Kartu Kuning Jokowi

Cemana kabar kau, Dit? Ngetoplah kau sekarang ya. Tapi ku tengok lebih banyak yang marah dari pada yang suka sama kau.

Rame kali kutengok cerita tentang kau di media sosial, di berita-berita juga. Macam seleblah kau ya.

Kau pulak, ntah apa-apa aja tingkah kau.

Kau kuliah di UI ya? Banyak juga kawan, famili sampe mantanku pun dulu kuliah di situ, tapi senioran kau jauhlah. Jadi gak cemana kali kurasa UI itu.

Dari pertama kali kubaca cerita tentang kau ngasih kartu kuning ke pak Jokowi palak kali aku.

Ini kita bicara men to men-lah ini, sedaaap.

Tapi serius aku.

Kau kelahiran tahun berapa, Dit? Pas kejadian Mei 98 kau udah bisa baca belum?
Kebetulan aku udah umur 20 tahun lebih waktu itu. Jadi aku bisa menilai dengan mata kepalaku sendiri mulai jaman presiden Soeharto sampai pak Jokowi sekarang ini.

Kalau Soekarno aku nanya-nanya saksi hiduplah.

Dit, aku lahir dan besar di Medan. Sampai remajalah. Sisanya aku merantau dalam dan luar negeri. SMA pun udah jadi anak kost aku di Bandung.

Kalo kau? Udah pernah kau merantau? Kau anak Jakarta atau Depok?

Kalau belum pernah merantau cobalah jalan-jalan, biar tambah pengalaman kau. Biar gak kurang piknik juga.

Supaya kau lihat apa saja yang sudah dikerjakan pak Jokowi. Kalau kau di Depok aja cemana mau tau.

Biar kau tau, Dit..kemarin aku ke Siantar. Taunya kau di mana itu? Itu dekat Danau Toba, 126 km dari kota Medan.

Seumur hidupku baru ini ada jalan tol arah sana. Perjalanan jadi lebih cepat dan nyaman.

Sebelumnya Medan cuma punya tol Belmera yang panjangnya 34 km, itupun tahun 80-an.

Kau bilang pula jalan tol hanya dinikmati orang yang bermobil, ya iyalah, masa berbecak masuk tol? Aku naik bus ya, bukan mobil pribadi. Jadi jalan tol itu juga dinikmati oleh rakyat.

Aku punya beberapa kawan di Papua, Dit. Dulu tahun '96 aku pernah bawa kawanku orang Nabire ke Jakarta.

Kau tau apa dibilangnya? Dia bilang, "Bagaimana orang Papua tidak kecewa, sungai tidak ada tapi jembatan (jalan layang) banyak, Papua jalan saja susah".

Baru di jaman pak Jokowi-lah dibangun ribuan kilometer jalan di Papua sana.

Itu pula kau sok-sokan kasih kartu kuning sama pak Jokowi? Macam betul aja kau!.

Untung gak ada yang silap.

Aku tak kenal kau secara pribadi. Tak ada alasanku benci sama kau. Tapi cara kau itu gak cocok kurasa.

Lagian kudengar pak Jokowi dijadwalkan bertemu dengan kalian anak BEM UI kan? Gara-gara ulah kau jadi batal.

Jadi apa maksudmu sebenarnya? Yang cari perhatiannya kau? Biar nampak paten?

Apa gak lebih baik kau rasa kalau kalian jumpa langsung? Kan bisa di situ kalian sampekan uneg-uneg kalian.

Curiga aku. Dimana-dimana orang demo itu ingin ketemu sama pejabat atau presidennya.

Masa presiden sudah dijadwalkan bertemu dengan kalian justru kau tekel di tengah jalan.

Jadi kau sebenarnya sengaja supaya batal atau cemana? Apa sebenarnya modus kau ini?

Apa kau takut kalau kawan-kawan kau minta selfie sama pak Jokowi trus kau jadi gak diopeni?

Kemarin kubaca di berita kau menolak difasilitasi Pemerintah untuk ke Asmat, Papua. Kau bilang gak mau pakai uang negara.

Jujurlah kau dulu, itu bukan ilmu kan? Bukan sengaja mengulur-ulur waktu sampe orang lupa kan?

Nanti kau bilang pula uangnya belum cukup-cukup. Kutengok gak ada juganya nomor rekening dari kalian untuk menampung sumbangan.

Padahal uang pemerintah kan uang rakyat juga. Jadi tak ada juga salahnya difasilitasi Pemerintah asal memang untuk kepentingan rakyat.

Kalau untuk beli gadget buat main Mobile Legend memang gak boleh. Kalau itu dari uang jajan kaulah.

Kudengar anak UGM dan UKSW sudah mengirim utusannya ke Asmat, Papua.

Barusan lagi kubaca NU pun sudah mengirim utusannya ke sana.

Padahal mereka gak ada pamer-pamer kartu macam kau, tiba-tiba udah gerak aja mereka.

Pekerjaan pak Jokowi memang belum semua selesai, tapi masa jabatannya juga belum habis.

Satu periode saja udah segitu banyak pembangunan. Makanya harus 2 periode biar makin paten negara kita.

Cobalah kau perhatikan, jujur kau dulu sama dirimu sendiri, gak usah kau bilang sama siapa-siapa, pernah rupanya kita punya presiden macam ini? Yang benar-benar ngebut membangun negeri ini.

Ribuan kilometer jalan, ratusan kilometer jembatan, puluhan bendungan, belasan bandara dan pelabuhan laut, puluhan ribu rumah murah, banyak lagi, akupun sampe lupa.

Ada rupanya presiden kita yang pernah buat gitu? Dalam waktu yang singkat pula.

Sebelum pak Jokowi buat itu semua rakyat percaya sama dia, makanya dia yang terpilih.

Dan baru kali ini rasanya yang dipilih itu tepat. Biasanya siapapun yang menang beda tipis itu.

Ini bukan cerita kombur, kaukan bisa buktikan sendiri. Kalau perlu kau ukur pake meteran jalan-jalan yang sudah terbangun itu. Biar yakin kau.

Jadi udahlah, bagus-bagus aja kau belajar. Biar bangga orang tuamu. Kalau sudah tamat kerja yang benar.

Setelah itu masuk ke dalam sistem dan berbuatlah untuk masyarakat, dimulai dari keluarga dan orang di sekelilingmu.

Itu baru laki-laki.

Cocok kau rasa?

More From Edward Anugerah


A post shared by Charlie M. Sianipar (@charliesianipar) on
All rights reserved, Copyright © 2015 www.benhil.net. Powered by Blogger.