Kambing Kaligesing


Nama Kaligesing sudah tidak asing bagi peternak kambing, karena merupakan sumber bibit unggul kambing peranakan etawa atau PE. Tetapi sekarang nama PE sudah tidak melekat lagi pada ternak kambing di sana, semua sepakat memakai nama Kambing Kaligesing karena sudah ditetapkan sebagai galur baru kambing berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 2591/Kpts/PD.400/7/2010.

Kecamatan Kaligesing berada di daerah perbukitan Manoreh di Kabupaten Purworejo dimana sekitar 60 persen populasi Kambing Kaligesing ada di sana. Sisanya berada di kecamatan lain di Purworejo dan tersebar di seluruh Indonesia, khususnya di Bantul, Sleman, Blitar, dan Bogor.

Sejarahnya, Pemerintah Belanda mengimpor kambing Ettawa pejantan dari India ke Wilayah Kaligesing, yaitu pada tanggal 27 Agustus 1931 sebanyak 7 ekor dan 12 Desember 1931 sebanyak 13 ekor, ditempatkan di Desa Somongari, Tlogoguo dan Hulosobo.

Semua kambing Ettawa pejantan dikawinkan dengan kambing-kambing lokal dengan tujuan untuk produksi daging dan susu. Hasil persilangan antara kambing Ettawa dengan kambing betina lokal di Kecamatan Kaligesing dikenal dengan nama Kambing Peranakan Ettawa (Kambing PE), yang kini sudah terbentuk galur baru Kaligesing.

Keunggulan Kambing Kaligesing dibandingkan ternak kambing lain antara lain merupakan tipe dwiguna, yaitu sebagai penghasil daging dan susu, produksi susunya sekitar 1 sampai 3 liter per ekor per hari, mempunyai kemampuan menghasilkan anak lebih dari satu dalam satu kali kelahiran (Prolifik), aktivitas reproduksinya tidak terpengaruh oleh musim, sehingga dapat berproduksi sepanjang tahun.

Keunggulan itulah yang membuat banyak peternak berburu Kambing Kaligesing, apalagi adanya kontes-kontes kambing di sejumlah daerah, termasuk tingkat nasional, yaitu Piala Presiden akan menaikkan gengsi kambing ras ini. Semakin sering juara harganya bisa melambung sampai seratus juta lebih untuk seekor pejantan unggul.

Jika di Kaligesing, peternak lebih fokus pada pembibitan, namun di tempat lain, kambing ini sengaja difokuskan pada poduksi susu. Produksi susu kambing ini ternyata bisa di angka 4 liter per hari jika mempunyai bibit dan pemeliharaan yang bagus.

Kambing merupakan jenis ternak yang mudah dipelihara karena mampu mengonsumsi semua rumput dan daun-daunan, relatif tahan penyakit, penurut pada tuannya, tidak membutuhkan kandang yang luas, dan mudah penanganannya.

Kunci sukses sejumlah peternak kambing Kaligesing yang sukses mengungkapkan kata kunci sukses beternak kambing adalah rasa sayang dari petugas pemelihara dan pemiliknya terhadap ternak. Jadi minimal ada rasa hobi memelihara ternak sehingga selalu menyediakan kebutuhan terbaik bagi ternaknya, baik pakan, kandang dan pengecekan kesehatan.

Banyak pertanyaan, apa yang perlu dipersiapkan dan berapa minimal skala kecil agar efisien untuk beternak Kambing Kaligesing? Urutan yang harus disiapkan pertama adalah ketersediaan pakan di lokasi peternakan, kedua penyiapan kandang dan petugas pemelihara dan terakhir adalah pembelian bibit.

Kambing termasuk hewan yang pemakan segala hijauan sehingga jika mempunyai lahan luas maka pemelibaraan dengan cara digembalakan adalah lebih baik bagi pertumbuhannya. Kambing akan memilih hijauan sesuai dengan kebutuhannya jika digembalakan.

Oleh karena itu, jika punya rencana dikandangkan maka di sekitar lahan peternakan sudah didata potensi hijauan yang ada tidak hanya rumput-rumputan, tetapi juga legume dan daun-daunan dari tanaman buah.

Kalau berada di pinggiran kota yang sulit mendapat hijauan, maka harus disiapkan kemitraan dengan petani di sekitarnya, misalnya untuk memasok tanaman jagung muda, ditambah rumput taiwan dan legume, seperti kaliandra, gamal dan indigofera.

Tanaman jagung yang berusia 70 hari bisa menjadi hijauan utama sampai 90 persen, sisanya bisa legume dan daun-daunan.

Saat ini sudah banyak petani yang berbisnis tanaman jagung muda karena peternak sudah mulai menggunakan jenis itu sebagai pengganti rumput gajah. Harga sampai di kandang sekitar Rp.700 sampai Rp.850 per kilogram. Lebih baik lagi jika mempunyai ruang kedap udara untuk penyimpanan tanaman jagung sehingga bisa diawetkan untuk kebutuhan untuk minimal satu minggu. Silase jagung bisa tahan berbulan-bulan.

Kandang kambing yang disiapkan juga harus memperhatikan kebutuhan gerak ternak, apalagi Kambing Kaligesing mempunyai postur tinggi besar. Peternak di Kaligesing, rata-rata membangun kandang individual ada juga per kandang untuk dua sampai tiga ekor betina. Sementara yang jantan dibuatkan kandang individual minimal ukuran 1,5 meter x 1,5 meter.

Bibit Mencari bibit sangat tergantung dari lokasi peternakan yang disiapkan. Jika berada di dataran menengah dan tinggi atau di atas 500 meter, maka tidak ada masalah karena banyak peternakan Kambing Kaligesing yang berada di dataran tinggi, seperti di daerah asalnya Kaligesing, serta di Wonsobo, Blitar, dan Bogor.

Pasar Pendem yang digelar setiap Sabtu di Desa Pandanrejo, Kaligesing, juga bisa menjadi alternatif mencari bibit karena tidak kurang dari 1.000 ekor ternak Peranakan Etawa (PE) dan 80 persen dari galur Kaligesing diperdagangkan di pasar itu.

Bibit untuk dataran tinggi juga bisa didapat dari Balai Besar Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BBTU-HPT) Baturraden, namun harus rela antre karena peminatnya cukup banyak.

Namun jika lokasi peternakan berada di dataran rendah di bawah 250 meter dari permukaan laut maka perlu didatangkan Kambing Kaligesing yang terbiasa dengan dataran rendah.

Peternak bisa mendatangkan dari BPTU-HPT Pelaihari di Kalimantan Selatan atau peternakan lain yang mengambil bibit dari balai itu.

Ir Tohir MP, mantan Kepala BPTU-HPT Pelaihari, mengatakan Kambing Kaligesing didatangkan ke Pelaihari tahun 2002, setelah itu dilakukan pemuliabiakan sehingga sekarang sudah muncul Kambing Kaligesing dataran rendah.

Kepala BPTU Pelaihari 2012-2017 itu menjelaskan, tingkat produksi Kaligesing di sana sekitar 1,5 sampai 2,5 liter per hari atau sudah menyamai produksi susu Kambing Kaligesing di dataran tinggi.

Harga bibit dari balai pembibitan milik pemerintah memang lebih murah dibanding harga pasaran tetapi peternak harus memesan jauh hari sebelumnya, minimal setahun sebelumnya.

Susu dan Cempe Dari sisi ekonomi, memelihara Kambing Kaligesing akan mendapatkan susu setiap hari dengan bonus anakan atau cempe karena dalam dua tahun akan ada tiga kelahiran. Jika rata-rata dua ekor per kelahiran maka bonusnya enam cempe per dua tahun.

Dengan harga susu kambing yang mencapai empat kali lipat dari haga susu sapi maka secara hitungan ekonomi, memelihara 20 ekor betina Kaligesing lebih menguntungkan dibanding memelihara tiga ekor sapi perah.

Investasi beternak kambing Kaligesing dengan memelihara 20 ekor akan sama dengan memelihara tiga ekor sapi. Skala yang diajukan itu sesuai dengan kemampuan seorang peternak memeliharanya.

Sebenarnya masih ada hasil sampingan lain dari memelihara Kaligesing, yaitu mendapatkan jasa kawin. Jika peternak mempunyai pejantan ungggul apalagi sering menang kontes maka jasa mengawini betina bisa dihargai Rp.1 juta sampai Rp.2,5 juta untuk membuat betina bunting.

Harga itu diungkap Sukiswanto, peternak Desa Tlogoduwo, Kaligesing, yang mempunyai Labas, pejantan unggul berusia 7 tahun.

Dengan skala usaha 20 ekor betina maka rata-rata bisa menghasilkan 20 liter per hari karena dianggap periode laktasinya berbeda-beda, ada yang dipuncak produksi atau ada yang sedang tidak laktasi. Hasil susu itu sudah dikurangi susu untuk cempenya.

Krisbianto peternak di Desa Pandanrejo, Kaligesing, mengungkap produksi susu kambing antara 1,5 sampai 4 liter per hari dengan lama laktasi sekitar 8 bulan.

Dengan harga pasaran susu kambing Rp.25 ribu per liter maka akan mendapat Rp.500 ribu per hari. Biaya pakan biasanya mencapai 50 persen dari pendapatan kotor sehingga pendapatan bersih sekitar Rp.250 per hari atau Rp.7,5 juta per bulan. Pendapatan bisa meningkat dua kali lipat jika susu kambing diolah menjadi produk kecantikan, seperti sabun, masker, krim (cream wajah), dan "body scrub".

Peternak juga akan mendapatkan bonus cempe usia 2 bulan yang dijual sekitar Rp.800 ribu untuk betina dan Rp.1,2 juta untuk jantan. Cempe betina dari indukan yang produksi susunya sebaiknya tidak dijual, tetapi disiapkan untuk betina produktif.

Kambing dalam 2 tahun tiga kali melahirkan dengan anakan rata-rata dua ekor sehingga dari cempe yang 60 persen dijual, bisa mendapatkan bonus 40 cempe senilai Rp.40 juta/tahun atau Rp.3,3 juta per bulan. Dengan skala 20 ekor betina dan 2 pejantan maka pendapatan dari susu dan cempe sekitar 11 juta per bulan.

Modal awal yang diperlukan untuk skala usaha kecil itu sekitar Rp.150 juta yaitu Rp.70 juta untuk bibit, Rp.50 juta untuk kandang dan peralatan, serta Rp.30 juta untuk stok pakan. Asumsinya harga betina Rp.3 juta per ekor dan jantan Rp.5 juta per ekor.

Jika di lokasi peternakan sudah ada petugas inseminasi buatan (IB) kambing, maka peternak bisa lebih effisien karena tidak perlu memelihara pejantan. Semen beku dari galur Kaligesing sudah diproduksi di Balai Inseminasi Butan (BIB) Lembang dengan harga jual sekitar Rp.7.000 per dosis.

Dengan asumsi ada penambahan betina laktasi 8-10 ekor per tahun mulai tahun ketiga, hasil seleksi anakan maka potensi pendapatan bisa bertambah dari rata-rata 11 juta per bulan bisa meningkat sampai Rp.20 juta per bulan pada tahun keempat. Berminat? Jangan ragu untuk mencoba karena usaha ini memang menjanjikan.

Budi Santoso

Widi International Fishing Tournament (WIFT)

Lomba mancing internasional dengan nama Widi International Fishing Tournament (WIFT) memperebutkan Piala Presiden RI akan digelar di perairan objek wisata Pulau Widi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara (Malut), pada 25-29 Oktober 2017.

Kegiatan itu digelar atas kerja sama Kementerian Kordinator Bidang Kemaritiman, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pariwisata, Pemprov Malut dan Pemkab Halmahera Selatan.

Gubernur Malut Abdul Ghani Kasuba menilai penyelenggaraan lomba mancing internasional yang pertama kali di Indonesia memperebutkan Piala Presiden RI itu, akan memberi banyak manfaat bagi provinsi ini, di antaranya menjadi momentum untuk mempromosikan potensi pariwisata daerah setempat.

Selain itu, akan menjadi sarana untuk memperkenalkan potensi perikanan Malut, baik potensi perikanan tangkap maupun potensi perikanan budi daya, yang selama ini belum digarap secara maksimal.

Potensi perikanan tangkap misalnya, mencapai sekitar 1 juta ton per tahun dengan potensi lestari sekitar 500 ribu ton per tahun, sedangkan yang dimanfaatkan selama ini baru mencapai sekitar 40 persen.

Menurut Gubernur, penyelenggaraan WIFT yang akan dijadikan agenda tahunan itu, juga menjadi momentum bagi Pemprov Malut untuk memperjuangkan dukungan pembangunan infrastruktur dari pemerintah pusat, khususnya yang terkait dengan infrastruktur pariwisata dan perikanan.

Infrastruktur yang akan diperjuangkan itu, di antaranya pembangunan infrastruktur jalan lingkar Halmahera, khususnya di ruas jalan yang menjadi akses menuju objek wisata Pulau Widi serta pembangunan Bandara Usman Sadik di Labuha, yang merupakan pintu masuk wisatawan dari dan ke Halmahera Selatan.

Pemberdayan nelayan di Halmahera Selatan, termasuk di kabupaten/kota lainnya di Malut juga akan diperjuangkan untuk mendapatkan dukungan dari pemerintah pusat, khususnya pemberdayaan dalam bentuk pemberian kapal penangkap ikan.

Oleh karena itu, Gubernur Abdul Ghani Kasuba akan berupaya menyukseskan penyelenggaraan WIFT tersebut, di antaranya dengan mengalokasikan anggaran sedikitnya Rp10 miliar melalui APBD.

Jika anggaran itu tidak mendapat dukungan dari DPRD Malut untuk diakomodir dalam perubahan APBD 2017, Pemprov Malut akan mengupayakannya dengan cara berutang kepada pihak lain dengan tetap memperhatikan prosedur dan aturan yang berlaku.

Bagi Gubernur berutang untuk kepentingan daerah dan masyarakat tidak menjadi masalah, apalagi untuk daerah seperti Malut yang memiliki keterbatasan anggaran, seperti tergambar pada APBD 2017 yang hanya Rp2,8 Triliun, dengan catatan penggunaannya sesuai dengan aturan tang berlaku.

Persiapan Gubernur Abdul Ghani Kasuba mengaku berbagai persiapan untuk menyukseskan penyelenggaraan WIFT terus dimatangkan, baik yang menjadi tanggung jawab Pemprov Malut maupun Pemkab Halmahera Selatan dan pihak terkait lainnya.

Penyediaan kapal untuk digunakan peserta WIFT misalnya, yang menjadi salah satu tanggung jawab Pemprov Malut, sudah disiapkan 50 kapal, sementara untuk akomodasi mereka telah disiapkan rumah warga, karena hotel atau penginapan tidak ada.

Masyarakat di sekitar lokasi penyelenggaraan WIFT, juga sudah siap menyambut para peserta WIFT, bahkan warga telah menanam berbagai tanaman pangan lokal untuk disuguhkan dalam bentuk kuliner tradisional kepada para peserta WIFT.

Pemkab Halmahera Selatan, sebagai tuan rumah, juga berkomitmen untuk menyeukseskan penyelenggaraan WIFT tersebut, bahkan menurut Bupati Halmahera Selatan, Bahrain Kasuba, telah mengalokasikan anggaran Rp10 miliar lebih untuk kegiatan itu.

Anggaran itu dialokasikan untuk pembenahan infrastruktur dan penataan kota Labuha sebagai lokasi acara pembukaan dan penutupan WIFT, termasuk untuk kegiatan expo maritim dan lomba masak serba ikan, yang akan tampilkan pada penyelenggaraan WIFT.

Berbagai kegiatan yag akan ditampilkan saat acara pembukaan dan penutupan WIFT, juga telah disiapkan , di antaranya tarian kolosal yang melibatkan para pelajar di Halmahera Selatan, termasuk tarian soya-soya yang merupakan tarian khas Malut.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Malut yang juga Ketua Panitia Daerah WIFT, Buyung Rajilun menggambarkan penyelenggaraan WIFT pada 25-29 Oktober sebagai kegiatan yang sangat diminati para pemancing profesional, baik dari dalam maupun luar negeri.

Sampai saat ini tercatat sedikitnya 300 peserta yang akan ambil bagian pada WIFT tersebut, sebanyak 150 di antaranya dari mancanegara, seperti dari Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat dan Singapura, yang tergabung dalam 13 club mancing profesional.

Penyelenggaran WIFT tersebut banyak diminati peserta dari dalam dan luar negeri, karena selain keindahan objek wisata Pulau Widi, baik dari segi panorama pantai maupun bawah lautnya, juga karena di perairan Pulau Widi banyak terdapat ikan tuna serip kuning yang sangat disukai para pemancing.

Pengamat Perikanan dari Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU), Mahmud Hasan mengharapkan penyelenggaraan WIFT tersebut, tidak bernasib seperti penyelenggaraan Sail Morotai tahun 2012, yang hanya meriah saat acara berlangsung, tetapi setelah itu, tidak terlihat dampaknya terhadap daerah dan masyarakat.

Peneyelenggaraan WIFT tersebut menghabiskan anggaran yang tidak sedikit, oleh karena itu manfaat yang akan dinikmati Malut dari Penyelenggaraan kegiatan itu, seperti promosi pariwisata dan potensi perikanan, harus bisa terlihat, bukan hanya menjadi angan-angan belaka.

Hal lainnya yang juga harus menjadi perhatian dalam penyelenggaraan WIFT tersebut adalah pemanfaatan anggaran secara transparan, tepat sasaran dan efesiensi agar tidak ada masalah hukum yang terjadi ketika instansi terkait melakukan audit.

KPK


Jakarta, 29/9 (Benhil) - Sidang uji materi ketentuan hak angket oleh DPR yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU MD3) masih berlanjut di Mahkamah Konstitusi (MK).

Uji materi ini terkait dengan ketentuan hak angket oleh DPR terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Agenda sidang untuk perkara uji materi UU MD3 yang belum lama ini digelar adalah mendengarkan keterangan pihak terkait, yaitu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif mewakili KPK dalam memberikan keterangan selaku pihak terkait.

Dalam memberikan keterangan selaku pihak terkait, Laode yang mewakili KPK juga menyampaikan tiga pokok pikiran utama di dalam persidangan.

"Setidaknya terdapat tiga pokok pikiran utama yang perlu kami tegaskan dan dijelaskan secara ringkas dalam persidangan ini Yang Mulia," ujar Laode.

Pokok pikiran pertama mengenai sejarah panjang korupsi di Indonesia dan bagaimana konsepsi KPK sebagai lembaga independen.

Kedua, mengenai konteks pelaksanaan hak angket DPR terhadap KPK, dan yang ketiga adalah konsekuensi logis dari pelaksanaan hak angket KPK terhadap penegakan hukum dan masa depan pemberantasan korupsi.

Dalam keterangannya, Laode menganalogikan korupsi sudah menyerupai penyakit akut bagi bangsa ini.

Hampir seluruh persoalan di negara ini bila diurut akar persoalannya maka akan ditemukan tindak pidana korupsi di dalamnya, jelas Laode.

Sedemikian parahnya, Laode mengatakan korupsi telah mengancam hak asasi manusia Indonesia, merusak fondasi perekonomian karena penguasaan kekayaan secara curang oleh segelintir orang, dan dalam skala luas, korupsi menciptakan ekonomi biaya tinggi yang berdampak pada kemiskinan.

Korupsi menurut dia juga berdampak pada berbagai sistem kenegaraan. Sebut saja bagaimana korupsi memanipulasi bekerjanya mekanisme politik sehingga sistem demokrasi tidak berjalan.

Pada sektor hukum korupsi mencederai kepastian hukum dan merampas keadilan.

Dalam aspek sosial, korupsi telah mengaburkan nilai-nilai masyarakat sehingga menggerus kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan pemerintah, bahkan negara sebagai institusi tertinggi, kata Laode.

Terkait dengan pemberantasan korupsi yang sudah akut di negara ini, KPK sejak awal dibentuk dikatakan sudah berbenturan dengan kekuasaan.

Apalagi, dalam melaksanakan tugas dan fungsi pemberantasan korupsi, Laode mengatakan tidak jarang KPK berhadapan dengan kekuasaan.

"Fakta ini tidak dapat dikesampingkan, mengingat langkah yang dilakukan KPK pasti akan mengganggu pelaku bahkan kelompok yang menikmati korupsi," ujar Laode.

Laode kemudian menggambarkan banyaknya peristiwa yang terjadi sepanjang berdirinya KPK, yang dapat menggambarkan kondisi tersebut.

Memahami keadaan tersebut, maka sesungguhnya hanya komitmen dan kemauan politik yang kuat dari negara melalui pemerintah dalam arti luas yang dapat menentukan keberlangsungan KPK dan keberlanjutan pemberantasan korupsi di Indonesia, jelas Laode.

"KPK bisa saja punya semangat yang membara, strategi, dan berbagai ide untuk memberantas korupsi. Namun, jika tidak didukung oleh Pemerintah tentunya tidak akan ada hasil yang dapat dicapai," kata Laode.

Latar Belakang Dalam keterangan KPK, Laode juga memaparkan kronologi peristiwa yang melatarbelakangi hak angket DPR terhadap KPK.

Laode mengatakan hal itu bermula dari rapat dengar pendapat antara KPK dengan Komisi III DPR RI pada tanggal 18 sampai dengan 19 April 2017.

Persoalan timbul pada saat pembacaan kesimpulan rapat yang dalam draf disiapkan oleh Komisi III DPR RI.

Dalam kesimpulan rapat tersebut, terdapat beberapa poin yang disetujui dan diterima baik oleh KPK.

Namun, pada poin keempat Komisi III meminta KPK melakukan klarifikasi dengan membuka rekaman BAP atas nama Miryam S. Haryani tentang ada atau tidaknya penyebutan sejumlah nama anggota dewan.

Poin keempat inilah yang kemudian ditolak oleh pimpinan KPK dan seluruh pegawai KPK yang hadir pada rapat dengar pendapat itu.

"Karena kami menganggap itu bukan dalam ranah laporan atau dengar pendapat. Namun, itu adalah ranah projustisia sehingga kami tidak bisa menyerahkannya kepada Komisi III DPR," kata Laode.

Laode kemudian mengungkapkan bahwa Komisi III tetap mendesak agar KPK membuka rekaman pemeriksaan atas nama Miryam S. Haryani, bahkan menyampaikan akan melakukan angket apabila KPK menolak membuka rekaman tersebut.

Sikap pimpinan KPK tidak berubah, dan akhirnya masing-masing fraksi memberikan pandangan khusus terkait sikap KPK yang menolak pembukaan rekaman tersebut, ungkap Laode.

"munculah kesimpulan untuk menggunakan hak angket terhadap KPK," kata Laode.

Dalam perjalanannya Pansus Angket DPR terhadap KPK juga sempat mengirimkan surat kepada KPK untuk menghadirkan Miryam S. Haryani untuk diperiksa oleh Pansus Angket KPK, namun KPK menolak permintaan tersebut.

"Jadi, sulit sekali untuk menangkap secara positif ide di balik Pansus Angket KPK, karena faktanya hak angket DPR terhadap KPK adalah karena pimpinan KPK menolak untuk memutar rekaman dan menghadirkan Miryam S. Haryani," jelas Laode.

Pada saat Pansus Angket KPK meminta Miryam S. Haryani untuk dihadirkan, yang bersangkutan tengah menjalani proses hukum di KPK, sehingga KPK tidak bisa memenuhi permintaan Pansus Angket DPR terhadap KPK.

KPK sendiri dikatakan Laode memiliki dasar yang kuat untuk tidak memenuhi permintaan Komisi III DPR RI yang meminta supaya rekaman pemeriksaan Miryam S. Haryani kembali diputar.

Pihak KPK menilai pembukaan rekaman tersebut telah nyata-nyata melanggar prinsip-prinsip dalam sistem penegakan hukum pidana yang terpadu, Laode melanjutkan bahwa rekaman tersebut hanya dapat dibuka dalam proses penegakkan hukum.

Selain itu, pembukaan rekaman pemeriksaan Miryam S. Haryani dikatakan Laode berpotensi menimbulkan konflik kepentingan karena terdapat nama-nama anggota dewan yang terkait dalam rekaman tersebut.

"Apalagi, permintaan Komisi III DPR waktu itu justru menekankan pada nama-nama yang disebutkan dalam rekaman yang dimaksud," kata Laode.

Laode kemudian menjelaskan bila KPK memenuhi permintaan tersebut, seluruh kasus yang ditangani KPK yang menyangkut anggota DPR akan berpotensi terus dibuka dengan pola yang sama sebelum penegakan hukum dilakukan.

"Hal itu tidak sesuai dengan amanah tang diberikan UU KPK serta TAP MPR Nomor 8 Tahun 2001 tentang Rekomendasi Arah Kebijakan Pemberantasan dan Pencegahan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme," ujar Laode.

Laode menjelaskan bahwa ketentuan tersebut merupakan amanah reformasi untuk menjadikan penegak hukum yang independen serta bebas dari segala intervensi. (Ben/An)

Setya Novanto

Diduga Ngibulin Rakyat! Setnov Ngaku Sakit, Warganet Tak  Peduli

Jakarta, (Benhil, 29/9/2017) -  Perilaku Ketua Umum Partai Golkar yang juga Ketua DPR RI, Setya Novanto (Setnov) dalam satu pekan terakhir ini benar-benar menyedot perhatian publik nasional dan internasional. Bagaimana tidak! Dia diberitakan sakit dan tampak terbaring lemah di rumah sakit, dengan hidung yang ditutupi masker serta alat pacu jantung di sebelah kanannya.

Rakyat mulai curiga dengan gaya tokoh yang dikenal licin sejak era Soeharto ini. Rakyat menduga, jangan-jangan Setnov sedang berlakon dalam sebuah opera sabun ala negeri Spanyol yang judulnya ‘Ngibulin Rakyat’.

Sesungguhnya, sakit merupakan ketentuan dari Maha Kuasa. Sakit bukanlah sesuatu yang bisa  direkayasa oleh makhluk hidup di jagat raya. Pada awalnya, Setnov "Sang Dewa Kegelapan" diduga terkena vertigo. Dia pingsan saat bermain pingpong di rumahnya. Setnov menjalani tes kesehatan, Selasa (12/9). Kemudian, Jumat (15/9) istri Setnov, Deisti Astriani Tagor, mengatakan, ada beberapa penyakit lain di organ tubuh suaminya,  seperti penurunan fungsi ginjal.

Setnov sudah bisa duduk dan berdiri, namun terkadang vertigonya kambuh sehingga dia harus berbaring kembali.

Kemudian, Setnov menjalani kateterisasi jantung di Rumah Sakit Premier Jatinegara, Jakarta Timur, Selasa (18/9). Akibat sakit ini, pemeriksaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Setnov sebagai tersangka kasus korupsi pengadaan proyek kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) menjadi tertunda.

Kalau memang Setnov Sakit, tentu sebagai bangsa yang beradab,  kita akan mendoakan agar dia segera mendapat kesembuhan. Tapi, kalau Setnov merekayasa sakitnya dengan tujuan untuk menghindari penyelidikan dan penangkapan KPK, maka rakyat tidak lagi bersimpati kepada tokoh Golkar ini.

Merespons, berita sakitnya Setnov, sejumlah netizen membuat beberapa meme yang diupload di sosial media. Dari sejumlah meme yang ada, umumnya para netizen menilai sakit yang diderita Setnov adalah pura-pura, tujuannya untuk menyelematkan diri dari jeratan hukum dugaan kasus korupsi e-KTP yang sedang ditelusuri KPK.

Wajar saja, jika sebagian netizen (warganet) membuat meme-meme lucu  untuk menyentuh hati nurani Setnov agar dia berani bertanggung jawab atas dugaan korupsi e-KTP yang melibatkan namanya.  

Berdasarkan penelusuran Tagar News, sejumlah masyarakat tampaknya tidak peduli dengan berita sakitnya Setnov. Mereka hanya ingin kasus korupsi  e-KTP segera diusut tuntas sebelum pemilu 2019.

“Saya ngak peduli pak Setya Novanto sakit beneran atau bohongan. Yang penting pelaku korupsi e-KTP segera cepat ditangkap dan selesai, biar kita sebagai rakyat kecil puas,” tutur Firman salah satu pedagang kaki lima di kawasan pasar pagi, Kota. 

(Wawan Kuswandi)

http://www.benhil.net/2017/10/korupsi-e-ktp-bagai-cicak-vs-belut.html



Setya Novanto


Pengungsi Gunung Agung

Denpasar, 29/9 (Benhil) - Kebersamaan dan keterpaduan berbagai elemen masyarakat, pemerintah, TNI-Polri mewarnai penanganan pengungsi dari lereng Gunung Agung yang kini berstatus Awas (level IV) dengan estimasi ketinggian potensi erupsi antara 5-10 kilometer.

Gunung tertinggi di Bali itu memasuki hari kedelapan (28/9) sejak ditingkatkan status aktivitas vulkaniknya dari Siaga menjadi Awas. Masyarakat telah menjauhi gunung untuk mengungsi ke tempat yang aman Jumlah mereka yang mengungsi setiap hari terus meningkat.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mencatat jumlah pengungsi terkini 96.086 jiwa tersebar di 430 titik di delapan kabupaten dan satu kota di Bali.

Mereka menempati fasilitas umum, balai banjar, balai desa, maupun rumah milik masyarakat yang diberikan secara cuma-cuma, sebagai bentuk solidaritas dan ikut ambil bagian masyarakat dalam menanggulangi masalah sosial akibat bencana alam.

Hampir setiap balai banjar, balai desa, dan posko utama GOR Swecapura Kabupaten Klungkung ditempati para pengungsi, serta ratusan titik lainnya yang ditempati para pengungsi.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa yang sempat meninjau para pengungsi Gunung Agung (3.143 meter dari permukaan air laut) di GOR Swecapura mengungkapkan bahwa negara memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan pangan kepada para pengungsi dari gunung tersebut.

Oleh sebab itu, dukungan logistik pengungsi harus dapat terpenuhi dengan baik. Jika mengacu pada Peraturan Menteri Sosial Nomor 20 Tahun 2012 pasal 11 dan 12, dalam kondisi darurat saat ini pengungsi harus mendapatkan layanan, termasuk tercukupi kebutuhan makanan.

Pemkab Karangasem telah mengeluarkan 100 ton beras cadangan, berdasarkan surat keputusan darurat. Beras itu telah habis didistribusikan ke kantong-kantong pengungsian.

Kementerian Sosial kini sedang nunggu surat keputusan dari Gubernur Bali untuk mengeluarkan cadangan beras pemerintah untuk jatah provinsi itu hingga 200 ton, agar pemerintah pusat dapat mengeluarkan cadangan beras pemerintah (CBP) ketika alokasi dari pemerintah provinsi telah habis dimanfaatkan.

"Sebetulnya sekarang itu kami sedang menunggu surat untuk diputuskan darurat oleh gubernur supaya bisa mengeluarkan cadangan beras pemerintah sampai 200 ton. Kalau itu juga sudah terpakai, baru Kementerian Sosial bisa mengeluarkan (beras) 'unlimited'," ujar Mensos Khofifah Indar Parawansa.

Ditinjau Presiden Joko Widodo dalam kunjungan kerja selama dua hari di Bali, 25-26 September 2017, sempat meninjau dan bertatap muka dengan para pengungsi di tiga lokasi, yakni Posko Ulakan, Tanah Ampo Kabupaten Karangasem, dan GOR Swecapura.

Kepala Negara pada kesempatan itu, menyerahkan bantuan logistik senilai Rp7,2 miliar yang disalurkan ke kantong-kantong pengungsian, antara lain berupa matras 18.230 lembar, masker 520.000 lembar, beras 12 ton, ember 2.000 buah, gayung 2.000 buah, dan perlengkapan bayi 1.100 paket.

Menurut Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat, besarnya bantuan itu merupakan upaya pemerintah dalam memberikan perlindungan kepada pengungsi.

Kementerian Sosial juga sudah menyalurkan berbagai bantuan logistik senilai Rp4,8 miliar, antara lain berupa bahan makanan, tenda, dan perlengkapan pengungsian.

Pemerintah kabupaten/kota di Bali yang menampung para pengungsi Gunung Agung juga menyalurkan kebutuhan bahan pokok, pelayanan kesehatan, serta memfasilitasi pendidikan bagi anak-anak di sekolah terdekat tempat penampungan sementara.

Demikian pula Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi bersama panitia "Europe Meeting-Transport Minister Meeting (ASEM-TMM)" yang tengah berlangsung di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, menyerahkan bantuan yang terkumpul berupa beras 55 ton serta beberapa jenis bantuan lainnya.

Kemenhub juga menyiagakan lima bus Damri, tiga di antaranya sudah di lokasi pengungsian dan dua bus lainnya menyusul. Bantuan alat transportasi itu diberikan setelah melakukan komunikasi dengan pengungsi yang membutuhkan alat transportasi untuk kelancaran anak-anak pengungsi ke sekolah.

Meskipun membutuhkan bus sebagai sarana tranportasi, pelayanan para pengungsi di berbagai tempat penampungan sementara selama ini dinilai cukup baik.

"Saya memberikan apresiasi terhadap penanganan pengungsi oleh pemerintah daerah. Beberapa saya tanya sudah mengaku nyaman, makan cukup, dan tidak kekurangan suatu apapun," tutur Menhub Budi Karya Sumadi.

Tidak Selamanya Gubernur Bali Made Mangku Pastika menginstruksikan pengecekan jumlah balai banjar (dusun), balai desa, dan fasilitas umum yang ada di setiap desa di luar kawasan rawan bencana Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, untuk menampung para pengungsi.

Hal itu dilakukan karena pengungsi tidak bisa selamanya tinggal dalam tenda, sehingga harus dicarikan tempat yang aman agar terhindar dari masalah, seperti kebanjiran atau bocor jika terjadi hujan maupun panas.

Hal itu, sebagai antisipasi jika para pengungsi Gunung Agung harus tinggal dalam waktu yang lama di tempat penampungan sementara. Hal itu belajar dari pengalaman letusan Gunung Agung pada 1963 yang situasinya bisa normal kembali setelah meletus membutuhkan waktu selama satu tahun.

Persiapan itu dilakukan karena semua pihak tidak tahu kapan akan gunung berapi itu meletus, dan kalaupun meletus harus berapa lama untuk kembali normal sehingga mereka bisa kembali ke rumah masing-masing.

Dalam selang waktu tersebut, pemerintah harus mampu memberikan mereka tempat yang lebih layak. Mereka tidak bisa selamanya di tenda-tenda seperti sekarang.

Oleh sebab itu, setiap banjar di daerah ujung timur Pulau Bali akan dikoordinasikan oleh kelian banjar atau kepala dusun adat, dan di wilayah desa oleh kepala desa sehingga memudahkan pemerintah dalam menyalurkan bantuan logistik serta mendata jumlah para pengungsi.

Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta yang wilayahnya sebagai tetangga terdekat dengan Karangasem mengumpulkan seluruh camat dan perbekel untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya mereka memberikan pelayanan yang terbaik kepada pengungsi.

Jumlah pengungsi di Klungkung tercatat 19.456 orang tersebar di 162 titik. Jumlah itu diperkirakan terus meningkat jika Gunung Agung benar-benar erupsi.

Oleh sebab itu, perlu kesiapan semua pihak dalam menerima pengungsi tambahan, di samping menangani masyarakat desa-desa yang rawan dampak letusan Gunung Agung di Kabupaten Klungkung, seperti wilayah Desa Selat, Desa Tegak, Desa Akah, Kelurahan Semarapura Kangin, Desa Tangkas, Desa Jumpai, Desa Sulang, dan Desa Gunaksa.

Untuk itu, semua dapat mengukur kemampuan daya tampung pengungsi di desanya masing-masing dan melaporkan ke Posko BPBD setempat.

"Selain itu, daerah yang termasuk zona rawan erupsi Gunung Agung dapat menyosialisasikan tindakan-tindakan antisipasi jika terjadi letusan Gunung Agung," ujar Bupati Suwirta. (Ben/An)

Setya Novanto

Ramainya perbincangan soal pansus KPK,  berhasil mengelabui rakyat.  paling tidak, rakyat mulai sedikit lengah. Semestinya, penuntasan skandal dugaan multikorupsi e-KTP yang melibatkan Setya Novanto (Setnov) menjadi skala prioritas aparat penegak hukum bangsa ini.

Gelombang polemik seputar pansus angket KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dari beberapa pakar dan tokoh politik nasional yang diekspos media massa akhir-akhir ini, sungguh-sungguh melelahkan dan membosankan. Kejaksaan Agung dan KPK terkesan ‘takut’ menangkap mantan Ketua DPR RI  ini. Setnov bagaikan ‘Dewa Kegelapan’ di negeri Garuda  yang sulit disentuh secara fisik.

Sebelumnya, Jenderal Badrodin Haiti, saat menjabat Kapolri, telah menghentikan penyelidikan dugaan skandal  ‘Papa Minta Saham’ Setya Novanto terhadap PT Freeport Indonesia dengan alasan  tidak ditemukannya unsur pidana. Disisi lain, lima pimpinan KPK yang digawangi Agus Rahardjo tampaknya juga mulai bingung bagaimana caranya menangkap Setnov. Ada apa dengan republik ini?

Rakyat tak lagi bisa menangis ketika ditekan ketidakadilan hukum. Air mata bangsa ini mengering tergerus kekecewaan yang telah melampaui ambang batas. Ribuan tuntutan, kecaman, sindiran, parodi yang dilakoni rakyat tak digubris. Serentetan artikel kritik sosial di media massa dan sosial media yang ditulis para ‘pejuang’ bangsa,  tak mampu lagi menembus hati nurani elit politik, penguasa dan aparat hukum Indonesia. Justru,  arogansi para elit negara yang korup semakin mengerikan.

Kencangnya arus reformasi yang terjadi tahun 1998 lalu, saat melengserkan HM Soeharto, mulai memudar digerogoti oknum elit yang rakus. Sekumpulan oknum aparat hukum dan pejabat pun tak mau kalah,  mereka juga ikut aktif menggelindingkan sikap dan perilaku masa bodoh, terutama terhadap penyelesaian skandal dugaan korupsi yang melibatkan Setya Novanto.

Setya Novanto pun tertawa renyah. Hingga saat ini Setya Novanto nyaman-nyaman  saja hidupnya. Media massa sebagai  salah satu ‘senjata ampuh’ yang diharapkan bangsa ini mampu  mengawal skandal dugaan multikorupsi mulai mengendor.  Bahkan, berita-berita dugaan multikorupsi mulai tersalip oleh berita-berita pansus KPK.

Ada satu pertanyaan penting yang wajib dijawab KPK, Jaksa Agung dan Polri yaitu kapan  skandal dugaan multikorupsi yang melibatkan Setya Novanto  ini selesai?  Sudah terlalu lama rakyat  menunggu. Rakyat butuh kepastian hukum. Semoga. 

(Wawan Kuswandi)

Volleyball


Hari Olahraga Nasional yang akan jatuh pada tanggal 08 September 2017 nanti, tentu membawa banyak cerita, misalnya banyaknya pagelaran olahraga yang dilakukan di penjuru tanah air. Baik oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah maupun berbagai kalangan masyarakat maupun pihak swasta.
Seperti halnya di perusahaan perkebunan kelapa sawit di kabupaten Nabiire ini, baru-baru ini perusahaan ini mengadakan turnamen voly di lingkungan perusahaan yang diikuti oleh berbagai karyawannya. Diberi nama “Turnamen Voly Cup 2017 Nabire Baru” diselenggarakan oleh PT. Nabire Baru  yang ada di kabupaten Nabire, Papua.

Sebagai perusahaan besar  yang memiliki banyak karyawannya, mengadakan kegiatan olahraga merupakan agenda tahunan yang bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada seluruh karyawannya untuk menyalurkan hoby dan minat ditengah-tengah kesibukkan rutinitas sehari-hari di lingkungan perkebunan kelapa sawit PT. Nabire Baru.

Di momentum Hari Olahraga Nasional inilah, PT. Nabire Baru turut mengadakan kegiatan turnamen seru tersebut. Kegiatan turnamen voly ini diselenggarakan selama 3 hari, yakni  dimulai pada tanggal 05 September – 08 September 2017. Puncak kegiatan akan dilaksanakan pada tanggal 08 September yang bertepatan pada Hari Olahraga Nasional dengan mempertandingan babak final dari beberapa group voly yang masuk ke babak selanjutnya. 

Ada beberapa group voly yang terbentuk dari beberapa karyawan PT. Nabire Baru. Beberapa group inilah yang sedang dipertandingkan untuk memilih 3 group terbaik dan berhak mendapatkan hadiah dari perusahaan. Turnamen yang memperebutkan uang tunai jutaan rupiah ini, diantusiasi oleh seluruh karyawan Nabire Baru yang ada di kabupaten Nabire. 

Tidak hanya oleh pemain, namun karyawan dan masyarakat setempat juga merasa terhibur dan antusias untuk menyaksikan pertandingan tersebut. Apalagi, dihari-hari libur para karyawannya sudah sering melakukan kegiatan olahraga voly ini. Olahraga voly sendiri merupakan salah satu olahraga favorit para karyawan di PT. Nabire Baru selain sepak bola.

Kita ketahui bahwa olahraga bola voli merupakan salah satu olahraga yang popular baik ditingkat nasional maupun internasional. Saat ini olahraga ini banyak diselenggarakan oleh berbagai kejuaraan, maupun berbagai kalangan, baik resmi maupun hanya sebagai kegiatan persahabatan saja. 

Olahraga bola Voly juga tentunya, tidak hanya sebagai sarana untuk menjaga kesehatan. Akan tetapi sudah menjadi gaya hidup dan kebanggaan bagi setiap orang. Adanya turnamen atau kejuaraan sering dinilai mempunyai kebanggaan tersendiri dan penghilang penat di tengah kesibukkan rutinitas sehari-hari mereka. Apalagi kegiatan olahraga juga membawa dampak positif untuk memupuk rasa persatuan, kebersamaan dan rasa kekeluargaan.

Dengan adanya kegiatan atau turnamen bola voly seperti yang dilakukan oleh PT. Nabire Baru tentu akan membawa banyak manfaat bagi karyawan maupun masyarakat setempat. Apalagi sebelumnya, PT. Nabire Baru pernah menyelenggarakan turnamen serupa beberapa waktu yang lalu dan kegiatan olahraga ini akan terus diselenggarakan untuk waktu yang belum ditentukan kedepannya.

Medsos


Jakarta, 27/9 (Benhil) - DPW Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Jakarta mengadakan pelatihan media sosial mengantisipasi fenomena perkembangan politik mutakhir dengan membidik konstituen yang mayoritas adalah generasi muda.

"Kami berusaha mendorong berbagai lini di kepengurusannya melek terhadap media sosial, oleh karena itu dilakukanlah langkah konkrit, yaitu diakomodirnya para pengurus PPP untuk mengikuti pelatihan sosial media tersebut," kata Ketua DPW PPP DKI Jakarta Abdul Aziz dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu.

Dia menjelaskan saat ini merupakan sebuah tuntutan, bahkan keharusan bagi partai politik untuk aktif di media sosial.

Menurut dia keaktifan partai di media sosial sebagai upaya membangun dan membentuk citra, serta menjaring pemilih, dengan tetap menyuarakan dan memperjuangkan kepentingan rakyat.

"Kami memahami potensi besar penggunaan media sosial yang mampu mendongkrak tingkat elektabilitas dan popularitas partai. Maka dari itu PPP dibawah pimpinan Ketum Romahurmuziy menginisiasi langkah strategis untuk mengadakan pelatihan media sosial," ujarnya.

Abdul Aziz mengatakan tema pelatihan media sosial tersebut adalah "Penanaman Nilai-Nilai Pancasila Melalui Jejaring Media Sosial Guna Menangkal Radikalisme", memiliki pesan agar tetap menggunakan dasar pancasila dan semangat kebangsaan dalam mengaplikasikan media sosial.

Menurut dia, materi pelatihan diantaranya, branding, karakter sosial media sosial, buzzing manajemen, manajemen tim dan laporan yang diadakan di Kantor Pemenangan Pemilu DPW PPP Jakarta.

Peserta pelatihan berasal dari perwakilan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PPP dan Dewan Perwakilan Daerah (DPW ) Se-DKI Jakarta.

Dia menilai, melihat antusias para peserta pelatihan dan banyak juga permintaan DPW dan DPC untuk mengadakan pelatihan serupa, PPP berencana akan terus melanjutkan dan mengembangkan pelatihan sosial media tersebut. (Ben/An)

BBTU-HPT Baturraden


Jakarta, 27/9 (Benhil) - Usaha peternakan tidak terlepas dari persoalan limbah. Namun saat ini sudah banyak teknologi yang bisa memanfaatkan limbah peternakan menjadi sesuatu yang berguna, seperti kotoran untuk biogas dan pupuk kompos.

Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BBTU-HPT) Baturraden yang saat ini mempunyai sekitar 1.450 ekor sapi dan sekitar 450 ekor kambing juga berusaha bagaimana pengelolaan yang ada tidak menimbulkan limbah.

Sebenarnya selama ini limbah kotoran selalu disalurkan ke kebun rumput karena posisi kandang dirancang berada di atas kebun rumput. Kebun rumput yang mendapat limpahan kotoran dan urine sapi biasanya tumbuh lebih lebat, namun model ini menjadikan kotoran dan urine tidak bisa tersebar secara merata ke seluruh kebun rumput.

Cara terbaik yaitu mengumpulkan semua kotoran dalam satu bak besar dan kemudian difungsikan dulu sebagai penghasil metan dalam proses biogas dalam bak tertutup, setelah gas mulai berkurang maka sisa limbah itu bisa dibuat kompos.

Seperti diketahui selama ini kotoran sapi juga mengeluarkan gas metan yang jika dibiarkan di udara bebas akan menambah polusi udara apalagi gas metan bisa membuat efek rumah kaca dan merusak lapisan ozon.

Untuk mencegah polusi maka ke depan BBTU-HPT Baturraden mulai mendisain ruang biogas yang akan mengubah kotoran sapi menjadi energi gas dan menghasilkan listrik.

Kepala BBTU-HPT Baturraden Ir Sugiono mengungkap ada rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga gas yang dihasilkan dari kotoran sapi.

Ia menjelaskan, tahun ini mulai membuat ruang biogass skala besar 500 meter kubik yang mampu menggerakkan pembangkit listrik 10.000 watt. Dengan tambahan ternak Brahman Cross (BX) 400 ekor dan sapi Fresh Holstein (FH) 200 ekor di tahun depan maka produksi kotoran sapi mencukupi untuk menghasilkan gas.

Sugiono mengatakan, listrik yang dihasilkan digunakan untuk menerangi jalan, kandang ternak dan sebagian peralatan kandang. Biaya listrik bisa dihemat dan yang penting Batuuraden sudah ikut mencegah adanya pemanasan global akibat gas metan.

Kotoran yang sudah membebaskan gas akan dipadatkan untuk menjadi kompos dalam bentuk butiran yang mudah disebarkan di seluruh hijauan pakan ternak.

Penggunaan kompos akan semakin mengurangi penggunaan pupuk kimia untuk pertumbuhan hijauan pakan.

"Semua yang dianggap limbah akan diolah sehingga diterima alam, dan berusaha untuk mengurangi limbah sesedikit mungkin, kata Sugiono didampingi Kabag Umum Bagong Kusminandar.

Limbah Sisa Pakan Bagong menjelaskan, salah satu limbah yang selama ini cukup banyak, yaitu batang rumput gajah dan rumput raja yang banyak tidak dikonsumsi ternak karena terlalu keras.

Untuk mengurangi limbah itu, BBTU-HPT Baturraden akan beralih menggunakan tanaman jagung sebagai sumber hijauan. Jagung muda yang berusia 70 hari mempunyai batang yang lebih lunak sehingga ternak kambing dan dombapun masih menyukainya.

Ia menegaskan, secara berkala tanaman rumput gajah dan rumput raja akan diganti dengan tanaman jagung. Tahun ini sudah 12 hektare dari 90 hektare areal hijauan yang sudah ditanami jagung, katanya.

Jika sebagian sudah ditanami jagung maka akan dimulai revolusi pemberian pakan hijauan yang selama ini diberikan rumput dan daun-daunan segar maka ke depan semua pakan akan menggunakan silase jagung dicampur sedikit dengan tanaman lain seperti Kaliandra dan Indigofera yang mempunyai protein tinggi.

BBTU-HPK Baturraden juga mempunyai kebijakan untuk menanami setiap jengkal tanah di areal kandang dengan berbagai hijauan, mulai rumput odot maupun Kaliandra dan Indigofera, dua yang terakhir biasanya menjadi makanan favorit kambing. Saat ini tidak ada ruang kosong di areal BBTU-HPT Baturraden karena semua telah hijau.

BBTU-HPT Baturraden tahun ini menyiapkan ruang silase yang mampu menampung 1.800 ton jagung. Untuk memaksimalkan ruang silase itu, BBTU-HPT Baturraden juga bersiap melakukan kerja sama dengan petani jagung di sekitar Banyumas untuk ikut menyuplai kebutuhan hijauan pakan bagi ternak.

Dengan model sebagian hijauan pakan yang dipasok masyarakat maka areal yang ada bisa dimaksinalkan untuk meningkatkan daya tampung ternak apalagi kebutuhan bibit unggul sapi perah dan sapi pedaging masih tetap tinggi.

Selain penanganan limbah, cara pemeliharaan ternak sapi juga akan dibuat kembali seperti keadaaan sapi di alam. Sapi diberikan kebebasan untuk bergerak dalam kandang komunal dan sebagian yang bunting digembalakan.

Penggembalaan Model pemeliharaan ternak dengan kandang komunal dan penggembalaan juga sudah diterapkan di satu lokasi yaitu di Farm Manggala yang mempunyai luas 100 hektare. Jika melihat ke sana mirip seperti farm yang ada di Australia dan Selandia Baru, dimana ada sapi yang dibiarkan 24 jam di alam terbuka, hanya kemudian diberikan pakan konsentrat sebagai tambahan.

Sapi yang lahir di Baturraden kemudian diseleksi dan betina yang terpilih kemudian dibesarkan di Farm Manggala sekitar satu jam perjalanan ke arah barat dari Baturraden.

Sapi dikelompokkan dalam kandang komunal berdasarkan usia, yaitu 4 hingga 6 bulan, 8 hingga 10 bulan, 12 sampai 18 bulan, 20 bulan lebih atau siap inseminasi buatan (IB), dan sapi yang sudah IB tetapi menunggu pemeriksaan kebuntingan. Ini akan memudahkan pemantauan betina yang birahi dan siap untuk diinseminasi buatan.

Jika sapi betina sudah positif bunting melalui pemeriksaan USG, maka sapi digembalakan di padang rumput yang ada dengan pengelompokan usia kebuntingan.

Saat ini terdapat 13 pedok penggembalaan, dan akan diperluas beberapa pedok lagi di bukit teletubis dan di areal seluas 25 hektare di sebelah barat laut padang penggembalaan Manggala.

Pembersihkan areal baru itu juga cukup unik karena tidak menggunakan tenaga manusia, tetapi pihak balai melepaskan sekitar 50 ekor sapi dewasa. Mereka terus diliarkan selama satu minggu sampai hijauan yang rimbun menjadi bersih.

Arifin, Kepala Pengelola Farm Manggala mengatakan sejak tiga tahun lalu, padang penggembalaan terus diperbaiki dengan penanaman rumput brachiaria Decumbens atau dikenal sebagai rumput BD.

Ia menjelaskan, keistimewaan rumput ini adalah tahan hidup di musim kemarau, mempunyai perakaran yang sangat kuat dan cepat menutup tanah sehingga dapat mengurangi erosi. Rumput ini juga memiliki nilai palatabilitas yang cukup baik bagi ternak ruminansia. Menurut Arifin, sapi bunting terus digembalakan selama 24 jam sampai usia kebuntingan 7 bulan, setelah itu dikembalikan ke Baturraden untuk menunggu proses melahirkan. Selama penggembalaan juga tetap diberikan konsentrat sebagai tambahan gizi agar janin tetap sehat.

Pengelolaan pembibitan juga mengutamakan aminal walfare sehingga susu yang dihasilkan sapi dan kambing juga diutamakan untuk kebutuhan pedet dan cempe. Baru setelah berlebih hasilnya diolah untuk dijual dan sebagian juga bisa menjadi ajang praktik pengolahan susu oleh mahasiswa dan peternak.

Pengelolaan BBTU-PHT Baturraden ingin menuju pembibitan ternak yang "go green". yaitu tak ada limbah, berkelanjutan dan pemeliharaan yang ramah terhadap ternak. (Ben/An).

Budi Santoso

Donald Trump


Gaya provokatif Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump benar-benar  memperburuk citra negeri Paman Sam di mata dunia. Trump terus-menerus mengumbar pernyataan emosionalnya kepada Korea Utara (Korut) dan sikap diskriminatif terhadap kaum muslim dari 8 negara yang dilarang melakukan perjalanan  ke AS.

Kepemimpinan Trump benar-benar paling provokatif  dalam sejarah presiden  AS. Trump pernah secara terbuka menyebut umat Islam sebagai gerombolan teroris yang dinilainya merusak dunia. Saat debat antar kandidat capres, beberapa waktu lalu,  Trump juga tidak segan-segan melakukan charracter assasination dan black campaign terhadap pesaingnya. Bahkan, Trump diduga kuat mendukung pendanaan federal untuk melegalkan aborsi melalui institusi Planned Parrenthood.

Pendiri Trump Entertainment Resorts ini juga dikenal sebagai tokoh anti islam dan anti migran. Hampir sebagian besar kebijakan luar negeri serta hubungan internasional Amerika Serikat dengan negara-negara islam di dunia, saat ini berada dalam  titik terendah, terutama dengan negara-negara Timur Tengah, Korea Utara, Rusia dan Tiongkok

Di Indonesia, sikap dan perilaku Trump memunculkan antipati  yang sangat kuat dari rakyat Indonesia, terutama dari kaum muslim moderat.  Sejak #DonaldTrump menjadi  presiden AS, banyak kebijakan kontroversial dalam sejarah konstelasi komunikasi politik dunia.  Bahkan, beberapa negara khawatir Trump akan merusak hubungan komunikasi politik antar benua dan bisa menyulut perang dunia ketiga. 

Wawan Kuswandi

Blora Jawa Tengah

Kabupaten Blora di Jawa Tengah yang pada 11 Desember mendatang merayakan hari jadi ke-268 memiliki potensi wisata alam, religi, budaya, dan kuliner yang menjanjikan untuk menarik wisatawan berkunjung ke daerah ini.

Potensi wisata alam yang ada di daerah ini, di antaranya Gua Terawang, Waduk Bentolo, Waduk Greneng, dan objek wisata geologi, sedangkan objek wisata budaya seperti makam dan petilasan masa lampau, kesenian Tayub dan Barong, serta kuliner wedang cemohe, sego kobong, maupun aneka sate, soto, dan opor ayam.

Potensi wisata di Kabupaten Blora merupakan gabungan antara kondisi alamnya yang berkapur serta perjalanan sejarahnya yang panjang. Sejarah Kabupaten Blora tidak lepas dari pengaruh Kerajaan Demak, Pajang, dan Mataram pada abad 16 hingga pertengahan abad 18.

"Kita punya potensi yang besar. Kita sedang tata dan kita kembangkan," kata Wakil Bupati Blora, Arief Rohman, saat menerima kunjungan peserta Lokakarya Media belum lama ini.

Kabupaten Blora dengan luas wilayah administrasi 1820,59 kilometer persegi, sebagian besar daerahnya berkapur, karena posisinya yang berada di deretan Pegunungan Kendeng. Separuh wilayah kabupaten ini merupakan kawasan hutan, utamanya hutan jati.

Gua Terawang misalnya, gua ini berada di wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Blora, sekitar 35 kilometer ke arah barat dari Kota Blora atau di Desa Kedungwungu, Kecamatan Todanan. Gua ini diduga terbentuk dari endapan batu gamping yang umurnya mencapai 10 juta tahun.

Dalam gua yang mempunyai panjang alur sekitar 180 meter dengan kedalaman 5-11 meter di bawah permukaan tanah tersebut terdapat stalakmit dan stalaktit yang sangat indah.

Tidak jauh dari Gua Terawang terdapat pula Waduk Bentolo. Waduk ini tidak hanya sebagai objek wisata, tetapi juga sarana irigasi lahan pertanian. Di kawasan ini terdapat bumi perkemahan yang luas dengan nama Bumi Perkemahan Pancasona.

Sekitar 10 kilometer ke arah timur laut Kota Blora, terdapat Waduk Tempuran yang berfungsi utama sebagai irigasi serta pembinaan atlet-atlet dayung, selain juga objek wisata.

Sekitar 12 kilometer ke arah barat laut dari Kota Blora, akan dijumpai objek wisata Waduk Greneng yang berada di Dukuh Greneng, Desa Tunjungan, Kecamatan Tunjungan. Waduk ini mempunyai fungsi sebagai sarana irigasi serta budi daya air tawar.

Blora juga menawarkan wisata geologi, yakni wisata alam di bidang ilmu kebumian, khususnya yang terkait dengan tambang minyak dan gas bumi (migas). Wisata geologi berada di perbukitan dan di tengah-tengah kawasan hutan jati, di antaranya di Kecamatan Ledok.

Kabupaten Blora yang memiliki wilayah Kecamatan Cepu, selama ini dikenal dengan hasil migasnya. Kawasan Blora dan sekitarnya diyakini banyak mengandung migas, baik yang sudah dieksploitasi maupun eksplorasi. Di Kecamatan Ledok saja saat ini ada sekitar 212 sumur migas.

Bahkan, Sumur Ledok 1, konon merupakan sumur pertama di daerah itu. Sumur minyak yang dibor pada Juli 1893 itu, ditemukan insinyur Belanda yang bernama Andrian Stoop.

Tidak sekadar itu, di Blora juga telah berdiri Sekolah Tinggi Energi dan Mineral (STEM) Akamigas Cepu yang mendidik generasi penerus bangsa untuk mengelola potensi tambang di Tanah Air.

Sekolah ini mengawali perkuliahan pada 7 Februari 1967 berdasarkan Keputusan Dirjen Migas Nomor 19/DD/Migas/1966 tanggal 24 Oktober 1966. Sekolah ini di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Sejarah dan Budaya Blora juga memiliki khazanah budaya yang menarik untuk disimak karena di daerah ini kental dengan sejarah kerajaan, masa penjajahan hingga kemerdekaan.

Jika menilik sejarahnya, Blora konon berasal dari kata "Belor" yang artinya lumpur atau tanah becek. Kata itu kemudian berkembang menjadi "Beloran" atau "Mbeloran", yang juga berarti tanah berlumpur.

Kendati demikian, ada pula literatur yang menjelaskan bahwa "Blora" dari kata "Wai" dan "Lorah". "Wai" berarti air dan "Lorah" berarti tanah rendah. Pergeseran huruf W dengan huruf B dalam bahasa Jawa sehingga mengubah "Wailora" menjadi "Bailora" atau "Blora".

Jadi nama "Blora" berarti tanah rendah berair atau mendekati pengertian tanah berlumpur atau tanah becek seperti dalam kata "Belor".

Hari jadi Kabupaten Blora, berdasarkan buku Khutarama, dilandaskan pada pengukuhan Pangeran Mangkubumi selaku Sultan Ngayogyakarta pada 1 Sura Tahun Alif 1675 tahun Jawa atau tanggal 11 Desember 1749 Masehi. Bersamaan dengan itu, Wilatikta dikukuhkan menjadi Bupati Blora yang pertama dengan gelar Tumenggung Wilatikta.

Oleh karena itu, menyusuri berbagai kawasan di Kabupaten Blora mudah ditemui makam, petilasan-petilasan, ataupun jejak peninggalan tempo dulu.

Sejumlah makam yang hingga kini dikeramatkan masyarakat setempat, seperti makam Bupati Blora masa lalu di Ngadipurwo, sekitar lima kilometer ke arah utara Kota Blora, makam Sunan Pojok atau makam Surobahu Abdul Rohim, perwira dari Kerajaan Mataram di selatan Alun-Alun Kota Blora.

Selain itu, makam Jati Kusumo dan Jati Swara, keduanya putera Sultan Pajang di Desa Janjang, Kecamatan Jiken, petilasan Kadipaten Jipang, di Desa Jipang, Kecamatan Cepu, serta makam Sriakandi Aceh Poucut Meurah Intan, pahlawan dari Aceh yang diasingkan Belanda di Desa Temurejo, Kecamatan Blora.

Bahkan, pada 2006 di Dusun Sunggun, Desa Medalem, Kecamatan Kradenan, diperoleh fosil vertebrata gajah yang mencapai 90 persen. Lokasi penemuan fosil gajah yang diperkirakan sudah berusia 200 ribu tahun itu kemudian disebut Situs Sunggun.

Sementara itu, Blora yang diapit Kabupaten Rembang, Pati, Grobogan, dan Ngawi, juga memiliki Kesenian Barongan atau Tari Barong yang menggambarkan spontanitas, kekeluargaan, kesederhanaan, kasar, keras, kompak, dan keberanian yang dilandasi kebenaran.

Kesenian lainnya adalah Tayub. Tayub konon berasal dari kata "ditata biar guyub". Kesenian tari dipadu musik gamelan ini biasa ditampilkan pada upacara-upacara adat desa semisal sedekah bumi, hajatan keluarga, dan agenda-agenda adat lainnya.

Dengan mengunjungi sejumlah tempat di Blora, juga mudah menemui kampung masyarakat Samin, yakni masyarakat pengikut ajaran Samin Surosentiko atau Saminisme. Mereka menyebut dirinya Sedulur Sikep.

Samin Surosentiko lahir di Kedhiren, Randublatung, Blora pada 1859. Pada masa penjajahan, Samin beserta pengikutnya melakukan pembangkangan tidak membayar pajak, tidak bergotong royong maupun tidak ronda. Masyarakat Samin bersikap "nggendhengi", yakni sikap melawan dengan tidak melakukan kekerasan dan berpura-pura bodoh.

Ketika ke Blora, pengunjung juga bisa menikmati khazanah kuliner yang khas, seperti wedang cemohe di Togosari Raya, yakni minuman jahe dicampur susu, irisan roti tawar dan degan, sego kobong atau nasi bakar di Jalan Dr Soetomo, opor ayam Jawa di Jalan Mr Iskandar, soto ayam Blora di Jalan Pemuda, sate ayam di Jalan Gunung Sumbing, dan sate kambing di Jalan Pemuda.

Lapangan Terbang Kabupaten Blora secara geografis berada di tengah-tengah Ibu Kota Jawa Tengah di Semarang dan Ibu Kota Jawa Timur di Surabaya. Jarak Semarang-Blora sekitar 140 kilometer, sedangkan jarak Surabaya-Blora sekitar 180 kilometer.

Waktu tempuh Semarang-Blora sekitar tiga jam 20 menit, sedangkan waktu tempuh Surabaya-Blora sekitar 4,5 jam.

Meskipun kini sudah ada layanan transportasi berupa bus dan kereta api cepat untuk menjangkau kabupaten ini, Pemerintah Kabupaten Blora sedang berusaha menghidupkan kembali fasilitas lapangan terbang Ngloram di Cepu.

Lapangan terbang Ngloram yang dibangun pada 1980 dan beroperasi 1984, kini di bawah pengelolaan Kementerian ESDM. Pengelolaan lapangan terbang ini diharapkan segera dialihkan kepada Kementerian Perhubungan guna pengembangan lebih lanjut.

"Mudah-mudahan bisa segera terealisasi sehingga masyarakat maupun wisatawan yang akan berkunjung ke Blora bisa memilih berbagai sarana transportasi yang diinginkan," kata Wakil Bupati Blora, Arief Rohman.

Jajaran Dirjen Perhubungan Udara telah melakukan kajian kelayakan pengembangan lapangan terbang Ngloram menjadi bandara. Lapangan terbang Ngloram akan dikembangkan menjadi bandara umum secara bertahap dengan melakukan perpanjangan landasan pacu.

Panjang landasan pacu lapangan terbang Ngloram baru sepanjang 900 meter dengan kondisi yang rusak karena sudah lama tidak digunakan untuk penerbangan.

Untuk bisa menjadi bandara maka akan dilakukan perpanjangan bertahap hingga 2.000 meter lebih agar bisa digunakan pesawat berbadan besar.

Pemkab Blora kini terus berusaha menyinergikan potensi-potensi wisata yang dimiliki agar makin menarik wisatawan dan pada gilirannya bisa menggerakkan roda perekonomian masyarakat menuju peningkatan kesejahateraannya.

Slamet Hadi Purnomo

Kazakhstan Astana


Astana, merupakan kota yang direncanakan. Ibu kota negara Kazakhstan ini dirancang khusus oleh arsitek terkemuka dunia, sebelum wilayah ini dihuni ratusan ribu jiwa.

Dalam masa sepuluh tahun, padang stepa yang luas berubah menjadi kota berdesain futuristik. Gedung-gedung pencakar langit didirikan seperti bangunan dalam film fiksi ilmiah.

Penulis sempat berdiri di tangga Istana Presiden Kazahstan, pada 2012. Dari sini, kota terbentang menuju Menara Bayterek, yang diapit gedung-gedung kembar, seakan sebagai pintu gerbang raksasa.

Menara Bayterek dirancang oleh arsitek terkemuka Inggris, Sir Norman Foster. Manara ini bentuknya seperti pohon. Konon, diambil dari legenda rakyat Kazahstans tentang pohon kehidupan dan burung sihir kebahagiaan.

Di bagian atas menara, ada semacam sarang burung sihir, yang bernama Samruk. Burung Samruk tersebut dibangun seperti sedang mengerami telur emas.

Selain Menara Bayterek dan mitos burung bertelur emas, ada juga "The Palace of Peace and Reconciliation".

Gedung berbentuk piramida atau limas setinggi 62 meter ini, simbol dari rekonsiliasi dari keragaman agama dan kultur yang ada di Kazakhstan. Gedung ini didirikan pada 2006 untuk pertemuan "Congress of Leaders of World and Traditional Religions".

Ada banyak sekali bangunan dengan arsitektur paduan modern-klasik di Astana, termasuk Khan Shatyr, mal yang berbentuk kemah. Ini mengingatkan kebiasaan masyarakat Khazahstan kuno, yang nomaden.

Astana mulai ditempati sebagai ibu kota negara sejak 1998, sebelumnya ibu kota Kazahstan adalah Almaty. Jumlah penduduk kota Astana (dalam bahasa Kazakh berarti Ibu Kota) sekitar 700 ribu jiwa. Kazakhstan, menjadi salah satu negara yang berhasil memindahkan ibu kota negara.

Jalan-jalan yang lebar, disiplin pengemudi mobil, jumlah kendaraan yang tidak terlalu banyak, membuat kota ini sangat teratur. Bagi warga Jakarta yang terbiasa berjam-jam terjebak kemacetan, situasi kota ini terasa "tidak normal dan membosankan." Kazakhstan merupakan salah satu negara antarbenua. Sebagian wilayahnya berada di Asia Tengah, sebagian lainnya masuk kawasan Eropa. Negara ini pecahan dari Uni Soviet, merupakan yang terbesar kedua setelah Rusia, terbesar kesembilan di dunia.

Sebelah utara dan barat Kazakstan berbatasan dengan Rusia. Di sebelah timur, berbatasan dengan RRT, sedangkan di selatan berbatasan dengan Usbekistan, Turkmenistan, Kirgistan, dan Laut Kaspia.

Islam masuk ke negara ini melalui para sufi Arab pada abad ke-8. Kazakh merupakan etnis terbesar negara ini, keturunan Turki dan Mongol.

Negara ini medeka, 1991, setelah Uni Soviet bubar. Mayoritas penduduknya Muslim (70,2 persen). Kristen sebanyak 26,6 persen, selebihnya Buddhis, Yahudi, dan atheis.

Kebebasan beragama dimulai sejak negara ini lepas dari negara komunis Uni Soviet.

Sebelumnya masjid-masjid ditutup. Kini pembangunan masjid semakin berkembang. Atas bantuan keuangan dari Arab Saudi, Turki, dan Mesir, ratusan masjid baru dan madrasah dibangun. Sekitar 230 organisasi Islam berdiri.

Jauh sebelum dikuasai komunis Soviet, di sini Islam berkembang pesat. Di sinilah, Al Farabi (Abu Nasir Muhammad bin al-Farakh al-Farabi) --ahli filsafat Islam terkemuka yang dihormati hingga kini-- dilahirkan pada tahun 870.

Farabi, disebut sebagai "orang kedua" filsuf Yunani, Aristoteles. Ini karena, Farabi dinilai sangat memahami pemikiran Aristoteles.

Alpharabius --demikian dunia Barat menyebut namanya-- merupakan filsuf Islam pertama yang menyelaraskan filsafat politik Yunani klasik dengan Islam.

Dia menulis berbagai buku yang menjadi rujukan hingga kini, antara lain, tentang logika, Ilmu-ilmu matematika, Ilmu alam, filosofi, pengobatan, ilmu politik dan kenegaraan, serta musik.

Farabi menyebutkan, warga negara unsur paling pokok dalam suatu negara, yang diikuti dengan segala prinsip-prinsipnya, dasar, titik awal, ideologi, dan konsep dasar negara.

Warga negara pula yang menentukan corak, sifat, dan jenis negara. Soal musik, karya Farabi yang terkenal, "Kitab al-Musiqa".

Farabi wafat di Damaskus, Suriah, dalam usia 80 tahun. Kazakhstan menghormati Farabi dengan mencantumkan fotonya dalam uang kertas.

Negara berpenduduk 17,9 juta jiwa ini dipimpin oleh Presiden Nursultan Nazarbayev, yang berkuasa sejak kemerdekaan Kazakhstan, 1991, hingga kini.

Menurut catatan wikipedia, negara ini memiliki cadangan minyak terbesar di luar Timur Tengah, yang mencapai 29 miliar barrel. Cadangan minyak tersebut diperkirakan berlipat ganda pada dasawarsa berikutnya.

Kazakhstan bagian dari kenangan perjalanan: negara dengan perencanaan dan terus menata masa depannya.


Asro Kamal Rokan
Penulis adalah wartawan senior, Pemimpin Umum LKBN Antara periode 2005-2007

Saren Jawa


Gemuruh riuh penonton memadati panggung terbuka "Ardha Candra Taman Budaya" (Art Centre), Denpasar, Bali. Mereka bertepuk tangan ketika pertunjukan kesenian tradisional Cakepung telah usai.

Serentak puluhan pemain Cakepung melangkah ke tengah, menangkupkan tangan di dada dan berbalik masuk ke belakang panggung.

Grup kesenian Cakepung yang baru saja berpentas pada perhelatan Pesta Kesenian Bali (PKB) 2017 pada 10 Juni-8 Juli itu, berasal dari Desa Budakeling, Karangasem.

Grup ini telah didirikan sejak puluhan tahun silam, dan sudah melanglang ke berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, telah berpentas hingga mancanegara.

Kesenian Cakepung di Budakeling merupakan kolaborasi kesenian tradisional antara umat Hindu dan Islam.

"Pemain Cakepung berasal dari delapan dusun di Budakeling," ujar Kepala Wilayah Dusun Saren Jawa, Desa Budakeling, Ketut Ayu Mudin SAR.

Bahkan, kolaborasi kesenian Islam-Hindu tidak hanya terwujud pada Cakepung, melainkan juga pada perhelatan kesenian Burdah, Rudat, dan lainnya.

Kolaborasi ini mampu melahirkan jenis kesenian yang khas dan berbeda, yang akhirnya menjadi tradisi dan senantiasa dipergelarkan setiap ada kegiatan pentas budaya, khususnya di wilayah Budakeling.

Kebersamaan dan tingginya toleransi antarumat beragama di wilayah ini, tidak hanya terwujud melalui kolaborasi seni budaya. Kegiatan lain yang menjadi penanda harmonisnya hubungan antara umat Hindu dan Islam di Saren Jawa, juga nampak ketika 10 Muharam tiba.

Setiap 10 Muharam, warga Saren Jawa mengadakan acara Haul Makam. Bertempat di makam Raden Kyai Abdul Djalil, pendiri Dusun Saren Jawa.

"Saat itu, kami mengundang saudara-saudara umat Hindu untuk menikmati hidangan bersama-sama dengan penduduk Saren Jawa. Suasana persaudaraan itu terasa begitu indah dan mendamaikan," ujar lelaki yang akrab dipanggil Habib Ketut ini.

Makam Raden Kyai Abdul Djalil terletak di seberang Balai Dusun Saren Jawa. Tokoh spiritual yang berasal dari Demak, Jawa Tengah ini, meninggal pada 1460.

Dahulu, Raden Kyai Abdul Djalil pernah membangun masjid pertama di kawasan Budakeling. Masjid itu memiliki atap "tumpang" atau tingkat 11, menyerupai bentuk bangunan pura. Namun, beberapa tahun silam, masjid bertumpang 11 itu mengalami kebakaran.

Keharmonisan sikap toleransi tak hanya terlihat di wilayah Dusun Saren Jawa, yang dihuni 140 kepala keluarga ini. Dusun-dusun lain di Desa Budakeling terbiasa saling mengundang para tokohnya, bila ada upacara ngaben, potong gigi, pernikahan atau upacara "otonan".

"Jika memasuki Bulan Ramadhan, kami kemudian diundang pihak Griya Budakeling yang mengadakan kegiatan berbuka bersama. Entah sejak kapan acara buka bersama antara umat Islam dan Hindu ini diadakan. Yang jelas sejak masih kecil, saya sudah sering diajak ayah untuk mendatangi undangan berbuka puasa dari saudara umat Hindu," ucap Habib Ketut.

Kuatnya persaudaraan ini, membuat penduduk di Saren Jawa yang beragama Muslim tak segan memberi nama depan anak-anaknya dengan sebutan "Putu", "Made", "Komang", atau "Ketut". Seperti umumnya nama-nama warga Bali lain. Misalnya, Komang Hasan Basri atau Made Siti Aminah.

Bahkan, kitab wariga atau buku mengenai perwatakan di Dusun Saren Jawa menggunakan huruf Arab, namun berbahasa Bali. Kitab ini dilengkapi juga dengan gambar pewayangan. Kitab ini sekarang tersimpan di rumah Habib Ketut, dan pernah mendapat perawatan dari salah seorang warga Jerman yang berkunjung, supaya tidak mengalami kerusakan.

Studi Banding Toleransi Perhatian orang asing terhadap Dusun Saren Jawa, telah terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Dusun yang terletak sekitar 70 km dari Denpasar ini, sering menjadi tempat studi banding keberhasilan dan keharmonisan suatu toleransi antarumat beragama.

Pada 2011, perwakilan dari 40 negara datang untuk mengetahui secara langsung kehidupan penduduk Saren Jawa yang dapat hidup rukun berdampingan dengan umat agama lain.

Berikutnya, beberapa tokoh dari negara lain, yang berminat pula untuk mempelajari sejarah dusun dan sejumlah adat istiadat yang biasa dilangsungkan di Saren Jawa, termasuk adat Safaran yang merupakan tradisi berbondong-bondong datang ke tepi sungai dan warga makan ketupat bersama-sama.

Hal lain yang menarik minat peneliti asing sehingga datang ke Dusun Saren Jawa, tidak lain karena ingin mengetahui secara rinci riwayat hidup Raden Kyai Abdul Djalil.

Nama besar tokoh ini tetap terjaga sampai sekarang, terbukti makamnya masih sering menjadi tempat berziarah para pengunjung dari dalam dan luar negeri.

"Kami masih menelusuri sejak tahun berapa Raden Kyai Abdul Djalil datang ke Bali. Mengenai alasan beliau datang ke Budakeling, menurut keterangan leluhur, dikarenakan dahulu di Desa Budakeling pernah ada sapi badak berukuran sangat besar yang sedang mengamuk. Banyak penduduk menjadi korban. Akhirnya datang Raden Kyai Abdul Djalil dan berhasil mengalahkan sapi itu. Atas jasa ini, beliau pun dianugerahi wilayah yang belakangan disebut Saren Jawa," tuturnya.

Pengajaran dan keteladanan tokoh Raden Kyai Abdul Djalil untuk hidup penuh toleransi dan menganyam kebersamaan dengan umat agama lain, memang sudah lama berlalu.

Meski demikian, telah dipetuahkan semenjak ratusan tahun lalu, bahwa ajaran untuk hidup berdampingan dengan penuh sikap toleransi itu tetap lestari sampai lintas generasi.
Tri Vivi Suryani
Penulis buku dan artikel lepas, tinggal di Bali

Beras berwarna-warni dihias sebutir telur ayam di atas tampah, serta gambir, pinang, kapur sirih dan tembakau bersama setandan pisang menjadi bagian dari sesajen pada upacara adat Baliya Jinja, ritual penyembuhan khas Suku Kaili yang berdiam di Sulawesi Tengah.

Sesajen ini bersama tujuh macam kue tradisional yakni roko-roko, cicuru, batu bengga, epu-epu, belira, lemo-lemo dan onde-onde disiapkan untuk dilarung ke laut keesokan paginya bersama replika perahu bercadik dan sebagian lagi dibuang ke gunung.

Ritual ini pada masa ratusan tahun lalu ketika belum ada dokter dan rumah sakit menjadi cara terampuh bagi masyarakat yang mengalami sakit parah dan mendambakan kesembuhan.

Upacara diawali dengan pengusapan ramuan oleh ketua adat ke bagian-bagian tubuh orang yang akan disembuhkan mengikuti tata cara berwudhu, dimulai dengan telapak tangan, bagian wajah, lengan, dahi, telinga dan telapak kaki sambil membaca Al-Fatihah.

"Orang Kaili disembuhkan dengan cara ini sejak dulu. Pada masa leluhur kami belum ada dokter. Dukun yang memutuskan, apakah harus menggunakan upacara adat Baliya Rato, Baliya Tampilangi, Baliya Bone, Baliya Buwo atau Baliya Jinja," kata Lipariya, seorang ibu yang berperan sebagai ketua adat.

Usai prosesi pengusapan, mulailah para ibu (baliya) yang menggunakan pakaian adat berwarna kuning emas dengan jilbab berwarna kuning berdiri berjejer, menari dengan khidmat sambil membawa kipas diiringi tabuhan gendang, gong (gindam) dan seruling bambu yang dimainkan para bapak (bule) yang berpakaian adat beskap hitam dengan kain kepala.

Upacara ini kembali dihidupkan di area Kampung Kaili, Pantai Talise, Kota Palu, Sulawesi Tengah bersama penyelenggaraan Pekan Budaya Indonesia 2017 dan Festival Pesona Palu Nomoni II yang berlangsung sejak 22 hingga 27 September 2017.

Menyambut festival ini, di Pantai Talise dibangun Kampung Kaili di mana puluhan anjungan tradisional dari kayu dan bambu menjual beragam kerajinan dan kuliner khas Kaili yang digelar oleh masyarakat di berbagai kelurahan di Kota Palu dan sekitarnya.

Anjungan lainnya dengan halaman yang lebih luas, dipasangi pagar batas dengan titik-titik obor untuk menggelar upacara adat baliya beserta pintu bambu yang dihiasi dedaunan kelapa.

Menurut Lipariya, upacara baliya sebenarnya dilaksanakan kapan saja ketika ada orang yang sakit dan tidak juga sembuh, karena dukun akan melihat penyakit ini disebabkan oleh masuknya roh jahat.

"Beberapa waktu lalu ada yang sakit sudah lebih dari setahun dan sudah dibawa ke Makassar tidak sembuh juga, dirujuk ke Jakarta masih sakit juga, katanya kanker hati. Lalu kami buat upacara seperti ini. Sekarang dia bisa jalan," kata Lipariya yang tinggal di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu.

Namun demikian, lanjut dia, upacara baliya kali ini dikhususkan untuk kesembuhan masyarakat di seluruh dunia, sehingga tidak menyertakan orang yang sakit secara khusus, bahkan dukun pun tidak dihadirkan.

"Kami di sini berdoa untuk kesehatan seluruh masyarakat dunia. Kami percaya Allah Yang Maha Penyembuh yang menyembuhkan segala penyakit," katanya.

Tarian ritual dengan alunan gindam di Kampung Kaili ini berlangsung sejak usai matahari terbenam hingga larut malam di mana para baliya kemudian turun mengikuti alunan tersebut dan menyatu dengan roh leluhur.

Disiapkan pula kambing dan ayam untuk dikorbankan. Kambing ini dalam adat Baliya Jinja, akan ditombak kakinya sebelum akhirnya dipenggal kepalanya untuk ikut dilarungkan ke laut.

Malam semakin larut dan masyarakat pun semakin memadati kampung tersebut untuk menyaksikan ritual adat yang pernah hidup sejak ratusan tahun silam itu.

Namun tidak seperti tahun lalu ketika upacara adat ini mulai dipertunjukkan di Kampung Kaili dengan upacara yang lengkap hingga si dukun menginjak-injak bara api yang bermakna memusnahkan amarah roh jahat, tahun ini tidak menggunakan bara api.

Demikian pula di anjungan lainnya yang juga menggelar upacara adat Baliya tersebut, misalnya di anjungan Kabupaten Donggala di mana para baliya menggunakan pakaian adat berwarna kuning, kerudung kuning dan sarung kota-kotak serta para bule menggunakan pakaian adat merah dan tutup kepala merah.

Mereka juga menari mengikuti alunan seruling dan gendang sambil membawa-bawa tombak dan menginjak-injak batok kelapa, termasuk menaiki gendang, mengelilingi kambing yang duduk terikat serta ayam dibungkus plastik.

Menurut Manopo, bule yang membunyikan suling dalam upacara ini, tradisi ini memang sudah hampir punah, karena itulah Wali Kota Palu Hidayat bertekad menggalinya kembali dan menjadikannya sebuah pergelaran rutin dalam festival budaya Nomoni setiap tahun.

Suku Kaili merupakan suku mayoritas di Sulawesi Tengah, dan kebanyakan berdiam di Kota Palu, Kabupaten Donggala, Parigi Moutong, dan Kabupaten Sigi dan diperkirakan mencakup 20 persen dari total seluruh penduduk Sulteng.

Sulawesi Tengah ini memang sangat kaya akan etnis, lebih dari 20 suku tinggal di provinsi ini, selain Suku Kaili, ada juga Suku Kulawi, Lore, Pamona, Mori, Bungku, Saluan, Balantak, Mamasa dan lain-lain, dengan ragam adat dan bahasa yang juga berbeda-beda.

Festival Pesona Palu Nomoni diharapkan mampu mengangkat kembali kekayaan adat budaya masyarakat di lembah dan sepanjang Teluk Palu ini agar tidak punah dan sekadar menjadi hiasan di buku-buku sejarah.


Egy Maulana Vikri

Publik Indonesia dan juga Asia terpukau dengan liukan Egy Maulana Vikri saat mengolah bola dalam skuat Timnas U-19. Egy yang lahir di Medan, Sumatera Utara ini  merupakan satu-satunya pemain yang tampil di piala AFF U-18 yang banyak menyedot perhatian pengamat sepakbola Indonesia dan Asia. Egy mengawali karirnya di  PERSAB Brebes.Berkat penampilan apiknya dalam sejumlah laga pertandingan, Egy mulai dilirik klub-klub elit  Indonesia, salah satunya klub Deltras Sidoarjo.

Egy Maulana Vikri menjadi pemain yang menonjol di timnas Indonesia U-19. Dia adalah  top scorer Piala AFF U-18 tahun ini. Delapan gol dibukukan Egy selama menjalani turnamen di Myanmar. Egy juga mengantarkan Indonesia  finis di posisi ketiga.

Sejumlah julukan menempel pada pundak Egy. Dia juluki Messi Indonesia, dia juga disebut mewariskan karakter permainan pelatih Real Madrid, Zidane. Bahkan, kecepatannya dalam mendrible bola disejajarkan dengan pemain timnas Belanda, Arjen Robben.

Egy juga mendapat gelar 'Wonder Kid Indonesia'. Melihat bakat Egy yang luar biasa itu,  mantan pemain timnas Indonesia, Firman Utina menyarankan agar Egy Maulana berkarir di luar negeri. Jika Egy bermain di luar negeri, Firman yakin, pemain yang berposisi sebagai penyerang sayap itu bisa menambah kualitas permainan timnas Indonesia.

Selain Deltras Sidoarjo yang kepincut Egy, Persib dan Arema juga berambisi ingin memboyong Egy untuk memperkuat lini serang mereka. Bahkan, rumors olahraga sejumlah klub di negeri Jiran, Malaysia juga mulai mengikuti jejak Egy dalam setiap turnamen nasional maupun regional.

Sebelumnya, para pelakon lapangan rumput, seperti pelatih Bali United, Widodo Cahyono Putro, pelatih Persija, Stefano Cugurra Teco dan Presiden Borneo FC, Nabil Husein Said Amin, juga sudah mengharapkan  agar Egy bermain di luar negeri demi mengembangkan kariernya.

"Lebih baik Egy tidak main di Indonesia dan sebaiknya berlaga di luar negeri," tutur Widodo C Putro yang pernah menjadi bintang timnas Indonesia era 1990-an.

Namun, Egy belum memutuskan masa depan karir sepakbolanya dalam waktu dekat ini, lantaran siswa kelas tiga SMA Diklat Ragunan itu, ingin lulus dulu sekolahnya. Saat ini,  Egy juga lagi fokus bersama timnas U-19 yang akan berlaga di Piala Asia U-19 yang akan berlangsung di Indonesia. (WWN)

Gunung Agung

Sejumlah warga Desa Tianyar, lereng Gunung Agung, yang masuk daerah rawan bencana enggan mengungsi dengan alasan ternak piaraannya berupa sapi dan babi tidak ada yang merawat dan mengawasinya.

Oleh sebab itu, mereka tetap bertahan meskipun sebagian besar warga desa di lereng gunung itu telah berbondong-bondong mengungsi sejak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PWMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM meningkatkan status Gunung Agung (3.143 meter) di Kabupaten Karangasem, Bali, dari Level III (Siaga) menjadi Level IV atau Awas sejak Jumat (22/9) malam, tutur warga setempat Jero Mangku Puseh.

Ia bersama puluhan warga lainnya memilih tetap bertahan. Alasannya takut sapi ternak piaraannya yang menjadi sumber kehidupan keluarga dicuri orang.

Demikian pula, beberapa warga lainnya di Desa Tianyar, yang masuk dalam radius 12 km dari Gunung Agung atau dalam kawasan rawan bencana (KRB) memilih tetap bertahan di rumahnya walaupun sudah mendapat perintah untuk mengungsi pascapeningkatan aktivitas Gunung Agung.

Jero Mangku Puseh, pemimpin ritual agama Hindu di desa tersebut, mengaku sebagian besar warganya sudah mengungsi ke tempat aman ke posko pengungsian Desa Les dan tempat penampungan lainnya di Kabupaten Buleleng.

Begitu pula, aktivitas galian C di Desa Tianyar yang berlokasi di sebelah utara Gunung Agung hingga Minggu (24/9) masih berjalan seperti biasa. Sejumlah kendaraan berat berisi pasir melintas di sepanjang jalan utama yang menghubungkan Kabupaten Karangasem dengan Kabupaten Buleleng.

Pengungsi terus mengalir hingga kini mencapai 2.745 kepala keluarga (KK) atau 15.124 jiwa trsebar pada 126 titik tersebar di delapan kabupaten dan satu kota di Pulau Dewata, seperti yang diungkapkan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Daerah (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho.

Jumlah itu diperkirakan masih akan terus bertambah karena Pemkab Karangasem memperkirakan warga yang bermukim di lereng Gunung Agung dalam radius 6 kilometer sebanyak 15.000 jiwa dan radius 12 kilometer sekitar 100.000 orang.

Komandan Kodim 1623 Karangasem Letkol Inf. Fierman Sjafierial Agustus bersama tim gabungan lainnya telah meningkatkan penyisiran di daerah rawan bencana untuk mengevakuasi warga yang masih bertahan di beberapa desa sekitar Gunung Agung.

Dalam Rapat Koordinasi Darurat Gunung Agung, dia meminta warga lereng Gunung Agung dalam radius 12 kilometer untuk mematuhi instruksi petugas sebagai upaya mengantisipasi kemungkinan terburuk, misalnya terjadi erupsi Gunung Agung.

Fierman yang juga Komandan Satuan Tugas Siaga Darurat Gunung Agung itu mengklaim evakuasi hampir 100 persen dilakukan di kawasan rawan bencana (KRB) III yang merupakan zona merah dan KRB II yang merupakan zona merah muda.

Namun, tidak jarang beberapa warga, terutama yang memiliki ternak, kembali ke desa untuk memberi makan ternak yang tidak ikut diungsikan.

Ia berkali-kali telah mengimbau warga untuk turun dari lereng gunung karena berbahaya mencermati status awas Gunung Agung sejak Jumat (20/9).

Jual Ternak Sementara itu, Wayan Pasek (45), warga Banjar Temukus, Desa Besakih, Kabupaten Karangasem yang juga masuk dalam radius rawan bencana memilih menjual ternak sapinya secara murah seiring dengan meningkatnya aktivitas Gunung Agung.

Bahkan, ternak sapi piaraanya itu dijual pada hari Rabu (20/9), 2 hari sebelum Gunung Agung ditingkatkan statusnya menjadi Awas atau Level IV.

Sapi piaraannya dijual di Pasar Beringkit, Kabupaten Badung, laku seharga Rp9 juta per ekor, padahal biasanya bisa mencapai Rp12 juta. Hal itu terjadi karena membeludaknya jumlah sapi kiriman ke Pasar Beringkit sehingga harganya murah.

Banjar Temukus, Desa Besakih, yang terdiri atas 200 kepala keluarga itu sebagian besar merupakan petani pemelihara sapi dan perkebunan bunga gumitir untuk memenuhi kebutuhan ritual yang digelar umat Hindu.

Wayan Pasek mengaku ikhlas tidak mempermasalahkan sapi peliharaannya dijual murah daripada nanti ketika terjadi bencana semuanya akan hilang. Hal itu juga dilakukan beberapa tetangganya.

Desa Besakih, termasuk pura terbesar umat Hindu di Bali itu berada dalam radius 6 km dari Gunung Agung yang kini sudah seluruhnya mengungsi ke 126 titik di delapan kabupaten dan satu kota di Bali.

Sementara itu, Oka Mantara, warga dari Desa Jehem, Kabupaten Bangli, sekitar 12 km barat Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem mengusulkan ternak piaraan masyarakat di daerah rawan bencana ikut dievakuasi.

Pihaknya memiliki lahan yang cukup luas yangdapat dimanfaatkan secara cuma-cuma untuk menampung ternak milik para pengungsi daerah rawan bencana.

Dengan demikian, ternak piaraan masyarakat tidak perlu dijual murah dan tidak harus bertahan di daerah rawan bencana yang mempunyai risiko tinggi.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho yang berada di Bali sejak awal September 2017, pada saat aktivitas Gunung Agung mulai meningkat, menilai rasa solidaritas sesama masyarakat Bali sangat tinggi yang ditunjukkan dengan banyak warga yang menawarkan rumah dan bangunannya sebagai tempat pengungsian.

Seorang warga Pejeng timur, Kabupaten Gianyar, misalnya, bisa menampung pengungsi 50 orang. Dia menyiapkan fasilitas air bersih, tempat tidur, dan makanan sehari-hari.

Demikian pula, I Nyoman Suardika di Kabupaten Klungkung menyediakan tempat penampungan ternak di Besang Kawan untuk para pengungsi secara gratis.

Selain itu, dia juga menyediakan tempat pengungsian di dekat kediamannya untuk kapasitas 30 orang sehingga pengungsi yang membawa ternak sapi bisa mencari pakan ternak di sekitarnya. Dengan demikian, pengungsi tidak perlu menjual ternaknya secara murah.

Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumantri mengatakan bahwa pemkab setempat mengupayakan membeli ribuan hewan ternak milik para pengungsi untuk mencegah agar tidak dijual dengan harga murah.

Masyarakat yang tinggal di daerah pengungsian panik dan khawatir terhdap ternak piaraannya.

Untuk itu, pihaknya sudah berkoordinasi dengan TNI dan Polri serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk melakukan evakuasi ternak sapi secara bertahap sejak Sabtu (23/9).

Wira Suryantala dan I K. Sutika

Kereta Cepat China

Stasiun kereta cepat di China sangat berbeda dengan stasiun kereta api di Indonesia. Infrastruktur dan fasilitas yang tersedia menyerupai bandara, yakni calon penumpang kereta maupun pengantar harus menjalani proses pemeriksaan melalui detektor logam sesaat setelah melewati pintu masuk stasiun.

Penulis bersama wartawan dari negara-negara ASEAN belum lama ini mendapat kesempatan menumpang kereta cepat rute Beijing-Nanjing, dalam rangkaian kegiatan peliputan atas undangan Kementerian Luar Negeri China.

Perjalanan menuju Nanjing saat itu dimulai dari stasiun kereta cepat Beijing Selatan (Beijingnan) yang terletak di Distrik Fengtai.

Di dalam stasiun berjajar berbagai gerai makanan, minuman, serta toko oleh-oleh. Seperti di berbagai tempat umum lainnya di China, stasiun kereta juga sangat padat orang.

Sebelum turun ke platform kereta yang berada satu lantai di bawah lantai dasar stasiun, calon penumpang harus menunjukkan tiket dan kartu identitas kepada petugas.

Harga tiket kelas satu untuk tujuan Nanjing 748,5 yuan (sekitar Rp1,5 juta) per orang. Sistem penetapan tarif tiket kereta cepat di China didasarkan pada waktu tempuh. Tarif untuk kelas satu dibanderol 150 yuan (sekitar Rp300 ribu) per jam sementara untuk kelas dua sebesar 100 yuan (sekitar Rp200 ribu) per jam.

"Dengan kecepatan kereta 350 kilometer per jam, kami bisa sangat menghemat waktu. Sebelumnya kami harus menempuh 14 jam dari Beijing menuju Nanjing, tetapi setelah ada kereta cepat kami cukup menghabiskan 4,5 jam saja," ujar Hu Fangfang, pemandu perjalanan para wartawan selama berada di Beijing.

Satu rangkaian kereta cepat yang ditumpangi para wartawan terdiri dari 16 gerbong kereta, dengan kapasitas gerbong kelas satu 41 penumpang.

Yang menarik dari kereta ini adalah nomor kursi setelah angka diikuti huruf A, C, F, D, tidak runut seperti kereta api di Indonesia yang menggunakan huruf A, B, C, D.

Kereta cepat di China memiliki karakteristik warna putih pada badan kereta dan bentuk moncong menyerupai peluru pada ujung-ujungnya.

Interior di dalam kereta mirip kereta kelas eksekutif di Indonesia, dilengkapi toilet, pendingin ruangan, dan kabin barang.

Kursi-kursi kereta berwarna merah dengan sandaran tinggi difasilitasi dengan meja lipat yang bisa digunakan untuk menaruh benda kecil atau peralatan kerja seperti laptop dan gawai.

Sesaat setelah keberangkatan, pramugari kereta akan membagikan sekotak makanan kecil yang di dalamnya berisi kacang, biskuit, dan daging kering. Penumpang juga bebas memilih minuman yang disediakan seperti air mineral, teh, dan jus kelapa.

Bagi Panaiyada Pattamakowit, pengalaman pertama menumpang kereta cepat sangat berkesan. Wartawan media berbasis daring InfoQuest asal Thailand itu mengaku jarang menggunakan transportasi kereta api di negaranya.

"Orang Thailand lebih senang menggunakan pesawat terbang karena waktu tempuhnya lebih cepat dan bahkan harga tiketnya lebih murah daripada bus," ujar dia.

Kereta api di Thailand, menurut dia, sangat lambat dan fasilitasnya kurang nyaman bagi penumpang sehingga tidak menjadi transportasi publik favorit masyarakat di negaranya.

Sementara bagi Yimie Yong, wartawan asal Malaysia, kereta cepat selalu menjadi pilihan terbaik saat dirinya bepergian antarwilayah di China.

"Alat transportasi ini sangat efisien ya. Dulu saat saya 'traveling' ke China ke mana-mana naik bus, tetapi sekarang karena macet jadi susah. Bus juga tidak nyaman untuk tidur selama perjalanan, jadi saya rasa kereta lebih baik," tutur wartawan The Star Media Group itu.

Selama perjalanan dari Beijing menuju Nanjing, penumpang dimanjakan dengan panorama beberapa wilayah di China mulai dari gedung-gedung bertingkat di kawasan perkotaan, perbukitan, lahan pertanian, sungai dan jembatan.

Jalannya kereta meskipun cepat tetapi relatif stabil dan tidak bising, sehingga nyaman bagi penumpang yang ingin menggunakan waktunya untuk bekerja, saling mengobrol, atau beristirahat.

Menempuh jarak 1.023 kilometer, kereta yang berangkat dari Beijing ini sempat berhenti di enam stasiun yakni Dezhoudong, Jinan Barat, Taian, Xuzhou, Bengbunan, Dingyuan sebelum tiba di stasiun tujuan Nanjing Selatan (Nanjingnan).

Merambah ASEAN Dalam beberapa tahun ke depan, penduduk Asia Tenggara akan dapat menikmati terobosan baru dunia perkeretaapian melalui pembangunan kereta cepat di beberapa negara.

Indonesia adalah negara pertama yang telah memulai proyek kereta api cepat dengan rute Jakarta-Bandung.

Peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek infrastruktur yang dikerjakan oleh konsorsium PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) itu telah dilakukan Presiden Joko Widodo pada pertengahan 2016.

Meskipun kini pembangunan proyek senilai 6,07 miliar dolar AS itu masih terhambat proses pembebasan lahan, namun perusahaan China yakin dapat menyelesaikannya sesuai jadwal yakni pada akhir 2019.

"Proyeknya terus berjalan sesuai jadwal dan sesuai harapan pemerintah kedua negara. Tahun ini kami memang fokus pada pembebasan lahan sebagai tahap persiapan konstruksi," kata Direktur Departemen Bisnis Asia China Railway Group Limited, Li Jianping, saat menerima kunjungan wartawan dari negara-negara ASEAN di Beijing.

Dengan jarak tempuh 142,3 kilometer, kereta cepat Jakarta-Bandung diperkirakan dapat memperpendek waktu tempuh dari 3,5 jam menjadi sekitar 35 menit.

Indonesia berharap adopsi teknologi transportasi dari China ini dapat mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi di Ibu Kota Provinsi Jawa Barat, serta menjadi solusi kepadatan jalan tol Cipularang yang menghubungkan Jakarta-Bandung.

Sementara Malaysia, Singapura, dan Thailand tampaknya masih harus menunggu sampai proyek kereta cepat dapat segera dilaksanakan.

Pembangunan kereta cepat Kuala Lumpur-Jurong saat ini masih dalam tahap tawar-menawar (bidding). Investor China dan Jepang disebut-sebut bersaing keras untuk memenangi tender proyek yang telah disepakati oleh pemerintah Malaysia dan Singapura pada 2013.

Sedangkan pemerintah Thailand telah menyetujui pendanaan tahap pertama infrastruktur kereta cepat rute Bangkok-Nakhon Ratchasima yang akan digarap oleh kontraktor China. Dengan kecepatan maksimal 250 kilometer per jam, kereta yang dapat menempuh jarak 260 kilometer hanya sekitar satu jam itu diperkirakan mulai beroperasi pada 2021.

Pembangunan infrastruktur kereta cepat di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand termasuk dalam peta "Belt and Road Initiative" (BRI) yang digagas Presiden China Xi Jinping.

Strategi kerja sama regional itu mengusung konektivitas sebagai kata kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan Asia, Eropa, serta Afrika.

Yashinta Difa
All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.