“Dasar generasi menunduk. Coba lo liat kelakuan mereka, semuanya menunduk.” - Andre (Republik Twitter).

Film drama Republik Twitter mengisahkan Sukmo (diperankan Abimana Aryasatya), seorang mahasiswa semester akhir sekaligus hacker asal Yogyakarta dan Andre (Ben Kasyafani), sahabat Sukmo asal Jakarta. Mereka berdua memiliki kepribadian berbeda. Sukmo sangat suka bermain media sosial, khususnya Twitter. Sementara Andre anti-media sosial walau pacarnya, Nadya (Enzy Storia), sangat suka main medsos Twitter

Republik Twitter memotret kehadiran wajah ganda media sosial. Di satu sisi, media sosial diakui untuk eksistensi diri. Media sosial membuat seseorang memiliki kenalan baru, bahkan sampai menjalin hubungan romantis, seperti Sukmo dan Hanum.

Namun, di belahan lain, pengaruh media sosial juga diakui berdampak buruk terhadap hubungan interpersonal. Seperti dikatakan sejumlah kalangan psikolog, media sosial sering menjadi pemicu rusaknya hubungan romantis. Ben dan Nadya misalnya, mereka sempat mengalami konflik karena Nadya sering sibuk dengan ponselnya.

Dalam Republik Twitter itulah muncul kalimat Andre, “Dasar generasi menunduk. Coba lo liat kelakuan mereka, semuanya menunduk.” Begitulah Andre terhadap pengguna sosial media.

Tak dapat dipungkiri, sejak lima tahun belakangan sosial media memang telah menjadi bagian dari segala lapisan kehidupan masyarakat. Setiap hitungan detik, orang-orang di sekitar kita selalu berhubungan dengan sosial media hanya sekadar untuk menulis status dari gadget yang selalu dalam genggaman, berinteraksi dengan teman lama, atau berkomentar.

Sudah menjadi pemandangan sehari-hari kita melihat orang-orang di sekitar kita, ke mana pun mereka pergi, di mana pun mereka berada, selalu melengkapi diri dengan alat komunikasi handphone.

Boleh diakui, seluas dunia memang berada di ujung telunjuk mereka. Tinggal tekan tombol, segala informasi yang dikehendaki langsung terhidang di depan mata. Terputusnya hubungan dengan dunia informasi hanya dibatasi oleh kekuatan batre dan habisnya kuota pulsa internet.

Lantaran ponsel selalu tersedia di kantong atau tergenggam di tangan, segala kesempatan dan waktu tidak boleh dibiarkan terlewat tanpa berhubungan dengan dunia maya. Akhirnya, seperti dikatakan Andre yang anti-medsos, memunculkan “generasi menunduk”.

Lihat saja, entah sedang antre menunggu giliran dipanggil dokter, antre di loket karcis, berada di terminal bandara, peron kereta api dan segala tempat lainnya, kita acapkali disuguhi pemandangan orang-orang yang tengah menunduk memandangi layar monitor handphone-nya.

Saya tidak tahu, apakah terinspirasi oleh perkataan Andre dalam film Republik Twitter atau tidak, menurut saya Tagarnews yang juga dapat diakses melalui gadget android seperti media sejenis, tidak mengajak atau mengajari pengikutnya menjadi generasi menunduk.

Tagarnews yang saya lihat berbeda dengan surat kabar online sejenis. Surat kabar online lain hanya menyediakan informasi dan berita yang hanya dapat dilihat dan dibaca, yang ujung-ujungnya membuat khalayak pemirsa menjadi “generasi menunduk”.

Tagarnews berbeda. Berita-berita dan informasi yang mereka suguhkan, selain dapat dibaca dan dilihat, tapi juga cukup hanya didengarkan. Inilah kelebihan dan keunikan Tagarnews. Saya percaya, keunikan Tagarnews yang segala beritanya dapat diakses hanya dengan mendengarkan saja, akan menjadi sebuah media massa yang disukai banyak orang. Alasan saya simpel saja, sudah sejak lama masyarakat Indonesia senang dimanja, tidak mau bersusah-susah kalau ada yang gampang.

Artinya, ngapain juga capek-capek melihat dan membaca berita di tempat lain kalau sudah ada Tagarnews yang siap memperdengarkannya kapan saja dan di mana saja. Tanpa diseling iklan, lagi!

All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.