Eko Supriyanto


Solo, 09/09 (Benhil) Gerakan meliuk yang menggabungkan antara keluwesan dan ketangkasan dihadirkan oleh maestro tari Indonesia asal Kota Solo Eko Supriyanto pada pembukaan Solo International Performing Arts (SIPA) 2017 di Beteng Vastenburg Solo, Kamis malam.

Eko yang pada pelaksanaan SIPA kali ini ditunjuk sebagai maskot sukses melaksanakan tugas dengan baik pada pembukaan tersebut. Puluhan penari latar yang tergabung dalam Ekos Dance Company juga berhasil menyita perhatian para penonton yang memadati acara tersebut karena gerak lincah nan atraktif yang ditunjukkan oleh seluruh penari.

Tidak diragukan lagi, Eko yang merupakan bekas penata tari penyanyi dunia Madonna tersebut sukses mengemban tugas karena pengalamannya yang tidak sedikit.

Pada pembukaan tersebut, Eko dan para penari latar yang jumlahnya lebih dari 20 orang tersebut membawakan tarian berjudul "Upper". Tari tersebut terinspirasi dari tari-tarian perang asal Halmahera Barat dan Maluku Utara seperti Cakalele, Soya Soya, serta tari Legu Salai.

Eko mengatakan "Upper" sendiri merupakan terjemahan fisikal untuk merayakan kecintaan dan inspirasi tari-tarian budaya maritim. Bersanding dengan ketakjuban stamina dinamis ragam-ragam gerakan dalam silat, karya tersebut mencoba menyelaraskan keharmonisannya untuk sebuah ucap syukur atas inspirasi tubuh-tubuh bahari.

"Untuk melompat lebih tinggi hingga seperti garis laut nan kemerahan tanpa batas, tinggi penuh misteri," katanya.

Selain tampil pada pembukaan, pria yang akrab disapa Eko Pece tersebut juga menampilkan salah satu karya besar yang berjudul "Cry Jailolo". Tarian ini ditarikan oleh tujuh pemuda yang bukan penari dari daerah Jailolo, Halmahera Barat.

Karya "Cry Jailolo" Eko mengatakan bahwa karya "Cry Jailolo" adalah ungkapan dan optimisme yang kuat bahwa penghancuran terumbu karang di laut akan berhenti, ikan akan kembali sekali lagi ke karang, dan keheningan di lautan akan dipulihkan. Demi menciptakan karya tersebut, pria kelahiran Banjarmasin yang juga berprofesi sebagai salah dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini melakukan riset sejak 2011 dan akhirnya tarian tercipta pada tahun 2013.

Karya ini dilahirkan untuk mempromosikan pariwisata di Jailolo yang merupakan tempat tinggal beberapa penyelam terhebat di dunia. Meski demikian, Jailolo juga merupakan wilayah yang mengalami degradasi lingkungan.

Mengenai cerita tentang tari tersebut, Eko mengatakan bahwa tarian tidak merujuk pada cerita apa pun. Hampir sama dengan tari "Upper", "Cry Jailolo" ini juga terinspirasi oleh tari-tari Halmahera Barat dan tradisi masyarakat setempat.

"Dari riset tersebut saya temukan bahwa yang mencintai tari kebanyakan adalah anak di bawah umur 12 tahun atau 35 tahun ke atas. Artinya, ada jarak antara usia tersebut yang tidak terakomodir dengan baik," katanya.

Berangkat dari kondisi tersebut, pria yang akrab disapa Eko Pece ini meminta Bupati Halmahera Barat agar dirinya bisa ambil bagian untuk bisa bekerja dan membuat karya dengan anak-anak yang tidak terakomodasi tersebut.

Pria 46 tahun ini mengatakan bahwa pentas pertama "Cry Jailolo" dilaksanakan pada bulan Juni 2013 di Kuala Lumpur. Pada saat itu, dia menyuguhkan "Cry Jailolo" dalam versi 20 menit. Selanjutnya, tarian yang sama ditampilkan pada tahun 2014 di Indonesia Dance Festival.

"Dari situ makin banyak pemberitaan terkait dengan tarian ini, mulai 2015 hingga tahun depan kami melakukan tur dunia, di antaranya di Asia, Eropa, dan Australia. Bahkan, pada tahun depan, kami mulai merambah ke Kanada dan Amerika Serikat," katanya.

Saat ini, Eko juga sudah menciptakan satu karya lagi berjudul "Bala Bala'. Ia mengatakan bahwa tarian tersebut diciptakan pada tahun 2016 dan pada tahun ini sudah mulai ditampilkan pada tur dunia.

"Tari 'Bala Bala' ini adiknya tari 'Cry Jailolo'. Ditampilkan oleh lima anak perempuan yang usianya sekitar 17 s.d. 19 tahun. Tari ini bercerita tentang kebangkitan perempuan di Halmahera Barat. Secara personal karya ini saya persembahkan kepada almarhumah ibu saya," katanya.

Sementara itu, mengenai rencana selanjutanya, Eko juga sudah diminta oleh Bupati Belu, Atambua, Nusa Tenggara Timur untuk mengerjakan sesuatu di daerah tersebut.

"Akan tetapi, untuk Belu ini, saya coba MoU-kan dengan teman-teman di ISI karena saya dosen di sana juga. Kami sinergikan dengan teman-teman agar mereka bisa berkarya di sana. Tidak harus saya lagi, tetapi bisa teman-teman lain dengan inspirasi yang berbeda supaya tidak sama dengan Jailolo lagi," katanya.

Kembangkan Budaya Solo Terkait dengan keterlibatannya pada SIPA pada tahun ini, Eko berharap ke depan festival SIPA akan terus berkembang.

"Sepertinya kita sudah sepakat dengan Badan Ekonomi Kreatif bahwa Solo akan kita canangkan sebagai kota seni pertunjukan. Secara potensi senimannya luar biasa, punya dua keraton yang luar biasa, artefak yang luar biasa, peninggalan tradisi yang luar biasa. Ini yang akan kami coba angkat, coba tawarkan, dan buka diri," katanya.

Eko bersama dengan pelaku budaya lain yang ada di Kota Solo juga akan mencoba untuk berdiskusi dan menjalin komunikasi dengan para seniman lain yang ada di luar Solo maupun luar negeri.

Pada tahun depan, pihaknya berencana memetakan lagi peta kesenian, senimannya. Bahkan, pihaknya akan mencoba membuat SIPA jadi lebih besar, bukan hanya tari, teater, dan musik, melainkan juga sirkus, stand up comedy, atau semua karya lain yang berhubungan dengan hiburan dan seni pertunjukan yang ada, dari mulai serius sampai komersial.

Ia mengatakan bahwa Solo sudah saatnya untuk mengembangkan seni pertunjukan. SIPA diharapkan bisa menjadi puncak festival seni pertunjukan yang ada di Indonesia, terutama di Solo.

Mengenai SIPA ini bukan apanya, melainkan bagaimana animo masyarakat yang harus dilihat. Dia melihat secara kurasi sudah lebih ditata. Sehebat dan sebesar apa pun festival, kalau tidak dengan kurasi yang bagus, tidak akan menemukan seniman-seniman yang baik.

Saat ini seniman yang didatangkan ke sini dengan potensi dan kualitas yang luar biasa, katanya.

Tiga kata yang diberikan oleh Eko dalam menggambarkan perkembangan SIPA ke depan, yaitu "connect, open, and continue".

"Connect" artinya kita harus mengoneksikan dengan segala bentuk karya dari seniman yang beragam, "open" memang harus membuka diri kalau mau jadi festival yang bagus dan besar untuk berdiskusi.

"Continue", pihaknya harus meneruskan apa yang sudah mereka kerjakan. (Ben/An)

Wasita Widiastuti
All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.