Bagi para insinyur sipil, memahami bagaimana lapisan perkerasan jalan aspal pastinya menjadi hal yang penting untuk dilakukan terutama saat merencanakan sebuah proyek perkerasan jalan di suatu wilayah. Namun demikian, bagi para awam mungkin hal ini menajdi hal yang cukup sulit untuk dipahami. Masyarakat umum hanya akan mengerti jalanan di daerah mereka menjadi rata, kuat, dan halus dengan pengaplikasikan aspal. Saat ini, masyarakat sepertinya sudah sangat familiar dengan jalanan beraspal di berbagai wilayah tempat tinggal bahkan sudah mencakup ke daerah-daerah pelosok.

Untuk menghasilkan jalan raya aspal yang berkualitas dan kokoh terdapat beberapa lapisan perkerasan jalan aspal yang harus diperhitungkan dengan sangat baik. Jalan aspal tersebut ternyata terdiri dari beberapa lapisan yang saling menyatu serta membentuk konstruksi jalan yang kuat. Tentu saja, untuk membuat jalan aspal tak hanya membutuhkan bahan baku berupa aspal saja melainkan juga beberapa bahan lainnya yang memang berguna untuk mendukung konstruksi supaya bisa menghasilkan jalan yang kuat dan kokoh. 

Beberapa bahan lain yang dibutuhkan untuk membangun konstruksi jalan aspal selain aspal adalah agregat yang terdiri dari agregat halus, agregat kasar, serta bahan pengisi. Semua bahan-bahan tersebut dicampurkan dalam perbandingan komposisi tertentu lalu dipadatkan dalam kondisi panas. Sedangkan aspal sendiri berfungsi sebagai bahan pengikatnya dan melindungi permukaan jalan.

Saat ini, Anda juga bisa menemukan istilah lapisan aspal beton atau laston. Ini merupakan lapisan permukaan struktural yaitu lapisan pondasi atas di suatu konstruksi jalan raya. Lapisan tersebut terdiri dari tiga lapisan mulai dari lapisan aus, lapisan pengikat, serta lapisan pondasi. Untuk memahami beberapa lapisan perkerasan jalan raya aspal, penjelasan berikut ini akan lebih memudahkan Anda disajikan oleh Soilindo, perusahaan perkerasan jalan tanah di Indonesia.

1.    Lapisan Aus (AC-WC/ Asphalt Concrete-Wearing Course)
Lapisan ini merupakan lapisan penyusun pondasi atas dan posisinya berada di lapisan paling atas. Lapisan ini berfungsi sebagai lapisan aus, landasan, serta penahan beban.aston pada lapisan aus ini setidaknya harus memiliki ketebalan 4 cm. Secara keseluruhan, mutu dari lapisan AC-WC ini juga turut memberikan pengaruh terhadap peningkatan masa pelayanan jalan raya aspal.

2.    Lapisan pengikat (AC-BC/ Asphalt Concrete-Binder Course)
Lapisan yang ada di bawah lapisan pondasi atas adalah lapisan pengikat. Lapisan ini berguna untuk meneruskan beban yang diterima menuju ke pondasi. Inilah mengapa kestabilan bahan penyusun pada lapisan ini sangat besar andilnya terhadap kualitasnya dalam mengurangi regangan serta tegangan yang ditimbulkan oleh beban lalu lintas. Ukuran ketebalan lapisan pengikat tersebut minimal 5 cm dengan tingkat kekakuan yang harus disesuaikan dengan kondisi jalan.

3.    Lapisan pondasi (Asphalt Concrete Base)
Lapisan terakhir pada lapisan aspal beton adalah lapisan pondasi yang tentunya berada di bagian paling bawah. Lapisan ini mungkin tidak memiliki hubungan langsung dengan perubahan cuaca. Namun, sebagai lapisan pondasi tentu lapisan ini harus dibangun dengan kestabilan yang tinggi supaya bisa menopang beban lalu lintas dengan lebih optimal. Adapaun fungsi dari lapisan pondasi ini antara lain adalah untuk memberikan dukungan pada lapisan pengikat, mengurangi nominal regangan serta tegangan, dan untuk meneruskan beban ke lapisan sub grade yang berada di bawahnya.

Artikel Terkait:
Dengan memahami dengan baik beberapa lapisan perkerasan jalan aspal, ini pastinya akan semakin memahami bagaimana cara membuat konstruksi jalan raya aspal yang bermutu.
All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.