Jakarta, 5/4 (Benhil) - Berwarna hitam pekat, terasa pahit di mulut, tetapi meninggalkan jejak rasa sitrun di lidah. Itulah pengalaman mencicipi kopi Oksibil dari Pegunungan Bintang, Papua.

Biji kopi jenis arabika typica ini dapat disajikan dengan berbagai metode, di antaranya V60, kopi tubruk, atau dicampur dengan susu dan menjadi kopi latte.

Beberapa waktu lalu Benhil berkesempatan mencicipi langsung kopi Oksibil di salah satu kafe di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Dibandingkan dengan V60 atau dicampur susu, rasa sitrun yang menjadi karakteristik utama kopi ini paling terasa saat disajikan dengan metode tubruk.

"Tipikal rasa yang muncul dari arabika typica adalah rasa sitrun, yang dekat kaitannya dengan rasa berry, jeruk, peach atau apricot. Tidak jauh-jauh dari rasa asam," kata ahli kopi Hideo Gunawan.

Hideo Gunawan, yang pada Februari lalu diundang oleh Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua untuk mengajarkan cara penanaman dan teknik pengolahan kopi kepada warga setempat, menilai biji kopi dari daerah tersebut memiliki keunggulan dari segi rasa, kandungan gizi, maupun kualitas.

Pohon kopi arabika typica umumnya lebih besar dan tinggi dengan buah yang lebih sedikit dibandingkan dengan pohon kopi varietas lain, seperti yang banyak ditanam di dataran tinggi Sidikalang, Dairi dan kawasan lainnya di Sumatera.

Pohon-pohon kopi yang ditanam pada ketinggian sekitar 1.900 mdpl ini juga memiliki usia produktif yang lebih lama yakni mencapai 30 tahun, dibandingkan dengan pohon kopi jenis hibrida yang hanya sampai 10 tahun. Suhu dingin berkisar 15 derajat Celcius, tanah yang subur, dan buah yang lebih sedikit menjadikan zat gizi yang tersimpan dalam biji kopi Oksibil makin tinggi dan rasanya menjadi lebih enak.

"Salah satu varietas pohon kopi terbaik yang pernah saya temui di Indonesia ternyata ada di Oksibil," tutur Hideo.

Dari 34 distrik di Kabupaten Pegunungan Bintang, baru lima distrik yang sudah ditanami kopi, dua di antaranya telah dikunjungi Hideo, yaitu Distrik Okbi dan Okbab. Umumnya, petani kopi di kedua distrik tersebut sudah mengerti cara penanaman kopi yang baik, begitu pun proses dari buah yang baru dipetik sampai menjadi biji atau bubuk kopi siap jual.

Petani kopi di Kampung Sabin, Distrik Okbab, bahkan sudah menanami kebunnya dengan pohon penaung dan rumput yang ditujukan melindungi pohon-pohon kopi dari sinar matahari langsung, yang bisa mengurangi kualitas buahnya.

Untuk mendapatkan kualitas biji kopi yang optimal, buah-buah kopi dikupas dengan tangan. Meski prosesnya lebih lambat daripada pengupasan dengan mesin, hasilnya akan lebih baik.

"Kalau dikupas dengan mesin ada paparan panas, padahal panas adalah musuhnya kopi," ujar Hideo.

Meski demikian, kata dia, petani kopi di Oksibil perlu belajar untuk menanam pohon kopi pada saat yang sama sehingga pohon-pohon kopi di suatu perkebunan memiliki usia seragam. Selain itu, petani juga perlu memperhatikan penanggulangan penyakit seperti karat daun yang memusnahkan populasi kopi arabika typica di Sumatera dan Jawa pada 1900-an.
Melihat besarnya potensi kopi arabika typica dari Oksibil, Pemkab Pegunungan Bintang memutuskan untuk mengembangkan komoditas ini.

Dari pengamatan Hideo, baru sekitar 20 persen lahan milik petani di dua distrik yang dikunjunginya yang ditanami kopi. Rata-rata setiap kepala keluarga memiliki 1.000 pohon kopi yang bisa menghasilkan 300-600 kilogram biji kopi.

"Ini artinya potensinya masih besar sekali. Sayangnya masyarakat Pegunungan Bintang belum berpikir bahwa dengan menanam kopi mereka bisa mendapat uang dalam jumlah besar, sehingga belum banyak yang mau menanam kopi," ujar roaster Curious People Coffee, sebuah kafe di Cengkareng, Jakarta Barat itu.

Petani kopi juga menghadapi kendala dalam memasarkan produk mereka, karena tidak banyak orang tahu bahwa ada kopi berkualitas di Oksibil.

Tidak seperti kopi Wamena dari Pegunungan Jayawijaya yang sudah diekspor ke luar negeri, kopi Oksibil sebagian besar hanya dipasarkan di Jayapura sehingga belum banyak masyarakat Indonesia yang merasakan kenikmatan kopi ini.

Untuk mendorong minat masyarakat menanam kopi Oksibil secara lebih luas, Bupati Pegunungan Bintang Costan Oktemka menginisiasi sebuah program pemberdayaan masyarakat yang disebut "koteka". Selain merepresentasikan pakaian adat penduduk asli Papua, istilah koteka dipilih sebagai kependekan untuk kopi, ternak, dan kakao --tiga komoditas potensial yang akan dikembangkan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat Pegunungan Bintang.

Lewat program tersebut, Constan mengarahkan penduduk di 21 distrik untuk menanam kopi dan memulai strategi pemasaran baru dengan menggunakan koteka sebagai kemasan biji kopi. Di Jakarta, sekitar 300 gram kopi Oksibil yang dikemas dalam koteka dijual seharga Rp300 ribu.

"Kami baru melihat kopi sebagai komoditas unggulan yang bisa menambah pendapatan masyarakat. Saya menyadari kalau daerah ini selamanya ada di tengah pegunungan, sehingga yang bisa digarap hanya pertanian," kata Costan.

Namun, upaya ini bukannya tanpa hambatan. Kendala paling berat adalah membangun pemahaman masyarakat bahwa program penanaman kopi tidak bisa langsung dirasakan dampaknya karena pohon kopi baru berbuah setelah usia tiga tahun.

Mengesampingkan berbagai kendala tersebut, Constan tetap pada usahanya mengembangkan kopi sebagai komoditas yang aman dan ramah lingkungan, juga bisa digunakan untuk promosi wisata.

Melalui kopi, ia ingin menjual potensi wisata di Pegunungan Bintang yang disebutnya memiliki bentang alam yang indah dan kultur masyarakat yang kaya.

Salah satu gunung Pegunungan Bintang, yakni Mandala, adalah satu dari tiga gunung di Papua yang puncaknya tertutup salju. Pesona lain dari wilayah ini adalah Lembah Oksibil yang seringkali tertutup kabut karena dikelilingi pegunungan-pegunungan tinggi. Penduduk setempat sering menyebutnya "negeri di dalam awan".

Dalam bahasa masyarakat setempat, oksibil berarti "dekat air". Istilah ini beralasan karena wilayah tersebut tidak hanya memiliki sungai-sungai tetapi juga beberapa air terjun di antaranya air terjun Kolbung, Tembung, Anorbung, Kukop Bung, dan Okbon Bung. "Bung" adalah sebutan masyarakat lokal untuk air terjun.

Sayangnya, menurut Constan, keindahan alam Oksibil belum bisa dinikmati banyak wisatawan karena kendala infrastruktur yang kurang memadai.

Untuk mencapai Oksibil, wisatawan dari Jakarta harus menempuh perjalanan udara selama 4-5 jam menuju Sentani, kemudian perjalanan dilanjutkan dengan pesawat kecil selama 45 menit.

Penerbangan dari Sentani ke Oksibil tersedia setiap hari dengan harga tiket sekitar Rp800 ribu, sedangkan untuk mengakses objek-objek wisata di dalam Kota Oksibil, wisatawan disarankan menyewa kendaraan roda empat atau roda dua.
All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.