Foto, Brobudur, Charlie M. Sianipar

Bulan Mei  merupakan momen bagi umat agama Budha di Indonesia untuk merayakan puncak Hari Raya Tri Waisak 2563BE/2019. Namun ada yang berbeda perayaan Tri Suci Waisak di tahun ini Biasanya puncak perayaan tiap tahun diadakan di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Barat, namun tahun ini digelar di Candi Muara Takus, Kabupaten Tangkar, Provinsi Riau dari tanggal 12-25 Mei.

Alasan Candi Muara Takus dijadikan pusat perayaan Tri Suci Waisak, sekaligus mempromosikan wisata kepada wisatawan lokal dan asing, karena candi ini sudah terdaftar di UNESCO, sebagai situs warisan dunia. Pihak panitia perayaan juga menargetkan puncak perayaan Tri Suci Waisak dihadiri  5000 orang serta 60 biksu nasional bersama tamu undangan dari negara sahabat.

Syamsuar, Gubernur Riau, dalam keterangan pers ikut membenarkan bahwa provinsinya ditunjuk menjadi tuan rumah Hari Raya Tri Suci Waisak. Dia berharap, perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak, mampu mendongkrak nilai wisata. Berhubung perayaan bersamaan dengan bulan Ramadan, Syamsuar juga menyampaikan agar acara keagamaan Tri Suci Waisak bisa disesuaikan dengan kegiatan ibadah puasa umat Islam.

“Saya sudah berkoordinasi ke pihak panitia, agar kegiatan ibadah perayaan Tri Suci Waisak bisa disesuaikan dengan jadwal ibadah puasa umat Islam agar tidak terganggu. Intinya, kita kedepankan saling menghormati agar toleransi umat beragama terus terjaga,” ujarnya.

Setiap tahun ratusan umat Buddha dari di Riau memang selalu mengadakan perayaan Tri Suci Waisak di Candi Muara Takus yang datang dari berbagai kabupaten. Selain menjalankan ritual ibadah perayaan, umat Budha juga rutin menggelar bakti sosial untuk warga sekitar.

Sementara itu, perayaan Tri Suci Waisak di Candi Borobudur, Magelang, JawaTengah, baru saja usai yang diadakan hari Sabtu dan Minggu, tanggal 18 sampai 19 Mei 2019. Perayaan langsung dihadiri Menteri Agama, Lukman Hakim, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel, Pangdam IV/Diponegoro, Mayjen TNI M Efendi, beserta tamu undangan lainnya.

Lukman Hakim, menyampaikan perayaan Tri Suci Waisak agar dijadikan momentum intropeksi menyucikan diri kepada sesama umat manusia untuk mewujudkan perubahan. “Intropeksi diri ini bukan untuk umat Budha, tapi untuk semua masyarakat Indonesia,” ungkapnya dalam pidato kata sambutan.

Hal senada juga disampaikan S Hartati Murdaya, Ketua Umum DPP Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) S Hartati Murdaya. Dia mengatakan momen perayaan Tri Suci Waisak tahun ini, umat Budha di Indonesia harus lebih bisa mengimplementasikan ajaran Sang Budha Sidartha Gautama.

“Karena tujuan perayaan Tri Suci Waisak bertujuan untuk lebih mengenal ajaran Budha, dengan menerapkan kebajikan dan keseimbangan hidup,” jelasnya. 

Pada hari penutupan perayaan Tri Suci Waisak, di Candi Borobudur, tibalah acara yang ditunggu pelepasan lampu lampion ke udara. Acara ini biasanya yang paling ditunggu wisatawan dan para fotografer. Bagi umat Budha, pelepasan lampu lampion mempunyai makna sendiri.

Melepaskan lampu lampion ke udara adalah simbol sakral untuk membuang hal negatif dalam tubuh seiap pengikut ajaran Budha. Setiap lampu lampion yang dilepaskan juga biasa ditempelkan secarik kertas, berisikan doa dan harapan masa depan.
All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.