Jokowi
Foto: Kumparan

Jakarta, 29/10 (Benhil) - Selalu saja ada cara baru ala Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam memperingati momen tertentu.

Maka peringatan Sumpah Pemuda yang tahun ini bertepatan dengan tiga tahun pemerintahannya pun tidak menjadi kecuali.

Tepat pada Hari Sumpah Pemuda ke-89 tahun, Presiden Jokowi menekankan pada tema dan pesan keberagaman.

Sang Kepala Negara tampak sangat ingin menunjukkan betapa pentingnya toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman di Tanah Air.

Memang dalam banyak kesempatan mantan Wali Kota Solo itu selalu mengingatkan bahwa Indonesia adalah negeri dengan keberagaman yang sangat besar dan unik.

Ia pun tak ingin kehilangan kesempatan untuk menggunakan momentum peringatan Sumpah Pemuda dengan menyampaikan pesan keberagaman serupa.

Kali ini Presiden ingin generasi muda khususnya kaum milenial di Tanah Air untuk menghargai keberagaman bangsanya, namun tetap berkomitmen untuk bekerja bersama.

Presiden secara khusus menyampaikan pesan keberagaman tersebut dalam video berdurasi 40 detik dan menegaskan keinginannya agar Sumpah Pemuda menjadi semangat abadi para pemuda Indonesia, yaitu semangat kerja sama beragam pemuda dengan latar belakang yang berbeda.

"Pemuda Indonesia! Kita tidak sama, kita kerja sama," ucap Jokowi dalam video yang didistribusikan secara luas oleh Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Kepresidenan.

Diberikan Ruang Cara Jokowi memanfaatkan momentum untuk menyampaikan pesan terdalam yang menjadi target pemerintahannya hampir selalu bisa diacungi jempol.

Menjelang dan sesaat Sumpah Pemuda, ia pun tak segan menggandeng organisasi-organisasi massa kepemudaan untuk dapat menyampaikan pesan yang ditargetkan pemerintahannya.

Salah satunya, ia secara langsung hadir dalam acara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-58 Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Pemuda Pancasila, yang digelar di Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah, Sabtu (28/10) malam.

Dalam sambutannya, Kepala Negara berharap Pemuda Pancasila dapat menjadi panutan bagi pemuda-pemudi Indonesia dalam menjaga dan mengamalkan ideologi bangsa.

Kesempatan baik yang digunakan Presiden Jokowi untuk menyampaikan pesan keberagaman itu disambut baik oleh berbagai kalangan.

Bertemu dengan jajaran para pengurus Pemuda Pancasila di Hari Sumpah Pemuda, kata Jokowi, memang terasa luar biasa. Pemuda Pancasila adalah ormas yang spesial, spesial karena di namanya ada kata Pancasila.

Apalagi saat ini bermunculan ideologi-ideologi baru yang ingin menggantikan Pancasila dan memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Bahkan, ideologi tersebut muncul tidak melalui cara yang biasa sehingga kewaspadaan harus terus ditingkatkan.

Mereka, katanya, muncul dengan cara-cara baru, metode-metode baru yang kadang-kadang halus dan kita tidak merasa. Cara indoktrinasi yang digunakan sangat halus, sangat kekinian dengan pendekatan-pendekatan yang akrab, yang kadang menyentuh hati kita.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden juga mengingatkan tentang cepatnya perubahan "landscape" politik dan ekonomi global yang sedang terjadi saat ini. Masa transisi tersebut terjadi hampir di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Ketua Bidang Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan DPP Generasi Muda Matla'ul Anwar (Gema MA) Destika Cahyana mengatakan Jokowi adalah pemimpin yang sangat "concern" terhadap isu keberagaman.

Menurut Destika, di era Jokowi, keberagaman dalam banyak hal mendapatkan ruang-ruang untuk ditoleransi. Bahkan ketika di era presiden-presiden sebelumnya ada kalanya ketika perbedaan justru diupayakan untuk diseragamkan.

Namun, kata Destika, Jokowi justru mampu membumikan keberagaman pada level kebijakan dan pelaksanaan ketika sebelumnya isu keberagaman masih terkonsep dalam ruang ideologi dan wacana.

Hal itulah yang kemudian mendorong selayaknya Pemerintahan Jokowi untuk diapresiasi dalam hal pengelolaan kemajemukan sebuah bangsa.

Merunut Sejarah Dalam sejarahnya Sumpah Pemuda memang merupakan sebuah refleksi tentang betapa keberagaman mampu mendorong bangsa Indonesia untuk bangkit dan berjuang secara bersama-sama.

Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak, mengatakan sumpah pemuda merupakan titik awal kesadaran kolektif untuk bersatu sebagai bangsa dan negara.

Dahnil mengatakan, 89 tahun silam kala itu para pemuda tidak mengabaikan eksistensi identitas etnis dan agama yang berbeda-beda. Itu karena semangat etnis dan agama justru menjadi jiwa yang mendorong lahirnya kemerdekaan.

Menurut dia, secara filosofis yang dilakukan para pemuda saat itu bukan upaya membentuk keseragaman dalam satu bangsa dan negara, namun justru memperkuat identitas keberagaman sebab dengan mengakui keberagaman itu akan mampu menyatukan.

Dalam pandangan Dahnil para pemuda ketika itu sejatinya mewariskan semangat dialogis yang kuat.

Dialog dalam keberagaman, nalar sehat adalah instrumen utama dalam tatap muka tersebut, sehingga keberagaman dipahami sebagai pemersatu dan kekuatan bukan kelemahan, ditambah para pemuda saat itu memiliki musuh bersama bernama kolonialisme.

Oleh karena itu, ajaran keberagaman yang terkonsep dalam target-target Pemerintahan Jokowi-JK sudah saatnya mendapatkan ruang untuk dukungan.

Sebab penghormatan terhadap keberagaman sejatinya merupakan titik mula kebersatuan sebuah bangsa. Untuk sebuah bangsa yang bersatu dalam keberagaman maka kesejahteraan merupakan hal yang tak sulit untuk dicapai bersama. (Ben/An)

Hanni Sofia Soepardi

All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.