Kupang, (Benhil, 10/04/2017) - Bali sudah lama dikenal masyarakat dunia internasional sebagai salah satu objek wisata yang sangat menarik dan mengagumkan di muka bumi ini.

Raja Salman bin Abdulaziz Alsaud dari Arab Saudi juga ikut tergoda oleh eksotiknya Pulau Dewata, sehingga dalam lawatannya ke Indonesia beberapa waktu lalu, dia bersama rombongan memilih beristirahat di sana sambil menikmati keindahan alam serta budaya masyarakat setempat sebelum kembali melanjutkan perjalanannya.

Dampak dari kunjungan Raja Salman tersebut, menurut Kepala Dinas Pariwisata Bali Anak Agung Gede Yuniartha, sangat berpengaruh terhadap perkembangan bisnis wisata Pulau Dewata, terutama datangnya para wisatawan dari Arab Saudi diperkirakan akan lebih banyak lagi.

Kunjungan wisatawan dari Timur Tengah, khususnya dari Arab Saudi, selama ini masih terlalu kecil jumlahnya jika dibandingkan dengan turis dari Eropa, Amerika dan Asia. Namun Anak Agung optimistis, suatu saat wisatawan dari negeri Arab akan membanjiri Pulau Dewata.

Bali tampaknya begitu istimewa di mata Menteri Pariwisata Arief Yahya. Ini karena hampir 40 persen wisatawan mancanegara masuk ke Indonesia melalui Bali. Hanya 30 persen melalui Jakarta, 20 persen melalui Kepulauan Riau dan 10 persen sisanya tersebar merata di daerah lain di nusantara.

Pesona Pulau Bali itu tertuang dalam "Workshop Sosialisasi Kebijakan Kemenpar bagi Jurnalis Greater Bali" dengan tema "Kebijakan Pengembangan Pariwisata 2017: Go Digital, Homestay dan Aksesibilitas" yang diikuti 50 wartawan dari Bali, NTB dan NTT di Kuta, Kabupaten Badung, Jumat (7/4).

Istimewanya Pulau Bali, tidak hanya dilihat dari pintu masuknya wisatawan dunia ke Indonesia, tetapi lebih dari itu karena segudang reputasi dunia yang dialamatkan ke Pulau Dewata yang kemudian dinobatkan sebagai destinasi terbaik dunia dalam "Travellers TripAdvisor".

Menteri Arief Yahya menilai Bali sebagai contoh destinasi yang paling lengkap, baik menyangkut atraksi, akses serta amenitas atau fasilitas pendukungnya. Sebagai destinasi, Bali dinilai paling maju di Tanah Air, sehingga dinobatkan sebagai ikon pariwisata Indonesia.

Atas dasar itu, 10 destinasi baru Indonesia yang meliputi Danau Toba di Sumatera Utara, Tanjung Kelayang di Bangka Belitung, Tanjung Lesung di Banten, Kepulauan Seribu di DKI Jakarta, Borobudur di Jawa Tengah, Bromo-Tengger-Semeru di Jawa Timur, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Mandalika di Nusa Tenggara Barat, Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur dan Morotai di Maluku Utara, juga dilukiskan sebagai 10 "Bali Baru".

Kehadiran 10 "Bali Baru" ini diharapkan menjadi alternatif berlibur bagi warga Australia. Hal ini juga sejalan dengan upaya Kementerian Pariwisata yang terus mempromosikan pariwisata Indonesia ke luar negeri melalui "Wonderful Indonesia".

Nama Pulau Bali begitu besar gaunnya di luar negeri, sehingga banyak wisatawan asing mengira bahwa Indonesia itu adalah bagian dari Pulau Bali. Sedih memang rasanya, namun Indonesia harus berbangga memiliki Pulau Bali yang eksostik dan penuh dengan aneka budaya dan keindahan alam itu.

Pada 2016, misalnya, kunjungan wisatawan mancanegara ke Pulau Bali mencapai 12 juta orang yang menghasilkan 43 persen devisa bagi Indonesia. Atas dasar itu pula, pengembangan pariwisata di Bali juga lebih banyak disesuaikan dengan selera turis yang lebih memilih tinggal di home stay desa wisata.

Dinas Pariwisata Bali sebagaimana dikemukakan Anak Agung Gede Yuniartha, akan mengalokasikan dana dari APBD Bali untuk pengembangan home stay pada sejumlah desa wisata yang ada untuk memenuhi selera wisatawan.

Ada sekitar 70.000 desa wisata di Indonesia, namun masih jarang memiliki home stay sebagai tempat berteduh bagi wisatawan. Bagi masyarakat di luar Bali, pengembangan home stay bukan menjadi pilihan utama, karena masih terbentur dengan infrastruktur jalan yang belum memadai untuk kepentingan pembangunan ekonomi maupun untuk wisatawan.

Salah seorang wartawan pada sesi tanya jawab menyoroti hal penting terkait dengan home stay dan infrastruktur jalan. Bagi Bali, pengembangan home stay mungkin sudah merupakan kebutuhan mendesak, tetapi hal itu tidak sama dengan masyarakat yang di NTB (Nusa Tenggara Barat) dan NTT (Nusa Tenggara Timur).

Sosialisasi yang dilakukan oleh Kementerian Pariwisata dinilai belum berhasil dalam menata ruang hati masyarakat, karena kebutuhan yang paling mendesak dan harus dibangun adalah jalan raya dan jembatan.

Jika sosialisasi tersebut membawa serta pula dengan Kepala Dinas Pariwisata Bali, tentu akan membawa manfaat bagi masyarakat yang berada di sekitar objek wisata NTB maupun NTT, karena meraka tahu bahwa Bali sudah sangat sukses dalam membangun sektor pariwisatanya.

Sekertaris Menteri Pariwisata Ukus Kuswara juga menyadari bahwa pembangunan pariwisata di Indonesia bukan saja menjadi tanggung jawab Kementerian Pariwisata, tetapi semua elemen bangsa, seperti pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, media, dan komunitas.

Sinergi yang disebut dengan Penta Helix tersebut menjadi kunci mengembangkan pariwisata Indonesia, khususnya dalam mewujudkan target kunjungan wisatawan di Indonesia yang diperkirakan akan mencapai 20 juta wisman pada 2019.

Presiden Joko Widodo telah menetapkan pariwisata sebagai sektor andalan yang harus didukung oleh sektor infrastruktur dan transportasi untuk mempercepat tercapainya target pariwisata pada 2019.

Pada 2019, target pariwisata Indonesia harus naik dua kali lipat sehingga dapat memberikan kontribusi terhadao PDB nasional sebesar 8 persen, devisa yang dihasilkan Rp. 280 triliun, menciptakan lapangan kerja di bidang pariwisata sebanyak 13 juta orang, kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 20 juta orang dan pergerakan wisatawan nusantara 275 juta orang, serta indeks daya saing pariwisata Indonesia harus berada di ranking 30 dunia.

Menurut Don Kardono, Staf Menpar Bidang Komunikasi, berdasarkan data dari Travel and Tourism Competitives Index (TTCI) yang dikeluarkan Forum Ekonomi Dunia, rakning pariwisata Indonesia saat ini sudah berada di anak tangga ke-42 dari posisi 52 untuk 196 negara di seluruh dunia.

Sehingga harapan Presiden Joko Widodo bahwa pariwisata Indonesia harus berada di peringkat 30 dunia, menurut Don Kardono, bisa tercapai berkat kerja keras dari semua stakeholder dalam membangun dunia pariwisata di Indonesia.

Dalam program pembangunan tahun 2017 ini, pemerintah telah menetapkan 14 program prioritas nasional di mana tiga urutan teratas prioritas nasional adalah Antarkelompok Pendapatan, Pembangunan Pariwisata, dan Perkotaan. Dan urutan keempatbelas adalah Stabilitas Keamanan dan Ketertiban.

Dengan ditetapkannya pariwisata sebagai program prioritas nasional, maka alokasi anggaran pariwisata 2017 juga akan meningkat, yakni Rp7,9 triliun dari pagu indikatif RKP 2017 atau naik sekitar 46,3 persen dari tahun lalu sebesar Rp. 5,4 triliun.

Bali telah menginspirasi munculnya istilah 10 "Bali Baru" yang dimaksudkan untuk mendorong lahirnya destinasi pariwisata unggulan di Indonesia. Bali begitu istimewa di mata Menteri Pariwisata Arief Yahya, karena 40 persen wisatawan mancanegara masuk ke Indonesia melalui Bandara Internasional Ngurah Ray di kawasan Kuta, Kabupaten Badung. (Ben/Ant)

Pulau Dewata Bali


All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.