Edy Rahmayadi Stroke

Assalamualaikum Wr Wb
Semakin mendekati waktu pencoblosan 27 Juni 2018, persaingan antar Paslon Eramas dan Djoss semakin sengit. Sesuai prediksi para pengamat, salah satunya Dadang Darmawan pengamat politik USU, elektabilitas Djoss perlahan tapi pasti mulai menyaingi Eramas.

Pasangan Eramas pada dasarnya sudah bekerja sejak 2015 saat Edy Rahmayadi menjadi Pangdam I/BB, namun bisa terkejar oleh Djoss yang baru  sosialisasi sejak Januari 2018.

Dari 2 kali debat Publik rakyat terkaget-kaget, justru Djarot lebih unggul dalam penguasaan isu dan materi tentang Sumatera Utara. Edy Rahmayadi tidak siap menghadapi pengalaman Djarot. Bahkan sangat fatal diantaranya tidak memahami arti Stunting (permasalahan tumbuh kembang anak), padahal Edy Rahmayadi mantan Pangkostrad yang membawahi puluhan ribu prajurit berikut istri dan anaknya, seharusnya memahami isu-isu kesehatan anak prajurit. Yang lebih miris, jawaban Edy sering keluar dari konteks diantaranya menjawab akan menyediakan mobil jenazah siaga untuk menangani permasalahan Stunting.



Dadang Darmawan jauh-jauh hari juga sudah mengidentifikasi titik lemah Eramas ini, sejak awal kampanye Eramas kerap mengedepankan politik identitas menggunakan isu agama dan isu putra daerah. Padahal strategi itu jauh dari nilai-nilai demokrasi karena Sumatera Utara dan Indonesia merupakan bangsa yang beranekaragam yang disatukan dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika. Edy Rahmayadi dalam debat publik ketika berbicara tata kelola birokrasi justru mengemukakan tentang iman “jangan menggadaikan iman”, namun sayangnya paska debat justru muncul video Edy Rahmayadi yang seorang muslim ikut berdoa bersama dan dipimpin Pendeta Kristen. Jargon Edy “jangan gadaikan iman” rontok seketika.

Tampaknya tren elektabilitas Eramas yang negative masih berlanjut, karena di era keterbukaan, rakyat semakin memiliki banyak referensi untuk melihat track record Paslon. Rakyat tidak lagi menilai Paslon dari sisi tampilan atau pencitraannya, tetapi jauh lebih dalam untuk mengidentifikasi apakah perkataan dan perbuatannya sejalan.

Jargon-jargon anti korupsi harus dipertanggung jawabkan, sejauh mana tiap Paslon memang bersih dari track record korupsi, apakah tiap calon Gubernur atau wakil Gubernur pernah berurusan dengan KPK? Rakyat Sumut harus menjatuhkan pilihan pada Paslon mana yang paling konsisten tidak korupsi tidak terlibat dengan pusaran mafia bisnis yang akan membelenggu pemerintahan Sumut, mengingat Gubernur sebelumnya dan beberapa kepala daerah harus berurusan dengan masalah korupsi.

Belakangan isu-isu miring dari setiap Paslon muncul dan terbuka ke public, di era serba digital ini rasanya sulit untuk menutup-nutupi sebuah peristiwa. Kabar Edy Rahmayadi sakit misalnya, sudah tersiar luas di tengah masyarakat, sekuat apapun Eramas dan Timsesnya menyangkal kabar sakit namun publik lebih percaya dengan bukti otentik foto dan video yang menunjukkan bahwa wajah Edy Rahmayadi sejak 15 Mei bersamaan acara Deklarasi Demokrat di Hotel Tiara Medan tampak miring, mayoritas menduga stroke ringan.

Tampaknya dalam menghadapi kabar stroke ringan, Timses Eramas tidak mengelola dengan baik. Hingga muncul pembelaan Timses bahwa Edy Rahmayadi selama tidak muncul ke publik karena melaksanakan Ibadah Umroh. Timses Eramas diantaranya Muh Asril dan Walid berusaha meyakinkan publik dengan menyebut Edy Rahmayadi Umroh, bahkan Edy Rahmayadi melaksanakan jumpa pers khusus untuk meyakinkan itu. Sayangnya upaya mereka sia-sia karena pengakuan Umroh tidak dilengkapi dengan bukti foto Umroh, bahkan ketika diminta menunjukkan Visa Umroh, Tiket Pesawat ke Saudi atau stempel pada Paspor yang menunjukkan masuk ke wilayah Arab Saudi tidak satupun tim Eramas yang mampu menunjukkan.

Ade Darmawan, pemilik Travel Umroh PT. Arrahman Berkah yang berangkat Umroh pada 24-29 Mei buka-bukaan soal Edy Rahmayadi yang diyakini berbohong perihal Umroh demi menutupi dugaan Edy sakit karena tidak muncul ke publik selama 16 s.d. 26 Mei. Selaku penyelenggara Umroh, Ade Darmawan paham betul proses pemberangkatan Umroh dan syarat-syaranya. Untuk menghentikan perdebatan publik, Ade Darmawan meminta Edy Rahmayadi menunjukkan bukti diantaranya Visa Umroh dan SIPATUH (Sistem Informasi Pengawasan Terpadu Umroh dan Haji Khusus).

Bahkan Ade Darmawan telah menelusuri berbagai sumber diantaranya sesama travel Umroh di Sumut dan Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji Dan Umrah Republik Indonesia, tidak ada satupun data dan dokumen yang menunjukkan Edy Rahmayadi berangkat Umroh. Lebih lanjut Ade menjelaskan bahwa terdapat website dari pemerintahan Arab Saudi yang dapat digunakan apa benar seseorang memiliki Visa Umroh, hanya dengan memasukkan Pasport dan nama seseorang melalui web  https://visa.mofa.gov.sa/visaservices/searchvisa

Sayangnya lagi-lagi Timses Eramas salah mengelola situasi tersebut, hingga detik ini tidak satupun yang mampu menunjukkan bukti-bukti Umroh. Bahkan Asril (Timses) dalam keterangannya menyatakan bahwa Edy melaksanakan Umroh pada 17 s.d. 25 Mei. Celakanya jejak digital perjalanan Edy Rahmayadi terpampang jelas bahwa Edy sebenarnya hanya berangkat ke Malaysia pada 21 Mei menggunakan MH 861 (Malaysia airline) dari Kualanamu Medan - Kuala Lumpur duduk di kursi 001C dan kembali ke Kualanamu Medan pada 26 Mei menggunakan MH864 (malaysia airline) duduk di kursi 001C. Jejak digital juga menyebutkan Edy berangkat bersama Nawal Lubis (istri), Siti Rachmayani (anak) dan Karnoto. Data-data tersebut secara otomatis merontokkan keterangan Timses yang terkesan menutupi kondisi sebenarnya.

Sejauh ini, baik Edy dan Timses masih berupaya menutupi dengan dalih tidak ingin riya, padahal dugaan pembohongan publik ini sudah sangat menggerus kepercayaan publik kepada Edy. Seharusnya Edy harus siap mempublish semua kegiatannya, tidak bersembunyi dibalik Riya karena pada dasarnya sebelum isu ini berkembang semua yang dilakukan Paslon baik Eramas dan Djoss sudah bersifat Riya, mempertontonkan kebaikan untuk menarik simpati pemilih. Terlebih Edy, janggal sekali tidak menunjukkan foto Umroh dengan alasan Riya, padahal sekedar sahur Puasa saja Edy mempublish ke media sosial. Padahal ibadah Puasa adalah ibadah yang paling privasi antara Allah SWT dengan Hamba Nya. Rakyat jadi bertanya mengapa untuk ibadah lain Edy mempertontonkan, tapi untuk Umroh yang sudah menjadi perdebatan publik tidak mau mempertontonkan dengan alasan takut Riya. Kondisi itu semakin membuat rakyat kecewa mengapa ibadah Umroh dibawa-bawa untuk urusan politik, apalagi didalamnya ada aroma pembohongan publik.

Berikut kami lampirkan pemberitaan yang menyangkut polemic ini.


Wassalamu’alaikum Wr Wb
Deli Serdang, 6 Juni 2018
Firdauz Harahap
All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.