Bagi beberapa anak kecil, alasan yang pailng sering membuat mereka tidak melakukan kenakalan, atau tidak melanggar nasihat orangtua adalah karena  takut dimarahi orangtua. Perasaan takut ini rupanya tertanam kuat dalam diri mereka sehingga membatasi gerak dan keinginan mereka. Memang alasan orangtua melarang anak untuk tidak melakukan atau mengatakan sesuatu pastilah demi kebaikan buah hati. Namun, bagaimana bila perasaan takut dimarahi ini membuat mereka akhirnya merasa terkekang, dan terpaksa meredam apa yang hendak mereka ungkapkan? Sebagai orangtua tentu tidak menginginkan hal itu terjadi bukan?

Pola Didikan Orangtua Pengaruhi Pembentukan Karakter Anak

Pendidikan dalam keluarga adalah pendidikan pertama yang didapatkan oleh anak. Apa yang mereka dapatkan dari dalam rumah, akan mereka bawa ke lingkungan di luar rumah. Untuk itu pendidikan dalam keluarga merupakan hal utama dalam pembentukan karakter seorang anak sebagai individu.  Karakter para orangtua dalam mendidik buah hati mereka tentu berbeda-beda. Ada yang menganggap mendidik anak tidak perlu memakai kekerasan, cukup dibicarakan dengan lemah lembut saja, anak sudah mengerti. Namun, ada juga yang beranggpan bahwa mendidik anak tidak boleh terlalu “lembek” kalau tidak, anak akan membangkan dan tidak mau menuruti perintah orangtua. Orang tua dengan tipe didikan keras seperti ini berharap dengan didikannya tersebut sang anak dapat tumbuh disiplin, selalu menuruti orangtua, dan menjadi anak yang baik. Namun, benarkah demikian? Atau jangan- jangan malah sebaliknya?

Hingga kini masih banyak terlihat dilingkungan sekitar kita, bagaimana didikan keras yang dilakukan orangtua terhadap anak. Contohnya dengan membentak, atau mengancam.
“Jangan main hujan- hujanan! Cepat masuk rumah atau mama cubit!”
“Kalau sampai nilai ulangan mu jelek, papa gak akan kasih uang jajan lagi!”
Itulah contoh- contoh kalimat yang kerap terlontar dari mulut orangtua. Biasanya anak yang mendengar perkataan semacam ini akan langsung takut dan menuruti apa yang dikatan orangtua mereka.

Selain secara lisan, pendidikan keras terhadap anak juga bisa berupa kontak fisik seperti mencubit, memukul, menjewer, bahkan menyabet dengan benda- benda seperti sapu, ikat pinggang, dan lain sebagainya. Nah, tindakan- tindakan semacam ini akan terekam dalam memori anak. Bahkan tak jarang sampai menimbulkan trauma yang berdampak pada gangguan psikologis sang anak. Anak akan mulai berpikir, apakah sebenarnya orangtua mereka sayang atau tidak kepada mereka, atau mereka jadi mulai takut untuk berkomunikasi dengan orangtua sendiri. Berikut ini kami jelaskan beberapa efek buruk didikan keras orangtua terhadap anak. Antaralain:

1.    Didikan keras yang diterapkan orangtua dengan maksud membuat anak menurut, akan jadi sebaliknya. Anak akan menjadi individu yang keras kepala. Ketika seorang anak pada akhirnya merasa bosan karena sering dibentak atau diancam, mereka pun jadi melakukan semacam pemberontakan. Mereka tidak lagi mau mendengar nasihat, atau perintah. Mereka akan melakukan hal yang mereka anggap benar tanpa menggubris lagi omongan orangtua. Dalam lingkungan keseharian dengan teman- teman sebaya pun mereka akan menunjukan sikap arogan, agresif, dan terkadang menyakiti teman- temannya.

2.    Perlahan-lahan anak akan menunjukan sikap yang kurang menyenangkan terhadap orang – orang disekitarnya. Seperti menjadi emosional, mudah marah untuk masalah- masalah kecil, cepat tersinggung, terhadap perkataan orang lain, dan bahkanmenjadi semacam anti-sosial yang tidak senang berbaur dengan lingungan disekitarnya 

3.    Beberapa anak yang sering mendapat perlakuan keras dari orangtua, memilih untuk menghindar atau menjauh dari orangtua dan keluarga. Disaat anak- anak laim terlihat begitu mesra berbincang atau bercanda dengan orangtua mereka, anak yang mengalami kekerasan justru tidak ingin berda dekat- dekat dengan orangtua. Karena mereka selalu takut apabila mereka berbuat kesalahan dan membuat orangtuanya marah. Akhirnya hubungan mereka pun jadi terkesan dingin.

4.    Didikan keras juga bisa membuat anak menjadi seorang pemberontak. Jika didepan orangtua mereka akan bersikap “manis” seolah mendengar dan menurut nasiha orangtua, ternyata dibelakang orangtua mereka justru melakukan hal yang sebaliknya. Hal ini bisa dikarenakan terlalu sering orangtua melarang anak melakukansesuatu, namun larangan- larangan tersbeut justru membuat sang anak menjadi penasaran ingin mencoba tanpa sepengetahuan orangtua. Hal ini tentu membahayakan bagi anak, karena pada dasarnya orangtua mlarang sesuatu tentu didasari hal- hal yang penting demi keselamatan anak

5.    Seorang anak yang mengalami didikan keras, terkadang bisa menjai pribadi yang begitu pendim. Mereka menganggap percuma bila bicara, toh nanti akan disalahkan. Jadi mereka lebih memilih bungkam dan memendam di dalam hati. Padahal, mereka sebenanrnya ingin sekali bercerita kepada orangtua. Perasaan seperti ini membuat mereka menjadi merasa kesepian, tidak memiliki tempat untuk berbagi, mencurahkan isi hati seperti anak- anak pada umumnya.

Jadi, sudah seharusnya para orangtua ini memahami mana mendidik dengan keras, mana mendidik dengan tegas. Karena didikan tegas, tak melulu harus melakukan kekerasan. Mendidik dengan keras hanya akan membuat anak tersiksa, penuh ketakutan, dan menghasilakan dampak- dampak yang negatif bagi perkembangan psikologisnya. Berbeda jika anak dididik dengan tegas. Anak akan menuruti perintah orangtua karena sadar itu demi kebaikan dirinya, bukan karena takut dimarahi, atau dihukum.

Sudah sepantasnya para orangtua lebih bijak dalam mendidik dan mengarahkan anak. Maklumi sikap mereka, sebisa mungkin jangan pernah membentak, apalagi menasehati namun disertai dengan ancaman yang menakut-nakuti. Jadilah orangtua yang cerdas mendidik demi tumbuh kembang anak yang lebih baik

Sebagai orang tua, seharusnya dapat membedakan yang mana “tegas” dan yang mana “keras”. Menddidik anak itu seharusnya dilakukan dengan cara yang tegas, ketegasan ini harus dimiliki orang tua untuk mendidik anaknya, karena dengan ketegasan yang baik dari orang tua, maka kemungkinan besar sang anak akan lebih mengerti atas apa yang telah dididik oleh orang tuanya kepadanya dan secara tidk langsung akan menghormati orang tua bukan hanya karena alasan takut dimarahi oleh orang tua, tapi karena ketegasan dari orang tua itu sendiri. Lagipula apa tidak lelah kalau orangtua harus marah-marah terus kepada anaknya? Padahal sebenarnya dengan semakin sering orangtua marah-marah maka si anak akan menganggap “ah biarin aja, udah biasa, ngggak usah didengerin” mengacuhkan kata-kata orang tua, bahkan dapat melakukan pemberontakan dibelakang, apalagi pada anak yang sangat dikekang. Beberapa dampak yang dapat terjadi pada anak jika dididikan cenderung kasar:

1.    Anak akan menjadi lebih agresif.
Biasanya anak cenderung menjadi ‘jutek’, tidak perduli kepada orang lain (menjadi individualisme) menjadi lebih mudh marah. Hal ini dikarenakan pola berfkir anak yang beranggapan kalau orang lain akan menyakitinya, sehingga ia harus melindungi dirinya, membatasi dirinya dengan orang lain dan mudah marah bila sedikit saja merasaterganggu.

2.     Anak bisa menjadi jauh dengan orang tua.
Jaman sekarang, seorang anak dengan orang tua biasanya terkesan seperti bersama dengan teman, mereka sering curhat, main dan bercanda dengan orang tuanya. Tapi, jika orang tuanya keras, jangankan menjadi teman, bahkan mengobrol saja susah. Apalagi yang orang tunya ‘cuek’ jangankan ditanya apa yang telah dialami hari ini, malah ketika anak sengaja ‘curhat’ kepada orang tuanya yang sebenarnya bertujuan untuk cari perhatian saja tidak dihiraukan. Ketika sekalinya dihiraukan, dan kebetulan bercerita mengenai masalah yang dia alami malah sang anak lah yang dianggap bersalah, sang anakyang malah ditegur, diomeli oleh orangtuanya. Jadi si anak akan merasa sia-sia jika dia berbicara dengan orang tuanya malah ia akan merasa dihiraukan, diomeli padahal sesungguhnya bukan itu yang diharapkan, melainkan hanya sekedar mengharap perhatian lebih dari Papa atau Mamanya.

3.    Anak menjadi lebih keras kepala
Ketika seorang anak dinasihati,anak akan cenderung keras kepala karena mereka merasa gusar ketika orang tuanya menasihati. Mereka merasa lelah dan bosan karena didikan keras yang   diberikn orang tua. Maka mereka akan merasa apa yang ingin mereka lakukan, apa yang menurut mereka benar, itulah pilihan mereka, tidak perlu lah memperdulikan orang lain karena mereka merasa bahwa orang terdekat mereka yang seharusnya memberikan kepedulian yang lebih kepada mereka saja yaitu orang tua tidak memperdulikan mereka.

4.    Terkadang anak tersebut kan lebih sering diam dan merasa kesepian.
Seorang anak akan diam karena merasa percuma jika berbicara, apalah gunanya berbicara jika selalu dianggap salah oleh orang tuanya. Mereka cenderung akan lebih terbuka dengan teman-temannya karena merasa bahwa teman-temannya lebih ‘selalu ada’ dibandingkan dengan orang tuanya. Jadi mereka akan merasa kesepian, tidak ada orang yang perduli kepada mereka, mereka akan merasa ada batasan antara orang tua dan anak karena biasanya begitulah anggpan orang tu itu sendiri.

5.    Anak menjadi pemberontak
Anak akan cenderung menjadi seorang yang “poker face” mereka akan menurut dihadapan orang tuanya, sementara dibelakang orangtuanya mereka akan melakukan apapun sesuka mereka asalkan tidak diketahui oleh orang tuanya.

Hal ini bisa disebabkn oleh harapan yang terlalu tinggi dari orang tua terhadap anaknya dari berbagai aspek. Proses mendidik anak sebenarnya para orangtua bisa saja terjebak pada ketakutan maupun kejengkelan menghadapi perkembangan jiwa sang anak. Beberapa larangan atau pembatasan yang dilakukan orangtua adalah cermin dari ketakutan itu sendiri. Merasa takut anak-anak akan jadi kotor, takut terkena penyakit, takut jatuh, atau berbagai bentuk ketakutan lainnya. Sementara pada sisi yang berbeda, saat anak menunjukkan kebandelan dan kebebasan dalam berekspresi seringkali dianggap sebagai beban yang menjengkelkan orangtua sehingga perlu dibatasi. Seperti jika seorang anak memiliki bakat atau mempelajari sesuatu, orangtua membatasi atau bahkan melarang anak untuk mengembangkannya dengan berkata “cita-cita kamu apa? Emang kamu mau jadi penyanyi (misalnya yang dipelajari adalah penyanyi)? Atau apa? Udahlah fokus aja sama apa yang kamu mau, yang kaya gini nggak akan ada gunanya” padahal sebenarnya berbagai hal yang sedang dipelajari tersebut bisa menambah wawasan, jadi lebih tau, mengukur kemampuan, kreatifitas ataupun hal yang lazim dilakukan anak pada usia tertentu. Anak sebaiknya jangan terlalu dikekang karena akan memberontak, mereka sedang berekspolorasi, yang paling penting jangan jauh dari pengawasan, ikuti permainnya, dampingi. Berikut adalah beberapa cara menungkatkan kepatuhan seorang anak:

1.    Beri penjelasan pada anak.
Jelaskan suatu hal yang baik dan buruk kepada anak, jangan berbohong dan gunakanlah bahasa yang baik, lembut dan dimengerti oleh anak.

2.    Perintahkan sebatas kemampuannya.
Perintah diluar kesanggupan anak akan menyebabkan krisis syaraf (neurotic). Anak juga akan merasa terbebani jika orang tua memerintahkan sesuatu yang perlu dilaksanakan tapi sebenarnya ada diluar kemampuannya.

3.    Tidak berdusta atau menakut-nakuti.
Saya langsung akan memberikan contoh. Ketika orang tua menjanjikan membelikan mainan kepada anak kalau anak telah menyelesaikan hal yang diinginkan orang tuanya tapi nyatanya setelah selesai tidak ada yang diberikan kepada anak maka tidak menutup kemungkinan anak akan mulai kehilangan kepercayaan kepada orang tunya. Hal ini karena orang tuanya berdusta. Lalu  orang tua menakut nkuti anaknya akan suntikan agar sang anak menurut kepada orang tua dan orang tua akan menjauhkan anak dari suntikan tersebut. Hal ini sebenarnya buruk karena dapat terbawa hingga dewasa.

4.    Jangan bertentangan dengan naluri anak.
Anak-anak umumnya suka bermain maupun memiliki kebiasaan tertentu yang memang umumnya dilakukan oleh anak-anak. Mak naluri inilah yang tidak boleh dditentang. Jangan dilarang bermain atau hal lainnya. Berikanlah penjelasan yang logis seperti meminta anak untuk menyudahi bermain karena sudah waktunya mengaji, inipun harus dilakukan dengan cara yang lembut.

Dengan begini, seorang anak akan lebih merasa dianggap, dihargai oleh orangtua yang mereka kasihi, dan secara otomatis mereka pun akan tahu diri dan menimbal balik untuk menghargai orang tuanya. Sebenarnya yang perlu diingat para orang tua adalah, seorang anak hanya perlu diperhatikan, diberi perhatian lebih, benar benar mendapatkan kasih sayang. Janganlah lagi beranggapan “kalau dulu saya dididik begini, maka anak saya juga harus merasakannya” jaman sudah berubah. Jangan memperlihatkan batasan bahwa ‘saya adalah orang tua dan kamu hanyalah anak’ harus patuh.  Karena yang dibutuhkan oleh anak bukanlah perhatian berupa materi (pemenuhan pembiayaan hidup) saja, melainkan perhatian berupa kasih sayang, perhatian lahir dan batin, mereka butuh teman yang sungguh sungguh dapat dipercaya, yakni orangtua.

Orangtua dan Anak

All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.