Biak, 13/12 (Benhil) - Profesi tenaga perawat kesehatan bagi sebagian masyarakat asli Papua merupakan suatu pekerjaan yang tidak menyenangkan tetapi bagi Hans Wayoi (56) melayani pasien adalah pengabdiannya yang tulus demi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Kabupaten Biak Numfor.

"Tugas perawat kesehatan sangat mulia karena dapat memberikan pengobatan bagi setiap orang yang membutuhkan dan tidak mengenal sekat, keyakinan, adat budaya dan etnis," ungkap manteri kesehatan yang juga warga asli Papua, Hans Wayoi saat bertugas melayani pasien 24 jam di RSUD Biak.

Dedikasi dan loyalitas sebagai perawat kesehatan dilakoni Hans Wayoi sudah puluhan tahun dan membuahkan berkah baginya pada hari kesehatan Nasional 2017 saat dia memperoleh satya lencana pengabdian sebagai ASN kesehatan selama 20-30 tahun dari Presiden Joko Widodo.

Dia mengawali karier sebagai tenaga kesehatan pada tahun 1986. Bagi Hans Wayoi mengeluti profesi sebagai tenaga perawat kesehatan merupakan cita-cita yang telah didambakan saat ia masih kecil.

Kesabaran, dedikasi dan ketulusan bekerja menjadi tenaga perawat yang digelutinya setiap hari dalam melayani pasien yang berobat rawat jalan dan rawat inap di rumah sakit umum daerah kelas B Biak.

Pasien berdatangan dari berbagai kampung terpencil, di wilayah kepulauan hingga kabupaten tetangga Supiori, Yapen kepulauan dan Kabupaten Waropen.

Hans Wayoi menyebut setiap pasien yang datang berobat yang memerlukan penanganan medis karena mengidap penyakit tertentu harus diberikan pelayanan dengan tulus dan ikhlas sesuai sumpah janji profesi tenaga perawat Pelayanan yang yang baik oleh para perawat di rumah sakit tidak saja memberikan kesan bagi keluarga pasien tetapi mampu mengangkat citra dan nama baik pemerintah daerah serta manajemen RSUD kelas B Biak.

Bagi Hans, mengeluti profesi sebagai tenaga perawat di rumah sakit umum daerah Biak merupakan sebuah kebanggaan secara pribadi juga bagi keluarga dan orang tuanya, apalagi dia bekerja dengan hati yang tulus dan keikhlasan memenuhi panggilan profesi tenaga perawat.

"Siapa pun masyarakat yang datang untuk berobat mendapatkan pelayanan kesehatan saya harus layani dengan kasih, ya ini sudah menjadi sumpah jabatan tenaga perawat yang harus saya jalani," ungkap Hans Wayoi.

Ia berharap prestasi penghargaan satya lencana pengabdian 20 tahun lebih yang diterima dari Presiden Joko Widodo akan menjadi motivasi kerja baginya. Kebutuhan kesehatan untuk setiap warga, menurut Hans Wayoi, merupakan sesuatu barang yang mahal serta sangat beharga karena nilai kesehatan seseorang tidak dapat diukur dengan besarannya uang atau kekayaan harta dimiliki warga manapun.

Pasien yang datang berobat rawat jalan dan rawat inap ke rumah sakit umum daerah Biak, menurut Hans wayoi, punya beragam karakter dan keluhan penyakit bermacam-macam sehingga sangat dibutuhkan kesabaran tenaga perawat untuk memberikan sentuhan layanan kesehatan sesuai standar profesi keperawatan.

Terbiasa dimarah pasien Tiga puluh tahun mengabdi menjadi tenaga perawat telah dijalaninya dengan ikhlas tidak semua keluarga pasien menerima pelayanan tenaga perawat dengan baik.

"Pelayanan kesehatan pasien di rumah sakit sudah dibuat standar operasional prosedur, ya kondisinya tak dapat aturan yang berlaku dipahami keluarga pasien. Jika perawat lambat dalam memberikan pelayanan maka keluarlah umpatan, cacian dan kemarahan dilampiaskan keluarga pasien kepada tenaga perawat yang bertugas," katanya.

Sebagai tenaga perawat yang sudah dilatih melalui jenjang pendidikan dilpoma III keperawatan, menurut Hans Wayoi, semua cacian menjadi bagian dari pengabdiannya.

Ada kemarahan dan umpatan yang dilontarkan keluarga pasien kepadanya saat bertugas namun dia harus diterima dan tidak perlu melawan karena ini merupakan koreksi untuk perbaikan pelayanan kedepan.

Dia berharap masukan dari keluarga pasien dapat menjadi bahan instrospeksi diri dalam upaya meningkatkan kualitas layanan kesehatan yang lebih profesional dan berkualitas.

"Semua pasien menuntut pelayanan yang lebih baik, ya sebagai perawat kami tetap menjawab keinginan dan tuntutan masyarakat dengan bekerja secara profesional dan mengedepankan sentuhan layanan dengan kasih sayang," ungkap manteri Hans Wayoi.

Sebagai perawat kesehatan warga asli orang Papua, menurut Hans wayoi, ia tetap berkomitmen akan menjalankan profesi tenaga keperatawan dengan tuntas hingga mendekati pengadian purna tugas sebagai aparatur sipil negara sekitar 1,5 tahun ke depan. Selama 30 tahun mengabdi sebagai tenaga perawat tanpa cacat selama menjalankan tugasnya sejak diangkat menjadi CPNS tahun 1987 bagi Hans merupakan anugerah luar biasa dari bangsa dan Negara Kesatuan republik Indonesia.

Prestasi pribadi di bidang kesehatan dan menjadi penerima satya lencana 30 tahun pengabdian dari Presiden adalah suatu pengakuan Negara atas kinerjanya melayani kesehatan untuk masyarakat di Kabupaten Biak Numfor.

"Saya bangga menjalani profesi sebagai perawat kesehatan karena dengan pekerjaan puluhan tahun saya jalani bisa berkenalan dengan beragam masyarakat Nusantara," ungkap Hans Wayoi.

Sepak terjang Mantri Hans Wayoi sebagai sosok tenaga kesehatan yang memiliki loyalitas dan keikhlasan menjalankan profesi perawat kesehatan perlu menjadi panutan tenaga kesehatan lain yang juga menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan di Kabupaten Biak Numfor, Papua.

RSUD Kelas B Biak Numfor merupakan salah satu rumah sakit rujukan di kawasan teluk Saereri dan Provinsi Papua dengan 21 dokter spesialis dan seratusan tenaga perawat, bidan dan tenaga kesehatan lain setiap hari melayani 500-700 pasien per hari. (Ben/An)

Muhsidin
All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.