Jumat Agung dan Pemimpin yang Rela Berkorban



Kupang, 30/3 (Benhil) - Hari Jumat Agung bagi umat Kristen sedunia adalah sebuah hari yang penuh dengan permenungan, dimana semua umat berkabung dalam sepi meratapi kisah sengsara Yesus dalam perjalanan-Nya menuju Golgota sampai wafat di atas kayu salib.

Bagi orang Kristen, salib adalah sebuah penebusan, mungkin juga tantangan hidup bagi mereka yang percaya kepadaNya. Hanya ketika orang Kristen menerima salib itu, Yesus akan mengubahnya menjadi sebuah penebusan, bagai sebuah firdaus yang membahagiakan.

Hukuman salib yang harus ditanggung Yesus dan kematian-Nya merupakan puncak gerakan antikekerasan yang dilancarkan Yesus demi membela rakyat yang ditindas penguasa agama yang berkonspirasi dengan penguasa politik pada saat itu.

Salib adalah risiko tertinggi yang harus ditanggung Yesus dalam kesetiaan dan konsistensi-Nya membela rakyat yang dipinggirkan, diperlakukan tidak adil, dan diperas oleh tangan-tangan kotor penguasa agama dan politik zaman itu.

Salib adalah konsekuensi logis sikap Yesus dalam kerelaan memberikan pipi kiri kepada sang penampar yang telah menghajar pipi kanan dalam rimba kebuasan manusia. Itulah bentuk perlawanan radikal yang memutus siklus kekerasan dan balas dendam dengan cara membawa perdamaian.

Ada harapan yang cerah oleh iman keparcayaan kepada Yesus sehingga Jumat Agung yang dirayakan umat Kristen sedunia pada hari ini (Jumat, 30-3-2018) harus diartikan sebagai semangat untuk membangkitkan dan membangun interaksi dan kebersamaan antarmanusia.

Kesejatian hidup adalah hidup yang sejahtera, bukan saja dalam arti material, melainkan juga dalam arti mampu mengungkapkan dirinya sebagai citra Allah dalam membangun relasi dengan Allah, sesama manusia, serta ciptaan lain dan seluruh alam semesta.

Hidup yang semacam itulah yang hendak dicapai. Namun, harus diperjuangkan dengan susah payah karena masih banyak warga masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan serta masih banyak orang yang terhalang untuk menyejahterakan hidup mereka.

Pdt. Midian K.H. Sirait, M.Th. dalam sebuah refleksinya melukiskan bahwa hal yang mengampuni merupakan ciri khas kekristenan, sehingga siapa pun yang pernah menyakiti, mengecewakan, dan menghianati, hendaknya diampuni karena pengampunan itu lahir dari hati yang dekat kepada Tuhan yang mengerti akan kehendak-Nya.

Hal ini tampak dalam diri Nelson Mandela, pahlawan anti-apartheid dari Afrika Selatan yang pernah diangkat sepenggal kisahnya oleh Hollywood ke layar lebar lewat film "Invictus" (2009). Tokoh Mandela sendiri diperankan oleh seorang aktor gaek, Morgan Freeman.

Masyarakat dunia tahu dan mengenalnya sebagai tokoh perjuangan pembebasan manusia kulit hitam di Afrika Selatan. Mandela memang pejuang kemerdekaan rakyat kulit hitam yang tangguh.

Ia pernah ditangkap polisi penguasa kulit putih berkali-kali, dan terakhir Mandela dijebloskan ke dalam penjara seumur hidup bersama beberapa kawannya di Pulau Robben yang sangat terpencil.

Akan tetapi, perjuangan anti-apartheid yang diinspirasikannya tak berhenti di situ. Perjuangan untuk merebut kedudukan warga negara yang merdeka dan terhormat di Tanah Air mereka sendiri telah menyebar.

Seluruh rakyat kulit hitam di Afrika Selatan bersatu menentang kebijakan politik menistakan martabat kemanusiaan itu. Perlahan perjuangan ini memperoleh dukungan dari dunia internasional.

Akhirnya, pada tanggal 11 Februari 1990, setelah 27 tahun hidup di penjara, Mandela dibebaskan. Pembebasan Mandela seiring dengan tekanan rakyat kulit hitam Afrika Selatan dan dunia internasional yang menuntut politik apartheid segera diakhiri.

Kini, politik apartheid sudah dihapuskan dari bumi Afrika Selatan. Akan tetapi, kisah perjuangan Mandela selalu menjadi pelajaran bagi setiap orang di muka Bumi.

Visinya tentang demokrasi yang ideal dan masyarakat yang bebas masih tetap relevan sepanjang zaman. Hanya dengan cara itulah setiap orang dapat hidup bersama secara harmonis dan dengan perlakuan yang setara.

Rela Berkorban Kisah Nelson Mandela yang sangat inspiratif itu seakan membuat pertanyaan tersendiri apakah ada pemimpin di Indonesia, baik di tingkat pusat maupun daerah yang rela berkorban seperti Mandela? Beberapa tahun kemudian ketika McKinley menduduki jabatan sebagai presiden ke-25 Amerika Serikat, seorang merekomendasikan anggota Kongres yang tidak rela berkorban agar diangkat menjadi dubes di salah satu negara. Tanpa pikir panjang, McKinley menolak rekomendasi tersebut.

McKinley berpikir kalau dia mengangkat pria tersebut menjadi dubes yang mewakili negaranya. Maka itu, berarti dia telah mempekerjakan seorang wakil negara yang tidak memiliki kepedulian dan sikap rela berkorban. Padahal, kepedulian dan sikap rela berkorban seharusnya dimiliki oleh seorang dubes.

Seorang yang mau diangkat menjadi pemimpin seharusnya melatih dirinya untuk berkorban dan mengesampingkan kepentingan dirinya sendiri. Yang tersimpan di hati seorang pemimpin sejati adalah pengorbanan yang diberikannya secara tulus sehingga pasti akan memberi makna bagi hidup orang-orang yang dipimpinnya.

Makin tinggi posisi yang dimiliki oleh seorang pemimpin maka dituntut untuk memberi pengorbanan yang makin besar pula, seperti berkorban akan materi, waktu, mengesampingkan kepentingan pribadi, dan keluarga.

Coretta Scott King, istri pejuang hak asasi manusia Marthin Luther King Jr., kemudian memberikan gambaran tentang pengorbanan seorang pemimpin besar.

"Siang malam telepon kami berdering untuk melayani rakyat dengan penuh cacian dan kata-kata kasar yang menjurus pada tindakan pembunuhan. Namun, hal itu membuat saya malah bersukacita dan terinspirasi," ujarnya Coretta mau mengatakan, "Ketika Anda menjadi seorang pemimpin, Anda kehilangan hak untuk memikirkan diri Anda sendiri." Tanpa pengorbanan maka seseorang tidak bisa disebut sebagai pemimpin yang baik karena pengorbanan adalah suatu yang konstan dalam kepemimpinan.

Pengorbanan menjadi ciri yang melengkapi kepemimpinan. Pemimpin yang berkorban, selain tergerak oleh visi dan misinya, mereka juga adalah orang-orang memiliki empati dan berorientasi melayani orang lain lebih besar. Rasa pelayanan itu adalah unsur utama dalam proses kepemimpinan.

Tampaknya kualitas kepemimpinan semacam ini sangat langka dijumpai di negeri ini karena lebih banyak meributkan hal yang remeh-temeh daripada hal yang mendasar dan strategis menyangkut nasib rakyat kebanyakan dan keberlangsungan bangsa dalam jangka panjang.

Jumat Agung telah menginspirasi makna pengorbanan tersebut, yang diharapkan dapat menginspirasi pula para pemimpin di negeri ini untuk rela berkorban demi mewujudkan mimpi rakyatnya dalam menggapai gerbang sejahtera yang berkeadilan. (Laurensius Molan)
Previous Post Next Post

Contact Form