Jakarta, 13/4 (Benhil) - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) berharap Prancis melobi Uni-Eropa agar tidak memboikot ekspor minyak kelapa sawit atau "crude palm oil (CPO)" Indonesia kalau tidak ingin kehilangan devisa devisa Rp233 triliun atau sekitar 24 miliar dolar AS.

"Kita perkirakan Prancis akan kehilangan devisa sebesar US$ 24 miliar,"ujar Juru Bicara PSI Rizal Calvary Marimbo dalam siaran persnya di Jakarta, Jumat.

Menurut Rizal, kerugian tersebut bakal datang dari pembatalan pembelian pesawat oleh Lion Air Group kepada perusahaan pembuat pesawat asal Prancis Airbus sebanyak 234 pesawat.

Lion Air Group sebelumnya telah memesan sebanyak 234 pesawat baru jenis Airbus A320 yang terdiri 109 pesawat A320neo, 65 A321neo, & 60 A320ceo. Lion Air Group mengeluarkan dana sebesar 24 miliar dolar AS (Rp 233 triliun) untuk membeli pesawat-pesawat tersebut.

Lion Air Group telah menyatakan kesiapannya mendukung pemerintah dengan memboikot impor ratusan pesawat Airbus dari Prancis.

"Kalau Lion Air sampai batalkan pembelian ratusan pesawat, Prancis akan kehilangan devisa sekitar US$ 24 miliar, bisa mengguncang proses manufacturing Airbus. Apalagi manufakturing dan produksi ratusan pesawat sudah mulai berjalan. Kalau kita batalin rugi besar dia," ujar Rizal.

Rizal mengatakan, bila Prancis tidak membantu Indonesia, bisa saja Lion Air Group mengalihkan pembelian pesawat ke Boeing.Sebelumnya, Lion Air juga membeli 201 pesawat Boeing yang nilainya 22 miliar do lar AS (Rp 214 triliun). Tapi sudahlah itu urusan Lion Air. Asal Prancis tahu saja kita bisa beralih ke pesaing," katanya.

Peranan Prancis PSI berharap agar pemerintah Prancis segera membantu industri pesawat terbangnya dengan cara membantu Indonesia melobi agar Uni Eropa tidak memboikot minyak sawit Indonesia.

"Bahwa ada yang harus Indonesia benahi di industri sawitnya, ini tugas pemerintah dan pelaku usaha serta korporasi," ujar dia.

PSI berharap Prancis menggunakan pengaruhnya yang sangat besar di Uni Eropa untuk membantu Indonesia.

"Perancis dipandang sebagai 'centre of gravity' di Eropa. Itu terlihat dari jumlah kursi Prancis terbanyak di parlemen Uni Eropa lebih dari 70 kursi. Jadi, Prancis semestinya bisa bantu Indonesia," katanya.

Ia mengatakan Prancis merupakan salah satu negara yang memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan maupun kebijakan Uni Eropa, selain Jerman dan Polandia.

Namun PSI mengingatkan Uni Eropa jangan sampai terbawa agenda perang dagang yang tidak sehat. PSI mendukung perang terhadap boikot CPO Indonesia mengingat industri ini telah menjadi industri strategis nasional karena sebanyak 16 juta jiwa terlah diserap secara langsung oleh lapangan kerja industri ini.

"Industri ini berkontribusi besar terhadap perekonomian bangsa dan perannya sangat penting dalam menjaga ketahanan pangan dan energi nasional. Dia tidak saja menjadi industri strategis tapi juga menjadi satu komoditas strategis. PSI akan allout," ujar Rizal.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat nilai ekspor minyak sawit Indonesia pada 2017 mencapai 22,97 miliar dolar AS, naik 26 persen dibandingkan 2016 sebesar 18,22 miliar dolar.

Melonjaknya ekspor tersebut mengakibatkan nilai sumbangan devisa minyak sawit ikut meningkat. Secara volume, ekspor minyak sawit Indonesia pada 2017 juga tercatat tumbuh 23,6 persen menjadi 31,05 juta ton dari 25,11 juta ton pada 2016, di luar ekspor biodiesel dan oleochemical.

Peningkatan ekspor itu terjadi seiring dengan perluasan pasar ekspor non tradisional.

Kelapa sawit juga telah memberikan sumbangan terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, utamanya sektor perkebunan. Sektor perkebunan sendiri telah mengalahkan sektor minyak dan gas (migas) dalam sumbangsinya terhadap PDB nasional yakni sebesar Rp429 triliun.

Sedangkan migas hanya sebesar Rp365 triliun dan terus mengalami penurunan.
All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.