BBTU-HPT Baturraden


Jakarta, 27/9 (Benhil) - Usaha peternakan tidak terlepas dari persoalan limbah. Namun saat ini sudah banyak teknologi yang bisa memanfaatkan limbah peternakan menjadi sesuatu yang berguna, seperti kotoran untuk biogas dan pupuk kompos.

Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BBTU-HPT) Baturraden yang saat ini mempunyai sekitar 1.450 ekor sapi dan sekitar 450 ekor kambing juga berusaha bagaimana pengelolaan yang ada tidak menimbulkan limbah.

Sebenarnya selama ini limbah kotoran selalu disalurkan ke kebun rumput karena posisi kandang dirancang berada di atas kebun rumput. Kebun rumput yang mendapat limpahan kotoran dan urine sapi biasanya tumbuh lebih lebat, namun model ini menjadikan kotoran dan urine tidak bisa tersebar secara merata ke seluruh kebun rumput.

Cara terbaik yaitu mengumpulkan semua kotoran dalam satu bak besar dan kemudian difungsikan dulu sebagai penghasil metan dalam proses biogas dalam bak tertutup, setelah gas mulai berkurang maka sisa limbah itu bisa dibuat kompos.

Seperti diketahui selama ini kotoran sapi juga mengeluarkan gas metan yang jika dibiarkan di udara bebas akan menambah polusi udara apalagi gas metan bisa membuat efek rumah kaca dan merusak lapisan ozon.

Untuk mencegah polusi maka ke depan BBTU-HPT Baturraden mulai mendisain ruang biogas yang akan mengubah kotoran sapi menjadi energi gas dan menghasilkan listrik.

Kepala BBTU-HPT Baturraden Ir Sugiono mengungkap ada rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga gas yang dihasilkan dari kotoran sapi.

Ia menjelaskan, tahun ini mulai membuat ruang biogass skala besar 500 meter kubik yang mampu menggerakkan pembangkit listrik 10.000 watt. Dengan tambahan ternak Brahman Cross (BX) 400 ekor dan sapi Fresh Holstein (FH) 200 ekor di tahun depan maka produksi kotoran sapi mencukupi untuk menghasilkan gas.

Sugiono mengatakan, listrik yang dihasilkan digunakan untuk menerangi jalan, kandang ternak dan sebagian peralatan kandang. Biaya listrik bisa dihemat dan yang penting Batuuraden sudah ikut mencegah adanya pemanasan global akibat gas metan.

Kotoran yang sudah membebaskan gas akan dipadatkan untuk menjadi kompos dalam bentuk butiran yang mudah disebarkan di seluruh hijauan pakan ternak.

Penggunaan kompos akan semakin mengurangi penggunaan pupuk kimia untuk pertumbuhan hijauan pakan.

"Semua yang dianggap limbah akan diolah sehingga diterima alam, dan berusaha untuk mengurangi limbah sesedikit mungkin, kata Sugiono didampingi Kabag Umum Bagong Kusminandar.

Limbah Sisa Pakan Bagong menjelaskan, salah satu limbah yang selama ini cukup banyak, yaitu batang rumput gajah dan rumput raja yang banyak tidak dikonsumsi ternak karena terlalu keras.

Untuk mengurangi limbah itu, BBTU-HPT Baturraden akan beralih menggunakan tanaman jagung sebagai sumber hijauan. Jagung muda yang berusia 70 hari mempunyai batang yang lebih lunak sehingga ternak kambing dan dombapun masih menyukainya.

Ia menegaskan, secara berkala tanaman rumput gajah dan rumput raja akan diganti dengan tanaman jagung. Tahun ini sudah 12 hektare dari 90 hektare areal hijauan yang sudah ditanami jagung, katanya.

Jika sebagian sudah ditanami jagung maka akan dimulai revolusi pemberian pakan hijauan yang selama ini diberikan rumput dan daun-daunan segar maka ke depan semua pakan akan menggunakan silase jagung dicampur sedikit dengan tanaman lain seperti Kaliandra dan Indigofera yang mempunyai protein tinggi.

BBTU-HPK Baturraden juga mempunyai kebijakan untuk menanami setiap jengkal tanah di areal kandang dengan berbagai hijauan, mulai rumput odot maupun Kaliandra dan Indigofera, dua yang terakhir biasanya menjadi makanan favorit kambing. Saat ini tidak ada ruang kosong di areal BBTU-HPT Baturraden karena semua telah hijau.

BBTU-HPT Baturraden tahun ini menyiapkan ruang silase yang mampu menampung 1.800 ton jagung. Untuk memaksimalkan ruang silase itu, BBTU-HPT Baturraden juga bersiap melakukan kerja sama dengan petani jagung di sekitar Banyumas untuk ikut menyuplai kebutuhan hijauan pakan bagi ternak.

Dengan model sebagian hijauan pakan yang dipasok masyarakat maka areal yang ada bisa dimaksinalkan untuk meningkatkan daya tampung ternak apalagi kebutuhan bibit unggul sapi perah dan sapi pedaging masih tetap tinggi.

Selain penanganan limbah, cara pemeliharaan ternak sapi juga akan dibuat kembali seperti keadaaan sapi di alam. Sapi diberikan kebebasan untuk bergerak dalam kandang komunal dan sebagian yang bunting digembalakan.

Penggembalaan Model pemeliharaan ternak dengan kandang komunal dan penggembalaan juga sudah diterapkan di satu lokasi yaitu di Farm Manggala yang mempunyai luas 100 hektare. Jika melihat ke sana mirip seperti farm yang ada di Australia dan Selandia Baru, dimana ada sapi yang dibiarkan 24 jam di alam terbuka, hanya kemudian diberikan pakan konsentrat sebagai tambahan.

Sapi yang lahir di Baturraden kemudian diseleksi dan betina yang terpilih kemudian dibesarkan di Farm Manggala sekitar satu jam perjalanan ke arah barat dari Baturraden.

Sapi dikelompokkan dalam kandang komunal berdasarkan usia, yaitu 4 hingga 6 bulan, 8 hingga 10 bulan, 12 sampai 18 bulan, 20 bulan lebih atau siap inseminasi buatan (IB), dan sapi yang sudah IB tetapi menunggu pemeriksaan kebuntingan. Ini akan memudahkan pemantauan betina yang birahi dan siap untuk diinseminasi buatan.

Jika sapi betina sudah positif bunting melalui pemeriksaan USG, maka sapi digembalakan di padang rumput yang ada dengan pengelompokan usia kebuntingan.

Saat ini terdapat 13 pedok penggembalaan, dan akan diperluas beberapa pedok lagi di bukit teletubis dan di areal seluas 25 hektare di sebelah barat laut padang penggembalaan Manggala.

Pembersihkan areal baru itu juga cukup unik karena tidak menggunakan tenaga manusia, tetapi pihak balai melepaskan sekitar 50 ekor sapi dewasa. Mereka terus diliarkan selama satu minggu sampai hijauan yang rimbun menjadi bersih.

Arifin, Kepala Pengelola Farm Manggala mengatakan sejak tiga tahun lalu, padang penggembalaan terus diperbaiki dengan penanaman rumput brachiaria Decumbens atau dikenal sebagai rumput BD.

Ia menjelaskan, keistimewaan rumput ini adalah tahan hidup di musim kemarau, mempunyai perakaran yang sangat kuat dan cepat menutup tanah sehingga dapat mengurangi erosi. Rumput ini juga memiliki nilai palatabilitas yang cukup baik bagi ternak ruminansia. Menurut Arifin, sapi bunting terus digembalakan selama 24 jam sampai usia kebuntingan 7 bulan, setelah itu dikembalikan ke Baturraden untuk menunggu proses melahirkan. Selama penggembalaan juga tetap diberikan konsentrat sebagai tambahan gizi agar janin tetap sehat.

Pengelolaan pembibitan juga mengutamakan aminal walfare sehingga susu yang dihasilkan sapi dan kambing juga diutamakan untuk kebutuhan pedet dan cempe. Baru setelah berlebih hasilnya diolah untuk dijual dan sebagian juga bisa menjadi ajang praktik pengolahan susu oleh mahasiswa dan peternak.

Pengelolaan BBTU-PHT Baturraden ingin menuju pembibitan ternak yang "go green". yaitu tak ada limbah, berkelanjutan dan pemeliharaan yang ramah terhadap ternak. (Ben/An).

Budi Santoso
All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.