Mengulik Penipuan Berkedok Lowongan Kerja di Yogyakarta

Lowongan Kerja

Dari Semarang ke Yogyakarta, seorang seorang remaja nyaris terjebak penipu berkedok penyedia lowongan kerja (loker) di Yogyakarta. Beruntung dia masih bisa berpikir jernih. 

Setelah bermotor selama 4 jam, Devin, 27 tahun, sampai di depan rumah toko (ruko) di daerah Kota Gede, Yogyakarta. Tiga motor terparkir di depannya, empat dengan miliknya. 

Pintu ruko itu hanya terbuka separo. Sesosok pria berusia 60'an dan memakai seragam satpam (satuan pengamanan) yang sudah agak lusuh menyambut dengan malas dari dalam.

Baca Juga: Dua Skill Penting Agar Sukses Bekerja

Waktu menunjukan pukul 09.50 WIB, Devin mendapat undangan wawancara kerja pukul 10.00 WIB. Dia duduk di deretan kursi yang telah disediakan.  

“Saat itu tahun 2015. Saya berangkat dari Semarang jam enam pagi dan langsung ke kantor di Yogyakarta itu,” kata Devin kepada Benhil pada 16 Juli 2022.

Dia membayangkan betapa menyenangkan bekerja di Kota Pariwisata yang kaya akan seni budaya tersebut.

"Apalagi, gaji yang ditawarkan lima juta. Itu sangat lumayan untuk lulusan SMEA seperti saya ini," ujar Devin. 

Setelah lulus sekolah, Devin mengisi waktu dengan les bahasa Inggris dan mencoba melamar kerja, baik lewat surat dan juga email.

Kembali ke proses lowongan kerja di Yogyakarta, lamaran kerja Devin. Di samping deretan kursi tempat Devin duduk terdapat bilik berdinding triplek. Satpam tua itu mulai menyalakan rokok kretek tanpa memperdulikan tamu yang baru datang.

Lima menit kemudian dua pelamar kerja berbaju seperti Devin (kemeja putih dan celana panjang hitam) ikut duduk di kursi itu. Mereka tampak tegang dan kikuk.

Dari logatnya, Devin mengira peserta wawancara itu dari Solo dan Kebumen. Mereka tertarik melamar kerja karena gaji yang ditawarkan jauh di atas UMK (upah minimum kota) Jogja yang saat itu berkisar Rp 1,6 juta.

Baru pada pukul 10.56 WIB, seorang wanita agak gemuk berumur awal 40-an muncul dari dalam dan memanggil nama Devin. Wawancara terlambat hampir satu jam dan semua peserta tidak boleh mengeluh karena mereka butuh kerjaan. 

Di dalam bilik triplek, wanita itu duduk berhadapan dengan Devin. Dia memakai setelan yang juga lusuh, seperti satpam tadi, dan tampak tidak rapi. Dia menjabat tangan Devin dengan tidak meyakinkan. 

Sesi wawancara dimulai dengan kaku.

Baca Juga: 5 Cara Menciptakan Gaji Ke-13 untuk Pegawai Swasta

Biaya yang Bikin Pening

Wanita itu menerangkan perusahannya selama lima menit. Dia bilang, perusahaan besar tempat dia bekerja akan membutuhkan banyak pegawai. Devin berpikir, perusahaan besar tersebut tidak punya website dan berkantor di ruko yang catnya sudah mengelupas di sana sini. 

Devin mencoba menebak logat wanita itu, tapi sulit. Kadang-kadang dia berlogat Batak, kadang Minang, dan seringkali Betawi. Mungkin hidupnya berpindah-pindah.

Dia melihat kertas lamaran Devin. “Anda melamar sebagai admin. Itu posisi bagus dan masa depannya paling cerah di perusahaan ini.” 

Devin mengangguk senang.

“Tapi Anda perlu usaha untuk meraih posisi itu. Banyak yang ingin posisi ini lho,” ujar wanita gemuk itu dengan kalimat runut seperti sudah hapal dan diucapkan ribuan kali.

Devin menunggu kalimat selanjutnya. 

“Ada beberapa tes yang harus dikerjakan, yaitu tes psikologi, tes, administrasi, dan tes kemampuan,” ujarnya.

Pemuda itu kaget mendengar banyaknya tes yang harus dikerjakan, tapi dia masih tertarik dengan gajinya. 

Wanita tidak rapi itu masih bicara sambil membuka lembaran kertas di depannya, tanpa tertarik melihat tampang pencari kerja di depannya. 

“Biaya tes psikologi Rp 500 ribu, biaya tes administrasi Rp 400 ribu, dan untuk tes kemampuan biayanya Rp 600 ribu, jadi semuanya Rp 1,5 juta. Bisa dibayarkan kepada saya sekarang juga dan Anda bisa segera mengerjakan tes-nya,” ucapnya seperti dentuman meriam bagi Devin.

Posisi duduk Devin merosot sepuluh senti. Kepalanya langsung pening. “Sa...saya tidak bawa uang, Bu,” ujar Devin pelan dan gugup.

Wajah wanita itu menyiratkan kata, 'sudah aku duga'. Lalu dengan jengkel, dia mulai bercerita tentang beberapa pekerjaan yang butuh biaya ratusan juta untuk menduduki posisinya. Yang jelas, dia tidak ingin Devin berlama-lama di depannya.

Devin keluar dari ruko itu dengan lega. Pening di kepalanya langsung hilang. Kenapa masih ada orang yang mencari uang dengan cara menipu seperti itu? pikir pemuda itu. 

Dia tahu wanita itu adalah salah satu penipu berkedok penyedia lowongan kerja. Temannya pernah bercerita tentang perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan dan ujung-ujungnya menarik biaya untuk berbagai tahapan tes, seperti yang ditawarkan wanita tadi. 

Apabila Devin tetap ikut tes-tes tadi dan diterima kerja, maka dia hanya akan menjadi salah satu dari perekrut di perusahaan loker bisnis abal-abal itu, penipuan.

Devin jijik membayangkan dirinya menawarkan kebohongan seperti itu. 

"Saya langsung pulang ke Semarang  dan merasa beruntung masih bisa berpikir jernih," ujarnya.

Beberapa bulan kemudian, Devin yang saat ini bekerja di Pompa Bensin dan juga ojek online itu jalan-jalan ke Yogyakarta. Dia mendapati ruko tempat kantor penyedia loker itu sudah tutup. [Benhil News]

Surga Tropis

Tropics Paradise is a collection of writings and papers presented at, from, and to the tropics. Actually, the tropics is a place that comfortable, warm, and affluent. But the situation goes undermined by the real interests that not coming from the tropics itself, such as politics, ideology, lifestyle, and others. So for that matters, Tropical Paradise wants to restore a beautiful sense of the area.

Previous Post Next Post

Contact Form