Showing posts with label Bali. Show all posts

Jakarta, 15/10 (Benhil) - Sudah 24 hari status awas (level 4) Gunung Agung di Bali ditetapkan oleh PVMBG sejak 22 September 2017 tapi tanda-tanda letusan belum tampak meski aktivitas vulkanik masih tinggi.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat, saat ini gempa didominasi aktivitas gempa vulkanik dengan magnitudo gempa banyak di bawah dua Skala Richter. Gempa vulkanik jumlahnya belum menurun. Potensi untuk meletus tetap tinggi tetapi tidak dapat dipastikan secara pasti kapan akan meletus ataukah tidak jadi meletus.

Daerah yang harus dikosongkan tetap sama yaitu di radius sembilan kilometer dari puncak kawah dan 12 kilometer di sektor utara-timur laut dan sektor tenggara-selatan-barat daya. Ribuan warga masih mengungsi.

Untuk memberikan kemudahan akses dalam penanganan darurat maka Gubernur Bali Mangku Pastika kembali memperpanjang masa keadaan darurat penanganan pengungsi 14 hari yang berlaku 13-26 Oktober 2017.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan perpanjangan masa darurat adalah hal yang biasa. Status keadaan darurat pasti akan diperpanjang selama Gunung Agung masih status awas. Selesainya masa keadaan darurat tergantung pada ancaman bencana.

Berita Terkait Lainnya Tentang Gunung Agung Bali dan Gunung Sinabung di Sumatera

Selama PVMBG masih menetapkan status awas dan radius berbahaya yang harus dikosongkan ada penduduknya, kata dia, maka keadaan darurat pasti akan diberlakukan untuk memberikan kemudahan akses bagi pemerintah dan pemda dalam administrasi penanganan darurat.

"Sebagai perbandingan, di Gunung Sinabung di Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara, status tanggap darurat bencana sudah berlaku lebih dari dua tahun sejak Gunung Sinabung statusnya Awas pada 2 Juni 2015. Setiap dua minggu Bupati Karo memperpanjang surat pernyataan tanggap darurat," kata dia.

Pengungsi di Gunung Agung sendiri masih memerlukan bantuan dan pemerintah jamin kebutuhan pangan pengunsi Gunung Agung. Tercatat pengungsi 139.199 jiwa di 389 titik pengungsian yang tersebar di sembilan kabupaten dan kota di Bali. Sebagian pengungsi kembali ke rumahnya meski sudah dilarang karena berbahaya. Alasan mereka kembali ke rumahnya karena merasa jenuh, ingin bekerja lagi dan merawat ternak dan lahan pertaniannya.

Selama di pengungsian penghasilan masyarakat menurun. Mereka ingin bekerja kembali agar dapat mencukupi kebutuhannya. Sementara itu, aparat gabungan terus melakukan sosialisasi dan imbauan kepada masyarakat agar kembali ke pengungsian. Aparat juga terus memberikan pemahaman kepada masyarakat agar tidak usah takut dengan Gunung Agung. Sutopo mengatakan letusan sebuah gunung api merupakan sebuah ancaman sekaligus "berkah". Setiap masyarakat harus mengakrabi fenomena alam tersebut sehingga apabila terjadi aktivitas alam yang membahayakan manusia maka perlu diantisipasi dengan baik.

"Yang namanya gunung api pasti akan meletus dalam periode tertentu. Tapi pascaletusan memberikan berkah yang luar biasa. Lahan menjadi subur, produktivitas pertanian meningkat, melimpahnya pasir dan batu yang dapat ditambang dan lainnya. Masyarakat harus mengakrabi gunung. Hidup harmoni dengan gunung api. Saat meletus masyarakat dapat mengungsi sementara," kata dia.

Tetap Waspada Dansatgas Siaga Gunung Agung Letkol Fierman Sjahrial menjelaskan langkah-langkah yang sudah dilakukan dalam rangka penanganan siaga daurat Gunung Agung seperti mengevakuasi masyarakat yang berada di radius kawasan rawan bencana (KRB) serta mendirikan pos-pos pengamanan agar masyarakat tidak mendekati wilayah rawan bahaya.

"Personel kami terdiri atas TNI, Polri, ASN dan masyarakat. Kami menggunakan masyarakat lokal untuk memberikan unsur edukasi sehingga masyarakat tahu dan diajak berpikir bahwa itu demi keselamatan mereka. Selain itu, kami mensosialisasikan konten yang bersifat pasif seperti pamflet sehingga masyarakat bisa membaca apa saja yang dapat membahayakan mereka," kata dia.

Deputi 1 BNPB Wisnu Widjaja mengatakan tugas dan fungsi BNPB dalam siaga darurat ini adalah untuk melakukan pendampingan teknis, manajemen dan informasi dan selalu berpatokan pada informasi dari PVMBG.

"Di sini kami menganalisis risikonya, yang kita lakukan adalah mengetahui bersama bahwa status awas memiliki risiko yang sangat tinggi. Jika kondisi awas tidak ada perubahan maka pernyataan siaga darurat dapat diperpanjang dan juga sebaliknya jika ada penurunan dari vulkanologi maka siaga darurat akan dihentikan. Dengan pernyataan siaga darurat, BNPB mendapatkan kemudahan akses untuk mengerahkan sumber daya baik dari daerah maupun nasional," kata dia.

Dia mengatakan masyarakat harus bersabar dalam menghadapi ini, karena di balik bencana ada berkah yang sangat besar, seperti jika terjadi erupsi, material yang dikeluarkan berupa pasir dapat dijual dan menjadi pendapatan bagi masyarakat dan pemerintah daerah.

"Jika kita melihat pengalaman dari erupsi Gunung Merapi masyarakat Yogyakarta dan Jawa Tengah dapat memanfaatkan pasir sebagai penghasilan untuk hidup bahkan berlebih," kata dia.

Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Niken Widiastuti mengatakan bahwa Kementerian Kominfo mendukung siaga darurat dalam memberikan informasi-informasi, sosialisasi dan "trauma healing" kepada masyarakat.

"Pertama Informasi yang kami sampaikan tentu informasi yang valid mengenai Gunung Agung, rekomendasi apa saja yang dapat dilakukan dan yang kedua adalah sosialisasi mengedukasi kepada masyarakat bagaimana mendapatkan informasi yang akurat, terpercaya dari sumber-sumber pemerintah karena banyak informasi yang mengandung 'hoax' yang menyesatkan dan yang ketiga adalah membuat infografis yang diviralkan ke media-media cetak elektronik maupun media sosial sehingga dapat diakses masyarakat luas," katanya.

Teknologi bencana Tidak adanya peralatan di puncak kawah mengakibatkan tidak dapat diketahui kondisi visual secara terus-menerus. Sementara itu di puncak kawah berbahaya dan tidak boleh ada aktivitas masyarakat. Oleh karena untuk melakukan pemantauan puncak kawah dan lingkungan sekitar Gunung Agung, BNPB bersama PVMBG menerbangkan drone atau pesawat tanpa awak.

Secara visual belum terlihat tanda-tanda letusan Gunung Agung. Kepala BNPB Willem Rampangilei memprakarsai penggunaan pesawat tanpa awak (drone) untuk memantau kawah Gunung Agung.

"Kita harus kerahkan drone yang memiliki spesifikasi khusus terbang tinggi yang mampu mendokumentasikan semua fenomena di kawah. Tanpa drone kita tidak tahu apa yang terjadi. Citra satelit tidak dapat setiap saat memantau perkembangan kawah. Oleh karena itu, drone menjadi pilihan yang terbaik. Aman, efektif dan 'update'," kata Willem.

BNPB, kata dia, mengerahkan lima unit drone dengan spesifikasi berbeda terdiri dari tiga unit drone fixed wing yaitu Koax 3:0, Tawon 1.8 dan Mavic. Sedangkan dua unit drone jenis rotary wing adalah multi rotor M600 dan Dji Phantom.

Menurut dia, Gunung Agung memiliki tinggi sekitar 10.400 kaki maka diperlukan drone yang memiliki kemampuan terbang tinggi. Tidak banyak drone yang memiliki kemampuan terbang tinggi. Drone Koax 3:0 dan Tawon 1.8 memiliki kemampuan terbang hingga 13 ribu kaki. Mesin menggunakan baham bakar ethanol agar dapat terbang tinggi.

Sementara itu, dia mengatakan drone rotary wing digunakan karena mampu terbang di ketinggian 500 meter untuk memetakan permukiman dan alur-alur sungai. Untuk mendukung semua itu digunakan "Ground Control Station" yang mobile.

Willem mengatakan penggunaan drone untuk penanggulangan bencana sendiri bukanlah hal yang baru. Untuk kebutuhan kaji cepat yang efektif, drone sangat bermanfaat. Keluwesan terbang drone, baik vertikal maupun horizontal dalam jangkauan tertentu, serta kemampuan mengambil gambar dari ketinggian tertentu, drone telah menawarkan gambar atau "landscape" berbeda dalam melihat peristiwa bencana. Beberapa kali BNPB bersama Lapan, BIG, BPPT, TNI, Basarnas, BPBD dan relawan menerbangkan drone untuk penanganan bencana seperti dalam penanganan letusan Gunung Sinabung, Gunung Kelud, banjir Jakarta, longsor Ponorogo, longsor Banjarnegara dan lainnya. Sebuah studi yang dilakukan Palang Merah Amerika menyebutkan bahwa drone adalah salah satu teknologi baru yang paling menjanjikan dan ampuh untuk meningkatkan respon bencana. (Ben/An)


Media Sosial

Denpasar, 15/10 (Antara) - Sejak 22 September 2017 hingga kini, Gunung Agung setinggi 3.142 mdpl masih berdiri kokoh, kendati gunung tertinggi di Bali itu sudah berminggu-minggu menyandang status Awas.

Namun, status Gunung Agung kali ini berada dalam era yang jauh berbeda dengan tahun 1963 saat meletus yang terakhir, yakni era digital yang memungkinkan terjadinya "letusan" sebelum waktunya.

Bahkan, seorang rekan menyebut dunia digital bisa merancang "run-down" (rincian waktu dari detik ke detik) meletusnya gunung api itu, tentu teman itu hanya berkelakar, karena erupsi itu tidak mungkin dijadwalkan.

Meski kelakar, fakta yang ada memang menunjukkan media sosial begitu sangat mudahnya menyajikan informasi tanpa verifikasi dan disebarkan secara estafet dengan istilah "copas dari tetangga sebelah".

Sesungguhnya, informasi yang menyebar di dunia digital tidak layak untuk dipercaya sama sekali bila tanpa verifikasi atau sumber referensi yang jelas, kecuali sebatas curhat, motivasi, guyon, dan non-informasi lainnya.

Jangankan informasi berupa tulisan, gambar pun dalam dunia teknologi digital bisa merupakan tempelen dari beberapa gambar, bahkan video pun bisa merupakan video yang dikutip dari lokasi lain yang dibuat seolah-olah "up-date" untuk wilayah kita dengan sedikit manipulasi.

Tidak hanya itu, suara dalam dunia digital pun bisa direkayasa dengan dubbing, bahkan tanda tangan resmi sekalipun tidak layak dipercaya kalau ada di dunia digital, karena bisa direkayasa dengan cara "scan", mungkin maksudnya untuk meyakinkan, padahal menipu.

Dalam dunia digital, rekayasa dan manipulasi itu tujuannya adalah viral (berantai) untuk rival (pesaing) dengan tujuan ekonomi atau kegiatan bisnis, sosial politik, maupun penetrasi budaya.

Manipulasi atau rekayasa itu sudah dialami Gunung Agung saat terjadi peningkatan gejolak vulkanik Gunung Agung di Karangasem, Bali, dari status Waspada menjadi Siaga (18/9/2017).

Saat itu, pada saat yang bersamaan terjadi kebakaran lahan pada lereng gunung tertinggi di Pulau Dewata itu, sehingga foto kebakaran itu pada malam hari akan terlihat seperti lava pijar.

Nah, foto "lava pijar" (palsu) itu pun di-share ke medsos seolah-olah Gunung Agung meletus! Padahal, cuma "letusan" medsos. Kepala Data dan Informasi BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mencatat adanya tiga "hotspot" kebakaran hutan dan lahan di sekitar Kubu, Kabupaten Karangasem.

Padahal, foto itu bukan rekayasa, tapi momentumnya saja yang di-pelintir (manipulasi). Kendati demikian, rekayasa foto dan video untuk Gunung Agung juga ada.

Rekayasa yang dimaksud itu dialami Gunung Agung pada 24 September 2017 atau selang dua sehari perubahan status dari Siaga ke Awas. Rekayasa itu menampilkan video tentang gunung lain yang memuntahkan lahar, tapi diberi judul "Gunung Agung Meletus".

Akhirnya, foto dan video rekayasa itu viral, padahal pengirimnya bisa meneguk keuntungan yang cukup menggiurkan dari viralisasi itu hingga belasan juta dalam sehari. Keuntungan dari "hits" yang memicu kepanikan.

Skenario evakuasi Informasi dari media sosial yang tidak objektif itu disesalkan Sekretaris Daerah Kabupaten Badung, Bali, I Wayan Adi Arnawa, karena dampaknya bisa merugikan masyarakat di Pulau Dewata dengan potensi wisata yang mendunia itu.

"Anak saya dan teman-temannya di Inggris pun bertanya, padahal Gunung Agung itu belum apa-apa. Itu bisa merugikan masyarakat dan daerah kita yang memiliki potensi pariwisata itu," katanya saat menerima audiensi pimpinan dan staf LKBN Antara Biro Bali di kantornya (9/10).

Oleh karena itu, ia berharap masyarakat untuk memercayai media massa (termasuk, media daring/online) daripada media sosial yang tanpa verifikasi. Namun, ia juga berharap kepada pers untuk tidak membesar-besarkan status Awas di Gunung Agung yang dapat memantik kepanikan masyarakat.

Ya, gunung meletus memang tidak mungkin dicegah, tetapi antisipasi sudah dilakukan aparat pemerintah dan masyarakat setempat dengan maksimal untuk mengurangi jumlah korban jiwa maupun harta benda, karena itu pihak yang rentan seperti orang tua, lansia, jompo, orang sakit, ibu akan melahirkan, balita, dan orang dengan gangguan jiwa pun sudah diungsikan.

Tidak hanya itu, upaya mengevakuasi ribuan warga dari 28 desa di Kabupaten Karangasem yang diperkirakan terdampak di zona merah juga telah dilakukan, termasuk mendirikan penampungan pengungsi, memenuhi kebutuhan harian dan logistik lainnya menjadi upaya prioritas.

Selain itu, pihak-pihak terkait di Bali juga sudah menyiapkan tempat penitipan motor, mobil, uang, hingga penitipan hewan ternak yang nantinya dijaga oleh polisi maupun TNI supaya tidak ada pencurian.

Bahkan, penanganan wisatawan di titik kumpul masing-masing hotel termasuk di bandara dan pelabuhan juga telah ditentukan dalam kondisi darurat bila erupsi terjadi.

Skenario evakuasi mengantarkan wisatawan yang beralih menggunakan jalur darat apabila bandara ditutup juga telah disusun dengan menyiagakan 700 bus bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan dan Organda Bali.

Sementara itu, pemerintah pusat juga menyiapkan 10 bandara alternatif yakni bandara di Jakarta, Makassar, Surabaya, Balikpapan, Solo, Ambon, Manado, Lombok Praya, Kupang, dan Banyuwangi.

Imbauan serupa juga datang dari Gubernur Bali Made Mangku Pastika. Bahkan ia meminta para awak media agar tidak memberitakan secara berlebihan mengenai hal-hal terkait peningkatan status vulkanik Gunung Agung karena dinilai akan berdampak buruk dan mendorong keresahan warga.

Ia meminta peranserta awak media agar tidak memberitakan secara lebay atau berlebihan.

"Ya, itu yang saya harapkan terus-terang saja. Ini kan kita sudah siap semua. Boleh lihat kesiapan kita seperti apa ya. Saya yakin semua akan bisa kita atasi sebaik-baiknya," katanya.

Secara khusus, Pastika meminta pegiat media sosial harus pintar dan bijak dalam memanfaatkan kemajuan teknologi.

"Ya, kepada pengguna medsos (media sosial) juga saya minta tanggung jawabnya ini. Masak ingin menyusahkan orang yang sudah susah. Dosanya besar sekali," ucapnya.

Langkah proaktif juga ditempuh Gubernur Bali Made Mangku Pastika dengan melakukan komunikasi intensif dengan pelaku pariwisata di Bali, termasuk perwakilan negara asing di Pulau Dewata, apalagi Bali masih memiliki ratusan objek wisata yang jauh dari gunungapi itu, sehingga dampak terhadap objek wisata hanya sepersekian.

"Saya tidak terlalu khawatir dengan status awas Gunung Agung," kata seorang wisatawan dari Jerman, Thomas Picht, yang datang ke Karangasem untuk menikmati dan mengabadikan pemandangan hijau perbukitan Gunung Agung dengan kamera dari telepon selulernya. (Ben/An)

Perak Bali

Tekun, teliti, dan cekatan, itulah sosok pengrajin perak di Desa Celuk, Kabupaten Gianyar. Kedua tangan itu memegang alat untuk menempelkan serpihan perak atau emas cair di sekeliling cincin maupun aneka perhiasan lainnya.

Sementara itu, kakinya bergerak memompa gas api yang berfungsi memanaskan serpihan perak agar benda itu tetap cair hingga tetap kuat melekat saat terkena terpaan angin.

Pemandangan seperti itu terlihat di tepi jalan sepanjang jalur utama Denpasar-Ubud, tepatnya di Desa Celuk, Bali, yang merupakan sentra kerajinan emas dan perak di Pulau Dewata.

Industri rumah tangga yang bergelut dengan kerajinan berbahan baku perak atau emas itu memerlukan pengalaman dan keterampilan khusus.

Sebuah meja kerja dengan peralatan yang sangat sederhana itu berderet di teras rumah masing-masing pengrajin, berkat kesungguhan pemiliknya mampu menghasilkan produk aneka perhiasan yang menjadi salah satu cendera mata khas Pulau Dewata yang menembus pasaran mancanegara.

Untuk memacu promosi bisnis dan meningkatkan pemasaran hasil kreativitas kerajinan perak dan emas, desa setempat akan menggelar kegiatan "Celuk Jewellery Festival 2017", mulai 13 hingga 15 Oktober 2017.

Menurut Ketua Panitia Celuk Jewellery Festival (CJF) 2017 Ketut Widi Putra kegiatan tersebut merupakan yang kedua kalinya. Festival ini diharapkan dapat dilaksanakan secara kontinu sebagai upaya promosi dan meningkatkan pemasaran hasil produksi skala rumah tangga yang ditekuni sebagian besar masyarakat setempat.

Festival tersebut mengusung tema "Mahakarya Mustika Nusantara" melibatkan 68 peserta yang terdiri atas 24 usaha kecil dan menengah (UKM) yang bergerak dalam bidang perhiasan, sebanyak 24 warung kuliner dan 20 peserta pameran aneka produk.

Celuk Jewellery Festival 2017 diharapkan menjadi ajang premosi dan penjualan hasil karya dan kreativitas masyarakat Desa Celuk dalam bentuk seni, kerajinan perak, kuliner, maupun busana.

Semua kegiatan itu dikemas dalam rangkaian acara yang menarik meliputi pameran aneka jenis perhiasan (jewellery expo), pameran aneka produk, lomba, seminar, lokakarya, pagelaran seni budaya, kelas pembuatan kerajinan, peragaan busana, dan musik.

Khusus peragaan busana yang diharapkan mampu menarik perhatian masyarakat, termasuk wisatawan mancanegara yang sedang menikmati liburan di Pulau Dewata dirancang Tjok Abi dan Sintha Chrisna Boutique yang dikolaborasikan dengan koleksi aksessoris dari para pengrajin perhiasan perak warga Desa Celuk.

Kegiatan seminar kewirausahaan dengan pembicara Ketua Apindo Bali Panudiana Khun, pendiri "Mangsi Coffee" Windu Segara Senat, praktisi pariwisata Cokorde Gede Putra Sukawati, pemilik Museum Arma Ubud Anak Agung Arma, dan Ketua Yayasan Tri Hita Karana Gusti Ngurah Wisnu Wardhana.

Inovasi Potensi Daerah Bupati Gianyar Anak Agung Gede Bharata memberikan apresiasi dan mendukung pelaksanaan "Celuk Jewellery Festival" yang digagas masyarakat setempat sebagai upaya melestarikan seni budaya dan melakukan inovasi terhadap potensi daerah yang selama ini telah dikenal masyarakat internasional.

Lewat kegiatan festival di tingkat desa diharapkan mampu melestarikan seni dan budaya, mulai dari tarian hingga potensi lainnya yang mampu mengangkat tingkat kesejahteraan masyarakat yang lebih baik.

Hal itu penting karena pelastarian seni budaya dan potensi daerah mampu menjadi modal dalam menghadapi perkembangan zaman globalisasi yang memberi kebebasan manusia untuk melakukan perdagangan, termasuk transformasi kebudayaan.

Oleh sebab itu, masyarakat masyarakat Gianyar yang selama ini dikenal sebagai daerah "gudang seni" mampu melestarikan seni budaya warisan leluhur dengan baik sehingga seni dan budaya itu tetap kukuh dan lestari.

Kelestarian seni dan budaya pada era globalisasi menghadapi persaingan cukup ketat dengan budaya barat sehingga menuntut adanya "filterisasi" salah satunya dengan menyelenggarakan festival-festival di daerah setempat.

Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Gianyar sangat mendukung dan mendorong agar pelestarian budaya dapat berjalan secara berkesinambungan sehingga seni dan budaya tetap lestari.

Pelestarian budaya menurut Bupati Agung Bharata terletak pada kemampuan generasi muda. Oleh karena itu, semangat generasi muda patut diapresiasi, salah satunya dengan penyelenggaraan "Celuk Jewellery Festival".

Kegiatan itu sekaligus bagian dari promosi pariwisata Bali. Desa Celuk (Gianyar) sudah terkenal sejak dahulu dengan kerajinan emas dan perak. Sampai saat ini pun masih tetap eksis.

Urus HAKI Bupati Anak Agung Gede Bharata juga mendorong pengrajin emas dan perak di Desa Celuk untuk melakukan pendaftaran hak atas kekayaan intelektual (HAKI) Kementerian Hukum dan HAM sebagai upaya melindungi hasil khas kerajinan desa setempat.

Hal itu dinilai sangat penting dan mendesak karena hasil kerajinan perak dan emas Desa Celuk, Kabupaten Gianya menjadi ikon yang selama ini telah dikenal masyarakat internasional.

Hak paten yang dimiliki pengrajin Desa Celuk sangat penting sebagai upaya mengantisipasi adanya plagiat produk oleh orang lain tidak bertanggung jawab di dalam negeri maupun dari negara lain.

Dengan hak paten tersebut, mempunyai kekuatan hukum sehingga jika ada yang menggunakan atau memproduksi kerajinan itu bisa menggugatnya atau mendapatkan hasil dari HAKI tersebut.

Untuk mendapatkan HAKI, kata dia, memang ada persyaratan dalam pengajuannya. Namun, pemerintah kabupaten akan membantu dalam pengajuan produk-produk kerajinan seni itu ke lembaga tersebut.

Hal itu penting karena pada era globalisasi apa saja bisa ditiru mirip dengan aslinya. Oleh sebab itu, langkah dalam pelestarian dan pengamanan hasil produk kerajinan Desa Celuk yang sudah diakui di mancanegara tidak terancam diperlukanlah pendaftaran HAKI.

Pendaftaran untuk mendapatkan HAKI sangat penting dalam memproteksi hasil kerajinan oleh tangan-tangan terampil warga masyarakat Desa Celuk, kata Bupati Agung Bharata.

Gunung Agung

Klungkung, Bali, 7/10 (Benhil) - Sebanyak 143 orang pengungsi berada di Posko Banjar Lebah, Desa Basangkawan, Kabupaten Klungkung Bali memilih kembali ke daerah asalnya di Dusun Hyang Api, Desa Muncan, Kecamatan Selat, Karangasem, Sabtu.

"Bukan karena keinginan kami yang memulangkan para pengungsi ini, namun para pengungsi yang menginginkan kembali ke rumahnya," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Klungkung, Bali I Putu Widiada saat mengantar warga mengungsi di Klungkung.

Para pengungsi yang kembali ke Dusun Hyang Api ini rata-rata warga berusia dewasa dan anak-anak maupun beberapa orang lansia.

Keinginan pengungsi untuk kembali ke dusunnya ini, kata Putu Widiada karena permintaan dari kelian adat (kepala dusun) yang menyatakan daerahnya berada di luar kawasan rawan bencana (KRB).

"Kami BPBD Klungkung hanya memfasilitasi kepulangan mereka," ujarnya.

Pemulangan mereka diantar dengan menggunakan dua unit bus milik angkutan kota milik Dinas Perhubungan Kabupaten Klungkung dan barang-barang milik pengungsi diangkut menggunakan satu unit truk masing-masing milik Kodim setempat dan Polsek Klungkung.

"Awalnya mereka mengungsi ke Posko Banjar Lebah dengan sepeda motor dan meminjam mobil milik warga setempat," ujarnya.

Sebelumnya, BPBD Klungkung telah memulangkan 121 jiwa berasal dari 36 kepala keluarga (KK) dari Dusun Benekasa, Desa Muncan, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, pada Jumat (6/10) lalu.

Pemulangan warga pengungsi ini diantar langsung Wakil Bupati Klungkung, Bali, I Made Kasta yang mengharapkan para pengungsi yang dipulangkan ini dapat melakukan aktivitas seperti biasa di rumahnya.

BPBD Klungkung mencatat jumlah pengungsi yang rumahnya berada pada zona aman sebanyak 1.794 jiwa tersebar meliputi 43 desa dan 122 titik pengungsian di kabupaten tersebut. (Ben/An)

Gunung Agung Bali

Bali, 07/09 (Benhil) Ratusan masyarakat yang telah mengungsi selama dua minggu di Gedung Olah Raga Swecapura Kabupaten Klungkung secara bertahap kembali ke rumah masing-masing di Kabupaten Karangasem setelah desanya dinyatakan aman, meskipun Gunung Agung tetap berstatus Awas.

Karangasem, salah satu dari sembilan kabupaten dan kota di Bali memiliki 78 desa. Hanya 28 desa yang terdampak langsung jika Gunung Agung (3.142 meter di atas permukaan air laut) erupsi, sisanya 50 desa diperkirakan aman sehingga masyarakat tidak perlu mengungsi.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klungkung I Putu Widiada mengatakan masyarakat dari 50 desa yang dinyatakan aman yang sebelumnya telah dilakukan pendataan dengan rinci, atas kesadarannya sendiri secara tertahap kembali ke rumah masing-masing.

Pengungsi yang tersebar pada 122 titik di Kabupaten Klungkung yang rumahnya berada di zona aman sebanyak 1.794 orang. Mereka yang berasal dari 43 desa di wilayah ujung paling timur Pulau Dewata itu sudah kembali ke desa asalnya.

Mereka pulang atas kesadaran sendiri, bahkan diantar oleh Wakil Bupati Klungkung I Made Kasta sampai di Dusun Benekasa, Desa Muncan, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem yang berjarak sekitar 20 km dari tempat pengungsian.

Masyarakat yang pulang ke tempat tinggalnya itu difasilitasi pemerintah setempat sebanyak 36 kepala keluarga atau 121 jiwa) dengan harapan dapat kembali melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa, Selain itu, warga lebih tenang dalam menjalani kehidupan, sedangkan anak-anak kembali sekolah seperti biasa, salah satu faktor awal pertimbangan sebagian warga dibalik keengganan korban Gunung Agung mengungsi.

Meskipun demikian, Pemkab Klungkung tetap akan menerima mereka jika dalam waktu ke depan, warga terdampak Gunung Agung berkeinginan kembali ke pengungsian.

Klungkung daerah tetangga paling dekat dengan Kabupaten Karangasem sebelumnya menampung pengungsi 20.227 jiwa, di mana 1.784 jiwa di antaranya sudah kembali ke desa asalnya. Kini mereka yang masih tinggal tercatat 18.443 jiwa.

Kembalinya para pengungsi ke rumah masing-masing atas kesadaran sendiri, tanpa ada paksaan pihak lain, sesuai harapan Gubernur Bali Made Mangku Pastika karena hanya masyarakat di 28 desa rawan bencana yang wajib menjauh setelah sebelumnya warga di kawasan rawan bencana Gunung Agung wajuin ngungsi.

Jumlah pengungsi yang sempat membengkak, diperkirakan mencapai 150.109 orang di 420 titik tersebar di delapan kabupaten dan satu kota di Bali.

Mereka mengungsi karena kekhawatiran, rasa panik, dan tidak memiliki pengetahuan tentang kebencanaan terkait dengan peningkatan status aktivitas vulkanik Gunung Agung.

Oleh sebab itu, menurut Gubernur Mangku Pastika, tim penanggulangan bencana dapat bekerja cepat mengembalikan para pengungsi yang ada di luar kawasan rawan bencana ke desa masing-masing untuk beraktivitas seperti biasa dan selama di pengungsian Pemerintah menjamin kebutuhan pangan pengungsi Gunung Agung.

"Saya yang menjamin jika masyarakat yang tinggal di luar kawasan rawan bencana (KRB) aman. Jika memang terjadi letusan baru kemudian dilakukan tindakan pengamanan lanjutan," ujarnya.

Gunung Agung sejak 22 September berstatus Awas atau Level IV. Hingga Sabtu (7/10) telah memasuki hari ke-15, situasinya tetap mempunyai potensi erupsi.

Sejak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral meningkatkan status Gunung Agung menjadi Awas, wilayah steril yang semula radius enam kilometer dari puncak gunung itu, diperluas menjadi sembilan kilometer.

Selain itu ditambah perluasan wilayah sektoral yang semula 7,5 kilometer menjadi 12 kilometer ke arah utara, timur laut, tenggara, dan selatan-barat daya sehingga kawasan yang berbahaya dalam radius 12 kilometer dari Gunung Agung harus dikosongkan.

Meskipun aktivitas gunung terus meningkat, hanya masyarakat di 28 desa di lereng Gunung Agung yang masuk dalam kawasan rawan bencana yang diwajibkan untuk mengungsi ke tempat aman.

Diperpanjang Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei mengatakan pihaknya memperpanjang masa siaga darurat Gunung Agung hingga 16 Oktober 2017.

Semula, masa siaga darurat itu sejak 22 September hingga 1 Oktober 2017 dan diperpanjang selama dua minggu, karena sampai sekarang rata-rata tidak ada penurunan bahkan menunjukkan kecenderungan aktivitas vulkanik gunung tersebut yang meningkat.

Keputusan memperpanjang masa siaga darurat itu telah melalui diskusi BNPB, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Pemkab Karangasem, dan pihak terkait lainnya.

"Kami menghadapi ketidakpastian. Ini salah satu tantangan terberat tetapi kami siap jika hal buruk terjadi," ujar Willem Rampangilei yang siaga di Bali sejak awal September lalu ketika aktivitas Gunung Agung mulai menigkat.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) hingga Kamis (5/10) pukul 12.00 Wita, mencatat tingkat kegempaan masih tinggi, untuk vulkanik dangkal mencapai 93 kali, vulkanik dalam 113 kali, dan tektonik lokal 18 kali.

Gunung tertinggi di Bali yang senantiasa dijadikan tempat kegiatan ritual "Mulang Pekelem" terkait dengan kegiatan ritual di Pura Besakih maupun pura-pura besar lainnya itu, diperkirakan sedang mengakumulasikan energi yang mengakibatkan tingkat gempa tektonik lokal tidak terasa beberapa hari terakhir.

Menurut perkiraan Kepala Bidang Mitigasi Gunungapi PVMBG Gede Suantika, kondisi gunung itu mungkin masih menunggu akumulasi energi lebih dalam lagi yang dari bawah atau penambahan energi.

Selama lima hari belakangan ini gempa tektonik lokal di sekitar kawasan gunung api hingga di Pos Pengamatan yang berjarak sekitar 12,5 kilometer arah selatan gunung api sudah tidak terasa karena magnitudo berkisar 2,0 hingga 3,0 Skala Richter.

Gempa tektonik lokal yang cukup besar terasa, tercatat terjadi saat masa kritis dengan magnitudo 4,3 Skala Richter pada 27 September 2017 sekitar pukul 13.12 Wita.

Gempa tersebut terjadi pada kedalaman delapan kilometer yang terasa di Denpasar, Karangasem, dan Gianyar. Meski demikian, gempa vulkanik dalam dan dangkal hingga saat ini masih tercatat dalam, dengan intensitas yang tinggi, yakni rata-rata di atas 500 kali dan 350 kali.

Terkait dengan aktivitas seismik Gunung Agung, PVMBG mencatat pukul 06.00 hingga 12.00 Wita, jumlah gempa vulkanik dangkal mencapai 69 kali, vulkanik dalam 147 kali, dan tektonik lokal 22 kali.

PVMBG juga mencatat tektonik jauh sebanyak satu kali dengan durasi 86 detik. Tektonik jauh tidak berdampak terhadap aktivitas Gunung Agung karena terjadi di lokasi yang berada sangat jauh atau terjadi di benua berbeda.

Secara visual, Gunung Agung masih tertutup kabut dan asap kawah yang bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi 50 meter di atas kawah puncaknya. (Ben/An)

Made Mangku Pastika

Denpasar, 6/10 (Benhil) - Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengingatkan jajarannya agar jangan kebanyakan bermain media sosial dan seharusnya menggunakan kecanggihan teknologi informasi untuk menambah pengetahuan.

"Saya baru baca berita pagi ini, 90 persen perceraian di Depok dan Bekasi disebabkan oleh medsos. Jadi, kebanyakan main medsos itu penyakit, habis waktu kita," kata Pastika saat menyampaikan sambutan pada pelantikan 63 pejabat administrator (eselon III) Pemprov Bali di Denpasar, Jumat.

Menurut dia, terlepas dari manfaatnya, perkembangan media sosial belakangan ini juga banyak menimbulkan dampak negatif. Kemajuan teknologi sejatinya bisa dimanfaatkan untuk hal lain yang jauh lebih bermanfaat.

Mantan Kapolda Bali itu menambahkan banyak laman (Website) yang menawarkan sistem pengajaran dalam jaringan (online) yang sangat mudah diakses.

"Dengan kemajuan IT, sekolah ada dalam genggaman. Manfaatkan itu untuk meningkatkan kualitas diri," ujarnya sembari mengatakan seseorang yang dipercaya menjadi pemimpin harus lebih pintar dari anak buah agar tidak dilecehkan.

Di sisi lain, Pastika juga menyinggung pelantikan yang digelar di tengah situasi prihatin terkait peningkatan status menunggu letusan Gunung Agung, Kabupaten Karangasem.

"Di tengah keprihatinan dan kesibukan membantu saudara kita di pengungsian, kita juga harus tetap fokus pada penataan kinerja untuk mendukung pelaksanaan tugas pemerintahan dan pembangunan," katanya.

Mutasi, lanjut dia, adalah sebuah hal yang wajar dalam sebuah organisasi. Pada pelantikan pejabat eselon III kali ini, sebagian yang dilantik adalah mutasi horizontal dan sebagian lagi adalah mereka yang mendapat promosi.

"Mutasi adalah upaya penyegaran dan pengisian jabatan yang lowong," ucapnya. Untuk itu diharapkan agar proses mutasi tak menimbulkan kegaduhan atau kasak-kusuk karena sudah melalui proses evaluasi.

Pastika mengingatkan pula kalau jabatan itu bukan hak, tetapi amanah yang harus dijawab dengan dedikasi, loyalitas dan tanggung jawab.

Upacara pelantikan dihadiri pula oleh Kepala Organisasi Perangkat daerah (OPD) di Lingkungan Pemprov Bali. (Ben/An)

Persembahyangan Purnama Kapat

Semerbak wangi bunga dan dupa di tengah dentingan suara genta menyebar di kawasan Pura Besakih di lereng Gunung Agung Bali, mewarnai suasana persembahyangan sejumlah umat Hindu bertepatan dengan Purnama Kapat.

Purnama Kapat atau purnama keempat adalah penghitungan waktu berdasarkan kalender Bali, yang tahun ini jatuh pada Kamis (5/10).

Puja-pujian sang pendeta maupun jero mangku yang memimpin kegiatan ritual itu diiringi alunan instrumen musik tradisional Bali (gamelan) serta tembang-tembang kekidung dan warga sari yang berlangsung secara khidmat. Ritual tersebut kali ini dilaksanakan sangat sederhana.

Jumlah mereka yang terlibat ritual itu, termasuk melakukan persiapan "Mepepada" ritual penyucian bintang kurban yang dilaksanakan Rabu (4/10), sangat terbatas, yakni petugas adat dan pemangku lokal di Desa Pekraman Besakih.

Hal itu karena terkait dengan status Awas terhadap aktivitas vulkanik Gunung Agung (3.143 meter dari permukaan air laut).

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sejak Jumat (22/9) meningkatkan status Gunung Agung dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV). Status Awas tersebut hingga saat ini telah memasuki hari ke-13.

Wilayah steril yang semula radius enam kilometer dari puncak gunung itu diperluas menjadi sembilan kilometer, serta ditambah perluasan wilayah sektoral yang semula 7,5 kilometer menjadi 12 kilometer ke arah utara, timur laut, tenggara, dan selatan-barat daya.

Dengan demikian, kawasan suci Pura Besakih masuk dalam radius wilayah berbahaya yang harus dikosongkan. Namun, para pemangku selama ini secara bergantian dengan didampingi petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tetap melaksanakan persembahyangan di tempat suci terbesar di Pulau Dewata itu.

Persiapan piodalan yang digelar setahun sekali (420 hari sekali) hanya melibatkan prajuru dan mengurus desa adat setempat, sedangkan ritual penyucian bintang kurban atau "Mepepada" untuk kelengkapan ritual dilakukan sangat sederhana, tanpa mengurangi makna yang terkandung di dalamnya.

Ritual "Mepepada" yang dilaksanakan Rabu (4/10) sekaligus ritual khusus "Nedunang" atau menurunkan "Ida Bhatara", yakni manifestasi Tuhan Hyang Maha Esa sebagai Para Dewata pelindung umat.

Rangkaian ritual tersebut, menurut seorang pemangku (pemimpin ritual) Pura Penataran Agung Besakih, I Gusti Mangku Jana, dilaksanakan setiap tahun sekaligus merupakan bagian dari ritual "Loka Phala", yakni untuk menstabilkan alam semesta, baik secara mikro (manusia) dan makro (dunia).

Pura Besakih yang terdiri atas 16 kompleks pura yang merupakan satu kesatuan tak terpisahkan itu menyimpan ketenangan dan kedamaian. Konon, fondasinya dibangun Rsi Markandeya dari India pada zaman pemerintahan Raja Sri Udayana Warmadewa (1007 Masehi).

Seluruh umat Hindu di Pulau Dewata agar berdoa dan bersembahyang pada hari Purnama Kapat yang jatuh pada Kamis (5/10). Persembahyangan dapat dilakukan di pura desa adat atau tempat suci di masing-masing rumah tangga.

"Mari bersama-sama berdoa agar jagad (bumi) Bali dan Indonesia umumnya tetap tenteram dan damai. Umat yang ingin bersembahyang tidak harus datang ke Besakih, tetapi bisa 'ngastiti' dari 'Rong Tiga' tempat suci keluarga masing-masing," tutur Mangku Jana.

Lintas Agama Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali Prof Dr I Gusti Ngurah Sudiana mengatakan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) setempat telah menggagas untuk menggelar doa lintas agama pada Kamis (5/10) pukul 12.00 waktu setempat.

Umat beragama selain Hindu, dapat berdoa sesuai dengan tata cara agama masing-masing untuk memohon kedamaian alam semesta beserta seluruh isisnya.

Majelis Utama Desa Pakraman Provinsi Bali menindaklanjuti hal itu dengan mengeluarkan surat seruan tertanggal 3 Oktober 2017 yang khusus ditujukan kepada umat Hindu.

Doa lintas agama yang dilaksanakan oleh seluruh umat yang tinggal di Pulau Dewata untuk memohonkan kepada Tuhan supaya Gunung Agung di Kabupaten Karangasem tidak jadi erupsi.

Sekalipun erupsi, mereka diajak memohon lewat doa bersama untuk kedamaian semesta ini supaya dapat membawa kerahayuan dan keselamatan seluruh umat.

"Jika dilihat dari ajaran Hindu, kalau berdoa bersama-sama pada jam yang sama, hari yang sama dengan hati yang tulus untuk kerahayuan jagat, maka vibrasi itu melebihi dari berbagai doa kelompok yang dikatakan cukup hebat," ujar Sudiana yang juga guru besar Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar.

Doa bersama secara serentak itu bisa dilakukan di Pura Sad Kahyangan, Pura Dang Kahyangan, Pura Kahyangan Tiga, Pura Dadia, Pura Swagina, sanggah, tempat kerja. Intinya di manapun mereka berada.

Demikian pula seluruh pemangku agar berkumpul di pura masing-masing pada jam yang sama untuk berdoa. Bagi yang bekerja, bisa berdoa di tempat kerja, bagi yang sakit bisa berdoa dari tempat tidur. Oleh karena itu doa tidak akan putus.

Sementara itu Ketua FKUB Bali Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet menilai doa bersama sekaligus merupakan suatu penyatuan pikiran, perasaan, hati, dan keyakinan. Dia bersama itu mendoakan seluruh jagat raya supaya damai.

IMB Andi Purnomo dan I Ketut Sutika

Bali Gunung Agung

Denpasar, 04/09 (Benhil) Perpaduan sawah yang berundak-undak, lembah, pesisir pantai dan gunung merupakan panorama alam yang menambah daya tarik Bali, di samping keunikan seni budaya yang diwarisi masyarakat secara turun-temurun.

Bali sebuah pulau kecil dengan luas 5.632,86 kilometer persegi atau 0,29 persen dari luas Nusantara, memiliki kelengkapan unsur, mulai dari keberadaan empat danau, ratusan sungai, kawasan hutan yang menghijau dan lestari serta tiga buah gunung.

Salah satu dari tiga gunung di Pulau Dewata yakni Gunung Agung memiliki ketinggian 3.142 meter di atas permukaan laut yang dalam status Awas (level IV) sejak 22 September lalu akibat aktivitas vulkanik yang semakin meningkat.

Berita Berita Terkait Kondisi Gunung Agung
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian ESDM meningkatkan status Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali, dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas).

Dengan peningkatan status itu maka wilayah steril yang semula radius enam kilometer dari puncak gunung diperluas menjadi sembilan kilometer, serta ditambah perluasan wilayah sektoral yang semula 7,5 kilometer menjadi 12 kilometer ke arah utara, timur laut, tenggara, dan selatan-baratdaya.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika ketika mengadakan pertemuan dengan kalangan pariwisata setempat mengimbau wisatawan tidak ragu untuk berwisata ke Pulau Dewata, meskipun status Gunung Agung berada pada level Awas, karena kondisi daerahnya sampai saat ini tetap kondusif dan aman.

Jikapun terjadi hal yang paling buruk yakni gunung tertinggi di Bali itu mengalami erupsi, hanya akan berdampak langsung pada 28 desa atau desa dengan radius 12 kilometer dari kawah puncak Gunung Agung yang kini sudah mengungsi ke tempat yang aman.

Destinasi pariwisata seperti Nusa Dua, Kuta, Sanur, Perkampungan Seniman Ubud serta destinasi wisata lainnya yang berjarak sekitar 85 km dari Gunung Agung diperkirakan tetap dalam kondisi aman.

Karangasem, salah satu dari sembilan kabupaten/kota di Bali memiliki 78 desa, hanya 28 desa yang terdampak langsung, sisanya 50 desa diperkirakan aman. Begitu pula dengan tempat-tempat lainnya di Bali diperkirakan juga aman. Oleh sebab itu, ia mengimbau jangan ragu untuk berwisata ke Pulau Dewata.

Demikian pula masyarakat setempat menurut mantan Kapolda Bali itu, jangan terlalu khawatir yang berlebihan akan kondisi Gunung Agung. Jika dibandingkan dengan tahun 1963, saat Gunung Agung terakhir meletus, kondisi saat ini tentu berbeda.

Hal itu berkat mitigasi bencana sudah lebih bagus, peranan pemerintah lebih efektif tidak seperti dulu, di samping teknologi informasi makin canggih sehingga akan mampu menekan sekecil mungkin jika terjadi hal yang terburuk.

Oleh sebab itu daerah tujuan wisata Bali selalu dalam kondisi baik tidak ada yang perlu dikawatirkan, kalaupun Gunung Agung meletus semua sudah siap diantisipasi.

BPW Sosialisasi Gubernur Made Mangku Pastika juga mengharapkan kepada pelaku pariwisata untuk terus melakukan sosialisasi melalui biro perjalanan wisata (BPW) maupun Konsulat Jenderal yang ada di Bali terkait aktivitas gunungapi dan kondisi Bali sekarang.

Pihaknya juga berencana bertemu dengan para konsul yang ada di Bali untuk menyampaikan kondisi Bali sekarang sehingga tidak ada kesimpangsiuran informasi.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Agus Santoso dalam kesempatan terpisah menegaskan, penerbangan dari dan menuju Bali hingga saat ini belum terdampak kondisi Gunung Agung di Kabupaten Karangasem yang ditetapkan berstatus awas karena belum adanya debu vulkanik.

Selama status awas hampir dua seminggu ini tidak ada rasa khawatir terhadap penerbangan selama tidak ada debu vulkanik. Demikian juga ketika tingkat potensi debu vulkanik Gunung Agung dinaikkan menjadi "orange" oleh Vulcano Observatory Notice to Aviation (VONA) juga belum memiliki pengaruh bagi penerbangan di Bali yang masih normal.

Meskipun demikian selama status awas tersebut, pihaknya telah melakukan publikasi kepada para pilot dan pelaku penerbangan untuk ikut melaporkan jika melihat adanya debu vulkanik.

Apabila menemukan pergerakan debu vulkanik, maka pilot dapat memberikan laporan kepada petugas di darat agar dapat diantisipasi. Sampai saat ini tidak ada keluhan dan laporan pilot. Citra satelit juga belum ada laporan debu vulkanik.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang sempat menyerahkan bantuan kepada para pengungsi Gunung Agung juga telah mengambil langkah antisipasi antara lain menggandeng Direktorat Jenderal Perhubungan Darat untuk menyediakan sekitar 300 bus untuk mengangkut calon penumpang yang ingin memilih jalur darat apabila gunungapi itu erupsi.

Selain itu menyiapkan sepuluh bandara terdekat untuk mengantisipasi pengalihan penerbangan yakni untuk radius terdekat dari Bali yakni Bandara Lombok, Bandara Blimbingsari Banyuwangi dan Bandara Juanda Surabaya.

Selain itu, radius kedua yakni Bandara Adi Sumarmo Solo, Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Bandara Pattimura Ambon, Bandara Sepinggan Balikpapan, Bandara El Tari Kupang, Sam Ratulangi Manado dan Soekarno-Hatta Jakarta.

Penundaan Wisman Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati memprediksi dalam periode Oktober hingga November 2017, sekitar 70 ribu wisatawan mancanegara menunda liburannya ke Pulau Dewata terkait status Awas dari Gunung Agung.

Pihaknya telah mendata kunjungan turis yang rencananya berlibur ke Bali maupun mengikuti pertemuan dalam dua bulan itu menurun sekitar 20 persen atau 70.000 orang.

Tokoh Puri Perkampungan seniman Ubud itu mengharapkan jika aktivitas kegempaan vulkanik Gunung Agung mulai melemah agar diimbangi dengan menurunkan status awas gunung tersebut.

Karena penurunan status Awas itu bukan menjadi kewenangan dari Gubernur Bali. Oleh sebab itu komponen pariwisata akan berusaha menjelaskan kepada wisatawan bahwa sebenarnya status Awas itu diperuntukkan bagi wilayah yang berada dalam radius hingga 12 kilometer dari puncak Gunung Agung.

Demikian pula dengan kekhawatiran terhadap akses bandara jika benar terjadi erupsi, penutupan akses akan sangat tergantung dari arah angin.

Pria yang akrab disapa Cok Ace mencontohkan seperti halnya dampak letusan Gunung Raung di Jawa Timur, dan Gunung Rinjani di Nnusa Tenggara Barat Meskipun gunung tidak berada di Bali telah menyebabkan buka tutup penerbangan di Bandara Ngurah Rai, Bali.

Pada bulan Oktober setiap tahunnya juga belum termasuk "peak season" atau musim puncak kunjungan ke Bali. Saat ini untuk tingkat hunian hotel di kawasan Nusa Dua, Kabupaten Badung, rata-rata 65 persen. Sedangkan di luar kawasan Nusa Dua, tingkat huniannya masih di bawah 60 persen.

Wisman yang berlibur ke Bali paling banyak dari China (26,21 persen), kemudian Australia 18,57 persen), India 4,38 persen), Jepang 4,33 persen), Inggris 4,15 persen, Amerika Serikat 3,37 persen, Korea Selatan 3,13 persen, Prancis 3,10 persen dan berbagai negara lainnya 26 persen. (Ben/An)

Luh Rhismawati & Ketut Sutika

Batik Bali

Denpasar, 1/10 (Benhil) - Keindahan Pulau Dewata, tak hanya memukau lewat pemandangan bentangan memanjang pantainya dengan pasir yang memutih.

Namun, keelokan 'the lost paradise' ini dapat pula dihayati melalui goresan tangan yang terwujud pada sehelai karya batik.

Karya batik itu dapat dijumpai di ruas jalan Desa Tohpati, Denpasar Timur. Belakangan ini, Desa Tohpati telah menjadi destinasi wisata budaya yang menjadi titik perhatian wisatawan lokal dan mancanegara dengan fokus pada batik Bali sebagai kearifan lokal setempat.

Kearifan penduduk lokal yang mempertahankan karya seni batik menjadi 'warna' daerah dengan mendirikan butik, toko, atau "art shop" batik, yang akhirnya menggerakkan laju bisnis wisatawan untuk bertandang dan tak sedikit pula yang mengikuti "workshop" membatik.

"Wisatawan tidak hanya berminat untuk membeli batik-batik produksi Tohpati. Tidak sedikit pula yang menginginkan belajar langsung cara membatik," ujar salah seorang staf di Phalam Batik & Souvenirs, Wiwik Wahyuningsih.

Menurut Wiwik, Phalam Batik sudah berdiri sejak tahun 1988, dan telah menjadi ajang berwisata bagi sejumlah pelancong yang ingin membeli produk batik sebagai cenderamata bagi keluarga atau kerabat.

Produk batik Bali ini tidak hanya berwujud kain lembaran, melainkan juga dikreasi menjadi dasi, gaun, kemeja, tas, ikat kepala, dompet dan berbagai bentuk kerajinan lainnya.

Batik di Tohpati, nyaris tidak berbeda motifnya dengan daerah lain di Pulau Bali. Motifnya masih mempertahankan ciri tradisional dengan menampilkan rusa, naga, kura-kura atau burung. Belakangan motif yang berkembang ialah bertema dekorasi atau pemandangan alam, yang dipadukan dengan warna cerah.

"Proses membatik ini ada tiga jenis, yakni batik tulis, cap dan print (cetak). Untuk harganya ya variatif. Mulai dari Rp.200 ribu hingga Rp.6 juta. Tergantung kerumitan motif, ukuran dan jenis kain yang dipergunakan," ujar Wiwik.

Bagi wisatawan yang ingin belajar membatik, lanjut dia, maka dipersilahkan untuk datang dan belajar sampai menguasai teknik membatik dengan benar. Masing-masing wisatawan yang berminat mengikuti paket membatik, dikenakan biaya Rp.250 ribu/orang. 


Pelopor Batik Bali 

Batik sebagai salah satu budaya Indonesia, telah tersohor di dunia. Sementara di Bali, sejarah batik diawali melalui kiprah tokoh Pande Ketut Krisna pada tahun 1970-an.

Pande Ketut Krisna yang berasal dari Banjar Tegeha, Desa Batubulan, Sukawati, Kabupaten Gianyar, menjadi pelopor kebangkitan seni batik di Bali sampai mengalami perkembangan pesat. Batik bahkan telah menjadi komoditas yang diminati di era sekarang.

Tingginya peminat batik ini, dapat dilihat dari lalu lalangnya wisatawan yang menyempatkan diri untuk singgah ke Tohpati setiap hari. Mereka ingin mencari batik, sebagai oleh-oleh sebelum pulang ke negara masing-masing.

Seorang pemandu wisata Wayan Tompi menyatakan, dalam seminggu dirinya bisa dua atau tiga kali membawa wisatawan untuk mencari batik di Tohpati.

"Objek wisata batik di Bali 'kan hanya di Tohpati. Di sini banyak pilihan 'art shop' batik dengan kekhasan tersendiri," ujar Wayan Tompi, pemandu wisata asal Ubud, Gianyar.

Menurut dia, wisatawan yang berminat ke Tohpati mayoritas dari Eropa, Australia, Jepang dan Amerika Serikat. Namun tidak jarang, wisatawan dari Timur Tengah atau Afrika pun ingin diantarkan untuk membeli produk batik.

Wayan Tompi menyatakan, wisatawan Jepang cenderung menyukai batik dengan motif yang lembut dan corak tidak terlalu ramai. Berbeda dengan wisatawan dari Eropa yang cenderung memilih batik dengan tampilan mencolok.

Dia melanjutkan, masa-masa ramai wisatawan di Bali, adalah masa liburan akhir tahun, tetapi di luar waktu liburan akhir tahun pun, hampir setiap hari wisatawan asing selalu berdatangan untuk kunjungan wisata. Diantara pelancong yang dipandunya untuk piknik, selalu ada saja yang minta diantarkan guna membeli batik.

"Kalau dulu, wisatawan ingin membeli batik dalam bentuk kain untuk digunakan sebagai baju bawahan, tapi kini peminat batik lukisan juga semakin banyak. Batik lukisan ini lazim digunakan dekorasi ruangan," ujar dia.

Batik lukisan Batik lukisan sudah lazim dijumpai di berbagai toko batik di wilayah Tohpati. Batik lukisan ini memiliki motif beragam dan menjadi pilihan cenderamata khas Bali yang terlihat unik.

"Batik lukisan yang banyak diminati itu dengan motif pemandangan Bali. Seperti sawah berundak-undak, bangunan pura, bunga, dan belakangan lukisan patung Buddha banyak dicari wisatawan," ucap Toro S, seorang pelukis sket batik lukisan di Batik Legong, Tohpati.

Sejak tahun 1987, pria asal Yogyakarta ini sudah merantau ke Bali dan mengadu nasib untuk menjadi pelukis. Ternyata, Toro kemudian justru mendapat tawaran menjadi pelukis sket lukisan, yang kemudian diproses menjadi karya batik. Hasilnya diberi nama batik lukisan.

"Batik lukisan yang berukuran 45 cm x 50 cm harganya Rp.75 ribu. Ukuran ini yang banyak diminati, karena praktis jika dibawa," ujar Toro.

Proses membuat batik lukisan, kata dia, bisa memakan waktu tiga hari atau seminggu. Tergantung ukuran kain yang digunakan.

Proses membuat batik lukisan meliputi beberapa tahap. Setelah disket, diberi lapisan 'malam' dan diwarnai, kemudian kain direbus pada air panas. Tujuan perebusan untuk meluruhkan malamnya, lalu kain yang sudah berisi corak batik itu dijemur atau diangin-anginkan sampai benar-benar kering. Setelah kering, kain langsung siap dipajang, dengan lebih dulu dibingkai menggunakan pigura.

"Malam yang digunakan berasal dari Yogyakarta. Malam ini tidak bisa digunakan berkali-kali. Hanya sekali pakai. Kalau dipakai berkali-kali, maka bisa retak dan warna kain menjadi campur baur. Tentu hasilnya lukisan batiknya nanti menjadi cacat," katanya.

Sampai kini, dirinya tidak habis bersyukur menekuni pekerjaan sebagai pembuat sket batik lukisan. Pekerjaan ini baginya, merupakan ekspresi berkesenian untuk mengabadikan keindahan Bali, apalagi wisatawan suka, baik wisatawan lokal yang umumnya dari Jakarta, atau pelancong dari negara lain.

"Buktinya sudah lebih dari 20 tahun saya menjadi pembuat sket batik lukisan, ternyata sampai saat ini, produk batik lukisan tetap diminati wisatawan. Batik lukisan bagi saya tetap harus dipertahankan keberadaanya sebagai oleh-oleh wajib dari Bali," tuturnya. (Ben/An)

Tri Vivi Suryani

Gunung Agung

Denpasar, 1/10 (Benhil) - Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, wilayah timur Bali, yang memiliki ketinggian 3.143 meter, sejak 22 September 2017 berstatus Awas, Level IV. Hingga Minggu (1/10) telah memasuki hari kesepuluh, tetap mempunyai potensi erupsi, dengan estimasi ketinggian letusan 5-10 kilometer.

Sejak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral meningkatkan status Gunung Agung menjadi Awas, wilayah steril yang semula radius enam kilometer dari puncak gunung itu, diperluas menjadi sembilan kilometer.

Selain itu ditambah perluasan wilayah sektoral yang semula 7,5 kilometer menjadi 12 kilometer ke arah Utara, Timur Laut, Tenggara dan Selatan-Baratdaya sehingga kawasan yang berbahaya dalam radius 12 kilometer dari Gunung Agung harus dikosongkan.

Meskipun aktivitas gunung terus meningkat, hanya masyarakat di 27 desa di lereng Gunung Agung yang masuk dalam kawasan rawan bencana yang diwajibkan untuk mengungsi ke tempat aman, seperti ditegaskan Gubernur Bali Made Mangku Pastika.

Dengan demikian sebanyak 51 desa lainnya dari 78 desa yang ada di Kabupaten Karangasem diprediksi tidak masuk wilayah terdampak erupsi Gunung Agung dan warga dari daerah tersebut disarankan kembali ke desa masing-masing.

Total pengungsi hingga Jumat (29/9) malam 144.380 orang tersebar di 430 titik di delapan kabupaten dan satu kota di Bali, hampir dua kali lipat dari perkiraan sebelumnya sekitar 70 ribu orang.

Jika masyarakat itu dibiarkan di pengungsian dikhawatirkan beban pemerintah dan tim penanggulangan bencana sangat berat. Untuk itu perlu kesadaran dan pengertian masyarakat untuk kembali dan mengikuti instruksi dari petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD) setempat.

Ke-27 desa yang masuk dalam kawasan rawan bencana (KRB) Gunung Agung yang diwajibkan mengungsi terdiri atas tujuh desa di Kecamatan Kubu meliputi Desa Tulamben, Kubu, Dukuh, Baturinggit, Sukadana dan Tianyar (Tianyar tengah dan barat aman).

Lima desa di Kecamatan Abang terdiri atas Desa Pidpid (bagian atas), Nawekerti, Kesimpar, Datah (bagian atas) dan Ababi (atas dan barat). Di Kecamatan Karangasem tiga desa meliputi Padangkerta, Subagan dan Kelurahan Karangasem (dekat Tukad Janga).

Di Kecamatan Bebandem terdapat empat desa yang warganya harus mengungsi meliputi Buwana Giri (bagian atas), Budekeling (dekat Sungai Embah Api), Bebandem (bagian atas) dan Jungutan.

Warga dari desa-desa di Kecamatan Selat dan Rendang juga wajib mengungsi yakni Duda Utara, Amerta Buwana, Sebudi, Peringsari, Muncan, Besakih, Menanga dan Pembatan.

Bekerja cepat Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengaku bingung masyarakat yang mengungsi terus membengkak, karena kekhawatiran, rasa panik dan tidak memiliki pengetahuan tentang kebencanaan.

Oleh sebab itu tim penanggulangan bencana diminta bekerja cepat mengembalikan para pengungsi yang ada di luar KRB ke desa masing-masing untuk beraktivitas seperti biasa.

"Saya yang menjamin jika masyarakat yang tinggal di luar kawasan rawan bencana (KRB) aman. Jika memang terjadi letusan baru kemudian dilakukan tindakan pengamanan lanjutan," ujar Gubernur Pastika.

Sementara Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kasbani menyatakan tidak bisa memprediksi kapan Gunung Agung meletus meskipun aktivitas vulkaniknya semakin meningkat, sesuai hasil pengamatan di pos pemantauan di wilayah Rendang.

Setiap gunung memang memiliki sifat masing-masing yang tidak dapat diprediksi waktu erupsinya secara pasti. Terlebih Gunung Agung yang telah "istirahat" selama 54 tahun sejak meletus terakhir tahun 1963.

Sebelumnya gunung tertinggi di Bali itu pernah tiga kali meletus yakni tahun 1808, kemudian 13 tahun kembali erupsi tahun 1821 dan yang ketiga pada 1843 atau berselang selama 22 tahun.

Aktivitas vulkanik di Gunung Agung terkait jumlah kuantitas dan kualitas gempa yang fluktuatif, kadang naik kadang turun. Secara umum tingkat gempanya sangat tinggi dan potensi letusan pun tetap tinggi.

PVMBG tidak dapat memastikan perkiraan letusan Gunung Agung sama dengan Merapi di Yogyakarta yakni menjelang letusan (erupsi) terjadi penurunan kuantitas dan kualitas gempa vulkanik, namun, mengalami kenaikan gempa vulkanik.

PVMBG mencatat aktivitas Gunung Agung (3.142 mdpl) periode pengamatan (29/9) terpantau cuaca cerah. Angin bertiup lemah ke arah barat. Suhu udara 20-23 celcius dan kelembaban udara 90-92 persen.

Asap kawah muncul bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi 50-200 meter di atas kawah puncak. Aktivitas kegempaan vulkanik dangkal dengan jumlah 40, Amplitudo: 2-5 mm dengan durasi antara 7-10 detik).

Vulkanik dalam dengan jumlah sebanyak 125, Amplitudo antara 4-8 mm dengan durasi antara 10-30 detik. Tektonik Lokal degan jumlah lima, amplitudo 8 mm, S-P: 6-9 detik Durasi: 40-65 detik). Gempa terasa dengan jumlah satu, Amplitudo: 8 mm, S-P: 0 detik dan dengan durasi 65 detik.

Sementara Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei, memuji upaya pemerintah daerah di Pulau Dewata dalam menangani 144.389 orang pengungsi tersebar di 430 titik di delapan kabupaten dan satu kota di Bali.

Kerja sama dari seluruh elemen masyarakat di Bali sangat baik, sehingga dalam situasi darurat menjadi lebih mudah ditangani. Masyarakat bahu membahu membantu menghimpun dana secara sukarela, hingga menyediakan tempat pengungsian.

Tugas ke depan adalah bagaimana percepatan pengendalian pengungsi di lapangan. Yang mengungsi hanya yang tinggal di wilayah KRB. Yang lain (status aman) kembali ke rumah masing-masing. Masalah yang juga penting adalah penanganan ternak ke wilayah aman yang sudah dilakukan.

Pengungsi Gunung Agung

Denpasar, 29/9 (Benhil) - Kebersamaan dan keterpaduan berbagai elemen masyarakat, pemerintah, TNI-Polri mewarnai penanganan pengungsi dari lereng Gunung Agung yang kini berstatus Awas (level IV) dengan estimasi ketinggian potensi erupsi antara 5-10 kilometer.

Gunung tertinggi di Bali itu memasuki hari kedelapan (28/9) sejak ditingkatkan status aktivitas vulkaniknya dari Siaga menjadi Awas. Masyarakat telah menjauhi gunung untuk mengungsi ke tempat yang aman Jumlah mereka yang mengungsi setiap hari terus meningkat.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mencatat jumlah pengungsi terkini 96.086 jiwa tersebar di 430 titik di delapan kabupaten dan satu kota di Bali.

Mereka menempati fasilitas umum, balai banjar, balai desa, maupun rumah milik masyarakat yang diberikan secara cuma-cuma, sebagai bentuk solidaritas dan ikut ambil bagian masyarakat dalam menanggulangi masalah sosial akibat bencana alam.

Hampir setiap balai banjar, balai desa, dan posko utama GOR Swecapura Kabupaten Klungkung ditempati para pengungsi, serta ratusan titik lainnya yang ditempati para pengungsi.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa yang sempat meninjau para pengungsi Gunung Agung (3.143 meter dari permukaan air laut) di GOR Swecapura mengungkapkan bahwa negara memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan pangan kepada para pengungsi dari gunung tersebut.

Oleh sebab itu, dukungan logistik pengungsi harus dapat terpenuhi dengan baik. Jika mengacu pada Peraturan Menteri Sosial Nomor 20 Tahun 2012 pasal 11 dan 12, dalam kondisi darurat saat ini pengungsi harus mendapatkan layanan, termasuk tercukupi kebutuhan makanan.

Pemkab Karangasem telah mengeluarkan 100 ton beras cadangan, berdasarkan surat keputusan darurat. Beras itu telah habis didistribusikan ke kantong-kantong pengungsian.

Kementerian Sosial kini sedang nunggu surat keputusan dari Gubernur Bali untuk mengeluarkan cadangan beras pemerintah untuk jatah provinsi itu hingga 200 ton, agar pemerintah pusat dapat mengeluarkan cadangan beras pemerintah (CBP) ketika alokasi dari pemerintah provinsi telah habis dimanfaatkan.

"Sebetulnya sekarang itu kami sedang menunggu surat untuk diputuskan darurat oleh gubernur supaya bisa mengeluarkan cadangan beras pemerintah sampai 200 ton. Kalau itu juga sudah terpakai, baru Kementerian Sosial bisa mengeluarkan (beras) 'unlimited'," ujar Mensos Khofifah Indar Parawansa.

Ditinjau Presiden Joko Widodo dalam kunjungan kerja selama dua hari di Bali, 25-26 September 2017, sempat meninjau dan bertatap muka dengan para pengungsi di tiga lokasi, yakni Posko Ulakan, Tanah Ampo Kabupaten Karangasem, dan GOR Swecapura.

Kepala Negara pada kesempatan itu, menyerahkan bantuan logistik senilai Rp7,2 miliar yang disalurkan ke kantong-kantong pengungsian, antara lain berupa matras 18.230 lembar, masker 520.000 lembar, beras 12 ton, ember 2.000 buah, gayung 2.000 buah, dan perlengkapan bayi 1.100 paket.

Menurut Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat, besarnya bantuan itu merupakan upaya pemerintah dalam memberikan perlindungan kepada pengungsi.

Kementerian Sosial juga sudah menyalurkan berbagai bantuan logistik senilai Rp4,8 miliar, antara lain berupa bahan makanan, tenda, dan perlengkapan pengungsian.

Pemerintah kabupaten/kota di Bali yang menampung para pengungsi Gunung Agung juga menyalurkan kebutuhan bahan pokok, pelayanan kesehatan, serta memfasilitasi pendidikan bagi anak-anak di sekolah terdekat tempat penampungan sementara.

Demikian pula Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi bersama panitia "Europe Meeting-Transport Minister Meeting (ASEM-TMM)" yang tengah berlangsung di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, menyerahkan bantuan yang terkumpul berupa beras 55 ton serta beberapa jenis bantuan lainnya.

Kemenhub juga menyiagakan lima bus Damri, tiga di antaranya sudah di lokasi pengungsian dan dua bus lainnya menyusul. Bantuan alat transportasi itu diberikan setelah melakukan komunikasi dengan pengungsi yang membutuhkan alat transportasi untuk kelancaran anak-anak pengungsi ke sekolah.

Meskipun membutuhkan bus sebagai sarana tranportasi, pelayanan para pengungsi di berbagai tempat penampungan sementara selama ini dinilai cukup baik.

"Saya memberikan apresiasi terhadap penanganan pengungsi oleh pemerintah daerah. Beberapa saya tanya sudah mengaku nyaman, makan cukup, dan tidak kekurangan suatu apapun," tutur Menhub Budi Karya Sumadi.

Tidak Selamanya Gubernur Bali Made Mangku Pastika menginstruksikan pengecekan jumlah balai banjar (dusun), balai desa, dan fasilitas umum yang ada di setiap desa di luar kawasan rawan bencana Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, untuk menampung para pengungsi.

Hal itu dilakukan karena pengungsi tidak bisa selamanya tinggal dalam tenda, sehingga harus dicarikan tempat yang aman agar terhindar dari masalah, seperti kebanjiran atau bocor jika terjadi hujan maupun panas.

Hal itu, sebagai antisipasi jika para pengungsi Gunung Agung harus tinggal dalam waktu yang lama di tempat penampungan sementara. Hal itu belajar dari pengalaman letusan Gunung Agung pada 1963 yang situasinya bisa normal kembali setelah meletus membutuhkan waktu selama satu tahun.

Persiapan itu dilakukan karena semua pihak tidak tahu kapan akan gunung berapi itu meletus, dan kalaupun meletus harus berapa lama untuk kembali normal sehingga mereka bisa kembali ke rumah masing-masing.

Dalam selang waktu tersebut, pemerintah harus mampu memberikan mereka tempat yang lebih layak. Mereka tidak bisa selamanya di tenda-tenda seperti sekarang.

Oleh sebab itu, setiap banjar di daerah ujung timur Pulau Bali akan dikoordinasikan oleh kelian banjar atau kepala dusun adat, dan di wilayah desa oleh kepala desa sehingga memudahkan pemerintah dalam menyalurkan bantuan logistik serta mendata jumlah para pengungsi.

Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta yang wilayahnya sebagai tetangga terdekat dengan Karangasem mengumpulkan seluruh camat dan perbekel untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya mereka memberikan pelayanan yang terbaik kepada pengungsi.

Jumlah pengungsi di Klungkung tercatat 19.456 orang tersebar di 162 titik. Jumlah itu diperkirakan terus meningkat jika Gunung Agung benar-benar erupsi.

Oleh sebab itu, perlu kesiapan semua pihak dalam menerima pengungsi tambahan, di samping menangani masyarakat desa-desa yang rawan dampak letusan Gunung Agung di Kabupaten Klungkung, seperti wilayah Desa Selat, Desa Tegak, Desa Akah, Kelurahan Semarapura Kangin, Desa Tangkas, Desa Jumpai, Desa Sulang, dan Desa Gunaksa.

Untuk itu, semua dapat mengukur kemampuan daya tampung pengungsi di desanya masing-masing dan melaporkan ke Posko BPBD setempat.

"Selain itu, daerah yang termasuk zona rawan erupsi Gunung Agung dapat menyosialisasikan tindakan-tindakan antisipasi jika terjadi letusan Gunung Agung," ujar Bupati Suwirta. (Ben/An)

Saren Jawa


Gemuruh riuh penonton memadati panggung terbuka "Ardha Candra Taman Budaya" (Art Centre), Denpasar, Bali. Mereka bertepuk tangan ketika pertunjukan kesenian tradisional Cakepung telah usai.

Serentak puluhan pemain Cakepung melangkah ke tengah, menangkupkan tangan di dada dan berbalik masuk ke belakang panggung.

Grup kesenian Cakepung yang baru saja berpentas pada perhelatan Pesta Kesenian Bali (PKB) 2017 pada 10 Juni-8 Juli itu, berasal dari Desa Budakeling, Karangasem.

Grup ini telah didirikan sejak puluhan tahun silam, dan sudah melanglang ke berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, telah berpentas hingga mancanegara.

Kesenian Cakepung di Budakeling merupakan kolaborasi kesenian tradisional antara umat Hindu dan Islam.

"Pemain Cakepung berasal dari delapan dusun di Budakeling," ujar Kepala Wilayah Dusun Saren Jawa, Desa Budakeling, Ketut Ayu Mudin SAR.

Bahkan, kolaborasi kesenian Islam-Hindu tidak hanya terwujud pada Cakepung, melainkan juga pada perhelatan kesenian Burdah, Rudat, dan lainnya.

Kolaborasi ini mampu melahirkan jenis kesenian yang khas dan berbeda, yang akhirnya menjadi tradisi dan senantiasa dipergelarkan setiap ada kegiatan pentas budaya, khususnya di wilayah Budakeling.

Kebersamaan dan tingginya toleransi antarumat beragama di wilayah ini, tidak hanya terwujud melalui kolaborasi seni budaya. Kegiatan lain yang menjadi penanda harmonisnya hubungan antara umat Hindu dan Islam di Saren Jawa, juga nampak ketika 10 Muharam tiba.

Setiap 10 Muharam, warga Saren Jawa mengadakan acara Haul Makam. Bertempat di makam Raden Kyai Abdul Djalil, pendiri Dusun Saren Jawa.

"Saat itu, kami mengundang saudara-saudara umat Hindu untuk menikmati hidangan bersama-sama dengan penduduk Saren Jawa. Suasana persaudaraan itu terasa begitu indah dan mendamaikan," ujar lelaki yang akrab dipanggil Habib Ketut ini.

Makam Raden Kyai Abdul Djalil terletak di seberang Balai Dusun Saren Jawa. Tokoh spiritual yang berasal dari Demak, Jawa Tengah ini, meninggal pada 1460.

Dahulu, Raden Kyai Abdul Djalil pernah membangun masjid pertama di kawasan Budakeling. Masjid itu memiliki atap "tumpang" atau tingkat 11, menyerupai bentuk bangunan pura. Namun, beberapa tahun silam, masjid bertumpang 11 itu mengalami kebakaran.

Keharmonisan sikap toleransi tak hanya terlihat di wilayah Dusun Saren Jawa, yang dihuni 140 kepala keluarga ini. Dusun-dusun lain di Desa Budakeling terbiasa saling mengundang para tokohnya, bila ada upacara ngaben, potong gigi, pernikahan atau upacara "otonan".

"Jika memasuki Bulan Ramadhan, kami kemudian diundang pihak Griya Budakeling yang mengadakan kegiatan berbuka bersama. Entah sejak kapan acara buka bersama antara umat Islam dan Hindu ini diadakan. Yang jelas sejak masih kecil, saya sudah sering diajak ayah untuk mendatangi undangan berbuka puasa dari saudara umat Hindu," ucap Habib Ketut.

Kuatnya persaudaraan ini, membuat penduduk di Saren Jawa yang beragama Muslim tak segan memberi nama depan anak-anaknya dengan sebutan "Putu", "Made", "Komang", atau "Ketut". Seperti umumnya nama-nama warga Bali lain. Misalnya, Komang Hasan Basri atau Made Siti Aminah.

Bahkan, kitab wariga atau buku mengenai perwatakan di Dusun Saren Jawa menggunakan huruf Arab, namun berbahasa Bali. Kitab ini dilengkapi juga dengan gambar pewayangan. Kitab ini sekarang tersimpan di rumah Habib Ketut, dan pernah mendapat perawatan dari salah seorang warga Jerman yang berkunjung, supaya tidak mengalami kerusakan.

Studi Banding Toleransi Perhatian orang asing terhadap Dusun Saren Jawa, telah terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Dusun yang terletak sekitar 70 km dari Denpasar ini, sering menjadi tempat studi banding keberhasilan dan keharmonisan suatu toleransi antarumat beragama.

Pada 2011, perwakilan dari 40 negara datang untuk mengetahui secara langsung kehidupan penduduk Saren Jawa yang dapat hidup rukun berdampingan dengan umat agama lain.

Berikutnya, beberapa tokoh dari negara lain, yang berminat pula untuk mempelajari sejarah dusun dan sejumlah adat istiadat yang biasa dilangsungkan di Saren Jawa, termasuk adat Safaran yang merupakan tradisi berbondong-bondong datang ke tepi sungai dan warga makan ketupat bersama-sama.

Hal lain yang menarik minat peneliti asing sehingga datang ke Dusun Saren Jawa, tidak lain karena ingin mengetahui secara rinci riwayat hidup Raden Kyai Abdul Djalil.

Nama besar tokoh ini tetap terjaga sampai sekarang, terbukti makamnya masih sering menjadi tempat berziarah para pengunjung dari dalam dan luar negeri.

"Kami masih menelusuri sejak tahun berapa Raden Kyai Abdul Djalil datang ke Bali. Mengenai alasan beliau datang ke Budakeling, menurut keterangan leluhur, dikarenakan dahulu di Desa Budakeling pernah ada sapi badak berukuran sangat besar yang sedang mengamuk. Banyak penduduk menjadi korban. Akhirnya datang Raden Kyai Abdul Djalil dan berhasil mengalahkan sapi itu. Atas jasa ini, beliau pun dianugerahi wilayah yang belakangan disebut Saren Jawa," tuturnya.

Pengajaran dan keteladanan tokoh Raden Kyai Abdul Djalil untuk hidup penuh toleransi dan menganyam kebersamaan dengan umat agama lain, memang sudah lama berlalu.

Meski demikian, telah dipetuahkan semenjak ratusan tahun lalu, bahwa ajaran untuk hidup berdampingan dengan penuh sikap toleransi itu tetap lestari sampai lintas generasi.
Tri Vivi Suryani
Penulis buku dan artikel lepas, tinggal di Bali

Gunung Agung

Sejumlah warga Desa Tianyar, lereng Gunung Agung, yang masuk daerah rawan bencana enggan mengungsi dengan alasan ternak piaraannya berupa sapi dan babi tidak ada yang merawat dan mengawasinya.

Oleh sebab itu, mereka tetap bertahan meskipun sebagian besar warga desa di lereng gunung itu telah berbondong-bondong mengungsi sejak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PWMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM meningkatkan status Gunung Agung (3.143 meter) di Kabupaten Karangasem, Bali, dari Level III (Siaga) menjadi Level IV atau Awas sejak Jumat (22/9) malam, tutur warga setempat Jero Mangku Puseh.

Ia bersama puluhan warga lainnya memilih tetap bertahan. Alasannya takut sapi ternak piaraannya yang menjadi sumber kehidupan keluarga dicuri orang.

Demikian pula, beberapa warga lainnya di Desa Tianyar, yang masuk dalam radius 12 km dari Gunung Agung atau dalam kawasan rawan bencana (KRB) memilih tetap bertahan di rumahnya walaupun sudah mendapat perintah untuk mengungsi pascapeningkatan aktivitas Gunung Agung.

Jero Mangku Puseh, pemimpin ritual agama Hindu di desa tersebut, mengaku sebagian besar warganya sudah mengungsi ke tempat aman ke posko pengungsian Desa Les dan tempat penampungan lainnya di Kabupaten Buleleng.

Begitu pula, aktivitas galian C di Desa Tianyar yang berlokasi di sebelah utara Gunung Agung hingga Minggu (24/9) masih berjalan seperti biasa. Sejumlah kendaraan berat berisi pasir melintas di sepanjang jalan utama yang menghubungkan Kabupaten Karangasem dengan Kabupaten Buleleng.

Pengungsi terus mengalir hingga kini mencapai 2.745 kepala keluarga (KK) atau 15.124 jiwa trsebar pada 126 titik tersebar di delapan kabupaten dan satu kota di Pulau Dewata, seperti yang diungkapkan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Daerah (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho.

Jumlah itu diperkirakan masih akan terus bertambah karena Pemkab Karangasem memperkirakan warga yang bermukim di lereng Gunung Agung dalam radius 6 kilometer sebanyak 15.000 jiwa dan radius 12 kilometer sekitar 100.000 orang.

Komandan Kodim 1623 Karangasem Letkol Inf. Fierman Sjafierial Agustus bersama tim gabungan lainnya telah meningkatkan penyisiran di daerah rawan bencana untuk mengevakuasi warga yang masih bertahan di beberapa desa sekitar Gunung Agung.

Dalam Rapat Koordinasi Darurat Gunung Agung, dia meminta warga lereng Gunung Agung dalam radius 12 kilometer untuk mematuhi instruksi petugas sebagai upaya mengantisipasi kemungkinan terburuk, misalnya terjadi erupsi Gunung Agung.

Fierman yang juga Komandan Satuan Tugas Siaga Darurat Gunung Agung itu mengklaim evakuasi hampir 100 persen dilakukan di kawasan rawan bencana (KRB) III yang merupakan zona merah dan KRB II yang merupakan zona merah muda.

Namun, tidak jarang beberapa warga, terutama yang memiliki ternak, kembali ke desa untuk memberi makan ternak yang tidak ikut diungsikan.

Ia berkali-kali telah mengimbau warga untuk turun dari lereng gunung karena berbahaya mencermati status awas Gunung Agung sejak Jumat (20/9).

Jual Ternak Sementara itu, Wayan Pasek (45), warga Banjar Temukus, Desa Besakih, Kabupaten Karangasem yang juga masuk dalam radius rawan bencana memilih menjual ternak sapinya secara murah seiring dengan meningkatnya aktivitas Gunung Agung.

Bahkan, ternak sapi piaraanya itu dijual pada hari Rabu (20/9), 2 hari sebelum Gunung Agung ditingkatkan statusnya menjadi Awas atau Level IV.

Sapi piaraannya dijual di Pasar Beringkit, Kabupaten Badung, laku seharga Rp9 juta per ekor, padahal biasanya bisa mencapai Rp12 juta. Hal itu terjadi karena membeludaknya jumlah sapi kiriman ke Pasar Beringkit sehingga harganya murah.

Banjar Temukus, Desa Besakih, yang terdiri atas 200 kepala keluarga itu sebagian besar merupakan petani pemelihara sapi dan perkebunan bunga gumitir untuk memenuhi kebutuhan ritual yang digelar umat Hindu.

Wayan Pasek mengaku ikhlas tidak mempermasalahkan sapi peliharaannya dijual murah daripada nanti ketika terjadi bencana semuanya akan hilang. Hal itu juga dilakukan beberapa tetangganya.

Desa Besakih, termasuk pura terbesar umat Hindu di Bali itu berada dalam radius 6 km dari Gunung Agung yang kini sudah seluruhnya mengungsi ke 126 titik di delapan kabupaten dan satu kota di Bali.

Sementara itu, Oka Mantara, warga dari Desa Jehem, Kabupaten Bangli, sekitar 12 km barat Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem mengusulkan ternak piaraan masyarakat di daerah rawan bencana ikut dievakuasi.

Pihaknya memiliki lahan yang cukup luas yangdapat dimanfaatkan secara cuma-cuma untuk menampung ternak milik para pengungsi daerah rawan bencana.

Dengan demikian, ternak piaraan masyarakat tidak perlu dijual murah dan tidak harus bertahan di daerah rawan bencana yang mempunyai risiko tinggi.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho yang berada di Bali sejak awal September 2017, pada saat aktivitas Gunung Agung mulai meningkat, menilai rasa solidaritas sesama masyarakat Bali sangat tinggi yang ditunjukkan dengan banyak warga yang menawarkan rumah dan bangunannya sebagai tempat pengungsian.

Seorang warga Pejeng timur, Kabupaten Gianyar, misalnya, bisa menampung pengungsi 50 orang. Dia menyiapkan fasilitas air bersih, tempat tidur, dan makanan sehari-hari.

Demikian pula, I Nyoman Suardika di Kabupaten Klungkung menyediakan tempat penampungan ternak di Besang Kawan untuk para pengungsi secara gratis.

Selain itu, dia juga menyediakan tempat pengungsian di dekat kediamannya untuk kapasitas 30 orang sehingga pengungsi yang membawa ternak sapi bisa mencari pakan ternak di sekitarnya. Dengan demikian, pengungsi tidak perlu menjual ternaknya secara murah.

Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumantri mengatakan bahwa pemkab setempat mengupayakan membeli ribuan hewan ternak milik para pengungsi untuk mencegah agar tidak dijual dengan harga murah.

Masyarakat yang tinggal di daerah pengungsian panik dan khawatir terhdap ternak piaraannya.

Untuk itu, pihaknya sudah berkoordinasi dengan TNI dan Polri serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk melakukan evakuasi ternak sapi secara bertahap sejak Sabtu (23/9).

Wira Suryantala dan I K. Sutika

Layangan Bali

Anak-anak seusia sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) dengan senang dan bangganya mengendalikan layangan untuk bisa "menari-menari" di ketinggian bersaing dengan layangan rekannya di tengah hamparan lahan sawah yang baru habis panen.

Hal itu merupakan tradisi yang diwarisi masyarakat Bali secara turun temurun, khususnya anak-anak di daerah perdesaan, yang dilakoninya hingga sekarang.

Permainan layang-layang untuk menyalurkan kesenangan anak-anak muda dan kesinambungan tradisi dalam beberapa tahun belakangan ini dikemas dalam bentuk festival yang memberikan fungsi ganda, yakni sebagai atraksi untuk menambah daya tarik bagi wisatawan mancanegara.

Pemerintah Kabupaten Tabanan, sebagai daerah gudang beras yang memiliki hamparan lahan pertanian paling luas di Bali, menggelar "Tabanan Kites Festival" yang melibatkan 1.500 peserta.

"Kegiatan yang digelar di Subak Gadon, kawasan wisata Tanah Lot, berlangsung selama dua hari, 9-10 September 2017 memperebutkan hadiah utama sebesar Rp.100 juta," tutur Ketua Panitia kegiatan tersebut I Made Edi Wirawan.

Ribuan peserta yang datang dari sejumlah kabupaten/kota di Bali menaikkan berbagai jenis layangan, termasuk layangan milik Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti, yang mengudara dengan baik. 

Langit Tabanan dengan cuaca yang cerah itu dihiasi dengan ribuan layangan yang "menari-nari" di udara sekaligus sebagai atraksi wisata, karena objek wisata Tanah Lot itu setiap hari dikunjungi ribuan wisatawan dalam dan luar negeri.

I Made Edi Wirawan yang juga anggota DPRD Kabupaten Tabanan itu ingin menjadikan Festival Layang-Layang itu bisa dilaksanakan secara berkesinambungan setiap tahun, karena dinilai mampu memberikan banyak manfaat.

Festival Layang-Layang itu mampu memberikan ruang kepada anak-anak muda untuk menciptakan inovasi dan kreativitas ekonomi kreatif, mempromosikan pariwisata dan memberikan hiburan kepada masyarakat tani seusai panen di sawah.

Kegiatan yang baru pertama kali digelar dalam skala besar di Tabanan itu memperebutkan piala bergilir Bupati Tabanan untuk kategori layangan Pecukan.

"Layangan sudah menjadi tradisi turun menurun dari nenek moyang kami. Layangan Pecukan merupakan khas Kabupaten Tabanan yang patut dilestarikan," ujar I Made Edi Wirawan.

Sangat Antusias Wakil Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya yang ikut menaikkan layangan pecukatan berwarna dasar putih kombinasi warna merah dan hitam memberikan apresiasi terhadap kegiatan Festival Layang-Layang tersebut.

Masyarakat di Kabupaten Tabanan, mulai anak-anak, dewasa dan orang tua menaruh perhatian yang antusias terhadap pelaksanaan lomba layang-layang yang selama ini digelar di Pantai Padangbalak, Sanur, Kota Denpasar.

Peserta dari Kabupaten Tabanan selalu ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut dan ruang festival layang-layang diharapkan bisa dilakukan secara berkesinambungan setiap tahun.

Hal itu didasari tradisi Layang-layang sudah diwarisi secara turun temurun dari leluhur. Kabupaten Tabanan dari zaman dulu merupakan pelopor memainkan layang-layang. Setelah selesai memanen padi di sawah, petani menghibur diri dengan angin yang kencang memainkan layang-layang.

Untuk itu Tabanan sebagai daerah "lumbung beras" di Bali, agar mampu melestarikan permainan itu agar tidak punah oleh zaman.

di Subak Gadon, tempat festival layang-layang tersebut jaraknya hanya beberapa kilometer dari pura kuno Tanah Lot yang lokasinya "bertengger" di atas batu karang Pantai Beraban, Bali selatan di Samudera Indonesia.

Tempat suci umat Hindu, sekaligus objek wisata andalan itu, selama ini menyimpan misteri dan keunikan yang membuat pelancong seolah "wajib" mengunjunginya.

Festival ke Uma Sementara Sanggar Buratwangi, Sanggar Wintang Rare, dan Selakunda Foundation serta masyarakat Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri, Kabupaten Tabanan, secara swadaya menggelar Festival Ke Uma (sawah) yang menampilkan atraksi unik dan menarik, termasuk memainkan layangan.

Kegiatan yang baru pertama kali digelar untuk mengajak anak-anak usia SD dan SMP bersenang-senang lewat permainan tradisional di sawah.

Menurut ketua panitia kegiatan tersebut Putu Edi Novalia Artha memperkenalkan permainan tradisional kepada anak-anak, sekaligus kondisi sawah untuk menghasilkan beras sebagai kebutuhan pokok sehari-hari yang kini tidak banyak diketahui oleh anak-anak.

Kegiatan itu diharapkan dapat dilakukan berkesinambungan untuk mengisi liburan panjang anak-anak sekolah pada pertengahan tahun. Seluruh kegiatan selama dua hari itu digelar di tengah sawah yang sudah dipersiapkan dan ditata sedemikian rupa.

"Festival ke Uma" yang pelaksanaannya dinilai sukses itu mengangkat suasana tempo dulu, yakni anak-anak diajak bermain dengan memanfaatkan alam dan lingkungan sawah sekitarnya. Alam itu sesunguhnya sangat bersahabat yang menyediakan berbagai alat dan sarana untuk bermain, tinggal merangsang kreativitas mereka saja. Kegiatan sejenis juga pernah dilakukan saat Festival Balac lombakan 528 layangan.

Subak Mole di Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri lingkungannya masih dalam kondisi asri dan lestari yang bersebelahan dengan Candi Pahlawan Taman Pujaan Bangsa Margarana, tempat gugurnya Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai, 25 km arah barat daya Kota Denpasar.

Sawah dan aktivitas anak-anak dalam beberapa tahun belakangan ini seakan lenyap ditelan zaman. Sawah mulai berkurang akibat beralih fungsi dam kehilangan sumber air.

Aktivitas anak-anak di sawah juga tidak tampak lagi. Anak-anak generasi sekarang tidak pernah melakukan permainan itu. Oleh sebab itu melalui Festival ke Ume memasyarakatkan kembali aktivitas anak-anak yang polos, jujur, tanggung jawab dan menjunjung nilai-nilai kebersamaan itu lewat festival.

Selain itu menciptakan kreativitas anak-anak dengan menyediakan ruang untuk melakukan dunianya yang seluas-luasnya, sekaligus melestariakan seni budaya dengan mengangkat kembali berbagai jenis permainan, khususnya terkait dengan sawah.

Kegiatan festival diawali dengan memainkan layang-layang menyusul bermain bersama-sama. Anak yang sudah bisa akan mengajari temannya yang belum mengerti, sehingga sosialisasi antara mereka dapat menciptakan kebersamaan. (Ben/An)

Ika Sutika

Sapi Bali

Sapi bali dari segi kualitas daging hampir setara dengan daging impor seperti limosin dan brahman yang terkenal kenyal dan gurih. Keberadaan ternak itu, kini tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani bidang pangan (FAO) sudah mendaftarkan sapi bali sebagai sumber plasma nutfah aset Indonesia sehingga tidak ada kekhawatiran diklaim oleh negara lain.

"Sapi bali yang keberadaannya khusus di Pulau Dewata memerlukan terobosan dan inovasi untuk melindungi dan mengembangkannya sehingga populasinya terus meningkat," tutur Dekan Fakultas Pertanian Universitas Dwijendra Denpasar Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc. MMA.

Pemerintah melalui Dinas Peternakan setempat mengembangkan sapi bali secara maksimal melalui sistem pertanian terintegrasi (Simantri) yang khusus memproduksi bibit sapi bali untuk selanjutkan dibesarkan, disamping pengembangan melalui penyaluran kredit perbankan.

Pihak perbankan menyalurkan kredit dengan bunga ringan untuk mendukung program bidang pertanian, khususnya pengembangan dan penggemukan sapi bali.

Alumnus program doktor Universitas Udayana itu memberikan apresiasi terhadap upaya Pemerintah Provinsi Bali bersama DPRD setempat yang kini membahas rancangan peraturan daerah tentang pengelolaan sapi bali dengan tujuan untuk menjaga kelestariannya.

Sapi bali merupakan salah satu plasma nuftah di Indonesia yang perlu dilindungi dan dilestarikan. Dalam konteks kesejahteraan masyarakat, khususnya petani dan peternak, di Pulau Dewata, maka pelestarian sapi bali harus dimaknai sebagai pengelolaan sapi yang menguntungkan dan berkelanjutan bagi masyarakat setempat.

Salah satu upaya pengelolaan sapi bali yang menguntungkan dan menjamin kelesatariannya adalah melalui pengembangan prinsip agribisnis yang inklusif.

Sapi bali yang merupakan warisan nenek moyang memiliki berbagai keunggulan dibandingkan dengan sapi luar Bali. Oleh karena itu, keunggulan tersebut akan menjadi tambahan nilai daya saing dan dapat meningkatkan pendapatan petani, khususnnya peternak.

Beberapa keunggulan sapi bali, di antaranya subur yakni cepat berkembang biak dengan fertilitas tinggi, mudah beradaptasi dengan lingkungannya, termasuk di lahan yang kritis, serta mempunyai daya cerna yang baik terhadap pakan.

Demikian pula persentase karkas yang tinggi dan kandungan lemak karkas yang relatif rendah.

Dengan memperhatikan keunggulan tersebut, maka pengelolaan sapi bali melalui prinsip agribisnis inklusif mencakup beberapa kegiatan di dalam setiap subsistemnya.

Subsistem tersebut antara lain penyediaan sarana produksi, alat dan mesin untuk berproduksi, subsistem produksi, pengolahan, pemasaran, dan susbistem penunjang.

Cegah penyelundupan Ketua Panitia Khusus Ranperda Pengolahan Sapi Bali DPRD Bali Nyoman Parta menilai diperlukan adanya peraturan daerah untuk melindungi genetik sapi bali, sekaligus mencegah penyelundupan sapi khas Pulau Dewata untuk menghindari kepunahan.

Oleh sebab itu, keberadaan sapi bali harus mendapatkan perlindungan serta mencegah semakin banyaknya penyelundupan sapi keluar daerah, karena perdagangan sapi ke luar daerah itu sangat dibatasi untuk menjaga keseimbangan populasi ternak tersebut.

Hal itu perlu mendapat perhatian semua pihak karena di luar kuota perdagangan antarpulau secara resmi, makin marak terjadi penyelundupan atau pengiriman sapi bali tanpa izin resmi, sehingga dikhawatirkan mengancam kesimbungan populasi sapi bali.

Maraknya penyelundupan sapi itu akibat kota-kota besar di Jawa, seperti DKI Jakarta, Surabaya, dan Bandung membutuhkan daging sapi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengusulkan agar ke depan pemerintah provinsi setempat dapat membeli sapi betina milik masyarakat guna menekan kasus penyelundupan hewan ternak itu keluar Pulau Dewata.

Tindakan itu dinilai cukup efektif. Bibit sapi tersebut selanjutnya diberikan kepada petani dan peternak untuk dibesarkan dengan sistem pengawasan yang ketat sehingga tidak ada peluang bibit sapi itu dijual kembali.

Jika keuangan daerah memungkinkan, direncanakan jumlah sapi betina yang dibeli pemerintah itu menyesuaikan dengan jumlah sapi yang kira-kira diselundupkan setiap tahunnya.

"Jika setahun kira-kira jumlah sapi yang diselundupkan 1.000 ekor, dengan harga seekor sapi sekitar Rp7 juta, maka pemerintah akan mengalokasikan anggaran sebesar Rp.7 miliar," ujarnya.

Suasana inklusif Gede Sedana, pria kelahiran Singaraja, 54 tahun silam, yang banyak melakukan penelitian menyangkut pertanian dan peternakan di Bali itu, melihat peluang para petani akan dapat mengelola usaha ternak sapi bali jika pemerintah mampu menciptakan suasana inklusif dalam beragribsinis.

Penyediaan bibit sapi bali yang memiliki kualitas bagus sangat diperlukan petani untuk dikembangkan sebagi pembibitan maupun penggemukan.

Kualitas bibit yang baik akan memberikan jaminan terhadap keefektifan pengelolaan sapi bali dari aspek kuantitas dan kualitas daging yang bermutu.

Untuk memperoleh bibit yang baik dibutuhkan teknologi yang bersumber dari para ahli yang didukung oleh industri pembibitan yang memadai.

Selain itu, dalam pengelolaan sapi atau pemeliharaannya memerlukan adanya pakan ternak yang tersedia secara lokal dan mudah diakses oleh para peternak.

Pakan ternak berupa hijauan dari tanaman yang memiliki produktivitas tinggi dan bermutu dari pakan ternak pabrikan serta keterampilan untuk mengaplikasikan pengetahuan dan teknologi.

Oleh sebab itu, perda pengelolaan sapi bali agar dapat diimplementasikan dalam penguatan kapasitas petani dan peternak untuk aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengembangan sapi-sapi yang dikelolanya.

Kegiatan penyuluhan dan pelatihan bagi peternak akan menjamin terwujudnya tujuan perda pengelolaan sapi bali.

Pendampingan yang intensif dari pemerintah akan menjadi motivasi bagi peternak dalam mengembangkan sapi bali.

Selain itu, diperlukan adanya sentra-sentra pengelolaan sapi bali di berbagai daerah di kabupaten/kota daerah itu untuk menjadi pusat pembelajaran bagi peternak sapi terkait dengan perbaikan kualitas pengelolaan ternak sapi.

Para peternak sapi juga dapat diberikan keyakinan bahwa pengelolaan sapi bali akan memberikan keuntungan ekonomis yang relatif tinggi, melalui usaha pembibitan maupun penggemukan.

Keuntungan ekonomis tersebut menjadi salah satu insentif bagi peternak sapi untuk makin bergairah dalam pengelolaan ternak itu secara berkelanjutan. (Ben/An)
All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.