https://www.tagar.id/foto2/1402/Foto%3A+Tampilan+Sepatu+Compass+Incaran+Pencinta+Sneakers/0

Jakarta - Banyak anak muda tergila-gila pada sepatu Composs. Untuk mendapatkan Compass 98 Vintage, mereka rela mengantre sepanjang malam hingga pagi di Grand Indonesia, Jakarta. Pedihnya, toko sepatu tidak jadi buka karena antrean berujung ricuh.

Hal tersebut terjadi pada Jumat-Sabtu, 13-14 Desember 2019. Pihak sepatu Composs di akun resmi Instagram @sepatucomposs menyatakan maaf hal demikian harus terjadi. Panita penjualan sepatu Composs di Grand Indonesia juga mengatakan hal sama. "Batal."

Cerita kepedihan sneakerhead, sebutan untuk gaya hidup pecinta sepatu sneaker, yang gagal mendapatkan sapatu yang diidam-idamkan ini dialami Christian dan Firansyah.

Mereka masih bertahan di tempat pada Sabtu, walau pihak Compass sudah mengumumkan pembatalan.

"Sedih. Sudah antre dari subuh. Tapi mau bagaimana lagi," kata Christian dengan senyum kecut.

Sementara itu Firansyah masih berharap bisa mendapatkan Compass 98 Vintage.

"Saya mau menunggu beberapa jam, siapa tahu beneran dibuka. Kan harusnya hari ini," ujar Firansyah. Ia datang ke Grand Indonesia setelah kericuhan berlalu.

Compass 98 Vintage rencanaya dirilis dalam edisi terbatas, hanya 300 pasang. Dijual dalam dua gelombang, pertama dirilis 240 pasang di pameran Wall of Fades Grande Indonesia, dan gelombang kedua dirilis 60 pasang dirilis pada waktu yang masih dirahasiakan.

Gelombang pertama yang sudah digadang-gadang sejak lama, berantakan pada hari H karena situasi antrean tidak kondusif.

Wall of Fades Grande Indonesia dimaksudkan sebagai persembahan sepatu Compass untuk komunitas denim terbesar di Indonesia. Kenyataan bahwa peminat terlalu jauh lebih banyak dari edisi terbatas, memicu kericuhan.

Kegilaan pecinta Compass sudah sejak lama. Sebelumnya pada momen Urban Sneaker Society 2019 di SCBD District 8 Jakarta, 8-10 November 2019, para pecinta bahkan rela antre berhari-hari.

Seorang pemuda bernama Avik, usia 23 tahun, datang jauh-jauh dari Tangerang, demi mendapatkan sepatu keluaran Compass. Ia mengantre sejak jam 11 malam, rela tidak tidur untuk memastikan antreannya aman.

"Saya antre dari jam 11," kata Avik, Minggu, 10 November 2019.

Tidak mulus lancar apa yang ia alami karena Avik kemudian diusir Satpam. Tempat di mana ia berdiri harus bersih pada malam itu. Avik pergi dengan lesu, istirahat di tempat lain. Dan alangkah kagetnya ia, dua jam kemudian kembali ke tempat antrean, saingannya sudah banya luar biasa. Ia pun pasrah berdiri di antrean barisan belakang.

Perjuangan Avik tidak sia-sia. Pada hari ketiga ia mendapatkan kupon sepatu sneaker dengan brand Compass yang diidam-idamkan.

"Hari pertama saya datang jam sebelas malam, hari kedua saya antre jam dua belas malam, dan hari ketiga jam satu malam saya ke sini alhamdulillah dapat," kata Avik dengan senyum mengembang.

Yang lebih gila lagi, ada sneakerhead yang datang dari Sumatera dan Kalimantan. Ada yang rela tidur di basemant demi menjaga posisi antrean. Mereka jumlahnya ribuan orang muda.

Kegilaan mereka juga tergambar di kolom komentar sepatu Compass @temancompass, akun Instagram khusus untuk penggemar Compass. Dalam unggahan permohonan maaf panitia atas pembatalan acara di Grand Indonesia, mereka 'jejeritan' histeris.

"Min, apakah sepatu Compass mengandung nikotin? kok bikin candu ya," tulis @ippay.

"Gimana sih cara dapetin sepatu Compass di Surabaya... susah banget carinya, padahal yang saya pengin simpel cuma Gazelle Navy," tulis @erwinparlaunganirsahan

"Headline media massa: Seorang pemuda ditemukan tidak sadarkan diri di semak-semak akibat ngantri sepatu di GI," tulis @loaxhoax.

"Compass gak konsisten, sekali bilang fcfs ya sdh, jangan dibatalin kasihan yg sdh antre pertama2 sebelum kisruh, klo kisruh itu tugas security... securitynya ngapain aja? ga bsa ngatur yg antri," tulis @abdulcenter.

"Untung gw ga jadi ke jekardah," tulis @maulnnarizal. []
All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.