya upacara Pamecakan saja, begitu pula dengan upacara lainnya yang ada di Bali, para penduduk sangat menjaga kesakralan dari setiap upacara yang ada karena takut jika nantinya upacara tersebut dilewatkan maka akan terjadi ketidakseimbangan pada alam yang mana berpotensi sebagai penyebab bala bencana.

Dengan banyaknya upacara adat dan keagamaan ini pula tak heran jika Bali dikenal sebagai pulau seribu Pura karena hampir di setiap lokasi terdapat Pura yang aktif digunakan untuk bersembahyang. Lalu diantara sekian banyak Pura tersebut ada satu Pura yang menjadi pusat dari seluruh rangkaian Pura yang tersebar di Bali, yaitu Pura Besakih. Pura yang terletak di Karangasem, Bali ini memang sudah sangat terkenal karena keindahan artistik yang ditawarkannya sehingga pura ini tidak hanya terfokus untuk menjadi tempat persembahyangan saja namun juga menjadi salah satu objek wisata yang ada di Bali.

Selain terkenal dengan keindahannya, pura ini juga terkenal dengan keluasannya karena didalam lokasi pura terdapat 19 Pura yang mana terdiri dari 1 Pura pusat Besakih dan 18 Pura pendamping yang mengelilingi pura pusat. Oleh karena itu tak heran jika Pura Besakih menjadi titik pusat dari setiap kegiatan keagamaan umat Hindu di Bali.

Apabila Anda berencana untuk mengunjungi pulau Dewata Bali maka saat ini adalah hari yang pas karena Anda masih bisa menikmati uniknya prosesi upacara Pamecakan yang ada di Bali. Namun perlu diingat pula untuk selalu menjaga dan menghormati setiap prosesi upacara yang ada di Bali agar nilai budaya dan kesakralannya tidak ternodai. 
All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.