Jokowi

Jakarta, 5/10 (Benhil) - Menyusul pemaparan survei dari lembaga kajian CSIS (Centre for Strategic and Internasional Studies) pada 12 September lalu bertajuk "3 Tahun Jokowi: Kenaikan Elektoral dan Kepuasan Publik", bertepatan dengan Peringatan HUT ke-72 TNI pada 5 Oktober ini, lembaga kajian SMRC (Saiful Mujani Research and Consulting) juga memaparkan survei berjudul "Kecenderungan Dukungan Politik 3 Tahun Presiden Jokowi".

Pemerintahan Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla pada 20 Oktober mendatang akan berusia tiga tahun sejak resmi dilantik pada 20 Oktober 2014.

Pengumpulan data untuk survei CSIS dilakukan pada tanggal 23-30 Agustus 2017 melalui wawancara tatap muka menggunakan kuesioner terstruktur terhadap 1.000 orang responden yang menjadi sampel, sedangkan survei SMRC dilakukan pada 3-10 September 2017 terhadap 1.220 responden yang menjadi sampel melalui wawancara tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih.

Respondennya sama-sama berasal dari seluruh provinsi.

Hasilnya menunjukkan kemiripan bahwa responden menunjukkan kepuasannya atas kinerja pemerintahan Presiden Jokowi.

Survei CSIS menunjukkan hasil bahwa secara umum tingkat kepuasaan publik terhadap kinerja Pemerintahan Jokowi pada 2017 sebesar 68,3 persen, naik dibandingkan tahun 2015 sebesar 50,6 persen atau pada 2016 sebesar 66,5 persen.

Sementara survei SMRC memberikan gambaran bahwa sebanyak 61 persen responden menyatakan cukup puas dengan kinerja Presiden Jokowi, 17 persen kurang puas, tujuh persen sangat puas, dua persen tidak puas sama sekali, dan tiga persen responden tidak menjawab atau tidak tahu.

Seperti setali tiga uang dengan survei CSIS, survei yang dilakukan oleh SMRC semestinya dibatasi seputar tiga tahun kepemimpinan Jokowi, tetapi melebar sampai ke pendapat tentang peluang partai-partai dalam Pemilu 2019, calon presiden mendatang, tanggapan responden soal peluang Jokowi dan Prabowo, dan membandingkan kinerja Jokowi dengan presiden sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono.

Hal yang menggelitik adalah ada pertanyaan semi terbuka soal siapa yang dipilih responden bila Pemilu presiden dilakukan sekarang. Ada responden yang menjawab mantan Presiden yang telah wafat, yakni Soekarno dan Abdurrahman Wahid, masing-masing sebanyak 0,1 persen.

Sebanyak 38,9 persen responden memilih Jokowi bila pemilu presiden dilakukan sekarang, sedangkan 41,9 persen menjawab tidak tahu/tidak menjawab/rahasia.

Prabowo dipilih oleh 12 persen responden, Susilo Bambang Yudhoyono 1,6 persen, dan Anies Baswedan 0,9 persen.

Ketika pertanyaannya dipersempit menjadi dua nama Calon Presiden, sebanyak 57,2 persen responden memilih Jokowi, 31,8 persen memilih Prabowo, dan 11 persen menyatakan tidak tahu atau tidak menjawab.

Sebagaimana disampaikan oleh Direktur Eksekutif SMRC Djayadi Hanan bahwa dalam tiga tahun terakhir, bagaimanapun simulasinya, elektabilitas Jokowi cenderung naik, dan belum ada penantang cukup berarti selain Prabowo. Prabowo pun cenderung tidak mengalami kemajuan.

Mengenai kondisi ekonomi rumah tangga sekarang dibanding tahun lalu, sebanyak 41,5 persen menyatakan lebih baik, 32,2 persen tidak ada perubahan, 19,7 persen lebih buruk, 4,2 persen jauh lebih baik, 1,3 persen jauh lebih buruk, dan 1,1 persen tidak tahu atau tidak menjawab.

Sementara tentang kondisi ekonomi rumah tangga setahun ke depan dibanding sekarang, sebanyak 57 persen menyatakan lebih baik, 17,8 persen tidak ada perubahan, 9,6 persen jauh lebih baik, 9,5 persen tidak tahu atau tidak menjawab, 5,8 persen lebih buruk, dan 0,3 persen menyatakan jauh lebih buruk.

Sebanyak 41,6 persen menyatakan kondisi ekonomi nasional sekarang lebih baik dibandingkan tahun lalu, 29,4 persen tidak ada preubahan, 19,7 persen lebih buruk, 5,8 persen tidak tahu atau tidak menjawab, 2,6 persen jauh lebih baik, dan 0,9 persen jauh lebih buruk.

Persentase itu menunjukkan bahwa responden yang menyatakan tidak ada perubahan, lebih buruk, dan jauh lebih buruk, bila dijumlahkan sebanyak 50 persen, sebanding dengan jumlah responden yang menjawab lebih baik, jauh lebih baik, dan yang menjawab tidak tahu atau tidak menjawab.

Sebanyak 42 persen responden menyatakan bahwa untuk memenuhi kebutuhan pokok sekarang semakin berat dibandingkan dengan tahun lalu, 41 persen sama saja, 16 persen semakin ringan, dan satu persen menyatakana tidak tahu atau tidak menjawab.

Kepuasan atas kinerja Presiden Jokowi dan kabinetnya serta elektabilitasnya secara umum cenderung konsisten dengan penilaian warga atas kondisi ekonomi dan penanggulangan berbagai masalah penting oleh pemerintah.

Masalah yang berkaitan dengan kepentingan paling mendesak bagi warga, umumnya dan di manapun terkait dengan masalah ekonomi.

Sentimen atas kondisi ekonomi nasional dan rumah tangga ini sangat terkait dengan inflasi yang secara reguler dirilis oleh Badan Pusat Statistik bahwa inflasi naik maka sentimen negatif naik, inflasi turun maka sentimen negatif turun.

Sementara 35 persen responden menyatakan keadaan politik nasional sekarang ini dalam keadaan sedang, 31 persen menyatakan baik, 18 persen menyatakan buruk, dua persen sangat buruk, satu persen sangat baik, dan 14 persen responden menyatakan tidak tahu atau tidak menjawab.

Untuk penegakan hukum secara nasional, sebanyak 47 persen responden menyatakan baik, 27 persen sedang, 19 persen buruk, lima persen tidak tahu, dua persen sangat baik, dan satu persen sangat buruk.

Untuk kondisi politik, penegakan hukum, dan keadaan keamanan dan ketertiban, warga yang menilai positif lebih besar dari yang menilai sebaliknya, dan dalam tiga tahun terakhir kecenderungannya semakin positif.

Selain soal calon-calon presiden, survei ini juga memaparkan elektabilitas partai politik. Posisi tertinggi masih ditempati PDIP dengan 27,1 persen suara, disusul Golkar 11,4 persen, Gerindra 10,2 persen, Demokrat 6,9 persen, dan PKB 5,5 persen. Partai-partai lain masih di bawah lima persen.

Ada kecenderungan paralelitas antara kecenderungan dukungan pada partai dan dukungan pada tokoh partai. Hal itu terjadi pada PDIP dan Jokowi, Demokrat dan SBY, Gerindra dan Prabowo, juga PDIP dan Megawati.

Tidak mudah memastikan mana yang menjadi sebab kenaikan atau penurunan dukungan? Partai terhadap calon presiden, atau sebaliknya. Namun berdasarkan pengalaman yang ada, faktor ketokohan memiliki pengaruh lebih besar terhadap partai yang memiliki assosiasi dengannya ketimbang sebaliknya.

Semua capaian itu, sebagaimana pernah disampaikan oleh Jokowi, seharusnya tidak membuat cepat berpuas diri karena tantangan yang dihadapi sekarang ini dan ke depan tidaklah ringan. Kita masih dihadapkan dengan kemiskinan dan ketidakadilan, kita masih dihadapkan dengan ketidakpastian ekonomi global, dan kita juga masih dihadapkan dengan gerakan ekstremisme, radikalisme, dan terorisme.

Namun, dari sekian banyak tantangan itu, tantangan yang paling penting dan seharusnya menjadi prioritas bersama adalah mendapatkan kepercayaan yang tinggi dari rakyat. Kepercayaan rakyat adalah jiwa dan sekaligus energi dalam menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing. (Ben/An)
All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.