Kenapa Masyarakat Enggan Tanggapi Kasus Covid Naik?

Virus Covid-19

Kasus Covid-19 di Indonesia terus naik mulai awal Juli 2022. Sejauh ini masyarakat enggan menanggapi isu tersebut.

Kenaikan Covid-19 berimbas pada naiknya pasien di rumah sakit (RS) rujukan Covid-19. Laporan Kementerian Kesehatan menunjukkan rata-rata pasien RS Covid-19 nasional sebesar 4,63% per Senin 25 Juli 2022. 

Angka itu naik jika dibanding pekan sebelumnya yang sebesar 3,78%, ataupun sebulan sebelumnya yang masih 2,16%. Meskipun begitu, kenaikan pasien di RS Covid-19 nasional masih berada di bawah standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yaitu sebesar 60%. 

Hingga 25 Juli 2022 kenaikan pasien Covid-19 paling tinggi skala nasional terdapat di Bali, yakni 16,20%. Berikutnya adalah DKI Jakarta yang menempati posisi kedua, yaitu 12,29%. Sedangkan yang ketiga adalah Banten, dengan 9,33%. 

Baca Juga: Cara Menciptakan Gaji ke-13 untuk Pegawai Swasta

Meskipun kenaikan Covid-19 belum mengkhawatirkan dan rasio keterisian RS di Indonesia masih jauh di bawah standar WHO, masyarakat tetap perlu waspada terhadap penularan virus penyakit pernafasan tersebut. 

Penerapan disiplin protokol kesehatan tetap menjadi hal utama untuk dilakukan agar terhindar dari Covid-19. Disamping itu, kegiatan vaksinasi dosis ketiga atau booster juga penting untuk tindakan pencegahan.


Enggan Menanggapi

Kenaikan kasus Covid-19 yang mulai banyak diulas di media, baik media cetak atau media sosial, nyatanya tidak membuat masyarakat luas menanggapi secara intens. Mereka memilih beraktivitas seperti biasa.

Hal itu disampaikan oleh Fadli (43 tahun) seorang penjual BBM (bahan bakar minyak) eceran di daerah Semarang Barat.

"Sudah bosan dengar berita kayak gitu [kasus Covid-19 naik], jadi nggak terlalu saya perhatikan," ujar pria yang mengaku pekerjaan utamanya adalah sebagai ojol (ojek online) tersebut kepada Benhil di Semarang pada Rabu, 27 Juli 2022.

Baca Juga: Jika Hidup Tidak Berpihak Bukan Kiamat

Fadli mengaku berita seperti itu akan berimbas pada mata pencahariannya.

"Setiap mulai masuk sekolah atau kuliah, pasti covid naik. Itu jelas bikin order ojol bakal sepi karena mereka kembali belajar di rumah," ucapnya.

Bapak dua anak itu sebenarnya prihatin dengan merebaknya lagi Covid, tapi dia juga harus mencari penghasilan.

"Saya tetap harus bekerja karena urusan perut lebih penting. Apalagi saya sudah vaksin booster, jadi yakin tetap sehat," kata Fadli.

Hal yang sama juga disampaikan Ibu Ina (65 tahun) seorang penjual kuliner nasi ayam di Semarang. Dia berharap penyakit itu tidak naik terus.

"Moga-moga covid di sini tidak naik terus, jadi saya tetap bisa jualan untuk menyambung hidup," kata Ina.

Dia juga menambahkan jika ada PPKM (Pemberlakuan Pembatasan kegiatan masyarakat) lagi akan berimbas pada penghasilannya.

"PPKM bikin jualan nggak bisa lama dan sepi," ucapnya. 

Mereka yang secara keuangan tidak terimbas dengan pandemi juga tetap enggan menanggapi kenaikan covid-19.

"Mall dan pasar sudah ramai, itu berarti ekonomi sudah mulai normal. Kalau ada PPKM lagi, tempat belanja akan sepi dan akan banyak pekerja yang dirumahkan. Kasian," ucap Dani (39 tahun) seorang ASN (aparatur sipil negara).

Dia menambahkan, penghasilannya memang tidak terdampak pandemi, tapi melihat banyak orang yang tidak bisa mencari uang, tetap membuatnya prihatin. [Benhil]

Baca Juga: Setiap Orang Berhak Hidup Layak

Surga Tropis

Tropics Paradise is a collection of writings and papers presented at, from, and to the tropics. Actually, the tropics is a place that comfortable, warm, and affluent. But the situation goes undermined by the real interests that not coming from the tropics itself, such as politics, ideology, lifestyle, and others. So for that matters, Tropical Paradise wants to restore a beautiful sense of the area.

Previous Post Next Post

Contact Form