Showing posts with label Wisata. Show all posts

Lore Lindu Megalitik

Jakarta, 22/10 (Benhil) - Di masa lalu, manusia belum mengenal peralatan dari logam, mereka membuat segala perabotannya dari apa yang didapat dari alam sekitar, seperti kayu, daun, tulang, kulit binatang, dan juga dari batu.

Peninggalan batu-batu besar berbentuk tugu (menhir), bejana batu (kalamba), meja batu (dolmen), tempat jenazah (sarkofagus), atau punden berundak, menjadi bukti-bukti yang tak mudah lekang digerus zaman soal adanya peradaban beratus dan berpuluh abad silam di berbagai tempat.

Di Indonesia, salah satu lokasi peninggalan kebudayaan zaman megalitik (batu besar) tertua bisa disaksikan di kawasan Cagar Budaya Lore-Lindu di Sulawesi Tengah, di mana telah ditemukan antara 67 hingga 83 situs.

Hasil uji pertanggalan karbon peninggalan megalitikum yang tersebar di kawasan Lore menunjukkan usia kebudayaan ini berada di kisaran 2000 tahun sebelum masehi.

Sedangkan, hasil penelitian berdasarkan temuan tulang-tulang rangka manusia di salah satu kubur tempayan di situs Wineki, Lembah Behoa mengungkapkan sisa-sisa peninggalan tersebut diperkirakan berusia sekitar 2351-1416 sebelum masehi yang kemudian punah pada sekitar tahun 1452-1527 masehi.

Peninggalan zaman megalitikum tersebut tersebar di lebih dari 200 ribu hektare di kawasan Taman Nasional Lore Lindu di Kabupaten Poso dan Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah yang masih berkarakter vegetasi hutan hujan dataran rendah dan hutan hujan pegunungan.

Di Kabupaten Sigi, kawasan yang memiliki persebaran megalitik dikenal dengan nama Lindu, sedangkan di Kabupaten Poso, dikenal dengan kawasan Lore di mana terdapat tiga lembah yang memiliki persebarannya, yakni Lembah Napu, Lembah Behoa dan Lembah Bada. Artikel menarik lainnya: Memetakan Hutan Adat Lindu, Melindungi Jantung Sulawesi.

Temuan megalitik tersebut berupa bejana batu (kalamba), tempayan kubur, arca, menhir, batu lumpang, batu dakon, batu lesung, batu dulang, punden berundak, hingga pagar/benteng.

Dari aspek sejarah, kehadiran cagar budaya kawasan Lore-Lindu dinilai memberi sumbangan sangat berarti dalam perkembangan migrasi penutur bahasa Austronesia yang secara teoritis masuk ke wilayah Nusantara melalui wilayah Sulawesi (jalur utara) dan diketahui sebagai moyang bangsa Indonesia.

DNA Austronesia Dari hasil analisis DNA pada pendukung budaya di Situs Tadulako di Lembah Behoa, menurut arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Dwi Yani Yuniawati Umar, diketahui dapat digolongkan sebagai sekuens DNA manusia modern yang termasuk dalam suku bangsa Austronesia.

Dari pendekatan filogenetik dengan menggunakan "genetic distance" menunjukkan adanya kedekatan kekerabatan DNA manusia Tadulako dengan lima populasi di Sulawesi saat ini, yakni etnik Kajang di Bulukumba dan etnik Toraja di Provinsi Sulawesi Selatan, etnik Mandar di Sulawesi Barat, etnik Kaili di Sulawesi Tengah, dan etnik Minahasa di Sulawesi Utara.

Diperkirakan, masyarakat pendukung budaya megalitik yang dibawa oleh penutur Austronesia protosejarah ini sudah mengenal dan membuat rumah-rumah bertiang sederhana sebagai tempat bermukim yang dari hasil etnoarsitektur tampaknya dibangun dengan menggunakan batu sebagai alasnya.

Dari hasil survei dan ekskavasi yang dilakukan di tiga lembah, Lembah Napu, Lembah Behoa dan Lembah Bada, memang diketahui bahwa situs-situs yang ditemukan merupakan suatu pemukiman.

Dalam pemukiman tersebut terdapat ruang untuk tempat berdiam, ruang untuk melakukan upacara ritual, ruang untuk penguburan, ruang perbengkelan, dan ruang sumber bahan baku.

Ditemukan pula dalam kalamba-kalamba tersebut fragmen-fragmen gerabah berupa wadah dan manik-manik, serta temuan di sekitarnya berupa gelang logam, batu gerinda, senjata logam, dan pemukul dari batu, ujar dia.

Dari hasil penelitian, kehidupan masyarakat ini diperkirakan juga telah menetap dalam bentuk kelompok-kelompok menyerupai kehidupan di perkampungan seperti di masa sekarang dan mengenal adanya stratifikasi sosial dan strata kepemimpinan.

Masyarakat zaman megalitik ini juga memiliki pembagian kerja antara kaum laki-laki yang lebih fokus pada mengerjakan perbengkelan dan pertanian serta kaum perempuan yang mengurusi rumah tangga.

Warisan Dunia Saat ini kawasan cagar budaya Lore-Lindu sedang disiapkan untuk diajukan ke United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menjadi warisan dunia (world heritage).

Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Gorontalo yang menangani wilayah Sulawesi Zakaria Kasimin menargetkan sedikitnya lima tahun kawasan ini sudah siap dicalonkan masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia yang terdapat di Indonesia.

Ini berarti bisa melengkapi delapan situs yang saat ini sudah menjadi warisan dunia, yakni empat situs alam, Taman Nasional Komodo, Ujung Kulon, Lorentz, dan Hutan Hujan Tropis Sumatera, serta empat situs budaya, Candi Borobudur, Prambanan, situs manusia purba Sangiran dan Subak di Bali.

Apalagi, temuan bejana batu prasejarah di situs ini cukup langka di dunia yang hanya ditemukan dalam jumlah terbatas seperti di "Plain of Jars" di Laos yang sudah masuk dalam daftar tentatif nominasi warisan budaya dunia.

Ditambah lagi, dari hasil riset, kawasan dengan luasnya yang lebih dari 200 ribu hektare ini bisa jadi merupakan yang terbesar persebarannya di Asia Tenggara dibanding peninggalan di Laos yang terkenal itu.

Untuk target menjadi warisan dunia, BPCB, kata Zakaria, pada 2018 berencana melakukan deliniasi (mencari batas-batas persebaran situs) yang diperkirakan tersebar antara Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Barat serta melakukan zonasi inti, penyangga, pengembangan, dan zonasi penunjang.

Namun demikian, suatu warisan yang diusulkan memang harus melewati tahap yang tidak mudah, seperti harus menjadi warisan nasional lebih dulu yang benar-benar bernilai tinggi dan berpotensi mendapat pengakuan dunia.

Setelah seleksi di tingkat nasional, baru warisan nasional tersebut bisa diusulkan menjadi warisan dunia, yang kemudian diajukan ke dalam Daftar Sementara (Tentative List) ke Sekretariat World Heritage.

Lembaga tersebut kemudian akan melakukan kajian terhadap naskah serta peninjauan ke lokasi dan hasilnya akan dibahas bersama sesuai kriteria dalam Sidang Komisi Warisan UNESCO.

Saat ini secara nasional, ada belasan calon warisan dunia lainnya yang juga sudah mendaftar, seperti pemukiman tradisional Tana Toraja, situs percandian Muara Takus, kompleks candi Muarajambi, situs Trowulan ibu kota Kerajaan Majapahit, situs goa prasejarah di Maros-Pangkep, hingga Kota Tua Jakarta.

Karena itu berbagai pihak terkait, termasuk pemda dan masyarakat setempat seharusnya juga mendukung persiapan ini, selain karena sejarah kebudayaan situs megalitik ini sangat penting untuk terus digali dan diungkap, juga akan membantu masyarakat Nusantara mengenal jati dirinya.

Sedangkan dari aspek praktis, cagar budaya ini akan sangat bermanfaat sebagai aset daerah dan jika dikembangkan bisa bermanfaat untuk kepentingan ekonomi masyarakat setempat menjadi lokasi wisata nasional. (Ben/An)

Dewanti Lestari

Banten Lama

Objek wisata Banten Lama, jarak tempuhnya sekitar 10 kilometer dari Alun-Alun Kota Serang dengan waktu tempuh kurang lebih 30 menit.

Namun, sayangnya kondisi Banten Lama tersebut jauh dari harapan wisatawan. Pasalnya, yang tersisa hanyalah cerita mengenai kejayaan Kesultanan Banten itu pun mulai memudar seiring dengan kondisi objek wisata yang terkesan tidak terawat.

Seperti halnya objek wisata sejarah di Indonesia yang terbengkalai, nasib Banten Lama yang masuk dalam wilayah Kecamatan Kasemen tersebut tidak terawat akibat keterbatasan anggaran. Inisiatif perbaikan saat ini mulai menggunakan anggaran pemerintah provinsi. Itu pun pelaksanaannya bertahap.

Sebenarnya, apa saja yang terdapat di dalam kompleks Banten lama sehingga membuat peninggalan sejarah ini patut untuk menyelamatkannya. Kalau melihat geografisnya, lokasi yang berada di tepi pantai tersebut seharusnya dapat menjadi potensi mendatangkan devisa bagi pemerintah daerah karena selain memiliki cerita sejarah, juga pemandangannya akan membawa pengunjung ke beberapa abad silam.

Di dalam kompleks Banten Lama, pengunjung dengan mudah dapat menemukan peninggalan Keraton Surosowan, Keraton Kaibon, dan Benteng Spellwijk. Di kawasan tersebut juga terdapat Museum Kepurbakalaan Banten, Masjid Agung Banten, dan Vihara Avalokitesvara.

Vihara Avalokitesvara pada abad ke-16 yang merupakan salah satu Vihara tertua di Indonesia. Vihara ini memiliki sebutan sebagai Kelenteng Tridarma karena Vihara ini melayani tiga kepercayaan, yaitu Buddha, Kong Hu Cu, dan Taoisme. Bagi wisatawaan yang beragama lain, tetap dapat mengunjungi vihara ini dengan leluasa.

Salah satu pengurus vihara ini menjelaskan bahwa patung Dewi Kwan Im yang berada di dalam Vihara sudah berumur hampir sama dengan bangunan tersebut. Pada tahun 2009, vihara ini pernah mengalami kebakaran akibat arus pendek listrik.

Kebakaran yang terjadi pada saat itu membuat sebagian bangunan habis terbakar. Akan tetapi, patung Dewi Kwan Im yang bersejarah tersebut berhasil selamat dari kobaran api.

Tidak hanya masyarakat lokal yang berkunjung ke vihara ini, banyak wisatawaan dari luar daerah datang berkunjung untuk beribadah maupun sekadar ingin tahu, bahkan wistawan dari luar negeri juga ikut berkunjung ke lokasi ini.

Pada saat ini, Pemerintah Provinsi Banten sedang melakukan penataan di sekitar wilayah vihara bersejarah ini. Penataan yang dilakukan oleh Pemprov Banten ialah dari kebersihan, penataan pedagang kaki lima, pemisahan zona-zona khusus yang memiliki nilai sejarah, serta perbaikan kanal-kanal yang ada di sekitar kawasan tersebut.

Penataan ini bertujuan agar pengunjung yang datang ke daerah wisata Banten Lama merasa nyaman. Selain itu, melestarikan nilai-nilai sejarah yang berada di kawasan Banten Lama.

Objek sejarah lainnya yang wajib dikunjungi di kompleks Banten Lama adalah Istana Keraton Kaibon. Berdasarkan cerita sejarahnya tempat ini merupakan kediaman Ratu Aisyah ibu dari Sultan Syaifuddin.

Bangunan ini hancur karena di serang tentara Belanda pada saat peperangan melawan Kerajaan Banten yang tersisa sampai saat ini hanya sebagian dari bangunan istana.

Di lokasi yang berdekatan terdapat Istana Keraton Surosowan merupakan kediaman para Sultan Banten, di antaranya Sultan Maulana Hasanudin hingga Sultan Haji.

Masjid Agung Banten merupakan salah satu bangunan peninggalan Kerajaan Banten yang hingga kini masih berdiri kukuh. Dibangun pada tahun 1652, tepat pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanudin, putera pertama Sunan Gunung Jati.

Masjid ini memiliki beberapa keunikan corak, di antaranya menaranya berbentuk mirip mercusuar, atapnya menyerupai atap dari pagoda khas gaya arsitektur Cina, ada serambi di kiri-kanan bangunan, serta kompleks pemakaman sultan Banten beserta keluarganya di sekitar kompleks masjid.

Di dalamnya terdapat sembilan makam sultan beserta keluarganya. Makam yang sering dikunjungi pengunjung di antaranya makam Sultan Hasanudin dan makam Sultan Abul Mafakhir.

Makam sultan Maulana Hasanudin beserta keluarga dan para pengawalnya berlokasi di sisi utara Mesjid Agung Banten, terdapat dua bagian bangunan pemakaman pada bagian dalam tempat sultan beserta keluarga, sedangkan di sisi luar makam para pengawal.

Masjid Agung Banten bisa dibilang salah satu masjid tertua di Indonesia juga karena masjid ini berdiri sejak zaman kesultanan di Banten kira-kira pada tahun 1556. Masjid ini pun menjadi saksi sejarah Banten pernah memiliki pemerintahan kerajaan.

Penataan Hasil dari penataan atau revitalisasi menjadikan komples Banten Lama menjadi bersih dan lebih rapi dengan tidak adanya pedagang pedagang yang berkeliaran dan mendirikan gerobak kaki lima, dan halaman di sekitar masjid sudah dipasangi paving block menggantikan hamparan ialang.

Jalan menuju tempat ini pun sangat mudah tinggal menuju Pelabuhan Karangantu atau ke arah Kasemen. Namun, untuk sampai ke jalan tersebut saat ini sedang ada pekerjaan pembetonan.

Pengunjung wisata Banten Lama tetap dapat membeli oleh-oleh dari pedagang yang kini ditempatkan pada lokasi yang sudah ditetapkan. Pedagang biasanya selain menjajakan makanan dan minuman juga cendera mata, seperti kerajinan Suku Badui, golok asli Ciomas, dan masih banyak yang lainnya.

Air Terjun Simatobat

Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar), dikenal menyimpan banyak potensi wisata yang siap memanjakan setiap pengunjungnya, baik potensi alam maupun potensi budaya dari masyarakat adat.

Ombak Lances Right dan Macaronies yang ada di kawasan ini didaulat sebagai dua titik ombak terbaik dari sepuluh ombak terbaik di dunia yang begitu diminati oleh para peselancar dari dalam maupun luar negeri.

Mentawai tidak hanya memiliki laut yang dapat memikat hati para wisatawan karena masih banyak potensi alam lain yang tidak kalah menarik selain gulungan ombak yang tersebar di seluruh pesisir pulaunya. Di daerah pedalaman Pulau Pagai Selatan yang secara administratif menjadi kecamatan Pagai Selatan, tersimpan pesona alam yang masih belum diketahui oleh banyak wisatawan maupun masyarakat Sumbar.

Air Terjun Simatobat atau yang dikenal oleh masyarakat sekitar dengan sebutan Air Terjun Bungo Rayo ini merupakan salah satu dari sekian banyak air terjun yang ada di daerah Keulauan Mentawai, seperti Air Terjun Kulukubuk yang ada di Siberut Selatan.

Air Terjun ini tidak setinggi air terjun lain yang ada di Sumbar dengan ketinggian hingga puluhan meter. Memiliki ketinggian hanya 15 meter agaknya cukup untuk memberikan daya tarik tersendiri bagi setiap pengunjung.

Tak hanya Air Terjun Simatobat yang ada di sepanjang aliran sungai ini, ke arah hulu masih ada setidaknya lima air terjun lain dengan tinggi dan lebar yang berbeda.

Selain pesona air terjun, di sekitarnya terdapat berbagai potensi yang dapat menunjang keberadaan air terjun tersebut dalam upaya pengembangan kawasan objek wisata minat khusus atau ecotourism.

Pelaksana Tugas Kepala UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kepulauan Mentawai Tasliatul Fuaddi mengatakan potensi tersebut terlihat dari keberadaan flora dan fauna yang ada di sekitarnya.

Di sekitar air terjun tersebut terdapat gua yang termasuk kategori gua hidup, sebab di dalam gua tersebut terdapat stalaktit atau sejenis mineral sekunder (speleothem) yang menggantung di langit-langit gua kapur serta stalakmit yang merupakan batuan yang terbentuk di lantai gua yang merupakan hasil dari tetesan air di langit-langit di atasnya.

Selain keberadaan gua yang menjadi habitat kawanan burung walet dan keberadaan rusa di sekitar aliran sungai, di sekitar kawasan tersebut juga terdapat kawanan primata yang menjadi endemik khas Mentawai. Menurut dia, di sekitar kawasan air terjun tersebut masih terdengar suara Bilou dan Bokoi, primata yang menjadi endemik khas Mentawai.

Selain fauna, keberadaan flora atau tumbuh-tumbuhan di sekitar kawasan tersebut berpotensi untuk dikembangkan, seperti keberadaan berbagai jenis tumbuhan komersil dan vegetasi di sekitar daerah tersebut masih rapat, berupa hutan sekunder.

Siap Dikembangkan Mengetahui potensi yang tersimpan di Desa Bulasat, Kecamatan Pagai Selatan, ini pemerintah setempat siap melakukan berbagai pengembangan untuk menjadikan kawasan Air Terjun Simatobat sebagai salah satu tujuan wisata.

Sektor pariwisata merupakan salah satu bidang yang menjadi perhatian pemerintah daerah setempat dalam upaya menyejahterakan masyarakat dan keluar dari ketertinggalan.

Bupati Kepulauan Mentawai Yudas Sabagallet mengatakan untuk menunjang pariwisata di daerah tersebut pihaknya tengah mengupayakan untuk melengkapi berbagai infrastruktur penunjang. Diakuinya wilayah Pagai Selatan memang belum tersentuh secara maksimal, akan tetapi dengan adanya potensi ini kami akan fokus ke sana.

Selain itu dalam upaya pengembangan lebih lanjut pihaknya dengan bersinergi bersama berbagai pihak terkait akan mengupayakan untuk dikeluarkannya daerah tersebut dari hak pengelolaan hutan (HPH).

dia mengaku sudah mendapat masukan juga dari Dinas Kehutanan terkait hukum dan aturan, selanjutnya kami akan memproses hal ini dan akan segera mengusulkannya ke provinsi.

Untuk menggali berbagai potensi yang tersimpan di sekitar kawasan Air Terjun Simatobat, kawasan tersebut akan ditetapkan sebagai kawasan ekosistem esensial (KEE) dan areal bernilai konservasi tinggi (ABKT/HCV).

Melihat potensi tersebut, Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Sumatera Barat Hendri Octavia mendukung kawasan Air Terjun Simatobat ditetapkan sebagai KEE dan ABKT/HCV.

Pemerintah, kata dia, mendukung daerah ini ditetapkan sebagai KEE atau ABKT dalam rangka konservasi keanekaragaman hayati dan menghasilkan jasa lingkungan.

Lebih lanjut ia menjelaskan hal tersebut dilakukan karena berkaitan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dari berbagai aspek di sekitar kawasan tersebut.

Lazimnya, pengembangan pariwisata dengan berbasis pada konservasi lingkungan harus memberikan dampak positif bagi berbagai aspek, baik itu alam atau lingkungan, masyarakat serta pemerintah setempat. Menurut beliau, terdapat beberapa kriteria dari sebuah kawasan untuk dapat ditetapkan sebagai lokasi Ekosistem Esensial diantaranya adalah memiliki nilai ekologi tinggi.

Selain itu kawasan tersebut harus memiliki keanekaragaman hayati dengan ekosistem yang baik, memiliki unsur sosial ekonomi dan budaya serta berfungsi sebagai lokasi pelestarian.

Sementara itu untuk kategori ABKT/HCV, kawasan Air Terjun Simatobat sendiri memenuhi kriteria sebagai area yang dapat menyediakan jasa ekosistem.

Wilayah tersebut juga merupakan area yang memiliki sumber daya alam yang menyediakan kebutuhan pokok bagi masyarakat lokal yang terkait dengan kenekaragaman hayati.

Untuk melakukan ini, kata dia, maka dibutuhkan kerja sama antara seluruh pemangku kebijakan terkait, serta juga harus ada sinkronisasi dengan pemerintah daerah dalam rangka memperkuat pembangunan. (Ben/An)

Ikhwan Wahyudi dan Syahrul Rahmat

Medan, 13/10 (Benhil)Presiden Joko Widodo kembali meresmikan sejumlah proyek infrastruktur yang ada di Provinsi Sumatra Utara. Kali ini, Kepala Negara meresmikan jalan tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi (MKTT) seksi II-VI ruas Parbarakan-Sei Rampah sepanjang 41,7 kilometer.

Tol Medan

Selain itu, jalan tol Medan-Binjai sepanjang 10,46 kilometer juga turut diresmikan Presiden hari ini, Jumat, 13 Oktober 2017.

Dengan hadirnya jalan tol MKTT tersebut, Presiden berharap perekonomian dan jumlah wisatawan yang datang ke kawasan pariwisata Danau Toba dan sekitarnya dapat terus meningkat. Mengingat jalan tol tersebut akan memangkas jarak tempuh dari Medan ke Toba hingga tiga jam.

"Sehingga yang namanya mobilitas orang, mobilitas barang sangat cepat sekali. Kalau ada mobilitas barang yang cepat, transportasi lebih murah," ujar Presiden.

Di samping itu, penurunan harga barang yang dihasilkan dari pembangunan jalan tol tersebut diyakini Presiden akan meningkatkan peringkat Indonesia untuk bersaing dengan negara lain.

"Kalau diturunkan seperti negara-negara lain 'global competitiveness' kita bisa lebih baik dari 41 jadi 36, sudah mulai membaik," ungkapnya.

Meskipun belum selesai sepenuhnya, Presiden menyatakan jajarannya akan terus berupaya melanjutkan pembangunan jalan tol tersebut. Diharapkan pertengahan tahun 2018 mendatang, jalan tol Kualanamu akan tersambung hingga Tebing Tinggi.

"Ini dicatat yang janji menteri bukan saya. Pertengahan 2018 sudah tersambung 42 kilometer dan 14 kilometer sudah tersambung sampai ke Tebing Tinggi," ucap Presiden.

Guna mewujudkan hal tersebut, Presiden telah memerintahkan jajaran terkait untuk menyelesaikan sejumlah permasalahan yang masih menghambat proses pembangunan jalan tol.

"Saya sudah perintahkan Kapolda, Kejati agar ikut mendukung penyelesaian dipercepat. Tentu kuncinya Kanwil BPN melakukan pendekatan-pendekatan yang baik, karena ini bukan untuk kepentingan 1-2 orang tapi untuk kepentingan rakyat semuanya," kata Presiden.

Selain itu, Presiden juga menyatakan akan membangun sejumlah sarana pendukung di sekitar jalan tol untuk memudahkan mobilitas barang.

"Nanti ada kawasan industri, ada kawasan pelabuhan yang akan memudahkan keluar dan masuknya barang, diangkut ke tempat tujuan," ucap Presiden.

Terakhir, Presiden mengharapkan dengan diremikannya jalan tol, Provinsi Sumatra Utara akan semakin maju. Harapan tersebut disampaikan Kepala Negara lewat sebuah pantun saat meresmikan jalan tol Medan-Binjai seksi: Helvetia-Semayang-Binjai.

"Ikan arsik bumbu andaliman, rasanya lezat tiada tara. Sudah dibangun jalan tol yang nyaman, ayo maju Sumatra Utara," tutur Presiden.

Turut mendampingi Presiden, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri BUMN Rini Soemarno, Gubernur Sumatra Utara Tengku Erry Nuradi.

Jalan Tol Pacu Pertumbuhan Ekonomi Sumut




Dalam kesempatan terpisah, Gubernur Sumatra Utara Tengku Erry mengapresiasi dukungan semua pihak yang mendukung pembangunan jalan tol Medan-Binjai dan Medan-Sei rampah. Bahkan, sertifikat jalan tol tersebut juga sudah dikeluarkan pemerintah. 

"Ini proyek strategis nasional pertama yang sertifikatnya juga sudah langsung selesai," ujar Tengku Erry dalam laporannya.

Ia pun berharap kehadiran jalan tol di Sumatra Utara akan semakin memacu pertumbuhan ekonomi ke arah yang lebih baik. Dimana dalam 2-3 tahun terakhir, perekonomian Provinsi Sumatra Utara telah tumbuh 5-6 persen per tahun.

"Setelah jalan tol ini, pertumbuhan ekonomi Sumatra Utara bisa lebih dari 6 persen," tutur Erry.


Bey Machmudin


Thailand
Jakarta, 13/10 (Benhil) - Peningkatan kemampuan mengemas paket wisata ke sejumlah tujuan wisata di Indonesia tampaknya harus menjadi "pekerjaan rumah" utama pemangku kepentingan pariwisata negeri ini jika ingin meningkatkan kunjungan wisatawan dari Thailand.

Maklum, karakteristik tujuan wisata di Thailand dan Indonesia bisa dikatakan tidak terlalu berbeda. Kedua negara itu, antara lain mempunyai wisata laut, pantai, belanja, dan budaya.

Artinya, wisatawan asal Thailand itu harus mampu diyakinkan bahwa mereka akan mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang unik dan berbeda jika melancong ke Indonesia yang aman dan bersahabat.

Peningkatan kemampuan mengemas paket wisata itu diperlukan mengingat Kementerian Pariwisata (Kemenpar) pada tahun ini menargetkan kunjungan wisatawan asal Thailand sebanyak 118.000 orang atau meningkat dibandingkan 2016 yang sebanyak 98.864 orang.

Meski ada peningkatan, jumlah target kunjungan wisatawan Thailand itu masih jauh di bawah kunjungan wisatawan negara di Asia Tenggara lainnya, seperti Singapura yang mencapai 1.472.767 orang dan Malaysia yang mencapai 1.225.458 orang.

Bagi Indonesia, pertumbuhan wisatawan Thailand, baik yang berwisata di dalam dan ke luar negeri yang selalu meningkat setiap tahun, menjadi perhatian khusus.

Thailand, menurut Kepala Subbidang Misi Penjualan Minat Khusus dan MICE Kemenpar Wiwiek Widyawati, kini merupakan salah satu pasar prioritas Indonesia di wilayah Asia Tenggara.

Thailand memiliki "in-bound" atau wisatawan mancanegara sebanyak 32 juta orang pada 2016, sementara total "out-bound" atau wisatawan Thailand yang ke luar negeri pada 2015 sebanyak 9,65 juta orang.

Komunitas Dalam menyusun paket-paket wisata, mungkin perlu diperhatikan apa yang diungkapkan Vice Consul Konsulat RI di Songkhla, Thailand, Rendy Hadiputra Hadi.

Rendy berpendapat, Kemenpar perlu mengembangkan promosi kepada komunitas minat khusus seperti komunitas "yacht" di Phuket dan warga Muslim di Thailand Selatan yang memiliki anak-anak yang bersekolah dan belajar di Indonesia.

Kemenpar perlu juga melakukan promosi kepada wisatawan asing yang berada di negeri Thailand, mengingat negara yang sukses dengan bisnis wisatanya tersebut menerima sekitar 30 juta wisatawan asing serta promosi dan fasilitasi agar terbentuk jaringan antara operator tour.

Menurut Rendy, dari total "out-bond" wisatawan Thailand pada 2015 yang berjumlah 9,65 juta, Indonesia menjadi tujuan favorit ke-12 bagi warga Thailand. Tujuan utama warga Thailand adalah negara yang berbatasan darat dengan Thailand, yaitu Laos, Myanmar, dan Malaysia.

Sementara itu, wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Thailand Selatan pada 2016 tercatat 101.609 orang. Mereka masuk ke wilayah Thailand Selatan melalui Provinsi Songkhla (62.721), Provinsi Phuket (24.596), Provinsi Krabi (3.907), Provinsi Narathiwat (3.481), Provinsi Suratthani (1.049), Provinsi Yala (4.551), dan Provinsi Satun (1.304).

Jangan Hanya Alam Berkaitan dengan strategi, pemerintah dan pelaku bisnis wisata Indonesia perlu mengemas produk wisata tidak hanya dari sisi alam yang unik dan indah, tapi juga masyarakat atau orang dan kebudayaannya untuk dijual ke pasar Thailand.

Menurut pemerhati pariwisata Paul Edmundus Tallo, Indonesia harus menonjolkan potensi wisata yang dimiliki Indonesia dari sisi manusia dan kebudayaannya, bahkan bisa menjadikannya sebagai "tagline" penjualan wisata Indonesia.

Thailand, kata Paul, dapat dikatakan sebagai "sarang wisatawan" karena tingginya peningkatan jumlah pelancong, baik yang di dalam negeri maupun yang ke luar negeri dari tahun ke tahun.

Oleh karena hal tersebut, pihak terkait harus mempunyai strategi khusus jika ingin menggenjot kunjungan wisatawan dari Thailand ke Indonesia, tentu butuh kemasan khusus.

Misalnya dengan membuat paket-paket produk yang lebih unik dan spesifik yang hanya bisa ditemui di Indonesia, seperti mengenali masyarakat di Indonesia, misalnya orang Jakarta, Jawa Barat atau Tapanuli, serta unsur kebudayaan yang pasti melekat pada masyarakat yang dikunjungi.

Ia yakin produk seperti itu pasti digemari wisatawan asing karena unik, spesifik dan tidak ada di negara lain. Mengetahui fisik orang Jakarta atau Jawa Barat serta dialek dan kebudayaannya misalnya, pasti tidak bakal ditemui di tempat lain kecuali di lokasi orang itu berada.

Produk yang ditawarkan bakal menambah pemahaman, pengetahuan wisatawan berkaitan dengan kunjungan wisatanya yang dilakukan, khususnya tentang orang dan kebudayaannya.

Kolaborasi Kegiatan "sales mission" atau misi penjualan wisata "leisure" ke tiga kota di Thailand, yakni Phuket, Chiang Mai dan Bangkok, yang diselenggarakan Kemenpar pada awal bulan ini diharapkan mampu menemukan terobosan dalam meningkatkan kunjungan wisatawan Thailand untuk melancong ke Indonesia.

Dalam kegiatan yang difasilitasi Kemenpar itu, biro perjalanan asal Indonesia bertemu dengan biro perjalanan asal Thailand.

Mereka dapat berkolaborasi dan menjalin hubungan bisnis sehingga diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan Thailand ke Indonesia melalui penjualan paket wisata dan didukung dengan konektivitas yang semakin luas.

Berdasarkan kuesioner atau "Buyer Profile Report" yang diserahkan dalam kegiatan "Sales Mission" tiga Kota di Thailand itu, terjadi transaksi berpotensi yang diperkirakan mencapai 26.804 pax dengan nilai transaksi Rp54,01 miliar Rinciannya, Phuket sebanyak 2.736 pax senilai Rp6,97 miliar dengan tujuan yang paling diminati Bali, Yogyakarta, Jakarta, dan Surabaya. Chiang Mai sebanyak 7.932 pax senilai Rp14,71 miliar dengan tujuan yang paling diminati Bali, Yogyakarta, Medan, Jakarta, dan Surabaya.

Selanjutnya Bangkok sebanyak 16.136 pax senilai Rp32,33 miliar dengan tjuan yang paling diminati Bali, Yogyakarta, Lombok dan Jakarta atau Bandung. (Ben/An)

Ahmad Buchori

Hutan Mangrove Lampung Timur

Sejumlah ikan glodok terlihat berloncat-loncatan, merangkak naik ke daratan atau bertengger pada akar-akar pohon bakau atau mangrove di sekitarnya. Ikan-ikan itu tampak seperti bercengkerama satu sama lain, seperti tak terusik oleh pengunjung di sekitarnya.

Pemandangan melihat kelincahan ikan glodok itu pun menjadi daya tarik bagi pengunjung, terutama anak-anak dan para pelajar yang datang ke hutan mangrove di Desa Sriminosari.

Ikan glodok itu memang menjadi salah satu daya tarik saat mengunjungi objek wisata hutan mangrove yang terdapat di Desa Sriminosari, Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung.

Saat berkunjung ke objek wisata hutan mangrove ini, selain dapat menikmati suasana alami di dalam hutan mangrove yang tenang, sejuk, dengan pemandangan yang asri, pengunjung juga bisa menyaksikan ratusan ikan glodok atau ikan blodok di atas lumpur di antara sela-sela batang pohon mangrove. Pemandangan bagi pengunjung yang menyenangkan hati dan sayang jika dilewatkan.

Dari atas rute traking sepanjang 900 meter melalui batang pohon bambu di atas tanah berlumpur menembus hutan mangrove menuju pantai di pesisir Kabupaten Lampung Timur itu, pengunjung bisa melihat ikan-ikan glodok berenang dan melompat-lompat di atas tanah berlumpur yang berair.

Bentuk badan ikan ini yang lucu seperti torpedo, dengan mata menonjol seperti kodok membuat mata kita tidak bosan meihat tingkah polahnya.

Informasi dari berbagai referensi menyebutkan, ikan glodok bisa merangkak naik ke darat atau bertengger pada akar-akar pohon bakau, dan itulah kemampuan luar biasa ikan glodok atau disebut juga ikan tembakul ini.

Ikan ini hidup di zona pasang surut di lumpur pantai terdapat pohon-pohon bakau. Ikan ini telah menyesuaikan diri untuk hidup di darat meskipun belum sepenuhnya. Matanya yang besar dan mencuat keluar dari kepalanya, sehingga ketika berenang, matanya itu biasanya berada di atas air. Sirip dadanya pada bagian pangkal berotot, dan sirip ini bisa ditekuk hingga berfungsi seperti lengan yang dapat digunakan untuk merangkak atau melompat di atas lumpur.

Ikan glodok biasanya ditemukan di muara-muara sungai yang banyak pohon bakaunya, di pantai pulau-pulau karang yang ada bakaunya, glodok juga dapat di temukan, termasuk di pantai Kabupaten Lampung Timur.

Beberapa jenis ikan glodok itu, seperti Periophthalmus koelreuteri (dengan panjang sekitar 150 mm) dan Periophthalmus vulgaris (panjang sekitar 105 mm).

Bila air surut ikan glodok banyak terlihat keluar dari air, merangkak atau melompat-lompat di atas lumpur, dan jika air pasang ikan itu akan masuk ke hutan bakau, serta baru turun kembali ke lumpur-lumpur pantai bila air telah surut atau bersembunyi pada lubang-lubang sarangnya.

Menurut sejumlah sumber dari hasil penelitian, menyatakan toleransi ikan itu sangat besar terhadap perubahan salinitas air. Sirip dada ekornya digunakan sebagai alat gerak di darat. Ikan ini kadang-kadang bergerombol bertengger pada akar-akar tunjang pohon bakau Rhizophora sp atau berada di antara akar-akar tunjang pohon bakau Sonneratia sp. Sirip perutnya yang menyatu berfungsi sebagai alat pengisap untuk berpegangan.

Organ pernapasan pada ikan glodok adalah insang tetapi telah disesuaikan untuk bisa digunakan di darat, dengan memerangkap air di rongga insang menutup rapat mulut dan tutup insang. Ikan ini bisa berada di darat selama air yang di bawahnya masih mengandung oksigen kalau oksigennya habis, ikan ini harus segera mencari air segar lagi dan proses yang sama terulang kembali.

Ikan glodok hanya dijumpai di pantai-pantai beriklim tropis dan subtropis di wilayah Indo-Pasifik sampai ke pantai Atlantik Benua Afrika.

Saat ini telah teridentifikasi sebanyak 35 spesies ikan glodok yang terbagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu Boleophthalmus, Periophthalmus, dan Periophthalmodon. Beberapa spesies contohnya adalah Pseudapocryptes elongatus, Periophthalmus gracilis, Periophthalmus novemradiatus, Periophthalmus barbarus, Periophthalmus argentilineatus dan Periophthalmodon schlosseri.

Selain ikan glodok atau bahasa Ingrisnya ikan mudskipper, satwa yang dapat dilihat pada hutan mangrove Desa Sriminosari adalah kepiting wideng. Kepiting wideng dan ikan glodok menjadi satwa yang paling banyak dilihat terutama oleh anak-anak saat berkunjung bersama orang tua mereka ke objek wisata hutan bakau ini.

Diminati Anak-anak Saat berkunjung ke objek wisata hutan mangrove di Desa Srimonosari ini, Sabtu (7/10), terlihat banyak anak-anak bertanya kepada orang tuanya tentang sejumlah jenis ikan dan kepiting yang dilihatnya.

Darmanto, Ketua Koperasi Nelayan Rukun Sido Makmur, inisiator pengembangan objek wisata hutan mangrove ini, menyebutkan banyak jenis satwa yang bisa disaksikan selain ikan glodok dan kepiting wideng, yaitu sejumlah burung liar, di antaranya burung cangak, burung bangau, dan burung belibis.

"Tapi datang sore hari kalau ingin melihat burung, mengingat siang hari biasanya hanya sedikit burung yang terlihat," kata Darmanto lagi.

Dia menjelaskan, selain sebagai tempat rekreasi bagi warga untuk tempat berswafoto, objek wisata tersebut juga dimanfaatkan sejumlah sekolah di Lampung Timur untuk mengedukasi siswanya.

"Para guru dari berbagai sekolah itu mengenalkan jenis-jenis mangrove dan berbagai satwa di hutan mangrove ini, kemudian siswanya diminta menggambar hutan mangrove dan berbagai satwa yang ada, seperti yang dilihat oleh para siswa," ujarnya lagi.

Menurutnya, pengembangan wisata hutan mangrove ini telah berdampak bagi warga desa sekitar, baik secara ekonomis, sosial maupun pemenuhan bagi kepentingan dunia pendidikan.

Darmanto berharap kapada Pemkab Lampung Timur turut mengembangkan objek wisata hutan mangrove yang dibangun secara swadaya oleh warga di desanya, mengingat masih banyak kekurangan yang perlu dibenahi pada objek wisata ini.

Apalagi saat ini, di bawah kepemimpinan Bupati Chusnunia Chalim dan Wakil Bupati Zaiful Bokhari, Pemkab Lampung mencanangkan daerah ini sebagai salah satu daerah kunjungan wisata utama bagi wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Pemkab Lampung Timur juga memprioritaskan pengembangan pariwisata di daerahnya, termasuk wisata alam dan wisata budaya yang dikenal dunia internasional terdapat di daerah ini, seperti adanya penangkaran badak sumatera dan harimau sumatera dalam kawasan hutan Taman Nasional Way Kambas.

Keberadaan gajah jinak terdidik dan terlatih di Way Kambas juga sudah dikenal menjadi daya tarik bagi pengunjung untuk berdatangan ke Kabupaten Lampung Timur.

Diharapkan dengan semakin banyak objek wisata alam dan wisata budaya terdapat di daerah ini, kian banyak wisatawan nusantara dan mancanegara berkunjung dan meminati berwisata ke sini.

Budisantoso Budiman & Muklasin

Chinese Imperial Post

"Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri China" tulis Aufrida Wismi Warastri pada kartu pos yang akan ia kirimkan kepada putranya yang berada di Indonesia.

Wartawati media cetak nasional asal Indonesia itu memilih menuliskan kutipan pepatah tersebut saat berkunjung ke Yandai Byway (Jalan Yandai) di kawasan Hutong, Beijing, di sela-sela kegiatan peliputan atas undangan Kementerian Luar Negeri China.

Adalah Chinese Imperial Post, sebuah kantor pos yang menawarkan pengalaman berkomunikasi lewat tulisan yang kini telah ditinggalkan orang seiring perkembangan zaman.

"Saya ingin anak saya, yang termasuk generasi milenial, merasakan serunya menerima pesan dari ibunya lewat kartu pos," ujar Aufrida.

Pengalaman berkomunikasi lewat media pos diyakininya sudah tidak lagi dirasakan generasi muda yang sekarang lebih banyak terpapar teknologi dan modernisasi.

"Anak sekarang sejak masih kecil saja sudah sangat akrab dengan gawai (gadget) dan game elektronik," kata Aufrida melanjutkan.

Sama seperti di berbagai belahan dunia lainnya, masyarakat China pun sudah meninggalkan tradisi berkirim pesan melalui pos.

Menurut Hu Fangfang, pemandu wisata perjalanan Antara selama berada di Beijing akhir September lalu, kini hanya orang-orang di pedesaan yang masih menggunakan jasa pos.

Anak muda dan orang-orang yang tinggal di kota lebih memilih berkomunikasi lewat gawai pintar masing-masing karena lebih hemat waktu dan biaya.

Alasan itulah yang membuat keberadaan Chinese Imperial Post di kawasan perbelanjaan Yandai menjadi alternatif kegiatan yang menarik wisatawan dalam dan luar negeri.

Didirikan oleh Kaisar Guang Xu dari Dinasti Qing pada 20 Maret 1896, kantor pos merangkap museum ini menyajikan beberapa momentum penting sejarah masa perang mulai dari Dinasti Shang hingga pembentukan Beijing.

Sistem pos China sendiri memiliki sejarah panjang yang dapat ditelusuri kembali setidaknya 3.000 tahun ke masa Dinasti Shang.

Awalnya layanan pos hanya digunakan untuk pengiriman dokumen resmi, terutama militer. Sistem stasiun dikembangkan untuk membantu distribusi pesan. Melalui sistem ini, semua pesan akan dipindahkan oleh kurir-kurir yang melakukan perjalanan dari satu stasiun ke stasiun lain.

Pada masa Dinasti Qin (221-206 SM), kerajaan-kerajaan kecil disatukan dan sebuah sistem pos nasional dikembangkan. Meskipun periode perdamaian dan penyatuan tidak berlangsung lama, komponen sistem pos tetap digunakan secara regional.

Diteruskan oleh Dinasti Han (206-220 SM), sistem pos China berhasil mencapai Kekaisaran Romawi melalui Jalur Sutera.

Jalur Sutera yang terdaftar sebagai warisan dunia oleh UNESCO, bersamaan dengan Kanal Besar China dan pelayaran Zheng He merupakan tonggak sejarah pembangunan pos terbesar pada masa China kuno.

Sejak saat itu, sistem pos China terus berkembang melalui kurir yang menempuh perjalanan darat dan air untuk mencapai tujuan mereka, tetapi penggunaannya hanya terbatas pada kalangan pemerintah dan militer.

Baru pada abad 15 kantor pos swasta muncul dan pedagang mulai menggunakan fasilitas tersebut untuk berkomunikasi dan melakukan transaksi.

Pada akhir 1800-an sistem mulai dipengaruhi oleh negara-negara Barat. Pemerintah mengeluarkan cap pos pertama pada 1876 bergambar naga besar. Pada revolusi 1911, pemerintah China menutup semua stasiun pos untuk digantikan dengan cara yang lebih modern dan efisien, serta mengendalikan sebagian besar perusahaan pos pribadi.

Pada 1949, sebuah Kementerian Pos dan Telekomunikasi didirikan untuk menata ulang sistem tersebut menjadi apa yang sekarang dikenal sebagai China Post.

Modernisasi memungkinkan jangkauan yang lebih luas lagi ke kota-kota pedesaan dan daerah-daerah yang telah diabaikan oleh sistem pos pada abad-abad yang lalu. Dalam hitungan dekade, sistem pos yang telah menjadi bagian dari China selama ribuan tahun, telah berakhir.

Namun, saat ini keberadaan kantor pos tradisional semakin terbatas dan mengakibatkan berkirim surat menjadi pengalaman langka yang berharga.

Chinese Imperial Post pun cukup menarik perhatian di antara deretan toko-toko penjual pakaian, makanan, dan berbagai suvenir khas China yang berderet di Jalan Yandai.

Di dalam kantor pos yang berukuran kecil memanjang ke dalam ini, pengunjung dapat memilih kartu pos dengan beragam gambar, seperti hewan, tumbuhan, tulisan China, dan foto kuno.

Harga yang dipasang untuk setiap kartu pos juga sangat bervariasi mulai dari 8-60 yuan (sekitar Rp16.000-Rp120.000) tergantung gambar, desain, dan ukuran.

Sementara, untuk perangko kirim dibanderol dengan harga 0,8 yuan untuk wilayah China dan 4,5 yuan (sekitar Rp9.000) untuk alamat tujuan luar negeri.

Setelah membayar kartu pos dan perangko, pengunjung bisa menulis pesannya di lembar belakang kartu pos, lalu menempeli kartu tersebut dengan perangko dan membubuhkan cap di atas perangko.

Tahap akhir dari proses yang mengasyikkan ini yakni memasukkan kartu pos ke kotak pos berbentuk tabung besar yang disediakan di depan Chinese Imperial Post. Untuk alamat Indonesia misalnya, si pengirim harus sabar menunggu selama dua bulan sampai pesannya dapat diterima oleh orang yang dituju.

Kuno Jalan Yandai, yang secara harfiah berarti "pipa tembakau" dalam bahasa Mandarin, berukuran panjang 232 meter dan lebar enam meter ini dua abad lalu dikenal sebagai Jalan Gulou seperti tercatat dalam peta kuno Beijing.

Pada akhir Dinasti Qing berganti nama menjadi Yandai karena di sepanjang jalan tersebut banyak penjual kantung-kantung berisi tembakau, perangkat merokok, lukisan, kaligrafi, dan barang antik lainnya.

Karena merepresentasikan adat tradisional dan ciri khas Beijing kuno, Pemerintah Distrik Xicheng merestorasi kawasan tersebut pada 2007 dan kini ditetapkan sebagai kawasan perbelanjaan khusus oleh Biro Perdagangan Kota Beijing.

Secara umum, artistektur Jalan Yandai masih bertahan pada keaslian gaya anggun dan sederhana khas Dinasti Ming dan Qing.

Selain menjaga tradisi dengan menjual pipa rokok, jejeran toko di jalan komersial kelas atas selama periode 1920-an itu, juga menjajakan sutra, teh, makanan, dan batu giok.

Jalan ini juga berdekatan dengan Danau Shichahai yang justru ramai dikunjungi orang pada malam hari karena keindahan pantulan lampu-lampu restoran, toko, dan bar yang berjejer di sepanjang tepiannya.
Kawasan ini bagai oase bagi orang-orang yang ingin merasakan atmosfer masa lalu, di tengah Beijing yang telah berkembang menjadi ibu kota yang sangat modern, lengkap dengan gedung-gedung menjulang tinggi dan padatnya lalu lintas.

Widi International Fishing Tournament (WIFT)

Lomba mancing internasional dengan nama Widi International Fishing Tournament (WIFT) memperebutkan Piala Presiden RI akan digelar di perairan objek wisata Pulau Widi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara (Malut), pada 25-29 Oktober 2017.

Kegiatan itu digelar atas kerja sama Kementerian Kordinator Bidang Kemaritiman, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pariwisata, Pemprov Malut dan Pemkab Halmahera Selatan.

Gubernur Malut Abdul Ghani Kasuba menilai penyelenggaraan lomba mancing internasional yang pertama kali di Indonesia memperebutkan Piala Presiden RI itu, akan memberi banyak manfaat bagi provinsi ini, di antaranya menjadi momentum untuk mempromosikan potensi pariwisata daerah setempat.

Selain itu, akan menjadi sarana untuk memperkenalkan potensi perikanan Malut, baik potensi perikanan tangkap maupun potensi perikanan budi daya, yang selama ini belum digarap secara maksimal.

Potensi perikanan tangkap misalnya, mencapai sekitar 1 juta ton per tahun dengan potensi lestari sekitar 500 ribu ton per tahun, sedangkan yang dimanfaatkan selama ini baru mencapai sekitar 40 persen.

Menurut Gubernur, penyelenggaraan WIFT yang akan dijadikan agenda tahunan itu, juga menjadi momentum bagi Pemprov Malut untuk memperjuangkan dukungan pembangunan infrastruktur dari pemerintah pusat, khususnya yang terkait dengan infrastruktur pariwisata dan perikanan.

Infrastruktur yang akan diperjuangkan itu, di antaranya pembangunan infrastruktur jalan lingkar Halmahera, khususnya di ruas jalan yang menjadi akses menuju objek wisata Pulau Widi serta pembangunan Bandara Usman Sadik di Labuha, yang merupakan pintu masuk wisatawan dari dan ke Halmahera Selatan.

Pemberdayan nelayan di Halmahera Selatan, termasuk di kabupaten/kota lainnya di Malut juga akan diperjuangkan untuk mendapatkan dukungan dari pemerintah pusat, khususnya pemberdayaan dalam bentuk pemberian kapal penangkap ikan.

Oleh karena itu, Gubernur Abdul Ghani Kasuba akan berupaya menyukseskan penyelenggaraan WIFT tersebut, di antaranya dengan mengalokasikan anggaran sedikitnya Rp10 miliar melalui APBD.

Jika anggaran itu tidak mendapat dukungan dari DPRD Malut untuk diakomodir dalam perubahan APBD 2017, Pemprov Malut akan mengupayakannya dengan cara berutang kepada pihak lain dengan tetap memperhatikan prosedur dan aturan yang berlaku.

Bagi Gubernur berutang untuk kepentingan daerah dan masyarakat tidak menjadi masalah, apalagi untuk daerah seperti Malut yang memiliki keterbatasan anggaran, seperti tergambar pada APBD 2017 yang hanya Rp2,8 Triliun, dengan catatan penggunaannya sesuai dengan aturan tang berlaku.

Persiapan Gubernur Abdul Ghani Kasuba mengaku berbagai persiapan untuk menyukseskan penyelenggaraan WIFT terus dimatangkan, baik yang menjadi tanggung jawab Pemprov Malut maupun Pemkab Halmahera Selatan dan pihak terkait lainnya.

Penyediaan kapal untuk digunakan peserta WIFT misalnya, yang menjadi salah satu tanggung jawab Pemprov Malut, sudah disiapkan 50 kapal, sementara untuk akomodasi mereka telah disiapkan rumah warga, karena hotel atau penginapan tidak ada.

Masyarakat di sekitar lokasi penyelenggaraan WIFT, juga sudah siap menyambut para peserta WIFT, bahkan warga telah menanam berbagai tanaman pangan lokal untuk disuguhkan dalam bentuk kuliner tradisional kepada para peserta WIFT.

Pemkab Halmahera Selatan, sebagai tuan rumah, juga berkomitmen untuk menyeukseskan penyelenggaraan WIFT tersebut, bahkan menurut Bupati Halmahera Selatan, Bahrain Kasuba, telah mengalokasikan anggaran Rp10 miliar lebih untuk kegiatan itu.

Anggaran itu dialokasikan untuk pembenahan infrastruktur dan penataan kota Labuha sebagai lokasi acara pembukaan dan penutupan WIFT, termasuk untuk kegiatan expo maritim dan lomba masak serba ikan, yang akan tampilkan pada penyelenggaraan WIFT.

Berbagai kegiatan yag akan ditampilkan saat acara pembukaan dan penutupan WIFT, juga telah disiapkan , di antaranya tarian kolosal yang melibatkan para pelajar di Halmahera Selatan, termasuk tarian soya-soya yang merupakan tarian khas Malut.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Malut yang juga Ketua Panitia Daerah WIFT, Buyung Rajilun menggambarkan penyelenggaraan WIFT pada 25-29 Oktober sebagai kegiatan yang sangat diminati para pemancing profesional, baik dari dalam maupun luar negeri.

Sampai saat ini tercatat sedikitnya 300 peserta yang akan ambil bagian pada WIFT tersebut, sebanyak 150 di antaranya dari mancanegara, seperti dari Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat dan Singapura, yang tergabung dalam 13 club mancing profesional.

Penyelenggaran WIFT tersebut banyak diminati peserta dari dalam dan luar negeri, karena selain keindahan objek wisata Pulau Widi, baik dari segi panorama pantai maupun bawah lautnya, juga karena di perairan Pulau Widi banyak terdapat ikan tuna serip kuning yang sangat disukai para pemancing.

Pengamat Perikanan dari Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU), Mahmud Hasan mengharapkan penyelenggaraan WIFT tersebut, tidak bernasib seperti penyelenggaraan Sail Morotai tahun 2012, yang hanya meriah saat acara berlangsung, tetapi setelah itu, tidak terlihat dampaknya terhadap daerah dan masyarakat.

Peneyelenggaraan WIFT tersebut menghabiskan anggaran yang tidak sedikit, oleh karena itu manfaat yang akan dinikmati Malut dari Penyelenggaraan kegiatan itu, seperti promosi pariwisata dan potensi perikanan, harus bisa terlihat, bukan hanya menjadi angan-angan belaka.

Hal lainnya yang juga harus menjadi perhatian dalam penyelenggaraan WIFT tersebut adalah pemanfaatan anggaran secara transparan, tepat sasaran dan efesiensi agar tidak ada masalah hukum yang terjadi ketika instansi terkait melakukan audit.

Blora Jawa Tengah

Kabupaten Blora di Jawa Tengah yang pada 11 Desember mendatang merayakan hari jadi ke-268 memiliki potensi wisata alam, religi, budaya, dan kuliner yang menjanjikan untuk menarik wisatawan berkunjung ke daerah ini.

Potensi wisata alam yang ada di daerah ini, di antaranya Gua Terawang, Waduk Bentolo, Waduk Greneng, dan objek wisata geologi, sedangkan objek wisata budaya seperti makam dan petilasan masa lampau, kesenian Tayub dan Barong, serta kuliner wedang cemohe, sego kobong, maupun aneka sate, soto, dan opor ayam.

Potensi wisata di Kabupaten Blora merupakan gabungan antara kondisi alamnya yang berkapur serta perjalanan sejarahnya yang panjang. Sejarah Kabupaten Blora tidak lepas dari pengaruh Kerajaan Demak, Pajang, dan Mataram pada abad 16 hingga pertengahan abad 18.

"Kita punya potensi yang besar. Kita sedang tata dan kita kembangkan," kata Wakil Bupati Blora, Arief Rohman, saat menerima kunjungan peserta Lokakarya Media belum lama ini.

Kabupaten Blora dengan luas wilayah administrasi 1820,59 kilometer persegi, sebagian besar daerahnya berkapur, karena posisinya yang berada di deretan Pegunungan Kendeng. Separuh wilayah kabupaten ini merupakan kawasan hutan, utamanya hutan jati.

Gua Terawang misalnya, gua ini berada di wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Blora, sekitar 35 kilometer ke arah barat dari Kota Blora atau di Desa Kedungwungu, Kecamatan Todanan. Gua ini diduga terbentuk dari endapan batu gamping yang umurnya mencapai 10 juta tahun.

Dalam gua yang mempunyai panjang alur sekitar 180 meter dengan kedalaman 5-11 meter di bawah permukaan tanah tersebut terdapat stalakmit dan stalaktit yang sangat indah.

Tidak jauh dari Gua Terawang terdapat pula Waduk Bentolo. Waduk ini tidak hanya sebagai objek wisata, tetapi juga sarana irigasi lahan pertanian. Di kawasan ini terdapat bumi perkemahan yang luas dengan nama Bumi Perkemahan Pancasona.

Sekitar 10 kilometer ke arah timur laut Kota Blora, terdapat Waduk Tempuran yang berfungsi utama sebagai irigasi serta pembinaan atlet-atlet dayung, selain juga objek wisata.

Sekitar 12 kilometer ke arah barat laut dari Kota Blora, akan dijumpai objek wisata Waduk Greneng yang berada di Dukuh Greneng, Desa Tunjungan, Kecamatan Tunjungan. Waduk ini mempunyai fungsi sebagai sarana irigasi serta budi daya air tawar.

Blora juga menawarkan wisata geologi, yakni wisata alam di bidang ilmu kebumian, khususnya yang terkait dengan tambang minyak dan gas bumi (migas). Wisata geologi berada di perbukitan dan di tengah-tengah kawasan hutan jati, di antaranya di Kecamatan Ledok.

Kabupaten Blora yang memiliki wilayah Kecamatan Cepu, selama ini dikenal dengan hasil migasnya. Kawasan Blora dan sekitarnya diyakini banyak mengandung migas, baik yang sudah dieksploitasi maupun eksplorasi. Di Kecamatan Ledok saja saat ini ada sekitar 212 sumur migas.

Bahkan, Sumur Ledok 1, konon merupakan sumur pertama di daerah itu. Sumur minyak yang dibor pada Juli 1893 itu, ditemukan insinyur Belanda yang bernama Andrian Stoop.

Tidak sekadar itu, di Blora juga telah berdiri Sekolah Tinggi Energi dan Mineral (STEM) Akamigas Cepu yang mendidik generasi penerus bangsa untuk mengelola potensi tambang di Tanah Air.

Sekolah ini mengawali perkuliahan pada 7 Februari 1967 berdasarkan Keputusan Dirjen Migas Nomor 19/DD/Migas/1966 tanggal 24 Oktober 1966. Sekolah ini di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Sejarah dan Budaya Blora juga memiliki khazanah budaya yang menarik untuk disimak karena di daerah ini kental dengan sejarah kerajaan, masa penjajahan hingga kemerdekaan.

Jika menilik sejarahnya, Blora konon berasal dari kata "Belor" yang artinya lumpur atau tanah becek. Kata itu kemudian berkembang menjadi "Beloran" atau "Mbeloran", yang juga berarti tanah berlumpur.

Kendati demikian, ada pula literatur yang menjelaskan bahwa "Blora" dari kata "Wai" dan "Lorah". "Wai" berarti air dan "Lorah" berarti tanah rendah. Pergeseran huruf W dengan huruf B dalam bahasa Jawa sehingga mengubah "Wailora" menjadi "Bailora" atau "Blora".

Jadi nama "Blora" berarti tanah rendah berair atau mendekati pengertian tanah berlumpur atau tanah becek seperti dalam kata "Belor".

Hari jadi Kabupaten Blora, berdasarkan buku Khutarama, dilandaskan pada pengukuhan Pangeran Mangkubumi selaku Sultan Ngayogyakarta pada 1 Sura Tahun Alif 1675 tahun Jawa atau tanggal 11 Desember 1749 Masehi. Bersamaan dengan itu, Wilatikta dikukuhkan menjadi Bupati Blora yang pertama dengan gelar Tumenggung Wilatikta.

Oleh karena itu, menyusuri berbagai kawasan di Kabupaten Blora mudah ditemui makam, petilasan-petilasan, ataupun jejak peninggalan tempo dulu.

Sejumlah makam yang hingga kini dikeramatkan masyarakat setempat, seperti makam Bupati Blora masa lalu di Ngadipurwo, sekitar lima kilometer ke arah utara Kota Blora, makam Sunan Pojok atau makam Surobahu Abdul Rohim, perwira dari Kerajaan Mataram di selatan Alun-Alun Kota Blora.

Selain itu, makam Jati Kusumo dan Jati Swara, keduanya putera Sultan Pajang di Desa Janjang, Kecamatan Jiken, petilasan Kadipaten Jipang, di Desa Jipang, Kecamatan Cepu, serta makam Sriakandi Aceh Poucut Meurah Intan, pahlawan dari Aceh yang diasingkan Belanda di Desa Temurejo, Kecamatan Blora.

Bahkan, pada 2006 di Dusun Sunggun, Desa Medalem, Kecamatan Kradenan, diperoleh fosil vertebrata gajah yang mencapai 90 persen. Lokasi penemuan fosil gajah yang diperkirakan sudah berusia 200 ribu tahun itu kemudian disebut Situs Sunggun.

Sementara itu, Blora yang diapit Kabupaten Rembang, Pati, Grobogan, dan Ngawi, juga memiliki Kesenian Barongan atau Tari Barong yang menggambarkan spontanitas, kekeluargaan, kesederhanaan, kasar, keras, kompak, dan keberanian yang dilandasi kebenaran.

Kesenian lainnya adalah Tayub. Tayub konon berasal dari kata "ditata biar guyub". Kesenian tari dipadu musik gamelan ini biasa ditampilkan pada upacara-upacara adat desa semisal sedekah bumi, hajatan keluarga, dan agenda-agenda adat lainnya.

Dengan mengunjungi sejumlah tempat di Blora, juga mudah menemui kampung masyarakat Samin, yakni masyarakat pengikut ajaran Samin Surosentiko atau Saminisme. Mereka menyebut dirinya Sedulur Sikep.

Samin Surosentiko lahir di Kedhiren, Randublatung, Blora pada 1859. Pada masa penjajahan, Samin beserta pengikutnya melakukan pembangkangan tidak membayar pajak, tidak bergotong royong maupun tidak ronda. Masyarakat Samin bersikap "nggendhengi", yakni sikap melawan dengan tidak melakukan kekerasan dan berpura-pura bodoh.

Ketika ke Blora, pengunjung juga bisa menikmati khazanah kuliner yang khas, seperti wedang cemohe di Togosari Raya, yakni minuman jahe dicampur susu, irisan roti tawar dan degan, sego kobong atau nasi bakar di Jalan Dr Soetomo, opor ayam Jawa di Jalan Mr Iskandar, soto ayam Blora di Jalan Pemuda, sate ayam di Jalan Gunung Sumbing, dan sate kambing di Jalan Pemuda.

Lapangan Terbang Kabupaten Blora secara geografis berada di tengah-tengah Ibu Kota Jawa Tengah di Semarang dan Ibu Kota Jawa Timur di Surabaya. Jarak Semarang-Blora sekitar 140 kilometer, sedangkan jarak Surabaya-Blora sekitar 180 kilometer.

Waktu tempuh Semarang-Blora sekitar tiga jam 20 menit, sedangkan waktu tempuh Surabaya-Blora sekitar 4,5 jam.

Meskipun kini sudah ada layanan transportasi berupa bus dan kereta api cepat untuk menjangkau kabupaten ini, Pemerintah Kabupaten Blora sedang berusaha menghidupkan kembali fasilitas lapangan terbang Ngloram di Cepu.

Lapangan terbang Ngloram yang dibangun pada 1980 dan beroperasi 1984, kini di bawah pengelolaan Kementerian ESDM. Pengelolaan lapangan terbang ini diharapkan segera dialihkan kepada Kementerian Perhubungan guna pengembangan lebih lanjut.

"Mudah-mudahan bisa segera terealisasi sehingga masyarakat maupun wisatawan yang akan berkunjung ke Blora bisa memilih berbagai sarana transportasi yang diinginkan," kata Wakil Bupati Blora, Arief Rohman.

Jajaran Dirjen Perhubungan Udara telah melakukan kajian kelayakan pengembangan lapangan terbang Ngloram menjadi bandara. Lapangan terbang Ngloram akan dikembangkan menjadi bandara umum secara bertahap dengan melakukan perpanjangan landasan pacu.

Panjang landasan pacu lapangan terbang Ngloram baru sepanjang 900 meter dengan kondisi yang rusak karena sudah lama tidak digunakan untuk penerbangan.

Untuk bisa menjadi bandara maka akan dilakukan perpanjangan bertahap hingga 2.000 meter lebih agar bisa digunakan pesawat berbadan besar.

Pemkab Blora kini terus berusaha menyinergikan potensi-potensi wisata yang dimiliki agar makin menarik wisatawan dan pada gilirannya bisa menggerakkan roda perekonomian masyarakat menuju peningkatan kesejahateraannya.

Slamet Hadi Purnomo

Hutan Adat Lindu


Samuel Tolei (72), tetua dari Majelis Adat Kecamatan Lindu, bercerita tentang hutan-hutan lebat yang menutupi punggungan pegunungan Nokilalaki, Adale, Kona'a, Tumaru, Gimba, Jala, Rindi, dan Toningkolue yang membingkai danau indah di tengah-tengah Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), Sulawesi Tengah.

Tebalnya tutupan hutan di sana memberikan warna hijau yang kontras dengan birunya langit dan gemerlap pantulan cahaya matahari dari air Danau Lindu, danau tektonik seluas 3.488 hektare (ha) dengan kedalaman mencapai 200 meter (m) yang terbentuk sejak zaman Pliosen.

Ia juga bercerita tentang padang savana, tempat hewan ternak yang dilepaskan begitu saja untuk memamah biak di sana. Sedangkan di Pulau Bola Lewuto dirinya menceritakan tentang leluhurnya, Madika Maradindo, yang dimakamkan dalam peti kubur kayu dengan ornamen kepala banteng dan terbuat dari garuhu.

Peti kubur kayu berisi tulang rangka bangsawan Lindu ini merupakan peninggalan arkeologi berharga yang dimiliki Indonesia dan peradaban dunia, yang kemudian dilindungi keberadaannya dengan Undang-undang (UU) Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, setelah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah menetapkannya sebagai cagar budaya. Di kawasan Lore Lindu miliki jejak peradaban megalitik tertua.

Entah berapa usia pasti peningggalan arkeologi tersebut, karena saat ditanya Samuel pun mengatakan tidak mengetahuinya dan hanya tahu bahwa peti kubur kayu itu sudah ada sejak zaman nenek moyangnya.

Namun yang jelas peneliti Eropa, Adriani dan A.C. Kruyt, telah menuliskannya dalam buku "Van Poso naar Parigi een Lindoe" di 1898, dan Kruyt menuliskannya lagi dalam buku "De West Toradjas in Midden Celebes" di 1938.

Orang-orang asli Lindu yang mendiami tiga dari lima desa di sana, yakni Desa Anca, Tomado dan Langko, memang masih memegang kuat adat mereka. Saat pertama kalinya datang ke daratan Lindu, seseorang akan terlebih dulu melalui prosesi Pepantodui, yang tujuannya agar selama berada di wilayah adat tersebut mereka akan selamat atau terhindar dari bahaya apapun.

Namun yang banyak "ditakuti" bagi tamu pendatang di daratan Lindu tidak lain adalah denda adat atau biasa disebut gifu yang salah satunya bisa termasuk satu ekor kerbau. Sesorang bisa terkena gifu jika saat mengikuti proses makan adat mendahului para tetua adat di sana yang belum selesai makan.

"Mencuci tangan saja terkena gifu jika pada saat bersamaan tetua adat belum selesai makan. Apalagi berdiri dan meninggalkan proses makan adat untuk keperluan apapun itu," kata Sekretaris Gugus Tugas Reforma Agraria Kabupaten Sigi Eva Bande yang kebetulan sedang mendapat tugas bersama rekan-rekan lainnya melakukan pemetaan partisipatif di Hutan Adat Lindu.

Bayangkan, bahkan Bupati periode sebelumnya dan anggota DPRD juga pernah ada yang terkena gifu dan harus membayar sanksi adat dengan kerbau ketika menjalani proses makan adat ini, lanjutnya.

Ruang Adat Lindu Samuel memang belum rampung menceritakan perihal kelembagaan adat serta hak atas tanah dan pengelolaan wilayah adatnya saat berada di makam leluhurnya. Dirinya kemudian melanjutkan penjelasannya saat berkumpul di Balai Pertemuan Adat Lobo yang memiliki pemandangan cantik menghadap langsung ke Danau Lindu.

Orang-orang Dataran Lindu sudah sejak lama membagi ruang adat mereka menjadi beberapa bagian, sebut saja Suaka Maradika yang hanya diperuntukkan untuk keperluan tertentu, Suaka Ntodea yang menjadi kawasan umum dapat dikelola masyarakat namun tetap terbagi lagi menjadi beberapa bagian, seperti Ngura, Pangale dan Wanangkiki.

Lalu ada pula Suaka Lambara yang menjadi lokasi khusus penggembalaan, seperti yang sudah Samuel ceritakan sebelumnya. Ada pula Suaka Wiyata dan Suaka Parabata.

"Di Suaka Wiyata sama sekali tidak boleh ada penebangan pohon, kalau sampai ada penebangan maka melalui peradilan adat dijatuhkan sanksinya bisa berupa satu kerbau, 10 dulang (belanga tembaga) dan satu mesa (kain adat)," ujar Samuel.

Fungsi kelembagaan adat Lindu yang bernama Totua Noada juga masih berjalan dengan baik, dengan struktur lembaga adat terdiri dari Jogugu yang terdiri dari Tutua Ngata yang memutuskan perkara, Galara yang mengambil keputusan, Pabisara yang menjadi pengacara, Kapita sebagai penengah putusan perkara, serta Suro yang bertindak sebagai utusan atau penghubung yang sedang berperkara.

Dengan demikian sanksi-sanksi yang dijatuhkan sudah melalui sistem peradilan adat yang masih berjalan di sana.

Alam dan Lindu Masih saat berbincang di Balai Pertemuan Adat Lobo, Kepala Desa Tomado Yoseph Todera mengatakan dengan tegas bahwa tanpa keberadaan Taman Nasional Lore Lindu sebenarnya masyarakat adat sudah menjalankan konservasi. Pengetahuan tentang kelestarian alam sudah tertanam baik alam adat Lindu, terbukti dengan sudah dan masih adanya pembagian ruang To Lindu.

Penetapan TNLL pada 1993 tanpa sosialisasi pada masyarakat justru membuat desa-desa di Daratan Lindu terjebak dalam kawasan taman nasional, ujar Yoseph.

"Di Palili pohon pinang tidak boleh ditebang. Menurut keyakinan orang Lindu itu makanan mereka yang tidak terlihat mata sehingga jika hilang akan mendatangkan penyakit," lanjutnya.

Dengan pengaturan ruang yang jelas serta fungsi kelembagaan adat yang tetap berjalan dapat dilihat tidak ada hutan di sekitar Danau Lindu yang gundul, padahal kampung sudah ada sejak ratusan tahun lalu, ujar Samuel, berusaha mempertegas pernyataan Yoseph.

Kampung tua di Anca sempat disebut sebagai kampung hantu karena dulunya tidak terlihat dari kejauhan, tertutup rapat oleh pohon-pohon beringin besar yang mengelilinginya. Pohon-pohon tersebut terpaksa dipangkas sebagian pada 1974, setelah kasus penyakit yang disebabkan oleh cacing parasit endemik jenis Schistosoma yang di Indonesia hanya ditemukan di Dataran Lindu dan Napu, Sulawesi Tengah.

"Itu pun masih ada beberapa pohon beringin besar yang sengaja disisakan. Ini menjadi bukti bahwa orang-orang Lindu sangat memelihara hutan dan lingkungannya, dan sangat membenci membabat hutan, apalagi di hulu sungai," lanjut Samuel.

Memetakan Hutan Adat Jika melihat sekilas peta Pulau Sulawesi, maka Danau Lindu seperti berada di tengah pulau ini, seperti berada tepat di tengah layaknya jantung bagi pulau yang dikenal dengan sebutan Celebes oleh para pencari rempah-rempah di masa lampau.

Belantara lebat yang mengelilingi danau tektonik ini menjadi daerah tangkapan air yang kemudian alirannya melalui tiga sungai besar di Sulawesi Tengah, yakni Sungai Lariang, Sungai Gumbasa dan Sungai Palu.

Hutan-hutan Adat Lindu, menurut Samuel, juga menjadi rumah bagi spesies-spesies endemik Pulau Sulawesi seperti anoa, babi rusa, selain juga sapi dan babi hutan. Damar juga menjadi flora yang banyak menutupi dataran yang berada di ketinggian di atas 900 mdpl tersebut.

Dalam era Reforma Agraria yang sedang dijalankan Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, masyarakat yang mendiami Dataran Lindu menyambut baik pemberian akses lahan oleh Pemerintah melalui Tanah Obyek Reforma Agraria (TORA) dan Perhutanan Sosial yang didalamnya juga mencakup pemberian hak atas Hutan Adat.

Camat Lindu Achmin Pampaw mengatakan bersyukur program Reforma Agraria menyentuh masyarakat hingga ke pelosok Lindu, dan akan mendukung percepatan program tersebut dengan ikut mengawal penyelesaian proses pemetaan partisipatif yang dilakukan lima desa di Kecamatan Lindu.

Jika Desa Anca telah rampung memetakan 208 ha hutan yang akan diajukan menjadi Hutan Adat, maka Desa Tomado sedang proses pemetaan partisipatif lebih kurang 1000 ha untuk diajukan menjadi hutan adat.

Proses pemetaan partisipatif oleh masyarakat tidak hanya dilakukan Masyarakat Adat Lindu, karena masyarakat di 125 desa di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, serempak melakukan hal yang sama. "Kami targetkan Oktober nanti semua selesai dan persyaratan pengajuan alokasi TORA dan Perhutanan Sosial terpenuhi sehingga bisa diajukan ke Pemerintah Pusat," kata Mohamad Irwan Lapatta.

Pemerintah menyiapkan dua skema legislasi dan redistribusi lahan seluas 9 juta ha, serta melalui pelaksanaan program perhutanan sosial seluas 12,7 juta ha yang salah satunya alokasi untuk Hutan Adat. Namun sejauh ini baru 13.122,3 ha lahan atau areal hutan yang resmi berstatus Hutan Adat. (Ben/An)

Virna Puspa Setyorini

Eko Supriyanto


Solo, 09/09 (Benhil) Gerakan meliuk yang menggabungkan antara keluwesan dan ketangkasan dihadirkan oleh maestro tari Indonesia asal Kota Solo Eko Supriyanto pada pembukaan Solo International Performing Arts (SIPA) 2017 di Beteng Vastenburg Solo, Kamis malam.

Eko yang pada pelaksanaan SIPA kali ini ditunjuk sebagai maskot sukses melaksanakan tugas dengan baik pada pembukaan tersebut. Puluhan penari latar yang tergabung dalam Ekos Dance Company juga berhasil menyita perhatian para penonton yang memadati acara tersebut karena gerak lincah nan atraktif yang ditunjukkan oleh seluruh penari.

Tidak diragukan lagi, Eko yang merupakan bekas penata tari penyanyi dunia Madonna tersebut sukses mengemban tugas karena pengalamannya yang tidak sedikit.

Pada pembukaan tersebut, Eko dan para penari latar yang jumlahnya lebih dari 20 orang tersebut membawakan tarian berjudul "Upper". Tari tersebut terinspirasi dari tari-tarian perang asal Halmahera Barat dan Maluku Utara seperti Cakalele, Soya Soya, serta tari Legu Salai.

Eko mengatakan "Upper" sendiri merupakan terjemahan fisikal untuk merayakan kecintaan dan inspirasi tari-tarian budaya maritim. Bersanding dengan ketakjuban stamina dinamis ragam-ragam gerakan dalam silat, karya tersebut mencoba menyelaraskan keharmonisannya untuk sebuah ucap syukur atas inspirasi tubuh-tubuh bahari.

"Untuk melompat lebih tinggi hingga seperti garis laut nan kemerahan tanpa batas, tinggi penuh misteri," katanya.

Selain tampil pada pembukaan, pria yang akrab disapa Eko Pece tersebut juga menampilkan salah satu karya besar yang berjudul "Cry Jailolo". Tarian ini ditarikan oleh tujuh pemuda yang bukan penari dari daerah Jailolo, Halmahera Barat.

Karya "Cry Jailolo" Eko mengatakan bahwa karya "Cry Jailolo" adalah ungkapan dan optimisme yang kuat bahwa penghancuran terumbu karang di laut akan berhenti, ikan akan kembali sekali lagi ke karang, dan keheningan di lautan akan dipulihkan. Demi menciptakan karya tersebut, pria kelahiran Banjarmasin yang juga berprofesi sebagai salah dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini melakukan riset sejak 2011 dan akhirnya tarian tercipta pada tahun 2013.

Karya ini dilahirkan untuk mempromosikan pariwisata di Jailolo yang merupakan tempat tinggal beberapa penyelam terhebat di dunia. Meski demikian, Jailolo juga merupakan wilayah yang mengalami degradasi lingkungan.

Mengenai cerita tentang tari tersebut, Eko mengatakan bahwa tarian tidak merujuk pada cerita apa pun. Hampir sama dengan tari "Upper", "Cry Jailolo" ini juga terinspirasi oleh tari-tari Halmahera Barat dan tradisi masyarakat setempat.

"Dari riset tersebut saya temukan bahwa yang mencintai tari kebanyakan adalah anak di bawah umur 12 tahun atau 35 tahun ke atas. Artinya, ada jarak antara usia tersebut yang tidak terakomodir dengan baik," katanya.

Berangkat dari kondisi tersebut, pria yang akrab disapa Eko Pece ini meminta Bupati Halmahera Barat agar dirinya bisa ambil bagian untuk bisa bekerja dan membuat karya dengan anak-anak yang tidak terakomodasi tersebut.

Pria 46 tahun ini mengatakan bahwa pentas pertama "Cry Jailolo" dilaksanakan pada bulan Juni 2013 di Kuala Lumpur. Pada saat itu, dia menyuguhkan "Cry Jailolo" dalam versi 20 menit. Selanjutnya, tarian yang sama ditampilkan pada tahun 2014 di Indonesia Dance Festival.

"Dari situ makin banyak pemberitaan terkait dengan tarian ini, mulai 2015 hingga tahun depan kami melakukan tur dunia, di antaranya di Asia, Eropa, dan Australia. Bahkan, pada tahun depan, kami mulai merambah ke Kanada dan Amerika Serikat," katanya.

Saat ini, Eko juga sudah menciptakan satu karya lagi berjudul "Bala Bala'. Ia mengatakan bahwa tarian tersebut diciptakan pada tahun 2016 dan pada tahun ini sudah mulai ditampilkan pada tur dunia.

"Tari 'Bala Bala' ini adiknya tari 'Cry Jailolo'. Ditampilkan oleh lima anak perempuan yang usianya sekitar 17 s.d. 19 tahun. Tari ini bercerita tentang kebangkitan perempuan di Halmahera Barat. Secara personal karya ini saya persembahkan kepada almarhumah ibu saya," katanya.

Sementara itu, mengenai rencana selanjutanya, Eko juga sudah diminta oleh Bupati Belu, Atambua, Nusa Tenggara Timur untuk mengerjakan sesuatu di daerah tersebut.

"Akan tetapi, untuk Belu ini, saya coba MoU-kan dengan teman-teman di ISI karena saya dosen di sana juga. Kami sinergikan dengan teman-teman agar mereka bisa berkarya di sana. Tidak harus saya lagi, tetapi bisa teman-teman lain dengan inspirasi yang berbeda supaya tidak sama dengan Jailolo lagi," katanya.

Kembangkan Budaya Solo Terkait dengan keterlibatannya pada SIPA pada tahun ini, Eko berharap ke depan festival SIPA akan terus berkembang.

"Sepertinya kita sudah sepakat dengan Badan Ekonomi Kreatif bahwa Solo akan kita canangkan sebagai kota seni pertunjukan. Secara potensi senimannya luar biasa, punya dua keraton yang luar biasa, artefak yang luar biasa, peninggalan tradisi yang luar biasa. Ini yang akan kami coba angkat, coba tawarkan, dan buka diri," katanya.

Eko bersama dengan pelaku budaya lain yang ada di Kota Solo juga akan mencoba untuk berdiskusi dan menjalin komunikasi dengan para seniman lain yang ada di luar Solo maupun luar negeri.

Pada tahun depan, pihaknya berencana memetakan lagi peta kesenian, senimannya. Bahkan, pihaknya akan mencoba membuat SIPA jadi lebih besar, bukan hanya tari, teater, dan musik, melainkan juga sirkus, stand up comedy, atau semua karya lain yang berhubungan dengan hiburan dan seni pertunjukan yang ada, dari mulai serius sampai komersial.

Ia mengatakan bahwa Solo sudah saatnya untuk mengembangkan seni pertunjukan. SIPA diharapkan bisa menjadi puncak festival seni pertunjukan yang ada di Indonesia, terutama di Solo.

Mengenai SIPA ini bukan apanya, melainkan bagaimana animo masyarakat yang harus dilihat. Dia melihat secara kurasi sudah lebih ditata. Sehebat dan sebesar apa pun festival, kalau tidak dengan kurasi yang bagus, tidak akan menemukan seniman-seniman yang baik.

Saat ini seniman yang didatangkan ke sini dengan potensi dan kualitas yang luar biasa, katanya.

Tiga kata yang diberikan oleh Eko dalam menggambarkan perkembangan SIPA ke depan, yaitu "connect, open, and continue".

"Connect" artinya kita harus mengoneksikan dengan segala bentuk karya dari seniman yang beragam, "open" memang harus membuka diri kalau mau jadi festival yang bagus dan besar untuk berdiskusi.

"Continue", pihaknya harus meneruskan apa yang sudah mereka kerjakan. (Ben/An)

Wasita Widiastuti

Pohon Temabga


Jakarta, 08/09 (Benhil) Pagi itu, seorang pria tua bernama Suprapto (78) tampak memandangi sebatang pohon yang tumbuh di kompleks Makam Tembaga, Desa Pekunden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Sesekali, pria kelahiran Pekunden itu memegang batang pohon berwarna cokelat kekuningan yang dikenal masyarakat dengan sebutan pohon tembaga.

"Dulu, semasa kecil, saya sering main ke sini dan pohon tembaga ini telah tumbuh namun sampai sekarang ukurannya enggak berubah, tetap seperti ini. Kompleks makam ini diberi nama Tembaga karena adanya pohon tembaga ini," ujar Suprapto.

Dia mengaku jika semasa kecil tidak peduli terhadap keberadaan pohon tembaga di desanya.

Akan tetapi dalam beberapa waktu terakhir, benaknya terusik oleh pohon tembaga yang memiliki tinggi lebih kurang 10 meter dan diameter terbesar sekitar 30 centimeter itu.

Hal itu disebabkan pohon tembaga yang tumbuh di Banyumas hanya satu batang dan belum diketahui manfaatnya.

"Sepertinya, pohon tembaga ini bagus kalau dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata karena usianya yang sangat tua dan mungkin hanya satu-satunya. Di sini pun cuma hanya ada satu batang, entah bisa dikembangkan atau tidak," katanya.

Pemerintah Kabupaten Banyumas diharapkan dapat mengembangkan potensi pohon tembaga sebagai salah satu destinasi wisata karena diduga berkaitan erat dengan sejarah Banyumas.

Dia meyakini akan banyak wisatawan yang datang untuk melihat secara langsung pohon tembaga yang sudah berusia ratusan tahun itu.

Babad Banyumas Dugaan keterkaitan pohon tembaga dengan sejarah Banyumas itu diamini warga Desa Pekunden lainnya, yakni Sugito (79).

Menurut dia, keberadaan pohon tembaga itu tercatat dalam kisah Babad Banyumas.

Dalam kisah tersebut Adipati Wirasaba Raden Joko Kahiman (selanjutnya menjadi bupati pertama Banyumas, red.) yang bergelar Adipati Warga Utama II mendapat wangsit supaya membuka tempat baru yang berada di barat laut Desa Kejawar yang ada pohon tembaga jika ingin lestari dalam menjalankan tugas sebagai adipati.

"Kalau dalam bahasa Jawa 'yen sira pengin lestari nggonira jumeneng adipati, trukaha papan anyar kang dhumunge lor kulone Desa Kejawar kang ana wite tembaga'," kata Sugito.

Selanjutnya, Raden Joko Kahiman pergi ke Kejawar untuk menemui orang tua angkatnya, Kiai Mranggi, guna menceritakan wangsit yang diterimanya.

Setelah mendengar penuturan Raden Joko Kahiman terkait dengan wangsit itu, Kiai Mranggi langsung memberi dukungan dan mencarikan arah lokasi yang disarankan dalam wangsit, yakni barat laut Kejawar hingga akhirnya mendapatkan daerah yang sekarang dikenal dengan nama Banyumas.

Daerah itu semula berupa rawa yang cukup luas dan hutan yang terdiri atas berbagai jenis pohon.

"Setelah disurvei, dari sekian banyak pepohonan yang tumbuh ditemukanlah pohon tembaga sehingga pohon-pohon lainnya ditebang, sedangkan rawa-rawanya dikeringkan dengan cara mengalirkan airnya ke Sungai Serayu. Selanjutnya (pada 1571, red.) daerah itu dibangun dan sampai sekarang dikenal dengan nama Banyumas," jelas dia yang merupakan pensiunan guru Sekolah Menegah Pertama Negeri 1 Patikraja, Banyumas.

Lebih lanjut mengenai pohon tembaga, dia mengatakan tim dari Yogyakarta pernah meneliti pohon tersebut.

Dari hasil penelitian, pohon tembaga itu diketahui tidak memiliki bunga dan tunas sehingga sulit untuk dibudidayakan secara alami.

Bahkan, tim peneliti juga mencoba mengembangbiakkan pohon tembaga itu melalui kultur jaringan namun gagal dan bagian-bagian lain dari pohon juga tidak memiliki manfaat bagi manusia.

Selain itu, sel kulit dari pohon tembaga itu tidak ada kesamaan dengan pohon lainnya sehingga untuk sementara disimpulkan sebagai satu-satunya pohon tembaga di Indonesia.

Dia mengaku senang ketika mengetahui jika upaya kultur jaringan itu gagal sehingga pohon tembaga hanya ada satu batang, yakni yang tumbuh di Banyumas dan tidak ada di tempat lain.

Oleh karena itu, Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Banyumas (saat itu) segera memasang papan peringatan bahwa pohon tersebut merupakan tanaman langka dan bersejarah yang dilindungi.

"Namun sekarang papan tersebut sudah tidak ada," kata Sugito.

Menurut dia, daun pohon tembaga akan meranggas ketika musim kemarau seperti saat sekarang dan merimbun ketika musim hujan.

Salah satu keunikan pohon tembaga tersebut adalah ukurannya yang tidak berubah.

"Dari dulu sampai sekarang ya seperti itu karena semasa kecil, saya sering mencari jangkrik di situ," ujarnya.

Bahkan, pohon tembaga itu belum pernah tumbang meskipun pohon nagasari yang berhimpitan dengan pohon tembaga sempat beberapa kali tumbang dan selanjutnya tumbuh lagi.

Dia mengaku sepakat dengan pemikiran Suprapto untuk menjadikan pohon tembaga sebagai salah satu destinasi wisata yang dirangkaikan dengan wisata Kota Lama Banyumas.

Kendati demikian, ada beberapa bagian yang perlu dibenahi, salah satunya jembatan kecil menuju lokasi pohon tembaga.

Dapat Dibudidayakan Berbeda dengan pendapat tim peneliti dari Yogyakarta seperti yang diceritakan Sugito, salah seorang petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Jawa Tengah Seksi Konservasi Wilayah II Cilacap-Pemalang Dedi Rusyandi mengatakan bahwa pohon tembaga itu sebenarnya dapat dikembangbiakkan selama ada kemauan.

Ia mengaku pernah mengecek pohon tembaga tersebut dan muncul dugaan jika pohon tembaga itu masih satu keluarga dengan pohon pucuk merah karena ada kemiripan.

"Kami berencana ke sana lagi untuk memastikan apa yang bisa dilakukan jika pohon itu akan dikembangkan di tempat lain," katanya.

Kini tinggal menunggu waktu, apakah pohon tembaga itu memang tidak bisa dibudidayakan seperti yang disimpulkan tim peneliti, ataukah dapat dikembangkan di tempat lain selama ada kemauan.

"Kami juga berharap ada tim peneliti lain yang turut meneliti pohon tembaga ini," kata salah seorang warga, Suprapto.

Sumarwoto

Wonderful Indonesia


Jakarta, 3/9 (Antara) - Brand pariwisata Indonesia dipromosikan di China tiga kota di Tiongkok yakni Hefei, Wuxi, dan Hangzhou sebagai upaya mendongkrak kunjungan wisman dari negeri tirai bambu.

Asdep Pengembangan Pasar Asia Pasifik Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Vinsensius Jemadu dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu, mengatakan pihaknya meluaskan jangkauan promosi dan pemasaran pariwisata ke kota-kota lain di daratan Tiongkok tidak sekadar di Shanghai, Guangzhou, Beijing, atau Shenzhen.

"Saat ini, promosi juga mulai merambah kota-kota tier atau tingkat kedua di Tiongkok," katanya.

Pihaknya melakukan promosi pariwisata berupa Sales Mission Greater Bali ke tiga kota tersebut pada 29 Agustus-31 Agustus dan 1 September 2017.

"Berbicara mengenai tingkatan, kota-kota yang dimaksud dengan tier-2 di Tiongkok adalah kota-kota yang secara ekonomi memiliki produk domestik bruto atau PDB antara 68 miliar-299 miliar dolar AS," ujarnya.

Pihaknya tetap menganggap Tiongkok sebagai pasar wisatawan yang utama lantaran kenyataan bahwa Tiongkok adalah pasar yang dari segi jumlah dan pertumbuhannya paling signifikan di antara pasar lainnya.

"Jumlah kunjungan wisman Tiongkok pada 2017 sampai Juni sudah hampir mencapai angka satu juta, paling besar di antara pasar mana pun, dan angka pertumbuhan 'year-on-year'-nya periode Januari-Juni 2017 hampir mencapai 50 persen," jelas Vinsensius.

Sementara itu, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kemenpar I Gde Pitana menambahkan, pihaknya ingin menjaga momentum pertumbuhan pariwisata dengan mengadakan penganekaragaman atau versifikasi promosi, salah satunya dengan menyasar kota-kota yang selama ini belum tersentuh seperti Hefei, Wuxi, dan Hangzhou.

Terlebih kata dia, sejumlah maskapai Indonesia pun kini turut mendukung pembukaan penerbangan ke kota-kota tier-2 di Tiongkok sehingga promosi pariwisata Indonesia dianggap sudah sebagai suatu keharusan sukseskan Wonderful Indonesia.

"Jika sebelumnya maskapai Indonesia hanya terbang ke originasi kota besar Tiongkok seperti Guangzhou dan Beijing, kini maskapai seperti Sriwijaya Air dan Citilink mulai merambah kota-kota seperti Hangzhou, Wuhan, Fuzhou, dan Guiyang," katanya.

Pada kegiatan Sales Mission Greater Bali di Tiongkok itu, Kemenpar membawa perwakilan dari 11 industri pariwisata asal Bali untuk memperkenalkan produk mereka kepada "buyers" di masing-masing kota itu.

Tema destinasi wisata Bali dipilih dikarenakan Bali adalah primadona pariwisata Indonesia dan destinasi yang tepat sebagai awal bagi wisman untuk mengeksplorasi kekayaan destinasi lainnya di Indonesia.

"Selain kegiatan 'business meeting' atau 'table top meeting', kegiatan misi penjualan menampilkan seni tari-tarian tradisional khas Indonesia, pembagian doorprize berupa tiket Shanghai-Denpasar pulang pergi dan akomodasi 3 hari 2 malam serta paket wisata untuk satu orang di setiap kota," katanya.

Pihaknya berharap upaya promosi Wonderful Indonesia di China mampu benar-benar mempromosikan pariwisata Indonesia kepada publik di Tiongkok secara lebih luas. (Ben/An)


Borobudur

Jakarta, (Benhil, 23/8/2017) – Menteri Pariwisata Arief Yahya menyebutkan Badan Otorita Borobudur (BOB) akan segera beroperasi menyusul rampungnya berbagai proses administrasi dan pembentukan struktur organisasi badan tersebut.

Dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (23/8), Arief mengatakan rapat koordinasi kedua BOB telah dilaksanakan pada 22 Agustus 2017 di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman.

"Dalam rapat yang dipimpin Pak Menko Maritim Luhut Panjaitan menghasilkan kesepakatan penting bagi kelangsungan pengembangan Borobudur, salah satu destinasi prioritas pariwisata," katanya.

Arief mengemukakan, terhitung Selasa (22/8) Badan Otorita Pariwisata (BOP) Borobudur mulai bertugas menyusul rampungnya berbagai proses administrasi Kepala BOB.

Sebelumnya, pembentukan Badan Otorita Pariwisata Borobudur berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 46 Tahun 2017 tentang Pembentukan Badan Otorita Pariwisata (BOP) Borobudur yang sudah disahkan presiden 11 April 2017 dan diundangkan pada 12 April 2017.

Menpan RB Asman Abnur sendiri juga telah menandatangani Surat Persetujuan tentang Pembentukan Struktur Organisasi Tata Kelola Badan Otorita Borobudur yang akan dipimpin oleh seorang Direktur Utama.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyambut baik dengan cepatnya proses pembentukan struktur kepengurusan Badan Otoritas Pariwisata Borobudur.

Ia berharap, BOB akan menjadikan Borobudur sebagai salah satu destinasi pariwisata nasional dan internasional yang memiliki kekayaan potensi wisata budaya berkelanjutan yang mampu menarik 2 juta wisatawan mancanegara pada 2019.

"Borobudur dikembangkan sebagai destinasi yang memiliki kekuatan daya tarik yang berbasis pada potensi heritage dan sudah diakui sebagai UNESCO World Cultural Heritage. Pengembangannya nanti akan difokuskan pada elemen 3A yaitu atraksi, aksesibilitas, dan amenitas," ujar Menpar Arief Yahya.

Arief menjelaskan, tugas dari BOB Borobudur ini nantinya meliputi melakukan koordinasi, sinkronisasi, dan fasilitasi perencanaan, pengembangan, pembangunan, dan pengendalian di Kawasan Pariwisata Borobudur.

"Critical success factornya ada di akses. Dan itu sudah ada jawabannya, Bandara New Yogyakarta International Airport di Kulonprogo akan menjawab masalah aksesibilitas udara menuju Joglosemar," jelas Arief Yahya.

Menpar Arief mengingatkan bahwa kelemahan pengelolaan Borobudur selama ini adalah "single destination, multimanagement".

"Ada zona 1 yang dikelola Kebudayaan (Kemendikbud), zona 2 dikelola BUMN, zona 3 Pemda dengan ribuan pedagang, dan zona 4 Kemenpar," katanya.

Oleh karena itu BOB hadir dengan kawasan otoritatif dan kawasan koordinatif dan Badan otorita inilah yang akan mengintegrasikan semua kekuatan atraksi Joglosemar, dan tidak akan menyentuh zona 1-2-3. Ke-4 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), Borobudur, Dieng, Karimunjawa, dan Sangiran akan dikelola dalam "single destination".

BOB akan mengelola kawasan wisata di tiga destinasi pariwisata nasional meliputi Solo-Sangiran dan sekitarnya, Semarang-Karimun Jawa dan sekitarnya, serta Borobudur - Yogyakarta dan sekitarnya.

Borobudur menjadi satu dari 10 destinasi pariwisata yang jadi prioritas dikembangkan hingga 2019.

Destinasi pariwisata lainnya adalah Danau Toba di Sumatera Utara, Tanjung Kelayang di Bangka Belitung, Morotai di Maluku Utara, Tanjung Lesung di Banten, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Kepulauan Seribu di DKI Jakarta, Mandalika di Nusa Tenggara Barat, Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur dan Kawasan Bromo Tengger di Jawa Timur. (Ben/Ard)

Pinus Pengger


Saat berkunjung untuk urusan kerja atau wisata seringkali masyarakat hanya tertuju ke Malioboro, Candi Prambanan, lereng Gunung Merapi, atau Candi Borobudur. Tapi kini cobalah mengunjungi Hutan Pinus Pengger di Dusun Sendangsari, Desa Terong, Kecamatan Dlingo, Babupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Objek wisata itu bisa menjadi alternatif bagi pelancong saat berkunjung ke Yogyakarta untuk mengunjungi lokasi wisata alam lain dengan harga yang sangat terjangkau.

Bagi sebagian masyarakat nama Hutan Pinus Pengger memang masih terasa asing terdengar karena memang lokasinya agak jauh dari Kota Yogyakarta. Tapi bagi pelancong yang gemar berpetualang alam, lokasi tersebut layak dikunjungi agar tak penasaran.

Hutan ini menawarkan daya tarik wisata alam yang alami dan asri sehingga jangan dibayangkan sebagai hutan belantara yang tidak tertata rapi dan berkeliaran hewan buas.

Lokasi Hutan Pinus (elliottii) Pengger berada di perbukitan Dlingo sebelah utara yang dekat dengan perbukitan wilayah Piyungan Bantul. Rute terdekat menuju Hutan Pinus Pengger dari pusat kota Yogyakarta ke arah timur melewati Jalan Wonosari Yogyakarta.

Dari pertigaan Piyungan ambil jalan naik menuju ke arah Patuk, Gunungkidul. Sesampai di perempatan puncak Bukit Patuk atau Bukit Bintang ambil arah ke kanan menuju Jalan Raya Patuk-Dlingo.

Selama perjalanan akan melewati Wisata Watu Amben dan beberapa menit berselang tiba di kawasan wisata Hutan Pinus Pengger di sisi kanan jalan. Kendaraan pengunjung dapat diparkir di area parkir yang dijaga oleh pengelola wisata hutan pinus tersebut.

Tiket masuk ke hutan itu relatif murah, yaitu Rp2.500 per orang. Parkir kendaraan sepeda motor Rp2.000 per kendaraan, parkir mobil Rp5.000 per kendaraan, dan parkir bis Rp20.000 per kendaraan.

Hutan Pinus Pengger Dlingo diresmikan sebagai tempat wisata pada tanggal 7 April 2016 dan saat ini dikelola oleh masyarakat desa setempat yang tergabung dalam kelompok sadar wisata. Hutan pinus ini menggunakan area hutan yang dibawah pengelolaan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) Mangunan sama seperti wisata hutan pinus lain yang berada di perbukitan Dlingo Bantul.

Kontur tanah hutan pinus ini berbukit dimana memiliki kemiripan dengan kontur tanah di Puncak Pinus Becici. Pengunjung yang ingin berada di tengah-tengah area hutan pinus harus berjalan menaiki puncak bukit melewati anak tangga sederhana yang terbuat dari tanah. Disarankan menggunakan alas kaki yang tidak licin terutama saat tanahnya licin kena air hujan Sebelum dikembangkan sebagai tempat wisata, hutan pinus ini berfungsi sebagai hutan produksi dimana getah pinusnya disadap sebagai bahan baku industri.

Pepohonan pinus di Hutan Pinus Pengger masih terbilang rapat sehingga pada siang hari pun matahari tidak menembus area dasar pohon. Pemandangan ini tampak istimewa bagi yang mendambakan hutan pinus yang rapat dan masih terlihat alami.

Suasana disekitar hutan pinus terasa sejuk dengan angin sepoi-sepoi yang berhembus dari sisi timur dan kadang dari sisi selatan.

Salah satu daya tarik lain Hutan Pinus Pengger Dlingo adalah spot untuk menikmati matahari terbenam di area Watu Adeg (Watu Ngadeg) atau ujung barat hutan pinus yang ditandai oleh area batu lava vulkanik yang telah membeku.

Batuan lava beku ini mirip seperti batuan lava beku di Wisata Watu Amben dan Gunung Api Purba Nglanggeran yang letaknya tidak jauh dair tempat tersebut. Dari tempat ini pengunjung dapat menikmati momentum matahari terbenam atau sunset dari atas ketinggian dengan pemandangan yang hampir sama dengan Puncak Pinus Becici yang letaknya berada di sebelah selatannya.

Bila kondisi cuaca cukup cerah akan terlihat jelas Gunung Merapi dan Gunung Merbabu di sisi sebelah kanan.

Swafoto Jangan lupa membawa kamera atau ponsel berkamera saat datang ke lokasi itu karena akan banyak objek yang menarik untuk swafoto (selfie) bersama atau seorang diri.

Pengelola telah memunculkan tempat spot foto baru yang membuat wisatawan berbondong-bondong datang ke tempat ini saat malam hari. Seperti spot foto yang di bentuk dari ranting kayu menyerupai akar kayu besar dengan tengahnya yang berlubang menjadi spot foto favorit dengan latarbelakang gemerlap lampu kota Daerah Istimewa Yogyakarta.

Di lokasi itu banyak terdapat tempat yang bisa dikunjungi pelancong. Walaupun harus bayar tapi harganya tak mahal, seperti panggung sekolah studia dikenakan biaya Rp. 2.500 per orang, studio alam Rp. 2.000 per orang, jelajah alam Rp10.000 per orang, sepeda hutan Rp. 10.000 per orang, dan panjat tebing Rp. 15.000 per orang.

Ada juga tempat yang bisa disewakan untuk kegiatan pecinta alam seperti lokasi berkemah dikenakan Rp. 15.000 per orang per malam, aula Rp. 250.000 per empat jam, dan tempat tidur gantung (hammock) Rp. 10.000 per orang.

Objek wisata itu juga bisa dijadikan lokasi yang ingin membuat dokumentasi seperti sesi fotografi dan sebelum pernikahan (prewedding) dikenakan biaya Rp. 200.000 per kegiatan, video klip Rp. 250.000 per kegiatan, dan film komersial Rp. 1.000.000 per hari.

Fasilitas pendukung wisata di Hutan Pinus Pengger cukup lengkap mulai dari kamar mandi umum, mushola, dan warung penjaja makanan serta minuman.

Pengunjung diharapkan menjaga kebersihan lingkungan dengan membuang sampah ditempat yang disediakan.

Secara keseluruhan Hutan Pinus Pengger dapat menjadi alternatif wisata saat berkunjung ke Yogyakarta sehingga provinsi itu akan makin banyak didatangi pelancong untuk datang berlibur atau sekedar rileks. (An/Ben)
All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.