Ribuan Mahasiswa Jadi Korban Tindak Kejahatan Modus Magang Kerja ke Jerman

TPPO

Tindak kejahatan iming-iming kerja ke luar negeri kembali memakan korban, yakni ribuan mahasiswa. Tidak kurang Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal TNI (Purn) Moeldoko ikut merespon kasus tersebut.

Kejahatan kerja ke luar negeri kali ini berupa Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Sedangkan korbannya adalah para mahasiswa dengan modus magang kerja ke Jerman melalui program Ferienjob (kerja paruh waktu saat masa libur).

Moeldoko berpendapat kasus ribuan mahasiswa Indonesia yang diduga menjadi korban TPPO semoga jadi pembelajaran bagi negara agar bisa membenahi tata kelola penyelanggaraan magang mahasiswa Indonesia di luar negeri. 

“Ini jadi pembelajaran bagi negara. Satu sisi banyak anak–anak kita ingin ke luar negeri dan nggak punya duit sehingga tidak mikir risiko, diperburuk lagi dengan tata kelola,” kata Moeldoko pada rapat koordinasi bersama Kemendikbudristek, Kemnaker, Kemlu, dan Bareskrim Polri mengenai permasalahan magang mahasiswa di luar negeri bertempat di Gedung Bina Graha Jakarta, Rabu, 20 Maret 2024. 

Ferienjob, menurut Moeldoko, adalah program magang yang bagus karena mahasiwa bisa belajar sambil bekerja (mendapat uang tambahan). Apalagi Ferienjob adalah program resmi lembaga ketenagakerjaan Jerman yang memberikan kesempatan mahasiswa. 

“Ini program resmi, tapi informasi ke kampus tidak sesuai. Jadi ada disinformasi antara program magang Jerman, dengan mahasiswa yang ada di sini,” ujar pria yang menjabat sebagai Panglima TNI 2013-2015 itu. 

Komoditas Politik

Moeldoko juga menyatakan pihak kepolisian perlu lebih cermat untuk menyelidiki kasus magang Jerman ini karena sudah menyangkut institusi pendidikan tinggi di Indonesia. 

Dia juga menekankan jangan sampai kasus magang mahasiswa Indonesia di luar negeri menjadi komoditas politik dan menimbulkan kegaduhan di ruang publik. 

Sebelumnya, polisi telah mengungkap 1.047 mahasiswa Indonesia yang diduga menjadi korban kasus TPPO di Jerman. Dirtipidum Bareskrim Polri, Brigjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro mengatakan awal mula kasus ini adalah dari laporan KBRI Jerman soal 4 mahasiswa yang mengikuti ferienjob di Jerman yang dijalankan oleh 33 kampus di Indonesia. 

“Total mahasiswa yang diberangkatkan sebanyak 1.047 mahasiswa yang terbagi di 3 agen tenaga kerja di Jerman,” kata Djuhandani pada Rabu, 20 Maret 2024. 

Kronologi

Berikut ini kronologi modus TPPO itu dijalankan menurut Polri, yaitu:

1. Korban dugaan TPPO diminta membayar biaya pendaftaran Rp 150.000 ke PT CVGEN. Disamping itu, mahasiswa juga harus membayar surat penetapan atau LOA sebesar Rp 3.000.000,- ke PT SHB. 

2. Setelah LOA diterbitkan, korban juga harus membayar Rp 4.000.000,- ke PT SHB untuk persetujuan tenaga kerja di Jerman untuk persyaratan pembuatan visa.

3. Mahasiswa yang sudah lolos untuk menjalani ferien job di Jerman itu juga masih harus membayar biaya sebesar Rp30 juta – Rp50 juta yang dipotong dari penerimaan gaji per bulannya. 

4. Para korban melaksanakan ferienjob selama 3 bulan, yakni Oktober-Desember 2023.

5. Ternyata ribuan mahasiswa itu dipekerjakan layaknya buruh di Jerman. 

Terkait kasus tersebut, pihak kepolisian telah menetapkan lima tersangka di antaranya ER (39), A (37), SS (65), AJ (52) dan MZ (60).

Lima tersangka itu bertanggung jawab untuk memuluskan modus ferienjob ini ke kampus di Indonesia. Atas perbuatan itu, mereka terancam dijerat Pasal 4 UU No.21/2007 Tentang Pemberantasan TPPO dengan ancaman penjara paling lama 15 tahun penjara dan denda Rp 600 juta. Disamping itu, pelaku juga dipersangkakan Pasal 81 UU No.17 Tahun 2017 tentang perlindungan pekerja migran Indonesia, dengan ancaman pidana penjara paling lama 10 tahun dan pidana denda paling banyak Rp 15 miliar.

Kasus kejahatan TPPO magang ke luar negeri ini menjadi pembelajaran bagi masyarakat Indonesia untuk lebih berhati-hati saat memutuskan untuk kerja ke luar negeri. [Benhil]



Surga Tropis

Tropics Paradise is a collection of writings and papers presented at, from, and to the tropics. Actually, the tropics is a place that comfortable, warm, and affluent. But the situation goes undermined by the real interests that not coming from the tropics itself, such as politics, ideology, lifestyle, and others. So for that matters, Tropical Paradise wants to restore a beautiful sense of the area.

Previous Post Next Post

Contact Form