Ahok

Foto Ahok, Jakarta Post

SHENG RI KUAILE .... HOK

By : Herry Tjahjono, Rakyat NKRI.

Dear Ahok,

Hari ini kamu tepat berusia 51 tahun ya Hok. Apa kabarmu di dalam sana ? Genap 50 hari kamu menjalani masa hukumanmu. Menghitung hari ? Rasanya tak perlu ya Hok, sebab kamu sendiri pernah mengatakan bahwa masa yang harus kamu jalani masih panjang, mengingat remisimu mungkin belum seberapa untuk saat ini.

Daripada menghitung hari, lebih baik menghidupi hari - menjalani dan mengisinya dengan bermanfaat. Dan kamu adalah pakarnya dalam hal ini. Kenapa ? Sepanjang hidupmu sebelumnya, tak ada hari yang kamu lewatkan tanpa perjuangan untuk menjadi manusia bermanfaat. Itu sebabnya kamu dirindukan, bahkan dihormati - meski dirimu dalam penjara.

Kamu memasuki penjara bukan karena sesuatu yang aib dan nista, seperti maling uang rakyat dan negara atau menjadi pengkhianat serta musuh negara.

Penjara, yang  aib - untukmu - malahan menjadi sesuatu yang lain. Ada dua hal kenapa penjara menjadi sesuatu yang 'indah' di mata pendukungmu. Pertama,  kau masuki penjara karena perjuangan untuk nilai-nilai yang lebih tinggi dari kekuasaan : demokrasi, keadilan, keberagaman, kesetaraan, toleransi dan bermuara pada keutuhan NKRI serta Pancasila. Kedua, kau masuki penjara dengan sadar dan rela atas proses yang penuh ketidakadilan.

Kedua hal itulah yang membuatmu dirindukan dan dihormati. Bahkan pendukungmu dengan penuh empati menerimanya sebagai proses pemurnian yang mempersiapkanmu untuk jadi pribadi lebih besar. Seperti Soekarno. Seperti Hatta. Seperti Mandela.

Lebaykah ? Biarkan waktu yang akan menjawabnya. Namun yang pasti, semua harapan mereka mengalir dari hati.

Dan langkah kakimu menuju gerbang penjara membuat banyak orang geleng kepala karena kagum dan haru. Ada 21 x persidangan kamu hadiri tanpa absen atau terlambat sedetikpun. Bahkan perintah penahanan langsung yang tak lazim itu kamu hadapi dengan ksatria. Kamu melangkahkan kakimu, memasuki sel dengan kepala tegak. Tak satu sentimeterpun kakimu bergeser untuk kabur dari tanah negeri ini. Kamu berikan contoh sempurna bagaimana menjadi WNI (berdarah Cina, Kristiani) yang bertanggungjawab, pemimpin amanah sekaligus pelayan yang mendahulukan bangsa dan rakyat, serta juga - sebagai lelaki dengan nyali rajawali.

Ahok, kamu juga memberikan teladan sejuk sebagai manusia beragama - ketika kamu dengan lapang dada menerima dan mengampuni semua yang menyakitimu. Sikap altruisme-mu mendahulukan kedamaian dan persatuan bangsa dengan mundur sukarela dari jabatan gubernur, membatalkan bandingmu dan mengembalikan dana operasional hakmu - semuanya hanyalah refleksi dari cemerlangnya 'berlian' dalam dirimu.

Berkat sikap altruisme-mu, bangsa ini sadar betapa busuknya borok yang menjadi pekerjaan rumah besar bersama : SARA, intoleransi dan radikalisme. Dan pada saat yang sama, pengorbananmu memantik api Ahok, spirit baru perjuangan dari 'Silent Majority' untuk melawan semua itu. Revolusi Cinta.

Nampaknya hari-hari sepimu di dalam penjara tak berlalu sia-sia Hok. Dukamu di sana tak berlalu tanpa makna. Api itu telah berkobar. Kamu - api atau spiritmu - menjadi masa depan, bukan lagi masa lalu.

Ada beberapa kado terbaik untukmu Hok, di hari yang indah bagimu ini. Peluk rindu dan cinta - bukan hanya dari Vero dan ketiga anakmu - tapi juga semua rakyat yang menunggumu dengan setia.

Hok, petugas kebersihan merindukanmu - terutama ketegasanmu dalam membereskan berbagai permasalahan mereka  - termasuk soal kelayakan upah mereka. Banyak orang kecil lain yang merindukan sentuhanmu. Bukankah kerinduan mereka itu salah satu kado terindah untukmu Hok?

Dan ada lagi Hok, fotomu terpampang di dinding Balai Kota bersama para gubernur lainnya. Bahkan fotomu berdampingan dengan gubernur yang kau teruskan dan kini menjadi RI 1 - Jokowi. Dia mantan atasanmu, namun selalu menjadi sahabat setiamu.

Fotomu terpampang gagah di sana, kamu lebih dari layak untuk mendapatkannya Hok.

Sheng ri kuaile (生日快乐]... ya Hok. Selamat ulang tahun. Sehat selalu. Jaga diri dan hatimu baik-baik di dalam sana Hok. We are proud of you Hok ...

Sampai jumpa pada perjuangan selanjutnya ...
Herry Tjahjono

All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.