Gianyar, 25/5 (Benhil) - Sebanyak 14 seniman yang terhimpun dalam Yayasan Tri Pusaka Sakti Desa Budaya Batuan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali ikut ambil bagian dalam Festival Budaya di Kota Fest Negara Maroco, Afrika, selama dua minggu, 15-30 Juni 2018.

"Seniman Bali dalam kegiatan internasional tersebut menampilkan kesenian klasik kekebyaran, palegongan, dan petopengan, termasuk maestro tari I Made Jimat," kata Ketua Yayasan Tri Pusaka Sakti I Nyoman Budi Artha di Gianyar, Jumat.

Ia mengatakan duta seni Pulau Dewata selain tampil dalam kegiatan festival juga akan melakukan lokakarya tentang berbagai jenis musik Bali, di antaranya gamelan Gambuh, Gong Kebyar, Genggong, dan Kecak.

Upaya tersebut untuk menambah wawasan dan menginformasikan secara mendalam tentang keindahan budaya serta kesenian Bali.

Pihaknya juga tampil sebagai pembicara dalam lokakarya serta memberikan ceramah tentang kesenian dan budaya Bali dengan materi "The Arts Of Bali As The Inspiration Of Life".

"Misi diplomasi kesenian yang dilakukan Yayasan Tri Pusaka Sakti tentu merupakan momentum yang sangat baik, untuk lebih mengenalkan keindahan dan keungguan kesenian Bali di dunia internasional, khususnya di Benua Afrika. Pasar wisata Afrika sangat potensial dan luar biasa yang perlu dijangkau untuk mengadakan diplomasi atau kerja sama dalam bidang kebudayaan," ujar Budi Artha.

Ia mengharapkan peluang tersebut dapat dimanfaatkan oleh pemerintah atau negara, di tengah-tengah persaingan globalisasi budaya.

Tampilnya empat belas seniman Bali dalam kegiatan bertaraf internasional di Afrika diharapkan mengharumkan dan memperkenalkan keunggulan budaya khusunya kesenian Bali agar mampu bersaing dalam dunia internasional.

Bali sebagai daerah tujuan wisata masyarakat berbagai negara di belahan dunia dituntut dapat memperkenalkan dan menyampaikan informasi kekayaan budaya setempat dengan dukungan dari berbagai elemen dan menjadi program pemerintah.

"Keindahan budaya Bali, khususnya kesenian Bali, memang tak diragukan lagi bahkan keindahan kesenian Bali telah dikenal dunia sejak tahun 1920-an, terbukti sejak tahun 1920-an, mulai banyaknya wisatawan mancanegara mengunjungi Bali," ujarnya.

Ia mengatakan sekitar 1930-an mulai diplomasi kesenian ke dunia internasional, sehingga lebih mampu mengangkat dan mengharumkan nama Bali, Indonesia di dunia internasional.

Kejayaan kesenian Bali melalui diplomasi-diplomasi kesenian yang dilakukan para seniman dan maestro Bali pada 1990-an, katanya, mampu meningkatkan kesejahteraan dan perolehan devisa.

Ia mengatakan bahwa perjuangan seniman berat hingga meraih prestasi, yakni wisatawan dari berbagai negara di belahan dunia melirik dan mengunjungi Bali.

Ia menyayangkan sejak 2000-an diplomasi melalui kesenian ke luar negeri menurun, di tengah derasnya persaingan budaya kesenian, khususnya negara-negara di kawasan Asia, antara lain Malaysia, Filipina, India, Taiwan, China, dan Jepang.
All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.