PSSI

Jakarta, 16/3 (Benhil) - Selama berbulan-bulan setelah musim 2017 berakhir, kompetisi sepak bola terbesar di Indonesia Liga 1 musim 2018 ibarat sampan yang terombang-ambing tanpa kepastian di lautan lepas.

Tidak diketahui kapan bergulirnya, didera pula dengan soal utang-piutang beserta kewajiban pada musim 2017 yang seolah tak tertangani. Ketua Umumnya Edy Rahmayadi juga pergi cuti untuk niat jadi Gubernur di Sumatera Utara, ikuti Pilgubsu 2018, daerah yang dikenal dengan pameo Sumut; Semua Urusan Mesti Uang Tunai, diusung PKS, parpol yang sama pengusung dua Gubernur sebelumnya yang masuk bui karena kasus korupsi.

Klub-klub peserta liga yang bernama resmi GoJek Traveloka Liga 1 pun bertanya-tanya kepada operator liga PT Liga Indonesia Baru (PT LIB). Ke mana sisa subsidi dari Rp7,5 miliar yang dijanjikan pada musim 2017? Bagaimana hak yang lain? Kapan liga dimulai? Gelombang rasa ingin tahu yang semakin bergulung akhirnya bisa sedikit terurai pada Selasa (6/3). Saat itu, PT LIB menyatakan dengan tegas bahwa tunai sudah tanggung jawab mereka terkait sisa subsidi Liga 1 2017.

"Semua kewajiban kami kepada klub, khususnya kontribusi untuk melengkapi total sebesar Rp7,5 miliar dan pernah tertunda, hari ini sudah terbayarkan dan kami sudah transfer ke 18 klub," ujar Direktur Utama PT LIB Berlinton Siahaan.

Para tim peserta Liga 1 pun sedikit bernapas lega dan bisa melonggarkan ikat pinggang. Namun, itu belum menyelesaikan persoalan. Semuanya menemukan titik terang ketika PT LIB mengadakan rapat umum pemegang saham (RUPS) dua hari setelah mereka memproklamirkan selesainya tunggakan subsidi pada 2017.

Dihadiri perwakilan seluruh klub Liga 1 2017, RUPS itu mencapai kesimpulan penting: Liga 1 2018 dimulai 23 Maret 2018 dengan laga pembuka digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, mempertandingkan juara Piala Presiden 2018 Persija Jakarta melawan kampiun Liga 1 2017 Bhayangkara FC.

Selain itu, didapatkan pula kepastian yang sebelumnya masih tak jelas yaitu tentang pembagian pundi dari hak peringkat dan hak siar. PT LIB melalui direktur utamanya, Berlinton Siahaan menegaskan seluruh hak itu akan dibayarkan pada 2019.

Dia menerangkan ketidaktepatan waktu pemberian hak klub tersebut karena keterlambatan dari pihak mitra komersial. PSSI yang tadinya terombang-ambing di lautan lepas itu pun akhirnya berlabuh dan siap melakukan perjalanan berikutnya.

GoJek Traveloka Liga 1 2018 yang berpeserta Bhayangkara FC, Bali United, PSM Makassar, Persija Jakarta, Madura United, Persipura Jayapura, Barito Putera, Borneo FC, Arema FC, Mitra Kukar, Sriwijaya FC, PS TIRA (sebelumnya PS TNI), Persib Bandung, Persela Lamongan, Perseru Serui, Persebaya Surabaya, PSMS Medan dan PSIS Semarang tak lagi abu-abu.

Subsidi-Regulasi Langkah lanjut, digelarlah pertemuan seluruh manajer dari 18 tim Liga 1 2018 pada Kamis (15/3). Semua tentang liga teratas Indonesia itu dibahas di sini, mulai dari uang subsidi tim sampai regulasi.

Ada beberapa hal yang berbeda dibandingkan dengan Liga 1 2018 lalu. Pertama, mengenai subsidi. Meski jumlahnya sama yaitu Rp7,5 miliar untuk setiap klub per musim, tetapi pendistribusiannya berbeda. Pada musim 2017, meski akhirnya tertunggak, Rp7,5 miliar diberikan dalam tiga tahap yaitu Rp1,5 miliar di awal musim, sekitar Rp500 juta per bulan dan Rp1 miliar saat akhir liga.

Nah, pada Liga 1 2018, uang subsidi disalurkan dengan syarat, yaitu setiap tim harus memiliki program pengembangan pemain muda yang berkaitan pula dengan proses lisensi profesional AFC.

Rinciannya, setiap tim Liga 1 2018 otomatis mendapatkan Rp5 miliar yang dibayarkan bertahap dalam rentang April-November 2018. Sisanya, Rp2,5 miliar, diberikan jika klub memberikan program pengembangan pesepak bola usia dini.

Alurnya yakni program diajukan terlebih dahulu ke Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), kemudian diserahkan ke PT LIB yang kemudian menyalurkan uangnya kepada klub.

Perbedaan cukup mencolok kedua yaitu regulasi pemain asing. Pada Liga 1 2017, skema kepemilikan pemain asing di tim yaitu 2+1+1 yang maksudnya setiap tim dipersilakan merekrut dua pemain asing non-Asia, satu pemain asing Asia, dan satu pemain asing tambahan jika berstatus "marquee player".

"Marquee player" diartikan sebagai pemain kelas dunia yang pernah bermain di tiga edisi Piala Dunia terakhir, yakni 2006, 2010, dan 2014 serta pernah merumput di delapan liga teratas Eropa periode 2009-2017.

Pada Liga 1 2018, PT LIB meniadakan aturan "marquee player", sesuai kesepakatan LIB dan semua tim peserta Liga 1 2018. Skema pemain asing pada Liga 1 2018 lalu menjadi 3+1, di mana setiap tim maksimal menggunakan jasa tiga pemain asing non-Asia dan seorang pemain impor Asia.

Menurut Pelaksana Tugas Ketua Umum PSSI Joko Driyono yang menggantikan Edy Rahmayadi selama cuti sibuk di Pilkada Sumut dan telah mengakui kegagalannya memimpin PSSI, alasan tidak adanya "marquee player" pada musim 2018 karena liga tidak menerapkan batasan gaji atau "salary cap".

"Keberadaan 'marquee player' hanya relevan jika 'salary cap' diimplementasikan," kata Joko kepada Antara, Jumat (19/1). Pada 2017, batasan pengeluaran gaji per tim setiap musim Rp15 miliar.

Perbedaan ketiga, mengenai aturan pemain U-23. Pada Liga 1 2017, setiap klub harus mengontrak sedikitnya lima pemain U-23 dari total 30 pemain yang dimiliki dan wajib memainkan tiga orang di antaranya selama minimal 45 menit setiap laga. Pada musim 2018, aturan berganti. Tim peserta wajib mendaftarkan tujuh pemain U-23, tetapi tidak harus menurunkan mereka saat pertandingan.

Memastikan PSSI sebagai federasi penaung seluruh kegiatan sepak bola di Indonesia juga memiliki kepentingan pada Liga 1. Organisasi yang berdiri pada 19 April 1930 itu, turut memastikan liga berjalan sesuai dengan irama kegiatan tim nasional Indonesia.

Pada 2018, timnas U-23 dan senior Indonesia mengikuti dua turnamen penting, yakni Asian Games 2018 dan Piala AFF 2018. Liga 1 merupakan penyumbang pemain terbesar untuk timnas, mau tak mau penjadwalan liga pun harus disesuaikan.

Untuk putaran pertama Liga 1 2018, PSSI menyatakan jadwal Liga 1 sudah sesuai dan tidak akan terpengaruh program tim nasional U-23 yang disiapkan untuk Asian Games 2018.

Persoalan justru muncul ketika berbicara Piala AFF 2018, di mana Indonesia akan mengirimkan timnas senior. Sebab, beberapa pertandingan Liga 1 2018 yang dijadwalkan berakhir pada 9 Desember 2018 akan berlangsung bersamaan dengan digelarnya Piala AFF 2018 yang digelar 8 November-15 Desember 2018.

"Kami dari PSSI berharap kompetisi dan AFF bisa berjalan bersama-sama. Namun, kami upayakan ada penyesuaian jadwal terutama terkait laga yang berhimpitan dengan Liga 1 karena penyisihan grup Piala AFF 2018 menerapkan format baru," ujar Joko Driyono.

Format Piala AFF 2018 memang berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya. Pada babak grup yang berisi lima tim, nantinya setiap tim akan bertanding dua kali tandang dan dua kali kandang. Sebelumnya, format penyisihan grup Piala AFF adalah sistem satu kandang ("home tournament").

Dengan sistem "round robin" kandang-tandang tersebut, penyelenggaraan pertandingan grup bisa memakan waktu yang lebih lama. Hal itu tentu dapat memengaruhi performa klub pada Liga 1 yang pemainnya dipanggil memperkuat tim nasional.

PSSI pun berjanji membicarakan penyesuaian jadwal itu dengan PT LIB. Diskusi digelar setelah tim nasional senior Indonesia memiliki pelatih baru karena pelatih saat ini, Luis Milla, kontraknya hanya sampai Asian Games 2018.

Pelatih baru timnas senior Indonesia yang rencananya ditetapkan sekitar Juli-Agustus 2018 atau pada awal putaran kedua Liga 1 itu, akan menyusun jadwal timnas senior yang disiapkan untuk Piala AFF 2018 yang akan disesuaikan dengan jadwal Liga 1.

"Penyesuaian jadwal Piala AFF dan Liga 1 ini menjadi pekerjaan rumah buat kami," tutur Joko.

Kepastian berjalannya Liga 1 2018 tentu saja melegakan. Tim-tim peserta kembali menemukan gairah bersaing yang bisa mengasah kualitas mereka, sementara masyarakat pencinta sepak bola memiliki tontonan menarik setiap pekannya. Ujung dari semuanya itu, tentu saja majunya persepakbolaan nasional, semogalah.

Ada peribahasa Afrika, "Jika kamu ingin pergi dengan cepat, pergilah sendirian. Jika kamu ingin pergi jauh, pergilah bersama-sama". Prestasi sepak bola nasional harus dicapai sebagai hasil kerja keras bersama semua pihak mulai pemerintah, PSSI, PT LIB, pemain, pelatih, staf, serta masyarakat.

Memang perlahan, tetapi meyakinkan. Dengan demikian "diharapkan" sepak bola Indonesia bisa "pergi jauh", bukan pergi cuti.
All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.