Air Terjun Simatobat

Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar), dikenal menyimpan banyak potensi wisata yang siap memanjakan setiap pengunjungnya, baik potensi alam maupun potensi budaya dari masyarakat adat.

Ombak Lances Right dan Macaronies yang ada di kawasan ini didaulat sebagai dua titik ombak terbaik dari sepuluh ombak terbaik di dunia yang begitu diminati oleh para peselancar dari dalam maupun luar negeri.

Mentawai tidak hanya memiliki laut yang dapat memikat hati para wisatawan karena masih banyak potensi alam lain yang tidak kalah menarik selain gulungan ombak yang tersebar di seluruh pesisir pulaunya. Di daerah pedalaman Pulau Pagai Selatan yang secara administratif menjadi kecamatan Pagai Selatan, tersimpan pesona alam yang masih belum diketahui oleh banyak wisatawan maupun masyarakat Sumbar.

Air Terjun Simatobat atau yang dikenal oleh masyarakat sekitar dengan sebutan Air Terjun Bungo Rayo ini merupakan salah satu dari sekian banyak air terjun yang ada di daerah Keulauan Mentawai, seperti Air Terjun Kulukubuk yang ada di Siberut Selatan.

Air Terjun ini tidak setinggi air terjun lain yang ada di Sumbar dengan ketinggian hingga puluhan meter. Memiliki ketinggian hanya 15 meter agaknya cukup untuk memberikan daya tarik tersendiri bagi setiap pengunjung.

Tak hanya Air Terjun Simatobat yang ada di sepanjang aliran sungai ini, ke arah hulu masih ada setidaknya lima air terjun lain dengan tinggi dan lebar yang berbeda.

Selain pesona air terjun, di sekitarnya terdapat berbagai potensi yang dapat menunjang keberadaan air terjun tersebut dalam upaya pengembangan kawasan objek wisata minat khusus atau ecotourism.

Pelaksana Tugas Kepala UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kepulauan Mentawai Tasliatul Fuaddi mengatakan potensi tersebut terlihat dari keberadaan flora dan fauna yang ada di sekitarnya.

Di sekitar air terjun tersebut terdapat gua yang termasuk kategori gua hidup, sebab di dalam gua tersebut terdapat stalaktit atau sejenis mineral sekunder (speleothem) yang menggantung di langit-langit gua kapur serta stalakmit yang merupakan batuan yang terbentuk di lantai gua yang merupakan hasil dari tetesan air di langit-langit di atasnya.

Selain keberadaan gua yang menjadi habitat kawanan burung walet dan keberadaan rusa di sekitar aliran sungai, di sekitar kawasan tersebut juga terdapat kawanan primata yang menjadi endemik khas Mentawai. Menurut dia, di sekitar kawasan air terjun tersebut masih terdengar suara Bilou dan Bokoi, primata yang menjadi endemik khas Mentawai.

Selain fauna, keberadaan flora atau tumbuh-tumbuhan di sekitar kawasan tersebut berpotensi untuk dikembangkan, seperti keberadaan berbagai jenis tumbuhan komersil dan vegetasi di sekitar daerah tersebut masih rapat, berupa hutan sekunder.

Siap Dikembangkan Mengetahui potensi yang tersimpan di Desa Bulasat, Kecamatan Pagai Selatan, ini pemerintah setempat siap melakukan berbagai pengembangan untuk menjadikan kawasan Air Terjun Simatobat sebagai salah satu tujuan wisata.

Sektor pariwisata merupakan salah satu bidang yang menjadi perhatian pemerintah daerah setempat dalam upaya menyejahterakan masyarakat dan keluar dari ketertinggalan.

Bupati Kepulauan Mentawai Yudas Sabagallet mengatakan untuk menunjang pariwisata di daerah tersebut pihaknya tengah mengupayakan untuk melengkapi berbagai infrastruktur penunjang. Diakuinya wilayah Pagai Selatan memang belum tersentuh secara maksimal, akan tetapi dengan adanya potensi ini kami akan fokus ke sana.

Selain itu dalam upaya pengembangan lebih lanjut pihaknya dengan bersinergi bersama berbagai pihak terkait akan mengupayakan untuk dikeluarkannya daerah tersebut dari hak pengelolaan hutan (HPH).

dia mengaku sudah mendapat masukan juga dari Dinas Kehutanan terkait hukum dan aturan, selanjutnya kami akan memproses hal ini dan akan segera mengusulkannya ke provinsi.

Untuk menggali berbagai potensi yang tersimpan di sekitar kawasan Air Terjun Simatobat, kawasan tersebut akan ditetapkan sebagai kawasan ekosistem esensial (KEE) dan areal bernilai konservasi tinggi (ABKT/HCV).

Melihat potensi tersebut, Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Sumatera Barat Hendri Octavia mendukung kawasan Air Terjun Simatobat ditetapkan sebagai KEE dan ABKT/HCV.

Pemerintah, kata dia, mendukung daerah ini ditetapkan sebagai KEE atau ABKT dalam rangka konservasi keanekaragaman hayati dan menghasilkan jasa lingkungan.

Lebih lanjut ia menjelaskan hal tersebut dilakukan karena berkaitan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dari berbagai aspek di sekitar kawasan tersebut.

Lazimnya, pengembangan pariwisata dengan berbasis pada konservasi lingkungan harus memberikan dampak positif bagi berbagai aspek, baik itu alam atau lingkungan, masyarakat serta pemerintah setempat. Menurut beliau, terdapat beberapa kriteria dari sebuah kawasan untuk dapat ditetapkan sebagai lokasi Ekosistem Esensial diantaranya adalah memiliki nilai ekologi tinggi.

Selain itu kawasan tersebut harus memiliki keanekaragaman hayati dengan ekosistem yang baik, memiliki unsur sosial ekonomi dan budaya serta berfungsi sebagai lokasi pelestarian.

Sementara itu untuk kategori ABKT/HCV, kawasan Air Terjun Simatobat sendiri memenuhi kriteria sebagai area yang dapat menyediakan jasa ekosistem.

Wilayah tersebut juga merupakan area yang memiliki sumber daya alam yang menyediakan kebutuhan pokok bagi masyarakat lokal yang terkait dengan kenekaragaman hayati.

Untuk melakukan ini, kata dia, maka dibutuhkan kerja sama antara seluruh pemangku kebijakan terkait, serta juga harus ada sinkronisasi dengan pemerintah daerah dalam rangka memperkuat pembangunan. (Ben/An)

Ikhwan Wahyudi dan Syahrul Rahmat

All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.